• Tidak ada hasil yang ditemukan

RESUME BUKU PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN PROF DR H KAELAN, M.S.

N/A
N/A
Meilfiano Komputer

Academic year: 2025

Membagikan "RESUME BUKU PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN PROF DR H KAELAN, M.S."

Copied!
53
0
0

Teks penuh

(1)

TUGAS

PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN

Resume Buku Pendidikan Pancasila oleh Prof.Dr.H. Kaelan, M.S.

DISUSUN OLEH

1510412015

FAKULTAS ILMU UNIVERSITAS BENGKULU

2025

(2)

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa atas segala limpahan rahmat, dan hidayah Nya sehingga saya dapat menyelesaikan penyusunan resume ini dalam bentuk maupun isinya yang sangat sederhana. Semoga makalah ini dapat dipergunakan sebagai salah satu acuan, petunjuk maupun pedoman bagi pembaca dalam administrasi pendidikan dan untuk peningkatan kesadaran dan wawasan mahasiswa akan status, hak, dan kewajiban dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara, serta peningkatan kualitas dirinya sebagai manusia. Buku “PENDIDIKAN PANCASILA” karangan Dr.H.Kaelan,M.S seorang dosen Universitas Gajah Mada.

Buku tersebut juga memungkinkan untuk dikonsumsi oleh semua kalangan karena dari sisi ekonomisnya itu sangat murah jika dibandingkan dengan ilmu-ilmu yang terkandung dalam buku tersebut. Akhirnya kami merasa dalam penyusunan resume buku “Pendidikan Pancasila” ini masih banyak kekurangannya maka kami mengharap kritik dan saran yang membangun dari pembaca. Kami menyadari sepenuhnya bahwa masih ada kekurangan baik dari segi susunan kalimat maupun tata bahasanya. Oleh karena itu dengan tangan terbuka kami menerima segala saran dan kritik dari pembaca agar kami dapat memperbaiki resume ini. Akhir kata kami berharap semoga makalah ilmiah tentang limbah dan manfaatnya untuk masyarakan ini dapat memberikan manfaat maupun inpirasi terhadap pembaca.

(3)

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR

...

2 I. PENDAHULUAN

...

5

A. Pengertian dan Tujuan Pendidikan Kewarganegaraan...

5

1. Pengertian Pendidikan Kewarganegaraan...

5

2. Tujuan Pendidikan Kewarganegaraan...

5

B. Landasan Ilmiah dan Landasan Hukum...

6

1. Landasan Ilmiah...

6

II. PEMBAHASAN

...

8

BAB I...

8

FILSAFAT PANCASILA...

8

A. Pengertian Filsafat...

8

B. Pengertian Pancasila sebagai Suatu Sistem...

8

E. Pancasila Sebagai Nilai Dasar Fundamental bagi Bangsa dan Negara

Republik Indonesia...

9

H. Pancasila sebagai Dasar Kehidupan Berbangsa dan Bernegara...

10

BAB II...

11

IDENTITAS NASIONAL...

11

A. Pengertian Identitas Nasional...

(4)

11

B. Faktor-faktor Pendukung Kelahiran Identitas Nasional...

12

C. Pancasila sebagai Kepribadian dan Identitas Nasional...

12

BAB III...

13

DEMOKRASI INDONESIA...

13

A. Demokrasi dan Implementasi...

13

B. Arti dan Perkembangan Demokrasi...

13

C. Bentuk-bentuk Demokrasi...

15

D. Demokrasi di Indonesia...

16

BAB IV...

21

NEGARA DAN KONSTITUSI...

21

A. Pengertian Negara...21

B. Konstitusionalisme...22

C. Konstitusi Indonesia...22

BAB V... 25

RULE OF LAW DAN HAK ASASI MANUSIA...25

A. Pengertian Rule of Law dan Negara Hukum...25

B. Hak Asasi Manusia...25

C. Penjabaran Hak-Hak Asasi Manusia dalam UUD 1945...26

D. Hak dan Kewajiban warga Negara...26

BAB VI... 27

GEOPOLITIK INDONESIA... 27

A. Pengertian...27

B. Pengertian Wawasan Nusantara...27

C. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Wawasan Nusantara...27

D. Unsur-unsur Dasar Wawasan Nusantara...29

(5)

E. Implementasi Nusantara sebagai Pancaran Falsafah Pancasila...30

BAB VII... 31

GEOSTRATEGI INDONESIA...31

A. Pengertian Geostrategi...31

III. PENUTUP...33

3.1 Kesimpulan... 33

3.2 Saran...33

(6)

BAB I PENDAHULUAN

A. Pengertian dan Tujuan Pendidikan Kewarganegaraan.

1. Pengertian Pendidikan Kewarganegaraan

Pendidikan kewarganegaraan dilakukan dan dikembangkan di seluruh dunia, meskipun dengan berbagai macam istilah. Mata kuliah tersebut sering disebut sebagai civil education, citizenship education, dan bahkan ada yang menyebut sebagai democracy education. Mata kuliah ini memiliki peran yang st rategis dalam mempersiapkan warga negara yang cerdas, bertanggung jawab, dan berkeadaban. Berdasarkan Undang-Undang No 20 Tahun 2003, Tentang Sistem Pendidikan Nasional, serta surat keputusan Direktur Jendral Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan Nasional Nomor 43/DIKTI/Kep/2006, tentang Rambu- Rambu Pelaksanaan Kelompok mata kuliah Perkembangan Kepribadian di Perguruan Tinggi terdiri atas mata kuliah Pendidikan Agama, Pendidikan Kewarganegaraan dan Bahasa Indonesia. Berdasarkan ketentuan tersebut maka kelompok mata kuliah perkembangan kepribadiantersebut wajib diberikan di semua fakultas dan jurusan di seluruh perguruan tinggi di Indonesia.

Dengan adanya penyempurnaan kurikulum mata kuliah pengembangan kepribadian tersebut maka pendidikan kewarganegaraan memiliki paradigma baru, yaitu Pendidikan Kewarganegaraan berbasis Pancasila. Kiranya akan menjadi sangat relevan jika Pendidikan Kewarganegaraan di perguruan tinggi dewasa ini sebagai sintesis antara “civic education”, “democracy educatio”, serta “ citizenship education” yang berlandaskan Filsafat Pancasila, serta mengandung muatan identitas nasional Indonesia, serta muatan makna pendidikan pendahuuan bela negara (Mansoer, 2005). Hal ini berdasarkan kenyataan diseluruh negara di dunia, bahwa kesadaran demokrasi serta implementasinya harus senantiasa dikembangkan dengan basis filsafat bangsa identitas nasional, kentataan dan pengalaman sejarah bangsa tersebut serta dasar-dasar kemanusiaan dan keadaban.

Oleh karena itu dengan pendidikan kewarganegaraan diharapkan intelektual Indonesia memiliki dasar kepribadian sebagai warga negara yang demikratis, religius, berprikemanusiaan dan berkeadaban.

(7)

2. Tujuan Pendidikan Kewarganegaraan

Berdasarkan keputusan DIRJEN DIKTI No 43/DIKTI/Kep/2006, tujuan pendidikan Kewarganegaraan adalah dirumuskan dalam visi, misi dan kompetensi sebagai berikut.

Visi Pendidikan Kewarganegaraan di perguruan tinggi adalah merupakan sumber nilai dan pedoman dalam pengembangan dan penyelenggaraan program studi, guna mengantarkan mahasiswa memantapkan kepribadian sebagai manusia seutuhnya. Hal ini berdasarkan suatu realitas yang dihadapi, bahwa mahasiswa adalah sebagai generasi bangsa yang harus memiliki visi intelektual, religius, berkeadaban, berkemanusiaan dan cinta tanah air dan bangsanya.

Misi Pendidika Kewarganegaraan di perguruan tinggi adalah untuk membantu mahasiswa menetapka kepribadiannya, agar secara konsisten mampu mewujudkan nilai-nilai dasar Pancasila rasa kebangsaan dan cinta tanah air dalam menguasai, menerapkan, dan mengembangkan ilmu pengetahuan, teknilogi dan seni dengan rasa tanggung jawab dan bermoral.

Oleh karena itu kompetensi yang diharapkan mahasiswa adalah untuk menjadi ilmuwan yang profesional yang memiliki rasa kebangsaan dan cinta tanah air, demokratis, berkeadaban. Selain itu kompetensi yang diharapkan agar mahasiswa menjadi warganegara yang memiliki daya saing, berdisiplin, berpartisipasi aktif dalam membangun kehidupan ang damai berdasarkan sistem nilai Pancasila. Berdasarkan pengertian tersebur maka kompetensi mahasiswa dalam pedidikan tinggi tidak dapat dipisahkan dengan filsafat bangsa.

B. Landasan Ilmiah dan Landasan Hukum.

1. Landasan Ilmiah.

a. Dasar Pemikiran Pendidikan Kewarganegaraan

Dasar Pemikiran Pendidikan Kewarganegaraan Setiap warga negara dituntut untuk dapat hidup berguna dan bermakna bagi negara dan bangsanya, serta mampu mengantisipasi perkembangan dan perubahan masa depannya. Untuk itu diperlukan penguasaan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni (Ipteks) yang berlandaskan nilai-nilai keagamaan, nilai-

(8)

nilai moral, nilai-nilai kemanusiaan dan nilai-nilai budaya bangsa. Nilai- nilai dasar tersebut berperan sebagai panduan dan pegangan hidup setiap warganegara dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

Bahasan Pendidikan Kewarganegaraan meliputi hubungan antara warganegara dan negara, serta pedidikan pendahuluan bela negara yang semua ini berpijak pada nilai-nilai budaa serta dasar filosofi bangsa. Tujuan utama Pendidikan Kewarganegaraan adalah untuk menumbuhkan wawasan dan kesadaran bernegara,serta membentuk nilai dan prilaku cinta tanah air yang bersendikan kebudayaan dan filsafat bangsa Pancasila.

Sebagai suatu perbandingan, diberbagai negara juga dikembangkan materi Pendidikan Umum (General Education/humanities) sebagai pembekalan nilai-nilai yang mendasari sikap dan prilaku warga negaranya.

Dibeberapa negara dikembangkan pula bidang studi yang sejenis dengan Pendidikan Kewarganegaraan, yaitu yang dikenal dengan Civics Education.

b. Objek Pembahasan Pendidikan Kewarganegaraan

Setiap ilmu harus memenuhi syarat-syarat ilmiah, yaitu mempunyai objek, metode, sistem dan bersifat universal. Objek pembahasan setiap ilmu harus jelas, baik objek material, maupun objek formalnya. Objek material adalah bidang sasaran yang dibahas dan dikaji oleh suatu bidang atau cabang ilmu. Sedangkan objek formal adalah sudut pandang tertentu yang dipilih untuk membahas objek material tersebut. Adapun bjek material dari Pendidikan Kewarganegaraan adalah segala hal yang berkaitan dengan warganegara baik yang empirik maupun ang nonempirik, yang meliputi wawasan, sikap dan perilaku warganegara dalam kesatuan bangsa dan negara. Sebagai objek formalnya mencakup dua segi, yaitu segi hubugan antar warganegara dan negara (termasuk hubungan antar warganegara) dan segi pembelaan negara. Dalam hal ini pembahasan Pendidikan Kewarganegaraan terarah pada warga negara Indonesia dalam hubungannya dengan negara Indonesia dan pada upaya pembelaan negara Indonesia.

(9)

2. Landasan Hukum a. UUD 1945

1) Pembukaan UUD 1945: Alinea kedua dan keempat mencerminkan cita- cita serta aspirasi bangsa Indonesia tentang kemerdekaan.

2) Pasal 27(1): Menegaskan bahwa semua warga negara memiliki kedudukan yang sama di hadapan hukum dan pemerintahan.

3) Pasal 30(1): Mengatur hak dan kewajiban warga negara dalam usaha pembelaan negara.

4) Pasal 31(1): Menyatakan bahwa setiap warga negara berhak mendapatkan pendidikan.

b. Ketetapan MPR No. 11/MPR/1999

Menetapkan garis-garis besar haluan negara terkait kewajiban dan hak warga negara dalam kehidupan bernegara.

c. Undang-Undang yang Mengatur Bela Negara

1) UU No. 20 Tahun 1982 (Jo. UU No. 1 Tahun 1988) tentang Pertahanan Keamanan Negara Republik Indonesia:

a) Pasal 18(a): Menyatakan bahwa bela negara merupakan hak dan kewajiban warga negara yang diintegrasikan dalam sistem pendidikan nasional.

b) Pasal 19(2): Menetapkan pendidikan bela negara sebagai kewajiban bagi semua warga negara, dengan pelaksanaannya bertahap dari pendidikan dasar hingga pendidikan tinggi.

d. UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional

Menegaskan bahwa Pendidikan Kewarganegaraan, bersama Pendidikan Agama dan Bahasa Indonesia, merupakan mata kuliah wajib dalam kurikulum setiap program studi di perguruan tinggi.

Pelaksanaan Pendidikan Kewarganegaraan di perguruan tinggi didasarkan pada beberapa bal berikut:

1) Keputusan Menteri Pendidikan Nasional No. 232/U/2000: Pedoman penyusunan kurikulum dan evaluasi hasil belajar mahasiswa.

(10)

2) Keputusan Menteri Pendidikan Nasional No. 45/U/2002: Kurikulum inti Pendidikan Tinggi yang mewajibkan Pendidikan Kewarganegaraan sebagai bagian dari mata kuliah pengembangan kepribadian.

3) SK Dirjen Dikti No. 43/DIKTI/Kep/2006: Mengatur pedoman pelaksanaan mata kuliah pengembangan kepribadian di perguruan tinggi.

Dengan landasan hukum ini, Pendidikan Kewarganegaraan menjadi bagian penting dalam membentuk kesadaran bernegara serta membangun karakter mahasiswa yang memiliki jiwa kebangsaan dan patriotisme.

(11)

BAB II

BAB II FILSAFAT PANCASILA A. Pengertian Filsafat

Filsafat merupakan bidang ilmu yang selalu hadir dalam kehidupan manusia. Selama manusia hidup, ia akan terus berfilsafat, baik secara sadar maupun tidak. Pandangan hidup seseorang mencerminkan aliran filsafat tertentu. Misalnya, seseorang yang meyakini bahwa materi adalah sumber kebenaran menganut filsafat materialisme. Sementara itu, seseorang yang mengutamakan kenikmatan dalam hidup memiliki pandangan hedonisme.

Begitu pula dengan liberalisme, yang menekankan kebebasan individu, dan sekularisme, yang memisahkan agama dari kehidupan sosial dan politik.

Secara etimologis, filsafat berasal dari bahasa Yunani, yaitu "philein"

yang berarti cinta dan "sophos" yang berarti kebijaksanaan. Secara harfiah, filsafat dapat diartikan sebagai cinta kebijaksanaan. Dalam sejarah perkembangan ilmu pengetahuan, filsafat merupakan induk dari semua cabang ilmu sebelum berkembang menjadi disiplin ilmu tersendiri. Setiap individu atau bangsa memilih suatu pandangan hidup yang dianggap paling benar dan membawa kesejahteraan, dan pilihan ini disebut sebagai filsafat.

Lingkup Kajian Filsafat Filsafat mencakup berbagai aspek kehidupan, di antaranya:

a. Manusia dan masyarakat b. Alam dan pengetahuan c. Etika dan logika d. Agama dan estetika

Dengan berkembangnya ilmu pengetahuan, filsafat pun bercabang ke dalam berbagai disiplin, seperti filsafat sosial, hukum, politik, bahasa, ilmu pengetahuan, lingkungan, dan agama. Filsafat memiliki dua makna :

1. Filsafat sebagai Produk

a. Merujuk pada teori, sistem pemikiran, dan konsep yang dikembangkan para filsuf.

(12)

b. Menghasilkan berbagai pandangan sebagai hasil dari aktivitas berfilsafat.

2. Filsafat sebagai Proses

a. Berarti aktivitas berpikir kritis dalam memecahkan masalah dengan metode tertentu.

b. Bersifat dinamis, bukan hanya sekumpulan dogma yang diterima tanpa pertimbangan.

B. Pancasila sebagai Sistem

Pancasila merupakan sistem filsafat karena memiliki struktur yang saling terkait dan membentuk kesatuan utuh. Beberapa ciri utama sistem filsafat dalam Pancasila adalah:

1. Setiap sila merupakan bagian dari satu kesatuan.

2. Masing-masing sila memiliki fungsi dan makna tersendiri.

3. Sila-sila tersebut saling berhubungan dan tidak dapat berdiri sendiri.

4. Tujuan akhirnya adalah menciptakan masyarakat yang adil dan makmur.

Sebagai sistem filsafat, Pancasila memiliki ciri khas yang membedakannya dari aliran filsafat lain seperti liberalisme, materialisme, dan sosialisme. Pancasila mengandung pemikiran dasar yang mencerminkan hubungan manusia dengan Tuhan, dirinya sendiri, sesama manusia, serta masyarakat dan bangsa. Oleh karena itu, Pancasila memiliki karakteristik objektif yang menjadikannya unik sebagai dasar filsafat negara Indonesia.

C. Kesatuan Sila-Sila Pancasila

Pancasila memiliki susunan yang bersifat hierarkis dan berbentuk piramidal, yang menggambarkan hubungan antar-sila dalam aspek kuantitas dan kualitas. Setiap sila merupakan penjabaran dari sila sebelumnya, sehingga menciptakan hubungan yang saling melengkapi. Jika urutan ini tidak diperhatikan, maka Pancasila kehilangan kesatuan dan tidak dapat berfungsi sebagai dasar negara.

Dalam struktur hierarkis ini, sila pertama, yaitu Ketuhanan Yang Maha Esa, menjadi landasan bagi sila-sila berikutnya, yaitu kemanusiaan, persatuan, kerakyatan, dan keadilan sosial. Sebaliknya, nilai Ketuhanan dalam Pancasila

(13)

juga mencerminkan unsur kemanusiaan, kebangsaan, demokrasi, dan keadilan sosial. Dengan demikian, setiap sila saling berkaitan dan mendukung satu sama lain, memungkinkan penerapannya secara fleksibel sesuai dengan konteks yang berkembang.

Secara ontologis, Pancasila menunjukkan hubungan sebab-akibat. Tuhan sebagai penyebab utama menciptakan manusia (Sila 1), manusia menjadi bagian dari negara (Sila 2), negara terbentuk dari persatuan manusia (Sila 3), negara berlandaskan rakyat (Sila 4), dan akhirnya bertujuan menciptakan keadilan sosial (Sila 5) (Notonagoro, 1984:61; 1975:52,57).

D. Kesatuan Sila-Sila Pancasila sebagai Suatu Sistem Filsafat

Kesatuan sila-sila Pancasila tidak hanya bersifat formal-logis, tetapi juga memiliki dasar ontologis, epistemologis, dan aksiologis. Pancasila sebagai sistem filsafat berbeda dengan materialisme, liberalisme, maupun komunisme.

a. Dasar Ontologis Sila-Sila Pancasila

Pancasila memiliki kesatuan ontologis yang menjadikannya satu kesatuan yang utuh. Hakikat ontologisnya terletak pada manusia sebagai makhluk individu dan sosial yang juga merupakan ciptaan Tuhan. Oleh karena itu, sila pertama menjadi dasar yang menjiwai sila-sila lainnya (Notonagoro, 1975:53). Negara, sebagai wadah kehidupan bersama, merupakan konsekuensi dari eksistensi manusia dengan Pancasila sebagai dasar ideologinya.

b. Dasar Epistemologis Sila-Sila Pancasila

Sebagai sistem filsafat, Pancasila juga merupakan sistem pengetahuan yang menjadi pedoman dalam memahami realitas dan menyelesaikan permasalahan kehidupan. Dalam ideologi Pancasila terdapat tiga unsur utama, yaitu rasionalitas (logos), penghayatan (pathos), dan kesusilaan (ethos) (Wibisono, 1996:31).

Epistemologi Pancasila tidak dapat dipisahkan dari ontologi manusia.

Jika manusia merupakan dasar ontologis Pancasila, maka epistemologinya berakar pada filsafat manusia (Pranarka, 1996:32). Dalam epistemologi ini terdapat tiga aspek utama, yaitu sumber pengetahuan, teori kebenaran, dan sifat

(14)

pengetahuan. Sumber pengetahuan Pancasila berasal dari nilai-nilai budaya, adat istiadat, dan religiusitas bangsa Indonesia.

Sebuah sistem keyakinan atau cita-cita (belief system) dapat menjadi bagian dari praktik kehidupan apabila dijadikan sebagai landasan dalam berbagai aspek kehidupan manusia atau kelompok masyarakat. Dalam hal ini, filsafat dapat berubah menjadi ideologi (Abdulgani, 1998). Sebagai suatu ideologi, Pancasila memiliki tiga elemen utama yang berfungsi menarik loyalitas pendukungnya, yaitu: 1) logos yang mencerminkan rasionalitas dan pemikiran logis, 2) pathos yang berkaitan dengan penghayatan emosional, dan 3) ethos yang mencerminkan aspek moral dan etika (Wibisono, 1996:31).

Sebagai suatu sistem filsafat dan ideologi, Pancasila harus memiliki unsur rasional, terutama dalam perannya sebagai sistem pengetahuan.

Epistemologi Pancasila tidak terpisahkan dari dasar ontologinya, berakar pada nilai-nilai fundamental filsafat Pancasila (Soeryanto, 1991:50).

Epistemologi ini erat dengan konsep hakikat manusia sebagai basis ontologis, yang memengaruhi struktur pengetahuannya dalam filsafat manusia (Pranarka, 1996:32). Dalam epistemologi, terdapat tiga permasalahan utama: sumber pengetahuan, teori kebenaran, dan sifat dasar pengetahuan manusia (Titus, 1984:20). Pancasila sebagai objek pengetahuan memiliki sumber dan struktur tertentu. Nilai-nilainya berasal dari masyarakat Indonesia, bukan bangsa lain, dan dirumuskan oleh para pendiri negara. Oleh karena itu, Pancasila memiliki hubungan korespondensi dengan masyarakat sebagai pendukungnya.

Struktur epistemologi Pancasila bersifat formal-logis dengan susunan hierarkis. Sila pertama menjadi dasar nilai bagi sila lainnya, membentuk sistem piramidal. Dalam filsafat manusia, epistemologi Pancasila mengakui manusia sebagai makhluk monopluralis dengan unsur jasmani dan rohani. Potensi rohani terdiri dari akal (untuk memperoleh kebenaran), rasa (pengalaman estetika), dan kehendak (moralitas dan etika).

Notonagoro menyebutkan tingkatan pemikiran dalam memperoleh kebenaran: memoris, reseptif, kritis, dan kreatif. Selain itu, epistemologi Pancasila mengakui kebenaran wahyu sebagai kebenaran mutlak, sesuai sila pertama. Kebenaran dalam Pancasila merupakan sintesis harmonis antara akal,

(15)

rasa, dan kehendak manusia. Sila ketiga dan keempat menekankan kebenaran konsensus, sesuai dengan hakikat manusia sebagai makhluk individu dan sosial.

Pancasila menegaskan bahwa ilmu tidak bebas nilai, melainkan harus berpijak pada moralitas dan nilai-nilai religius untuk mencapai kebenaran tertinggi.

2. Dasar Aksiologi dalam Pancasila a. Teori Nilai

Sebagai sistem filsafat, sila-sila Pancasila memiliki satu kesatuan dalam aspek aksiologinya, yaitu kesatuan nilai yang terkandung di dalamnya. Terdapat berbagai teori nilai yang didasarkan pada sudut pandang yang berbeda. Sebagai contoh, kalangan materialis menganggap nilai tertinggi adalah nilai material, sedangkan kaum hedonis menilai kenikmatan sebagai nilai tertinggi. Secara umum, nilai dapat dikategorikan menjadi dua pandangan, yaitu subjektivisme yang menyatakan bahwa nilai tergantung pada individu yang menilainya, dan objektivisme yang menyatakan bahwa sesuatu memiliki nilai secara inheren.

Setiap sesuatu memiliki nilai, namun jenis nilai serta hubungan nilai dengan manusia dapat beragam. Dalam kajian aksiologi, Max Scheler mengelompokkan nilai berdasarkan tingkatannya, yaitu:

1. Nilai kenikmatan, berkaitan dengan hal-hal yang memberikan kesenangan atau penderitaan.

2. Nilai kehidupan, meliputi aspek-aspek penting bagi kelangsungan hidup seperti kesehatan.

3. Nilai kejiwaan, mencakup nilai estetika, kebenaran, dan pengetahuan filosofis.

4. Nilai kerohanian, melibatkan aspek spiritualitas, kesucian, dan nilai-nilai keagamaan.

Walter G. Everett membagi nilai menjadi delapan kategori, yaitu nilai ekonomis, kejasmanian, hiburan, sosial, watak, estetis, intelektual, dan keagamaan.

Dari berbagai teori nilai di atas, dapat disimpulkan bahwa sesuatu yang bernilai tidak hanya terbatas pada hal-hal material, tetapi juga aspek nonmaterial yang memiliki nilai lebih tinggi dan bahkan bersifat

(16)

mutlak bagi manusia. Nilai material lebih mudah diukur dengan alat indera, sementara nilai spiritual atau moral memerlukan pemahaman melalui hati nurani, rasa, dan keyakinan. Pancasila juga mengandung hierarki nilai sebagaimana dijelaskan oleh Scheler dan Notonagoro.

Nilai-nilai ini dikategorikan sebagai nilai kenikmatan, kehidupan, kejiwaan, dan kerohanian. Notonagoro membaginya lebih lanjut menjadi nilai material, vital, dan kerohanian, yang mencakup aspek kebenaran, keindahan, moralitas, dan religiusitas. Nilai-nilai Pancasila tergolong dalam nilai kerohanian yang tetap mengakui keberadaan nilai material dan vital, dengan struktur hierarkis yang dimulai dari sila Ketuhanan sebagai dasar hingga sila keadilan sosial sebagai tujuan akhir (Darji Darmodiharjo, 1978).

b. Nilai-Nilai Pancasila sebagai Suatu Sistem

Pancasila mencerminkan nilai-nilai universal yang bersifat substantif dan normatif. Sebagai pedoman dalam kehidupan bernegara, Pancasila berfungsi sebagai norma dasar dalam praktik kenegaraan. Kelima sila membentuk sistem yang harmonis, di mana sila pertama berperan sebagai fondasi dan sila kelima sebagai tujuan akhir yang ingin dicapai.

E. Pancasila sebagai Dasar Filsafat Negara (Philosofische Grondslag)

Pancasila memiliki kedudukan utama sebagai dasar filsafat negara Republik Indonesia. Landasan hukum dari kedudukan Pancasila sebagai dasar negara tercantum dalam Pembukaan UUD 1945 alinea IV yang berbunyi:

Maka disusunlah kemerdekaan kebangsaan Indonesia itu dalam suatu Undang-Undang Dasar negara Indonesia, yang terbentuk dalam susunan negara Republik Indonesia yang berkedaulatan rakyat, dengan berdasarkan kepada Ketuhanan Yang Maha Esa, kemanusiaan yang adil dan beradab, persatuan Indonesia, dan kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan, serta dengan mewujudkan suatu keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Frasa dengan berdasarkan kepada dalam teks tersebut memiliki makna yuridis bahwa Pancasila adalah dasar negara. Meskipun kata Pancasila tidak

(17)

disebutkan secara eksplisit dalam kalimat terakhir Pembukaan UUD 1945, interpretasi historis menunjukkan bahwa dasar negara yang dimaksud adalah Pancasila, sebagaimana ditetapkan oleh BPUPK.

Tujuan utama perumusan Pancasila adalah sebagai dasar negara Republik Indonesia. Oleh karena itu, fungsi utama Pancasila adalah sebagai fondasi negara yang sah secara hukum. Hal ini diperkuat oleh landasan yuridis dalam Pembukaan UUD 1945 serta Ketetapan No XX/MPRS/1966, yang menegaskan bahwa Pancasila merupakan sumber tertib hukum di Indonesia.

Pada hakikatnya, Pancasila adalah pandangan hidup, kesadaran, dan cita-cita hukum serta moral yang mencerminkan jiwa bangsa Indonesia. Cita-cita ini mencakup kebebasan individu dan bangsa, kemanusiaan, keadilan sosial, perdamaian nasional maupun internasional, serta prinsip politik dan moral dalam kehidupan bermasyarakat dan beragama sebagai perwujudan dari budi nurani manusia.

F. Pancasila sebagai ideologi Bangsa dan Negera Indonesia

Istilah ideologi berasal dari kata "idea" yang berarti gagasan, konsep, atau cita-cita, serta "logos" yang berarti ilmu. Dalam bahasa Yunani, "eidos"

berarti bentuk, sementara "idein" berarti melihat. Secara harfiah, ideologi dapat diartikan sebagai ilmu tentang gagasan atau pengertian dasar. Dalam pemahaman sehari-hari, "idea" sering disamakan dengan cita-cita, yaitu tujuan yang tetap dan menjadi dasar suatu pandangan atau paham. Dengan demikian, ideologi mencakup konsep gagasan, prinsip dasar, dan cita-cita yang mendasari suatu pemikiran.

Sebagai ideologi bangsa dan negara Indonesia, Pancasila bukan sekadar hasil pemikiran individu atau kelompok tertentu seperti ideologi lain di dunia.

Pancasila berasal dari nilai-nilai adat, budaya, dan religius yang telah lama menjadi pandangan hidup masyarakat Indonesia sebelum terbentuknya negara.

Oleh karena itu, bangsa Indonesia menjadi sumber material bagi Pancasila.

Nilai-nilai dalam Pancasila kemudian dirumuskan oleh para pendiri bangsa, menjadikannya sebagai dasar negara dan ideologi nasional. Pancasila tidak diadopsi dari ideologi bangsa lain, melainkan berasal dari identitas budaya sendiri. Selain itu, Pancasila tidak mewakili kepentingan kelompok tertentu,

(18)

tetapi merangkul seluruh lapisan masyarakat secara menyeluruh. Oleh karena itu, Pancasila memiliki kesesuaian yang erat dengan karakter bangsa Indonesia.

G. Makna Nilai-nilai Setiap Sila Pancasila

Sebagai dasar filsafat negara, sila-sila Pancasila merupakan suatu sistem nilai yang saling berkaitan. Meskipun setiap sila memiliki karakteristik tersendiri, semuanya membentuk satu kesatuan yang sistematis. Oleh karena itu, penerapan setiap sila selalu berhubungan dengan sila lainnya dalam suatu sistem filsafat yang utuh.

1. Ketuhanan Yang Maha Esa

Sila pertama menjiwai dan menjadi dasar bagi keempat sila lainnya. Nilai- nilainya mencerminkan bahwa negara didirikan sebagai wujud tujuan manusia sebagai makhluk Tuhan. Oleh sebab itu, seluruh aspek kenegaraan—termasuk pemerintahan, hukum, politik, serta hak asasi manusia—harus berlandaskan nilai Ketuhanan. Dengan demikian, moralitas dalam penyelenggaraan negara harus selaras dengan prinsip-prinsip ketuhanan.

2. Kemanusiaan yang Adil dan Beradab

Sila ini didasari oleh sila Ketuhanan Yang Maha Esa dan menjadi landasan bagi sila berikutnya. Nilainya mencerminkan penghormatan terhadap harkat dan martabat manusia sebagai makhluk beradab. Negara harus menjunjung tinggi hak asasi manusia dan memastikan keadilan sosial tanpa diskriminasi. Prinsip ini juga menekankan pentingnya moral kemanusiaan dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk politik, hukum, ekonomi, dan sosial. Kehidupan bernegara harus dilandasi oleh sikap saling menghormati serta kesadaran untuk menciptakan keharmonisan. Kemanusiaan yang adil menuntut keadilan dalam hubungan individu dengan dirinya sendiri, sesama, masyarakat, bangsa, lingkungan, dan Tuhan.

3. Persatuan Indonesia

Sila ini tidak terpisahkan dari sila lainnya dan berperan dalam menjaga kesatuan bangsa yang beragam. Persatuan Indonesia mencerminkan bahwa negara adalah wadah bagi masyarakat yang terdiri dari berbagai suku, ras, agama, dan golongan. Keberagaman merupakan kodrat manusia yang harus diarahkan

(19)

untuk menciptakan persatuan, bukan konflik. Prinsip "Bhinneka Tunggal Ika"

menjadi landasan bahwa perbedaan harus dikembangkan menjadi harmoni demi mencapai tujuan bersama sebagai bangsa yang bersatu.

4. Kerakyatan yang Dipimpin Oleh Hikmat Kebijaksanaan dalanı Permusyawaratan/Perwakilan

Nilai yang terkandung dalam sila Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan berlandaskan sila Ketuhanan yang Maha Esa, Kemanusiaan yang Adil dan Beradab, serta Persatuan Indonesia. Sila ini juga menjadi dasar dan jiwa bagi sila Keadilan Sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Secara filosofis, sila ini mencerminkan bahwa negara adalah perwujudan kodrat manusia sebagai makhluk individu sekaligus sosial. Rakyat, sebagai kumpulan individu yang merupakan makhluk Tuhan Yang Maha Esa, bersatu dalam suatu wilayah negara untuk mewujudkan harkat dan martabat manusia. Sebagai elemen utama negara, rakyat menjadi sumber kekuasaan, menjadikan prinsip demokrasi sebagai bagian mutlak dalam kehidupan bernegara.

Nilai-nilai demokrasi dalam sila ini meliputi:

1. Kebebasan yang disertai tanggung jawab terhadap masyarakat, bangsa, dan Tuhan Yang Maha Esa.

2. Penghormatan terhadap harkat dan martabat kemanusiaan.

3. Penguatan persatuan dan kesatuan dalam kehidupan bersama.

4. Pengakuan atas perbedaan individu, kelompok, ras, suku, dan agama sebagai bagian dari kodrat manusia.

5. Kesetaraan hak bagi setiap individu tanpa diskriminasi.

6. Pengarahan perbedaan menuju kerja sama yang beradab.

7. Pengutamaan asas musyawarah sebagai landasan moral yang beradab.

8. Perwujudan keadilan sosial demi tercapainya tujuan bersama.

Nilai-nilai ini diwujudkan dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara, mencakup aspek moral, politik, hukum, serta perundang-undangan.

5. Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia

Nilai yang terkandung dalam sila keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia didasari oleh sila Ketuhanan Yang Maha Esa, Kemanusiaan yang

(20)

Adil dan Beradab, Persatuan Indonesia, serta Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan. Sila kelima mencerminkan tujuan negara dalam mewujudkan keadilan dalam kehidupan sosial, baik dalam hubungan individu dengan dirinya sendiri, sesama manusia, masyarakat, negara, maupun dengan Tuhan.

Nilai keadilan yang harus diwujudkan meliputi:

1. Keadilan distributif, yaitu kewajiban negara dalam menjamin kesejahteraan, bantuan, subsidi, dan kesempatan hidup berdasarkan hak dan kewajiban warga.

2. Keadilan legal, yaitu kewajiban warga negara untuk menaati peraturan hukum yang berlaku.

3. Keadilan komutatif, yaitu hubungan keadilan yang bersifat timbal balik antarwarga negara.

Nilai-nilai keadilan ini menjadi dasar dalam kehidupan kenegaraan untuk mewujudkan kesejahteraan dan perlindungan bagi seluruh warga negara, mencerdaskan kehidupan bangsa, serta menjalin hubungan internasional berdasarkan kemerdekaan, perdamaian, dan keadilan sosial.

H. Pancasila sebagai Dasar Kehidupan Berbangsa dan Bernegara

Bangsa Indonesia memiliki cita-cita dan pandangan hidup sebagai dasar dalam menyelesaikan masalah. Pembentukan bangsa ini melalui sejarah panjang hingga memiliki landasan filosofis yang mencerminkan nilai ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, kerakyatan, dan keadilan. Notonagoro menyebut Pancasila sebagai kausa materialis bangsa yang memperoleh legitimasi yuridis sejak pengesahan UUD 1945 pada 18 Agustus 1945.

Selama bangsa Indonesia berpegang pada Pancasila, kebijakan negara, termasuk reformasi, harus berlandaskan nilai tersebut. Dalam ilmu pengetahuan, paradigma adalah asumsi dasar yang menjadi pedoman suatu bidang. Thomas S. Kuhn mendefinisikan paradigma sebagai sumber nilai dan metode ilmu pengetahuan. Dalam konteks bernegara, Pancasila menjadi paradigma dalam politik, ekonomi, hukum, dan hubungan internasional.

Ilmu pengetahuan berkembang dinamis melalui penelitian yang menguji asumsi dasar. Dalam ilmu sosial, metode kuantitatif awalnya dominan, tetapi

(21)

metode kualitatif dikembangkan untuk pemahaman lebih mendalam. Paradigma meluas ke berbagai bidang, termasuk kebijakan negara yang harus berorientasi pada Pancasila untuk menjaga identitas nasional.

Sebagai paradigma bernegara, Pancasila menjadi dasar seluruh aspek kehidupan nasional. Secara ontologis, manusia memiliki unsur jasmani-rohani, individu-makhluk sosial, serta hubungan dengan Tuhan. Negara mencerminkan kodrat manusia yang tak terpisahkan dari nilai ketuhanan. Oleh karena itu, kehidupan bernegara harus tetap berlandaskan nilai ketuhanan.

Pancasila memiliki legitimasi yuridis, politis, dan sosio-kultural-religius.

Bangsa Indonesia hidup dalam keberagamaan, serta eksistensinya bergantung pada persatuan dan keadilan sosial. Negara harus menempatkan rakyat sebagai sumber kekuasaan dan menjamin keadilan sosial.

Secara filosofis, Pancasila adalah identitas nasional karena nilainya berasal dari budaya bangsa. Semua hukum di Indonesia harus berlandaskan Pancasila sebagai sumber hukum dasar. Dalam demokrasi, penerapannya berarti menyeimbangkan hak individu dengan kepentingan sosial dan nilai ketuhanan.

Selain itu, Pancasila menjadi dasar geopolitik dan geostrategi Indonesia.

Konsep wawasan nusantara mencerminkan kesatuan wilayah dan bangsa.

Dengan demikian, strategi pembangunan nasional harus berlandaskan Pancasila agar memiliki arah yang jelas dalam mencapai cita-cita nasional.

Negara dalam proses reformasi.

(22)

BAB III

BAB III IDENTITAS NASIONAL A. Pengertian Identitas Nasional.

Agar bangsa Indonesia tetap eksis dalam menghadapi globalisasi maka harus tetap meletakkan jatidiri dan identitas nasional yang merupakan kepribadian bangsa Indonesia sebagai dasar pengembangan kreatifitas budaya globalisasi. Istilah “identitas nasional” secara terminologis adalah suatu ciri yang dimiliki oleh suatu bangsa yang secara filosofis membedakan bangsa tersebut dengan bangsa lain.

Dalam hubungannya dengan identitas nasional secara dinamis, dewasa ini bangsa Indonesia harus memiliki visi yang jelas dalam melakukan reformasi, melalui dasar filosofi bangsa dan negara yaitu bhineka tunggal ika, yang terkandung dalam filosofi Pancasila. Masyarakat harus semakin terbuka, dan dinamis namun harus berkeadaban serta kesadaran akan tujuan hidup bersama dalam berbangsa dan bernegara. Dengan kesadaran akan kebersamaan dan persatuan tersebut maka insyaAllah bangsa Indonesia akan mampu mengukir identitas nasionalnya secara dinamis di dunia internasional.

Istilah “identitas nasional” secara terminologis adalah suatu ciri yang dimiliki oleh suatu bangsa yang secara filosofis membedakan bangsa tersebut dengan bangsa lain. Berdasarkan pengertian yang demikian ini maka setiap bangsa di dunia ini akan memiliki identitas sendiri-sendiri sesuai dengan keunikan, sifat, ciri, serta karakter dari bangsa tersebut. Hal ini juga sangat ditentukan oleh proses bagaimana bangsa tersebut terbentuk secara historis.

Pengertian kepribadian, manusia sabagai individusulit dipahami manakala ia terlepas dari manusia lainnya. Oleh karena itu manusia dalam melakukan interaksi dengan individu lainnya senantiasa memiliki suatu sifat kebiasaan, tingkah laku serta karakter yang khas yang membedakan manusia tersebut dengan manusia lainnya. Demikian pada umumnya pengertian atau istilah kepribadian adalah tercermin pada keseluruhan tingkah laku seseorang dalam hubungan dengan manusia lain.

Bangsa pada hakikatnya adalah sekelompok besar manusia yang mempunyai kesamaan nasib dalam proses sejarahnya, sehingga mempunyai

(23)

persamaan watak atau karakter yang kuat unttuk bersatu dan hidup bersama serta mendiami suatu wilayah tertentu sebagai suatu “kesatuan nasional”.

Berdasarkan uraian diatas maka pengertian kepribadian sebagai suatu identitas nasional suatu bangsa, adalah keseluruhan atau totalitas dari kepribadian individu-individu sebagai unsur yang membentuk bangsa tersebut. Oleh karena itu pengertian identitas nasional suatu bangsa tidak dapat dipisahkan dengan pengertian “Peoples Character”, “Nasional Character” atau “Nasional Identity”.

Dalam hubungannya dengan identitas nasional Indonesia, kepribadian bangsa Indonesia kiranya sangat sulit jikalau hanya dideskripsikan berdasarkan ciri khas fisik. Bangsa Indonesia itu terdiri atas berbagai macam unsur etnis, ras, suku, kebudayaan, agama, serta karakter yang sejak asalnya memang memiliki suatu perbedaan. Oleh karena itu kepribadian bangsa Indonesia sebagai suatu idenitas nasional secara historis berkembang dan menemukan jati dirinya setelah Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945.

B. Faktor-Faktor Pendukung Kelahiran Identitas Nasional.

Faktor yang mendukung kelahiran identitas bangsa Indonesia terdiri dari 2 faktor , yaitu :

1. Faktor Objektif, yang meliputi faktor geografis, ekologis dan demografis.

2. Faktor Subjektif, yaitu faktor historis, sosial, politik dan kebudayaan.

C. Pancasila Sebagai Kepribadian dan Identitas Nasional.

Pancasila sebagai dasar filsafat bangsa dan negara Indonesia pada hakikatnya bersumber kepada nilai-nilai budaya dan keagamaan yang dimiliki oleh bangsa Indonesia sebagai kepribadian bangsa. Jadi filsafat pancasila bukan muncul secara tiba-tiba dan dipaksakan oleh suatu rezim atau penguasa melainkan melalui suatu fase historis yang cukup panjang. Proses perumusan materi Pancasila secara formal tersebut dilakukan dalam sidang-sidang BPUPKI pertama, sidang “panitia 9”, sidang BPUPKI kedua, serta akhirnya disyahkan secara formal yuridis sebagai dasar filsafat negara Republik Indonesia. Sejarah Budaya Bangsa sebagai Akar Identitas Nasional.

(24)

Nilai-nilai esensial yang terkandung dalam pancasila dalam kenyataannya secara objektif telah dimiliki oleh bangsa Inodnesia sejak zaman dahulu kala sebelum mendirirkan negara. Proses terbentuknya bangsa dan negara Indonesia melalui proses sejarah yang cukup panjang yaitu sejak zaman kerajaan-kerajaan pada abad ke-IV, ke-V kemudian dasar-dasar kebangsaan Indonesia telah mulai nampak pada abad ke- VII, yaitu ketika timbulnya kerajaan Sriwijaya dibawah wangsa Syailendra di Palembang, kemudian kerjaan Airlangga dan Majapahit di Jawa Timur serta kerajaan- kerajaan lainnya.

Dasar-dasar pembentukan nasionalisme modern dirintis oleh para pejuang kemerdekaan bangsa, antara lain rintisan yang dilakukan oleh para tokoh pejuang kebangkitan nasional pada tahun 1908, kemudian dicetuskan pada Sumpah Pemuda pada tahun 1928. Akhirnya titik kulminasi sejarah perjuangan bangsa Indonesia untuk menemukan identitas nasionalnya sendiri, membentuk suatu bangsa dan negara Indonesia tercapai pada tanggal 17 Agustus 1945 yang kemudian diproklamasikan sebagai suatu kemerdekaan bangsa Indonesia.

D. Negara Kebangsaan Sebagai Identitas Nasional Indonesia

E. Identitas Nasional Indonesia sebagaimana Terkandung dalam UUD 1945 Identitas nasional merupakan manifestasi nilai-nilai budaya yang tumbuh dan berkembang dalam aspek kehidupan suatu bangsa, dengan ciri khas yang membedakannya dari bangsa lain. Nilai-nilai ini bersifat dinamis dan terus berkembang seiring waktu.

Identitas nasional Indonesia dapat dikategorikan ke dalam tiga bidang utama:

1. Identitas Fundamental:

Pancasila sebagai falsafah bangsa, hukum dasar, pandangan hidup, etika politik, dan paradigma pembangunan.

2. Identitas Instrumental:

UUD 1945 sebagai konstitusi negara, bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan, Garuda Pancasila sebagai lambang negara, Sang Saka Merah Putih sebagai bendera negara, Bhinneka Tunggal Ika sebagai semboyan negara, dan Indonesia Raya sebagai lagu kebangsaan.

(25)

3. Identitas Alamiah:

Indonesia sebagai negara kepulauan dengan keberagaman suku, budaya, dan agama.

UUD 1945 mengatur identitas nasional dalam Pasal 35 hingga 36B, yang mencakup:

c. Pasal 35: Menetapkan Bendera Negara Indonesia adalah Sang Merah Putih.

d. Pasal 36: Menetapkan Bahasa Negara adalah Bahasa Indonesia.

e. Pasal 36A: Menetapkan Lambang Negara adalah Garuda Pancasila dengan semboyan Bhinneka Tunggal Ika.

f. Pasal 36B: Menetapkan Lagu Kebangsaan adalah Indonesia Raya.

Penetapan identitas-identitas tersebut dalam UUD 1945 menegaskan simbol-simbol pemersatu bangsa Indonesia yang beragam, memperkuat persatuan dan kesatuan nasional.

(26)

BAB IV

BAB IV DEMOKRASI INDONESIA A. Demokrasi dan Implementasi.

Pembahasan tentang peranan negara dan masyarakat tidak dapat dilepaskan dari telaah tentang demokrasi dan hal ini karena dua alasa.

Pertama, hampir semua negara di dunia ini telah menjadikan demokrasi sebagai asasnya yang fundamental sebagaimana telah ditunjukkan oleh hasil studi UNESCO pada awal 1950-an yang mengumpulkan lebih dari 100 Sarjana Barat dan Timur, sementara di negara-negara demokrasi itu pemberian peranan kepada negara dan masyarakat hidup dalam porsi yang berbeda-beda (kendati sama-sama negara demokrasi). Kedua, demokrasi sebagai asa kenegaraan secara esensial telah memberikan arah bagi peranan masyarakat untuk menyelenggarakan negara sebagai organisasi tertingginya tetapi ternyata demokrasi itu berjalan dalam jalur yang berbeda-beda (Rais.

1995 : 1) Dalam hubungannya dengan implementasi ke dalam sistem pemerintahan, demokrasi juga melahirkan sistem yang bermacam-macam seperti : pertama, sistem presidensial yang menyejajarkan antara parlemen dan presiden dengan memberi dua kedudukan kepada presiden yakni sebagai kepala negara dan kepala pemerintahan. Kedua, sistem parlementer yang meletakkan pemerintahan dipimpin oleh perdana menteri yang hanya berkedudukan sebagai kepala pemerintahan dan bukan kepala negara , sebab kepala negaranya bisa diduduki oleh raja atau presisden yang hanya menjadi simbol kedaulatan dan persatuan ; ketiga, sistem referendum yang meletakkan pemerintahan sebagai bagian (badan pekerja) dari parlemen. Di beberapa negara ada yang menggunakan sistem campuran antara presidensial dengan parlementer, yang antara lain dapat dilihat dari sistem ketatanegaraan di Perancis atau di Indonesia berdasar UUD 1945.

Dengan alasan tersebut, menjadi jelas bahwa asas demokrasi yang hampir sepenuhnya disepakati sebagai model terbaik bagi dasar penyelenggaraan negara ternyata memberikan implikasi yang berbeda diantara pemakai-pemakainya bagi peranan negara.

(27)

B. Arti dan Perkembangan Demokrasi.

Secara etimologis Istilah demokrasi berasal dari bahasa Yunani,

"demos" berarti rakyat dan "kratos/kratein" berarti kekuasaan. Konsep dasar demokrasi berarti "rakyat berkuasa" (government of rule by the people). Ada pula definisi singkat untuk istilah demokrasi yang diartikan sebagai pemerintahan atau kekuasaan dari rakyat oleh rakyat dan untuk rakyat.

Namun demikian penerapan demokrasi diberbagai negara di dunia, memiliki ciri khas dan spesifikasi masing-masing, yang lazimnya sangat dipengaruh oleh ciri khas masyarakat sebagai rakyat dalam suatu Negara Demokrasi mempunyai arti yang penting bagi masyarakat yang sebab dengan demokrasi hak masyarakat untuk menentukan sendiri jalannya organisasi dijamin. Oleh sebab itu, hampir semua pengertian yang diberikan untuk istilah demokrasi ini selalu memberikan posisi penting bagi rakyat kendati secara operasional implikasinya di berbagai negara tidak selalu sama. Sekedar untuk menunjukkan betapa rakyat diletakkan pada posisi penting dalam asas demokrasi ini berikut akan dikutip beberapa pengertian demokrasi.

Demokrasi sebagai dasar hidup bernegara memberi pengertian bahwa pada tingkat terakhir rakyat memberikan ketentuan dalam masalah-masalah pokok mengenai kehidupannya, termasuk dalam menilai kebijaksanaan negara, karena kebijaksanaan tersebut menentukan kehidupan rakyat (Noer, 1983: 207).

Jadi, negara demokrasi adalah negara yang diselenggarakan berdasarkan kehendak dan kemauan rakyat, atau jika ditinjau dari sudut organisasi, ia berarti suatu berarti suatu pengorganisasian negara yang dilakukan oleh rakyat sendiru atau asas persetujuan rakyat karena kedaulatan berada ditangan rakyat.

Dalam hubungan ini menurut Henry B. Mayo bahwa sistem politik demokratis adalah sistem yang menunjukkan bahwa kebijaksanaan umum ditentukan atas dasar mayoritas oleh wakil-wakil yang diawasi secara efektif oleh rakyat dalam pemilihan-pemilihann berkala yang didasarkan atas prinsip kesamaan politik dan diselenggarakan dalam suasana terjaminnya k ebebasan politik (Mayo, 1960:70)

Meskipun dari berbagai pengertian itu terlihatbahwa rakyat diletakkan pada posisi sentral "rakyat berkuasa" (government of role by the people) tetapi

(28)

dalam praktiknya oleh UNESCO disimpulkan bahwa ide demokrasi itu dianggap ambiguous atau memiliki arti ganda, sekurang-kurangnya ada ambiguity atau ketidaktentuan mengenai lembaga-lembaga atau cara-car yang dipakai untuk melaksanakan ide atau mengenai keadaan kultural serta historis yang mempengaruhi istilaj ode dan praktik demokrasi (Budiarjo, 1982:50). hal ini bisa dilihat betapa negara-negara yang sama menganut asas demokrasi ternyata mengimplementasikannya secara tidak sama. Ketidaksamaan tersebut bahkan bukan hanya pada pembentukan lembaga-lembaga atau aparatur demokrasi, tetapi juga menyangkut perimbangan porsi yang terbuka bagi peranan maupun pernan rakyat.

Memang sejak dimunculkannya kembali asa demokrasi yaitu setelah tenggelam beberapa abad dari permukaan Eropa telah menimbulkan masalah tentang siapakah sebenarnya yang lebih berperan dalam menentukan jalannya negara sebagai organisasi tertinggi. Pemakaian demokrasi sebagai prinsip- prinsip hidup bernegara sebenarnya telah melahirkan fiksi-yuridis bahwa negara adalah milik masyarakat, tetapi pada fiksi-yuridis telah terjadi tolak-tarik kepentingan, atau kontrol, tolak-tarik antara negara-masyarakat, karena kemudian negara terlihat memiliki pertumbuhannya sendiri sehingga lahirlah konsep tentang negara organis (Mahasin, 1982:2)

Konsep demokrasi semula lahir dari pemikiran mengenai hubungan negara dan hukum di Yunani Kuni dan dipraktikkan dalam hidup bernegara antara abad ke-4 sebelum masehi sampai abad 6 masehi. dilihat dari pelaksanaannya, demokrasi yang dipraktekkan bersifat langsung (direct democracy), artinya hak rakyat untuk membuat keputusan-keputusan politik dijalankan secara langsung oleh seluruh warga negara yang bertindak berdasarkan prosedur mayoritas. Sifat langusng ini dapat dilaksanakan secara e fektif karena Negara Kota (city state) Yunani Kuno berlangsung dalam kondisi sederhana. Ketentuan-ketentuan demokrasi hanya berlaku untuk warga negara yang resmi merupakan sebagian kecil dari seluruh penduduk. Sebagian besar yang terdiri dari budak belian, pedagang asing, perempuan, dan anak-anak tidak dapat menikmati hak demokrasi (Budiarto, 1982:54).

(29)

Masyarakat abad pertengahan terbelenggu oleh kekuasaan feodal dan kekuasaan pemimpin-pemimpin agama, sehingga tenggelam dalam apa yang disebut sebagai masa kegelapan. Kendati begitu, ada sesuatu yang penting berkenaan dengan demokrasi pada abad pertengahan itu, yakni lahirnya dokumen Magna Charta (piagam besar), sesuatu piagam yang berisi semacam perjanjian antara beberapa bangsawan dan Raja Jhon di Inggris bahwa Raja mengakui dan menjamin beberapa hak dan previleges bahwasanya sebagai imbalan untuk penyerahan dana bagi keperluan perang dan lainnya.

Ranaissance adalah aliran yang menghidupkan kembali minat pada sastra dan budaya Yunani Kuno. Massa renaissance adala masa ketika orang mematahkan semua ikatan yang ada dan menggantikan dengan kebebasan bertindak yang seluas- luasnya sepanjang sesuai dengan yang dipikirkan , karena dasar ide ini adalah kebebasan berpikir dan bertindak bagi manusia tanpa boleh ada orang lain yang menguasai atau membatasi dengan ikatan-ikatan.

Selain renaissance, peristiwa lain yang mendorong timbulnya kembali

"demokrasi" yang sebelumnya tenggelam dalam abad pertengahan adalah terjadinya Reformasi, yakni revolusi agama. Dua kejadian (Renaissance dan Reformasi) ini telah mempersiapkan Eropa masuk ke dalam Aufklarung (Abad Pemikiran) dan Rasionalisme yang mendorong mereka untuk memerdekakan pikiran dari batas-batas yang ditentukan,

Tampak bahwa teori hukum alam merupakan usaha untuk mendobrak pemerintahan absolut dan menetapkan hak-hak politik rakyat dalam suatu asas yang disebut demokrasi (pemerintah rakyat). Dari pemikiran tentang hak-hak politik rakyatr dan pemisahan kekuasaan ini terlihat munculnya kembali ide pemerintahan rakyat (demokrasi). tetapi dalam kemunculannya sampai saat ini demokrasi telah melahirkan dua konsep demokrasi yang berkaitan dengan peranan masyarakat, yaitu demokrasi konstitusional abad ke-19 dan demokrasi konstitusional abad ke-20 yang keduanya senantiasa dikaitkan pada konsep negara hukum (Mahfud, 1999:20)

C. Bentuk-Bentuk Demokrasi.

Formal demokrasi menunjuk pada demokrasi dalam arti system pemerintahan. Hal ini dapat dilihat dalam berbagai pelaksanaan demokrasi di

(30)

berbagai Negara. Dalam suatu Negara misalnya dapat diterapkan demokrasi dengan menerapkan system presidensial atau sistem parlementer.

Sistem Presidensial : sistem ini menekankan pentingnya pemilihan presiden secara langsung, sehingga presiden terpilih mendapatkan mandat secara langsung dari rakyat. Dalam sistem ini kekuasaan eksekutif (kekuasaan menjalankan permintaan) sepenuhnya berada di tangan presiden. Sistem Parlementer : Sistem ini menerpakan model hubungan yang menyatu antara kekuasaan eksekutif dan legeslatif. Kepala eksekutif (head of government) adalah berada di tangan seorang perdana menteri. Adapun kepala Negara (head of state) adalah berada pada seorang ratu, misalnya di Negara Inggris atau ada pula yang berada pada seorang presiden misalnya di India.

1. Demokrasi Perwakilan Liberal.

Prinsip demokrasi ini didasarkan pada suatu filsafat kenegaraan bahwa manusia adalah sebagai makhluk individu yang bebas. Oleh karena itu dalam sistem demokrasi ini kebebasan individu sebagai dasar fundamental dalam pelaksanaan demokrasi.

2. Demokrasi Satu Partai dan Komunisme.

Demokrasi satu partai lazimnya dilaksanakan di negara-negara komunis.

Kebebasan formal berdasalkan demokrasi liberal menghasilkan kesenjangan kelas yang semakin lebar dalam masyarakat dan akhirnya kapitalislah yang menguasai negara.

3. Demokrasi Berdasarkan Nilai-Nilai Pancasila.

Negara memiliki kewajiban untuk melindungi serta mencakup seluruh bangsa dan wilayahnya. Dengan demikian, negara harus mengatasi segala bentuk kepentingan golongan maupun perorangan. Berdasarkan pemahaman dari Pembukaan UUD 1945, negara menghendaki persatuan yang mencakup seluruh bangsa Indonesia. Oleh karena itu, dalam penyelenggaraan negara, setiap warga negara wajib mengutamakan kepentingan negara di atas kepentingan pribadi maupun golongan.

Pokok pikiran ini menegaskan tujuan atau cita-cita yang ingin dicapai sebagaimana tertuang dalam Pembukaan UUD 1945. Hal ini bersifat kausa

(31)

finalis, yang berarti tujuan tersebut menentukan aturan serta jalan yang harus ditempuh dalam Undang-Undang Dasar untuk mencapainya, dengan berlandaskan semangat persatuan. Pokok pikiran ini juga mencerminkan prinsip keadilan sosial, yang didasarkan pada kesadaran bahwa setiap manusia memiliki hak dan kewajiban yang sama dalam mewujudkan keadilan sosial dalam kehidupan bermasyarakat.

Lebih lanjut, pokok pikiran dalam Pembukaan UUD 1945 mengandung konsekuensi logis bahwa sistem pemerintahan negara harus berlandaskan kedaulatan rakyat serta musyawarah/perwakilan. Dengan demikian, pokok pikiran ini menjadi dasar politik negara.

Selain itu, Pembukaan UUD 1945 juga menegaskan pokok pikiran Ketuhanan Yang Maha Esa, yang mencerminkan nilai ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Pokok pikiran lainnya adalah nilai kemanusiaan yang adil dan beradab, yang menjunjung tinggi harkat dan martabat manusia sebagai nilai kemanusiaan yang luhur.

Menurut Penjelasan UUD 1945, terdapat empat pokok pikiran utama yang merupakan penjabaran logis dari inti alinea dalam Pembukaan UUD 1945.

Pokok pikiran pertama menekankan bentuk negara sebagai negara persatuan.

Pokok pikiran kedua berfokus pada cita-cita negara, yaitu keadilan sosial. Pokok pikiran ketiga berkaitan dengan dasar politik negara yang berlandaskan kedaulatan rakyat.Dan pokok pikiran ke empat adalah negara berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa berdasarkan kemanusiaan yang adil dan beradab.

Agar tujuan negara dapat terwujud, maka penyelenggaraan pemerintahan harus berlandaskan prinsip negara persatuan dalam bentuk Republik yang berkedaulatan rakyat

D. Demokrasi di Indonesia.

1. Perkembangan Demokrasi di Indonesia.

Masalah pokok yang dihadapi oleh bangsa Indonesia adalah bagaimana meningkatkan kehidupan ekonomi dan membangun kehidupan sosial dan politik yang demokratis dalam masyarakat yang beranekaragam pola adat budayanya.

Perkembangan demokrasi di Indonesia dapat dibagi dalam empat periode : a.Periode 1945-1959, masa demokrasi parlementer.

(32)

b.Periode 1959-1965, masa demokrasi terpimpin.

c.Periode 1966-1998, masa demokrasi Pancasila era Orde Baru.

d.Periode 1999-sekarang, masa demokrasi Pancasila era Reformasi.

2. Pengertian Demokrasi menurut UUD 1945.

a. Seminar Angkatan Darat II (Agustus 1966).

1) Dalam bidang Politik & Konstitusional.

Menurut UUD 1945, demokrasi berarti menegakkan kembali asas- asas negara hukum dimana kepastian hukum dirasakan oleh segenap warga negara. Hak-hak asasi manusia baik dalam aspek kolektif maupun dalam aspek perorangan dijamin, dan penyalahgunaan kekuasaan dapat dihindarkan secara intitusional.

2) Dalam bidang Ekonomi.

Demokrasi berarti kehidupan yang layak bagi semua warga negara yang mencakup :

 Pengawasan oleh rakyat terhadap penggunaan kekayaan dan keuangan Negara.

 Koperasi.

 Pengakuan atas hak milik perorangan dan kepastian hukum dalam penggunaannya.

 Peranan pemerintahan yang bersifat pembinaan, penunjuk jalan serta pelindung.

b. Munan III Persahi : The Rule of Law (Desember 1966) Asas negara hukum Pancasila mengandung prinsip :

1) pengakuan dan perlindungan hak asasi yang mengandung persamaan dalam politik , hukum, sosial, ekonomi, kultural dan pendidikan.

2) Peradilan yang bebas dan tidak memihak, tidak terpengaruh oleh sesuatu kekuasaan/kekuatan lain apapun.

3) Jaminan kepastian hukum dalam semua persoalan. Yang dimaksudkan kepastian hukum yaitu jaminan bahwa ketentuan hukumnya dapat dipahami, dapat dilaksanakan dan aman dalam

(33)

melaksanakannya.

c. Simposium hak-hak Asasi Manusia (Juni 1967)

Persoalan hak-hak asasi manusia dalam kehidupan kepartaian untuk tahun-tahun mendatang harus ditinjau dalam rangka keharusan kita untuk mencapai kesetimbangan yang wajar diantara 3 hal :

1) Adanya pemerintah yang mempunyai cukup kekuasaan dan kewibawaan.

2) Adanya kebebasan yang sebesar-besarnya.

3) Perlunya untuk membina suatu "rapidly expanding economy" (pengembangan ekonomi secara cepat).

3. Demokrasi Pasca Reformasi.

Dalam suatu negara yang menganut sistem demokrasi harus berdasarkan pada suatu kedaulatan rakyat. Kekuasaan pemerintahan negara ditangan rakyat mengandung pengertian tiga hal :

1. Pemerintah dari rakyat (government of the people) 2. Pemerintahan oleh rakyat (government by people)

3. Pemerintahan untuk rakyat (governmentfor people) Struktur Pemerintahan Indonesia berdasarkan UUD 1945:

4. Demokrasi Indonesia Sebagaimana Dijabarkan dalam Undang-Undang Dasar 1945 Hasil Amandemen 2002.

Secara umum dalam sistem pemerintahan yang demokratis senantiasa mengandung unsur yang paling penting dan mendasar, yaitu:

o Keterlibatan warga negara dalam pembuatan keputusan politik.

o Tingkat persamaan tertentu diantara warga negara.

o Tingkat kebebasan atau kemerdekaan tertentu yang diakui dan dipakai oleh warga negara.

o Suatu sistem perwakilan.

o Suatu sistem pemilihan kekuasaan mayoritas.

Berdasarkan ciri-ciri sistem demokrasi tersebut maka penjabaran demokrasi dalam ketatanegaraan Indonesia dapat ditemukan dalam konsep demokrasi sebagaimana terdapat dalam UUD 1945 sebagai "Staat fundamental norm" yaitu ".. Suatu susunan negara Republik Indonesia yang berkedaulatan

(34)

rakyat.. " (ayat 2). Oleh karena itu "rakyat" adalah merupakan paradigma sentral kekuasaan negara. Adapun rincian struktural ketentuan-ketentuan yang berkaitan dengan demokrasi menurut UUD 1945 adalah sebagai berikut : a) Konsep Kekuasaan

Konsep kekuasaan negara menurut demokrasi adalah : 1) Kekuasaan ditangan rakyat.

(a) Pembukaan UUD alinea IV

“…Maka disusunlah kemerdekaan kebangsaan Indonesia itu dalam suatu UUD RI yang berkedaulatan rakyat…”

(b) Pokok pikiran dalam Pembukaan UUD 1945

“Negara yang berkedaulatan rakyyat, berdasarkan atas kerakyatan dan permusyawaratan perrwakilan” (pokok pikiran III).

(c) UUD 1945 Pasal 1 ayat (1)

“Negara Indonesia ialah Negara Kesatuan yang berbentuk Republik”

(d) UUD 1945 Pasal 1 ayat (2)

“kedaulatan adalah di tangan rakyat dan dilakukan menurut undang-undang dasar”

Jadi, kedaulatan tertinggi berada di tangan rakyat dan realisasinya diatur dalam UUD. Sebelum dilakukan amandemen kekuasaan tertinggi dilakukan oleh MPR.

2.) Pembagian kekuasaan

Pembagian kekuasaan menurut demokrasi :

1. Kekuasaan Eksekutif, didelegasikan kepada Presiden (pasal 4 ayat (1) UUD 1945).

2. Kekuasaan Legislatif, didelegasikan kepada Preisiden, DPR, dan DPD pasal 5 ayat (1), pasal 19 dan pasal 22 C UUD 1945.

3. Kekuasaan Yudikatif, didelegasikan kepada MA pasal 24 ayat (1) UUD 1945.

4. Kekuasaan Inspektif atau pengawasan didelegasikan kepada BPK dan DPR. Dalam UUD 1945 pasal 20 ayat (1) “… DPR juga memiliki fungsi pengawasan terhadap presiden selaku penguasa

(35)

eksekutif”.

5. Dalam UUD 1945 hasil amandemen tidak ada kekuasaan Konsultatif, didelegasikan kepada DPA, pasal 16 UUD 1945.

Artinya DPA dihapuskan karena berdasarkan kenyataan pelaksanaan kekuasaan Negara fungsinya tidak jelas.

3.) Pembatasan Kekuasaan

Pembatasan kekuasaan menurt konsep UUD 1945, dapat dilihat melalui mekanisme 5 tahunan kekeuasaan:

a) Pasal 1 ayat (2) “kedaulatan ditangan rakyat…” Pemilu untuk membentuk MPR dan DPR setiap 5 tahun sekali.

b) MPR memilki kekuasaan melakukan perubahan UUD, melantik Presiden dan Wapres,serta melakukan impeachment terhadap presiden jika melanggar konstitusi.

c) Pasal 20 A ayat (1),”DPR memiliki fungsi pengawasan.” Yang berarti mengawasi pemerintahan selama jangka waktu 5 tahun.

d) Rakyat kembali mengadakan Pemilu setelah membentuk MPR dan DPR (rangkaian kegiatan 5 tahunan sebagai periodesasi kekuasaan.

4) Konsep Pengambilan Keputusan

Pengambilan keputusan menurut UUD 1945 dirinci sebagai berikut :

a) Penjelasan UUD 1945 tentang Pokok Pikiran III, “… Oleh karena itu sistem Negara yang terbentuk dalam UUD 1945, harus berdasar atas kedaulatan rakyat dan berdasarkan atas permusyawaratan/perwakilan.”

b) Putusan MPR ditetapkan dengan suara terbanyak, misalnya pasal 7B ayat 7.

5) Konsep Pengawasan

Konsep pengawasan menurut UUD 1945 ditentukanmsebagai berikut :

a) Pasal 1 ayat (2), “Kedaulatan adalah ditangan rakyat dan dilakukan menurut UUD.”

b) Pasal 2 ayat (1), “MPR terdiri atas DPR dan anggota

(36)

DPD”

c) DPR senantiasa mengawasi tindakan Presiden.

4) Konsep Partisipasi

Konsep partisipasi menurut UUD 1945 terdiri dari beberapa hal berikut :

a) Pasal 27 ayat (1), “Segala warganegara bersamaan kedudukannya didalam hukum dan pemerintahan dan wajib menjunjung hukum dan pemerintahan itu dengan tiada kecualinya.”

b) Pasal 28, “Kemerdekaan berserikat dan berkumpul, mengeluarkan pikiran dengan lisan dan tulisan dan sebagainya ditetapkan dengan UU.”

c) Pasal 30 ayat (1), ”Tiap-tiap warga Negara berhak dan wajib ikut serta dalam usaha pembelaan Negara.” Konsep partisipasi menyangkut seluruh aspek kehidupan kenegaraan dan kemasyarakatan yang terbuka untuk seluruh warga Negara Indonesia. Demokrasi Indonesia mengandung suatu pengertian bahwa rakyat adalah sebagai unsur sentral, oleh karena itu pembinaan dan pengembangannya harus ditunjang oleh adanya orinentasi baik pada nilai-nilai yang universal yakni rasionalisasi hukum dan perundang-undangan juga harus ditunjang norma-norma kemasyarakatan yaitu tuntutan dan kehendak yang berkembang dalam masyarakat.

(37)

BAB V

BAB V NEGARA DAN KONSTITUSI A. Pengertian Negara

Nicollo Machiavelli yang merumuskan Negara sebagai Negara kekuasaan. Teori Negara menurut Machiavelli tersebut mendapat tantangan dan reaksi yang kuat dari filsuf lain separti Thomas Hobbes (1588-1679), John Locke (1632-1704) dan Rousseau (1712-1778). Mereka mengartikan Negara sebagai suatu badan atau organisasi hasil dari perjanjian masyarakat secara bersama. Menurut mereka, manusia sejak dilahirkan telah membawa hak-hak asasinya seperti hak untuk hidup, hak milik serta hak kemerdekaan.

Konsep pengertian Negara modern yang dikemukakan oleh para tokoh lain antara lain :

1. Roger H. Soltau, mengemukakan bahwa Negara adalah sebagai alat agency atau wewenang / authority yang mengatur atau mengendalikan persoalan- persoalan besama atas nama masyarakat.

2. Menurut Harold J. Lasky bahwa Negara adalah merupakan suatu masyarakat yang diintegrasikan karena mempunyai wewenang yang bersifat sah lebih agung dari pada individu atau sekelompok.

3. Mc. Iver bahwa Negara adalah asosiasi yang menyelenggarakan penertiban suatu masyarakat dalam suatu wilayah dengan berdasarkan system hukum yang diselenggarakan oleh suatu pemerintah maksud tersebut diberi kekuasaan memaksa.

4. Miriam Budiardjo bahwa Negara adalah suatu daerah territorial yang rakyatnya diperintah (governed) oleh sejumlah pejabat dan berhasil menuntut dari warga Negaranya ketaatan pada perundang-undangannya melalui penguasaan (control) monopolitis dari kekuasaan yang sah.

Berdasarkan pengertian yang dikemukakan oleh berbagai filsuf serta para sarjana tentang negara, maka dapat disimpulkan bahwa semua Negara memiliki unsur-unsur yang mutlak harus ada. Unsur-unsur Negara meliputi :

1. Wilayah 2. Rakyat 3. Pemerintahan

(38)

Bangsa Indonesia tumbuh dan berkembang dilatar belakangi oleh adanya kesatuan nasib, yaitubersama-sama dalam suatu penderitaan dibawah penjajahan bangsa asing serta berjuang merebut kemerdekaan. Selain itu yang sangat khas bagi bangsa Indonesia adalah unsur-unsur etnis yang membentuk bangsa itu sangat beraneka ragam, baik latar belakang budaya seperti bahasa, adat kebiasaan serta nilai- nilai yang dimilikinya. Prinsip-prinsip Negara Indonesia dapat dikaji melalui makna yang terkandung dalam Pembukaan UUD 1945 Alinea I,II,III & IV.

B. Konstitusionalisme

Konstitusionalisme mengacu kepada pengertian sistem institusionalisasi secara efektif dan teratur terhadap suatu pelaksanaan pemerintahan. Basis pokok konstitusionalisme adalah kesepakatan umum atau persetujuan (consensus) diantara mayoritas rakyat mengenai bangunan yang diidealkan berkaitan dengan negara.

Konsensus yang menjamin tegaknya konstitusionalisme pada umumnya dipahami berdasarkan pada :

1)Kesepakatan tentang tujuan atau cita-cita bersama 2)Kesepakatan tentang the rule of law

3)Kesepakatan tentang bentuk institusi-institusi dan prosedur ketatanegaraan

Kesepakatan pertama, yaitu berkenaan dengan cita-cita bersama yang sangat menentukan tegaknya konstitusionalisme dan konstitusi dalam suatu Negara.

Kesepakatan kedua , adalah kesepakatan bahwa basis pemerintahan didasarkan atas aturan hukum dan konstitusi.

Kesepakatan ketiga, adalah berkenaan dengan (a) bangunan organ Negara dan prosedur-prosedur yang mengatur kekuasaan, (b) hubungan-hubungan antar organ Negara itu satu sama lain, serta (c) hubungan antar organ-organ Negara itu dengan warga Negara .

Keseluruhan kesepakatan itu pada intinya menyangkut prinsip pengaturan dan pembatasan kekuasaan. Atas dasar pengertian tersebut maka sebenarnya prinsip konstitusionalisme modern adalah menyangkut prinsip

(39)

pembatasan kekuasaan atau yang lazim disebut sebagai prinsip limited government. Konstitusionalisme mengatur dua hubungan yang saling berkaitan satu sama lain, yaitu: Pertama, hubungan antara pemerintahan dengan warga Negara; dan Kedua, hubungan antara lembaga pemerintahan yang satu dengan lainnya.

C. Konstitusi Indonesia

Amandemen terhadap UUD 1945 dilakukan oleh bangsa Indonesia sejak tahun 1999, dimana amandemen pertama dilakukan dengan memberikan tambahan dan perubahan terhadap pasal 9 UUD 1945. Kemudian amandemen kedua dilakukan pada tahun 2000, amandemen ketiga dilakukan pada tahun 2001 dan disahkan pada tanggal 10 Agustus 2002.

Penegertian hukum dasar meliputi dua macam yaitu, hukum dasar tertulis dan hukum dasar tidak tertulis. Oleh karena itu sifatnya yang tertulis, maka Undang- Undang Dasar itu rumusannya tertulis dan tidak mudah berubah.

Undang-Undang Dasar menurut sifat dan fungsinya adalah suatu naskah yang memaparkan kerangka dan tugas-tugas pokok dari badan-badan pemerintahan suatu Negara dan menentukan pokok-pokok cara kerja badan-badan tersebut.

Dalam penjelasan Undang-Undang Dasar 1945 disebutkan bahwa Undang- Undang Dasar 1945 bersifat singkat dan supel. UUD 1945 hanya memiliki 37 pasal, adapun pasal-pasal lain hanya memuat aturan peralihan dan aturan tambahan.

Sifat-sifat UUD 1945 adalah sebagai berikut : a. Rumusannya jelas

b. Bersifat singkat dan supel

c. Memuat norma-norma, aturan-aturan serta ketentuan-ketentuan yang dapat dan harus dilaksanakan secara konstitusional

d. Peraturan hukum positif yang tinggi

Convensi adalah hukum dasar yang tidak tertulis, yaitu aturan-aturan dasar yang timbul dan terpelihara dalam praktek penyelenggaraan negara meskipun sifatnya tidak tertulis. Convensi ini mempunyai sifat-sifat sebagai berikut:

1) Merupakan kebiasaan yang berulang kali dan terpelihara dalam praktek penyelenggaraan Negara.

(40)

2) Tidak bertentangan dengan Undang-Undang Dasar dan berjalan sejajar.

3) Diterima oleh semua rakyat.

4) Bersifat sebagai pelengkap, sehingga memungkinkan sebagai aturan- aturan dasar yang tidak terdapat dalam Undang-Undang Dasar.

Jadi convensi bilamana dikehendaki untuk menjadi suatu aturan dasar yang tertulis, tidak secara otomatis setingkat dengan UUD, melainkan sebagai suatu ketetapan MPR.Kata konstitusi dapat mempunyai arti lebih luas dari pada pengertian UUD, karena pengertian UUD hanya meliputi konstitusi tertulis saja, dan selain itu masih terdapat konstitusi tidak tertulis yang tidak tercakup dalam UUD. Sistem pemerintahan negara Indonesia dibagi atas tujuh :

1. Indonesia adalah negara yang berdasarkan atas hukum (Rechtstaat) 2. Sistem konstitusional

3. Kekuasaan tertinggi ditangan rakyat

4. Presiden adalah penyelenggara pemerintahan negara yang tertinggi disamping MPR dan DPR

5. Presiden tidak bertanggung jawab kepada DPR

6. Menteri negara adalah pembantu presiden, menteri negara tidak bertanggung jawab kepada DPR

7. Kekuasaan kepala negara tidak tak-terbatas

Menurut penjelasan UUD 1945, Negara Indonesia adalah Negara hukum, Negara hukum yang berdasarkan Pancasila dan bukan berdasarkan atas kekuasaan. Sifat Negara hukum hanya dapat ditunjukkan jikalau alat-alat perlengkapanya bertindak menurut dan terikat kepada aturan-aturan yang ditentukan lebih dahulu oleh alat-alat perlengkapan yang dikuasai untuk mengadakan aturan-aturan itu. Ciri-ciri suatu Negara Hukum adalah :

a. Pengakuan dan perlindungan hak-hak asasi yang mengandung persamaan dalam bidang politik, hukum, sosial, ekonomi dan kebudayaan.

b. Peradilan yang bebas dari suatu pengaruh kekuasaan atau kekuatan lain dan tidak memihak.

c. Jaminan kepastian hukum, yaitu jaminan bahwa ketentuan hukumnya dapat dipahami dapat dilaksanakan dan aman dalam melaksanakannya.

(41)

Referensi

Dokumen terkait

Secara formal, kedudukan Pancasila sebagai dasar negara Republik Indonesia tersimpul dalam Pembukaan UUD 1945 alinea keempat yang berbunyi sebagai berikut “....maka

Hal ini tersimpul dalam Pembukaan UUD 1945 alinea IV yang berbunyi sebagai berikut : “maka disusunlah kemerdekaan kebangsaan Indonesia dalam suatu susunan Negara Republik

Di dalam Pembukaan UUD 1945 alinea keempat disebutkan, ”maka disusunlah kemerdekaan kebangsaan Indonesia itu dalam suatu Undang-Undang Dasar negara Indonesia, yang

Berdasarkan pada kalimat Pembukaan UUD 1945 yang berbunyi “... maka disusunlah Kemerdekaan Kebangsaan Indonesia itu dalam suatu Undang-Undang Dasar Negara Indonesia...”,

Pancasila sebagai Paradigma Reformasi Politik Landasan aksiologis (sumber nilai) sistem politik Indonesia adalah dalam Pembukaan UUD 1945 alinea IV yang berbunyi “……maka

Pancasila yang tercantum dalam alinea IV Pembukaan Pancasila yang tercantum dalam alinea IV Pembukaan UUD 1945 merupakan hasil kesepakatan PPKI yang UUD 1945 merupakan

Pancasila sebagai dasar negara termaktub jelas dalam Pembukaan Undang-undang Dasar Negara Repu- blik Indonesia Tahun 1945 UUD NRI Tahun 1945 pada alinea keempat, yaitu “…maka disusunlah

sebagai dasar Negara yang terdapat dalam susunan pembukaan UUD 1945 alinea ke-4 yang berbunyi “maka disusunlah kemerdekaan itu dalam suatu Undang-Undang Dasar Negara Indonesia, yang