RESUME MAKALAH PSIKOLOGI KEPRIBADIAN
Dosen pengampu : Nina Fitryani, S.Sos., M.Pd
Disusun oleh : Asih purnama 231340109
FAKULTAS DAKWAH
PRODI BIMBINGAN KONSELING ISLAM
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SULTAN MAULANA HASANUDDIN BANTEN
TAHUN 2024/2025
PSIKOLOGI KEPRIBADIAN (TEORI PSIKOLOGI KEPRIBADIAN)
Pemahaman kepribadian sangat di pengaruhi oleh paradigma yang dipakai sebagai acuan untuk mengembangkan teori kepribadian itu sendiri. Para ahli kepribadian ternyata meyakini paradigma yang berbeda bea,yang mempengaruhi secara sistemik seluruh pola pemikirannya tentang kepribadian manusia.
Psikologi kepribadian adalah cabang ilmu yang mempelajari pola pikir, perasaan, dan perilaku individu yang konsisten dalam berbagai situasi. Terdapat berbagai teori yang berusaha menjelaskan bagaimana kepribadian terbentuk dan berkembang.
Teori psikoanalitik, yang dikembangkan oleh Sigmund Freud, menekankan pentingnya alam bawah sadar serta pengalaman masa kecil dalam membentuk kepribadian. Freud mengembangkan konsep struktur kepribadian yang terdiri dari id, ego, dan superego. Teori ini juga mencakup tahap perkembangan psikoseksual serta mekanisme pertahanan diri yang digunakan individu untuk menghadapi konflik psikologis.
Sementara itu, teori humanistik, seperti yang dikemukakan oleh Carl Rogers dan Abraham Maslow, berfokus pada potensi manusia untuk tumbuh dan berkembang. Rogers menekankan pentingnya penerimaan tanpa syarat dan konsep diri ideal, sedangkan Maslow memperkenalkan hierarki kebutuhan dengan aktualisasi diri sebagai puncaknya.
Teori sifat atau trait memandang kepribadian sebagai kumpulan karakteristik yang stabil.
Model Lima Besar (Big Five) menjadi pendekatan yang populer, mencakup dimensi keterbukaan, ketelitian, ekstroversi, keramahan, dan neurotisisme. Pendekatan ini berusaha untuk mengukur kepribadian secara kuantitatif dan konsisten.
Behaviorisme, yang dikembangkan oleh tokoh seperti B.F. Skinner, memandang kepribadian sebagai hasil dari proses pembelajaran, melalui penguatan dan hukuman. Albert Bandura memperluas pandangan ini dengan teori pembelajaran sosial, yang menyoroti peran observasi dan interaksi sosial dalam pembentukan perilaku.
(PARADIGMA PSIKOANALISIS)
Kunci utama untuk memaham manusia menurut paradigma psikoanalisis adalah mengenali instinginsting seksual dan agresi dorongan biologik yang membutuhkan kepuasan Energi psikis yang dimiliki oleh setiap orangn harus dimanfaatkan untuk sesuatu yang positif untuk kemaslahatan diri Psikoanalisis ditemukan/dikembangkan pertama kali oleh Sigmund Freud. banyak juga pakar yang memakai paradigma psikoanalisis untuk mengembangkan teori psikologi kepribadianna sendiri seperti Carl Gustav Jung, Alfred Adler, Anna Freud, Karen Horney dll.
(PARADIGMA TRAITS)
Paradigma traits dalam psikologi kepribadian berfokus pada pengidentifikasian dan pengukuran karakteristik kepribadian yang stabil dan konsisten sepanjang waktu serta lintas situasi. Pendekatan ini berusaha memahami kepribadian sebagai kumpulan sifat-sifat dasar yang dapat diukur secara kuantitatif.
Traits didefinisikan sebagai kecenderungan perilaku, pikiran, atau emosi tertentu yang relatif tetap pada individu. Pendekatan ini mengasumsikan bahwa kepribadian dapat dibagi menjadi dimensi-dimensi yang dapat digunakan untuk membedakan individu satu sama lain.
Teori traits juga mendapatkan dukungan dari pendekatan biologis. Hans Eysenck, misalnya, mengembangkan model kepribadian berdasarkan dua dimensi utama, yaitu ekstraversi-introversi dan neurotisisme, yang ia kaitkan dengan aktivitas otak dan sistem saraf.
Paradigma traits memiliki aplikasi luas, terutama dalam bidang seleksi kerja, pengembangan diri, dan penelitian psikologi lintas budaya. Meskipun demikian, pendekatan ini juga menghadapi kritik, seperti kurangnya perhatian pada konteks situasional yang dapat memengaruhi perilaku individu.
Secara keseluruhan, paradigma traits memberikan landasan penting dalam memahami struktur kepribadian manusia dan menjadi dasar banyak teori serta instrumen pengukuran kepribadian modern.
Manusia merupakan kumpulan potensipotensi, dan kepribadian adalah aktualisasi potensi-potensi itu bagaimana potensi digunakan dalam kehidupan metoda kuesioner untuk memahami perbedaan individu yang dikembangkan dalam psikologi pengukuran menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari psikologi kepribadian. Paradigma traits membuat kategorikategori, menempatkan orang dalam tipetipe tertentu dengan memilih unsur pembeda yang fungsional, dan mengabaikan unsur pembeda yang tidak perlu. psikotest membantu mengidentifikasi perbedaan individu yang stabil dan bertahan dalam jangka waktu yang lama.
(
PARADIGMA KOGNITIF)Paradigma Kognitif memiliki konsep dasar yaitu fikiran dan keyakinan seseorang menjadi kunci memahami tingkah laku. Ingatan, fikiran dan keyakinan menjadi referensi khusus terhadap dunia. Persepsi adalah hasil kolaborasi antara stimulus dengan respon kognitif.
Car Rogers berpendapat bahwa yang paling tahu tentang diri seseorang adalah orang itu sendiri. Setiap orang memiliki kemampuan untuk memilih yang terbaik untuk dirinya, dan jika terjadi kesalahan tingkah laku 9psikoneurosis), hanya individu itu sendiri yang dapat mengoreksinya.
(PARADIGMA BEHAVIORISME)
Behaviorisme adalah paradigma psikologi yang berfokus pada perilaku yang dapat diamati secara langsung, menekankan bahwa perilaku manusia dipengaruhi oleh lingkungan melalui proses pembelajaran. Paradigma ini mengabaikan aspek-aspek internal seperti pikiran atau emosi, dengan anggapan bahwa hanya perilaku yang dapat diukur yang relevan untuk dipelajari secara ilmiah.
Tokoh utama dalam behaviorisme adalah John B. Watson, yang mempelopori pendekatan ini dengan menyatakan bahwa psikologi harus menjadi ilmu yang objektif dan tidak bergantung pada introspeksi. Watson percaya bahwa semua perilaku manusia dapat dijelaskan melalui pembelajaran dari lingkungan.
(BIG FIVE PERSONALITY TRAITS MODEL)
Teori sifat kepribadian yang paling sering digunakan dalam dunia kerja DIKEMUKAKAN OLEH SEORANG PSIKOLOG LEWIS GOLDBERG Mengukur kepribadian yang dapat disingkat (OCEAN):
1. Openness to Experience (Terbuka terhadap hal-hal baru) 2. Conscientiousness (Sifat berhati-hati)
3. Extraversion (ekstraversi)
4. Agreeableness (Mudah akur atau mudah bersepakat) 5. Neuroticm (Neurotisme
(MACAM MACAM TIPOLOGI)
1. Tipologi Hipokrates-Galenus 2. Tipologi kretschmer
3. Tipologi sheldon 4. Tipologi jung 5. Tipologi MBTI 6. Tipologi enneagram
7. Tipologi berdasarkan tempramen
KONSEP DASAR PSIKOLOGI KEPRBADIAN (DEFINISI KEPRIBADIAN)
Kepribadian adalah keseluruhan pola pemikiran, perasaan, dan perilaku yang khas dan konsisten yang dimiliki oleh individu, yang membedakan dirinya dari orang lain. Kepribadian mencakup sifat bawaan, pengalaman hidup, dan interaksi dengan lingkungan, yang bersama- sama membentuk cara seseorang merespons situasi dan berinteraksi dengan orang lain.
Kepribadian (Personality) bukan sebagai kodrati, melainkan terbentuk oleh proses sosialisasi. Kepribadian merupakan kecenderungan psikologis seseorang untuk melakukan tingkah laku sosial tertentu, baik berupa perasaan, berfikir, bersikap, dan berkehendak maupun berperilaku.
Pendekatan kepribadian dapat dibagi menjadi beberapa perspektif, seperti teori sifat (trait theory), teori psikoanalitik, teori humanistik, teori behaviorisme, dan teori kognitif. Masing- masing teori ini memberikan sudut pandang unik dalam memahami kepribadian manusia.
(DEFINISI KEPRIBADIAN MENURUT PSIKOLOGI)
Dalam psikologi, kepribadian didefinisikan sebagai pola pikiran, perasaan, dan perilaku yang khas dan relatif konsisten dalam diri seseorang, yang membedakan individu satu dengan lainnya. Kepribadian mencerminkan cara seseorang beradaptasi terhadap lingkungannya dan berinteraksi dengan orang lain.
Gordon Allport menggambarkan kepribadian sebagai organisasi dinamis dari sistem psikofisik yang menentukan pola perilaku dan pemikiran individu. Sigmund Freud, dalam pendekatan psikoanalitik, memandang kepribadian sebagai hasil dari interaksi antara id, ego, dan superego, yang beroperasi di bawah pengaruh kebutuhan instingtif, realitas, dan
moralitas.
Carl Rogers, dalam perspektif humanistik, menekankan bahwa kepribadian berkaitan dengan konsep diri seseorang, yang dipengaruhi oleh pengalaman hidup dan kebutuhan untuk
mencapai aktualisasi diri. Sementara itu, B.F. Skinner dalam behaviorisme menyatakan bahwa kepribadian merupakan pola perilaku yang dipelajari melalui proses penguatan dan hukuman dalam lingkungan.
Definisi yang lain, seperti yang dikemukakan oleh Raymond Cattell, melihat kepribadian sebagai kombinasi dari sifat-sifat dasar individu, yang sebagian bersifat bawaan dan sebagian lagi dipengaruhi oleh lingkungan. Semua pandangan ini menunjukkan bahwa kepribadian adalah konsep yang kompleks, dipengaruhi oleh faktor biologis, psikologis, dan sosial, serta memainkan peran penting dalam menentukan bagaimana seseorang berpikir, merasa, dan bertindak.
(Konsep yang berkaitan dengan kepribadian)
1. Character (Karakter) yaitu penggambaran tingkah laku dengan menonjolkan nilai (benar salah, baik buruk) secara eksplisit maupun implisit
2. Temperamen yaitu kepribadian yang berkaitan erat dengan determinan biologis atau fisiologis
3. Traits (sifat-sifat) yaitu respon yang senada atau sama terhadap sekelompok stimulsi yang mirip berlangsung dalam kurun waktu yang lama
4. Type attribute (ciri) mirip dengan sifat, namun dalam kelompok stimuli yang lebih terbatas
5. Habbits (kebiasaan), merupakan respon yang sama dan cenderung berulang untuk stimulus yang sama pula
(Ciri kepribadian)
1. Konsistensi 2. Unik
3. Dinamis dan terorganisasi 4. Beradaptasi dengan lingkungan
5. Mencakup faktor internal dan eksternal 6. Mencerminkan individualitas
7. Multidimensial
(kepribadian yang sehat)
1. Memiliki kemampuan dalam diri sendiri seara realistik 2. Bisa menilai situasi secra realistik
3. Memiliki kemampuan dalam menilai prestasi yang diperoleh secara realistik 4. Dapat menerima tanggung jawab
5. Memiliki kemandirian (kepribadian yang idak sehat)
1. Mudah marah (tersinggung)
2. Sering merasa tertekan (stress/depresi)
3. Bersikap kejam atau senang mengganggu orang lain yang usianya lebih muda, sebaya atau terhadap binatang
4. Ketidakmampuan untuk menghindar dari perilaku menyimpang meskipun sudah diperingati atau dihukum
5. Kebiasaan berbohong 6. Hiperaktif
7. Bersikap memusuhi semua bentuk otoritas 8. Senang mengkritik/mencemooh orang lain
(sifat kepribadian)
Upaya mengidentifikasi dan menamai karakter permanen yang mmenjelaskan perilku individu. Karakteristik umumnya yang melekat dalam diri individu adalaha malu, agresif, patuh, malas, ambisius, setia dan takut. Sifat-sifat kerpibadian dapat membantu proses seleksi karyawan, menyesuaikan bidang pekerjaan individu dan memandu keputusan pengembangan karir.
PSIKOANALISIS KLASIK
(KEL 1) A. Struktur Kepribadian
Kepribadian adalah seperangkat perilalu, perasaan pola pikir dan pengalaman seseorang.
Kepribadian ini membuat seseorang menjadi sosok yang bersikap seperti sekarang ini.
Menurut Sigmund Freud Struktur kepribadian manusia Terbagi menjadi tiga yaitu :1 1. Id
Struktur pertama, id adalah sistem kepribadian yang asli, dibawa sejak lahir.
Dari id ini kemudian akan muncul ego dan superego. Saat dilahirkan, id berisi semua aspek psikologikyang diturunkan, seperti insting, impuls dan drives. Id berada dan beroperasi dalam daerah qunconscious. Ada dua mekanisme yang bisa dilakukan untuk memenuhi id yaitu dengan tindakan refleks dan proses primer Tindakan refleks berisi tindakan otomatis, seperti mengedipkan mata, batuk dan sejenisnya. Sedangkan proses prime melibatkan tindakan yang lebih kompleks yang mengarahkan manusia untuk membentuk gambaran mental. Wujud dari id berupa naluri yang menjadi dorongan manusia agar memenuhi kebutuhan dasar seperti kebutuhan makan, seks dan menolak rasa sakit atau tidak nyaman. Cara kerja Id adalah selalu mencari kenikmatan dan menghindari ketidaknyamanan.
2. Ego
Ego merupakan struktur penghubung antara struktur Id dengan dunia realita, ketenangan-ketenangan yang timbul dari Id akan dipenuhi oleh struktur kepribadian Ego, seperti ketegangan-ketegangan disaat haus ataupun lapar, maka ego akan segera mencari suatu cara untuk tujuan meredakan ketegangan-ketegangan yang timbul dari struktur Id. Freud mengungkapkan bahwa ego memiliki pertahanan yang dapat mencegah dorongan kuat Id yang berupa nafsu.
Ego berfungsi sebagai polisi lalu lintas yang memediasi naluri dengan lingkungan sekitar yang diatur atas dasar prinsip realitas. Sebenarnya ego melakukan proses berpikir yang logis dan realistik serta merencanakan tindakan untuk memuaskan kebutuhan-kebutuhan individu.
3. Super Ego
Terakhir ada super ego yang merupakan cabang moral atau hukum dari kepribadian. Tugas utamanya adalah apakah suatu tindakan itu baik atau buruk, benar atau salah. Selain itu, super ego juga mempresentasikan hal-hal yang ideal dan untuk mencapai kesempurnaan. Super ego berfungsi sebagai impuls-impuls penghambat id dan merepresentasikan nilai-nilai tradisional masyarakat yang diwariskan orang tua pada anak.
B. Dinamika Kepribadian
Dalam dinamika kepribadian, Freud menjelaskan tentang adanya energi pendorong (cathexis) dan energi penekanan (anti-cathexis). Kateksis adalah penggunaan energi psikis yang dilakukan oleh id untuk suatu objek tertentu untuk memuaskan suatu karma, sedangkan anti-kataeksis adalah penggunaan energi psikis (yang berasal dari id) untuk menekan atau mencegah agar id tidak memunculkan karma-naluri yang tidak bijaksana dan destruktif. Tingkat kehidupan mental dan wilayah pikiran mengacu pada struktur atau komposisi kepribadian. Sehingga, Freud mengusulkan sebuah dinamika
atau prinsip motivasional untuk menerangkan kekuatan-kekuatan yang mendorong tindakan manusia. Bagi Freud, manusia termotivasi untuk mencari kesenangan serta menurunkan ketegangan dan kecemasan.
C. Tahap Perkembangan Kepribadian
Freud membagi perkembangan kepribadian menjadi tiga tahapan, yakni tahap infantil (0-5 tahun), tahap laten (5-12 tahun), dan tahap genital (>12 tahun). Tahap infantil yang paling menentukan dalam pembentukan kepribadian, terbagi menjadi tiga fase, yaitu fase oral, fase anal, dan fase falis. Perkembangan kepribadian ditentukan terutama oleh perkembangan biologis, sehingga tahap ini disebut juga tahap seksual infantil. Perkembangan insting seks berarti perubahan kateksis seks, dan perkembangan biologi menyiapkan bagian tubuh untuk dipilih menjadi pusat kepuasan seksual (erogenus zone).
D. Aplikasi Psikoanalisis
Psikoanalisis memiliki berbagai aplikasi, terutama dalam bidang psikopatologi, psikoterapi, psikosomatik, dan pengasuhan anak. Namun, pada dasarnya, psikoanalisis dapat berkontribusi di berbagai aspek kehidupan manusia, seperti pendidikan, penanganan narapidana, militer, periklanan, antropologi sosial, kreativitas, seni, dan lainnya.
E. Evaluasi Teori Psikoanalisis
Teori Psikoanalisis Freud telah menjadi paradigma penting dalam psikologi kepribadian, dan penerapan psikoanalisis dalam terapi jiwa menjadi sangat populer.
Pemikiran Freud sangat menarik, dengan konsep-konsep yang mendalam tentang individu. Pengamatannya cermat, disiplin, dan berani dalam mengembangkan ide- idenya. Kontribusi utamanya adalah kesadarannya akan pengaruh besar dari proses bawah sadar terhadap perilaku manusia. Aplikasi teori Freud dalam bidang psikopatologi, psikoterapi, dan pengasuhan anak tetap relevan hingga kini. Banyak dari konsep Freud yang kontroversial, seperti kompleks Oedipus, yang sulit dibuktikan secara ilmiah, namun terbukti membantu dalam mengobati gangguan neurotik pada banyak pasien. Meski memiliki kekurangan, konsep-konsep Freud telah memicu diskusi, menarik perhatian, dan mendorong psikolog lain untuk mencari teori alternatif yang lebih baik.
Kritik terhadap teori Freud sangat banyak, dan mungkin hanya teori Evolusi Darwin yang mendapat kritik serupa. Kritik utama adalah bahwa teori Freud tidak didasarkan pada metode ilmiah. Penelitiannya tidak disusun secara sistematis, sehingga sulit untuk mengevaluasi karyanya. Tanpa definisi operasional, eksperimen dengan kelompok kontrol, pengukuran kuantitatif, atau bukti hubungan antar gejala, nilai prediktif dari teorinya dipertanyakan. Dari segi metodologi, teori Freud dianggap tidak ilmiah. Karl Popper mengklasifikasikan psikoanalisis sebagai pseudo-sains, sementara Eysenck menyebutnya bukan ilmu, melainkan sekadar cara menginterpretasi suatu peristiwa.
PSIKOLOGI ANALITIK (KEL 2)
A. STRUKTUR KEPRIBADIAN
Kepribadian atau psyche adalah mencakup keseluruhan fikiran, perasaan dan tingkahlaku, kesadaran dan ketidak sadaran. Kepribadian membimbing orang untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan sosial dan lingkungan fisik. Sejak awal kehidupan, kepribadian adalah kesatuan atau berpotensi membentuk kesatuan. Ketika mengembangkan kepribadian, orang harus berusaha mempertahankan kesatuan dan harmoni antar semua elemen kepribadian.
Kepribadian disusun oleh sejumlah sistem yang beroperasi dalam tiga tingkat kesadaran;
ego beroperasi pada tingkat sadar, kompleks beroperasi pada tingkat taksadar pribadi, dan arsetip beroperasi pada tingkat taksadar kolektif.
1. Kesadaran (Consciusness) dan Ego
Consciousness muncul pada awal kehidupan, bahkan mungkin sebelum ( dilahirkan. Secara berangsur kesadaran bayi yang umum-kasar, menjadi semakin spesifik ketika bayi itu mulai mengenal manusia dan obyek disekitarnya. Menurut Jung, hasil pertama dari proses diferensiasi kesadaran itu adalah ego. Sebagai organisasi kesadaran, ego berperan penting dalam menentukan persepsi, fikiran, perasaan dan ingatan yang bisa masuk kesadaran.
Tanpa seleksi ego, jiwa manusia bisa menjadi kacau karena terbanjiri oleh pengalaman yang semua bebas masuk ke kesadaran. Dengan menyaring pengalaman, ego berusaha memelihara keutuhan dalam kepribadian dan memberi orang perasaan kontinuitas dan identitas.
2. Taksadar Pribadi (Personal Unconscious) dan Kompleks (Complexes)
Taksadar pribadi dan kompleks adalah bagian dari pikiran bawah sadar yang berisi ingatan yang bisa timbul ke kesadaran kapan saja. Taksadar pribadi menyimpan pengalaman yang tidak disetujui oleh ego, seperti pengalaman yang ditekan atau dilupakan. Di dalam taksadar pribadi, terdapat kelompok ide yang disebut kompleks, yang merupakan organisasi dari perasaan, pemikiran, persepsi, dan ingatan yang terkait dengan emosi kuat. Kompleks ini dapat memengaruhi tingkah laku seseorang secara signifikan. Kompleks memiliki inti yang menarik berbagai pengalaman ke arahnya. Contohnya, remaja putri yang memiliki kompleks inferior merasa kurang mampu dan menarik dibanding orang lain. Menurut Jung, pengalaman masa kecil berperan dalam pembentukan kompleks, namun juga terdapat faktor dari taksadar kolektif yang memengaruhi munculnya kompleks.
3. Taksadar Kolektif (C0llective Unconscious)
Disebut juga transpersonal unconscious, konsep asli Jung yang paling kontroversial; suatu sistem psikis yang paling kuat dan paling berpengaruh, dan pada kasus-kasus patologik mengungguli ego dan ketidaksadaran pribadi. Taksadar kolektif merupakan fondasi ras yang diwariskan dalam keseluruhan struktur kepribadian. Di atasnya dibangun ego, taksadar pribadi, dan pengalaman individu. Jadi apa yang dipelajari dari pengalaman secara substansial dipengaruhi oleh taksadar kolektif yang menyeleksi dan mengarahkan tingkah laku sejak bayi. Bentuk dunia yang dilahirkan telah dihadirkan dalam dirinya, dan gambaran yang ada di dalam itu mempengaruhi pilihan-pilihan pengalaman secara taksadar.
Taksadar pribadi dan taksadar kolektif sangat membantu manusia dalam menyimpan semua yang telah dilupakan/diabaikan, dan semua kebijakan dan pengalaman sepanjang sejarah.
Mengabaikan taksadar dapat merusak ego, karena taksadar dapat membelokan tingkah laku menjadi menyimpang.
4. Arsetip (Archetype)
Arsetip adalah bentuk tanpa isi, mewakili atau melambangkan peluang munculnya jenis persepsi dan aksi tertentu. Mereka memiliki kekuatan yang sangat besar, kekuatan pengalaman manusia yang berusia ribuan tahun. Arsetip yang muncul pada pengalaman awal manusia membentuk pusat kompleks yang mampu menyerap pengalaman lain kepadanya. Arsetip "kekuatan" misalnya; sepanjang sejarah manusia telah dihadapkan dengan kekuatan alam yang dahsyat, arus sungai, air terjun, banjir, badai, petir, kebakaran hutan, gempa bumi, dan lain-lain.
B. DINAMIKA KEPRIBADIAN
Variasi struktur kepribadian yang kompleks membuat elaborasi dinamika kepribadian sukar dibuat forrmulanya. Akhirnya, Jung mencoba mendekati dinamika itu dari prinsip-prinsip interaksi dan tujuan penggunaan energi psikis.
1. Interaksi antar Struktur Kepribadian a. Prinsip Oposisi
Prinsip oposisi paling sering terjadi, karena kepribadian berisi berbagai kecenderungan konflik. Menurut Jung, tegangan (akibat konflik) adalah esensi hidup; tanpa itu tidak ada enerji dan tidak ada kepribadian. Oposisi muncul di mana- mana ego versus shadow, introversi versus extraversi, berfikir versusberperasaan, dan anima/animus versus ego (juga saling kompensasi). Oposisi juga terjadi antar tipe kepribadian, ekstravèrsi versus introversi, fikiran versus perasaan dan penginderaan versus intuisi.
b. Prinsip Kompensasi
Dipakai untuk menjaga agar kepribadian tidak menjadi neurotik. Umumnya terjadi antara sadar dan taksadar; fungsi yang dominan pada kesadaran dikompensasi oleh hal lain yang direpres.
c. Prinsip Penggabungan
Menurut Jung, kepribadian terus menerus berusaha untuk menyatukan pertentangan- pertentangan yang ada. Berusaha untuk mensintesakan pertentangan untuk mencapai kepribadian yang seimbang dan integral. Integrasi ini hanya sukses dicapai melalui fungsi transenden.
2. Enerji Psikis a. Fungsi Enerji
Interaksi antar struktur kepribadian membutuhkan enerji. Jung berpendapat bahwa personaliti adalah sistem yang relatif tertutup, bersifat kesatuan yang saling mengisi, terpisah dari sistem enerji lainnya. Kepribadian dapat mengambil enerji baru dari proses biologi dan dari sumber eksternal, yakni pengalaman individu, untuk memperkuat enerji psikis.
b. Nilai Psikis (Psychic Value)
Ukuran banyaknya enerji psikis yang tertanam dalam salah satu unsur kepribadian, disebut:
nilai psikis (psychic value) dari unsur itu. Suatu ide atau perasaan tertentu dikatakan memiliki value psikis yang tinggi kalau ide atau perasaan itu memainkan peran penting dalam mencetuskan dan mengarahkan tingkahlaku.
c. Kesamaan (Equivalence) dan Keseimbangan (Entropy)
Enerji psikis bekerja mengikuti hukum termodinamika, yakni prinsip ekuivalen dan prinsip entropi. Prinsip ekuivalen menyatakan, jumlah enerji psikis selalu tetap, hanya distribusinya yang berubah. Jika enerji pada satu elemen menurun, enerji pada elemen lain akan menaik.
d. Tujuan Penggunaan Enerji
Enerji psikis dipakai untuk dua tujuan utama, memelihara kehidupan (preservation of life) dan pengembangan aktivitas kultural dan spiritual (development of cultural and spiritual activity). Ketika manusia menjadi lebih efisien dalam memuaskan kebutuhan dasar dan kebutuhan biologisnya, mereka mempunyai enerji lebih banyak untuk mengembangkan minat kultural.
C. PERKEMBANGAN KEPRIBADIAN
1. Mekanistik (Mechanistic), Purposif (Purposive), dan Sinkronisitas (Synchronicity)
Perkembangan kepribadian adalah salah satu peristiwa psikis yang sangat penting.
Pendekatan Jung untuk menjelaskan mengapa peristiwa psikis itu terjadi lebih lengkap dibanding Freud. Pandangan Freud bersifat mekanistik atau kausalistik, menurutnya semua peristiwa disebabkan oleh sesuatu yang terjadi pada masa lalu. Jung mengedepankan pandangan purposif atau teleologik, yang menjelaskan kejadian sekarang ditentukan oleh masa depan atau tujuan.
Menurut Jung, peristiwa psikis tidak selalu dapat dijelaskan dengan prinsip sebab akibat.
Dua peristiwa psikis yang terjadi secara bersamaan dan tampak saling berhubungan, yang satu tidak menjadi penyebab dari yang lain, karena keduanya tidak dapat ditunjuk mana yang masa lalu dan mana yang masa depan. Ini dinamakan prinsip sinkronisitas (synchronicity). Jung menyimpulkan dari pengalaman-pengalaman dalam telepati mental, pengindraan batin (clairvoyance), dan fenomena paranormal lainnya; bahwa ada jenis aturan lain di alam semesta di samping aturan sebab-akibat, aturan itulah prinsip sinkronisitas.
2. Individuasi (Individuation) dan Transendensi (Transcendent) Individuasi
Individuasi, Proses analitik, memilah-milah, memerinci dan mengelaborasi aspek-aspek kepribadian. Semua aspek beserta percabangan atau rinciannya harus ikut berkembang bersama-sama dalam satu kebulatan. Apabila ada suatu bagian kepribadian yang terabaikan, maka sistem yang terabaikan itu menjadi kurang berkembang dan akan menjadi pusat resistensi. Sistem itu akan berusaha merampas enerji dari sistem yang sudah berkembang, agar dia dapat ikut berkembang. Jiwa yang mempunyai banyak resistensi bisa memunculkan gejala-gejala neurotik. Arsetip- arsetip, insting-insting tak sadar harus diberi kesempatan untuk mengungkapkan diri melalui ego.
3. Tahap-Tahap Perkembangan
Hereditas diberi peranan penting dalam psikologi Jung. Pertama, heredi- tas berkenaan dengan insting biologik yang berfungsi memelihara kehidupan dan reproduksi. Insting- insting merupakan sisi binatang pada kodrat manusia. Pandangan semacam itu tidak berbeda dengan pandangan biologi modern.
D. APLIKASI 1. Tes Asosiasi Kata
Jung bukan orang pertama yang memakai teknik asosiasi, tetapi dia di hargai karena mengembangkan dan menyempurnakan tes itu. Pada mulanya dia memakai teknik itu untuk menunjukkan validitas hipotesa Freud, bahwa taksadar beroperasi sebagai proses otonom.
Kini, tujuan tes Asosiasi Jung adalah untuk mengungkap perasaan-perasaan yang bermuatan kompleks. Gambaran-gambaran yang terikat dalam lingkaran kompleks mempunyai muatan emosi yang besar, dan ungkapan emosioanal itu dapat diukur. Klien diperintah untuk merespon setiap kata dengan kata pertama yang muncul dalam fikirannya. Respon kata itu dicatat, dilengkapi dengan pengukuran waktu reaksi, degub jantung, dan respon galvanik kulit. Dilakukan tes ulang untuk memperoleh konsistensi jawaban. Reaksi-reaksi tertentu menjadi pertanda bahwa stimulus kata itu menyentuh kompleks.
2. Psikoterapi
Teori Jung tidak banyak berpengaruh dalam psikoterapi-psikoanalisis. Secara tidak langsung teori Jung justru tampak pada pendekatan terapi dari Rogers (fenomenologi) dari Maslow (humanistik), keduanya mengembangkan teori kepribadian memakai paradigma di luar paradigma psikoanalitik. Ketika menjalani terapi, menurut Jung kliennya akan melewati empat tahapan, yakni pengakuan (confession), pencerahan (elucidation), pendidikan (education), dan perubahan (transformation).
3. Analisis Mimpi
Pandangan Jung mengenai mimpi ada yang sama dengan Freud ada pula yang berbeda.
Persamaannya; mimpi itu mempunyai makna yang harus dicermati secara seksama, mimpi muncul dari dalam dunia taksadar, dan makna mimpi diekspresikan dalam bentuk simbolik.
Perbedaannya, Freud memandang mimpi sebagai pemenuhan hasrat (wish fullfilment) dan simbolisasi mimpi berhubungan dengan dorongan seksual, sedang Jung memandang mimpi sebagai usaha spontan mengetahui hal yang tidak diketahui dalam taksadar sebagai bagian dari pengembangan kepribadian.
E. EVALUASI
Teori Jung berpengaruh luas, dan lembaga yang melatih model analisis dan terapi Jung didirikan di banyak negara. Pengikut-pengikut Jung, seperti Gerhard Adler, Micheal Fordham, Sir Herbert Read, Esther Harding, dan Jolande Jacobi, melanjutkan eksplorasi teori Jung dan elaborasi dari berbagai konsep Jung. Pengaruhnya terhadap psikologi modern tampak pada pengembangan riset asosiasi kata, dan konsepnya mengenai type introversi dan ekstraversi. Konsep Jung mengenai realisasi-diri muncul dalam teori dan aplikasi kepribadian dari Horney, Allport, Rogers, Maslow, dan banyak pakar lainnya, namun Jung jarang disebut/diakui sebagai penemu dari konsep ini.
PSIKOLOGI INDIVIDUAL (Alfred Adler) (KEL 3)
A.Perjuangan Menjadi Sukses dan Superiorita
Adler percaya bahwa individu memulai hidup dengan kelemahan fisik yang memicu perasaan inferior (rendah diri), perasaan yang menyebabkan orang berjuang untuk superioritas atau mencapai kesuksesan. Individu yang tidak sehat secara psikologis berusaha untuk menjadi individu yang unggul dan individu yang sehat secara psikologis termotivasi untuk berkontribusi pada keberhasilan umat manusia.
1. Fictional Final Goals
Menurut Adler, perilaku ditentukan oleh persepsi terhadap harapan yang mungkin terjadi dilakukan di masa depan, bukan dari apa yang dilakukan di masa lalu. Misalnya, gagasan bahwa “manusia ditakdirkan sama”, “kejujuran adalah kebijakan terbaik”, “jika ada kemauan, di situ ada jalan” -semua ini fiktif, sebuah idealisme yang mencegah orang untuk kalah. Pemikiran seseorang tentang realitas yang seharusnya didasarkan pada interpretasi subyektifnya terhadap dunia. Pada usia 4 atau 5 tahun, pikiran kreatif anak mencapai tingkat perkembangan yang membuat mereka mampu menentukan tujuan akhir. Tujuan akhir tersebut mengurangi penderitaan yang disebabkan oleh perasaan rendah diri dan membuka jalan menuju superioritas dan kesuksesan. dengan cara yang rumit dan ambigu dalam kaitannya dengan tujuan akhirnya.
2. Mengatasi Inferioritas dan Menjadi Superioritas
Bagi Adler, kehidupan manusia dimotivasi oleh satu dorongan utama dorongan untuk mengatasi perasaan inferior & menjadi superior. Jadi tingkahlaku ditentukan utamanya oleh pandangan mengenai masa depan, tujuan dan harapan kita. Didorong oleh perasaan inferior, dan ditarik keinginan menjadi superior, maka orang mencoba hidup sesempurna mungkin.
Inferiorita bagi Adler berarti perasaaan lemah dan tidak trampil dalam menghadapi tugas yang harus diselesaikan. Bukan rendah diri terhadap orang lain dalam pengertian yang umum, walaupun ada unsur membandingkan kemampuan khusus diri dengan kemampuan orang lain yang lebih matang berpengalaman. Superiorita, pengertiannya mirip pengertian transendensi sebagai awal realisasi diri dari Jung, atau aktualisasi dari Horney dan Maslow.
Perasaan ini justru menjadi sebab semua perbaikan dalam tingkahlaku manusia. Anak yang belajar main skate merasa inferior sampai dia betul-betul mahir. Orang tua yang mendapat
promosi merasa inferior pada posisi barunya sampai dia memahami bagaimana menangani tugasnya. Setiap tugas baru memunculkan inferiorita yang dapat diredakan ketika orang itu mencapai Tingkat berfungsi yang lebih tinggi.
B. Pengalaman Subyektif (Subjective Perceptions)
Tujuan akhir fiktif bersifat subjektif, artinya orang menetapkan tujuan yang ingin dicapai berdasarkan penafsirannya terhadap fakta, bukan berdasarkan fakta itu sendiri. Kepribadian manusia tidak dibangun oleh kenyataan, namun oleh keyakinan subyektif seseorang mengenai masa depannya. Pandangan subjektif yang terpenting adalah tujuan penguasaan atau tujuan pencapaian, suatu tujuan yang terbentuk sejak awal kehidupan dan hanya dipahami secara samar-samar. Tujuan ini adalahciptaan pribadi, suatu proyek kehidupan yang memanifestasikan dirinya secara subyektif, di sini dan saat ini, dalam bentuk pemikiran yang mempengaruhi perilaku, meskipun proyek kehidupan itu tidak disadari.
Karena setiap orang memulai hidup dari hal yang kecil, lemah, dan rendah diri, manusia mengembangkan sistem untuk mengatasi kelemahan fisik ini dan menjadi besar, kuat, dan unggul.
C. Kesatuan (Unity) Kepribadian
Psikologi individu menekankan pentingnya unitas kepribadian. Kesatuan (Unity) kepribadian adalah orang yang berperilaku aneh atau orang yang memilki tingkah laku tidak konsisten. Unit kepribadian ini dapat dilihat dari beberapa aspek seperti motivasi, perasaan, fikiran, dan juga keseluruhan organ tubuh yang berkaitan dengan gejala-gejala fisik yang dirasakan oleh seseorang karena mengalami perasaan tertentu dan tidak mampu untuk menyampaikannya.
1. Logat Organ (Organ Dialect)
Menurut Adler, bahwa gejala-gejala fisik, misalnya kelemahan organ tertentu bukan suatu peristiwa yang terpisah, tetapi mungkin kelemahan itu berbicara tentang tujuan individu, yang dinamakan logat organ (organ dialect) atau bahasa organ (organ jargon).
2. Kesadaran dan Tak Sadar
Unitas Kepribadian juga terjadi antara kesadaran dan tak sadar. Menurut Adler, tingkah laku tak sadar adalah bagian dari tujuan final yang belum diformulasi dan belum difahami secara jelas. Adler menolak dikotomi antara kesadaran dan tak sadar yang dianggapnya sebagai bagian yang bekerja sama dalam sistim yang unifi. Fikiran sadar adalah apa saja yang difahami dan diterima individu dapat membantu perjuangan menjadi sukses. Apa saja yang dianggap tidak membantu akan ditekan ke tak sadar. Apakah suatu fikiran itu disadari atau tak disadari, tujuannya satu untuk mencapai tujuan menjadi superior atau menjadi sukses.
D. Minat Sosial (Social Interest)
Minat sosial adalah terjemahan Adler yang berasal dari istilah Jerman, yaitu Gemeinschaftsgefuhl, yang maknanya adalah perasan menjadi satu dengan umat manusia, menyatakan secara tidak langsung keanggotaan dalam komunitas sosial seluruh manusia.
Menurut Adler, interes sosial adalah bagian dari hakekat manusia dan dalam besaran yang berbeda muncul pada tingkahlaku setiap orang kriminal, psikotik, atau orang yang sehat.
Interes sosiallah yang membuat orang mampu berjuang mengejar superiorita dengan cara yang sehat dan tidak tersesat ke salah suai Semua kegagalan neurotik, psikotik, kriminal, pemabuk, anak bermasalah, bunuh diri, menyeleweng, prostitusi adalah kegagalan karena mereka kurang memiliki minat sosial Mereka menyelesaikan masalah pekerjaan,
persahabatan dan seks tanpa keyakinan bahwa itu dapat dipecahkan dengan kerjasama Makna yang diberikan kepada kehidupannya adalah nilai privat Tidak ada orang lain yang mendapat keuntungan berkat tercapainya tujuan mereka.
1. Perkembangan Minat Sosial
Interest sosial dikembangkan melalui hubungan ibu dengan anak, setiap anak akan memiliki interes sosial dalam kadar tertentu. Tugas ibu mendorong kemasakan minat sosial anaknya melalui ikatan hubungan ibu dengan anak yang kooperatif. Ayah adalah orang penting yang kedua dalam lingkungan sosial anak. Menurut Adler, ayah yang sukses tidak melakukan dua kesalahan, mengabaikan anak atau otoriter kepada anak Kedua kesalahan itu datang dari dua sikap yang berbeda, tetapi bisa berasal dari satu ayah. Keduanya menghambat perkembangan interes sosial anak. Kesalahan pertama, ayah yang mengabaikan anaknya, membuat perkembangan interes sosial anak menjadi kacau, anak merasa diabaikan, dan mungkin timbul kasih sayang anak yang neurotik kepada ibu. Anak yang diabaikan orang tuanya menciptakan tujuan superiorita pribadi alih-alih tujuan interes sosial. Kesalahan kedua, orang tua yang otoriter, mungkin juga menimbulkan gaya hidup yang neurotik.
2. Perlunya Minat Sosial
Kehidupan sosial dalam pandangan Adler merupakan sesuatu yang alamı bagi manusia, dan minat sosial adalah perekat kehidupan sosial itu. Perasaan Inferior dibutuhkan untuk bersama membentuk masyarakat. Tanpa perlindungan dan asuhan orang tuanya, bayi akan mati. Tanpa perlindungan dan keluarga atau klan nenek moyang manusia mungkin sudah dihancurkan oleh binatang buas. Jadi, interes sosial itu sangat diperlukan, kalau laki laki dan perempuan tidak bekerjasama dalam melindungi keturunannya, ras manusia akan lenyap.
3. Kriteria Nilai-nilai Kemanusiaan
Interes sosial bukan sinonim dari kedermawanan dan tidak mementingkan diri sendiri.
Dermawan dan baik hati bisa dimotivasi oleh Gemeinschafgefühl bisa juga tidak. Seorang janda kaya raya secara teratur memberi sumbangan uang dalam jumlah besar kepada fakir miskin, bukan karena dia merasa satu kesatuan dengan mereka, tetapi justru sebaliknya, dia menginginkan untuk mempertahankan keterpisahan dengan mereka.Sumbangan itu seolah mengatakan, "kamu semua inferior, dan saya superior, sumbangan inj membuktikan superiorita saya. Kembali, makna dari tingkah laku itu dapat dinilai memakai kriterium minat sosial.
E. Gaya Hidup (Style Of Life)
Dengan konsep gaya hidup ini, Adler menjelaskan keunikan manusia. Gaya hidup adalah cara yang unik dari setiap orang dalam berjuang mencapai tujuan khusus yang telah ditentukan orang itu dalam kehidupan tertentu dimana dia berada. Jumlah gaya hidup sebanyak jumlah orang di dunia. Misalnya, seseorang mungkin berusaha menjadi superior dalam kekuatan dan kemampuan fisik, dan orang lain mungkin berusaha berprestasi secara intelektual. Masing-masing mengatur hidupnya dicocokkan dengan kekhususan tujuan akhirnya dan cara mencapai tujuan itu. Gaya hidup telah terbentuk pada usia 4-5 tahun. Gaya hidup itu tidak hanya ditentukan oleh kemampuan instrinsik (hereditas) dan lingkungan obyektif, tetapi dibentuk oleh anak melalui pengamatannya dan interpretasinya terhadap keduanya. Terutama, hidup ditentukan oleh khusus yang dimiliki seseorang (bisa khayalan bisa nyata), yakni kompensasi dari inferioritas itu.
F. Kekuatan Kreatif Self (Creative Power Of The Self)
Self kreatif atau kekuatan kreatif adalah kekuatan ketiga yang palingmenentukan tingkah laku, penggerak utama, sendi dan obat mujarab kehidupan, yang membawahi dua kekuatan dan konsep-konsep lainnya (kekuatan pertama: heredity, kedua: lingkungan). Menurut Adler, keturunan memberi "kemampuan tertentu", dan lingkungan memberi "Impresi/kesan tertentu". Jadi diri kreatif adalah sarana yang mengolah fakta-fakta dunia dan mentransformasikan fakta-fakta menjadi kepribadian yang bersifat subyektif, dinamik, menyatu, personal dan unik. Diri kreatif memberi arti kepada kehidupan, menciptakan tujuan maupun sarana untuk mencapainya.
G. Perkembangan Abnormal
Perkembangan abnormal merujuk pada pola perkembangan yang menyimpang dari apa yang dianggap sebagai perkembangan normal pada suatu usia tertentu. Penyimpangan ini bisa terjadi pada berbagai aspek, seperti fisik, kognitif, emosi, dan sosial. Anak yang mengalami perkembangan abnormal mungkin menunjukkan tanda-tanda yang berbeda dari teman sebayanya.
1. Faktor Eksternal dalam Salah Suai
Ada tiga faktor yang membuat orang bisa menjadi salah suai, tidak perlu ketiga faktor itu muncul bersama, satu faktor saja sudah cukup untuk membuat orang menjadi abnormal.
a. Cacat Fisik yang Buruk
Cacat yang sangat buruk, apakah dibawa dari lahir atau akibat kecelakaan/ penyakit, tidak cukup untuk membuat salah suai.
b. Gaya Hidup Manja (pampered)
Anak yang dimanjakan mempunyai minat sosial yang rendah dan perilaku yang kurang aktif.
Mereka mengharapkan orang lain memperhatikan mereka, melindungi mereka dan memuaskan setiap keinginan egois mereka. Ciri-ciri lainnya, mudah menyerah, selalu ragu- ragu, sangat sensitif, tidak sabar, emosional, apalagi jika menyangkut kecemasan.
c. Gaya Hidup Diabaikan
Anak yang merasa tidak dicintai dan tidak dikehendaki, akan mengembangkan gaya hidup diabaikan. Diabaikan merupakan konsep yang relatif; tidak ada orang yang merasa mutlak diabaikan atau mutlak tidak dikehendaki. Kenyataan bahwa anak selamat melewati masa bayi adalah bukti ada seseorang yang merawatnya, itu berarti ada bibit minat sosial di dalam jiwanya. Anak yang diperlakukan salah dan disiksa mengembangkan minat sosial yang kecil, dan cenderung menciptakan gaya hidup manja. Mereka hanya mempunyai sedikit rasa percaya diri dan cenderung membesar-besarkan kesulitan yang dihadapinya. Mereka mengharap masyarakat bersikap dingin karena dia biasa diperlakukan dengan dingin. Mereka mendendam orang lain, tidak percaya dengan dirinya sendiri, tidak mampu bekerjasama untuk tujuan bersama.
2. Kecenderungan Pengamanan (Safeguarding)
semua penderita neurotik menciptakan pengamanan terhadap harga dirinya. gejala itu berperan sebagai kecenderungan pengamanan, memproteksi inflasi image-diri dan mempertahankan gaya hidup neurotik. konsep Kecenderungan Pengamanan mirip dengan Konsep Mekanisme Pertahanan dari Freud. Kedua, mekanisme pertahanan merupakan gejala umum yang dilakukan semua orang, sedang kecenderungan pengamanan merupakan salah satu simptom neurotik, walaupun mungkin setiap orang memakai kecenderungan itu untuk mempertahankan harga diri. Ketiga, mekanisme pertahanan beroperasi pada tingkat taksadar, sedang kecenderungan pengamanan bekerja pada tingkat adar dan taksadar. Namun sebenarnya kecenderungn pengamanan itu merusak diri sendiri karena mereka membangun superioritas personal yang menghambat pelaku memperoleh perasaan keamanan harga diri yang otentik.
H. Aplikasi
1. Keadaan Keluarga
Dalam terapi Adler hampir selalu menanyai kliennya mengenai keadaan keluarga, yakni;
urutan kelahiran, jenis kelamin dan usia saudara-saudara sekandung. Bahasan mengenai keluarga dapat dijadikan pertimbangan bagi orang tua dalam mengasuh anak- anaknya. Adler mengembangkan teori urutan lahir, didasarkan pada keyakinannya bahwa keturunan, lingkungan dan kreativitas individual bergabung menentukan kepribadian. Dalam sebuah keluarga, setiap anak lahir dengan unsur genetik yang berbeda, masuk ke dalam seting sosial yang berbeda, dan anak-anak itu menginterpretasi situasi dengan cara yang berbeda.
PSIKOANALITIK KONTEMPORER ( Erick.H. Erikson) (KEL 4)
Psikoanalitik kontemporer yang dikembangkan oleh Erik H. Erikson adalah perluasan dari teori psikoanalisis tradisional yang diperkenalkan oleh Sigmund Freud. Erikson, meskipun berakar pada tradisi psikoanalitik Freud, memperkenalkan pendekatan baru yang lebih menekankan aspek sosial dan psikososial dalam perkembangan kepribadian. Berbeda dengan Freud yang memusatkan perhatian pada dorongan seksual sebagai pendorong utama perilaku, Erikson menekankan pentingnya interaksi antara individu dan lingkungan sosial dalam membentuk identitas dan kepribadian seseorang.
A. Struktur kepribadian 1. Ego Kreatif
Menurut Erikson, ego memiliki sejumlah kualitas yang tidak ditemukan dalam psikoanalisis Freud, seperti kepercayaan, penghargaan, otonomi, kemauan, kompetensi, kesetiaan, cinta, generativitas, dan pemeliharaan. Kualitas ini membentuk ego yang disebut ego kreatif, yaitu ego yang mampu menemukan solusi kreatif untuk masalah yang muncul di setiap tahap kehidupan. Saat menghadapi hambatan atau konflik, ego ini tidak menyerah, melainkan beradaptasi dengan lingkungannya. Ego tidak tunduk pada id, superego, atau dunia luar, melainkan mengendalikan ketiganya. Selain dipengaruhi oleh faktor genetik, fisiologis, dan anatomi, ego juga dibentuk oleh konteks budaya dan sejarah.
2. Ego otonomi fungsional
Teori Ego dari Erikson, yang merupakan pengembangan dari teori perkembangan seksual- infantal Freud, diterima luas sebagai teori tersendiri karena memandang perkembangan kepribadian berdasarkan prinsip epigenetik. Menurut Erikson, seperti halnya perkembangan biologis yang membutuhkan stimulasi lingkungan tertentu, perkembangan psikoseksual juga memerlukan dukungan dari lingkungan sosial untuk tumbuh optimal. Erikson setuju dengan Freud bahwa hubungan ibu-anak adalah komponen penting dalam perkembangan kepribadian. Namun, ia tidak melihat hubungan antara id dan ego hanya sebagai usaha ego memenuhi kebutuhan id. Bagi Erikson, interaksi selama proses makan mencerminkan hubungan sosial pertama antara bayi dan dunia luar.
3. Pengaruh Masyarakat
Meskipun faktor bawaan sejak lahir berperan penting dalam perkembangan kepribadian, sebagian besar ego terbentuk melalui interaksi dengan masyarakat. Ego bersifat musial dan historis, berbeda dengan pandangan Freud yang lebih menekankan aspek biologis. Menurut Erikson, ego hadir sejak lahir sebagai potensi yang harus dibangun dalam konteks budaya.
Setiap masyarakat, dengan cara pengasuhan yang berbeda, cenderung membentuk kepribadian yang sesuai dengan kebutuhan dan nilai- nilai budayanya.
B. Perkembangan Kepribadian
Perkembangan kepribadian menurut Erik H. Erikson terdiri dari delapan tahap yang mencakup seluruh rentang kehidupan manusia. Setiap tahap memiliki konflik psikososial yang harus diselesaikan untuk mencapai perkembangan yang sehat. Berikut adalah tahap- tahap tersebut. Setiap tahap saling terkait, dan keberhasilan atau kegagalan dalam satu tahap dapat mempengaruhi tahap berikutnya. Erikson menekankan pentingnya lingkungan sosial dan budaya dalam membentuk perkembangan kepribadian.
1. Fase bayi (0-1 tahun)
Masa bayi merupakan satu inkorporasi, dimana bayi tidak hanya dengan fase oral seperti Freud saja namun lebih paralel, melalui semua indera. (misal→ melalui mata, bayi menerima informasi visual, dsb)
a. Aspek Psikoseksual: Sensori Oral b. Krisis psikosial
c. Virtue
d. Ritualisasi-ritualisme 2. Usia Anak-Anak (1-3 tahun)
Tahap yang paralel dengan fase anal oleh Freud. Menurut Erikson, anak memperoleh kepuasan bukan dari keberhasilan mengontrol otot anus saja, tetapi juga keberhasilan mengontrol tubuh lain.
a. Aspek Psikoseksual: Otot Anal-Uretral
b. Krisis psikososial : otonomi vs rasa malu dan ragu ragu c. Virtue kemauan
d. Ritualisas-ritualisme : bijaksana vc legaisme 3. Fase Bermaim (3-6 tahun)
Sama dengan periode phalik dari Freud. Ada banyak perkembangan penting pada fase ini identifikasi denga orangtua, mengembangkan gerakan tubuh, ketrampilan bahasa, kurioritas, dsb.
a. Aspek Psikoseksual: Perkelaminan-Gerakan b. Konflik psikososial : inisiatif vs rasa bersalah c. Virtue : tujuan-sengaja
d. Ritualisasi-ritualisme : dramatik vs impersonasi C. Aplikasi
Teori Erikson terfokus pada perkembangan sosial, sehingga aplikasinya terutama di bidang pendidikan sosial, khususnya pada usia anak-anak dan remaja. Memperhatikan teori Erikson
akan berdampak pada perlakuan orang dewasa kepada anak lebih sesuai dengan kebutuhan usia anak-anak itu. Konsep krisis identitas ternyata aplikatif untuk menginterpretasi, lima ranah sumber krisis pemuda di Amerika, yakni:
1. Problem pilihan pekerjaan 2. Konflik dengan orang tua 3. Keanggautan kelompok sebaya 4. Hubungan cinta remaja
5. Penggunaan obat psikotropik
PERSONOLOGI (HENRY MURRAY) KEL 5
Personologi adalah cabang psikologi yang mempelajari individu sebagai keseluruhan, dengan fokus pada karakteristik unik yang membedakan satu orang dari yang lain. Salah satu tokoh penting dalam pengembangan teori personologi adalah Henry Murray, seorang psikolog Amerika yang dikenal karena kontribusinya dalam memahami motivasi dan kepribadian manusia. Lahir pada tahun 1893, Murray mengembangkan pendekatan yang mengintegrasikan berbagai aspek psikologi, termasuk psikologi klinis, psikologi sosial, dan psikologi perkembangan.
Personologi adalah cabang psikologi yang mempelajari individu sebagai keseluruhan, dengan fokus pada karakteristik unik yang membedakan satu orang dari yang lain. Salah satu tokoh penting dalam pengembangan teori personologi adalah Henry Murray, seorang psikolog Amerika yang dikenal karena kontribusinya dalam memahami motivasi dan kepribadian manusia. Lahir pada tahun 1893, Murray mengembangkan pendekatan yang mengintegrasikan berbagai aspek psikologi, termasuk psikologi klinis, psikologi sosial, dan psikologi perkembangan.
A. Struktur Kepribadian 1. Id, Ego dan Superego
Murray adalah seorang psikoanalis, yang mengembangkan konsep-konsep Freud dan Jung ke dalam hipotesis yang bisa diuji. Konsep Id-Ego-Superego masih digunakan, tetapi dengan arti yang berbeda, sebagai berikut:
a. Id
seperti Freud, Murray memandang Id sebagai gudang semua kecenderungan impulsive yang dibawa sejak lahir.
b. Ego
Murray memberikan peran yang lebih luas kepada ego daripada Freud. Ego bertindak sebagai pusat pengatur tingkah laku dan merencanakan kepuasan diri yang baik.
c. Superego
Superego dipengaruhi oleh lingkungan sosial atau budaya. Unit tingka laku umumnya terbagi menjadi Prosiding dan Serial, di mana prosiding adalah interaksi singkat antara individu dengan orang lain atau obyek. Prosiding adalah waktu singkat yang cukup untuk menyelesaikan pola-pola penting tingkah laku secara dinamis.1
2. Unit – unit tingkah laku Prosiding (Proceeding) dan Serial
Unit dasar tingkahlaku adalah prosiding: interaksi yang waktunya terbatas antara individu dengan orang atau orang-orang lain, atau antara individu dengan obyek. Prosiding adalah sepenggal waktu yang cukup untuk menyelesaikan pola pola penting dari tingkahlaku secara dinamis. Serial adalah serangkaian prosiding sehingga merupakan unit tingkahlaku yang lebih panjang.
3. Ordinasi, Abilitas dan Prestasi
Ordinasi adalah proses pengambilan keputusan yang digunakan seseorang untuk memilih rencana aksi guna mencapai tujuan yang diinginkan dan menjalankan rencana tersebut.2 Ordinasi memiliki dua bagian, yaitu serial-program dan Schedule. Serial-program adalah susunan tugas yang dijadwalkan untuk mencapai tujuan tertentu di masa depan. Jadwal adalah penataan waktu aktivitas untuk memenuhi kebutuhan dan menghindari konflik atau persaingan antara berbagai kebutuhan dan keinginan.
B. Dinamika Kepribadian
Bagi Murray yang paling penting dalam memahami orang adalah keseluruhan direksionalitas atau orientasi tujuan dari aktivitas seseorang, apakah aktivitas itu bersifat internal (dalam fikiran), atau eksternal (dalam ucapan dan tindakan fisik).
Usaha untuk memperoleh definisi empirik dari variabel-variabel motivasinya, menjadi pelopor dalam ranah motivasi. Dari tiga konsep yang berhubungan dengan motivasi yaitu konsep peredaan tegangan, konsep kebutuhan, dan konsep tekanan.
elaborasi Murray terpusat pada konsep kedua, yakni konsep kebutuhan.
1. Peredaan Tegangan (Tension Reduction)
secara umum Murray berpendapat bahwa manakala bangkit need, orang berada dalam tension, dan kepuasanlah yang mereduksi tension secara bertahap bersama perkembangan anak, anak belajar memperhatikan obyek dan melakukan aksi di masa lalu yang dapat meredusksi tension. Murray menambahkan dua hal.
Pertama, orang sering secara aktif berusaha mengembangkan atau meningkatkan tension dalam rangka meningkatkan kenikmatan yang mengikuti tension reduction. Kedua, pada jenis need tertentu, seperti hal terlibat dengan permainan drama atau aktivitas artistik, kesenangan yang membarengi kegiatan itu termasuk dalam pemuasan need.
2. Kebutuhan (Needs)
Needs adalah konstruk mengenai kekuatan di bagian otak yang mengorganisir berbagai proses seperti persepsi, berfikir, dan berbuat untuk mengubah kondisi yang aada dan tidak memuaskan. Lima kriteria merupakan hasil pengamatan yang dilakukan peneliti, sedang kriteria ke enam membutuhkan partisipasi orang yang diamati:
1) Hasil akhir dari tingkahlaku 2) Pola-pola khusus dari tingkah laku
3) Perhatian dan respon yang terjadi terhadap kelompok stimuli tertentu 4) Ekspresi terhadap suasana emosi tertentu
5) Ekspresi kepuasan atau ketidakpuasan pada hasil akhir4
6) Ungkapan atau laporan subyektif mengenai perasaan, maksud dan tujuan.
3. Tekanan
Bentuk penentu tingkahlaku yang berasal dari lingkungan. Suatu sifat atau ciri dari orang lain, obyek, atau kondisi lingkungan yang membantu atau menghalangi orang menuju ke tujuannya. Ada dua jenis tekanan, yang pertama tekanan alfa (alpha press) yaitu kualitas lingkungan yang muncul dalam kenyataan, dan tekanan beta (beta press) yaitu kualitas lingkungan sebagaimana teramati oleh individu.
4. Tema (Interaksi antara kebutuhan dengan tekanan)
Tema adalah aspek dari prosiding yang mengambarkan interaksi antara kebutuhan dengan tekanan, yakni motiv yang beroperasi dalam interaksi itu.
Beberapa prosiding dapat bergabung dengan tema serial.
5. Prosiding, Tekanan Alfa/Beta dan Kebutuhan Prosising itu mempunyai:
1. Tekanan alfa : respon sejawat
2. Tekanan beta : kritik atau pendapat yang menentang 3. Kebutuhan : pencapaian, dominasi dan pertahanan
Misalnya seseorang antropologis menunjukkan hasil 6. Disposisi Tematis (Integrasi Kebutuhan)
Pada dasarnya kebutuhan-kebutuhan tidak mempunyai hubungan langsung dengan obyek-obyek tertentu di lingkungan, namun melalui pengalaman individu kemudian menghubungkan kebutuhan-kebutuhan dari dalam itu dengan obyek tertentu. Hubungan yang dipelajari melalui pengalaman itu mencakup pilihan obyek, respon terhadap obyek, dan sarana atau proses untuk mendekati atau menjauhi suatu obyek. Keadaan inilah yang oleh Murray disebut Integrasi kebutuhan (Need Intergrate) kesatuan antara kebutuhan dengan gambaran atau fikiran tentang obyek yang ada di lingkungan, beserta tindakan-tindakan instrumental.
7. Kunci Keunikan (Kesatuan Unit Tema)
K
esatuan tema adalah tema yang sering muncul, sehingga dapat menjadi kunci untuk memahami keunikan pribadi. Uniti tema merupakan campuran (yang berlangsung tak sadar) antara beberapa kebutuhan kuat yang berhubungan dengan tekanan yang muncul pada peristiwa khusus
pada masa awal anak-anak.8. Arah Tingkahlaku (Nilai dan Vektor)
Skema niai dan vektor merupakan gambaran akhir dari tingkah laku bertujuan dalam teori Murray. Menurutnya, apapun yang dilakukan orang, itu dilakukan dalam rangka mencapai tujuan akhir yang dikehendaki (dikehendaki untuk diperoleh atau dihindari). Nilai suatu tingkahlaku adalah muatan tujuan akhir yang ada pada tingkahlaku itu. Tujuan hidup manusia yang tidak terhingga banyaknya, oleh Murray diklarifikasi menjadi 7 nilai (menurutnya masih belum lengkap, masih mungkin ditambahkan), yakni: body kenyamanan fisik, properti atau kekayaan, otoritas kekuasaan, afiliasi interpersonal, ilmiah pengetahuan, keindahan, dan idiologi (sistem nilai, filsafat, agama)
9. Dasar Fisiologik Tingkahlaku (Regnancy)
Regnan adalah variable fisiologik yang menyongkong semua fenomena psikologis, berujud proses yang saling tergantung yang merupakan konfrigurasi konfrigurasi dominan dalam otak yang menngatur dan yang mengorganisisir tingkahlaku.
C. Perkembangan Kepribadian 1. Kompleks-kompleks anak-anak
Perkembangan kepribadian menurut Murray bersifat longitudinal, menekankan pada perkembangan sejarah individu. Pendekatannya mirip dengan teori Freud, dimana Freud memusatkan analisisnya pada event/pengalaman masa awal anak anak dan pola tingkahlaku yang sudah terbentuk pada masa itu. Murray membagi masa anak-anak menjadi 5 tahapan, masing-masing ditandai dengan kondisi kepuasan yang dipengaruhi oleh tuntutan lingkungan. Setiap orang pasti akan melalu 5 tahap perkembangan yang sama. Jika orang tersebut tidak melalui 5 tahap ini, kepribadiannya tidak dapat berkembang spontan dan fleksibel, dan hal tersebut akan mempengaruhi pembentukan ego dan superego.
2. Perkembangan kebutuhan berpretasi
Murray mempelajari Achievement need (aachievement) dan menemukan bahwa need akan prestasi ini mempengaruhi banyak aspek kehidupan manusia. Orang yang tingkat Achievement need nya tinggi cenderung menunjukkan berbagai perbedaan dibandingkan orang yang tingkat kepuasan kebutuhannya rendah Ciri orang yang memiliki need- achievement antara lain:
a. Lebih kompetitif,
b. Lebih bertanggung jawab terhadap keberhasilannya sendiri, c. Senang menetapkan tujuan yang menantang tetapi tetap realistik,
d. Memilih tugas yang tingkat kesulitannya cukupan yang tidak pasti apakah bisa diselesakan atau tidak,
e. Senang dengan kerjaa interprenur yang beresiko tetapi cocok dengan kemampuannya.
D. Aplikasi
Personologi, yang dikembangkan oleh Henry Murray, berfokus pada pemahaman individu sebagai keseluruhan, dengan menekankan interaksi antara kebutuhan dan tekanan. Berikut salah satu alat yang paling terkenal dalam personologi : 1. Thematic Apprception Test (TAT)
TAT merupakan salah satu teknik mengungkap kepribadian yang termanifes dan apresiasinya tentang lingkungan yang dikembangkan oleh Christina Morgan dan Henry Murray pada tahun 1935.
TAT adalah tes yang mengappresipkan tema dari suatu gambar yang ambigius/mendua arti. Tes ini berdasar pada fakta bahwa ketika seseorang menginterpretasi situasi sosial yang ambigius, maka ia ternyata menjawab dengan mengekspos kepribadiannya sendiri seperti ia menghadapi fenomena itu. Pada tes ini testee mengappersepsi tema suatu gambar yang sifatnya ambigius. Tema ini oleh testee dikonstruksi berdasar pada gambar yang dilihatnya, dan selanjutnya diproyeksikan sesuai dengan tanggapannya tentang gambar tersebut. Atas dasar appersepsi ini dapat diketahui dan dimengerti bagaimana gambaran kepribadian seseorang.
E.
EvaluasiDalam mengembangkan teori personologi, Murray tidak segan-segan memperbaiki, memodifikasi, dan menguji kembali apa yang pernah dikemukakan dan diyakininya. Hal-hal yang secara teori tetap sama adalah:
1. Minat yang mendalam terhadap proses motivasi, termasuk motivasi tak sadar.
2. Keyakinannya bahwa semua tingkahlaku manusia harus dipandang saling berhubungan.
3. Secara alami semua tingkahlaku bersifat purposif, berarah tujuan 4. Bahwa proses psikologis berhubungan dengan proses dan aktivitas otak 5. Memakai metoda deskriptif dan taksonomi
Konsepnya yang paling monumental adalah konsep tentang proses motivasional atau teori tentang kebutuhan.
HOLISME DAN HUMANISME (ABRAHAM MASLOW) (KEL 6)
A. Pengertian Humanisme
Teori psikologi humanistik pertama kali dikemukakan oleh AbrahamMaslow sekitar tahun 1950-an. Menurut Maslow, setiap tindakan manusia bermula dari hadirnya kebutuhan yang bersifat instingtif dan kebutuhan tersebut disusun ke dalam sebuah piramida hierarki kebutuhan. Humanisme adalah studi yang fokus pada manusia dan tidak bergantung pada doktrin atau ajaran dalam agama. Kelompok humanis percaya bahwa manusia memiliki kendali penuh atas diri mereka sendiri, dan tidak ada yang bisa memengaruhi pilihan mereka selain dari diri mereka sendiri. Dalam psikologi humanistik, manusia dianggap sebagai individu yang memiliki kebebasan untuk menggunakan simbol-simbol dan berpikir secaraabstrak. Ini artinya bahwa manusia memiliki kemampuan yang lebih tinggi dari makhluk lainnya. Jadi, secara garis besar, humanisme adalah pandangan yang menekankan gagasan-gagasan tentang kebebasan dan kemajuan manusia. Pendekatan ini menekankan pentingnya tanggung jawab manusia dalam memajukan dirinya sendiri dan memperhatikan hubungan manusia dengan lingkungan.
B. Teori Hearki Kebutuhan Maslow
Piramida hierarki adalah cara untuk menyusun kebutuhan dasar manusia yang harus dipenuhi sebelum memenuhi kebutuhan lainnya. Kebutuhan yang ada dalam piramida hierarki kebutuhan tidak hanya fisiologis, tetapi juga psikologis. Semua kebutuhan ini adalah inti dari sifat manusia menurut ilmu pengetahuan. Dalam teori ini, dikatakan bahwa manusia memiliki lima tingkatan kebutuhan, dimana kebutuhan tingkat lebih tinggi akan muncul setelah kebutuhan tingkat rendah terpenuhi.
1) Kebutuhan fisiologis
Pada tingkat paling dasar, ada kebutuhan fisiologis kebutuhan ini harus terpenuhi agar individu dapat bertahan hidup. Adapun kebutuhan ini meliputi sandang, pangan, papan, udara, seks, dan lain-lainnya. Kebutuhan ini adalah satu-satunya kebutuhan yang dapat terpenuhi sepenuhnya atau diatasi. Dalam situasi ini, manusia bisa merasa puas saat kehilangan kemampuan untuk bergerak. Misalnya, dalam aktivitas makan. Bagi individu yang baru menghabiskan makanannya dalam jumlah yang banyak, dirinya tak lagi sanggup untuk membayangkan makanan lagi sebab hal tersebut dapat memicu perasaan ingin muntah.
Kedua, adanya hakikat pengulangan.
2) Kebutuhan rasa aman
Kebutuhan rasa aman timbul setelah kebutuhan fisiologis terpenuhi. Kebutuhan ini penting bagi semua kalangan, mulai dari anak-anak, remaja, dewasa, hingga lanjut usia. Kebutuhan rasa aman ini meliputi kebutuhan akan rasa keamanan, ketergantungan, perlindungan, bebas dari rasa takut, cemas, kekalutan, dan lain-lainnya. Rasa aman membuat orang mencari kerja dan menabung uang. Seseorang yang memiliki kedewasaan mental ditandai dengan perasaan
aman, bebas dari takut dan cemas. Seseorang yang memiliki masalah kesehatan mental ditandai dengan merasa selalu dalam keadaan yang terancam.8
3) Kebutuhan rasa kasih sayang dan rasa memiliki-dimiliki
Setelah kedua kebutuhan terpenuhi, terdapat kebutuhanketiga yang perlu dipenuhi, yakni kebutuhan rasa kasih sayang dan rasa memiliki-dimiliki. Kebutuhan ini dapat ditunjukkan melalui persahabatan, percintaan, atau pergaulan yang luas tanpa membedakan kondisi fisik, suku, agama, dan ras. Kebutuhan ini membuat seseorang mencari pengakuan dan perasaan kasih sayang dari orang lain, mulai dari orang tua, saudara, guru, teman dan lain sebagainya.
Kebutuhan ini dapat dipenuhi dengan adanya hubungan yang akrab dengan orang lain.
4) Kebutuhan penghargaan
Setelah memenuhi kebutuhan ketiga, individu memerlukan penghargaan. Penghargaan ini penting bagi seseorang melalui orang lain dan dirinya sendiri. Pujian dari orang lain adalah hal yang penting, seperti pengakuan, penerimaan, posisi, reputasi, perhatian, prestise, nama baik, dan penghargaan atas kesuksesan dalam masyarakat. Ketika seseorang memiliki harga diri yang cukup, kepercayaan diri mereka akan meningkat dan membuat mereka lebih produktif. Namun, sebaliknya, jika harga diri seseorang rendah, maka dia akan merasa tak berdaya dan bisa menimbulkan rasa putus asa. Sementara penghargaan terhadap diri sendiri termasuk kepercayaan diri, kecukupan, kebebasan, kompetensi, dan prestasi.13
5) Kebutuhan aktualisasi diri
Kebutuhan aktualisasi diri adalah kebutuhan psikologis untuk mengembangkan dan memanfaatkan kemampuan seseorang.Dalam hal ini, motivasi individu sangat penting.
Maslow menjelaskan bahwa manusia memiliki kebutuhan untuk menjadi manusia utuh dengan kemampuannya sendiri, dan menjadi apa saja sesuai kemampuannya.14 Kebutuhan ini merupakan titik tertinggi dalam hierarki kebutuhan manusia karena ini menunjukkan potensi individu secara lengkap. Kebutuhan ini mendorong manusia untuk berkembang sesuai dengan kemampuan yang dimilikinya.
C. Mencapai Aktualisasi Diri
Pengertian aktualisasi diri menurut Abraham Maslow adalah proses ketika seseorang menjadi diri sendiri dan mengembangkan sifat-sifat serta potensi psikologis yang unik dan berbeda.
Aktualisasi diri juga disebut oleh Maslow sebagai puncak kedewasaan dari diri manusia.
Menurut teori Abraham Maslow, aktualisasi diri adalah ketika seseorang mencapai segala potensi dan kapasitasnya. Artinya, aktualisasi diri juga bisa disebut sebagai proses "menjadi versi terbaik dari diri sendiri."
D. Organisasi Kepribadian Mempengaruhi Cara Individu Berinteraksi
dengan Lingkungan Sosial dan Mencapai Tujuan Pribadi Organisasi kepribadian mempengaruhi interaksi sosial individu dengan cara membentuk perilaku, nilai, dan norma yang diadopsi dari lingkungan. Lingkungan sosial, seperti keluarga dan teman sebaya,
berperan penting dalam pembentukan kepribadian, yang selanjutnya memengaruhi cara individu beradaptasi dan berinteraksi di masyarakat. Individu dengan kepribadian positif cenderung memiliki interaksi yang lebih baik dan mencapai tujuan pribadi lebih efektif sedangkan kepribadian negatif dapat menghambat kemampuan sosial dan pencapaian tujuan.
E.APLIKASI PRAKTIS DARI KONSEP HUMANISME DAN TEORI HIERARKI KEBUTUHAN
Teori Hirarki Kebutuhan Maslow menjelaskan bahwa manusia memiliki enam tingkatan kebutuhan yang harus dipenuhi secara berurutan, mulai dari yang paling dasar hingga yang paling tinggi. Berikut beberapa aplikasi praktis dari konsep humanisme dan teori hierarki kebutuhan Maslow:
1.Pendidikan Humanistik
2.Manajemen Sumber Daya Manusia 3.Konseling dan Terapi
4.Program Sosial 5.Lingkungan Kerja 6.Pengembangan Pribadi
F.CARA MENGEVALUASI PENCAPAIAN AKTUALISASI DIRI
Aktualisasi diri adalah tahap tertinggi dalam hierarki kebutuhan manusia menurut teori Abraham Maslow. Aktualisasi diri mencerminkan proses menjadi versi terbaik dari diri sendiri, yaitu saat seseorang mampu sepenuhnya merealisasikan potensi, bakat, dan kemampuan dirinya dalam kehidupan. Untuk mencapai aktualisasi diri, ada beberapa cara yang bisa dilakukan, yaitu:
1.Refleksi Diri
2.Pengembangan Kepercayaan Diri 3.Penerimaan Diri
4.Menghadapi Tantangan
5.Menetapkan Tujuan yang Jelas
KEUNIKAN INDIVIDU ( GORDON ALPORT) (KEL 7)
Kepribadian merupakan aspek penting dalam memahami perilaku manusia, karena sifat kepribadian yang unik pada tiap individu memengaruhi cara seseorang berinteraksi dengan dunia sekitarnya. Dalam bidang psikologi, salah satu tokoh penting yang menekankan keunikan individu dalam teori kepribadian adalah Gordon Allport. Allport melihat kepribadian bukan sekadar kumpulan sifat umum, tetapi sebagai pola karakteristik unik yang membedakan setiap orang. Pendekatan Allport berbeda dari teori kepribadian lainnya yang cenderung menggeneralisasi sifat-sifat manusia.
A. Struktur Kepribadian
Menurut Allport, struktur kepribadian dinyatakan dalam sifat (traits), dan dinamika kepribadian didorong juga oleh sifat (traits). Oleh karena itu, struktur dan dinamika kepribadian itu pada dasarnya adalah hal yang sama. Berdasarkan hal ini, banyak yang menyebutkan teori Allport itu sebagai "Trait Psychology". Dalam teori Allport ini, kedudukan trait dapat disejajarkan dengan kedudukan need pada teori Murray, atau libido pada teori Freud. tempat. Allport membedakan trait menjadi dua, yaitu:
1. Trait umum
Trait umum adalah sifat bersama yang dimiliki oleh banyak orang, dan digunakan untuk membandingkan orang dari budaya berbeda. Asumsi yang mendasari trait ini adalah persamaan evolusi dan pengaruh sosial. Misalnya, orang Batak memiliki sifat lebih terbuka dibanding suku lain. Atau orang Jawa memiliki sifat lebih sopan dalam berbicara dibanding suku lain.
2. Trait individual
Trait individual adalah manifestasi trait umum seseorang, sehingga selalu unik bagi orang itu.
Sifat unik ini merupakan gambaran tepat dari struktur kepribadian. Trait individual merupakan subkategori dari trait umum.
2. Disposisi Sekunder (secondary disposition)
yaitu sifat yang semakin tidak umum, dan kurang penting untuk menggambarkan kepribadian. Sifat ini tidak menyolok, jarang digunakan, dan hanya dipakai pada kesempatan khusus. Misalnya A itu adalah wanita yang sabar (Disposisi Sentral), namun pada suatu hari seorang teman menghina orangtuanya, maka Amenjadi marah meledak-ledak (Disposisi Sekunder).
B. Motivasi