TUGAS 1
MITIGASI BENCANA REVIEW JURNAL
Disusun Oleh:
Aurelia Putri Badriyah 215060407111018
16 Kelas B
Dosen Pengampu:
Dr.Ir. Runi Asmaranto, ST., MT., IPM.
DEPARTEMEN TEKNIK PENGAIRAN FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
2024
Judul Institutional Studies of Keureuto Watershed Water Resources Management as Disaster Mitigation
Jurnal International Journal of Disaster Management Volume dan
Halaman Vol. 7 No. 1
Tahun 2024
Penulis Rinal Dianto, Azmeri, dan Alfiansyah Yulianur Reviewer Aurelia Putri Badriyah
Bulan September 2024
Abstrak
DAS Keureuto merupakan salah satu DAS prioritas di Aceh yang memiliki permasalahan banjir, sehingga mengurangi efektivitas pengelolaan sumber daya airnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji bentuk dan kondisi kelembagaan pengelolaan DAS Keureuto. Pengumpulan data dilakukan dengan pengisian kuesioner oleh lembaga dan pelaku usaha terlibat. Hasil menunjukkan bahwa permasalahan dapat diatasi dengan membentuk badan pengelola DAS Keureuto yang memiliki wewenang untuk fleksibilitas penganggaran dan dalam pembangunan infrastruktur banjir.
Latar Belakang
Daerah Aliran Sungai Keureuto merupakan salah satu Daerah Aliran Sungai (DAS) prioritas di Aceh (Badan Pengairan Aceh, 2022). Banjir yang berulang di DAS Keureuto terutama disebabkan oleh limpasan dari Sungai Keureuto, yang terjadi lebih dari enam kali setahun. Seiring meningkatnya frekuensi banjir, wilayah yang terkena dampak meluas, dan durasi genangan bertambah panjang (Dinas Pengairan Aceh, 2022). Dampak banjir di DAS Keureuto meluas ke wilayah hulu dan hilir, terutama berdampak pada Kota Lhoksukon. Kota ini ditetapkan sebagai ibu kota Kabupaten Aceh Utara berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 18/2003, Kota Lhoksukon menjadi pusat pertumbuhan dan pembangunan, serta sebagai pusat ekonomi yang diantisipasi mengalami pertumbuhan pesat di tengah perluasan populasi yang signifikan. Salah satu inisiatif yang sedang berlangsung untuk mengurangi banjir adalah pembangunan Waduk Keureuto (Dinas Pengairan Aceh, 2016).
Dalam praktiknya, tugas dan fungsi masing-masing lembaga belum terlaksana secara optimal untuk menjawab tantangan di lapangan.
Permasalahan yang paling sering terjadi dalam penanganan bencana adalah koordinasi antar instansi dan terbatasnya kewenangan lembaga dalam menangani masalah (Dunn, 2003). Studi kasus yang menunjukkan kondisi aktual yang umum terjadi adalah banjir di lahan pertanian tidak dapat ditangani secara cepat oleh Dinas Pengairan atau Badan Wilayah Sungai (BWS) Sumatera-1 karena keterbatasan kewenangan dan anggaran.
Sementara itu, banjir di lahan pertanian tidak dapat ditangani oleh BPBA apabila tidak menimbulkan pengungsian atau korban jiwa. Selain itu, pemerintah kabupaten/kota memiliki keterbatasan anggaran dan sumber daya untuk menangani banjir secara cepat dan tepat (Sari dan Kanegae 2020). Kendala yang sering muncul adalah pada sektor sosial, lingkungan hidup, dan pengelolaan aset, terutama pada kasus yang memerlukan koordinasi dan lintas kewenangan. Permasalahan serupa menjadi lebih kompleks dan terjadi pada saat pembangunan dan pengoperasian Waduk Keureuto.
Metode Penelitian
Lokasi penelitian berada pada DAS Kereuto di Kabupaten Aceh Utara. DAS ini menjadi DAS prioritas di Aceh karena memiliki permasalahan banjir yang disebabkan oleh limpasan Sungai Keureuto, Sungai Peuo, Sungai Pirak, dan Sungai Kree. Dalam pengumpulan data dibutuhkan data primer dengan metode observasi lapangan serta pengisian kuesioner oleh kelembagaan dan pihak terkait.
Pembahasan
Tantangan kelembagaan DAS Keureuto terbagi menjadi dua faktor, yaitu faktor eksternal dan internal. Faktor eksternal meliputi faktor alam, seperti perubahan iklim dan kondisi ekonomi daerah. Faktor internal meliputi aspek hukum, ekonomi daerah, dan ketahanan pangan. Hasil survei menunjukkan bahwa tantangan dari faktor-faktor tersebut semakin meningkat seiring dengan meningkatnya pertumbuhan penduduk dan tuntutan pembangunan di Kabupaten Aceh Utara dan Provinsi Aceh.
Selain itu, juga diidentifikasi beberapa isu strategis DAS Keureuto, seperti isu lingkungan, sosial, sejarah, dan kelembagaan yang saling terkait dan memerlukan solusi yang komprehensif. Berdasarkan laporan dari Dinas Pengairan Aceh (2022), isu-isu DAS Keureuto yang perlu ditangani antara lain:
1. Kerusakan kondisi lingkungan di daerah riparian, terutama di daerah padat penduduk seperti Kota Lhoksukon dan sekitarnya:
2. Fluktuasi ekstrim debit sungai antara musim kemarau dan musim hujan;
3. Kurangnya koordinasi antar instansi terkait dalam pengelolaan DAS terutama pada bencana banjir pengelolaan;
4. Dan masih banyak lagi.
Berdasarkan isu strategis, tantangan dan peran lembaga dalam pengelolaan DAS Keureuto dilakukan uji SWOT (Strengths, Weaknesses, Opportunities, dan Threats) diperoleh bahwa kewenangan kelembagaan dalam perencanaan merupakan salah satu parameter yang sangat dinamis.
Semua responden memiliki jawaban yang beragam mengenai perencanaan dan pelaksanaan pembangunan yang telah dilakukan oleh masing-masing lembaga. Setiap lembaga menuntut tanggung jawab masing-masing pegawai negeri sipil untuk bekerja sesuai dengan tugas dan fungsinya.
Permasalahan lintas instansi atau permasalahan yang tidak ditangani oleh tugas dan fungsi masing-masing instansi akan menghadapi kendala penganggaran. Meskipun Peraturan Pemerintah (PP) No. 12/2019 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah telah menetapkan pos anggaran untuk penanganan keadaan darurat/bencana, pemanfaatan pos pendanaan ini menjadi rumit. Oleh karena itu, pembentukan Otorita dengan tugas dan fungsi yang dinamis diharapkan dapat menangani potensi konflik dan terintegrasi dengan peraturan perundang-undangan. pelaksanaan.
Kesimpulan
Tugas dan fungsi utama lembaga pengelola DAS Keureuto terbukti belum memadai dalam menghadapi tantangan masa depan yang kompleks. Dengan selesainya tahap pembangunan dan pengoperasian Waduk Keureuto, diperlukan lembaga yang mampu mendorong sinergi antar pemangku kepentingan. Secara historis, respons terhadap bencana alam atau keadaan darurat bersifat reaktif, dengan fokus utama pada tindakan langsung manusia. Studi ini menggarisbawahi perlunya lembaga yang secara khusus diberi wewenang di tingkat menteri untuk mengatasi tantangan yang terkait dengan pengelolaan sumber daya air dan lingkungan di DAS Keureuto.
Meskipun demikian, keterlibatan lembaga tingkat provinsi tetap penting,
terutama dalam menangani isu-isu tertentu, seperti pengelolaan air domestik.
Kelebihan
Penulis dengan dengan rinci menjelaskan bagaimana keadaan dan permasalahan yang ada di DAS Keureuto sehingga mudah dipahami oleh pembaca.
Kelemahan
Karena data hanya diperoleh melalui pengisian kuesioner dan studi pustaka, tidak ada gambar permasalahan bencana yang ada seperti banjir dan lainnya.
Perlu kiranya diselipkan gambar untuk bukti pendukung, agar pembaca bisa mengetahui bagaimana dampak permasalahan bencana tersebut secara visual.
• Pengertian dan Klasifikasi Bencana Yang Dibahas Pada Jurnal
Pada jurnal, bencana yang di bahas adalah banjir. Banjir adalah tanah tergenang akibat luapan sungai, yang disebabkan oleh hujan deras atau banjir akibat kiriman dari daerah lain yang lebih tinggi (Aprilia Findayani, 2015). Dalam jurnal, banjir di DAS Keureuto termasuk banjir yang disebabkan oleh luapan sungai. Banjir tersebut sering terjadi dan banyak menyebabkan kerugian pada warga setempat.
• Kesesuaian Pembahasan dengan Undang-Undang Kebencanaan
Pembahasan bencana banjir dalam jurnal juga melibatkan pemerintah dan kelembagaan pengelolaan DAS yang ada di DAS Keureuto. Permasalahan yang paling sering terjadi dalam penanganan bencana adalah koordinasi antar instansi dan terbatasnya kewenangan lembaga dalam menangani masalah. Permasalahan lintas instansi atau permasalahan yang tidak ditangani oleh tugas dan fungsi masing-masing instansi menyebabkan beberapa masalah, salah satunya penganggaran. Meskipun Peraturan Pemerintah (PP) No. 12/2019 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah telah menetapkan pos anggaran untuk penanganan keadaan darurat/bencana, pemanfaatan pos pendanaan ini menjadi rumit. Oleh karena itu, pembentukan otoritas dengan tugas dan fungsi yang dinamis diharapkan dapat menangani potensi konflik dan terintegrasi dengan peraturan perundang-undangan pelaksanaan.
• Manajemen Bencana Yang Dilakukan Pada Jurnal
Manajemen bencana yang dilakukan masih sangat kurang, Pihak yang berkepentingan dianggap tidak bisa menyelesaikan masalah yang ada. Contohnya studi kasus yang ada dalam jurnal menunjukkan kondisi aktual yang umum terjadi adalah banjir di lahan pertanian tidak dapat ditangani secara cepat oleh Dinas Pengairan atau Badan Wilayah Sungai (BWS) Sumatera-1 karena keterbatasan kewenangan dan anggaran. Sementara itu, banjir di lahan pertanian tidak dapat ditangani oleh BPBA apabila tidak menimbulkan pengungsian atau korban jiwa. Selain itu, pemerintah kabupaten/kota memiliki keterbatasan anggaran dan sumber daya untuk menangani banjir secara cepat dan tepat (Sari dan Kanegae 2020). Kendala yang sering muncul adalah pada sektor sosial, lingkungan hidup, dan pengelolaan aset, terutama pada kasus yang memerlukan koordinasi dan lintas kewenangan. Permasalahan serupa menjadi lebih kompleks dan terjadi pada saat pembangunan dan pengoperasian Waduk Keureuto.
• Upaya Pencegahan Terhadap Timbulnya Bencana Dimasa Mendatang 1. Pembentukan otoritas kepada lembaga pengelolaan DAS Keureuto.
2. Dalam menangani permasalahan banjir, di DAS Keureuto sedang dalam proses pembangunan bendungan yang akan segera diresmikan pada September 2024.
• Kesimpulan dan Saran
Dari apa yang dibahas dalam jurnal dapat diketahui bahwa ada 2 faktor yang menjadi tantangan kelembagaan DAS Keureuto yaitu eksternal dan internal. Faktor eksternal meliputi faktor alam seperti perubahan iklim. Faktor internal meliputi aspek hukum, ekonomi daerah, dan ketahanan pangan. Dalam menangani faktor internal, diperlukan pembentukan otoritas kepada lembaga pengelolaan DAS Keureuto sehingga dengan wewenang yang diberikan dapat lebih maksimal dalam melakukan pemeliharaan dan pengelolaan DAS.