Review Teori & Model Kepemimpinan
Cut Sarah M.Psi., Psikolog
• Berawal dari pertanyaan “ apa yang membuat pemimpin itu efektif”
TEORI SIFAT
TEORI SIFAT
TEORI SIFAT
Teori Sifat
• Teori yang berusaha mengidentifikasikan
karakteristik khas (fisik, mental, kepribadian) yang dikaitkan dengan keberhasilan
kepemimpinan.
• Asumsi beberapa orang adalah pemimpin
alamiah. INTELIGENSIA
TEORI PERILAKU
Studi dari University of Michigan
• Studi yang melokasikan karakteristik perilaku
kepemimpinan yang tampaknya dikaitkan dengan keefektifan kinerja; mengidentifikasikan 2 gaya kepemimpinan yang berbeda:
Pemimpin
Studi dari Ohio State University
• Studi yang dipimpin Fleishman dkk setelah Perang Dunia II. Suatu seri penelitian
mengisolasikan dua faktor kepemimpinan, yaitu:
Initiating Structure
TEORI SITUASIONAL
Teori Kepemimpinan Situasional
• Suatu pendekatan terhadap
kepemimpinan yang menyatakan bahwa pemimpin memahami
perilakunya, sifat-sifat bawahannya, dan situasi sebelum menggunakan suatu gaya kemepimpinan tertentu.
• Pendekatan ini mensyaratkan
pemimpin untuk memiliki keterampilan
diagnostik dalam perilaku manusia.
Beberapa Model Kepemimpinan Situasional
Model Model
Path-Goal Model Teori
Pendekatan
Model Kepemimpinan Kontingensi
• Model yang dikembangkan oleh FIEDLER mengemukakan bahwa prestasi kelompok tergantung pada interaksi antara gaya
kepemimpinan dan situasi yang mendukung. Kepemimpinan dilihat sebagai suatu hubungan yang didasari oleh kekuatan dan pengaruh .
• Fiedler mengembangkan Least-Preferred Co-Worker (LPC) Scale untuk mengukur dua gaya kepemimpinan:
a) Gaya berorientasi tugas, yang mementingkan tugas atau otoritatif;
b) Gaya berorientasi hubungan, yang mementingkan hubungan kemanusiaan.
• Sedangkan kondisi situasi terdiri dari dua faktor utama:
a) Hubungan pemimpin-anggota, yaitu derajat baik/ buruknya hubungan antara pemimpin-bawahan.
b) Struktur tugas, yaitu derajat tinggi rendahnya strukturisasi, standarisasi dan rincian tugas pekerjaan.
• Kekuasaan posisi, yaitu derajat kuat/ lemahnya kewenangan dan
pengaruh pemimpin atas variabel-variabel kekuasaanm seperti
memberikan penghargaan dan mengenakan sanksi.
Model Partisipasi Pemimpin oleh Vroom &
Yetton
• Suatu teori kepemimpinan yang memberikan seperangkat aturan untuk menentukan ragam dan banyaknya pengambilan keputusan partisipatif dalam situasi-situasi yang berlainan.
• Model ini mempertahankan lima gaya kepemimpinan yang
menggambarkan pendekatan otoriter (AI, AII), ke konsultatif (CI, CII) sampai pendekatan sepenuhnya partisipatif (GII).
1. AI. Pemimpin menyelesaikan masalah atau membuat keputusan menggunakan informasi yang tersedia saat itu.
2. AII. Pemimpin memperoleh informasi yang diperlukan bawahan, dan kemudian memutuskan sendiri penyelesaian atas masalah sebenarnya ketika mereka meminta informasi. Peran yang dimainkan bawahan dalam membuat keputusan jelas menyediakan informasi yang perlu kepada
manajer bukannya membuat atau mengevaluasi penyelesaian alternatif.
3. CI. Pemimpin berbagi masalah dengan bawahan yang relevan secara individual, mendapatkan ide dan saran mereka tanpa mengumpulkan mereka sebagai sebuah kelompok. Kemudian pemimpin membuat keputusan yang bisa mencerminkan atau tidak pengaruh bawahan.
4. CII. Pemimpin berbagi masalah dengan bawahan sebagai suatu
kelompok secara kolektif memperoleh ide dan saran mereka. Kemudian mereka akan membuat keputusan yang bisa mencerminkan atau tidak pengaruh bawahan.
5. GII. Pemimpin berbagi masalah dengan bawahan sebagai suatu kelompok. Pemimpin dan bawahan bersama-sama membuat dan mengevaluasi alternatif serta berusaha mencapai konsensus
penyelesaian. Pemimpin tidak mencoba memengaruhi kelompok untuk
mengadopsi penyelesaian yang mereka sukai dan mereka menerima
serta mengimplementasikan penyelesaian yang mendapat dukungan
seluruh kelompok.
Path-Goal Model
• Menurut model yang dikembangkan oleh Robert J. House, pemimpin menjadi efektif karena pengaruh mottivasi
mereka yang positif, kemampuan untuk melaksanakan, dan kepuasan pengikutnya. Teorinya disebut jalur-tujuan karena fokus pada bagaimana pemimpin mempengaruhi persepsi pengikutnya pada tujuan kerja, tujuan pengembangan diri, dan jalan untuk mencapai tujuan.
Faktor perilaku pemimpin
Direktif
Suportif
Pertisipatif
Berorientasi Prestasi
Karakteristik pribadi bawahan:
o Tempat pengendalian o Pengalaman
o kemampuan
Faktor Lingkungan
Tugas
Sistem wewenang formal
Kelompok kerja
Pengikut/
bawahan
Persepsi
Motivasi
Perolehan
Kepuasan
Prestasi
Teori Kepemimpinan Situasional Hersey-Blanchard
• Penekanan teori kepemimpinan situasional adalah pada pengikut- pengikut dan tingkat kematangan mereka. Para pemimpin harus menilai benar atau secara intuitif mengetahui tingkat kematangan pengikutnya dan kemudian menggunakan gaya kepemimpinan
yang sesuai dengan tingkatan tersebut. Kesiapan didefinisikan sebagai kemampuan dari pengikut untuk mengambil tanggung jawab nagi pengarahan perilaku mereka sendiri.
• Hersey-Blanchard mengembangkan studi Ohio State untuk mengmbangkan keempat gaya kepemimpinan yang dimiliki manajer:
1) Telling;
2) Selling
3) Participating 4) Delegating
• Kepemimpinan situasional menurut Hersey-Blanchard adalah didasarkan hubungan antara: (a) jumlah petunjuk dan
pengarahan yang diberikan oleh pemimpin, (b) jumlah dukungan
sosio emosional yang diberikan oleh pemimpin, dan (c.) tingkat
kesiapan atau keuntungan para pengikut yang ditunjukkan dalam
melaksanakn tugas khusus, fungsi atau tujuan tertentu.
Pendekatan Hubungan Berpasangan Vertikal
• Suatu pandangan bahwa tidak ada hal seperti perilaku pemimpin yang konsisten terhadap seluruh bawahan. Tiap hubungan satu-satu memiliki keunikannya sendiri-sendiri.
• Pendekatan yang mengusulkan bahwa pemimpin
mengklasifikasikan bawahan ke dalam in-group
dan out-group. Anggota dalam-kelompok memiliki
rasa keterikatan dan sistem nilai yang sama, dan
berinteraksi dengan pemimpinnya. Anggota luar-
kelompok memiliki kesamaan yang lebih sedikit
dengan pemimpinnya dan tidak membagi banyak
dengannya.
PENDEKATAN TERBARU
DALAM KEPEMIMPINAN
Kepemimpinan Transaksional &
Transformasional
• Teori kepemimpinan transaksional dan transformasioanl
menggabungkan unsur-unsur trait, perilaku, dan situasional, berusia relatif muda dibandingkan teori lainnya dan
membutuhkan penelitian lebih lanjut.
• Teori ini pertama kali dikemukakan oleh Burns (1978). Walaupun sebelumnya penelitian banyak dilakukan di budaya Barat, tetapi menurut Wutun (1996) model kepemimpinan ini dapat
diterapkan di Indonesia karena memiliki kesesuaian nilai-nilai kepemimpinan yang ada di bangsa Indonesia.
• Bass, Avolio, Jung, dan Berson (2003) melaporkan bahwa pemimpin transformasional akan memimpin dengan
adaptabilitas dan fleksibilitas yang akan memberikan pengaruh
yang dibutuhkan untuk membimbing bawahannya untuk tetap
bertahan dalam perubahan yang cepat dalam dunia bisnis saat
ini.
Kepemimpinan Transaksional
• Menurut Bass (1985), pemimpin yang transaksional akan berusaha mengenali apa yang ingin dicapai dari pekerjaan bawahannya dan memberikan jaminan bahwa bawahan bisa mendapatkan imbalan jika ia mampu mencapai tujuan yang sudah ditetapkan. Pemimpin juga akan lebih responsif terhadap minat-minat pribadi bawahan bila mereka dapat menyelesaikan pekerjaan sesuai dengan harapan pemimpin.
• Terdapat beberapa faktor yang merupakan perilaku pemimpin dengan gaya kepemimpinan transaksional. Faktor-faktor tersebut antara lain (Bass, 1985):
1) Contingent Reward, jika bawahan dapat menguntungkan perusahaan, maka mereka dapat mengharapkan imbalan-imbalan yang setimpal sesuai dengan kesepakatan. Misalnya, jika bawahan memperlihatkan prestasi kerja yang memuaskan, mereka berhak mendapatkan imbalan yang memuaskan juga.
2) Management By Exception (Active), pimpinan memberlakukan aturan secara ketat mengawasi dan memantau bawahan agar terhindar dari kesalahan dan kegagalan dalam pelaksanaan dan penyelesaian tugasnya. Bila terjadi kesalahan dan
kegagalan, maka diusahakan secepatnya diketahui dan diperbaiki.
3) Managemen By Exception (Passive), pimpinan akan bertindak setelah terjadi kesalahan atau setelah diketahui ada masalah yang serius. Sebaliknya, pimpinan tidak perlu mengintervensi bila belum ada masalah atau belum terjadi kegagalan.
Kepemimpinan Transformasional
• Teori kepemimpinan transformasional pertama kali diperkenalkan oleh Burns (1978) dalam penelitian deskriptif tentang pemimpin-pemimpin politik.
• Melalui kepemimpinan transformasional, bawahan atau pengikut akan memiliki kepercayaaan, kekaguman, dan rasa hormat terhadap pemimpinnya, dan mereka lebih termotivasi untuk melakukan lebih daripada yang
diharapkan (Yukl, 2006).
• Dalam kepemimpinan transformasional, interaksi antara
pemimpin dan bawahan ditandai oleh pengaruh pemimpin
untuk mengubah perilaku bawahannya menjadi seseorang
yang merasa mampu dan bermotivasi tinggi dan berupaya
mencapai prestasi kerja yang tinggi dan bermutu.
Kepemimpinan Transformasional (2)
• Kepemimpinan transformasional memiliki beberapa faktor atau komponen sebagai berikut (Bass dan Riggio, 2006):
1) Idealized Influence. Pemimpin transformasional bertingkahlaku yang membuat mereka dapat memberikan contoh bagi pengikutnya. Pemimpin dikagumi, dihormati, dan
dipercaya. Bawahannya mengidentifikasikan dengan pimpinannya dan berusaha
menyamai.. Ada dua aspek dari pengaruh individual yaitu perilaku pimpinan (idealized influence- behavior) dan elemen yang yang diatribusikan ada pada seorang pemimpin oleh bawahan atau rekannya (idealized influence- attributed charisma). Kedua aspek merupakan subfaktor yang diukur berbeda dalam Multifaktor Leadership Questionnaire (MLQ
2) Inspirational Leadership. Pemimpin inspirasional mempengaruhi bawahannya dengan cara emosional (Bass, 1985). Pemimpin transformasional berperilaku dengan
memotivasi dan menginspirasi sekelilingnya dengan memberi makna dan tantangan pada pekerjaan bawahannya. Semangat kelompok ditingkatkan, antusiasme dan
optimisme ditunjukkan. Pemimpin secara jelas mengomunikasikan apa yang diharapkan untuk dilakukan oleh bawahannya.
3) Intellectual Stimulation. Pemimpin transformasional menstimulasi bawahannya untuk berusaha secara inovatif dan kreatif dengan mempertanyakan asumsi, memperjelas masalah, dan memiliki pendekatan yang baru terhadap situasi-situasi lama. Aspek ini juga membedakan pemimpin transaksional dan transformasional. Pemimpin yang
transformasional akan tidak senang atau tidak mudah puas dengan solusi parsial, atau menerima status quo, atau apa yang telah berjalan sebelumnya. Ia akan cenderung mencari jalan-jalan terbaru untuk melakukan perubahan, mengambil keuntungan maksimum dari kesempatan yang ada walaupun beresiko. Berbeda dengan pemimpin transaksional, pemimpin transformasional akan lebih proaktif daripada reaktif dalam berpikir; lebih kreatif, inovatif, lebih radikal daripada konservatif, dan tidak terhambat dalam ide-ide mencari solusi. Sedangkan pemimpin transaksional akan fokus pada menjaga sistem yang telah bejalan sesuai dengan tanggung jawabnya (Bass, 1985).
4) Individualized Consideration. Pemimpin transformasional memberikan perhatian khusus bagi kebutuhan berprestasi dan pertumbuhan masing-masing individu bawahannya dengan menjadi pelatih atau mentor. Perbedaan individual dalam hal kebutuhan dan keinginan disadari. Perilaku pemimpin menunjukkan penerimaan terhadap adanya perbedaan. Interaksi yang terjadi lebih personal dan komunikasi dua arah dijalankan.