• Tidak ada hasil yang ditemukan

RINGKASAN BUKU TENTANG DEMOKRASI PADA MASA TRANSISI

N/A
N/A
arwani ahmad

Academic year: 2024

Membagikan "RINGKASAN BUKU TENTANG DEMOKRASI PADA MASA TRANSISI"

Copied!
21
0
0

Teks penuh

(1)

RINGKASAN BUKU

HAK ASASI MANUSIA DALAM TRANSISI POLITIK DI IDNOENSIA PENULIS : PROF. DR. SATYA ARINANTO, S.H. M.H.,

A. Transisi Politik Menuju Demokrasi

1. Dari otoritarianisme ke Demokrasi: Kemunculan negara-negara Demokrasi Baru Setelah perang dunia kedua banyak negara-negara didunia yang memproklamirkan kemerdekaanya. Namun dalam menjalankan pemerintahanya negara tersebut dipimpin oleh kepala negara atau kepala pemerintahan yang dictator yang umumnya berasal dari kalangan militer. Sehingga dalam pemerintahannya banyak terjadi pelanggaran Hak Asasi Manusia. Sejak tiga decade terakhir dibeberapa negara banyak terjadi revolusi politik yang kemudian mengakibatkan arah politik negara-negara tersebut berubah yang semula negara otoriter menjadi negara demokrasi. Hal ini ini terjadi di beberapa negara di Amerika Latin, Oligarki Rasial di Afrika maupun di bekas negara pecahan Uni Soviet. Dalam perjalanannya demokratisasi disuatu negara mendapat Intervensi dari Amerika Serikat. Pada masa tersebut dipengaruhi krisis ideologis yang meluas karena peratrungan ideologi besar antara Amerika Serikat dengan Uni Soviet dimana kedua negara tersebut saling berebut pengaruh di luar negeri. Yang pada akhirnya dimenangkan oleh Amerika Serikat dan runtuhnya Uni Soviet.

Menurut Giidens tema tentang berakhirnya politik, negara yang dilanda pasar global menjadi begitu menonjol dalam literatur-literatur sehingga apa saja yang bisa dicapai oleh pemerintah dalam kontemporer saat ini perlu untuk diulangi.

Adanya pemerintah adalah untuk :

 Menyiapkan saran untuk mewakili kepentingan yang berbeda;

(2)

 Menyediakan suatu wadah atau forum untuk melakukan rekonsisiliasi terhadap kepentingan-kepentingan yang saling mendahului;

 Melindungi dan menciptakan ruang publik yang dapat dilihat oleh umum dan dapat melakukan diskusi secara bebas;

 Menyiapkan beberapa hal untuk pemenuhan keperluan penting Masyarakat baik dalam jaminan keamanan maupaun kesejahteraan kelompok;

 Mengelola pasar untuk kepentingan umum dan melindungan pasar dari monopoli;

 Melindungan keamanan Masyarakat melalui penggunaan kekerasan secara proporsional dengan penetapan kebijakan;

 Mendukung pengembangan sumber daya manusia dengan Pendidikan;

 Menjaga system hukum secara efektif;

 Memainkan peran perekonomian secara langsung dengan menciptakan lapangan kerja dengan intervensi secara makro maupun mikro ditambah dengan pengelolaan infrastruktur;

 Menciptkan kultur pemerintah-masyarakat dengan menerapkann nilai dan norma yang digunakan secara umum dan dapat membantu Menyusun nilai dan norma dimaksud;

 Mempengaruhi aliansi organisasi internasional untuk mencapai sasaran global;

Menurut John Naisbitt ada beberapa kencenderungan yang dapat membentuk kembali pemerintahan, kebudayaan dan perekonomian yang terjadi di wilayah Asia. Hal ini memungkinkan untuk menjadikan negara Asia menjadi pesaing barat antara lain peran Perempuan, peran buruh, peran teknologi dan menjadikan Asia seabagi puncak dari pusat ekonomi , kebudayaan dan politik.

Namun dari tersebut memerlukan proses yang Panjang dan tidak mudah dalam

(3)

proses demokratisasi. Transisi dari otoriter ke demokrasi tentunya memiliki tantangan yang berbeda antara negara yang dengan yang lainnya. Karena karakter otoriter dan Masyarakat antar negara juga berbeda.

2. Reposisi Hubungan Sipil dan Militer

Di negara berkembang maupun negara miskin, belum ada hubungan sipil dan militer secara professional. Ada kecenderungan kekuatan militer memiliki kedudukan yang signifikan dalam kehidupan sipil. Bahkan militer dapat melakukan fungsi diuar teguas utamanya sebagai militer. Hal ini menjadi tantangan baru bagi negara-negara yang baru Merdeka atau yang sedang mulai memisahkan pengaruh militernya dalam kehidupan sipil. Salah satu cara untuk mengurangi pengaruh tersebut dalah dengan membentuk konstitusi dan undang-undang yang jelas serta kemauan demokrasi yang kuat dalam meminimalisir pengaruh militer.

Bagaimanapun militer memiliki pengaruh memepngaruhi Masyarakat dengan kekuatannya persenjataanya dimilikinya. Bisa juga dapat dijadikan alat meraih simpati publik. Dalam prakteknya hal ini pernah terjadi di Indonesia khususnya pada masa orde baru. Pada masa tersebut kekuatan militer memiliki kedudukan yang kuat dalam kehidupan Masyarakat. Bahkan Anggota Kepolisian yang idealnya untuk menegakan hukum dimasukan dalam kompenen Angakatan Bersenjata yang masuk dalam bagian militer.

Sehingga pada tersebut cukup sulit menetralkan kekuatan militer dalam kehidupan sipil karena militer memiliki pengaruh dalam politik. Pada masa setelah Orde Baru, pengaruh militer muali dikurangi dalam ranah sipil untuk mewujudkan militer yang professional dan hubungan sipil-militer yang lebih bertanggungjawab.

Sebagaimana pengelolaan Sipil-militer yang terjadi negara-negara eropa barat dan Amerika Utara dengan mengedepankan supremasi Sipil.

(4)

3. Perumusan Kebijakan Baru untuk menyelasaikan hubungan dengan rezim sebelumnya

Spanyol dan polandia adalah negara yang pernah mengalami masa kelam pemerintahan Diktator. Selain itu negara tersebut berupaya untuk keluar dari pengaruh masa lalunya. Upaya demokratisai telah dilakukan untuk menghilangkan dosa-dosa dimasa lalu dengan cara kehidupan sosial politik yang lebih demokratis.

Dengan melihat kondisi sekarang ini kedua negara tersebut telah sukses dalam melakukan upaya demokratis dan mewujudkan kehidupan Masyarakat yang sejahtera. Dibeberapa negara yang lain, transisi dari pemerintahan diktator dan demokratis terus dilakukan dengan melakukan reformasi dibidang Hak Asasi Manusia dan pembentukan komisi-komisi kebenaran untuk menyelesaikan pelanggaran Hak Asasi Manusia yang dilakukan oleh Rezim sebelumnya untuk melakukan demokratisasi kedepannya.

Ada beberapa Tindakan yang mencerminkan pemerintahan modern untuk mengadakan rekonsiliasi dengan masa lampau. Yaitu dengan memberikan perlindungan umum atau perlindungan yang mencakup semuanya yang berkaitan jumlah penduduk. Perlindungan yang dimaksud adalah perlindungaan dalam bentuk kekuasaan hukum terhadap kelompok yang lemah yaitu anak-anak.

Selanjutnya Masyarakat memerlukan tatanan sosial yang baru. Jerman dan Jepang adalah negara yang kalah perang dalam Perang Dunia Kedua. Kedua negara tersebut adalah negara yang sebelumnya mengalami kehidupan politik yang otoriter. Oleh Sekutu pemenang perang dunia kedua negara tersebut kemudian diubah menjadi negara yang lebih demokratis. Selain itu upaya pembalasan terhadap elit ekonomi dan militer yang sangat berkuasa menjadi

(5)

bagian dari masa trasisi menuju upaya demokratis. Dalam prakteknya menunjukan dan meleburkan diri kedalam pihak yang mendukung upaya demokratis.

Bahkan di Indonesia tidak sedikit pula para politisi yang menolak upaya demiliterisasi dalam kehidupan Sipil. Sebagaimana kita mengetahui, suatu system yang telah diterapkan sejak lama dan tidak diubah akan menciptakan zona nyaman bagi beberapa dan mungkin banyak orang yang hidup dalam sistem tersebut. Karena pada masa orde baru militer sangat dekat dengan politik dan menciptkan kondisi yang aman bagi politisi yang mendukung model tersebut.

Sehingga pola-pola militeristik mempengaruhi cara hidup, cara pandang dan cara berpikir yang cenderung militeristik dan kekerasan menjadi opsi terbaik dalam menyelesaikan masalah. Sehingga reformasi menjadi jalan bagi bangsa Indonesia untuk melakukan perubahan sosial politik yang mengurangi kehidupan bermasayarakat yang cenderung militeristik dan meletakan hak asasi manusia sebagai suatu bagian yang harus dilindungi.

B. Hak Asasi Manusia dalam Transaksi Politik

Sebelum memasuki abad ke-20 banyak pelanggaran hak asasi manusia terjadi dibelahan dunia. Khususnya di negara-negara yang baru Merdeka atau negara yang memiliki pengaruh asing yang kuat di negara itu. Seperti yang terjadi Afrika Selatan dalam kasus Pembunuhan Steven Biko. Steven biko merupakan aktivis kulit hitam yang memperjuangkan hak-hak kulit hitam atas penindasan berdasarkan warna kulit. Polisi yang menahannya akhirnya dihukum namun kemudian politisi yang membunuh Steven diajukan untuk mendapatkan amnesti.

Dalam kasus tersebut hak hidup bagi seorang Steven dipertaruhkan untuk mendapatkan perlakukan yang sama di depan hukum negara itu. Padahal orang- orang kulit putih merupakan orang asli yang mendiami negara itu lebih lama daripada

(6)

orang kulit putih yang merupakan pendatang. Upaya tersebut diupayakan oleh Istri Steven Viko untuk mencegah terjadinya amnesti yang dilakukan terhadap Pelosi yang membuhunya.

Kondisi sseperti diatas tidak hanya terjadi di Afrika melainkan juga terjadi dinegara lain seperti Amerika Latin dan sebagia kecil wilayah Eropa. Pada umumnya terjadi perebutan kekuasaan oleh milter melalui kudeta. Dalam menjalan kekuasaannya pemerintahan militer ini tidak memiliki kejelasan ketatanegaraan, perlindungan terhaadap hak asasi manusia, pembagian kewenangan dan menjalankan konstitusi. Sehingga rakyat yang menjadi korban. Penggunaan kekerasan untuk meredam aksi demokratis yang dilancarkan oleh kalangan Masyarakat dan mahasiswa agar kembali kepada konstitusi sebagaimana mestinya dan mengupayakan cara-cara demokratis dan melindungi hak asasi manusia. Seperti yang terjadi di spanyol, sebelum tahun 1980 Spanyol adalah negara yang otoriter namun setelah itu upaya demokratisasi telah dilakukan dengan menyelenggarakan pemilu.

Merujuk kepada kasus lainnya kasus yang serupa juga terjadi di Amerika Latin yaitu Chile. Chile termasuk kedalam negara birokratik yang otoriter.

Sebagaimana yang terjadi di Peru. Peru merupakan suatu negara otoriterisme Populis. Dimana dalam prakteknya, peran-peran utama dimainkan oleh Gerakan- gerakan politik sipil yang diarahakan oleh kepemimpinan yang sangat individual.

Sehingga terjadi pertentangan antara kelompok Sipil ini dengan kelompok elit di negara tersebut. Sebagaimana yang disampaikan oleh Cloter Peru termasuk kedalam negara rezim populis. Seperti yang terjadi negara lainnya yang mengalami kediktatoran, hal terjadi karena militer menguasai kekuasaan negara itu yang dalam menjalankan pemerintahannya cenderung otoriter.

(7)

Pemerintahan otoriter tersebut tidak hanya terjadi di negara yang dipimpin oleh militer namun juga di negara-negara yang menganut komunis atau negara- negara yang memilki kedekatan politik dengan Uni Soviet. Umumnya negara-negara tersebut cenderung Otoriter dalam menjalankan pemerintahannya. Negara bekas komunis telah berjuang untuk menata kembali kehidupan bernegaranya menjadi lebih demokratis setelah sebelumnya hidup dalam rezim yang otoriter. Hal ini terjadi di Jerman dan Ceko Slovakia. Tentunya negara komunis dan demokrasi berbeda dalam menjalankan kehidupan berbangsa dan bernegara. Dalam kultur negara komunis umumnya aparatur negara cenderung represif dan kebebasan dibatasi. Jerman dan cekoslovakia telah berusaha untuk memebentuk resolusi untuk meninggalkan cara lama menuju cara yang demokratis. Meskipun begitu pemerintahan baru tidak melakukan upaya balas dendam terhadap rezim terdahulu karena jalan yang diambil adalah jalan Tengah dan masa itu Jerman Timur dan Ceko berada dalam kendali kuat Uni Soviet.

Bab III. Keadilan Transisional

A. Pemutusan Kaitan dengan masalalu, pencarian jalan baru

Setelah perang dunia kedua banyak negara Merdeka lahir. Umumnya kepala negara tersebut dipimpin oleh militer atau pemimpin Gerakan kemerdekaan dan politik saat negara tersebut dijajah oleh bangsa asing. Dalam menjalankan pemerintahannya negara-negara tersebut dipimpin oleh seorang yang otoriter. Yang pada akhirnya mengakibatakan banyak pelanggaran Hak Asasi Manusia. Seiring berjalannya waktu negara-negara tersebut berusaha keluar dari kepemimpinan yang otoriter kea rah kehidupan yang lebih demokratis. Sehingga berbagi upaya dilakukan untuk mencari kebenaran, rekonsiliasi dan keadilan. Sebagai bentuk upaya untuk melakukan demokratisasi beberapa negara membentuk suatu badan atau komisi

(8)

tertentu untuk menyelidiki kasus pelanggaran Hak Asasi Manusia yang dilakukan oleh rezi sebelumnya yang dilakukan dalam kurun waktu tahun 1971 sampai dengan 1995. Negara-negara tersebut antara lain Bangladesh Tahun 1971, Uganda Tahun 1974, Bolivia Tahun 1982-1984 dan Israel Tahun 1982-1983. Dari hal tersebut dapat dilihat bahwa perlunya mencari keadilan transisional.

Merujuk kepada statute Roma terdapat beberapa jenis kejahatan genosida yaitu :

a. Membunuh anggota organisasi atau kelompok tertentu;

b. Menyebabkan penderitaan mental dan fisik yang serius terhadap anggota organisasi atau kelompok;

c. Secara sengaja menciptakan kondisi kehidupan yang memungkinkan terjadi pemusnahan secara fisik secara menyeluruh atau Sebagian;

d. Melakukan pemaksaan terhadap Tindakan tertentu untuk mencegah terjadinya kelahiran atau regenerasi pada kelompok;

e. Melakukan upaya paksa terhadap anak-anak dari satu kelompok ke kelompok lainnya.

Selain tindakan-tindakan sebagaimana diatas, termasuk Tindakan-tindakan pesuasif dengan mempengaruhi orang lain untuk melakukan Tindakan genosida.

Tindakan tersebut dapat berupa memohon, memerintahkan, membujuk maupun menghasut orang lain untuk tujuan genosida. Setiap orang yang melakukan perbuatan untuk mendukung Gerakan atau upaya untuk melakukan genosida dapat dituntut tanpa memandang suku, ras , agama maupun jabatan.Contoh yang terkenal yaitu pengadilan Nuremberg. Dalam pengadilan ini untuk mengadilan tokoh Nazi Jerman dalam perang dunia kedua yang mendukung genosida.

(9)

Menurut Aguilar, Gonzalez-Enriquez, de Brito salah satu permasalah politik etika yang ditemua dalam masa transisi demokratisasi adalah menghadapi masa lalu.

Hal yang paling mendasar yang berkaitan dengan politik, hukum dan moralitas adalah saat Masyarakat dapat memandang hal itu sebagai pemahaman mereka yang telah kehilangan arah moral dan politik. Pergeseran secara ideologis memunculkan perdebatan apakah bentuk revolusi, reformasi, pembaharuan dan perubahan politik.

Dalam hal ini masa transisi setiap negara berbeda. Karena bisa pengaruh ideologi dan tekanan negara asing yang kemudian dapat mempengaruhi arah demokratisasi tersebut. Saat ini istilah transisi memiliki makna perubahan kearah yang lebih liberal.

Liberal yang dimaksud adalah lepasnya nilai-nilai yang kuno dan tetutup seperti komunisme dan fasisme yang melanda eropa khususnya Jerman, Italia, Spanyol.

B. Wacana Transitologi dan Consolidology

Schmitter memandang kemungkinan adanya kontadiksi antara transisi rezim.

Transisi rezim ini yang kemudian disebut dengan transitologi. Sedangkan konsolidology adalah mengembalikan seperti semula, menyatukan berbagi pihak untuk berjalan bersama-sama antara lebih dari 1 kelompok. Transitologi dalam melihat suatu transisi tidak hanya kemudian sebuah proses berpindah saja.

Melainkan transisi adalah suatu proses yang obyektif. Sedangkan konsolidology untuk mendapatkan bukti yang obyektif dari adanya transisi itu dan tidak menimbulkan upaya balas dendam antara rezim baru dengan rezim yang lama.

Adanya kondisi yang memungkinkan dan hampir kondusif memimpin sesatu yang tidak jelas dari transisi yang tidak berubah kearah kondisi-kondisi yang mengikat yang mengakibatkan konsolidasi menjadi lebih sulit. Dalam konteks Indonesia mundurnya presiden kedua Republik Indonesia yaitu Presiden Soeharto, dianggap sebagai masa transisi politik yang lebih demokratis dimana sebelumnya presiden soeharto

(10)

memimpin secara otoriter. Hal ini berdampak pada organisasi-organisasi non negara menguat dan menjalan fungsi di negara yang lebih demokratis berupa Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM). Meskipun kaum realis garis keras memandang LSM adalah Lembaga yang menyamar untuk menyampaikan kepentingan negara asing.

Pada masa awal transformasi rezim akan banyak pertentangan anatra aktor- aktor yang akan menggantikan kekuasaan selanjutnya. Atau yang disebut dengan perang pergerakan. Perang pergerakan ini memungkinkan banyak opsi yang dapat dipilih untuk mengisi pasca masa transisi. Cukup sulit untuk memberikan spesifikasi terhadap kelompok-kelompok yang bertarung tersebut terhadap apa yang perlu dikerjakan. Karena gesekan-gesekan ini dapat terjadi bisa juga Sebagian kelompok dari masa lalu yang mencoba menyusup dalam kelompok tersebut untuk tetap mempertahan kondisi masa lalu, atau setidaknya pengaruh lama tidak selamanya dapat dicabut oleh aktor yang baru. Maka dari itu perlu dilakukan pengorganisasian secara structural di Internal untuk memobilisasi Tindakan-tindakan yang perlu dilakukan. Untuk mengisi kekosongan kebiasaanya yang sebelumnya telah dijatuhkan maupun dihapus dari rezim sebelumnya.

Dalam consolidology yang telah memberikan berupa demokratisasi adalah sesuatu yang mungkin dilakukan dan telah dilakukan oleh banyak negara.Refleksi dengan adanya konsolidology yaitu :

a. Dilakukan tanpa kekerasan, penghilangan fisik dari pelaku otokrasi sebelumnya;

b. Tanpa banyak melakukan mobolisasi banyak orang untuk menjatuhkan rezim yang sedang berkuasa dan penentuan masa transisi;

c. Mendapatkan sesuatu pencapaian tertinggi dalam Pembangunan ekonomi;

(11)

d. Tanpa menyebabkan suatu distribusi kembali dari pendapatan yang substansial atau kekayaan;

e. Tanpa kehadiran kaum borjuis darai penguasa sebelumnya;

f. Tanpa budaya kewarganegaraan;

g. Tanpa banyak democrat yaitu para politisi saja dalam hal ini politisi yang caka[ yang berkompetisi dibawah aturan-aturan tertentu sehingga tidak semua orang terlibat didalam kompetisi tersebut.

Hal-hal diatas memungkinkan menjadi syarat terciptanya stabilitas yang Panjang apabila dihasilkan oleh fungsi-fungsi yang secara teratur dilakukan oleh yang berwenang.

C. Konteks Internasional Pada masa transisi

Masa transisi adalah masa yang sulit. Karena untuk keluar dari pemerintah yang otoriter kadang memerlukan pertumpahan darah dan butuh waktu yang lama.

Kebebasan dikekang dengan senjata dan tidak ada oposisi. Hal ini pernah terjadi di Elsavador dan Rwanda sebagai akibat kejahatan perang yang dilakukan oleh pihak bertikai sebelum masa transisi menuju demokrasi. Sebagai penengah antara kepentingan yang berkonflik dapat dilakukan dengan hukum Internasional dan mengadopsi keadilan retroaktif. Dalam kehidupan Modern hukum internasional sering digunakan sebagai jembatan untuk menggeser pemahaman mengenai legalitas. Perubahan politik yang terjadi secara kontinyu, hukum Internasional menawarkan konsep mediasi. Konsep mediasi ini dapat dipergunakan untuk menyelesaikan permasalahan domestik. Prinsip-prinsip dalam hukum Internasional telah berperan untuk merekonsiliasikan dilemma ambang dalam periode transformasi politik.

(12)

Transisi dari pemerintahan komunis maupun otoriter ke pemerintahan demokratis bukanlah hal yang tidak mungkin. Namun memang perlu upay-upaya konsolitatif untuk menghentikan konflik yang adan dan mencegah konflik yang timbul.

Tindakan paksa pada rezim komunis sangat mengurangi kebebasan dalam bertindak apapun. Hubungan dengan Sejarah cukup lambat begitu juga dengan isinya. Terlalu banyak maaf yang merusak integritas hukum dan termasuk pula kemarahan bagi mereka yang menjadi korban dari rezim. Dan pemaafan ini tidak cukup adil bagi mereka. Hal ini yang kemudian menjadi kesimpulan bahwa kekuatan-kekuatan yang ada pada masa transisi dapat menciptakan suatu keringanan yang ternegosiasikan tidak dapat dihindarkan. Karena negosiasi ini untuk menghentikan konflik Panjang dari rezim sebelumnya dan untuk menghentikan dendam antar generasi adalah dengan memaafkan kejahatan rezim sebelumnya.

Sebagaimana Cekoslovakia adalah negara yang otoriter sebelum tahun 1991, yaitu sebelum Uni Soviet runtuh dan masih mendapat pengaruh yang kuat oleh Uni Soviet. Dalam menjalankan pemerintahannya Cekoslovakia mengadopsi pola-pola yang dilakukan oleh Uni Soviet. Cara-cara yang dilakukan oleh Uni Soviet dan negara komunis lainnya adalah dengan memberlakukan hukum secara represif. Pada masa itu masih terjadi perang dingin antara Amerika Serikat dan Uni Soviet. Dimana kedua negara ini saling memata-matai satu sama lain dan banyak melibatkan kolaborator.

Yaitu orang asing yang dijadikan mata-mata untuk mendapatkan informasi intelijen.

Pada periode ini Cekoslovakia memiliki tahanan politik sekitar 100.000 tahanan poltik baik dari oposisi pemerintah maupun mata-mata negara asing. Kemudian setelah rezim komunis runtuh, cekoslovakia berusaha untuk keluar dari pengaruh rezim komunis dan membangun negara secara lebih demokratis. Langkah-langkah yang dilakukan antara lain dengan mengembalikan properti yang disita oleh pemerintah

(13)

komunis dan dan memberikan gani rugi. Karena dalam negara komunis semuanya adalah milik negara.

D. Akibat yang lebih signifikan dan empat scenario pasca komunis

Hal yang utama dari lepasnya pengaruh komunis adalah lepas dari sensor internasional atas Hak Asasi manusia. Negara-negara pasca komunis telah menunjukan penghormatan terhadap hak asasi manusia secara terstruktur dan mendasar baik diatur dalam konstitusi baru. Sebagai contoh presiden Hongaria telah meminta Mahkamah konstitusinya untuk meninjau pasal dari Undang-Undang untuk mengetahui kesesuaiannya dengan Konvesni Perlindungan Hak Asasi Manusia Eropa. Hal ini tidak lain karena Hongaria termasuk negara yang sebelumnya berada dalam pengaruh komunis dan untuk menunjukan komitmen terhadap perlindungan Hak Asasi Manusia. Demokratisasi adalah hasil dari Tindakan bersama oleh dan proses penyelesaian yang didiskusikan dan dinegosiasikan antara kelompok yang memegang kendali pemerintahan dan kelompok oposisi. Jadi dalam hal ini oposisi tidak dihapus sama sekali seperti halnya di negara komunis yang harus satu suara yaitu pemerintah.

Menurut beberapa ahli yang dikemukakan oleh Rostow, Huyse dan Huntington telah menciptakan scenario masa depan pasca komunis yaitu sebagai berikut : E. Keadilan dalam Masa Transisi Politik

Ada banyak definisi keadilan baik yang dikemukakan oleh filsuf klasik maupun filsuf modern. Baik yang menganut Sistem Hukum Civil Law maupun Common Law.

Dalam diskursus relasi hukum dan keadilan yang dikaitkan dengan liberalisasi terdapat dua pandangan yang saliang berhadapan. Yaitu kelompok Idealis versus kelompok realis. Kedua kelompok ini berbeda pendapat dalam memahami keadilan.

Keadilan yang dimaksud oleh kelompok ini adalah harus menunjang dalam

(14)

demokrasi. Perspektif tersebut apakah perubahan politik itu dianggap penting untuk lebih dahulu melakukan penegakan ketentuan hukum, atau sebaliknya, beberapa Tindakan hukum justru diimplementasikan mendahului perubahan politik. Sehingga kemudian memunculkan suatu pilihan politik berubah dulu atau hukumnya dulu ditegakan.

Merujuk kepada pendapat Teitel, kebingungan awal dimulai dari suatu konteks keadilan dalam perubahan atau transformasi politik. Hukum diolah sebagai suatu peristiwa yang keberadannya dimasa lampau atau di masa depan, antara retrospektif dan prospektif antara individu dan kolektif. Keadilan transisional adalah keadilan yang diasosiasikan dengan hal ini dan keadaan yang politis. Masa transisi menggambarkan pergeseran paradigma dalam konsep keadilan. Karenanya fungsi tersebut secara mendalam dan secara inheren menjadi berlawanan asas. Fungsi sosial hukum adalah untuk menjaga ketertiban dan stabilitas namun dalam masa gejolak politik yang besar, hukum berfungsi untuk menjaga ketertiban dan disamping itu hukum juga dapat memungkinkan tranformasi. Hal yang memungkin ini terjadi adalah berbarengan dengan gejolak politik yang besar. Oleh karena itu ada kemauan politik maka disitu ada hukum. Sehingga hukum adalah produk politik. Dalam periode masa transformasi politik masalah legalitas adalah berbeda dengan masalah teori hukum yang muncul pada negara-negara demokrasi yang mantap dan waktu yang normal. Ketika suatu sistem hukum mengalami perubahan secara terus menerus, maka tantangan terhadap pemahaman-pemahaman umum dari aturan hukum tampak sedang mencapai puncaknya.

Tanggapan

(15)

Dari tulisan diatas perkenanan saya untuk menanggapi terkait dengan Transisi Politik Menuju Demokrasi. Merujuk kepada ringkasan diatas uraian dalam halaman 97 sampai dengan halaman 246 membahasan tentang transisi menuju demokrasi. Bahwa setelah perang dunia kedua muncul banyak negara yang baru Merdeka. Selain itu masih terdapat beberapa negara yang belum Merdeka dan menjadi protektorat negara pemenang perang dalam perang dunia kedua. Setelah perang dunia muncul dua kekuatan ideologi besar yaitu komunisme dan kapitalisme. Komunisme dipimpin oleh Uni Soviet yang menang melawan Jerman di Eropa dan Amerika Serikat yang menang perang di Asia Pasifik melawan Jepang dengan Kapitalisme, Liberalisme dan demokrasi. Sehingga dunia saat itu terpolarisasi menjadi Blok Barat dengan Amerika Serikat, Inggris dan Perancis sebagai pusatnya dan Uni Soviet pemimpin blok Timur yang diikuti oleh China di Wilayah Asia. Kedua negara tersebut saling memperebutkan pengaruh di dunia Internasional.

Kedua blok diatas memiliki pengikut yang fanatik diseluruh dunia. Ideologi diatas telah mengilhami banyak negara untuk memperoleh kemerdekaan. Baik yang memiliki semangat Nasionalisme, Agama, Komunisme/Sosialisme maupun negara demokrasi.

Semanagat kemerdekaan negara komunis seperti yang dibawa oleh ho Ci Minh di Vietnam, Mao Zedong di Tiongkok, Kim Il Sung di Korea dan Fidel Castro di Kuba. Semangat negara demokrasi seperti yang terjadi di India, Turki, Myanmar, Indonesia dan Filipina. Masa transisi dari kolonial menjadi negara Merdeka tentu memiliki tantangan sendri. Karena negara Merdeka belum memiliki kemapanan dalam mengorganisasi organ-organ baru yang akan dibentuk dan gesekan antar organisasi pergerakan kemerdekaan yang membawa ideologi politik. Sehingga meskipun negara tersebut sudah Merdeka seringkali terjadi pengambilan kekuasaan dengan cara kudeta oleh militer.

(16)

Pada bagian ini penulis menanggapi masa transisi demokrasi dengan beberapa kategori. Kategori yang dimaksud adalah sebagai berikut :

1. Masa transisi pada negara berideologi komunis;

2. Masa transisi pada negara yang pimpin oleh kalangan militer;

3. Masa transisi pada negara yang menganut politik, agama secara ekstrem

Negara yang menganut ideologi komunis, kepala negara/pemerintahan yang diperoleh dengan kudeta dan penganut politik ekstrem cenderung melaksanakan pemerintahan yang otoriter atau diktator. Sehingga banyak terjadi pelanggaran Hak Asasi Manusia di negara tersebut. Untuk mengubah sistem yang otoriter maka perlu dilakukan demokratisasi.

Demokratisasi seperti yang diuraikan dalam buku dapat dilakukan dengan hukum internasional, Intervensi Asing dan kedasadaran internal suatu negara maupun revolusi.

1. Masa Transisi pada negara berideologi komunis

Komunisme adalah Ideologi yang terkemuka didunia. Namun saat ini cenderung ditinggalkan karena tidak dapat memberikan kesejahteraan bagi rakyatnya. Sehingga negara-negara yang semula menerapkan komunis baik secara menyeluruh atau sebagaian beralih ke negara demokrasi, khususnya setelah dominasi Uni Soviet runtuh. Ajaran koomunisme pertama kali dikemukakan oleh Filsuf Jerman Bernama Karl Marx. Dalam ajarannya dia menentang kaum borjuis dan menghendaki penguasaan factor-faktor produksi dikuasai secara bersama-sama dan meniadakan kekuasaan Individu. Layaknya sebuat teks tentu memerlukan penafsiran. Dan penafsiran belum tentu sama denga apa yang digambarkan oleh penciptanya dalam hal ini adalah Karl Mark. Karl Marx menulis komunisme dalam suasana bangkitnya revolusi Industri pada Abad 19. Dimana pada saat itu industri sedang bangkit, dan pada masa itu belum diatur secara jelas bagaimana hukum

(17)

perburuhan diberlakukan. Sehingga terjadi banyak penghisapan oleh pengusaha kepada kaum buruh.

Selama perang dunia kedua Uni Soviet memegang peran penting dalam mengalahkan Jerman. Tentara Uni Soviet lebih dahulu mengalahkan Jerman menjadikanya kekuatan besar setelah perang. Karena persaingan dengan Marika serikat dalam mencari sekutu, negara-negara yang diduduki oleh Uni Soviet saat melawan Jerman menjadi negara komunis. Sebagaimana yang dikemukakan oleh Lenin, pemerintahan komunis adalah Pemerintahan Diktator Proletariat yang artinya dalam menjalankan pemerintahnya dilakukan secara diktator dan tidak ada kepemilikan Hak Milik Pribadi dan semuanya adalah milik negara. Negara-negara komunis tersebut antara lain Jerman Timur, polandia, Hongaria, korea utara dan negara-negara yang menjadi bagian dari Uni Soviet. Negara tersebut menjalankan pemerintahan secara otoriter dan tertutup. Ada ketakutan dari Uni Soviet itu sendiri yang memiliki ketakutan berlebihan terhadap negara satelitnya meskipun berhaluan komunis sehingga kegiatan mata-mata terhadap rakyat umum dilakukan. Segala kegiatan yang bersifat demokratis dilarang. Dan hak rakyat adalah hak yang sudah ditentukan oleh negara.

Negara-negara tersebut sebelum tahun 1991 menjalankan pemerintahan diktator dan setalah Uni Soviet runtuh negara-negara tersebut malakukan demokratisasi. Dari hal ini dapat dilihat bahwa Ideologi sangat mempengaruhi model pemerintahan. Hal ini dicontohkan pada masa pemeritahan Jerman Timur yang melakukan kegiatan mata-mata terhadap rakyatnya lebih dari 100.000 orang. Hal tersebut jika kita lihat hal tersebut sangat menggaggu kehidupan Sipil dan hak Masyarakat untuk bergerak lebih bebas menjadi terhalangi. Pemerintah secara terpusat mengontrol kehidupan sosial politik rakyatnya. Untuk dalam tingkat yang

(18)

ekstrem rezim komunis suatu negara dapat melakukan genosida terhadap oposisi sebagaimana yang pernah terjadi pada rezim Polpot di kamboja pada tahun 1976 hingga tahun 1979. Tentu bukan hal yang mudah merubah sistem diktator yang tertutup dan ketat itu menuju demokraasi. Namun upaya tetap dilakukan untuk menciptkan kehidupan Masyarakat yang lebih baik.

Pada akhir tahun 1980 an pengaruh komunis semakin melemah. Nikita Kurchev menerapkan Glasnot atau keterbukaan. Karena kebijakan ini negara-negara yang berada dalam kontrol Uni Soviet ingin memisahkan diri sebagai Contoh Polandia. Polandia sebelum tahun 1989 menggunakan metode kepemimpinan yang sentralistik. Gerakan Politik saat itu memungkinkan Polandia berubah kea rah yang lebih Liberal dan terbentuklah Republik polandia Tahun 1989 yang bebas dari pengaruh Komunis Uni Soviet. Transisi kearah demokratis ini dilakukan dengan bertahap tapi pasti. Tahun 1997 Polandia melakukan amandemen terhadap Konstitusinya yang dipakai hingga saat ini. Hal tersebut diikuti oleh negara pecahan Uni Soviet yang lain seperti Georgia, Lithuania dan Hongaria.

2. Masa Transisi Negara Yang di Pimpin Oleh Kalangan Militer

Komunisme adalahh ideologi yang secara terang-terangan menyatakan diri sebagai doktator apa yang disebut oleh mereka dengan Diktator proletariat yang merupakan pengembangan dan komunisme Karl Marx dan digagas oleh Lenin Pemimpin Republik Sosialis Rusia Pertam secara menggulingkan kekuasaan Kekaisaran Rusia yang merupkan kelompok feodal negara itu. Namun selain komunis yang menciptakan tirani, pemerintahan militer memungkinkan penyelenggaraan negara yang diktator. Rezim bertindak sewenang-wenang dan represif terhadap rakyatnya sendiri. Salah satu ciri pemerintahan yang diktator adalah tidak adanya kebebasan berendapat, kebenaran dimonopoli oleh Pemerintah dan banyak terjadi

(19)

pelanggaran Hak Asasi Manusia. Sebelum militer mengambil kekuasaan umumya sekelompok pejabat militer mengambil kekuasaan dari pemimpin yang sah secara paksa dengan dalih apapun, umumnya karena pemerintahan sipil telah berkhianat, melanggar konstitusi atau alasan lainnya.

Sebagai contoh kudeta mesir yang dilakukan oleh Jenderal Al Sisi yang saat itu menjabat sebagai Menteri Pertahanan karena Presiden Mohammad Morsi dianggap tidak nasionalis. Selain itu Kudeta Militer pernah terjadi di Filipinan yang dilakukan oleh Ferdinand Marcos pada tahun 1972, Kudeta militer di Libya tahun 1969 oleh Kapten Muammar Gaddafi terhadap Raja Libya yang kemudian terjadi peralihan bentuk negara dari negara Monarki menjadi republik. Kudeta oleh Militer Argentina Tahun 1976 terhadap presiden yang berkuasa Isabel Peron dimana Amerika Serikat turut andil dalam kudeta tersebut yang dilakukan oleh Militer Argentina. Kudeta Militer Pakistan terhadap Presiden Zulfiqqar Ali Butto pada tahun 1977 oleh Jenderal Ziaul Haq dan berkuasa hingga akhri hayat pada tahun 1988. Dan kudeta militer Bangladesh pada tahun 1982 oleh Jenderal Hussain Muhammad. Dari contoh tersebut dapat dilihat bahwa begitu besarnya kekuasaan militer atau Angkatan bersenjata dalam suatu negara yang dengan mudah melakukan kudeta terhadap kekuasaan sipil.

Panglima militer maupun Menteri pertahanan suatu negara memiliki kekuatan penting dalam suatu negara. Karean dalam jabatan tersebut memiliki kendali militer tertinggi sebelum presiden. Apabila Panglima/Menteri tersebut loyal kepada presiden/raja maka kudeta tidak akan pernah terjadi. Namun kudeta bukanlah hal yang mudah Ketika perwira tinggi militer ingin berkuasa maka tinggal mengambil alih kekuasaan sipil semata. Namun ada kepentigan asing dan kepentingan nasional yang dipertaruhkan. Seperti Kudeta Libya oleh Muammar Gaddafi karena

(20)

menganggap pihak Kerajaan terlalu mengikuti kemauan Perancis selalu mantan penjajah negara itu. Hal ini yang kemudian kudeta militer atas alasan kepentingan Nasional. Dan adanya kepentingan asing juga dalam setiap kudeta militer seperti halnya yang terjadi di Mesir, Argentina, Filipina dimana Amerika Serikat ikut campur dalam urusan dalam negeri dimaksud. Tidak lain kepentingan Amerika Serikat tidak diakomodasi oleh pemerintahan sipil sebelumnya sehingga Amerika Serikat mempengaruhi pejabat miiter negara itu untuk melakukan kudeta.

Sebagaimana pada umumnya negara yang dimpimpin oleh Junta Militer bertindak represif dan banyak melakukan pelanggaran hak asasi manusia. Maka untuk melakukan upaya demokratisasi anatar setiap negara yang satu dengan lainnya berbeda. Libya untuk menggulingkan rezim Muammar Gaddafi dilakukan upaya kontak fisik secara militer yang lakukan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa dalam hal ini dipimpin Oleh Amerika Serikat dibantu Inggris dan Perancis. Tentunya demokrasi yang dimaksud adalah demokrasi yang diinginkan oleh cara-cara Amerika Serikat. Begitu juga upaya demokratisasi yang dilakukan terhadap irak dengan menggulingkan Presiden Saddam Husein secara militer. Tidak terkecuali di Indonesia untuk menggulingkan Orde Baru dengan aksi massa serta peran politisi pendukung reformasi dengan melakukan Amandemen terhadap Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia tahun 1945. Dalam hal ini memperhatikan aspek perlindungan Hak Asasi manusia yang sebelumya luput dari kacamata pemerintah Orde Baru.

3. Masa transisi pada negara yang menganut politik secara ekstrem

Ada beberapa negara yang dalam menjalankan pemerintahannya menganut politik yang ekstrim. Salah satunya adalah politik Apartheid di Afrika Selatan. Politik menurut penulis adalah cabang dari fasisme yang menganggap orang kulit putih lebih superior daripada orang kulit hitam. Dalam dalam gerakannya orang-orang yang

(21)

berjuang untuk menghapus politik ini diintimidasi, diskriminasi bahkan dibunuh. Yang kemudian mendapatkan perhatian Internasional dan ada campur tangan dari negara- negara besar yang memiliki kedudukan politik Internasional yang kuat sehingga politik tersebut dapat dihapuskan. Setelah melalui perjuangan panjang, Presiden Frederik Willem de Klerk, yang memimpin Afrika Selatan periode 1989-1994, akhirnya mengumumkan penghapusan semua ketentuan dan eksistensi sistem politik Apartheid pada 21 Februari 1991.

Referensi

Dokumen terkait

Perlu diketahui bahwa Uni Soviet pada masa pemerintahan Gorbachev menganut sistem sosialis-komunis, dimana dalam sistem ini peran dari negara sangat dominan maksudnya adalah untuk

Akan tetapi, tampaknya militer Turki tidak begitu rela bila negara sekular tersebut dipimpin oleh partai politik yang berkecenderungan pada suatu kelompok

Abstrak - Pemerintahan otoriter di Mesir, Libya dan Suriah tidak lepas dari kekuasaan rezim militer yang melakukan kudeta diketiga negara tersebut.. Makalah ini

Indonesia adalah negara yang menganut sistem pemerintah yang demokrasi. Demokrasi adalah bentuk pemerintahan yang semua warga negaranya memiliki hak setara

Setelah terjadi pemberontakan G30 S/PKI yang dilakukan oleh partai komunis Indonesia terhadap penyebaran paham komunisme di Indonesia, akhirnya pada masa pemerintahan

Sejak pemerintahan militer baik pada era sosialis yang dipimpin oleh Ne Win maupun rezim SLORC pada akhir tahun 1980-an, Myanmar merupakan negara dengan bentuk junta militer yang mana

Untuk mengajukan alternatif kebijakan bahkan sampai pada upaya mengganti pemerintahan ini adalah bisa saja wilayah oposisi; 3 Pemerintah Negara Kesatuan Republik Indonesia yang menganut

Karena itu pada periode ini sebenarnya alam dan iklim demokrasi tidak muncu, karena yang sebenarnya terjadi dalam praktik pemerintahan adalah rezim pemerintah sentralistik otoriter