Nama : Achmad Burhana Alghifari NPM : 07.2021.1.03655
Mata Kuliah : Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3)
Risiko dan keselamatan kerja di industri minyak dan gas adalah aspek penting untuk memastikan keselamatan dan kesehatan karyawan, serta menjaga operasional yang lancar. Berikut adalah beberapa risiko dan keselamatan kerja yang umum di industri minyak dan gas:
1. Kecelakaan kerja: Kegiatan eksplorasi dan produksi minyak bumi dan gas alam memiliki potensi bahaya yang sangat besar, termasuk kecelakaan kerja dan kebakaran.
2. Kebakaran: Kebakaran yang disebabkan oleh kebocoran merupakan perhatian utama untuk para pekerja di alat pengeboran minyak. Sumber penyulutan apa pun, apakah itu percikan yang disebabkan oleh gesekan dalam mekanisme pengeboran minyak atau peningkatan tekanan yang tidak dapat memicu kebakaran dahsyat dan ledakan.
3. Keselamatan lingkungan: Industri minyak dan gas memiliki potensi untuk mengakibatkan dampak negatif terhadap lingkungan, seperti polusi udara dan kontaminasi tanah.
4. Keselamatan kerja: Keselamatan dan kesehatan kerja (K3) merupakan upaya perlindungan kerja agar tenaga kerja selalu dalam keadaan selamat serta sumber dan proses produksi dapat digunakan secara aman dan efisien.
5. Risiko keselamatan: Industri minyak dan gas memiliki tingkat risiko kecelakaan kerja yang lebih tinggi (high risk) dan memerlukan perlindungan keselamatan yang kuat.
Untuk mengelola risiko di industri minyak dan gas, ada beberapa metode yang dapat digunakan, seperti Hazard and Operability Study (HAZOP), Bowtie Analysis, dan Quantitative Risk Assessment (QRA). Penerapan Safety Risk
Assessment (SRA) juga penting untuk mengidentifikasi, menganalisis, dan menilai potensi risiko keselamatan dalam suatu aktivitas, lingkungan, atau proses tertentu.
Content (Isi)
1. Example of Accident : Contoh Kecelakaan
Berikut adalah contoh kecelakaan kerja di industri minyak dan gas:
a. Kecelakaan kerja di Sumur Migas Jabung: Sebanyak 8 pekerja mengalami luka-luka dalam kecelakaan kerja yang terjadi di Wilayah Kerja (WK) Jabung. Dari total 8 pekerja yang mengalami luka-luka, 6 pekerja dilarikan ke rumah sakit di Jakarta untuk mendapatkan perawatan.
b. Kecelakaan kerja di area pengeboran minyak dan gas: Terdapat 17 dari 36 kejadian kecelakaan kerja di salah satu area pengeboran minyak dan gas selama lima tahun terakhir. Jenis kecelakaan kerja terbanyak yaitu mekanik.
c. Kecelakaan kerja di lepas pantai: Industri minyak dan gas di lepas pantai memiliki tingkat kematian kolektif tujuh kali lebih besar dari rata-rata di industri lain. Antara tahun 2003 dan 2010, 128 kematian terjadi selama operasi minyak dan gas di lepas pantai, rata-rata 16 orang per tahun.
d. Kecelakaan kerja di sektor migas: Banyaknya kecelakaan yang terjadi di sektor migas, seperti kebakaran, peledakan, pencemaran lingkungan, dan lainnya menyebabkan industri migas memiliki potensi bahaya yang sangat besar.
2. Cause And Effect: Sebab dan Akibat
Kecelakaan kerja di industri minyak dan gas dapat disebabkan oleh berbagai faktor, seperti:
Kebakaran: Kebakaran yang disebabkan oleh kebocoran merupakan perhatian utama untuk para pekerja di alat pengeboran minyak.
Sumber penyulutan apapun, apakah itu percikan yang disebabkan oleh gesekan dalam mekanisme pengeboran minyak atau peningkatan tekanan yang tidak dapat memicu kebakaran dahsyat dan ledakan.
Peledakan: Crude oil adalah cairan gelap, lengket, highly flammable, dan dapat dibakar untuk menghasilkan energi. Bahaya yang perlu mendapat perhatian di samping hal-hal umum juga tentang adanya bahaya peledakan crude oil yang tinggi. Uap dan gas mudah meledak dan menimbulkan asap racun. Crude Oil juga mengandung sulfur yang tinggi yang dapat menimbulkan bahaya.
Keselamatan lingkungan: Industri minyak dan gas memiliki potensi untuk mengakibatkan dampak negatif terhadap lingkungan, seperti polusi udara dan kontaminasi tanah.
Keselamatan kerja: Keselamatan dan kesehatan kerja (K3) merupakan upaya perlindungan kerja agar tenaga kerja selalu dalam keadaan selamat serta sumber dan proses produksi dapat digunakan secara aman dan efisien.
Akibat dari kecelakaan kerja di industri minyak dan gas dapat berupa:
Kematian: Kecelakaan kerja di industri minyak dan gas dapat menyebabkan kematian.
Luka-luka: Kecelakaan kerja dapat menyebabkan luka-luka bagi para pekerja.
Pencemaran lingkungan: Kecelakaan kerja dapat menyebabkan pencemaran lingkungan
Produksi yang berkurang: Kecelakaan kerja dapat menyebabkan produksi yang berkurang.
3. Preventions: Pencegahan
Upaya pencegahan kecelakaan kerja dalam industri minyak dan gas meliputi:
1. Menjaga kebersihan dan kerapian tempat bekerja: Memastikan tempat bekerja selalu bersih dan terkondisi baik untuk mencegah terjadinya kecelakaan kerja.
2. Melakukan pemeliharaan peralatan kerja: Peralatan kerja harus diperbaiki dan dipelihara secara berkala untuk memastikan kondisinya baik dan tidak berbahaya.
3. Berikan pelatihan: Pelatihan yang cukup dan sesuai akan dapat memotivasi dan meningkatkan produktivitas pekerja, serta membantu mereka memahami pentingnya penerapan keselamatan kerja.
4. Menggunakan alat pelindung diri: Alat pelindung diri seperti kacamata, sarung tangan, dan pakaian kerja harus disediakan dan digunakan sesuai dengan ukurannya.
5. Menyediakan sarana dan prasarana K3: Memastikan adanya sarana dan prasarana K3 seperti ruang medis, poster K3, dan staf medis khusus yang mampu menangani jika ada keluhan kesehatan dari pekerja.
6. Mengatur peralatan pendukung kerja: Peralatan pendukung kerja yang tidak layak pakai harus diperbaiki atau dikeluarkan dari tempat kerja.
7. Menegakkan kedisiplinan: Memastikan para pekerja memahami dan mematuhi aturan keselamatan kerja dan memahami pentingnya penerapan keselamatan kerja.
8. Menggunakan peraturan kerja: Memastikan adanya peraturan kerja yang disertakan dalam kontrak kerja dan dijelaskan secara berkala kepada para pekerja.
9. Menggunakan alat dan bahan yang baik: Memastikan bahwa alat dan bahan yang digunakan dalam proses produksi adalah baik dan tidak berbahaya.
10. Melakukan analisis risiko: Melakukan analisis risiko dan mengidentifikasi potensi kecelakaan kerja, serta membuat rencana untuk mencegah terjadinya kecelakaan kerja.
4. Lesson Lerned: Pelajaran yang dipetik
Setelah kita mengetahui resiko dan keselamatan pada industri minyak dan gas, pelajaran yang dipetik meliputi:
1. Manajemen keselamatan kerja: Keselamatan dan kesehatan kerja adalah aspek penting dalam berbagai jenis industri, termasuk minyak dan gas. Manajemen keselamatan kerja harus dilakukan dengan baik, seperti mengatur perlindungan pasif, menghindari kecelakaan kerja, dan menerapkan NFPA 550 Fire Safety Concept Tree.
2. Meningkatkan kapasitas skill tenaga kerja K3: Peningkatan kapasitas skill tenaga kerja K3 perlu dilakukan melalui pembangunan relasi antara alumni dan mahasiswa.
3. Peran besar institusi pendidikan: Institusi pendidikan harus mengkontribusi untuk meningkatkan ekosistem keselamatan kerja industri migas nasional.
4. Meningkatkan ketertarikan ke dalam bidang migas: Keselamatan dan kesehatan kerja harus menjadi prioritas utama bagi para pekerja di industri minyak dan gas, yang diperlukan untuk meningkatkan ketertarikan ke dalam bidang migas.
5. Meningkatkan kualitas lingkungan: Perusahaan harus memiliki peraturan yang berkaitan dengan lingkungan hidup dan perencanaan industri, serta standarisasi dalam perlakuan bahan baku industri,
pengadaan alat pengamanan, dan dari hasil limbah yang dihasilkan agar tidak mengganggu kualitas lingkungan.
6. Mengadakan pelatihan dan tindakan persuasif: Pengusaha dan pekerja harus dilakukan pelatihan dan tindakan persuasif untuk membantu mereka lebih berhati-hati dalam melakukan kegiatan.
7. Mengelola risiko: Perusahaan harus mengelola risiko, seperti dengan metode job safety analysis (JSA), untuk mengetahui potensi bahaya, nilai risiko, dan langkah pengendalian/mitigasinya.
5. Safety Closing Steatment: Pernyataan Penutupan Keselamatan Safety Closing Statement dari pernyataan diatas adalah:
1. Perusahaan di industri minyak dan gas harus menjaga aspek safety patrol, safety briefing, dan lain-lain yang berhubungan dengan keselamatan dan kesehatan kerja.
2. Peningkatan kapasitas skill tenaga kerja K3 perlu dilakukan melalui pembangunan relasi antara alumni dan mahasiswa.
3. Peran besar institusi pendidikan dalam berkontribusi untuk meningkatkan ekosistem keselamatan kerja industri migas nasional.
4. Keselamatan dan kesehatan kerja harus menjadi prioritas utama dalam industri migas.
5. Perlindungan pasif, monitoring, dan perencanaan emergenci harus dilakukan untuk mencegah kecelakaan kerja.
6. Manajemen risiko kebakaran harus diperhatikan dan menerapkan NFPA 550 Fire Safety Concept Tree.
7. Peningkatan ketertarikan ke dalam bidang migas dapat membantu mencegah kecelakaan kerja.
8. Pengadaan alat pelindung diri dan perlindungan pasif harus dilakukan secara rutin.
9. Perilaku tidak aman dapat meningkatkan kemungkinan kecelakaan kerja.