SATUAN ACARA PENYULUHAN (SAP)
PENDIDIKAN KESEHATAN TENTANG PNEUMONIA DI PUSKESMAS AIR SALOBAR
DISUSUN OLEH:
Getreda Gerkora Kristina Hinakai Els Parinussa Patrisia Van Surker
CI LAHAN CI INSTITUSI
( ) ( )
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN PROFESI NERS PROGRAM PROFESI
FAKULTAS KESEHATAN
UNIVERSITAS KRISTEN INDONESIA MALUKU 2025
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang
Pneumonia merupakan salah satu penyakit infeksi yang menyerang paru- paru dan dapat berakibat fatal jika tidak ditangani dengan baik. Penyakit ini disebabkan oleh berbagai agen infeksi seperti bakteri, virus, dan jamur.
Pneumonia dapat menyerang siapa saja, tetapi kelompok yang paling rentan adalah anak-anak, lansia, serta individu dengan sistem imun yang lemah.
Pneumonia, sering dikenal sebagai paru-paru basah, adalah peradangan akut pada jaringan paru-paru yang disebabkan oleh infeksi mikroorganisme seperti bakteri, virus, atau jamur. Kondisi ini menyebabkan alveoli (kantong udara) di paru-paru terisi oleh cairan atau nanah, mengganggu proses pernapasan dan mengakibatkan gejala seperti batuk, demam, sesak napas, serta nyeri dada.
Pneumonia merupakan ancaman serius bagi kesehatan, terutama pada anak-anak di bawah usia lima tahun. Data dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia menunjukkan bahwa pneumonia adalah salah satu penyebab utama kematian pada balita di Indonesia. Pada tahun 2021, pneumonia menyebabkan sekitar 740.000 kematian pada anak di bawah usia lima tahun di seluruh dunia, setara dengan 14% dari total kematian balita global. Faktor risiko pneumonia pada anak-anak meliputi paparan asap rokok, lingkungan dengan kualitas udara buruk, gizi yang tidak memadai, serta imunisasi yang tidak lengkap. Paparan asap rokok, misalnya, dapat melemahkan kondisi paru-paru anak dan meningkatkan risiko terkena pneumonia. Pemerintah Indonesia berkomitmen untuk menurunkan angka kematian balita akibat pneumonia dan mengurangi insiden pneumonia pada balita hingga 70% secara nasional. Upaya pencegahan yang dilakukan antara lain melalui pemberian imunisasi lengkap, khususnya vaksin Pneumococcus Conjugated Vaccine (PCV), pemberian ASI eksklusif selama enam bulan pertama kehidupan, peningkatan gizi anak, serta edukasi kepada masyarakat tentang pentingnya menjaga lingkungan bersih dan bebas asap rokok.
Penyuluhan mengenai pneumonia sangat penting untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang bahaya penyakit ini dan langkah-langkah pencegahannya. Dengan edukasi yang tepat, diharapkan angka kejadian dan kematian akibat pneumonia, khususnya pada anak-anak, dapat ditekan secara signifikan.
B. Tujuan
1. Tujuan Umum
Setelah dilakukan pendidikan kesehatan selama 30 menit, diharapkan keluarga pasien mampu memahami tentang pneumonia
2. Tujuan Khusus
Setelah dilakukan penyuluhan, keluarga pasien dapat:
a. Mengetahui pengertian pneumonia b. Mengetahui etiologic pneumonia c. Mengetahui factor risiko pneumonia
d. Mengetahui tanda dan dan gejala pneumonia e. Mengetahui cara penularan pneumonia
f. Mengetahui cara mencegah penularan pneumonia g. Mengetahui tujuan pengobatan pneumonia
C. Sasaran
Pasien dan Keluarga Pasien Di Puskesmas Air Salobar
BAB II
DESKRIPSI KASUS A. Karakteristik Sasaran
Karakteristik sasaran dalam pendidikan kesehatan tentang Pneumonia yaitu:
1. Pasien dan Keluarga yang ingin berpartisipasi dalam penyuluhan 2. Keluarga yang anaknya sedang menjalani pemeriksaam di puskesmas
Air Salobar.
B. Prinsip Pembelajaran Pendidikan Kesehatan
1. Pendidikan kesehatan bukan hanya pelajaran di kelas tetapi merupakan Kumpulan pengalaman di mana sa ja dan kapan saja sepanjang dapat memengaruhi pengetahuan sikap dan kebiasaan sasaran pendidikan.
2. Pendidikan kesehatan tidak dapat secara mudah diberikan oleh seseorang kepada orang lain, karena pada akhirnya sasaran pendidikan itu sendiri yang dapat mengubah kebiasaan dan tingkah lakunya sendiri.
3. Bahwa yang harus dilakukan oleh pendidik adalah menciptakan sasaran individu, keluarga, kelompok dan masyarakat dapat mengubah sikap dan tingkah lakunya sendiri.
4. Pendidikan kesehatan dikatakan berhasil bila sasaran pendidikan (individu, keluarga, kelompok dan masyarakat) sudah mengubah sikap dan tingkah lakunya sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan.
BAB III
METODOLOGI PENDIDIKAN KESEHATAN A. Metode Pembelajaran
- Ceramah - Tanya jawab B. Media Pembelajaran
- Leaflet
C. Kegiatan Belajar Mengajar
NO TAHAP WAK
TU
KEGIATAN
PENYULUH PASIEN
1 Pembuka
an
5 menit
a. Mengucapkan Salam b. Memperkenalkan
diri.
c. Menjelaskan maksud dan tujuan.
d. Memberikan pertanyaan
berhubungan dengan jajanan sehat
a. Menjawab salam.
b. Perkenalan
c. Menjawab pertanyaan yang diberikan.
2 Pelaksan aan
10-15 menit
Menyampaikan materi sesuai leaflet :
a. Pengertian pneumonia b. Etiologi pneumonia c. Factor risiko
pneumonia
d. Tanda dan dan gejala pneumonia
e. Cara penularan
a. Mendengarkan penjelasan.
b. Bertanya tentang hal yang tidak di mengerti
pneumonia
f. Cara mencegah penularan pneumonia g. Pengobatan
pneumonia
3 Penutup 5
menit
a. Memberikan evaluasi dengan bertanya tentang semua yang sudah dijelaskan pada sasaran.
b. Mengucapkan salam dan terimakasih.
c. Memberi salam dan penutup
a. Menjawab
pertanyaan yang ada.
b. Menjawab salam.
D. Waktu Pelaksanaan 18 Februari 2025
E. Faktor Resiko Terjadinya Hambatan
Keluarga tidak berada di ruangan saat kegiatan penyuluhan F. Antisipasi Meminimalkan Hambatan
Melakukan kontrak waktu dengan keluarga sebelum kegiatan penyuluhan G. Pengorganisasian
Presenter: Kristina Hinakai
Moderator: Els Parinussa, Getreda Gerkora Notulis: Patrisia Van Surker
Observer:
H. Metode Evaluasi
Metode evaluasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode evaluasi formatif yaitu evaluasi yang dilaksanakan setelah kegiatan penyuluhan dilaksanakan dengan mengukur hasil perubahan perilaku yang
terjadi sebagai sebab akibat dari proses penyuluhan yang telah dilaksanakan.
BAB IV PENUTUP A. Evaluasi Struktur
1. Peserta hadir ditempat penyuluhan
2. Penyelenggaraan penyuluhan dilaksanakan di puskesmas Air Salobar 3. Pengorganisasian penyelenggaraan penyuluhan dilakukan sebelumnya
B. Evaluasi Proses
1. Peserta antusias terhadap materi penyuluhan
2. Tidak ada peserta yang meninggalkan tempat penyuluhan selama proses penyuluhan
3. Peserta aktif menyampaikan pertanyaan
1. Pengertian Pneumonia
Pneumonia adalah infeksi yang menyebabkan peradangan pada alveoli (kantong udara di paru-paru). Pada kondisi normal, alveoli berisi udara, tetapi pada penderita pneumonia, alveoli terisi oleh cairan atau nanah, yang mengganggu proses pertukaran oksigen dan menyebabkan gejala seperti batuk berdahak, demam tinggi, sesak napas, serta nyeri dada.
2. Etiologi Pneumonia
Penyebab pneumonia dapat bervariasi tergantung pada usia dan faktor risiko individu. Beberapa agen penyebab utama pneumonia meliputi:
Bakteri, seperti Streptococcus pneumoniae dan Haemophilus influenzae, Virus, seperti virus influenza, virus corona, dan virus respiratori sincitial (RSV).
Jamur, terutama pada individu dengan sistem imun yang lemah, seperti penderita HIV/AIDS..
3. Faktor risiko Pneumonia
a. Usia (Bayi, Anak-anak, dan Lansia): Sistem kekebalan tubuh yang belum matang atau melemah. Bayi dan anak-anak memiliki sistem imun yang belum sepenuhnya berkembang, sehingga mereka lebih rentan terhadap infeksi, termasuk pneumonia. Lansia mengalami penurunan fungsi imun secara alami, sehingga tubuh mereka lebih sulit melawan infeksi. Refleks batuk dan kemampuan membersihkan saluran napas menurun. Pada lansia, refleks batuk bisa melemah, sehingga patogen lebih mudah masuk dan berkembang di paru-paru.
b. Sistem Kekebalan Tubuh Lemah: Orang dengan HIV/AIDS, kanker, atau yang menjalani kemoterapi memiliki sistem kekebalan tubuh yang terganggu sehingga tubuh tidak bisa melawan infeksi dengan efektif.
Pasien yang menerima terapi imunosupresif (misalnya setelah transplantasi organ) juga lebih rentan terhadap infeksi, termasuk pneumonia.
c. Penyakit Kronis (Diabetes, Penyakit Jantung, PPOK, dsb.) Diabetes:
Meningkatkan risiko infeksi karena kadar gula darah yang tinggi dapat melemahkan sistem kekebalan tubuh dan menghambat kerja sel darah putih dalam melawan patogen. Penyakit paru obstruktif kronis
(PPOK) dan asma: Saluran napas yang sudah mengalami inflamasi kronis lebih rentan mengalami infeksi sekunder oleh bakteri atau virus.
d. Kebiasaan Merokok- Rokok mengandung zat beracun yang merusak silia (rambut-rambut kecil di saluran napas yang berfungsi membersihkan lendir dan partikel asing). Ketika silia rusak, bakteri dan virus lebih mudah masuk ke paru-paru dan menyebabkan infeksi.
e. Paparan Polusi Udara: Polusi udara mengandung partikel berbahaya yang dapat mengiritasi dan merusak jaringan paru-paru, melemahkan mekanisme pertahanan paru, dan meningkatkan risiko infeksi. Paparan asap dapur pada rumah dengan ventilasi buruk juga dapat meningkatkan risiko pneumonia, terutama pada anak-anak.
f. Malnutrisi: Kekurangan gizi, terutama protein dan vitamin penting seperti vitamin A, C, dan D, dapat melemahkan sistem imun sehingga tubuh lebih rentan terhadap infeksi.
g. Hospitalisasi atau Penggunaan Ventilator: Pasien yang dirawat di rumah sakit, terutama yang menggunakan ventilator, memiliki risiko lebih tinggi terkena pneumonia nosokomial yang sering disebabkan oleh bakteri yang lebih resisten terhadap antibiotik.
h. Penyalahgunaan Alkohol dan Obat-obatan: Alkohol dan beberapa jenis obat dapat menekan refleks batuk dan melemahkan sistem imun, sehingga meningkatkan risiko aspirasi (masuknya cairan atau makanan ke paru-paru), yang bisa menyebabkan pneumonia aspirasi.
4. Gejala Klinis Pneumonia
Berikut adalah beberapa gejala klinis pneumonia:
a. Demam tinggi, berkeringat atau menggigil b. Sesak napas terutama saat beraktivitas c. Sakit kepala
d. Denyut jantung cepat e. Mual/ muntah
f. Diare
g. Nyeri dada atau nyeri perut terutama saat menarik napas dalam atau batuk
h. Batuk kering atau batuk dengan dahak berwarna hijau i. Penurunan nafsu makan
j. Pada bayi dan anak-anak biasanya ada bunyi napas tambahan, jarang BAK atau popok kering, kulit pucat, rewel lebih dari biasanya dan enggan makan atau menyusu.
Dengan gejala lain meliputi:
a. Malaise
b. Penurunan berat badan c. Menurunnya nafsu makan d. Menggigil
e. Demam
f. Berkeringat di malam hari 5. Cara penularan Pneumonia
Pneumonia dapat menular melalui:
a. Percikan Udara (Droplet): Melalui batuk atau bersin dari penderita.
b. Kontak Langsung: Menyentuh permukaan atau benda yang terkontaminasi, kemudian menyentuh mulut atau hidung.
6. Cara mencegah penularan Pneumonia Untuk mencegah penularan pneumonia:
a. Vaksinasi: Pemberian vaksin pneumokokus dan influenza.
Bayi dan anak-anak: vaksin PCV (Pneumococcal Conjugate Vaccine).
Dosis diberikan 3 kali pada usia 2, 3 dan 12 bulan.
b. Menjaga Kebersihan Tangan: Mencuci tangan secara rutin dengan sabun dan air mengalir.
c. Menghindari Kontak dengan Penderita: Mengurangi interaksi dekat dengan individu yang terinfeksi.
d. Menggunakan Masker: Terutama di tempat umum atau saat berada di sekitar orang sakit.
7. Pengobatan Pneumonia
Pengobatan pneumonia tergantung pada penyebab dan tingkat keparahannya:
a. Antibiotik: Untuk pneumonia yang disebabkan oleh bakteri.
b. Antivirus: Jika disebabkan oleh virus tertentu.
c. Antijamur: Untuk pneumonia akibat infeksi jamur.
d. Perawatan Pendukung: Seperti istirahat yang cukup, konsumsi cairan yang memadai, dan penggunaan obat penurun demam.
DAFTAR PUSTAKA
Direktorat Jenderal Pelayanan Kesehatan, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2023, 21 Desember). Mengenal Pneumonia pada Anak.
Diakses dari https://yankes.kemkes.go.id/view_artikel/3039/mengenal- pneumonia-pada-
Direktorat Jenderal Pelayanan Kesehatan, Kementerian Kesehatan Republik
Indonesia. Pneumonia. Diakses
dari https://yankes.kemkes.go.id/view_artikel/2709/pneumonia
Halodoc. Pneumonia - Gejala, Penyebab, Pencegahan & Pengobatan. Diakses dari https://www.halodoc.com/kesehatan/pneumonia
The Times. 2024. What are the risks of a chest infection at the Queen's age?.
Diakses dari https://www.thetimes.co.uk/article/what-are-the-risks-of-a- chest-infection-at-the-queens-age-0l00mr7ww
Verywell Health. 2025. How to Tell If Your Cold Symptoms Are Actually Walking Pneumonia. Diakses dari https://www.verywellhealth.com/walking- pneumonia-8743718
The Wall Street Journal. 2024. 'Walking Pneumonia' Is Surging Ahead of Cold
and Flu Season. Diakses
dari https://www.wsj.com/health/wellness/walking-pneumonia-symptoms- 8346732b
Time.2025. What to Know About Walking Pneumonia. Diakses dari https://time.com/7203467/what-is-walking-pneumonia/