• Tidak ada hasil yang ditemukan

Sejarah Perkembangan Ilmu Kalam

N/A
N/A
Fajriyan askandar

Academic year: 2023

Membagikan "Sejarah Perkembangan Ilmu Kalam"

Copied!
22
0
0

Teks penuh

(1)

MAKALAH ILMU KALAM

“Sejarah Perkembangan Ilmu Kalam”

Dosen Pengampu: Eko Parnandes, S.Pd.M.Pd.

Disusun Oleh:

Muhammad Fajriyan Siti Fitri SEMESTER III

PRODI PENDIDIKAN BAHASA ARAB

SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM (STAI) MA’ARIF SAROLANGUN TAHUN AKADEMIK 2023

(2)

KATA PENGANTAR

Puji syukur kepada Allah SWT, atas segala rahmat dan hidayahNya sehingga saya dapat menyelesaikan tugas mata kuliah Ilmu Kalam dengan tepat waktu, terwujud dalam makalah kami “Sejarah Perkembangan Ilmu Kalam” Yang Berorientasi Pada Aktivitas Siswa”

Besar harapan saya semoga hasil makalah ini dapat memberikan manfaat yang besar baik untuk saya ataupun orang lain.

Penulis juga menyadari dalam penyusunan makalah ini terdapat banyak kesalahan. Oleh karena itu, sangat diharapkan kritik maupun sarannya dari pembaca makalah ini. Sehingga di kemudian hari dapat menyusun lebih baik lagi.

Semoga makalah ini dapat digunakan dengan baik dan bermanfaat bagi kita semua. Amin

Pelawan, 15 Oktober 2023

Penyusun

ii

(3)

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR...ii

DAFTAR ISI...iii

BAB I PENDAHULUAN...3

A. Latar Belakang Masalah...3

B. Rumusan Masalah...3

C. Tujuan...1

BAB II PEMBAHASAN...1

A. Sejarah Ilmu Kalam Pada Masa Rosulullah...1

B. Perkembangan Ilmu Kalam Pada Masa Khulafaurrasyidin...2

C. Perkembangan Ilmu Kalam Pada Masa Bani Umayyah...5

D. Perkembangan Ilmu Kalam Pada Masa Bani Abbasiyah...6

E. Faktor Penyebab Lahirnya Ilmu Kalam...7

BAB III PENUTUP...11

A. Kesimpulan...11

B. Saran...11

DAFTAR PUSTAKA...12

iii

(4)

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

A.

lmu Kalam merupakan

pengetahuan mengenai

bagaimana

mengenal aqidah

B.

dengan memakai pendekatan logika.

Ilmu ini

mengarahkan

pembahasannya kepada

iv

(5)

C.

bagian-bagian yang menjadi

landasan pokok

agama islam yaitu kemahaesaan

tuhan,

D.

nubuwah, akhirat dan hal yang

berhubungan

dengan hal itu.

Oleh karena itu, ilmu ini

E.

menduduki posisi sangat penting dan terhormat dalam

v

(6)

tradisi

pengetahuan islam.

F.

lmu Kalam merupakan

pengetahuan mengenai

bagaimana

mengenal aqidah

G.

dengan memakai pendekatan logika.

Ilmu ini

mengarahkan

pembahasannya kepada

vi

(7)

H.

bagian-bagian yang menjadi

landasan pokok

agama islam yaitu kemahaesaan

tuhan,

I.

nubuwah, akhirat dan hal yang

berhubungan

dengan hal itu.

Oleh karena itu, ilmu ini

J.

menduduki posisi sangat penting dan terhormat dalam

vii

(8)

tradisi

pengetahuan islam.

K.

lmu Kalam merupakan

pengetahuan mengenai

bagaimana

mengenal aqidah

L.

dengan memakai pendekatan logika.

Ilmu ini

mengarahkan

pembahasannya kepada

viii

(9)

M.

bagian-bagian yang menjadi

landasan pokok

agama islam yaitu kemahaesaan

tuhan,

N.

nubuwah, akhirat dan hal yang

berhubungan

dengan hal itu.

Oleh karena itu, ilmu ini

O.

menduduki posisi sangat penting dan terhormat dalam

ix

(10)

tradisi

pengetahuan islam.

lmu kalam atau teologi termasuk salah satu bidang studi islam yang amat dikenal baik oleh kalangan akademis maupun oleh masyarakat pada umumnya. Hal ini antara lain terlihat dari keterlibatan ilmu tersebut dalam menjelaskan berbagai masalah yang muncul di masyarakat.

Keberuntungan atau kegagalan seseorang dalam kehidupannya sering dilihat dari sisi teologi. Dengan kata lain,berbagai masalah yang terjadi di msayarakat seringkali dilihat dari sudut teologi.

Hal tersebut di atas merupakan fenomena yang cukup menarik untuk diteliti lebih seksama. Itulah sebabnya telah banyak karya ilmiah yang ditulis para ahli dengan mengambil tema kajian masalah teologi,dan itu pula yang selanjutnya teologi menjadi salah satu bidang kajian Islam mulai dari tingkat pendidikan dasar,sampai dengan pendidikan tinggi.

Pada bagian ini,pembaca akan diajak untuk mengkaji secara seksama model penelitian Ilmu Kalam yang dilakukan oleh para ahli,baik penelitian pemula,maupun penelitian lanjutan yang bersifat deskriptif analitis,dengan terlebih dahulu mengemukakan pengertian Ilmu Kalam tersebut.

B. Rumusan Masalah

1. Bagaimana sejarah perkembangan ilmu kalam pada masa : 1. Nabi Muhammad

2. Khulafaur Rasyidin 3. Bani Umayyah 4. Bani Abbasiyah

x

(11)

C. Tujuan

Untuk mengetahui sejarah perkembangan ilmu kalam dari mulai masa Nabi Muhammad hingga bani umayyah.

BAB II PEMBAHASAN A. Sejarah Ilmu Kalam Pada Masa Rosulullah

Ketika Rasulullah Saw diutus sebagai seorang Rasul di Makkah, Rasulullah memfokuskan dakwah Islamiyah pada tiga hal. Pertama, yakni pada pentauhidan Allah Swt, bahwa tiada Tuhan selain Allah dan tidak ada yang berhak untuk disembah selain Allah. Kedua, yakni untuk mengabarkan bahwasannya Nabi Muhammad Saw adalah utusan Allah untuk seluruh manusia, sebagai pembawa kabar gembira dan pembawa peringatan.1

ketiga, yakni untuk mengingatkan mengenai adanya hari akhirat, yaitu kehidupan setelah mati di mana setiap orang akan dihitung amal baik dan amal buruknya. Pada saat itu, orang Arab tidak percaya akan adanya hari akhirat. Hal ini sebagaimana diisyaratkan dalam al-Qur’an surah al-An’am ayat 29 yang artinya “Dan mereka (orang-orang Arab Jahiliyah) berkata bahwasannya kami hanya hidup di dunia dan kami tidak akan dibangkitkan (setelah kematian).”

Pengenalan tauhid saat itu sangat mendasar. Belum ada pembahasan bagaimana sifat-sifat Allah, dan apakah sifat-sifat itu merupakan zat Allah sendiri atau bukan sebagaimana yang dibahas oleh para mutakallimun selanjutnya. Adapun ketika beliau hijrah ke Madinah, orang-orang Madinah telah menerima kerasulan Nabi Muhammad Saw telah diterima, maka dengan sendirinya mereka menerima dua ajakan

1 Nurcholish Madjid (Ed.), Khazanah Intelektual Islam (Jakarta: Pustaka Pelajar, 1994), 10

xi

(12)

Rasulullah Saw yang lain, yakni pentauhidan Allah dan adanya hari akhirat.2

Begitu juga mereka akan menerima setiap apa yang datang dari Rasulullah Saw, termasuk setiap ayat dari al-Qur’an, baik yang muhkamat atau yang mutasyabihat. Karena mereka telah meyakini dan mengimani bahwa semuanya berasal dari Allah Swt. Sedangkan apabila mereka memiliki pertanyaan yang tidak ditemukan jawabannya, mereka langsung menanyakannya kepada Rasulullah Saw. Kemudian Rasulullah Saw pun menjawabnya dan mengarahkan mereka ke jalan yang benar sehingga tidak ada lagi keraguan di hati mereka.

B. Perkembangan Ilmu Kalam Pada Masa Khulafaurrasyidin

Pada masa Khulafaur Rasyidin, para sahabat lebih menitikberatkan perhatian mereka pada permasalahan hukum-hukum amaliyah daripada permasalahan i’tiqadiyah atau keyakinan. Adapun kemunculan permasalahan keyakinan diawali oleh permasalahan politik, yakni peristiwa pembunuhan Utsman bin Affan, Khalifah ke-3. Peristiwa yang menyedihkan dalam sejarah Islam ini dikenal dengan Fitnat al- Kubra (Fitnah Besar).3

Peristiwa fitnah besar dianggap sebagai pangkal pertumbuhan masyarakat Islam di berbagai bidang, khususnya bidang-bidang politik, sosial, dan paham keagamaan. Maka Ilmu Kalam sebagai suatu bentuk penalaran paham keagamaan bisa dikatakan tumbuh dan bertitik tolak dari fitnah besar tersebut.

Bersama dengan falsafah, Ilmu Kalam mulai dikenal orang-orang Muslim Arab setelah mereka menaklukan dan kemudian bergaul dengan bangsa-bangsa yang berlatar-belakang peradaban Yunani dan dunia pemikiran Yunani (Hellenisme). Hampir semua daerah yang menjadi

2 Kitab kifayatul awam fil ilmi kalam hlm.56

3 Munawir Sjadzali, Islam dan Tata Negara: Ajaran, Sejarah dan Pemikiran (Jakarta: UI- Press, 1993), 27.

xii

(13)

sasaran pembebasan (fath/liberation) orang-orang Muslim telah terlebih dahulu mengalami Hellenisme yang giat seperti Damaskus, Antiokia, Harran, dan Alexandria.

Persia (Iran) pun, meski tidak mengalami Kristenisasi (tetap beragama Majusi atau Zoroastrianisme), juga sedikit banyak mengalami Hellenisasi, dengan Jundisapur sebagai pusat Hellenisme Persia. Dari interaksi inilah, orang-orang Muslim mengenal penalaran logis ala Yunani yang kemudian digunakan untuk membuat penalaran logis oleh orang-orang yang melakukan pembunuhan Utsman atau menyetujui pembunuhan itu.

Jika urutan penalaran itu disederhanakan, maka kira-kira akan berjalan seperti ini: Mengapa Utsman boleh atau harus dibunuh? Karena ia berbuat dosa besar (berbuat tidak adil dalam menjalankan pemerintahan), padahal berbuat dosa besar adalah kekafiran. Dan orang-orang kafir, apalagi murtad (menjadi kafir setelah Muslim), harus dibunuh. Mengapa perbuatan dosa besar suatu kekafiran? Karena berbuat dosa besar, seperti kekafiran, adalah sikap menentang Tuhan. Maka harus dibunuh!

Dari jalan pikiran tersebut, para (bekas) pembunuh Utsman atau pendukung mereka menjadi cikal-bakal kaum Qadari, yakni mereka yang berpaham Qadariyah, suatu pandangan bahwa manusia mampu menentukan amal perbuatannya, maka manusia mutlak bertanggung jawab atas segala perbuatannya tersebut, yang baik dan yang buruk.

Para pembunuh Utsman menurut beberapa petunjuk sejarah, menjadi pendukung kekhalifahan Ali bin Abi Thalib, Khalifah ke-4. Hal ini sebagaimana yang disebutkan, misalnya oleh Ibnu Taimiyah, bahwa sebagian besar pasukan Ali dalam perang Siffin, begitu pula mereka yang memerangi Ali dan mereka yang bersikap netral dari peperangan itu bukanlah orang-orang yang membunuh Utsman.4

4 Kitab Nurul Yaqin Fi Shiroti Sayyidil Mursalin , hlm.234

xiii

(14)

Sebaliknya, para pembunuh Utsman itu hanyalah sekelompok kecil dari pasukan Ali. Jumlah umat Islam saat kekhalifahan Utsman berjumlah dua ratus ribu orang, dan yang menyetujui pembunuhannya hanya sekitar seribu orang.5

Perpecahan dalam umat Islam semakin menjadi ketika perang Siffin (659 M). Saat itu pasukan Ali yang hampir mengalahkan pasukan Mu’awiyah ketika kemudian Amr bin al-As, seorang panglima perang dari pasukan Muawiyah bin Abi Sufyan yang terkenal licik, mengangkat al- Qur’an ke atas sebagai tanda meminta berdamai. Pihak Ali menerima dan diadakanlah tahkim atau arbitrase di mana pihak Ali diwakili oleh Abu Musa al-Asy’ari dan pihak Muawiyah diwakili oleh Amr bin al-As.

Pada arbitrase ini, pihak Ali mengalami kekalahan diplomatis dan kehilangan kekuasaan secara de jure sehingga menimbulkan kekecewaan yang luar biasa dari pasukan pendukung Ali. Sebagian dari mereka berpendapat bahwa hal tersebut tidak dapat diputuskan oleh arbitrase manusia, namun harus datang dari Allah dengan kembali kepada hukum- hukum yang ada dalam al-Qur’an. Golongan ini lalu memisahkan diri dari barisan Ali yang kemudian disebut dengan golongan Khawarij.

Dari perdebatan dalam persoalan politik lalu menjalar ke persoalan teologi. Seperti sikap mereka terhadap Utsman, kaum Khawarij juga memandang Ali dan Muawiyah sebagai kafir karena mengkompromikan yang benar (haqq) dengan yang palsu (batil). Karena itu, mereka merencanakan untuk membunuh Ali, Muawiyah, dan Amr Ibn al-Ash, gubernur Mesir yang sekeluarga membantu Muawiyah mengalahkan Ali dalam perang Siffin tersebut.

Namun yang terjadi, kaum Khawarij, melalui seseorang bernama Ibn Muljam, hanya berhasil membunuh Ali. Sedangkan Muawiyah hanya mengalami luka-luka, dan Amr bin al-As selamat sepenuhnya. Mereka

5 Kitab Nurul Yaqin Fi Shiroti Sayyidil Mursalin , hlm.234

xiv

(15)

juga membunuh seseorang bernama Kharijah yang dikira Amr bin al-As karena kemiripan rupanya.

Inilah awal mula munculnya perdebatan i’tiqadiyah dalam Islam.

Apakah seorang Muslim yang berbuat dosa besar disebut kafir atau tidak.

Kaum Khawarij jelas mengatakan bahwa mereka menjadi kafir dan di akhirat nanti akan ditempatkan di neraka. Kemudian muncullah kelompok Murjiah yang menentang pendapat Khawarij dengan mengatakan bahwa orang yang berbuat dosa besar tidak disebut kafir selama masih ada iman di dalam hati.

Sedangkan persoalan apakah mereka menjadi kafir atau tidak, diserahkan kepada Allah. Ada juga kelompok yang mengatakan bahwa orang yang berbuat dosa besar tidak mukmin dan tidak pula kafir. Dan ketika mereka meninggal, mereka berada di antara dua tempat, tidak di surga dan tidak pula di neraka. Kelompok yang memiliki pendapat seperti ini dikenal dengan nama kaum Mu’tazilah.

C. Perkembangan Ilmu Kalam Pada Masa Bani Umayyah

Masalah akidah masih menjadi perdebatan yang hangat dikalangan umat islam. Di zaman inilah lahir berbagai aliran teologi seperti Murji’ah, Qadariah, Jabariah dan Mu’tazilah. Kaum Muslimin tidak bisa mematahkan argumentasi filosofis orang lain tanpa mereka menggunakan senjata filsafat dan rasional pula. Untuk itu bangkitlah Mu’atazilah mempertahankan ketauhidan dengan argumentasi-argumentasi filosofis tersebut. Namun sikap Mu’atazilah yang terlalu mengagungkan akal dan melahirkan berbagai pendapat kontroversial menyebabkan kaum tradisional tidak menyukainya. 6

Akhirnya lahir aliran Ahlussunnah Waljama’ah dengan tokoh besarnya Abu Hasan Al-Asy’ari dan Abu Mansur Al-Maturidi. Pada zaman pemerintahan Bani Umayyah, hampir-hampir keseluruhan umat

6 Madjid (Ed.), Khazanah Intelektual Islam, 11.

xv

(16)

islam di dalam keimanan yang bersih dari seberang pertikaian dan perdebatan. Dan apabila kaum muslimin selesai melakukan pembukaan negeri dan kedudukannya telahpun mantap, mereka beralih tumpuan kepada pembahasan sehingga menyebankan berlaku perselisihan pendapat di kalangan mereka.

D. Perkembangan Ilmu Kalam Pada Masa Bani Abbasiyah

Setelah kaum muslimin selesai membuka negeri-neferi, lalu ramai dari kalangan penganut agama lain yang memeluk islam. Mereka ini manzahirkan pemikiran-pemikiran baru yang di ambil dari agama lama mereka tetapi diberi rupa bentuk islam. Iraq khususnya di Basrah merupakan tempat segala agama dan aliran. Maka terjadi perselisihan apabila ada satu golongan menafikan kemahuan (iradah) manusia.

Kelompok ini diketuai oleh Jahm bin Safwan. Dan antara pengikutnya ialah para pengikut aliran jabbariyah yang diketuai oleh Ma’bad al-Juhni.

Aliran ini lahir ditengah-tengah kecelaruan pemikiran dan asas-asas yang dibentuk oleh setiap kelompok unit diri mereka.

Kemudian bangkitlah sekelompok orang yang ikhlas memberi penjelasan mengenai akidah-akidah kaum muslimin berdasarkan jalan yang ditempuh oleh Al-Qur’an. Antara yang masyur di kalangan mereka adalah Hasan Al-Basri. Dan sebagian dari kesan perselisihan antara Hasan Al-Basri dengan Muridnya Washil bin Atho’ ialah lahirnya satu kelompok baru yang dikenali dengan Muaktazilah.

Perselisihan tersebut ialah mengenai hukum orang beriman yang mengerjakan dosa besar, kemudian mati sebelum sempa bertaubat. Pada akhir kurun ketiga dan awal kuruk keempat, lahirlah imam Abu Mansyur al-Maturidi yang berusaha menolak golongan yang berakidah batil.

Mereka membentuk aliran Al-Maturidiah. Kemudian muncul pula Abul Hasan Al-Asy’ari yang telah mengumumkan keluar dari kelompok Mu’atazilah dan menjelaskan asas-asas pegangan barunya yang bersesuain

xvi

(17)

dengan para ulama dari kalanganfuqhak dan ahli hadist. Dia dan pengikutnya dikenal sebagai aliran Asya’irah dan dari kelompok ini, terbentuklah kelompok Ahlus Sunnah wal Jamaah.7

E. Faktor Penyebab Lahirnya Ilmu Kalam Faktor internal lahirnya ilmu kalam8 a) Dorongan dan pemahaman terhadap Al-Quran

Pemahaman terhadap Al-Qur’an menimbulkan banyak pendapat yang berbeda yang senantiasa mengjak terus berpikir. Tuntutan berpikir itulah yang menyebabkan umat islam pada saat itu menentukan sesuatu dengan pikirannya, tanpa mengembalikan hasil pemikirannya pada Al-Qur’an sehingga menimbulkan perpecahan di antara umat islam. Pebedaan dalam memahami Al-Qur’an di antara para pemimpin mengakibatkan mereka beristirahat atau mengambil keputusan dengan pemahaman masing- masing.

b) Penyerapan hadis yang berbeda

Dalam penerimaan berita atau hadis, para sahabat menerimanya dari aspek matan. Ada yang disebut hadis riwayah (asli sari rasululloh), dirayah (redaksinya disusun oleh para sahabat), dan ada pula yang dipengaruhi oleh israiliyah, yaitu hadis yang disusun oleh orang-orang Yahudi dengan tujuan mengacaukan islam.

c) Persoalan politik

Masalah-masalah politik dan perselisihan pendapat diantara sesama muslim mengkibatkan munculnya banyak aliran. Puncak perselisihan umat terjadi pada peristiwa terbunuhnya Usma bin Affan. Sejak peristiwa ituumat islam mulai berani berpendapat soal-soal agama, membuat

7 Nasution, Teologi Islam, 39-40; Madjid (Ed.), Khazanah Intelektual Islam, 17.

8 Jahja, Teologi al-Ghazali, 30; Madjid (Ed.), Khazanah Intelektual Islam, 22..

xvii

(18)

pendapat dan mengemukakan alasan yang dibuat-buat demi mempertahankan pendapatnya.

d) Adanya kepentingan kelompok atau golongan

Kepentingan kelompok atau golongan pada umumnya mendominasi sebab timbulnya suatu aliran. Khawarij dan Syi’ah merupakan dua aliran yang memiliki kepentingan dalam kelompoknya masing-masing. Aliran Syi’ah adalah golongan atau orang yang sangat memuja Ali bin Abi Talib, sedangkan Khawarij sebaliknya, Khawarij adalah kelompok yang kecewa dengan keputusan Ali menerim tahkim. Kedua aliran tersebut sama-sama memiliki pedoman tersendiri yang berasal dari Al-Qur’an dan hadis.

e) Ingkar terhadap agama

Banyaknya orang yang mengingkari ajaran agamanya, padahal Al- Qur’an membantah pendirian orang-orang musyrikin yang mengingkari agama seperti yang direangkan dalam firman Alloh:

f) Adanya pemahaman yang berbeda

Perbedaan ini terdapat dalam memahami ayat Al-Qur’an sehingga menimbulkan perbedaan penafsiran. Contoh: beberapa ayat dalam Al- Qur’an yang mengharuskan kaum muslimin mengembangkan agama dan membelanya. Kita tidak boleh hanya memeluk agama islam dan mengimani segala aturannya tanpa berusaha mengerjakan apa yang dapat dilakukan untuk mengembangkan agama dan mengukuhkan di dalam jiwa manusia.

Karena pemahaman terhadap ayat-ayat diatas berbeda, tiap-tiap kelompok menginginkan menjadi keolmpok yang mengamalkan amar makruf nahi mungkar dan menjadi kelompok yang “terbaik”, yang memperoleh “kemengan”.

g) Hidup mewah

xviii

(19)

Kemengan-kemenangan yang diperoleh umat islam dalam peperangan dan kemewahan hidup menyebabkan mereka merasa bebas menentukan dan membahas masalah-masalah agama secara filosofis dan tidak membatasi diri pada hal-hal yang bersifat lahiriah.

Faktor eksternal larirnya ilmu kalam9

a. Banyaknyan orang yang memeluk islam setelah kota Makkah ditaklukan Setelah kota Makkah ditaklukan, masyarakat sudah memiliki agama sendiri dan terbisa melaksanakan aturan agamanya. Setelah merasa aman dan terbebas dari kekangan umat islam, mereka mulai mengkaji ulang akidah agama-agama mereka yang dulu mengembangkannya dalam akidah islam. Mereka memasukkan ajara akidah mereka ke dalam ajaran agama islam.

b. Kelompok-kelompok islam yan ingin membela islam

Aliran Muktazilah berpendapat bahwa mereka tidak dapat menunikan kewajiaban sebagaimana mestinya, melainkan dengan cara mengetahui dan memahami akidah yang dianut oleh lawan, dengan alasan agar mereka dapat menyusun jawaban dalam debat tentang akidah dengan pihak lawan.

Karena pendapat mereka itulah maka semakin luas pemahaman umat islam terhadap agama dan ajaran-ajaran agama lain diluar islam. Hal tersebut mengakibatkan bermunculan pendapat tentang tauhid.

c. Filsafat yunani

Umat islam bertemu lawan-lawan yang menggunakan filsafat dalam berakidah. Untuk menghadapi mereka, umat islam pun mempelajari filsafat, yaitu filsafat yunani. Mereka memasukan filsafat (hal-hal yang dianggap dapat menjadi alat untuk mempertahankan akidah) ke dalam ilmu-ilmu tauhid. Dengan demikian ilmu tauhid berkembang dan

9 Jahja, Teologi al-Ghazali, 30; Madjid (Ed.), Khazanah Intelektual Islam, 22..

xix

(20)

bertambah luas pembahasaannya serta bermacam-macam dimensinya.

Akhirnya, dikenal sebagai Ilmu Kalam.

xx

(21)

BAB III PENUTUP A. Kesimpulan

Ilmu kalam sejatinya telah ada dari mulai zaman Nabi Muhammad SAW. dan terus berkembang di masa khulafaurrasyidin ketika terjadinya perpecahan umat muslim sepeninggal Nabi Muhammad SAW.

Dan terus berlanjut hingga terpecah menjadi beberapa golonga, adapun golongan yang di sepakati para ulama yang mana golongan tersebut mendekati kebenaran adalah golongan ahlu sunnah wal jama’ah.

Kesimpulan dari sejarah ini yang bisa kita ambil adalah, betapa pentingnya ilmu kalam atau yang di sebut dengan teologi pada kehidupan sehari hari, karena ini menyangkut keyakinan kita pada nabi muhammad SAW.

B. Saran

Masih banyak sekali kesalahan yang terdapat di dalam makalah ini, untuk itu kami memohon kritik dan saran kepada dosen pengampu dan teman teman sekalian.

xxi

(22)

DAFTAR PUSTAKA https://ilmukalamfauzan.blogspot.co.id

Mutolib, Abdul, dan Nok Aenul Latifah. 2014. Paham Ilmu Kalam 1:

Jakarta. PT Tiga Serangkai Pustaka Mandiri.

Rozaik, Abdul, dan Rosihon Anwar. 2016. Ilmu Kalam: Bandung. CV PUSTAKA SETIA.

https://www.fikriamiruddin.com/2020/08/sejarah-ilmu-kalam.html

Nurcholish Madjid (Ed.), Khazanah Intelektual Islam (Jakarta: Pustaka Pelajar, 1994), 10

Kitab kifayatul awam fil ilmi kalam

Munawir Sjadzali, Islam dan Tata Negara: Ajaran, Sejarah dan Pemikiran (Jakarta: UI-Press, 1993),

Kitab Nurul Yaqin Fi Shiroti Sayyidil Mursalin Madjid (Ed.), Khazanah Intelektual Islam,

Jahja, Teologi al-Ghazali, ; Madjid (Ed.), Khazanah Intelektual Islam, 22..

xxii

Referensi

Dokumen terkait

KATA PENGANTAR Assamu’alaikumwarahmatullahiwabarakatuh, Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, yang sudah melimpahkan rahmat, taufik, dan hidayahnya sehingga penulis dapat

viii KATA PENGANTAR Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh Alhamdulillahirabbilalamin segala puja dan puji syukur kepada Allah SWT atas segala rahmat, dan hidayahnya yang

KATA PENGANTAR Assalamualaikum Warahmatullahi Wabaraktuh Allhumdulillahirabbil‟alamin, Segala puji syukur terhadap Allah SWT berkat rahmat serta hidayahnya yang di curahkan kepada

vii KATA PENGANTAR Bismillaahirrahmaanirrahim, Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah memberikan kekuatan, rahmat, serta hidayahnya, sehingga dapat saya menyelesaikann Laporan

vii KATA PENGANTAR Bismillahirrahmaanirrahim Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah memberikan kekuatan, rahmat, serta hidayahnya, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi

KATA PENGANTAR Alhamdulillah dengan segala puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan Hidayahnya sehingga penulis dapat menyelesaikan penyusunan

viii KATA PENGANTAR Alhamdulillah Puji syukur penulis panjatkan kehadirat ALLAH SWT yang telah melimpahkan rahmat, berkah, serta hidayahNya, sehingga penulis bisa menyelesaikan

iii KATA PENGANTAR Alhamdulillah, Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan hidayahNya, serta keridhoanNya, sehingga saya dapat menyelesaikan skripsi ini