SIKAP PERILAKU BELA NEGARA
A. Wawasan Kebangsaan dan Nilai-Nilai Bela Negara I. Wawasan Kebangsaan
Dalam mewujudkan tujuan nasional yang tercantum dalam alinea ke-4 Pembukaan UUD 1945, diperlukan ASN yang profesional, bebas dari intervensi politik, bersih dari korupsi, kolusi dan nepotisme. Untuk mencapai tujuan nasional tersebut, maka diperlukan langkah-langkah konkrit dengan memantapkan wawasan kebangsaan, menumbuhkembangkan kedasaran bela negara, dan mengimplementasikan Sistem Administrasi NKRI.
Wawasan kebangsaan merupakan aspek penting yang harus dipahami oleh setiap warga negara Indonesia. Wawasan kebangsaan dapat dimaknai sebagai cara pandang terhadap kehidupan berbangsa dan bernegara yang didasari dengan jati diri bangsa (nation character) dan kesadaran terhadap sistem nasional (nation system). Menjadi penting untuk memantapkan wawasan kebangsaan karena dapat menjadi sebuah bekal dalam mengawali pengabdian kepada Negara dan Bangsa.
Bela negara merupakan sebuah tekad, sikap, perilaku serta tindakan warga negara dalam menjaga kedaulatan negara, keutuhan wilayah, dan keselamatan bangsa dan negara yang dijiwai oleh kecintaannya kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia. Kesadaran bela Negara perlu ditumbuhkembangkan sebagai hak sekaligus kewajiban warga negara.
Dasar bela Negara dapat diaktualisasikan dalam kehidupan sehari-hari dengan menanamkan nilai-nilai yang meliputi cinta tanah air, sadar berbangsa dan bernegara, setia pada Pancasila sebagai ideologi negara, rela berkorban untuk bangsa dan negara, dan kemampuan awal bela Negara.
Berdasarkan perspektif sejarah dapat diketahui bahwa para pendiri bangsa (founding fathers) mengutamakan kepentingan bersama di atas kepentingan kelompok atau golongan.
Serangkaian fakta sejarah dapat dijadikan bukti pembelajaran bahwa Kebangsaan Indonesia terbangun dari serangkaian proses panjang yang didasarkan atas kesepakatan dan pengakuan terhadap keberagaman. Pergerakan kebangsaan Indonesia mencapai titik puncaknya pada tanggal 17 Agustus 1945 dengan momentum Proklamasi Kemerdekaan Indonesia.
Beberapa titik penting dalam sejarah bangsa Indonesia, yaitu dengan berdirinya beberapa organisasi, yaitu :
1. Boedi Oetomo, 20 Mei 1908
2. Perhimpunan Indonesia (PI), 25 Oktober 1908 3. Kongres Pemuda I, 30 April 1926
4. Kongres Pemuda II, 27-28 Oktober 1928
5. Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI), 1 Maret 1945
6. PPKI, 7 Agustus 1945. Dalam sidangnya tanggal 18 Agustus 1945, PPKI sebagai pembentuk negara, menetapkan UUD 1945, dasar negara dan tujuannya
Sejak awal pergerakan nasional, kesepakatan-kesepakatan tentang kebangsaan terus mengalami perkembangan hingga menghasilkan 4 (empat) konsensus dasar yang terdiri dari Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika. Berikut penjelasan masing- masing.
Pancasila merupakan philosofisce grondslag, suatu fundamen, filsafat, pikiran sedalam-dalamnya, dan landasan atau dasar bagi negara merdeka. Pancasila berfungsi sebagai bintang pemandu atau leitsar sebagai ideologi nasional, sebagai pandangan hidup,
pemersatu bangsa dan sebagai wawasan pokok bangsa Indonesia dalam mencapai cita-cita nasional.
Undang-Undang Dasar 1945 memiliki gagasan konstitusionalisme yakni fungsi khas untuk membatasi kekuasaan pemerintah sehingga penyelenggaraan kekuasaan tidak bersifat sewenang-wenang dan hak warga negara terlindungi. Dijelaskan pula bahwa UUD 1945 menjadi kunci pokok dari sistem Pemerintah Negara, bahwa Indonesia adalah negara yang berdasar atas hukum (rechstaat) dan bukan berdasar atas kekuasaann belaka (machstaat).
NKRI memiliki tujuan yang telah tercantum dalam Pembukaan UUD 1945 alinea IV yang meliputi, melindungi segenap bangsa dan seluruh tumpah darah Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial.
Bhinneka Tunggal Ika merupakan pernyataan data kreatif atas keanekaragaman pada masa kerajaan Majapahit yang kemudian memberikan nilai inspiratif terhadap sistem pemerintahan pada masa kemerdekaan. Bhinneka Tunggal Ika memiliki pengertian luas bahwa meskipun Indonesia memiliki perbedaan kepercayaan, kegamaan, suku, bahasa, adat istiadat, kepulauan tetapi pada hakekatnya tetap satu kesatuan Negara Republik Indonesia.
Bendera Negara Sang Merah Putih, Bahasa Indonesia, Lambang Negara Garuda Pancasila dan Lagu Kebangsaan Indonesia Raya merupakan jati diri bangsa dan identitas Negara Kesatuan Republik Indonesia. Keempat simbol tersebut menjadi cerminan kedaulatan negara di dalam tata pergaulan dengan negara-negara lain serta cerminan atas kemandirian dan eksistensi negara Indonesia yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur.
B. Analisis Isu Kontemporer
I. Konsepsi perubahan lingkungan strategis;
Ditinjau dari pandangan Urie Brofenbrenner (Perron, N.C., 2017) ada empat level lingkungan strategis yang dapat mempengaruhi kesiapan PNS dalam melakukan pekerjaannya sesuai bidang tugas masing-masing, yakni: individu, keluarga (family), Masyarakat pada level lokal dan regional (Community/ Culture), Nasional (Society), dan Dunia (Global).
II. Isu-isu strategis kontemporer;
PNS dihadapkan pada pengaruh yang datang dari eksternal juga internal yang kian lama kian menggerus kehidupan berbangsa dan bernegara (pancasila, UUD 1945, NKRI dan Bhinneka Tunggal Ika) sebagai konsensus dasar berbangsa dan bernegara. Fenomena- fenomena tersebut menjadikan pentingnya setiap PNS mengenal dan memahami secara kritis terkait dengan isu-isu kritikal yang terjadi saat ini atau bahkan berpotensi terjadi, isu- isu tersebut diantaranya; bahaya paham radikalisme/ terorisme, bahaya narkoba, cyber crime, money laundry, korupsi, proxy war.
III. Teknis analisis isu-isu dengan menggunakan kemampuan berpikir kritis.
Dalam menghadapi perubahan lingkungan strategis diperlukan modal insani yang merupakan suatu bentuk modal yang tercermin dalam bentuk pengetahuan, gagasan (ide), kreativitas, keterampilan, dan produktivitas kerja. Ada 6 modal insani, yaitu intelektual, emosional, sosial, ketabahan (adversity), etika/moral, dan kesehatan (kekuatan) fisik/jasmani.
C. Kesiapsiagaan Bela Negara
I. Kerangka Kesiapsiagaan Bela Negara a. Konsep Kesiapsiagaan Bela Negara
Kesiapsiagaan Bela Negara adalah suatu keadaan siap siaga yang dimiliki oleh seseorang baik secara fisik, mental, maupun sosial dalam menghadapi situasi kerja yang beragam yang dilakukan berdasarkan kebulatan sikap dan tekad secara Ikhlas dan sadar
disertai kerelaan berkorban sepenuh jiwa raga yang dilandasi oleh kecintaan terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) berdasarkan Pancasila dan UUD Tahun 1945 untuk menjaga, merawat, dan menjamin kelangsungan hidup berbangsa dan bernegara”.
b. Kesiapsiagaan Bela Negara Dalam Latsar CPNS
Bentuk kesiapsiagaan dimaksud adalah kemampuan setiap CPNS untuk memahami dan melaksanakan kegiatan olah rasa, olah pikir, dan olah tindak dalam pelaksanaan kegiatan keprotokolan yang di dalamya meliputi pengaturan tata tempat, tata upacara (termasuk kemampuan baris berbaris dalam pelaksaan tata upacara sipil dan kegiatan apel), tata tempat, dan tata penghormatan yang berlaku di Indonesia sesuai peraturan perundangan-undangan yang berlaku.
c. Manfaatan Kesiapsiagaan Bela Negara
Manfaat kegiatan kesiapsiagaan bela negara antara lain:
1. Membentuk sikap disiplin waktu, aktivitas, dan pengaturan kegiatan lain.
2. Membentuk jiwa kebersamaan dan solidaritas antar sesama rekan seperjuangan.
3. Membentuk mental dan fisik yang tangguh.
4. Menanamkan rasa kecintaan pada bangsa dan patriotisme sesuai dengan kemampuan diri.
5. Melatih jiwa leadership dalam memimpin diri sendiri maupun kelompok dalam materi Team Building.
6. Membentuk Iman dan taqwa pada agama yang dianut oleh individu.
7. Berbakti pada orang tua, bangsa, agama.
8. Melatih kecepatan, ketangkasan, ketepatan individu dalam melaksanakan kegiatan.
9. Menghilangkan sikap negatif seperti malas, apatis, boros, egois, tidak disiplin.
10. Membentuk perilaku jujur, tegas, adil, tepat, dan kepedulian antar sesama II. Kemampuan Awal Bela Negara
Salah satu nilai-nilai dasar bela negara adalah memiliki kemampuan awal bela negara, baik secara fisik maupun non fisik. Secara fisik dapat ditunjukkan dengan cara menjaga kesamaptaan (kesiapsiagaan) diri yaitu dengan menjaga kesehatan jasmani dan rohani. Sedangkan secara non fisik, yaitu dengan cara menjaga etika, etiket, moral dan memegang teguh kearifan lokal yang mengandung nilai-nilai jati diri bangsa yang luhur dan terhormat
III. Rencana Aksi Bela Negara
Aksi Nasional Bela Negara adalah sinergi setiap warga negara guna mengatasi segala macam ancaman, gangguan, hambatan, dan tantangan dengan berlandaskan pada nilai-nilai luhur bangsa untuk mewujudkan negara yang berdaulat, adil, dan makmur.
a. Program Rencana Aksi
Sebagai bentuk yuridis dalam modul pembelajaran Agenda Bela Negara ini yang tertuang dalam Inpres No. 7 Tahun 2018 mengamanatkan setiap K/L dan Pemda untuk melaksanakan program-program Aksi Nasional Bela Negara yang aplikatif sesuai dengan spesifikasi, tugas dan fungsinya masing-masing dan melibatkan seluruh komponen bangsa dan mencakup seluruh segmentasi masyarakat. Wujud aktualisasi dari nilai-nilai Bela Negara
yang dijabarkan dalam bentuk rencana kegiatan Bela Negara yang akan dilakukan oleh peserta baik selama on campus di lembaga diklat maupun selama off campus di instansi tempat bekerja peserta masing-masing.
b. Penyusunan Rencana Aksi Bela Negara
Sebagai wujud internalisasi dari nilai-nilai Bela Negara, maka tugas membuat Rencana Aksi tersebut yang diberikan kepada peserta Latsar CPNS merupakan bagian unsur penilaian Sikap Perilaku Bela Negara selama mengikuti Pelatihan Dasar Calon Pegawai Negeri Sipil
c. Kegiatan Kesiapsiagaan Bela Negara
Kegiatan Kesiapsiagaan Bela Negara meliputi Baris Berbaris dan Tata Upacara, Keprotokolan, Kewaspadaan Diri, Membangun Tim Caraka Malam dan Api Semangat Bela Negara
NILAI-NILAI DASAR PNS
Berdasarkan Surat Edaran (SE) Menteri PANRB Nomor 20 Tahun 2021 tanggal 26 Agustus 2021 tentang Implementasi Core Values dan Employer Branding Aparatur Sipil Negara, disebutkan bahwa dalam rangka penguatan budaya kerja sebagai salah satu strategi transformasi pengelolaan ASN menuju pemerintahan berkelas dunia (World Class Government), Pemerintah telah meluncurkan Core Values (Nilai-Nilai Dasar) ASN BerAKHLAK dan Employer Branding (Bangga Melayani Bangsa). Core Values tersebut seharusnya dapat dipahami dan dimaknai sepenuhnya oleh seluruh ASN serta dapat diimplementasikan dalam pelaksanaan tugas dan kehidupan sehari-hari.
1. Berorientasi Pelayanan
Pelayanan publik merupakan kegiatan atau rangkaian kegiatan yang diselenggarakan dalam rangka pemenuhan kebutuhan pelayanan sesuai dengan peraturan perundang-undangan bagi setiap warga negara atas barang, jasa, dan/atau pelayanan administratif yang disediakan oleh penyelenggara pelayanan publik. Terdapat tiga unsur penting yang harus diperhatikan sebelum pelayanan publik diselenggarakan, ketiga unsur tersebut adalah ASN sebagai penyelenggara, publik dan masyarakat sebagai penerima layanan, dan kepuasan masyarakat masyarakat ketika mendapatkan pelayanan mengingat bahwa pelayanan publik merupakan hak warga negara sebagai amanat konstitusi.
Dalam realisasinya, pelayanan publik harus dapat diselenggarakan secara prima.
Pentingnya pelayanan prima didasari oleh beberapa alasan bahwa dengan pelayanan yang prima akan diperoleh kepuasan pelanggan yang berguna sebagai sarana untuk menghadapi kompetisi di masa yang akan datang, kepuasan pelanggan merupakan aset terpenting yang akan menjamin pertumbuhan dan perkembangan organisasi dan pada akhirnya akan membuat pelangga kembali (customer retention).
Untuk memberikan peningkatan dalam mewujudkan pelayanan prima terdapat statetgi-strategi yang berlandaskan UU Nomor 25 Tahun 2009 tentang Pelayanan Publik, diantaranya yakni menerapkan standar pelayanan dan maklumat pelayanan, melaksanakan survei kepuasan masyarakat minimal 1 tahun sekali, pengelolaan pengaduan masyarakat, menyediakan sarana dan prasaran pelayanan, pengembangan inovasi, replikasi best practice dan perbaikan berkelanjutan. Adapun prinsip dalam pelayanan publik yang juga harus diperhatikan, yakni partisipatif, transparan, responsif, tidak diskriminatif, mudah dan murah, efektif dan efisien, aksesibel, akuntabel, dan berkeadilan.
Berdasarkan Surat Edaran (SE) Menteri PAN-RB Nomor 20 Tahun 2021 tentang Implementasi Core Values dan Employer Branding Aparatur Sipil Negara, disebutkan bahwa Pemerintah telah meluncurkan Core Values (Nilai-Nilai Dasar) ASN BerAKHLAK dan Employer Branding (Bangga Melayani Bangsa).
Core values Berorientasi Pelayanan memiliki makna bahwa ASN sebagai pelayan publik harus berkomitmen untuk memberikan pelayanan prima demi kepuasan masyarakat sebagaimana konsep pelayanan publik yang diberlakukan sesuai peraturan perundang- undangan.
Secara lebih operasional, Berorientasi Pelayanan dapat dijabarkan dengan beberapa kriteria, yakni ASN harus memiliki kode etik (code of ethics), ASN harus mematuhi kode perilaku (code of conducts), dan ASN harus menerapkan budaya pelayanan
dan melayani sebagai suatu kebanggaan. Adapun beberapa bentuk perilaku dari nilai Berorientasi Pelayanan diantaranya yakni memahami dan memenuhi kebutuhan masyarakat ; ramah, cekatan, solutif, dan dapat diandalkan ; melakukan perbaikan tiada henti
2. Akuntabel
Akuntabilitas adalah kewajiban untuk bertanggung jawab kepada seseorang/organisasi yang memberikan amanat. Dalam konteks ASN, akuntabilitas adalah kewajiban untuk mempertanggungjawabkan segala tindak dan tanduknya sebagai pelayan publik kepada atasan, lembaga pembina, dan lebih luasnya kepada publik.
Core values Akuntabilitas dapat dijabarkan ke dalam beberapa perilaku diantaranya yakni, kemampuan melaksanakan tugas dengan jujur, bertanggung jawab, cermat, disiplin, dan berintegritas tinggi ; kemampuan menggunakan kekayaan dan barang milik negara secara bertanggung jawa, efektif, dan efisien ; dan kemampuan menggunakan kewenangan jabatannya dengan berintegritas tinggi.
Aspek-Aspek akuntabilitas meliputi akuntabilitas adalah sebuah hubungan (accountability is relationship), akuntabilitas berorientasi pada hasil (accountability is result-oriented), akuntabilitas membutuhkan adanya laporan (accountability requires reporting), akuntabilitas memerlukan konsekuensi (accountability is meaningless without consequences), dan akuntabilitas memperbaiki kinerja (accountability improves performance).
3. Kompeten
Kompetensi merupakan perpaduan aspek pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang terindikasikan dalam kemampuan dan perilaku seseorang sesuai tuntutan pekerjaan.
Untuk mengoptimalisasi hak akses pengembangan kompetensi maka dapat dilakukan dengan pendekatan pelatihan non klasikal, diantaranya e-learning, job enrichment, dan job enlargment termasuk coaching dan mentoring.
Core values kompeten dapat dijabarkan ke dalam beberapa perilaku diantaranya yakni, meningkatkan kompetensi diri untuk menjawab tantangan yang selalu berubah, membantu orang lain belajar, dan melaksanakan tugas dengan kualitas terbaik. Terdapat tiga bentuk kompetensi ASN, yakni kompetensi teknis diukur dari tingkat dan spesialisasi pendidikan, pelatihan teknis fungsional dan pengalaman bekerja secara teknis ; kompetensi manajerial yang diukur dari tingkat pendidikan, pelatihan struktural atau manajemen dan pengalaman kepemimpinan ; dan kompetensi sosial kultural diukur dari pengalaman kerja berkaitan dengan masyarakat majemuk dalam hal agama, suku, budaya sehingga memiliki wawasasn kebangsaan.
Perilaku kompeten diharapkan dapat menjadi bagian ecosystem pembangunan budaya instansi pemerintah sebagai instansi pembelajar (organizational learning) guna mewujudkan pemerintahan yang unggul dan kompetitif sejalan dengan perubahan lingkungan strategis dan teknologi yang berubah cepat.
4. Harmonis
Harmonis merupakan kerja sama antara berbagai faktor dengan sedemikian rupa hingga faktor-faktor tersebut dapat menghasilkan suatu kesatuan yang luhur.
Core values harmonis dapat dijabarkan ke dalam beberapa bentuk perilaku diantaranya yakni, bersikap netral dan adil ; dapat mengayomi kepentingan kelompok minoritas dengan tidak membuat kebijakan yang mendiskriminasi keberadaan kelompok tersebut ; memiliki sikap toleran atas perbedaan ; bersikap tolong menolong baik kepada pengguna layanan maupun kepada kolega ; dan menjadi figur dan teladan di lingkungan masyarakat.
Penting untuk menciptakan suasana harmoni dalam lingkungan kerja, karena iklim kerja yang harmonis akan membuat kita secara individu tenang, dapat menciptakan kondisi yang memungkinkan untuk saling kolaborasi dan bekerja sama, meningkatkan produktifitas bekerja dan kualitas layanan kepada pelanggan.
5. Loyal
Loyal merupakan sebuah sikap dedikasi dan mengutamakan kepentingan bangsa dan negara. Terdapat beberapa kata kunci yang dapat digunakan untuk mengaktualisasikan nilai loyal, yakni komitmen, dedikasi, kontribusi, nasionalisme, dan pengabdian.
Core values loyal dapat dijabarkan ke dalam beberapa bentuk perilaku diantaranya yakni, memegang teguh ideologi Pancasila Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia tahun 1945 ; setia kepada NKRI serta pemerintahan yang sah ; menjaga nama baik sesama ASN, pimpinan instansi dan negara ; dan menjaga rahasia jabatan dan negara.
Sebagai wujud loyalitasnya, seorang ASN ketika melaksanakan berbagai kebijakan publik hendaknya senantiasa mengutamakan kepentingan publik dan masyarakat, mengutamakan pelayanan yang berorientasi pada kepentingan publik, berintegritas tinggi dalam menjalankan tugas, dan mengutamakan mutu pelayanan.
6. Adaptif
Adaptif merupakan suatu proses yang menempatkan manusia yang berupaya mencapai tujuan-tujuan atau kebutuhan untuk menghadapi lingkungan dan kondisi sosial yang berubah-ubah agar tetap bertahan.
Core values adaptif dapat dijabarkan ke dalam beberapa bentuk perilaku diantaranya yakni, terus mengasah pengetahuan hingga ke tingkat mahir (personal mastery) ; berkomunikasi secara rutin hingga memiliki persepsi yang sama terhadap suatu visi yang akan dicapai bersama (shared vision) ; memiliki mental model yang mencerminkan realitas yang organisasi ingin wujudkan ; selalu sinergis dalam melaksanakan kegiatan-kegiatan untuk mewujudkan visi (team learning) ; harus berpikir sistemik, tidak kaca mata kuda atau bermental silo (system thinking).
Penerapan budaya adaptif yang dapat dilakukan adalah dengan mengantisipasi dan beradaptasi dengan perubahan lingkungan, memanfaatkan peluang yang berubah-ubah, mendorong jiwa kewirausahaan, terkait dengan kinerja instansi dan memperhatikan kepentingan-kepentingan yang diperlukan antara instansi mitra dan masyarakat.
7. Kolaboratif
Kolaboratif merupakan sebuah nilai yang dihasilkan dari proses aliansi dua atau lebih perusahaan dengan tujuan untuk menjadi lebih kompetitif dengan mengembangkan kegiatan bersama. sementara itu, dalam kolaborasi pemerintahan (collaborative governance) merupakan sebuah proses yang melibatkan norma bersama dan interaksi saling menguntungkan antar aktor governanve.
Whole-of-Government merupakan sebuah pendekatan penyelenggaraan pemerintahan yang menyatukan upaya-upaya kolaboratif pemerintahan dari keseluruhan sektor dalam ruang lingkup koordinasi yang lebih luas guna mencapai tujuan pembangunan kebijakan, manajemen program dan pelayanan publik. Oleh karenanya WoG juga dikenal sebagai pendekatan interagency, yaitu pendekatan yang melibatkan sejumlah kelembagaan yang terkait dengan urusan-urusan yang relevan. Dengan makna yang lebih sederhana, WoG dapat dipandang sebagai bagaimana suatu instansi pelayanan publik bekerja lintas batas atau lintas sektor guna mencapai tujuan bersa,a.
Core values kolaboratif dapat dijabarkan ke dalam beberapa aktivitas organisasi diantaranya yakni, kerjasama informal ; perjanjian bantuan bersama ; memberikan pelatihan ; menerima pelatihan ; perencanaan bersama ; menyediakan peralatan ; menerima
peralatan ; memberikan bantuan teknis ; menerima bantuan teknis ; memberikan pengelolaan hibah dan menerima pengelolaan hibah.
KEDUDUKAN DAN PERAN PNS DALAM NKRI
I. SMART ASN a. Literasi Digital
Konsep literasi digital telah lama berkembang seiring dengan perkembangan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK). Menurut definisi UNESCO dalam modul UNESCO Digital Literacy Framework (Law, dkk., 2018) literasi digital adalah kemampuan untuk mengakses, mengelola, memahami, mengintegrasikan, mengkomunikasikan, mengevaluasi, dan menciptakan informasi secara aman dan tepat melalui teknologi digital untuk pekerjaan, pekerjaan yang layak, dan kewirausahaan. Ini mencakup kompetensi yang secara beragam disebut sebagai literasi komputer, literasi TIK, literasi informasi dan literasi media.
b. Pilar Literasi Digital
Terdapat tiga pilar utama dalam Indonesia Digital Nation, yaitu masyarakat digital yang dibarengi pula dengan pemerintah digital dan ekonomi digital. Masyarakat digital meliputi aktivitas, penggunaan aplikasi, dan penggunaan infrastruktur digital.
Pemerintah digital meliputi regulasi, kebijakan, dan pengendalian sistem digital.
Sementara itu, ekonomi digital meliputi aspek SDM digital, teknologi penunjang, dan riset inovasi digital.
Literasi digital memiliki 4 pilar wajib sebagai kerangka kurikulum literasi digital yang harus dikuasai oleh para peserta CPNS yang terdiri dari etika (ethics), keamanan (safety), budaya (culture), dan kecakapan (skill) dalam bermedia digital. Kerangka kurikulum literasi digital ini digunakan sebagai metode pengukuran tingkat kompetensi kognitif dan afektif masyarakat dalam menguasai teknologi digital.
Nilai-nilai Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika yang dimasukkan dalam kerangka literasi digital dapat diklasifikasikan menjadi dua pokok besar, yaitu:
1. Pemahaman Nilai-Nilai Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika sebagai Landasan Kecakapan Digital Dalam Kehidupan Berbudaya, Berbangsa dan Bernegara. Adapun kompetensi yang dibutuhkan adalah Cakap Paham.
2. Internalisasi (Penerapan) Nilai-Nilai Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika di Ruang Digital. Adapun kompetensi yang dibutuhkan adalah Cakap Produksi, Cakap Distribusi, Cakap Partisipasi dan Cakap Kolaborasi
c. Implementasi dan Implikasi Literasi Digital
1. Digital skill merupakan Kemampuan individu dalam mengetahui, memahami, dan menggunakan perangkat keras dan piranti lunak TIK serta sistem operasi digital dalam kehidupan sehari-hari.
2. Digital culture merupakan Kemampuan individu dalam membaca, menguraikan, membiasakan, memeriksa, dan membangun wawasan kebangsaan, nilai Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika dalam kehidupan sehari-hari dan digitalisasi kebudayaan melalui pemanfaatan TIK.
3. Digital ethics merupakan Kemampuan individu dalam menyadari, mencontohkan, menyesuaikan diri, merasionalkan, mempertimbangkan, dan mengembangkan tata kelola etika digital (netiquette) dalam kehidupan sehari-hari.
4. Digital safety merupakan Kemampuan User dalam mengenali, mempolakan, menerapkan, menganalisis, menimbang dan meningkatkan kesadaran pelindungan data pribadi dan keamanan digital dalam kehidupan sehari-hari.
II. MANAJEMEN ASN
Manajemen ASN adalah pengelolaan ASN untuk menghasilkan Pegawai ASN yang professional, memiliki nilai dasar, etika profesi, bebas dari intervensi politik, bersih dari praktik korupsi, kolusi, dan nepotisme. Manajemen ASN lebih menekankan kepada pengaturan profesi pegawai sehingga diharapkan agar selalu tersedia sumber daya aparatur sipil Negara yang unggul selaras dengan perkembangan jaman
a. Kedudukan, peran, hak dan kewajiban, dan kode etik ASN
Pegawai ASN berkedudukan sebagai aparatur negara yang menjalankan kebijakan yang ditetapkan oleh pimpinan instansi pemerintah serta harus bebas dari pengaruh dan intervensi semua golongan dan partai politik.
Peran ASN Untuk menjalankan kedudukannya tersebut, maka Pegawai ASN berfungsi sebagai berikut: 1) Pelaksana kebijakan publik; 2) Pelayan publik; dan 3) Perekat dan pemersatu bangsa.
Hak PNS dan PPPK yang diatur dalam UU ASN sebagai berikut:
PNS berhak memperoleh: 1) gaji, tunjangan, dan fasilitas; 2) cuti; 3) jaminan pensiun dan jaminan hari tua; 4) perlindungan; dan 5) pengembangan kompetensi. Sedangkan PPPK berhak memperoleh: 1) gaji dan tunjangan; 2) cuti; 3) perlindungan; dan 4) pengembangan kompetensi.
Kewajiban pegawai ASN yang disebutkan dalam UU ASN adalah: 1) setia dan taat pada Pancasila, Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia, dan pemerintah yang sah; 2) menjaga persatuan dan kesatuan bangsa;
3) melaksanakan kebijakan yang dirumuskan pejabat pemerintah yang berwenang; 4) menaati ketentuan peraturan perundang-undangan; 5) melaksanakan tugas kedinasan dengan penuh pengabdian, kejujuran, kesadaran, dan tanggung jawab; 6) menunjukkan integritas dan keteladanan dalam sikap, perilaku, ucapan dan tindakan kepada setiap orang, baik di dalam maupun di luar kedinasan;7) menyimpan rahasia jabatan dan hanya dapat mengemukakan rahasia jabatan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan;
dan 8) bersedia ditempatkan di seluruh wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Kode etik dan kode perilaku berisi pengaturan perilaku agar Pegawai ASN: 1) melaksanakan tugasnya dengan jujur, bertanggungjawab, dan berintegritas tinggi; 2) melaksanakan tugasnya dengan cermat dan disiplin; 3) melayani dengan sikap hormat, sopan, dan tanpa tekanan; 4) melaksnakan tugasnya sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan 5) melaksnakan tugasnya sesuai dengan perintah atasan atau Pejabat yang Berwenang sejauh tidak bertentangan dengan ketentuan peraturan perundang- undangan dan etika pemerintahan; 15 Manajemen ASN 6) menjaga kerahasian yang menyangkut kebijakan Negara; 7) menggunakan kekayaan dan barang milik Negara secara bertanggungjawab, efektif, dan efisien; 8) menjaga agar tidak terjadi konflik kepentingan dalam melaksanakan tugasnya; 9) memberikan informasi secara benar dan tidak menyesatkan kepada pihak lain yang memerlukan informasi terkait kepentingan kedinasan;
10) tidak menyalahgunakan informasi intern Negara, tugas, status, kekuasaan, dan jabatannya untuk mendapat atau mencari keuntungan atau manfaat bagi diri sendiri atau untuk orang lain; 11) memegang teguh nilai dasar ASN dan selalu menjaga reputasi dan integritas ASN; dan 12) melaksanakan ketentuan peraturan perundangundangan mengenai disiplin Pegawai ASN.
b. Konsep sistem merit dalam pengelolaan ASN
Sistem merit pada dasarnya adalah konsepsi dalam manajemen SDM yang menggambarkan diterapkannya obyektifitas dalam keseluruhan semua proses dalam pengelolaan ASN yakni pada pertimbangan kemampuan dan prestasi individu untuk melaksanakan pekerjaanya (kompetensi dan kinerja). Merit sistem adalah salah satu strategi untuk mendorong produktivitas kerja lebih tinggi karena ASN dijamin obyektivitasnya dalam perjalanan kariernya. Manajemen menyediakan kondisi dimana berbagai kebijakan dan manajemen SDM dilakukan dan didasari pada pertimbangan kualifikasi, kompetensi, dan kinerja secara adil dan wajar, tanpa membedakan latar belakang politik, ras, warna kulit, agama, asal usul, jenis kelamin, status pernikahan, umur ataupun kondisi kecacatan.
c. Mekanisme pengelolaan ASN
Manajemen ASN terdiri dari Manajemen PNS dan Manajemen PPPK
1. Manajemen PNS meliputi penyusunan dan penetapan kebutuhan, pengadaan, pangkat dan jabatan, pengembangan karier, pola karier, promosi, mutasi, penilaian kinerja, penggajian dan tunjangan, penghargaan, disiplin, pemberhentian, jaminan pensisun dan hari tua, dan perlindungan
2. Manajemen PPPK meliputi penetapan kebutuhan; pengadaan; penilaian kinerja;
penggajian dan tunjangan; pengembangan kompetensi; pemberian penghargaan;
disiplin; pemutusan hubungan perjanjian kerja; dan perlindungan.
Pengelolaan Jabatan Pimpinan Tinggi, Organisasi dan Sistem Informasi.
1) Pengelolaan Jabatan Pimpinan Tinggi
Pengisian jabatan pimpinan tinggi utama dan madya pada kementerian, kesekretariatan lembaga negara, lembaga nonstruktural, dan Instansi Daerah dilakukan secara terbuka dan kompetitif di kalangan PNS dengan memperhatikan syarat kompetensi, kualifikasi, kepangkatan, pendidikan dan latihan, rekam jejak jabatan, dan integritas serta persyaratan lain yang dibutuhkan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
2) Organisasi
Pegawai ASN berhimpun dalam wadah korps profesi Pegawai ASN Republik Indonesia.
Korps profesi Pegawai ASN Republik Indonesia memiliki tujuan:
a) menjaga kode etik profesi dan standar pelayanan profesi ASN;
b) mewujudkan jiwa korps ASN sebagai pemersatu bangsa 3) Sistem Informasi
Sistem Informasi ASN memuat seluruh informasi dan data Pegawai ASN. Data Pegawai ASN paling kurang memuat: 1. data riwayat hidup; 2. riwayat pendidikan formal dan non formal; 3. riwayat jabatan dan kepangkatan; 4. riwayat penghargaan, tanda jasa, atau tanda kehormatan; 5. riwayat pengalaman berorganisasi; 6. riwayat gaji; 7. riwayat pendidikan dan latihan; 8. daftar penilaian prestasi kerja; 9. surat keputusan; dan kompetensi.
JURNAL MOOC PPPK ARYA EKA KUNCORO HADI NIP : 19840624202211001 NIK : 3578102406840004