DISKUSI 6 SOAL 1
Putusan MK Nomor 77/PUU-XII/2014 pada prinsipnya secara konstitusional masih mempertahankan keberlakuan yuridis Pasal 69 UU TPPU 2010. Dalam konsideran putusan MK a quo dinyatakan bahwa suatu ketidakadilan seseorang yang sudah nyata menerima keuntungan dari tindak pidana pencucian uang tidak diproses pidana hanya karena tindak pidana asalnya belum dibuktikan terlebih dahulu.
Apakah penyidikan terhadap Tindak Pidana Pencucian Uang dan tindak pidana asal dapat dilakukan perbarengan secara bersamaan?
Jawab :
Penyidikan terhadap Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU) dan tindak pidana asal dapat dilakukan secara bersamaan. Meskipun Putusan Mahkamah Konstitusi (MK) Nomor 77/PUU-XII/2014 menyatakan bahwa ketidakadilan terjadi ketika seseorang tidak diproses pidana atas tindak pidana pencucian uang hanya karena tindak pidana asal belum dibuktikan terlebih dahulu, hal ini tidak menghalangi penyidikan dilakukan secara bersamaan.
Dalam putusan tersebut, MK menyatakan bahwa pembuktian tindak pidana asal tidak harus dilakukan terlebih dahulu sebelum melakukan penyidikan terhadap TPPU. Dengan demikian, penyidikan terhadap TPPU dan tindak pidana asal dapat dilakukan secara paralel atau bersamaan. Penyidikan TPPU dapat dimulai dan dilanjutkan meskipun tindak pidana asalnya belum dibuktikan. Sedangkan dalam praktiknya, penyidikan TPPU dan tindak pidana asal sering kali saling terkait. Bukti dan informasi yang dikumpulkan dalam penyidikan TPPU sering kali akan digunakan untuk membuktikan tindak pidana asal yang terkait dengan uang yang dicuci. Begitu pula sebaliknya, hasil penyidikan tindak pidana asal dapat menjadi dasar atau bukti dalam menyelidiki TPPU. Sistem hukum dan prosedur penyidikan dapat bervariasi antara negara-negara dan terdapat perbedaan dalam penerapan hukum antar yurisdiksi.
SOAL 2
Sanksi pidana di dalam hukum lingkungan mencakup 2 macam kegiatan yakni: Perbuatan mencemari lingkungan dan Perbuatan Merusak lingkungan. Coba saudara diskusikan kedua hal tersebut dan berikan contoh kasus masing- masing?
Jawab :
Pencemaran lingkungan hidup menurut Pasal 1 angka 14 Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup (“UU PPLH”) adalah masuk atau dimasukkannya makhluk hidup, zat, energi, dan/atau komponen lain ke dalam lingkungan hidup oleh kegiatan manusia sehingga melampaui baku mutu lingkungan hidup yang telah ditetapkan. Sanksi pidana di dalam hukum lingkungan mencakup perbuatan mencemari lingkungan dan perbuatan merusak lingkungan. Berikut adalah diskusi singkat mengenai kedua hal tersebut beserta contoh kasus yang relevan:
1. Perbuatan Mencemari Lingkungan:
Perbuatan mencemari lingkungan terjadi ketika seseorang atau suatu kegiatan menyebabkan polusi atau pencemaran terhadap lingkungan hidup. Pencemaran dapat terjadi pada udara, air, tanah, atau lingkungan alam lainnya. Contoh kegiatan yang dapat masuk dalam kategori ini termasuk:
• Pembuangan limbah industri yang mencemarkan sungai atau laut.
• Emisi gas buang dari kendaraan bermotor yang mencemari udara.
• Penyebab kebakaran hutan yang menghasilkan asap dan polutan berbahaya.
Contoh Kasus :
Sebagai contoh kasus pencemaran limbah dalam Putusan Pengadilan Negeri Surabaya Nomor:
3628/Pid.B/2011/PN.SBY. Dalam putusan ini, Terdakwa merupakan wakil dari sebuah perusahaan yang terbukti secara sah melakukan dumping limbah industri ke media lingkungan hidup tanpa izin sehingga menyebabkan sungai tercemar. Untuk itu, Majelis Hakim menghukum terdakwa dengan pidana penjara selama 8 bulan dan pidana denda sebesar Rp 10 juta dengan ketentuan apabila denda tidak dibayarkan maka diganti dengan pidana kurungan selama 2 bulan.
2. Perbuatan Merusak Lingkungan:
Perbuatan merusak lingkungan terjadi ketika seseorang atau suatu kegiatan secara langsung menghancurkan, merusak, atau mengubah ekosistem alami yang dapat mengganggu keseimbangan lingkungan hidup. Contoh kegiatan yang masuk dalam kategori ini meliputi:
• Pembabatan hutan secara ilegal yang mengakibatkan kerusakan habitat flora dan fauna.
• Penambangan ilegal yang merusak lapisan tanah dan ekosistem terestrial.
• Pengerukan pantai yang mengakibatkan erosi dan kerusakan ekosistem pesisir.
Contoh Kasus :
Gugatan ganti rugi dapat dilihat pada Putusan Pengadilan Negeri Tanjung Pinang Nomor:
26/Pdt.G/2009/PN.TPI. Gugatan ini merupakan gugatan perwakilan kelompok terhadap Para Tergugat yang melakukan penambangan dan penimbunan dermaga yang mengakibatkan pencemaran terhadap air laut dan ekosistem laut serta menimbulkan kematian ikan dan habitat laut tempat mata pencaharian Para Penggugat. Untuk itu, Majelis Hakim menyatakan tindakan Para Tergugat yang mengakibatkan pencemaran terhadap air laut merupakan perbuatan melawan hukum dan menimbulkan kerugian materiil dan imateriil. Majelis Hakim mengabulkan gugatan Para Penggugat dan memerintahkan Tergugat I, Tergugat II, dan Tergugat III untuk membayar ganti rugi secara tanggung renteng kepada masing-masing Penggugat sebesar Rp. 2,88 miliar, dan ditambah dengan kerugian immaterial sebesar Rp 5 miliar, jadi total ganti rugi yang harus dibayarkan oleh tergugat sebesar Rp10,76 miliar.
Bahwa contoh-contoh tersebut dapat berbeda-beda tergantung pada yurisdiksi hukum yang berlaku.
Hukum lingkungan di setiap negara memiliki definisi dan ketentuan yang berbeda, oleh karena itu, kasus nyata dan sanksi pidana dapat bervariasi tergantung pada hukum yang berlaku di suatu negara atau wilayah tertentu.
Referensi :
https://www.hukumonline.com/klinik/a/hukuman-bagi-perusahaan-pelaku-pencemaran-lingkungan- lt57ff10d6bb0af/#_ftn1
SOAL 3
Pemeriksaan pajak untuk menguji kepatuhan pemenuhan kewajiban perpajakan (tax compliance) dilakukan dalam jangka waktu tertentu yang telah ditetapkan. Sebelum jangka waktu tersebut berakhir, pemeriksa pajak harus menyelesaikan proses pemeriksaan yang dilakukan terhadap wajib pajak. Lantas, bagaimana proses pemeriksaan tersebut diselesaikan?
Jawab :
Pengaturan mengenai penyelesaian pemeriksaan telah diatur dalam Peraturan Menteri Keuangan No.
17/PMK.03/2013 tentang Tata Cara Pemeriksaan yang telah diubah terakhir dengan Peraturan Menteri Keuangan No. 18/PMK.03/2021 (PMK 17/2013 jo PMK 18/2021). Mengacu pada Pasal 20 PMK 17/2013 jo PMK 18/2021, pemeriksaan lapangan atau pemeriksaan kantor untuk menguji kepatuhan pemenuhan kewajiban perpajakan diselesaikan dengan dua cara, yaitu :
1) Pertama, menghentikan pemeriksaan dengan membuat Laporan Hasil Pemeriksaan (LHP) Sumir.
2) Kedua, pemeriksaan dapat diselesaikan dengan membuat LHP yang menjadi dasar penerbitan surat ketetapan pajak (SKP) dan/atau surat tagihan pajak (STP) sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan. Dalam artikel ini, akan dijelaskan mengenai penyelesaian pemeriksaan dengan LHP yang menjadi dasar penerbitkan SKP dan/atau STP.
PROSES penyelesaian pemeriksaan dengan LHP diatur dalam Pasal 22 PMK 17/2013 jo PMK 18/2021.
Adapun penyelesaian pemeriksaan dengan membuat LHP dilakukan dalam hal atau kondisi sebagai berikut :
1) Wajib pajak yang dilakukan pemeriksaan ditemukan atau memenuhi panggilan pemeriksaan.
Selain itu, pemeriksaan dapat diselesaikan dalam jangka waktu pemeriksaan.
2) Wajib pajak yang dilakukan pemeriksaan ditemukan atau memenuhi panggilan pemeriksaan.
Selain itu, pengujian kepatuhan pemenuhan kewajiban perpajakan belum dapat diselesaikan sampai dengan berakhirnya perpanjangan jangka waktu pengujian pemeriksaan lapangan atau pemeriksaan kantor. Pemeriksaan lapangan atau pemeriksaan kantor yang pengujiannya belum rampung harus diselesaikan dengan menyampaikan SPHP dalam jangka waktu paling lama 7 hari kerja sejak berakhirnya perpanjangan jangka waktu pengujian pemeriksaan lapangan atau perpanjangan jangka waktu pengujian pemeriksaan kantor. Kemudian, dilanjutkan dengan tahapan pemeriksaan sampai dengan pembuatan LHP.
3) Wajib pajak yang dilakukan pemeriksaan sehubungan dengan permohonan pengembalian kelebihan pembayaran pajak sesuai Pasal 17B UU KUP tidak ditemukan dalam jangka waktu 6 bulan sejak tanggal Surat Pemberitahuan Pemeriksaan Lapangan diterbitkan. Kondisi lainnya adalah wajib pajak tidak memenuhi panggilan pemeriksaan dalam jangka waktu 4 bulan sejak tanggal Surat Panggilan Dalam Rangka Pemeriksaan Kantor diterbitkan.
4) Wajib pajak yang dilakukan pemeriksaan atas data konkret dengan pemeriksaan kantor sesuai Pasal 5 ayat (3) PMK 17/2013 jo PMK 18/2021 tidak memenuhi panggilan pemeriksaan dalam jangka waktu 1 bulan sejak tanggal Surat Panggilan Dalam Rangka Pemeriksaan Kantor diterbitkan.
5) Pemeriksaan lapangan atau pemeriksaan kantor yang ditangguhkan karena ditindaklanjuti dengan pemeriksaan bukti permulaan (Bukper) secara terbuka. Adapun pemeriksaan Bukper secara terbuka tersebut memenuhi salah satu kondisi berikut:
a. Dihentikan karena wajib pajak orang pribadi yang dilakukan pemeriksaan Bukper secara terbuka meninggal dunia;
b. Dihentikan karena tidak ditemukan adanya Bukper tindak pidana di bidang perpajakan;
c. Dilanjutkan dengan penyidikan namun penyidikannya dihentikan karena tidak terdapat cukup bukti, atau peristiwa tersebut bukan merupakan tindak pidana di bidang perpajakan, atau tersangka meninggal dunia sebagaimana dimaksud dalam Pasal 44A UU KUP; atau
d. Dilanjutkan dengan penyidikan dan penuntutan serta telah terdapat putusan pengadilan mengenai tindak pidana di bidang perpajakan yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap yang memutus bebas atau lepas dari segala tuntutan hukum dan salinan putusan pengadilan tersebut telah diterima oleh direktur jenderal pajak.
6) Pemeriksaan lapangan atau pemeriksaan kantor yang ditangguhkan karena ditindaklanjuti dengan penyidikan sebagai tindak lanjut pemeriksaan Bukper secara tertutup dan penyidikan tersebut memenuhi kondisi berikut:
a. Dihentikan karena tidak terdapat cukup bukti, atau peristiwa tersebut bukan merupakan tindak pidana di bidang perpajakan, atau tersangka meninggal dunia sebagaimana dimaksud dalam Pasal 44A UU KUP; atau
b. Dilanjutkan dengan penuntutan serta telah terdapat putusan pengadilan mengenai tindak pidana di bidang perpajakan yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap yang memutus bebas atau lepas dari segala tuntutan hukum dan salinan putusan pengadilan tersebut telah diterima oleh direktur jenderal pajak.
Referensi :
https://atpetsi.or.id/old/penyelesaian-pemeriksaan-dengan-membuat-lhp-ini-sebab-sebabnya/
SOAL 4 & 5
Pengaturan mengenai penyelesaian pemeriksaan telah diatur dalam Peraturan Menteri Keuangan No 17/PMK.03/2013 tentang Tata Cara Pemeriksaan yang telah diubah terakhir dengan Peraturan Menteri Keuangan No. 18/PMK.03/2021 (PMK 17/2013 jo PMK 18/2021).
1. Bagaimana prosedur yang dilakukan oleh fiscus dalam pemeriksaan pajak?
Jawab :
Dalam pemeriksaan pajak, fiscus (pegawai pemeriksa pajak) melaksanakan prosedur yang ditetapkan dalam Peraturan Menteri Keuangan No 17/PMK.03/2013 tentang Tata Cara Pemeriksaan, yang telah diubah terakhir dengan Peraturan Menteri Keuangan No. 18/PMK.03/2021. Berikut adalah beberapa prosedur yang dilakukan oleh fiscus dalam pemeriksaan pajak:
1) Pemberitahuan Pemeriksaan: Fiscus memberikan pemberitahuan tertulis kepada wajib pajak yang akan diperiksa. Pemberitahuan ini berisi tanggal pemeriksaan, jenis pajak yang diperiksa, serta permintaan dokumen dan keterangan terkait pajak.
2) Penelitian Awal: Fiscus melakukan penelitian awal terhadap informasi dan dokumen yang dimiliki oleh wajib pajak untuk memastikan kewajaran dan kepatuhan pembayaran pajak.
3) Penetapan Pokok Periksa: Fiscus menetapkan pokok periksa berdasarkan analisis risiko dan informasi yang dimiliki. Pokok periksa adalah aspek-aspek yang akan menjadi fokus dalam pemeriksaan, seperti pendapatan, pengeluaran, pemotongan pajak, atau penghitungan kewajiban pajak lainnya.
4) Pemeriksaan Lapangan: Fiscus melakukan pemeriksaan lapangan di tempat usaha atau tempat kegiatan wajib pajak. Selama pemeriksaan, fiscus akan memeriksa dokumen, catatan keuangan, inventaris, dan hal-hal lain yang berkaitan dengan pembayaran pajak.
5) Keterangan dan Bukti Tambahan: Fiscus dapat meminta keterangan atau bukti tambahan dari wajib pajak atau pihak ketiga terkait dengan transaksi atau kegiatan yang diperiksa.
6) Penyelesaian Pemeriksaan: Setelah melakukan pemeriksaan, fiscus akan mengevaluasi temuan dan menyusun laporan pemeriksaan. Wajib pajak akan diberikan kesempatan untuk memberikan penjelasan atau tanggapan terhadap temuan tersebut.
7) Penetapan Pajak yang Terutang: Berdasarkan hasil pemeriksaan, fiscus akan melakukan perhitungan untuk menentukan jumlah pajak yang terutang oleh wajib pajak. Penetapan pajak ini dilakukan sesuai dengan ketentuan peraturan perpajakan yang berlaku.
Itulah beberapa prosedur yang dilakukan oleh fiscus dalam pemeriksaan pajak berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan No 17/PMK.03/2013 tentang Tata Cara Pemeriksaan, yang telah diubah terakhir dengan Peraturan Menteri Keuangan No. 18/PMK.03/2021. Harap dicatat bahwa informasi ini mungkin dapat berubah seiring dengan adanya perubahan peraturan perpajakan yang baru.
2. Bagaimana peran fiskus dalam melakukan pemeriksaan dan penagihan pajak?
Jawab :
Dalam melakukan pemeriksaan dan penagihan pajak, fiskus memiliki peran yang penting. Fiskus adalah pegawai atau petugas yang ditugaskan oleh otoritas pajak (misalnya Direktorat Jenderal Pajak di Indonesia) untuk melaksanakan tugas terkait pemeriksaan dan penagihan pajak. Berikut adalah peran fiskus dalam kedua hal tersebut:
1. Pemeriksaan Pajak:
a) Penentuan Sasaran Pemeriksaan: Fiskus bertanggung jawab dalam menentukan sasaran pemeriksaan pajak. Sasaran ini dapat berupa wajib pajak tertentu, jenis pajak tertentu, atau aspek-aspek tertentu dalam pemenuhan kewajiban pajak.
b) Pelaksanaan Pemeriksaan: Fiskus melakukan pemeriksaan terhadap wajib pajak untuk memeriksa kepatuhan dan kewajaran pelaksanaan kewajiban perpajakan. Fiskus akan memeriksa dokumen, catatan keuangan, laporan pajak, dan informasi lain yang relevan untuk menilai kepatuhan wajib pajak terhadap peraturan perpajakan.
c) Penetapan Pajak Terutang: Setelah pemeriksaan selesai, fiskus akan menentukan jumlah pajak yang terutang oleh wajib pajak berdasarkan temuan dan analisis yang dilakukan. Penetapan pajak terutang ini dilakukan sesuai dengan ketentuan peraturan perpajakan yang berlaku.
d) Pembuatan Laporan Pemeriksaan: Fiskus juga bertanggung jawab dalam menyusun laporan pemeriksaan yang berisi hasil pemeriksaan dan rekomendasi terkait tindakan selanjutnya, seperti penagihan pajak atau tindakan hukum lainnya jika diperlukan.
2. Penagihan Pajak:
a) Penentuan Jumlah Pajak yang Harus Dibayar: Fiskus memiliki peran penting dalam menentukan jumlah pajak yang harus dibayar oleh wajib pajak berdasarkan hasil pemeriksaan atau laporan pajak yang telah diajukan.
b) Pemberitahuan Tagihan Pajak: Fiskus mengirimkan pemberitahuan tagihan pajak kepada wajib pajak yang jumlah pajaknya terutang. Pemberitahuan ini berisi informasi tentang jumlah pajak yang harus dibayar, tenggat waktu pembayaran, dan cara pembayaran yang dapat digunakan.
c) Pelaksanaan Tindakan Penagihan: Fiskus bertanggung jawab dalam melaksanakan tindakan penagihan pajak, seperti mengirimkan surat peringatan, melakukan penagihan secara langsung, atau melibatkan lembaga penagihan pajak yang berwenang.
d) Pemulihan Pajak yang Tertunggak: Jika wajib pajak tidak membayar pajak sesuai dengan pemberitahuan tagihan, fiskus dapat melakukan tindakan pemulihan pajak, seperti menyita harta atau melibatkan pihak ketiga untuk pemulihan pajak yang tertunggak.
Peran fiskus dalam pemeriksaan dan penagihan pajak sangat penting dalam menjaga kepatuhan dan keadilan perpajakan. Namun, penting untuk dicatat bahwa peran dan prosedur penyelesaian pemeriksaan dan penagihan pajak dapat bervariasi antara negara, tergantung pada peraturan perpajakan yang berlaku di masing-masing yurisdiksi.
SOAL 6
Analisislah mekanisme penyelesaian pertentangan antara peraturan gubernur dengan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi hierarkinya.
Jawab :
Dalam sistem hukum yang berlaku di banyak negara, termasuk Indonesia, terdapat hierarki peraturan perundang-undangan yang menetapkan tingkat keabsahan atau kekuatan hukum setiap peraturan.
Umumnya, hierarki peraturan perundang-undangan mengikuti prinsip piramida hukum, di mana peraturan yang lebih tinggi memiliki kekuatan hukum yang lebih kuat daripada peraturan yang lebih rendah. Dalam pasal 251 ayat (1) Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah menyatakan : “Peraturan Daerah Provinsi dan Peraturan Gubernur yang bertentangan dengan ketentuan Peraturan Perundang-undangan yang lebih tinggi, kepentingan umum, dan/atau kesusilaan dibatalkan oleh Menteri”. Dalam konteks penyelesaian pertentangan antara peraturan gubernur dengan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi hierarkinya, berikut adalah mekanisme yang mungkin dilakukan :
1) Pemeriksaan Konstitusionalitas.
Jika terdapat pertentangan antara peraturan gubernur dengan peraturan perundang- undangan yang lebih tinggi, langkah pertama yang dapat diambil adalah pemeriksaan konstitusionalitas. Dalam banyak negara, termasuk Indonesia, terdapat lembaga konstitusi yang bertugas memastikan kesesuaian peraturan dengan konstitusi, seperti Mahkamah Konstitusi. Jika peraturan gubernur dianggap bertentangan dengan peraturan perundang- undangan yang lebih tinggi atau konstitusi, dapat diajukan gugatan ke Mahkamah Konstitusi untuk meminta putusan mengenai keabsahan peraturan tersebut.
2) Interpretasi dan Konsultasi.
Pertentangan antara peraturan gubernur dan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi juga dapat diselesaikan melalui interpretasi hukum dan konsultasi antara lembaga yang berwenang. Dalam hal ini, lembaga yang berwenang, seperti Kementerian/Lembaga terkait atau badan hukum yang berperan dalam pembuatan peraturan, dapat melakukan interpretasi hukum dan memberikan klarifikasi mengenai konsistensi dan keabsahan peraturan.
3) Perubahan atau Pembatalan Peraturan.
Jika pertentangan tersebut tidak dapat diselesaikan melalui interpretasi atau konsultasi, langkah selanjutnya adalah melakukan perubahan atau pembatalan peraturan yang bertentangan. Biasanya, perubahan atau pembatalan peraturan dapat dilakukan melalui proses legislatif atau dengan cara mengeluarkan peraturan baru yang mengubah atau mencabut peraturan yang bertentangan.
4) Perubahan atau Amandemen.
Pilihan terakhir adalah melakukan perubahan atau amandemen terhadap peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi atau peraturan gubernur yang bertentangan. Melalui proses legislatif atau administratif, pihak yang berwenang dapat memperbarui atau mengubah peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi untuk mengakomodasi atau mengatasi pertentangan dengan peraturan gubernur. Proses ini memerlukan kerjasama dan koordinasi antara berbagai lembaga dan pihak yang terlibat dalam pembuatan kebijakan.
Pada umumnya, upaya penyelesaian pertentangan hukum antara peraturan gubernur dengan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi berfokus pada prinsip keabsahan hukum dan interpretasi yang konsisten. Penting untuk mengikuti prosedur hukum yang berlaku dan melibatkan lembaga yang berwenang dalam penyelesaian pertentangan semacam ini.
Referensi :
• Fajrian Noor Anugrah. “Analisis Yuridis Penyelesaian Konflik Vertikal Peraturan Daerah Secara Cepat, Efektif Dan Efisien”. Jurnal WASAKA HUKUM. Vol. 9, No. 1 (2021).
• https://brainly.co.id/tugas/53802442
SOAL 7
Perubahan klasifikasi negara hukum sangat dipengaruhi situasi dan kondisi negara saat itu terutama kemampuan hukum yang mampu memberikan rasa kebahagiaan dan keadilan masyarakat. Jelaskan apa yang melatari belakang munculnya negara hukum formal dan mengapa Negara hukum formal juga harus diganti Negara hukum materiil?
Jawab :
Negara hukum formal muncul sebagai respons terhadap kebutuhan akan kepastian hukum dan penegakan hukum yang adil. Berdasarkan prinsip negara hukum formal, pemerintah diharuskan untuk bertindak sesuai dengan hukum dan semua warga negara dianggap setara di hadapan hukum. Negara hukum formal menekankan pentingnya aturan hukum yang jelas, prosedur yang adil, dan penegakan hukum yang konsisten. Namun, beberapa kritikus berpendapat bahwa negara hukum formal memiliki keterbatasan dalam mencapai keadilan substansial atau keadilan yang sebenarnya dalam masyarakat.
Hal ini mendorong konsep negara hukum materiil atau negara hukum substantif yang lebih mengedepankan prinsip-prinsip keadilan dan perlindungan hak-hak asasi manusia dalam pengambilan keputusan hukum. Negara hukum materiil menekankan pada perlindungan hak asasi manusia, keadilan sosial, pemerataan, dan pencapaian tujuan-tujuan substansial dalam masyarakat.
Latar belakang munculnya negara hukum formal:
1) Pemberantasan Kekuasaan Absolut: Sejarah mencatat bahwa negara hukum formal muncul sebagai respons terhadap kekuasaan absolut yang diperintah oleh monarki atau rezim otoriter.
Negara hukum formal menempatkan batasan hukum pada penguasa dan menekankan prinsip supremasi hukum di mana tidak ada individu atau pemerintah yang dikecualikan dari kepatuhan terhadap hukum.
2) Perlindungan Hak Asasi Manusia: Negara hukum formal juga muncul sebagai tanggapan terhadap pelanggaran hak asasi manusia yang terjadi dalam rezim otoriter. Konsep negara hukum formal menegaskan perlindungan hak-hak individu melalui jaminan hukum yang adil, hakim yang independen, dan perlindungan terhadap penyalahgunaan kekuasaan.
Namun, terdapat kritik terhadap konsep negara hukum formal karena dianggap terlalu fokus pada kepatuhan terhadap formalitas hukum, tanpa memperhatikan substansi keadilan sosial dan ekonomi.
Oleh karena itu, ada desakan untuk memperluas konsep negara hukum menjadi negara hukum materiil, yang menekankan pada keadilan substansial dan perlindungan terhadap kesenjangan sosial dan ekonomi. Beberapa alasan mengapa negara hukum formal harus digantikan oleh negara hukum materiil adalah sebagai berikut :
1) Perlindungan Hak Asasi Manusia: Negara hukum materiil menempatkan perlindungan hak asasi manusia sebagai prinsip utama. Hal ini mencakup perlindungan hak-hak individu, kebebasan sipil, dan keadilan sosial. Negara hukum materiil mengutamakan pemenuhan hak- hak dasar setiap individu dalam masyarakat.
2) Keadilan Substansial: Negara hukum materiil menekankan keadilan substansial atau keadilan yang sebenarnya dalam masyarakat. Bukan hanya masalah pematuhan formal terhadap hukum, tetapi juga pencapaian keadilan yang mencakup distribusi sumber daya secara adil, kesetaraan sosial, dan penanganan kesenjangan yang ada.
3) Pemerataan dan Kesejahteraan Sosial: Negara hukum materiil berupaya menciptakan kondisi sosial yang adil dan merata.
Pergantian dari negara hukum formal ke negara hukum materiil mencerminkan evolusi dalam pemahaman tentang peran negara dalam mencapai keadilan dan kebahagiaan masyarakat. Pergantian ini mengakui bahwa kepatuhan terhadap hukum formal saja tidak cukup, dan perlindungan terhadap keadilan substantif dan kesejahteraan sosial juga merupakan tujuan penting yang harus diperjuangkan oleh negara.
Referensi :
https://www.dikasihinfo.com/pendidikan/9808851484/terjawab-jelaskan-apa-yang-melatari- belakang-munculnya-negara-hukum-formal-dan-mengapa-negara-hukum-formal?page=2
SOAL 8
KPK dibentuk sejak kepemimpinan Presiden Megawati. Selama ini sudah ratusan kasus korupsi yang berhasil ditangani oleh KPK. Namun prestasi harus melalui banyak kejadian yang harus dihadapi KPK.
Hal ini memunculkan pro dan kontra terhadap eksistensi KPK.
Menurut saudara apakah penanganan tindak pidana Korupsi perlu ditangani oleh lembaga khusus seperti KPK perlu dipertahankan atau penanganannya dikembalikan ke lembaga hukum yang lain?
Jawab :
Penanganan tindak pidana korupsi adalah isu yang kompleks dan perlu pendekatan yang hati-hati.
Lembaga seperti Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) sering dibentuk sebagai lembaga khusus untuk mengatasi korupsi karena alasan-alasan berikut:
1) Keahlian Khusus: Lembaga khusus seperti KPK biasanya memiliki tenaga ahli dan pengalaman khusus dalam penanganan kasus korupsi. Mereka dapat mengembangkan keahlian dan kecakapan teknis yang diperlukan untuk menyelidiki, menuntut, dan memberantas korupsi dengan lebih efektif.
2) Independensi: KPK sering kali didesain untuk memiliki tingkat independensi yang lebih tinggi daripada lembaga hukum lainnya. Hal ini penting untuk melindungi proses hukum dari intervensi politik atau tekanan yang dapat menghambat penegakan hukum yang objektif dan adil.
3) Pencegahan dan Deteksi Korupsi: Selain penegakan hukum, KPK juga dapat berperan dalam upaya pencegahan dan deteksi korupsi melalui kegiatan-kegiatan seperti pengawasan, edukasi, dan pelaporan gratifikasi.
Namun, terdapat pula argumen yang mendukung penanganan tindak pidana korupsi oleh lembaga hukum lainnya, seperti kepolisian atau kejaksaan. Beberapa argumen yang sering diajukan adalah:
1) Prinsip Kesetaraan: Menempatkan penanganan tindak pidana korupsi di bawah lembaga hukum yang sama dengan tindak pidana lainnya dapat mencerminkan prinsip kesetaraan di mata hukum. Korupsi, sebagai tindak pidana, seharusnya ditangani dengan pendekatan yang serupa dengan tindak pidana lainnya.
2) Kapasitas Institusi: Menumbuhkembangkan kapasitas institusi hukum yang ada, seperti kepolisian atau kejaksaan, dapat meningkatkan kemampuan mereka dalam menangani kasus korupsi. Melalui pelatihan, pendanaan, dan perbaikan sistem, lembaga hukum yang ada dapat memperkuat penanganan tindak pidana korupsi secara efektif.
3) Pengawasan dan Akuntabilitas: Dalam konteks lembaga hukum yang ada, mekanisme pengawasan dan akuntabilitas terhadap penanganan kasus korupsi dapat ditingkatkan.
Dengan demikian, ada peluang untuk memastikan integritas dan profesionalisme dalam proses penegakan hukum.
Bahwa perdebatan mengenai eksistensi dan peran lembaga seperti KPK berbeda di setiap negara, tergantung pada konteks hukum dan sistem pemerintahan masing-masing. Keputusan untuk mempertahankan atau mengubah penanganan tindak pidana korupsi oleh lembaga tertentu perlu melibatkan pertimbangan yang matang meng