• Tidak ada hasil yang ditemukan

SKRIPSI - 4.docx

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2024

Membagikan "SKRIPSI - 4.docx"

Copied!
93
0
0

Teks penuh

(1)

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Masa kanak – kanak merupakan masa dimana anak–anak mengalami perkembangan yang pesat.Masa kanak–kanak juga masa yang penting untuk sepanjang hidupnya, sebab masa ini adalah masa pembentukan fondasi dan dasar kepribadian yang akan menentukan pengalaman anak selanjutnya.

Pengalaman awal sangat penting, sebab dasar awal cenderung bertahan dan akan mempengaruhi sikap dan perilaku anak sepanjang hidupnya, , disamping itu dasar awal akan cepat berkembang menjadi kebiasaan. Oleh karena itu perlu pemberian pengalaman awal yang positif.

Anak usia dini adalah individu yang sedang mengalami proses pertumbuhan dan perkembangan yang pesat (Rachman, 2011: 20). Periode ini adalah tahun berharga bagi seorang anak untuk mengenal berbagai macam fakta dilingkungannya sebagai stimulasi terhadap perkembangan anak. Sehingga periode ini merupakan periode yang kritis bagi anak, dan sangat berpengaruh terhadap perkembangan berikutnya hingga masa dewasa. Orang tua berperan dalam dalam upaya perkembangan fisik, kognitif, sosial dan bahasa.Bahasa adalah suatu sistem simbol untuk berkomunikasi dengan manusia yang ditandai oleh daya cipta yang tidak pernah habis.

Bahasa bagi anak sangat penting, karena dengan memiliki kemampuan berbahasa yang baik anak akan dapat mengkomunikasikan pikiran, perasaan dan

(2)

keinginannya. Menurut Beaty (2014:313) “bahasa adalah suatu sistem simbol yang digunakan untuk berkomunikasi dengan orang lain”. Proses pemerolehan bahasa menurut Eliot (Beaty, 2014) mengemukakan bahwa proses pemerolehan bahasa anak melalui mendengar berawal dari adanya pengalaman atau situasi bersama orang–orang yang berarti bagi lingkungan terdekatnya.

Berdasarkan beberapa pendapat diatas peneliti menyimpulkan cara memperoleh atau memiliki kemampuan berbahasa melalui beberapa proses pemerolehan bahasa seperti melalui mendengar, meniru, mengingat, serta proses persepsi (mengolah rangsangan yang diterima melalui indera). Anak tidak diajarkan kata–kata tertentu melainkan melalui pengalaman dan lambang bahasa yang diperoleh melalui pendengaran.

Proses ini merupakan dasar bagi perkembangan bahasa. Baru setelah itu, anak mulai memahami hubungan antara lambang bahasa dan benda atau kejadian yang dialaminya, lalu terbentuklah bahasa reseptif anak.Setelah bahasa reseptif anak agak terbentuk, anak mulai mengungkapkan diri melalui kata–kata sebagai awal kemampuan bahasa ekspresif.

Untuk mengembangkan kemampuan bahasa anak usia dini termasuk membantu anak dalam berbicara dapat ditempuh melalui pendidikan formal dan non formal. Pendidikan formal yang merupakan dasar awal pendidikan ditempuh melalui Taman Kanak–Kanak dan pendidikan nonformal ditempuh melalui kelompok bermain (playgoup) dan Taman Penitipan Anak (TPA).

(3)

TK adalah membantu anak didik mengembangkan berbagai potensi fisik maupun psikis. Salah satu bidang pengembangan kemampuan dasar yang ada di TK antara lain ialah bahasa. Tujuan bidang pengembangan bahasa ini ialah agar anak mampu mengungkapkan pikiran melalui bahasa yang sedehana secara tepat, mampu berkomunikasi secara efektif dan membangkitkan minat untuk dapat berbahasa. (Depdiknas, 2006)

Menyadari pentingnya memperhatikan perkembangan kemampuan bahasa anak dan merujuk pada salah satu kecerdasan yang diungkapkan oleh Gardner (Jasmine, 2007) tentang kemampuan yang berkaitan dengan kemampuan bercakap-cakap dalam bentuk bahasa yang ternyata kenyataanya dilapangan khususnya di Taman Kanak-kanak Islam Qalbin Salim tidak semua anak mampu mengekspresikan ide dan perasaan dalam bentuk bahasa lisan.

Berdasarkan pengamatan peneliti di Taman Kanak-Kanak Islam Qalbin Salim tentang kemampuan bahasa khususnya berbicara menunjukkan kemampuan bahasa ekspresif khususnya berbicara masih kurang. Kesulitan ini terlihat ketika anak diminta untuk menceritakan kembali apa yang telah diceritakan oleh guru, anak terlihat belum dapat mengungkapkan kembali dengan lafal secara baik dan berurut sesuai dengan isi cerita, juga ketika anak diminta untuk menjawab pertanyaan, mereka terkadang tidak merespon pertanyaan yang diberikan secara baik.

Hal ini diperkuat dengan wawancara peneliti dengan beberapa guru dari sekolah lain yang menyatakan bahwa memang anak-anak di Taman Kanak-Kanak masih terlihat kesulitan mengungkapkan bahasa ekspresif.

(4)

Bahasa ekspresif adalah kemampuan bahasa yang diekspresikan melalui gerak tubuh, ati dan perasaan untuk menyatakan sesuatu hal kepada orang lain secara lisan dan merupakan salah satu tahap perkembangan bahasa anak usia dini.

Sehingga disekolah maupun diluar sekolah, anak diharapkan mampu mengembangkan kemampuan bahasa ekspresif. Pembelajaran berbahasa di TK diarahkan untuk meningkatkan kemampuan anak dalam berkomunikasi baik secara lisan dan lafal yang benar sehingga anak dapat memahami kata dan kalimat sederhana serta dapat mengkomunikasikannya dalam kehidupan sehari–hari..

Masalah–masalah bahasa yang ditemukan pada anak–anak merupakan kasus yang perlu mendapat perhatian. Jika anak yang kesulitan seperti ini tidak ditangani, maka akan berpengaruh terhadap perkembangan bahasanya pada masa selanjutnya, bukan hanya kemampuan bahasanya yang kurang tetapi akan berpengaruh pada kemampuan lainnya. Untuk mengembangkan kemampuan bahasa lisan (berbicara) anak dapat dilakukan antara lain melalui permainan yang interaktif.

Permainan yang dapat mendukung terciptanya rangsangan pada anak dalam berbahasa antara lain alat peraga berupa gambar yang terdapat pada buku, cerita ataupun dongeng. Permainan ini mudah dilakukan, menggunakan alat sederhana dan mudah diperoleh dan menarik perhatian anak–anak.Kelebihan lainnya ialah dapat dilakukan oleh semua anak tanpa mempertimbangkan jenis kelamin.

(5)

Berdasarkan latar belakang inilah sehingga peneliti tertarik untuk melakukan penelitian lebih mendalam mengenai pengembangan kemampuan bahasa ekpresif anak khususnya melalui metode bercerita.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah di atas maka rumusan masalahnya adalah “Bagaimanakah meningkatkan kemampuan bahasa ekspresif anak melalui metode bercerita di TK Islam Qalbin Salim Makassar ?”.

C. Tujuan Penelitian

Berdasarkan latar belakang masalah dan rumusan masalah, maka tujuan penelitian ini adalah untuk meningkatkan kemampuan bahasa ekspresif anak melalui metode bercerita di TK Islam Qalbin Salim Makassar.

D. Manfaat Penelitan

Penelitin ini berusaha untuk mengungkapkan kenyataan–kenyataan yang terjadi sebenarnya di lapangan.Dengan demikian, hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat secara praktis dan teoritis.

1. Manfaat Teoretis

Sebagai sumbangan kepada semua pihak untuk memperkaya khasanah ilmu pengetahuan tentang metode yang dapat digunakan untuk meningkatkan kemampuan bahasa ekspresif anak di taman kanak-kanak.

(6)

2. Manfaat praktis

Manfaat praktis yang diharapkan dari penelitian ini adalah dapat memberikan masukan kepada beberapa pihak di antararnya sebagai berikut:

a. Bagi guru

Sebagai sumbangan bagi guru dalam memperbaiki metode yang digunakan selama ini yang masih kurang tepat.

b. Bagi sekolah

Menambah inspirasi baru bagi sekolah untuk dapat meningkatkan kemampuan bahasa ekspresif.

c. Bagi orang tua

Diharapkan mampu menambah wawasan orang tua mengenai penggunaan metode bercerita untuk meningkatkan kemampuan bahasa ekspresif anak.

(7)

BAB II

KAJIAN PUSTAKA, KERANGKA PIKIR DAN HIPOTESIS PENELITIAN

A. Kajian Pustaka

1. Konsep Metode Bercerita a. Pengertian Metode Bercerita

Metode bercerita merupakan salah satu pemberian pengalaman belajar bagi anak usia dini dengan membawa cerita kepada anak secara lisan. Trelease (2006) mengatakan bahwa cerita yang dibawakan harus menarik dan mengundang perhatian. Penggunaan cerita sebagai salah satu strategi pembelajaran haruslah memperhatikan hal – hal sebagai berikut : 1) Isi cerita harus terkait dengan dunia anak, sehingga anak mudah memahami isi cerita, 2) Kegiatan bercerita diusahakan dapat memberikan perasaan senang bagi anak, 3) kegiatan bercerita diusahakan menjadi pengalaman yang menarik bagi anak.

Rahman (2002) cerita merupakan penggambaran tentang sesuatu secara verbal dan memiliki pengaruh yang menakjubkan untuk dapat menarik perhatian pendengar dan membuat seseorang bisa mengingat kejadian – kejadian dalam sebuah kisah dengan cepat. Melalui bercerita, anak diajak berkomunikasi, berfantasi, berkhayal dan mengembangkan kognisinya.

Bercerita merupakan suatu stimulant yang dapat membangkitkan anak terlibat secara mental.Melalui bercerita, aktivitas mental anak dapat melambung, melanglang buana melampaui isi cerita itu sendiri.Dengan demikian melalui bercerita, kecerdasan emosional anak semakin terasah.

(8)

b. Manfaat Bercerita

Rahmat (2002) mengemukakan beberapa manfaat dari kegiatan bercerita antara lain: 1) Mengembangkan fantasi, 2) Mengasah kecerdasan emosional, 3) Menumbuhkan minat baca, 4) Dengan bercerita akan terjalin komunikasi dan hubungan secara verbal dan emosional, 5) Sebagai media pembelajaran. Berikut penjelasannya:

1) Mengembangkan fantasi

Melalui bercerita, anak berfantasi luar biasa melampaui dunia nyata yang ia hadapi.

2) Mengasah kecerdasan emosional

Melalui bercerita, emosi anak seolah dipermainkan. Sedih, takut, cemas, simpati, empati dan berbagai jenis perasaan lain yang dibangkitkan. Dengan demikian emosi anak menjadi terolah.Hal tersebut berdampak positif bagi pengembangan kecerdasan emosional anak.

3) Menumbuhkan minat baca

Melalui bercerita, anak terdorong untuk mendapatkan cerita lain yang lebih kaya tanpa tergantung pada orang yang mau bercerita. Membaca adalah jawaban bagi anak untuk mendapatkan kepuasan lebih membangun kedekatan dan keharmonisan.

4) Dengan bercerita akan terjalin komunikasi dan hubungan secara verbal dan emosional.Anak merasa lebih dekat dan lebih mendapatkan perhatian dari orang yang memberi cerita.

(9)

5) Media pembelajaran. Melalui cerita, anak dapat mempelajari apa saja. Ilmu pengetahuan yang rumit dapat disajikan dengan lebih ringan, menarik dan menyenangkan melalui bercerita.

c. Jenis – jenis bercerita.

Penerapan kegiatan bercerita dapat dilakukan dengan berbagai bentuk.

Hidayat (2015:35) mengatakan kegiatan bercerita dapat dilakukan dengan berbagai bentuk, seperti:

1)Bercerita tanpa alat peraga, hanya mengandalkan kemampuan verbal orang yang memberikan cerita, 2)Bercerita dengan menggunakan alat peraga, seperti boneka,gambar – gambar dan benda lain, 3)Bercerita dengan cara membaca buku cerita (story reading). Dalam hal ini tidak diperlukan kemampuan fantasi, imajinasi dan olah kata dari orang yang bercerita, melainkan hanya olah intonasi dan suara, 4)Bercerita dengan menggunakan bahasa isyarat atau gerakan.Seperti pantomim, film kartun tanpa bicara, opera dan sebagainya. 5)Bercerita melalui alat pandang dengar (audio visual), yaitu dapat berupa kaset, televise, video dan sebagainya.

Bachtiar (2005) mengatakan bahwa pelaksanaan bercerita dapat dilaksanakan dengan berbagai cara seperti :

1) Membaca langsung dari buku cerita bergambar.

Teknik bercerita dengan membaca buku cerita bergambar sangat bagus karena anak dapat melihat gambar–gambar dalam buku cerita tersebut dan pesan yang ada dalam buku dapat langsung ditangkap oleh anak.

2) Menceritakan kisah dongeng.

Cerita dongeng merupakan salah satu cerita masa lalu yang berisi tentang kebaikan dan keburukan setiap pelaku yang ada dalam cerita tersebut.

(10)

3) Bercerita dengan menggunakan media boneka.

Media boneka yang digunakan dalam hal ini biasanya terdiri dari boneka ayah, ibu, kakak, adik, kakek, nenek dan anggota keluarga lainnya. Boneka yang digunakan biasa juga menggunakan seragam sesuai dengan pekerjaan misalnya: polisi, dokter dan sebagainya.

Dari jenis bercerita yang ada di atas, bercerita dengan menggunakan ilustrasi gambar dari buku adalah salah satu metode yang sangat baik untuk menarik perhatian anak dan mudah digunakan oleh guru dalam penelitian.

d. Langkah – langkah Metode Bercerita

Adapun langkah–langkah metode bercerita menurut Moeslichatoen (2004) yaitu :

1) Mengkomunikasikan tujuan dengan tema dalam kegiatan anak, 2) Mengatur tempat duduk agar anak dapat mendengar dengan intonasi yang jelas, 3) Pembukaan kegiatan bercerita, guru menggali pengalaman–pengalaman anak sesuai dengan tema cerita, 4) Menggunakan alat peraga/media untuk menarik perhatian anak,5) Penutup kegiatan bercerita dengan mengajukan pertanyaan–pertanyaan yang berkaitan dengan isi cerita.

Sedangkan menurut Morrison (2012:263), menguraikan secara spesifik mengenai langkah – langkah pelaksanaan metode bercerita dengan menggunakan gambar yaitu :

(1) Guru menyiapkan alat peraga yang diperlukan ( gambar – gambar ) , (2) Guru mengatur posisi duduk anak sesuai dengan yang direncanakan, (3) Guru menarik perhatian anak agar mendengarkan cerita,

(11)

(4) Guru bercerita dengan memperlihatkan alat peraga satu persatu sesuai dengan bagian yang diceritakan,

(5) Guru bercerita memberikan pertanyaan tentang isi cerita tersebut satu persatu ( bertahap) kepada anak.

Dari jenis langkah-langkah bercerita yang ada di atas, langkah bercerita menurut Moelichatoen adalah salah satu metode yang sangat baik untuk menarik perhatian anak dan mudah digunakan oleh guru.

2. Konsep Kemampuan Bahasa Ekspresif a. Pengertian Bahasa Ekspresif

Untuk memahami apa yang dimaksud dengan bahasa, berikut ini beberapa definisi tentang bahasa. Kirk,1989 (Ferliana,2015:7) mengatakan bahwa “bahasa merupakan simbol yang diorganisasi yang digunakan untuk mengekspresikan dan menerima maksud atau pesan”. Quigl & Peter, 1984 (Ferliana,2015:8)“bahasa sebagai suatu kode yang dengannya gagasan atau ide tentang dunia atau llingkungan diwakili oleh seperangkat lambang yang telah disepakati bersama saat berkomunikasi”.

b. Periode Bahasa Ekspresif

Prasetyo (2011) menyebutkan periode bahasa dibagi menjadi dua periode besar. Periode tersebut adalah periode Prelinguistik dan linguistik.

(12)

1) Periode Prelinguistik, Periode Prelinguistik merupakan periode sebelum bayi dapat menggunakan kata–kata untuk berkomunikasi.

a) Tangisan. Tangisan merupakan salah satu cara pertama yang dapat dilakukan bayi untuk berkomunikasi dengan dunia luar. Melalui tangisan, seorang bayi berusaha memberi tahu segala kebutuhannya.

b) Ocehan dan celoteh. Ocehan berkembang saat anak berusia 6 minggu hingga 3 bulan.

c) Isyarat. Isyarat merupakan gerakan anggota tubuh tertentu yang berfungsi sebagai pengganti atau pelengkap seorang individu dalam berbicara.

2) Periode linguistik. Pada periode ini, kemampuan mengucapkan kata pertama sangat ditentukan oleh penguasaan artikulasi. Periode linguistik terbagi dalam tiga fase, yaitu :

a) Fase satu kata atau holophrase,

Pada fase ini, anak menggunakan satu kata untuk menyatakan pikiran yang kompleks, baik yang berupa keinginan, perasaan atau temuannya tanpa perbedaan yang jelas. Ferliana (2015) mengatakan bahwa pada umumnya, kata pertama anak dipergunakan untuk memberi komentar atau kejadian dilingkungan dapat berupa perintah, penolakan, pertanyaan dan lain–lain.

b) Fase lebih dari satu kata,

Pada umumnya fase dua kata muncul pertama kali ketika seorang anak mulai mengerti suatu “tema” dan mencoba untuk mengekspresikannya (Ferliana, 2015: 15).

c) Fase diferensiasi,

(13)

Periode ini berlangsung antara usia 2,5 hingga 5 tahun. Keterampilan anak dalam berbicara mulai lancar dan berkembang pesat.Dalam berbicara, anak bukan menambah kosakata, tapi juga mulai mampu mengucapkan kata demi kata sesuai dengan jenisnya, terutama dalam pemakaian kata benda dan kata kerja.Anak mulai dapat mengkritik, bertanya, menjawab, memberi tahu.

Davidson,1996(Trelease,2006)“memandang bahasa sebagai perpaduan antara isi, fungsi dan bentuk”. Tetapi (Rahman, 2002: 93) menyatakan bahwa

“bahasa merupakan cara yang paling baik untuk mengekspresikan diri, ide–ide, perasaan, sikap, analisa, penalaran dan juga kritik”. Berdasarkan uraian tersebut diatas, maka dapat dikatakan bahwa bahasa adalah simbol–simbol yang teratur yang digunakan dalam berkomunikasi.

Dalam Morrison (2012:223)”bahasa adalah keterampilan persiapan yang paling penting”. Anak membutuhkan keterampilan berbahasa untuk dapat berhasil di sekolah dan dalam hidup. Keterampilan bahasa yang penting meliputi : bahasa reseptif, seperti mendengarkan guru dan mengikuti petunjuk, bahasa ekspresif, ditunjukkan dalam kemampuan berbahasa dan kemampuan untuk menyampaikan kebutuhan dan gagasan. Dalam kamus bahasa Indonesia, kata ekspresif berarti tepat (mampu) memberikan (mengungkapkan) gambaran, maksud, gagasan, perasaan. Sedangkan menurut Hidayat (2015:18) “bahasa ekspesif merupakan bahasa yang berisi curahan perasaan dimana mimik, intonasi dan gerakan tubuh dapat bercampur menjadi satu untuk mendukung komunikasi yang dilakukan”.

(14)

Bahasa ekspresif merupakan salah satu tahap perkembangan bahasa anak usia dini. Sehingga disekolah maupun diluar sekolah, anak diharapkan mampu mengembangkan kemampuan bahasa ekspresif.Pembelajaran berbahasa di TK diarahkan untuk meningkatkan kemampuan anak dalam berkomunikasi baik secara lisan dan lafal yang benar sehingga anak dapat memahami kata dan kalimat sederhana serta dapat mengkomunikasikannya dalam kehidupan sehari–hari.

a. Bentuk – bentuk bahasa ekspresif

Ada beberapa jenis bahasa ekspresif. Moeslichatoen (2004) mengatakan bahasa ekspresif terbagi dua yaitumenguasai kata – kata baru dan menggunakan pola bicara orang dewasa. Penjelasan dari kedua bentuk diatas sebagai berikut :

1) Menguasai kata – kata baru

Penggunaan kata–kata baru dalam mentransfer berbagai ide maupun informasi yang dapat dilihat, ditulis, dan dibaca atau diucapkan serta didengar.Anak dapat memanipulasi sesuai dengan kemampuan berfikirnya.

2) Menggunakan pola bicara orang dewasa.

Perkembangan bahasa anak masih jauh dari sempurna namun demikian tetap dapat dirangsang lewat komunikasi yang aktif dengan menggunakan bahasa yang baik dan benar. Kualitas bahasa yang digunakan orang–orang dekat dengan anak–anak akan mempengaruhi keterampilan anak dalam berbicara karena dapat mendengarkan orang dewasa.

(15)

b. Manfaat bahasa ekspresif

Bahasa mempunyai fungsi yang sangat penting dalam segala aspek kehidupan baik itu secara perorangan ataupun untuk kehidupan sosial juga dapat mempengaruhi perilaku orang lain dan dapat membina hubungan dengan orang lain. Beaty (2014: 312) mengatakan bahasa memiliki fungsi sebagai berikut :

1)sebagai alat untuk berkomunikasi, 2) menyampaikan isi pikiran atau perasaan kepada orang lain, 3) sebagai alat untuk mengembangkan intelektual anak, 4) melalui bahasa pendengar/penerima bahasa akan mampu memahami apa yang dimaksud oleh si pengirim berita.

Sedangkan menurut Gorys Keraf (Nurhazanah, 2016) fungsi bahasa adalah:

1)mengenal kemampuan diri sendiri. 2) lebih memahami orang lain;3) belajar mengamati dunia, bidang ilmu di sekitar dengan cermat, 4) proses berpikir yang jelas, runtut, teratur, terarah, dan logis; 5) mengembangkan atau memengaruhi orang lain dengan baik dan menarik, 6) mengembangkan kemungkinan kecerdasan ganda.

Berdasarkan manfaat bahasa ekspresif yang disebutkan diatas, peneliti lebih tertarik meneliti peningkatan bahasa ekspresif anak.

c. Gangguan bahasa ekspesif

Leonard, 1986 (Ferliana, 2014:173) mengatakan ada gejala– gajala yang ditemukan pada anak usia dini yang mengalamigangguan bahasa ekspresifseperti:

(16)

1) ketidaktepatan menggunakan kata, 2) ketidakmampuan untuk mengekspresikan ide, 3) kurang kosa kata, 4) perbendaharaan kata yang terbatas, 5) tidak mampu memulai suatu percakapan, 6) merasa sulit untuk menceritakan kembali cerita atau peristiwa.

Anak yang kesulitan untuk mengkomunikasikan apa yang ingin disampaikan karena anak mengalami kesulitan dalam memahami apa yang disampaikan oleh orang lain atau guru di sekolah. Hurlock (2002:194) mengatakan kesulitan memahami disebabkan oleh beberapa alasan diantaranya:

1)jika orang lain berbicara kepada anak dengan sangat cepat sehingga anak sulit untuk memahami apa yang disampaikan, 2) apabila dalam keluarga menggunakan dua bahasa dan tidak sering menggunakan bahasa ibu, maka anak akan tidak terbiasa menggunakan kata–kata sehingga kosa katanya terbatas, 3) ketidakmampuan anak untuk mendengarkan apa yang disampaikan oleh orang lain, anak lebih menaruh perhatian terhadap apa yang ingin dikatakan.

d. Indikator Kemampuan Berbahasa Ekspresif

Untuk meningkatkan kemampuan bahasa ekspresif anak melalui metode bercerita di Taman kanak – kanak Islam Qalbin Salim Makassar, indikator yang diperhatikan menurut Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No. 146 Tahun 2014 tentang Kurikilum 2013 Pendidikan Anak Usia Dini yaitu :

“1)Menjawab pertanyaan dengan kalimat sederhana, 2)Menceritakan kembali isi cerita secara sederhana”.

(17)

B. KERANGKA PIKIR

Bahasa adalah tugas yang paling penting yang dilakukan manusia.Keterampilan bahasa juga penting dalam rangka pembentukan konsep, informasi dan pemecahan masalah.Dengan mengembangkan kemampuan bahasa anak maka perlu dilakukan suatu metode salah satunya melalui metode bercerita.

Bercerita adalah kegiatan anak setelah anak memahami cerita dan menceritakan kembali isi cerita.Cerita yang di sajikan anak bertujuan untuk mengungkapkan kemampuan dan keterampilan bercerita/berbahasa anak.Ada tiga hal yang diharapkan dari kegiatan ini. Pertama, anak mampu menyusun kembali cerita yang disimak dari proses penceritaan. Kedua, anak terampil menggunakan bahasa lisan memalui berbicara.Ketiga, anak terampil mengekspresikan perilaku dan dialog cerita.

Metode becerita ini merupakan salah satu metode yang dipergunakan di TK. Selain itu, metode becerita juga memberikan pengalaman belajar bagi anak.Dengan melihat dan mendengakan ceritamemungkinkan anak menambah pengetahuan dan meningkatkan kemampuan bahasa ekspesif anak.

(18)

Melalui kegiatan bercerita bahasa ekspresif anak dapat berkembang, hal ini dapat dilihat ketika anak mampu menyimak cerita lalu menceritakan kembali cerita yang telah didengarnya, yang merupakan suatu bagian yang penting dalam pengembangan diri anak karena dapat mengekspresikan isi cerita.

Adapun skema kerangka pikir dapat dilihat di bawah ini :

Kemampuan bahasa ekspresif anak masih rendah

1) Anak belum mampu menceritakan kembali cerita secara urut.

2) Anak belum mampu menjawab pertanyaan sederhana.

Metode bercerita Langkah – langkah :

1) Mengkomunikasikan tujuan dan tema dalam kegiatan bercerita kepada anak.

2) Mengatur tempat duduk anak dan mengatur bahan dan alat yang akan digunakan.

3) Pembukaan kegiatan bercerita.

4) Menggunakan alat peraga atau media untuk menarik perhatian anak.

5) Menugaskan salah seorang anak atau beberapa anak untuk bercerita kembali.

6) Menutup kegiatan bercerita dengan menyajikan pertanyaan – pertanyaanyang berkaitan dengan isi cerita.

(19)

2.1. Bagan Kerangka Pikir C. HIPOTESIS

Hipotesis dalam penelitian ini, jika metode bercerita diterapkan dalam pembelajaran di Taman Kanak–Kanak Islam Qalbin Salim Makassar maka kemampuan bahasa ekspresif anak akan meningkat.

Kemampuan bahasa ekspesif anak meningkat : 1) Anak mampu mendengarkan dan

menceritakan kembali cerita secara urut.

2) Anak mampu menjawab pertanyaan sederhana

(20)

BAB III

METODE PENELITIAN

A. Pendekatan dan Jenis Penelitian 1. Pendekatan Penelitian

Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini yaitu metode penelitian kualitati untuk menggambarkan status fenomena. Sugiono (2008) mengemukakan bahwa penelitian kualitatif adalah metode penelitian yang berlandaskan pada filsafat postpositivisme yang bisa digunakan untuk meneliti pada kondisi objektif yang alamiah dimana peneliti sebagai instrumen kunci.

2. Jenis Penelitian

Jenis penelitian yang digunakan pada penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas.Arikunto (2009) mengatakan bahwa penelitian tindakan kelas adalah penelitian yang dilakukan oleh guru bekerja sama dengan peneliti atau dilakukan langsung oleh guru sendiri yang juga bertindak sebagai peneliti dikelas atau di Taman Kanak–Kanak tempat ia mengajar dengan penekanan pola penyempurnaan atau peningkatan proses dan praktis pembelajaran.

(21)

Metode jenis penelitian tindakan kelas yang digunakan menurut Arikunto (2009), dimana siklus dilaksanakan secara berdaur, terdiri dari pembelajaran dikelas yang dialami langsung dalam interaksi dengan anak didik yang sedang belajar.

B. Fokus Penelitian

Yang menjadi fokus penelitian yang penulis kemukakan adalah : 1. Kemampuan bahasa ekspesif.

Bahasa ekspresif merupakan kemampuan bahasa yang diekspresikan melalui gerak tubuh, hati dan perasaan untuk menyatakan suatu hal kepada orang lain secara lisan. Indikatornya mencakup: a) mampu mendengarkan dan menceritakan kembali cerita secara urut, b) mampu melanjutkan cerita / dongeng yang telah di dengar sebelumnya.

2. Metode bercerita

Metode bercerita adalah salah satu pemberian pengalaman belajar kepada anak didik dengan menyampaikan cerita secaralisan dan upaya untuk mengembangkan potensi kemampuan berbahasa anak melalui pendengaran dan kemudian menuturkannya kembali dengan tujuan melatih keterampilan anak didik dalam bercakap–cakap untuk menyampaikan idedalam bentuk lisan.

Langkah–langkah metode bercerita mencakup : a. Mengkomunikasikan tujuan dan tema dalam kegiatan bercerita kepada anak,b.Mengatur duduk anak dan

(22)

mengatur bahandan alat yang akan digunakan, c. Pembukaan kegiatan bercerita, d. Menggunakan alat peraga/media untuk menarik perhatian anak, e.Menugaskan salah seorang anak atau beberapaanak untuk bercerita kembali, f. Menutup kegiatan bercerita dengan mengajukan pertanyaan – pertanyaan yang berkaitan dengan isi cerita.

C. Setting dan Subyek Penelitian

Subjek dalam penelitian ini adalah anak didik yang berada di Taman Kanak–kanak Islam Qalbin Salim, Jalan Paccinang IV No. 56/118, Kelurahan Tello Baru Kecamatan Panakkukang dengan jumlah anak didik 12 orang serta jumlah guru yang diteliti ada 1 orang.Alasan memilih anak pada kelompok B karena belum mampu berbahasa ekspresif dengan baik.

D. Prosedur Penelitian dan Desain Penelitian

Pelaksanaan

Refleksi SIKLUS I

Perencanaan Pengamatan Perencanaan

(23)

3.1.Prosedur Penelitian Tindakan Kelas oleh Arikunto dkk (2009)

1. Tahap Pelaksanaan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) a. Perencanaan

Pada tahap ini peneliti mempersiapkan rencana pelaksanaan metode :

1) Meminta izin terhadap pihak penanggung jawab dan guru kelas terkait untuk menerapkan metode pembelajaran dengan media gambar dalam proses belajar mengajar.

2) Peneliti berkoordinasi dengan guru kelas terkait dengan tempat dan waktu penelitian.

3) Peneliti menyiapkan rencana pelaksanaan pembelajaran harian (RPPH) dan skenario pembelajaran.

4) Peneliti melakukan koordinasi dengan guru kelas terkait dengan RPPH dan skenario pembelajaran yang telah disiapkan.

5) Peneliti menyiapkan lembar observasi yang dibutuhkan dalam penelitian.

b. Pelaksanaan tindakan

?

Pengamatan

(24)

Pelaksanaan tindakan pada siklus pertama dilakukan dalam 2 kali pertemuan. Tahap pelaksanaan tindakan oleh guru kelas dan peneliti dalam menerapkan pembelajaran menggunakan media buku cerita.

c. Pengamatan

Pengamatan dilakukan selama pelaksanaan tindakan dengan menggunakan lembar observasi yang telah disiapkan dan mencatat kejadian–

kejadian yang tidak terdapat dalam lembar observasi. Hal–hal yang diamati dalam pelaksanaan tindakan adalah aktivitas selama pelaksanaan pembelajaran dengan menggunakan media gambar dilaksanakan.

1) Guru menyiapkan alat/media yang akan digunakan.

2) Guru memberikan kesempatan kepada anak untuk menganalisa buku cerita.

3) Guru memberikan kesempatan kepada anak untuk menyampaikan tentang media yang telah di analisa.

4) Guru menampilkan gambar buku yang dapat dilihat jelas oleh anak.

5) Anak–anak memahami media yang digunakan.

d. Refleksi

Pada tahap ini peneliti bersama guru melakukan penyimpulan data tentang ada tidaknya peningkatan kemampuan bahasa ekspresif anak Taman Kanak–Kanak Islam Qalbin Salim. Evaluasi dari pelaksanaan tindakan pada siklus I, meliputi analisis, sintesis, pemaknaan, penjelasan, dan penyimpulan data dan informasi yang berhasil dikumpulkan.Data dan infomasi tersebut

(25)

digunakan sebagai bahan pertimbangan perencanaan pelaksanaan pembelajaran dengan menggunakan media buku cerita bergambar pada siklus berikutnya.

Jika hasil yang diharapkan belum tercapai maka siklus ke II akan tetap dilaksanakan untuk membuktikan bahwa hasil tersebut bukan sebuah kebetulan, tetapi merupakan hasil dari penerapan pembelajaran dengan menggunakan media buku cerita bergambar.

E. Teknik dan Prosedur Pengumpula Data

Teknik pengumpulan data yang digunakan pada penelitian ini adalah : 1. Observasi

Pelaksanaan observasi harus menjadi perhatian bagi peneliti agar hasil penelitian menjadi valid dan dapat dipertanggung jawabkan. Obsevasi dilakukan dengan cara mengidentifikasi keadaan anak didik selama proses belajar mengajar berlangsung dengan mencatat pada lembar observasi, dan mengindentifikasi pelaksanaan yang dilakukan guru dalam proses pembelajaran serta mengidentifikasi cerita yang digunakan oleh seorang guru berdasarkan langkah–langkah kegiatan bercerita. Hal ini manjadi pengamatan dan perhatian bagi pelaksanaan observasi dalam penelitian tindakan kelas bertujuan meningkatkan kemampuan bahasa ekspresif anak melalui metode bercerita di TK Islam Qalbin Salim Makassar.

(26)

2. Teknik Dokumentasi

Teknik dokumentasi dimaksudkan untuk memperoleh data yang relevan terhadap pekembangan kemampuan bahasa ekspresif anak didik di kelompok B TK Islam Qalbin Salim Makassar.

F. Teknik Analisis Data dan Indikator Kebehasilan 1. Teknik Analisis Data

Data yang diperoleh dari hasil observasi dianalisis secara kualitatif.

Dimana data yang dimaksud dalam gambaran aktivitas mengajar guru dan belajar anak dalam pembelajaran yang menggunakan media buku cerita bergambar dan untuk mengetahui keberhasilan pada setiap siklus. Data dari hasil analisis berdasarkan indicator pembelajaran, sedangkan data mengenai kemampuan bahasa ekspresif anak dianalisis secara kuantitatif persentase nilai tertinggi dan nilai terendah yang dicapai pada setiap siklus.

Data tentang hasil observasi anak didik dianalisis secara kualitatif dengan menggunakan teknik kategori standar penilaian persentase oleh Supardi (2009) sebagai berikut :

(27)

a. Kemampuan anak dalam menjawab pertanyaan dengan kalimat sederhana dan menceritakan kembali cerita secara sederhana dikategorikan berkembang sangat baik apabila hasil mencapai minimal 75%.

b. Kemampuan anak dalam menjawab pertanyaan dengan kalimat sederhana dan menceritakan kembali cerita secara sederhana dikategorikan berkembang sesuai harapan apabila hasil mencapai minimal 51%-74%.

c. Kemampuan anak dalam menjawab pertanyaan dengan kalimat sederhana dan menceritakan kembali cerita secara sederhana dikategorikan mulai berkembang apabila hasil mencapai minimal 26%-50%.

d. Kemampuan anak dalam menjawab pertanyaan dengan kalimat sederhana dan menceritakan kembali cerita secara sederhana dikategorikan belum berkembang apabila hasil mencapai minimal < 25%.

2. Indikator Keberhasilan

Indikator keberhasilan dalam penelitian tindakan kelas ini apabila peningkatan kemampuan bahasa ekspresif anak telah mencapai 70 % dari indikator menjawab pertanyaan dengan kalimat sederana dan menceritakan kembali isi cerita secara sederhana.

(28)

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Pelaksanaan Penelitian

1. Gambaran Umum Lokasi Pengembangan Penelitian

Taman Kanak-Kanak Islam Qalbin Salim bertempat di Jalan Paccinang IV No. 56/118 Kelurahan Tello Baru Kecamatan Panakkukang Makassar.

Tenaga pendidik di Taman kanak- Kanak Islam Qalbin Salim sebanyak enam orang yang terdiri dari satu kepala sekolah dan lima orang guru.

Tabel 4.1. Keadaan Personil Guru Taman Kanak-Kanak Islam Qalbin Salim

No Nama Jabatan status Pendidikan Terakhir

1. Nurni Firdausi Bahar Kepala GTY S2 PAUD

(29)

S.Sos., M.Pd. Sekolah

2. Irwana Abdullah Guru GTY LPGTK

3. Devi A. Maricar, A.

Md Guru GTY D3 Sastra Arab

4. Dartila Guru GTY SMK

5. Wati Hasan Guru GTY SMU

6. Nirvayani Guru GTY SMK

Sumber: Data Papan Keadaan Guru Taman Kanak-Kanak Islam Qalbin Salim Thn.2016/2017

Sejak didirikan pada tahun 2004 hingga sekarang, Taman Kanak-Kanak ini senantiasa mengalami perkembangan.Hal ini terlihat dari jumlah anak didik pada setiap tahunnya yang selalu bertambah. Pada tahun ajaran 2016/2017 jumlah anak terbagi atas satu kelompok A dan empat kelompok B dengan jumlah anak didik tiap kelasnya lebih kurang 19 anak didik.

Table 4.2. Data Anak Didik TK Islam Qalbin Salim Makassar

NO Kelompok Laki-Laki Perempuan Jumlah

1 A 11 6 17

2 B1 12 8 20

3 B2 10 8 18

4 B3 12 7 19

5 B4 12 7 19

Total Anak Didik 57 36 93

Sumber: Papan data Anak Didik TK Islam Qalbin Salim Makassar Thn.2016/2017

2. Penerapan Metode Bercerita Untuk Meningkatkan Kemampuan Bahasa Ekspresif Anak di Taman Kanak-Kanak Islam Qalbin Salim Makassar.

Untuk memberikan gambaran mengenai kemampuan bercerita anak yakni mampu mengungkapkan gambaran, maksud, gagasan, perasaan (bahasa

(30)

ekspresif) dalam keadaan dimanapun mereka berada yang dapat bertutur secara teratur dan benar maka kegiatan pemgembangan pembelajaran didalam kelas meliputi beberapa tahap sebagai berikut:

a. Siklus I 1) Pertemuan I a) Perencanaan

Sebelum penulis melaksanakan kegiatan pengembangan pembelajaran, terlebih dahulu penulis berdiskusi dengan guru kelompok B untuk menyusun rencana kegiatan harian yang berkaitan dengan kemampuan bercerita dalam menyusun langkah pembelajaran.Adapun langkah- langkah yang penulis lakukan di Taman Kanak-Kanak Islam Qalbin Salim Makassar, pada pengembangan pembelajaran pada tahap perencanaan ini meliputi:

(1) Membuat Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Harian (RPPH). Pada kegiatan ini guru dan observer (penulis) membuat dan menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Harian yang akan dilakukan dalam proses belajar mengajar untuk dapat mengetahui pengembangan dalam kemampuan bercerita anak, maka dalam hal ini langkah yang pertama kali dilakukan melihat konsentrasi anak ketika seorang guru memberi informasi/keterangan tentang sesuatu hal, dan dapat memberi jawaban satu kata atau lebih tentang sesuatu hal yang diceritakan. Dalam perencanaan kegiatan pembelajaran ini terdiri dari kegiatan awal, kegiatan inti, kegiatan istirahat dan kegiatan penutup. Perencanaan kegiatan pengembangan pembelajaran yang akan dilaksanakan sebanyak empat kali

(31)

pertemuan. Pertemuan I dimulai tanggal 5 Desember 2016 sampai pertemuan ke IV pada tanggal 16 Desember 2016.

(2) Mengatur ruangan dan menyiapkan bahan untuk pengembangan pembelajaran.

Memberi keterangan atau informasi tentang sesuatu hal dan menjawab pertanyaan tentang sesuatu yang diceritakan oleh guru. Pada kegiatan ini guru dan observer sebelum memulai pembelajaran terlebih dahulu mengatur ruangan kelas agar suasuan ruangan menjadi lebih menarik dan anak senang dalam menerima pembelajaran. Selain itu guru dan observer sebelum memulai pembelajaran juga menyiapkan bahan yang akan digunakan dalam proses atau pelaksanaan pengembangan kemampuan bercerita anak.

(3) Menyiapkan instrument atau lembar observasi

Dalam kegiatan ini guru dan observer terlebih dahulu menyiapkan lembar observasi dimana guru dan observer membuat atau menyusun lembar observasi dan instrumen observasi yang berisi hal-hal yang diamati pada kegiatan pengembangan pembelajaran yang berlangsung dalam hal meningkatkan kemampuan bercerita anak dengan penerapan metode bercerita pada anak di Taman kanak-kanak Islam Qalbin Salim Makassar.

b) Pelaksanaan

Tahap pelaksanaan pengembangan pertemuan I pada hari senin tanggal 5 Desember 2016. Pelaksaan pertemuan I dimulai pada pukul 07.30 sampai

(32)

pukul 10.00 Wita. Pada tahap ini terbagi atas empat kegiatan yaitu : kegiatan awal, kegiatan inti, kegiatan istirahat dan kegiatan penutup yang akan diuraikan sebagai berikut:

(1) Kegiatan awal

(a) Berbaris, pada kegiatan ini, guru mengarahkan anak untuk berbaris dihalaman dengan teratur.

(b) Mengucapkan salam, pada kegiatan ini, guru mengucapkan “salam (Assalamu ‘Alaikum Warahmatullahi Wabarakatu) kenudian anak membalas “salam (Wa’alaikum Salam Waramatullahi Wabarakatu).

Kegiatan ini dilakukan agar anak terbiasa untuk mengucapkan salam dan menjawab salam apabila bertemu dengan orang lain.

(c) Motorik Kasar, pada kegiatan ini guru mengarahkan anak menirukan gerakan pohon yang tertiup angin. Kegiatan ini bertujuan untuk melatih motori kasar anak.

(d) Latihan Sholat Berjama’ah, pada kegiatan ini guru mengarahkan anak untuk melakukan gerakan sholat sesuai dengan aturan. Kegiatan ini bertujuan untuk membiasakan anak melakukan kegiatan ibadah.

(e) Apersepsi, guru melakukan apersepsi dengan mengingatkan anak didik dengan pelajaran yang pernah diterima dan menghubungkannya dengan pembelajaran yang akan diterima hari ini.

(f) Menyanyi, menyayikan lagu sesuai tema hari ini “ Lihat Kebunku “ dengan bimbingan guru.

(33)

(2) Kegiatan Inti

Pada kegiatan ini terdiri atas tiga kegiatan yaitu:

(a) Pemberian tugas, mengelompokkan macam-macam tanaman sayur dan buah, mengubungkan kata buah dengan bendanya, menunjuk huruf awal dari kata buah.

(b) Pemberian tugas yaitu meminta anak mendengarkan cerita yang dibacakan oleh guru.

Pada kegiatan ini langkah-langkah yang dilakukan oleh guru adalah:

(a) Guru mengkomunikasikan tujuan bercerita dengan tema kegiatan anak.

(b) Guru mengatur posisi duduk anak. Langkah awal yang dilakukan oleh guru sebelum membacakan buku cerita adalah mengatur posisi duduk anak agar anak dapat mendengarkan cerita dengan baik.

(c) Guru memulai kegiatan bercerita dengan memberikan pertanyaan kepada anak tentang pengalaman anak yang berhubungan dengan tema cerita yang akan dibacakan oleh guru.

(d) Guru membacakan cerita dengan mimik dan intonasi yang meyakinkan agar menarik perhatian anak.

(e) Guru memberikan beberapa pertanyaan yang berhubungan dengan isi cerita yang telah dibacakan.

Kegiatan anak:

(a) Anak memperhatikan guru yang sedang membacakan ceritadengan sabar.

(b) Anak didik mulai menjawab pertanyaan yang diberikan oleh guru.

(3) Kegiatan Istirahat

(34)

(a) Mencuci sebelum makan

(b) Membaca do’a sebelum dan setelah makan (c) Bermain

(4) Kegiatan Akhir (a) Mengaji

(b) Tanya jawab tentang kegiatan anak pada hari ini. Pada kegiatan ini, guru melakukan tanya jawab tentang kegiatan hari ini yang bertujuan mengingatkan kembali tentang kegiatan yang hari dilakukan oleh anak.

(c) Pesan Moral. Pada kegiatan ini, anak didik disampaikan pentingnya mengucapkan salam jika bertemu dengan orang lain.

(d) Berdoa dan salam. Pada kegiatan ini, anak didik bersama-sama membaca do’a dengan bimbingan guru dan mengucapkan salam sebelum pulang.

c) Observasi

Dalam kegiatan ini, hal-hal yang diamati saat kegiatan adalah kegiatan guru saat menyampaikan pembelajaran, kegiatan anak saat melaksanakan kegiatan pembelajaran atau respon yang disampaikan anak saat guru menyampaikan materi pembelajaran melalui metode bercerita dalam mengembangkan kemampuan bahasa anak. Observasi dilaksanakan selama proses kegiatan belajar mengajar berlangsung berupa perkembangan berbahasa anak dalam merangsang anak untuk mengemukakan apa yang ada dalam pikiran dan imajinasi anak melalui metode bercerita.

(35)

Adapun yang menjadi objek pengamatan adalah guru dan anak didik, dan hasilnya adalah:

(1) Observasi guru

Hasil observasi pada guru menunjukkan bahwa dari empat item yang diamati pada guru kelompok B Taman Kanak-Kanak Islam Qalbin Salim Makassar pada pengembangan pembelajaran pada pertemuan I mendapatkan hasil penilaian dalam persentase berupa penilaian baik 33% , cukup 17% dan kurang 50%.:

(a) Guru mempersiapkan materi pembelajaran yang menarik yaitu memberikan informasi tentang macam-macam buah-buahan dan bagaimana manfaatnya untuk anak. Pada tahap ini guru mendapatkan penilaian baik karena melakukan kegiatan dengan baik.

(b) Guru memperkenalkan macam-macam buah dan menjelaskan apa saja manfaatnya. Pada tahap ini guru memperoleh penilaian cukup, ini karena menyampaikan dengan baik namun belum maksimal.

(c) Guru menyampaikan cerita dengan mimik dan intonasi yang kurang jelas.

Pada tahap ini guru mendapatkan penilaian kurang karena pada tahap ini guru tidak menyampaikaikan informasi dengan suara yang jelas.

(d) Guru mengamati dan mengobservasi anak, pada tahap ini guru memperoleh penilaian cukup karena guru mengamati dn mengobservasi anak dengan baik tapi tidak maksimal.

(2) Hasil observasi anak

(36)

Hasil observasi guru menunjukkan bahwa empat item yang diamati pada guru kelompok B Taman Kanak-Kanak Islam Qalbin Salim Makassar mendapatkan hasil penilaian pada indikator menjawab pertanyaan dengan kalimat sederhana dari 12 anak dijadikan sampel pengembangan pembelajaran mendapatkan hasil penilaian dalam persentase berupa penilaian berkembang sangat baik (BSB) 25% yakni melakukan kegiatan dengan baik dan benar, berkembang sesuai harapan (BSH) 33% yakni mampu melakukan kegiatan dengan baik namun masih dalam bimbingan guru, mulai berkembang (MB) 25% yakni mulai mampu melakukan kegiatan dengan bantuan dan bimbingan guru dan belum berkembang (BB) 17% yakni belum mampu melakukan kegiatan walaupun dengan bantuan dan bimbingan guru.

d) Refleksi

Dari hasil pengembangan pembelajaran pada indikator menjawab pertanyaan dengan kalimat sederhana, hal ini sesuai dengan pengamatan melalui lembar observasi menunjukkan hasil pencapaian yang belum maksimal, maka refleksi yang dilakukan sebagai barikut:

(1) Perencanaan, umumnya sudah baik namun perlu dipersiapkan dengan lebih baik lagi, seperti apa guru akan membawakan cerita kepada anak sehingga anak dapat mendengarkan informasi dengan baik.

(2) Pelaksanaan, secara keseluruhan sudah mulai baik namun guru sebaiknya membawakan cerita kepada anak tentang macam-macam buah dan

(37)

manfaatnya lebih menarik sehingga anak dapat mendengar dengan baik dan tidak berbicara ketika guru membacakan cerita.

(3) Observasi, masih dalam kategori cukup dalam memahami kegiatan pembelajaran yang dilaksanakan dan guru masih terfokus menjalankan kegiatan tanpa memperhatikan apakah anak mengerti akan kegiatan tersebut.

Berdasarkan analisis dan refleksi diatas dapat mengacu kepada indikator keberhasilan, maka dapat disimpulkan bahwa kegiatan pembelajaran menjawab pertanyaan dengan kalimat sederhana tentang macam-macam buah dan manfaatnya masih belum berhasil. Oleh karena itu pada pertemuan II aspek pengembangan dalam metode bercerita dapat dilaksanakan dengan baik.

(1) Perencanaan, guru perlu memberikan penjelasan yang muda dipahami oleh anak didik dalam aspek pengembangan yang akan dilaksanakan serta memberi pemahaman tentang kegiatan yang akan dilakukan.

(2) Pelaksanaan, pada indikator menjawab pertanyaan dengan kalimat sederhana tentang cerita pendek yang diceritakan oleh guru dengan aspek pengembangan lebih berjalan dengan baik.

(3) Observasi, guru harus cermat dan teliti untuk memperhatikan setiap anak didik sehingga kegiatan pembelajaran berjalan dengan baik dan anak didik pun memahami materi yang disampaikan

2) Pertemuan II a) Perencanaan

(38)

Perencanaan, sama dengan apa yang dilaksanakan pada pertemuan II dan telah diuraikan sebelumnya yaitu:

(1) Membuat kegiatan pembelajaran.

(2) Mengatur ruangan sedemikian rupa sehingga anak nyaman dalam menerima pembelajaran.

(3) Menyiapkan instrument dan lembar observasi

b) Pelaksanaan

Tahap Pelaksanaan. Pertemuan pada hari kamis tanggal 8 Desember 2016 pelaksanaan pertemuan II dimulai pada pukul 07.30 sampai dengan pukul 10.00 Wita. Pada tahap ini terbagi atas empat kegiatan yaitu: kegiatan awal, kegiatan inti, kegiatan istirahat dan kegiatan penutup yang akan diuraikan berikut ini:

(1) Kegiatan awal

(a) Berbaris, berisalam dan bersyahadat (b) Motorik kasar

(c) Sholat berjma’ah (d) Apersepsi

(e) Manyanyi (2) Kegiatan inti

Pada kegiatan ini terdiri atas tiga kegiatan yaitu:

(39)

(b) Pemberian tugas menunjuk huruf awal kata buah (c) Pemberian tugas, mewarnai gambar buah.

(d) Pemberian tugas, menceritakan kembali cerita yang telah didengar.

Pada kegiatan ini guru melakukan kegiatan sebagai berikut:

(a) Guru mengkomunikasin tujuan cerita dengan tema dalam kegiatan anak.

(b) Guru mengemukakan hal-hal yang telah diterima anak didik dan memberikan informasi, cerita, pengalaman yang baru selama melakukan kegiatan.

(c) Guru merespon anak didik agar dapat memberikan jawaban dengan kalimat sederhana dan menceritakan kembali cerita yang diceritakan oleh guru.

(d) Guru membimbing anak mengerti dari jawaban yang diberikan.

(e) Guru mengamati dan mengbservasi anak.

(3) Kegiatan Istirahat

(a) Mencuci tangan sebelum dan setelah makan (b) Berdo’a sebelum dan setelah makan

(c) Bermain (4) Kegiatan Penutup

(a) Mengaji

(b) Tanya jawab kegiatan hari ini

(c) Pesan moral: mengucapkan Subanallah jika mengagumi kebesaran ciptaan Allah.

(d) Berdo’a dan salam sebelum pulang.

(40)

c) Observasi

Dalam kegiatan observasi, hal-hal yang diamati saat kegiatan adalah kegiatan guru menyampaikan pembelajaran, kegiatan anak saat pembelajaran atau repon yang ditunjukkan anak pada saat guru menyampaikan materi sesuai dengan aspek perkembangan. Observasi dilaksanakan selama proses kegiatan belajar mengajar berlangsung. Adapun yang menjadi objek pengamatan adalah guru dan anak didik, dan hasilnya sebagai berikut:

(1) Hasil Observasi Guru

Hasil observasi guru menunjukkan bahwa empat item yang diamati pada guru kelompok B Taman Kanak-Kanak Islam Qalbin Salim Makassar mendapatkan hasil penilaian pada indikator menjawab pertanyaan dengan kalimat sederhana dan menceritakan kembali cerita dengan kalimat sederhana, mendapatkan hasil penilaian dalam persentase berupa penilaian baik 33% , cukup 50% dan kurang 17%.

(a) Guru memberikan cerita yang menarik pada kegiatan ini, pada tahap ini guru memperoleh penilaian baik.

(b) Guru memperkenalkan nama buah dan manfaatnya, pada tahap ini guru memperoleh penialain cukup, karena guru melakukan kegiatan tapi tidak maksimal.

(c) Guru menyampaikan cerita dengan mimik dan intonasi suara, pada tahap ini guru memperoleh penilaian cukup, karena guru melakukan kegiatan dengan baik tapi belum maksimal.

(41)

(d) Guru memberikan kesimpulan, mengamati dan mengobservasi anak, pada tahap ini guru memperoleh penilaian cukup karena guru mengamati dan mengobservasi anak tetapi belum maksimal.

(2) Hasil Observasi Anak.

Hasil observasi anak kelompok B Taman Kanak-Kanak Islam Qalbin Salim Makassar pada pertemuan II pada aspek perkembangan menceritakan kembali cerita yang telah diceritakan oleh guru, hal ini sesuai dengan pengamatan melalui lembar observasi menunjukkan hasil pencapaian dari 12 anak dijadikan sampel pengembangan pembelajaran mendapatkan hasil penilaian dalam persentase berupa penilaian berkembang sangat baik (BSB) 25% yakni melakukan kegiatan dengan baik dan benar, berkembang sesuai harapan (BSH) 42% yakni mampu melakukan kegiatan dengan baik namun masih dalam bimbingan guru, mulai berkembang (MB) 25% yakni mulai mampu melakukan kegiatan dengan bantuan dan bimbingan guru dan belum berkembang (BB) 8% yakni belum mampu melakukan kegiatan walaupun dengan bantuan dan bimbingan guru.belum maksimal.

d) Refleksi

Dari hasil pengembangan pembelajaran pada indikator menjawab pertanyaan dengan kalimat sederhana, hal ini sesuai dengan pengamatan melalui lembar observasi menunjukkan hasil pencapaian yang belum maksimal, maka refleksi yang dilakukan sebagai barikut:

(42)

(1) Perencanaan, umumnya sudah baik namun perlu persiapan lebih baik lagi, seperti apa guru akan melakukan kegiatan bercerita dan upaya apa sebaiknya dilakukan sehingga anak didik dapat merespon dengan baik.

(2) Pelaksanaan, secara keseluruhan sudah mulai membaik namun guru sebaiknya memberikan cerita menarik dibantu dengan penghayatan dan mimik muka dan intonasi suara yang meyakinkan sehingga aspek pengembangan memnjawab pertanyaan dengan kalimat sederhana dan menceritakan kembali cerita yang telah diceritakan oleh guru dapat berjalan dengan baik.

(3) Observasi, masih dalam kategori cukup dalam memahami kegiatan pembelajaran yang dilaksanakan dan guru masih terfokus pada kegiatan tanpa memperhatikan apakah anak mengerti akan kegiatan tersebut.

Berdasarkan analisis dan refleksi diatas dapat mengacu pada indikator keberhasilan, maka dapat disimpulkan bahwa kegiatan pembelajaran menjawan pertanyaan dengan kalimat sederhana dan menceritakan kembali cerita yang telah diceritakan oleh guru masih belum berhasil oleh karena itu pada pertemuan III aspek pengembangan dalam metode bercerita dapat dilaksanakan dengan baik.

(1) Perencanaan, guru memberikan penjelasan yang mudah dipahami oleh anak dalam aspek pengembangan yang

(2) dilaksanakan serta memberi pemahaman tentang kegiatan yang dilakukan.Pelaksanaan, pada indikator menjawab pertanyaan dengan kalimat

(43)

sederhana dan menceritakan kembali cerita yang telah diceritakan oleh guru akan berjalan dengan baik.

(3) Obsevasi, guru harus cermat dan teliti untuk memperhatikan setiap anak didik sehingga kegiatan pembelajaran berjalan baik dan anak didik pun memahami materi yang disampaikan.

b. Siklus II 1) Pertemuan I a) Perencanaan

Perencanaansama dengan apa yang dilaksanakan pada pertemuan I dan pertemuan II yang telah diuraikan sebelumnya yaitu:

(1) Membuat rencana kegiatan

(2) Mengatur ruangan sedemikian rupaagar didik merasa nyaman dalam menerima pembelajaran

(3) Menyiapkan instrument dan lembar observasi.

b) Pelaksanaan

Tahap pelaksanaan, pertemuan III pada hari tanggal 12 Desember 2016 . pertemuan III dimulai pada pukul 07.30 sampai dengan pukul 10.00 Wita. Pada

(44)

tahap ini terbagi atas empat kegitan yaitu: kegiatan awal, kegiatan inti, kegiatan istirahat dan kegiatan penutup yang akan diuraikan sebagai berikut:

(1) Kegiatan awal

(a) Berbaris, berisalam, bersyahadat.

(b) Motorik kasar

(c) Latihan sholat dhuhaa (d) Apersepsi

(e) Menyanyi (2) Kegiatan Inti

(a) Pemberian tugas menebalkan garis bentuk buah (b) Mengubungkan kata buah dengan bendanya

(c) Menunjuk huruf dan menyebut uruf awal dari kata buah.

(d) Menceritakan kembali cerita yang telah diceritakan oleh guru.

Pada kegiatan ini guru melakukan kegiatan sebagai berikut:

(a) Guru mengemukakan tujuan dengan tema dalam kegiatan anak.

(b) Guru mengemukakan hal-hal yang telah diterima anak didik dan memberikan informasi, cerita, pengalaman yang baru selama melakukan kegiatan.

(c) Guru merespon dengan memberikan pertanyaan yang berkaitan dengan cerita yang telah diceritakan.

(d) Guru memberikan tugas menebalkan garis bentuk gambar buah.

(e) Guru mengamati dan mengobservasi anak.

(3) Kegiatan Istirahat

(45)

(a) Mencuci tangan sebelum dan setelah makan (b) Berdo’a sebelum dan setelah makan

(c) Bermain

(4) Kegiatan Penutup (a) Mengaji

(b) Tanya jawab tentang kegiatan hari ini

(c) Pesan moral dari buguru: mengucapkan In Syaa Allah jika berjanji.

(d) Berdo’a dan salam sebelum pulang.

c) Observasi

Dalam kegiatan observasi, hal-al yang diamati adalah kegiatan guru dan anak didik dalam menyapaikan pembelajaran, kegiatan anak saat pembelajaran atau respon apa yang ditunjukkan anak pada saat guru menyapaikan cerita sesuai dengan aspek perkembangan. Observasi dilaksanakan selama proses belajar mengajar berlangsung. Adapun yang menjadi objek pengamatan adalah guru dan anak didik, dan hasilnya sebagai berikut:

(1) Hasil Observasi Guru

Hasil observasi guru menunjukkan bahwa empat item yang diamati pada guru kelompok B Taman Kanak-Kanak Islam Qalbin Salim Makassar mendapatkan hasil penilaian Pada tahap ini guru memperoleh penilaian dalam persentase berupa penilaian baik 50% , cukup 50% dan kurang 0%.

(46)

(a) Guru memberikan judul buku cerita yang menarik..

(b) Guru memperkenalkan nama buah-buahan satu persatu, pada tahap ini guru memperoleh penilaian baik karena melakukan kegiatan dengan maksimal.

(c) Guru menyampaikan cerita dengan mimik dan intonasi suara. Pada tahap ini guru memperoleh penilaian cukup karena melakukan namun belum maksimal.

(d) Guru memberikan kesimpulan, mengamati dan mengobservasi anak, pada tahap ini guru memperoleh penilaian cukup karena mengamati dan mengobservasi anak tetapi tidak maksimal.

(2) Hasil Observasi Anak

Hasil observasi anak kelompok B Taman Kanak-Kanak Islam Qalbin Salim Makassar pada pertemuan III dalam aspek perkembangan memberi respon menjawab pertanyaan dengan kalimat sederhana dalam bahasa yang jelas, menghasilkan hasil penilaian dari 12 anak yang dijadikan sampel pengembangan pembelajaran dalam persentase berupa penilaian berkembang sangat baik (BSB) 50%, berkembang sesuai harapan (BSH) 34%, mulai berkembang (MB) 16% dan belum berkembang (BM) 0%.

d) Refleksi

(47)

Dari hasil pengembangan pembelajaran pada indikator bercerita dengan menggunakan media buku cerita yang disediakan dengan aspek perkembangan menjawab pertanyaan dengan kalimat sederhana dan menceritakan kembeli cerita yang telah diceritakan oleh guru, hal ini sesuia dengan pengamatan melalui lembar observasi menunjukkan hasil pencapaian belum maksimal, maka refleksi yang ditemukan sebagai berikut:

(1) Perencanaan, umumnya sudah baik namun perlu dipersiapkan lebih baik lagi, seperti apa guru akan melakukan cerita dan upaya apa yang sebaiknya dilakukan sehingga anak dapat merespon dengan baik.

(2) Pelaksanaan, secra keseluruhan sudah baik namun guru sebaiknya memberikan cerita yang menarik, mimik dan intonasi suara yang meyakinkan sehingga aspek pengembangan menjawab pertanyaan dengan kalimat sederhana dan menceritakan kembali cerita yang telah diceritakan oleh guru berjalan dengan baik

(3) Observasi, masih dalam kategori cukup dalam memahami kegiatan pembelajaran yang dilaksanakan oleh guru masih terfokus pada pelaksanaan kegiatan agar anak didik dapat menikmati apa yang disampaikan guru.

Berdasarkan analisis dan refleksi diatas dapat mengacu pada indikator keberhasilan, maka dapat disimpulkan bahwa kegiatan pembelajaran bercerita menggunakan media buku cerita sudah mendekati berhasil oleh karena itu pada pertemuan IV aspek pengembangan dalam metode bercerita dengan media buku cerita dapat lebih ditingkatkan pengembangannya.

(48)

(1) Perencanaan, guru masih perlu melakukan penjelasan yang mudah dipahami oleh anak didik dalam aspek pengembangan yang akan dilaksanakan serta member pemahaman tentang kegiatan yang akan dilaksanakan.

(2) Pelaksanaan, padaindikator menjawab pertanyaan dengan kalimat sederhana dan menceritaka kembali cerita yang telah diceritakan oleh guru berjalan dengan baik.

(3) Observasi, guru harus lebih cerdas dan teliti untuk memperhatikan setiap anak didik sehingga kegiatan pembelajaran berjalan dengan baik dan anak didik pun memahami materi yang disampaikan.

2) Pertemuan II a) Perencanaan

Perencanaansama dengan apa yang dilaksanakan pada pertemuan sebelumnya yang diuraikan yaitu:

(1) Membuat rencana kegiatan.

(2) Mengatur ruangan sedemikian rupa agar anak didik merasa aman dalam melaksanakan kegiatan.

(3) Menyiapkan instrument dan lembar observasi.

b) Pelaksanaan

(49)

Pelaksanaa pertemuan IV pada hari Senin tanggal 16 Desember 2016.

Pelaksanaan pertemuan IV dimulai pada pukul 07.30 sampai dengan pukul 10.30 Wita. Pada tahap ini terbagi atas empat kegiatan yaitu: kegiatan awal, kegiatan inti, kegiatan istirahat dan kegiatan penutup yang akan diuraikan sebagai berikut:

(1) Kegiatan Awal

(a) Berbaris, berisalam, bersyahadat (b) Motorik kasar

(c) Latihan Sholat dhuhaa (d) Menyanyi

(2) Kegiatan inti

Pada kegiatan ini terdiri dari tiga kegiatan yaitu:

(a) Pemberian tugas, mencocok gambar buah.

(b) Pemberian tugas, menghubungkan kata buah dengan bendanya.

(c) Pemberian tugas, menunjuk huruf dari huruf awal kata buah.

Pada kegiatan ini guru melakukan kegiatan sebagai berikut:

(a) Guru mengkomunikasikan tujuan dengan tema kegiatan anak.

(b) Guru mengatur tempat duduk anak agar anak dapat mendengar dengan intonasi yang jelas.

(c) Pembukaan kegitan bercerita, guru menggali pengalaman anak sesuai dengan tema cerita.

(d) Guru merespon anak didik untuk mengajukan pertanyaan ketika dibacakan buku cerita.

(50)

(e) Guru memberikan tugas menceritakan kembali cerita sesuai dengan cerita yang telah diceritakan guru.

(f) Guru mengamati dan mengobservasi anak didik.

(3) Kegiatan istirahat.

(a) Mencuci tangan sebelum dan setelah makan.

(b) Berdo’a sebelum dan setelah makan.

(c) Bermain.

(4) Kegiatan penutup (a) Mengaji

(b) Tanya jawab kegiatan hari ini

(c) Pesan moral dari guru: mengucapkan terima kasih jika diberi sesuatu.

(d) Berdo’a dan pulang

c) Observasi

Dalam observasi pertemuan IV, hal-hal yang diamati adalah kegiatan guru dan anak didik dalam menyampaikan pembelajaran, kegiatan anak saat pembelajaran pada saat guru menyampaikan materi sesuai dengan aspek pengembangan. Observasi dilaksanakan selama proses belajar mengajar berlangsung. Adapun yang menjadi objek pengamatan adalah guru dan anak didik, dan adapun hasilnya sabagai berikut:

(1) Hasil Observasi Guru

Hasil observasi guru menunjukkan empat item yang diamati pada guru kelompok B Taman Kanak-Kanak Islam Qalbin Salim Makassar

(51)

mmendapatkan hasil penilaian dalm persentase berupa penilaian baik 83% , cukup 17% dan kurang 0%.

(a) Guru memberikan judul buku yang menarik, pada tahap ini guru memperoleh penilaian baik.

(b) Guru memperlihatkan gambar pada buku, pada tahap ini guru memperoleh penilaian baik karena melakukan kegiatan dengan maksimal.

(c) Guru menyampaikan cerita dengan mimik muka dan intonasi suara, pada tahap ini guru memperoleh penilaian baik.

(d) Guru menyimpulkan dan mengobservasi anak, pada tahap ini guru memperoleh penilaian baikkarena mengamati dan mengobservasi anak dengan maksimal.

(2) Hasil Observasi Anak

Hasil observasi pada anak didik kelompok B Taman Kanak-Kanak Islam Qalbin Sallim Makassar pada pertemuan IV pada aspek perkembangan anak dapat menceritakan kembali cerita yang telah diceritakan oleh guru dari 12 anak yang dijadikan sampel pengembangan pembelajaran dalam persentase berupa penilaian berkembang sangat baik (BSB) 75%, berkembang sesuai harapan (BSH) 17%, mulai berkembang (MB) 8% dan belum berkembang (BM) 0%.

d) Refleksi

(52)

Dari hasil pengembangan pembelajaran dalam indikator menjawab pertanyaan dengan kalimat sederhana dan menceritakan kembali cerita sesuia dengan cerita yang telah diceritakan oleh guru melalui media buku cerita, hal ini sesuai dengan pengamatan melalui lembar observasi menunjukkan hasil pemncapaian yang sudah maksimal, maka refleksi yang ditemukan sebagai beriku:

(1) Perencanaan, pada proses perencanaan yang telah dilakukan suda berjalan dengan baik.

(2) Pelaksanaan, pada umumnya semua hal yang menyangkut aspek pengembangan dalam meningkatkan kemampuan anak bercerita sampai pertemuan IV ini telah dilaksanakan dengan baik, hal ini terllihat dari motivasi, bimbingan dan mengarahkan anak yang mengalami kesulitan dalam pembelajaran.

(3) Observasi

Proses observasi berjalan sesuai dengan apa yang direncanakan, seluruh guru dan anak teramati melalui lembar observasi yang telah disusun oleh penulis dan indikator-indikator kemampuan bercerita anak dapat teridentifikasi dengan baik.

Pada pengembangan pembelajaran sampai pertemuan IV terlihat adanya peningkatan dan perubahan tentang kemampuan guru dan anak dalam menerapkan pengembangan pembelajaran menggunakan media buku cerita.

B. Pembahasan

(53)

Bahasa merupakan alat atau perantara bagi manusia karena digunakan untuk menyapaikan keinginan, ide, juga untuk berkomunikasi, tanpa bahasa manusia tidak dapat berhubungan antara satu dengan yang lainnya. Bahasa adalah salah satu ciri pembeda manusia dengan mahkluk hidup lain.

Berdasarkan hasil penelitian diperoleh peningkatan hasil dalam kemampuan bahasa ekspresif pada anak TK Islam Qalbin Salim Makassar melalui pengembangan pembelajaran yang pelaksanaannya yakni pertemuan I, ke pertemuan II dan pertemuan III masih terdapat kekurangan-kekurangan yang mana kekurangan tersebut berasal dari guru dan anak diantaranya pada saat menjawab pertanyaan dengan kalimat sederhana dan menceritakan kembali cerita yang telah diceritakan oleh guru melalui media buku cerita.

Pada pelaksanaan pembelajaran dipertemuan ke IV kemampuan bahasa ekspresif anak sudah mengalami peningkatan yang mana kekurangan- kekurangan yang terjadi pada pertemuan sebelumnya sudah dapat diperbaiki.

Hal ini menunjukkan bahwa melalui media buku cerita dapat meningkatkan kemampuan bahasa ekspresif anak pada Taman Kanak-Kanak Islam Qalbin Salim Makassar. Pada setiap pertemuan nampak terlihat peningkatan mengenai pembelajaran yang dilaksanakan dengan menggunakan media buku cerita, hal tersebut dapat terlihat dari hasil observasi pada setiap pertemuan dan keberhasilan anak didik dalam peningkatan kemampuan bahasa ekspresif anak tidak lepas dari bimbingan dan motivasi guru kepada anak didik untuk terus menerus belajar. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa indikator

(54)

keberhasilan yang ditetapkan dalam penelitian ini telah terpenuhi dengan baik dengan demikian penelitian ini dianggap tuntas.

Anak usia Taman Kanak-Kanak yang sedang tumbuh kembang mengkomunikasikan kebutuhannya, pikirannya, perasaannya melalui kata-kata yang bermakna. Kemampuan bahasa anak masih terbatas, perkembangan bahasa anak terjadi sebagai hasil perkembangan funsi simbolis, bila perkembangan simolis telah berkembang maka hal ini memungkinkan anak belajar dalam bahasa orang lain.

Kegiatan bercerita seperti yang dilakukan di Taman Kanak-Kanak Islam Qalbin Salim Makassar yang merupakan salah satu solusi yang efektif untuk peningkatan kemampuan bahasa ekspresif anak. Hal tersebut karena bercerita adalah salah satu metode yang mengungkapkan perasaan, penyampaian pesan yang sangat sederhana dan sangat disenangi oleh anak. Langkah-langkah yang dilakukan dalam peningkatan kemampuan bahasa ekspresif anak melalui metode bercerita dengan media buku cerita sudah tepat dan berlangsung dengan baik yakni:1)Guru menyiapkan media untuk bercerita dan guru mengatur tempat duduk anak agar anak dapat mendengar dengan baik,2) Guru mengkomunikasikan tujuan dengan tema pada kegiatan anak, 3)Guru memulai bercerita dengan bertanya pengalaman anak yang berhubungan dengan tema cerita, 4) Guru bercerita dengan mimik muka dan intonasi yang baik, 5) Guru memberikan kesempatan kepada anak untuk menceritakan kembali cerita yang telah dicertakan oleh guru, 6) Guru menutup kegiatan bercerita dengan mengajukan pertanyaan yang berhubungan dengan isi cerita.

(55)

Demikianlah yang diungkapkan (Hidayat, 2015) mengatakan bahwa bahasa ekspresif suatu kemampuan yang melibatkan kemampuan yang melibatkan penggunaan bahasa verbal seperti perkembangan kosa kata, tata bahasa, mengingat kembali kata-kata dan memproduksi kalimat dengan kerumitan panjang yang sesuai dengan usia individu. Pembenahan yang dilakukan secara menyeluruh akan menjadikan kemampuan bahasa ekspresif anak bisa mencapai hasil maksimal.

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan

Berdasarkan dari hasil penelitian yang dilakukan, maka peneliti menyimpulkan bahwa penerapan metode bercerita dengan media buku cerita dapat meningkatkan kemampuan bahasa ekspresif pada anak didik di Taman Kanak-Kanak Islam Qalbin Salim Makasaar. Dalam hal ini dapat terlihat

(56)

menceritakan kembali cerita secara urut yang dilakukan pada kegiatan inti.

Hasil penelitian juga menunjukkan adanya peningkatan kemampuan bahasa ekspresif anak dari siklus I dan siklus II sudah mencapai persentase 75% yang menunjukkan secara rata-rata kemampuan bahasa ekspresif anak didik di Taman Kanak-Kanak Islam Qalbin Salim Makassar sudah berkembang sangat baik melalui penggunaan media buku cerita

B. Saran-saran

Adapun saran yang dapat dikemukakan dari hasil penelitian ini adalah:

1. Bagi guru diharapkan dapat menggunakan media buku cerita dalam kegiatan pembelajaran guna meningkatkan kemampuan bahasa ekspresif pada anak.

2. Bagi orang tua diharapkan mampu memberikan cerita untuk memancing dan manjadi umpan balik dimana anak akan berani untuk bercerita dengan bahasa anak dan secara spontan, ekspresi muncul pada saat anak bercerita serta anak tidak malu untuk bercerita sehingga mampu meningkatkan bahasa ekspresif anak.

3. Bagi sekolah diharapkan menerapkanmetode bercerita sebagai salah satu metode pembelajaran yang dapat digunakan untuk meningkatkan bahasa ekspresif pada anak didik.

(57)

DAFTAR PUSTAKA

Arikunto, Suharsini, dkk. (2009). Penelitian Tindakan Kelas.Edisi ke 9.Jakarta:

PT. Bumi Aksara

Bahctiar.Bachri.(2005). Pengembangan Kegiatan Bercerita Di Taman Kanak – kanak. Jakarta: Depdikbud

Beaty, Janice J. (2014).Observasi Perkembangan Anak Usia Dini. Edisi ke 7.Diterjemahkan oleh Arif Rakhman, Jakarta: Kencana

Depdiknas, (2006).Standar kompetensi Taman Kanak – Kanak dan Raudhlatul Athfal. Jakarta:Depdiknas

(58)

Ferliana, Jovita Maria dan Agustina. (2015). Meningkatkan Kemampuan Berkomunikasi AktifPada Anak Usia Dini. Jakarta: Luxima

Hidayat, Rahmat. (2015). The Super Teacher. Jakarta: Zahira

Hurlock, Elizabeth B. (2002). Perkembangan Anak. Diterjemahkan oleh Meitasari Tjandrasa. Jakarta: Erlangga

Jasmine, Julia. (2007). Mengajar Dengan Metode Kecerdasan Majemuk. Jakarta:

Nuansa

Kemendikbud. (2014). Kurikulum 2013 Pendidikan Anak Usia Dini. Jakarta:

Kemendikbud

Moelischatoen R.(2004)

Gambar

Tabel 4.1. Keadaan Personil  Guru Taman Kanak-Kanak Islam Qalbin Salim
Table 4.2. Data Anak Didik TK Islam Qalbin Salim Makassar

Referensi

Dokumen terkait

Secara teoritis penelitian ini memiliki manfaat yaitu memberikan pengetahuan bahwa bercerita menggunakan buku cerita merupakan salah satu metode yang tepat dalam

1. Kemampuan berbahasa dalam menerima bahasa dan mengungkapkan bahasa. Penerapan metode bercerita hanya dibatasi pada metode bercerita dengan. menggunakan celemek cerita..

1) Dengan bahasa Indonesia yang baik, peserta didik menjawab pertanyaan guru tentang langkah menulis cerita fantasi dengan mencari jawaban pada buku siswa. 2) Dengan

M etode cerita dengan menggunakan media gambar cerita ber s eri dari beberapa buku yang dilakukan oleh TK TAA M Adinda ini s angat tepat s ekali, karena dengan begitu

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas penerapan metode bercerita dengan alat peraga tak langsung atau tiruan, yaitu bercerita dengan buku cerita

sebelum mendongeng atau bercerita.. Langkah persiapan sebelum bercerita pada anak dapat dilakukan dengan cara:. 1. Mampu memilih cerita dan mengenal dengan baik audien

Disajikan kutipan teks cerita pendek, peserta didik dapat menentukan ungkapan ekspresif yang terdapat pada teks dengan tepat. PG

Ketika penulis menerjemahkan buku cerita anak berjudul Kokarina no Umi, penulis menggunakan makna kata yang paling tepat dari bahasa sasaran dengan menyesuaikan isi konteks