PENERAPAN METODE JARIMATIKA UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN BERHITUNG SISWA KELAS IV MATA PELAJARAN
MATEMATIKA MATERI PERKALIAN DI SDN 1 JELANTIK KECAMATAN JONGGAT KABUPATEN LOMBOK TENGAH
TAHUN PELAJARAN 2015/2016
Oleh :
SHAHIBUL ARDHI NIM : 151.119.177
FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN (FITK) INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN) MATARAM
MATARAM 2015
MOTTO
“Zikir,Fikir, dan Amal Soleh adalah sumber kekuatan terbesar”
( Alqushairi 9*).
Persembahan:
Skripsi ini ku persembahkan buat :
Ibunda, Ibunda, Ibunda Hj. Hasanah dan Ayahanda H.
Ibrahim tercinta karena Kuatnya do’a yang selalu tercurah sehingga Arsy mampu tergetar, untuk setiap proses dan kesuksesanku. Salam bakti dan hormatku semoga Allah SWT selalu mencurahkan Rahmat-Nya.
Kakak ku tersayang (Zurriyati ,Hermawati, Bahrain) sambut Senyum mu yang selalu menyapa menjadi kekuatan di setiap hari-hari pergerakan ku, suatu saat kita akan saling merangkul dalam kesuksusesan.
Cinta dan Sahabat-sahabatku yang tersimpul dalam bintang Sembilan, sahabat gembel, sahabat B-12, sahabat kos pertamina, pagi, siang, malam, cinta, canda, tawa, airmata dan perjuangan karena kalian adalah rantaian semangat hidup.
Almamaterku Institut Agama Islam Negeri Mataram.
Persembahan:
Skripsi ini ku persembahkan buat :
Ibunda, Ibunda, Ibunda Hj. Hasanah dan Ayahanda H. Ibrahim tercinta karena Kuatnya do’a yang selalu tercurah sehingga Arsy mampu tergetar, untuk setiap proses dan kesuksesanku.
Salam bakti dan hormatku semoga Allah SWT selalu mencurahkan Rahmat-Nya.
Kakak ku tersayang (Zurriyati ,Hermawati, Bahrain) sambut Senyum mu yang selalu menyapa menjadi kekuatan di setiap hari-hari pergerakan ku, suatu saat kita akan saling merangkul dalam kesuksusesan.
Cinta dan Sahabat-sahabatku yang tersimpul dalam bintang Sembilan, sahabat gembel, sahabat B-12, sahabat kos pertamina, sahabat kelas pagi, siang, malam, cinta, canda, tawa, airmata dan perjuangan karena kalian adalah rantaian semangat hidup.
Almamaterku Institut Agama Islam Negeri Mataram.
KATA PENGANTAR
Puji syukur kepada Allah SWT yang telah memberikan rahmat, taufik, hidayah, serta kesempatan sehingga skripsi ini dapat diselesaikan sebagai salah satu syarat untuk Yudicium dan Wisuda dalam rangka memproleh gelar Sarjana Pendidikan Pada Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan Institut Agama Islam Negeri Mataram.
Shalawat serta salam semoga dilimpahkan kepada junjungan nabi Muhammmad Saw, beserta keluarga, sahabat dan pengikutnya sampai ahir zaman.
Dengan selesainya proposal peneilitian ini, penulis menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang telah membantu dalam memberikan bimbingan saran dan informasi yang sangat berharga penulis tujukan kepada yang terhormat :
1. Ibu Alfira Mulya Astuti, M.Si dan bapak Dr. M. SOBRY, M.Pd. selaku dosen pembimbing yang telah banyak meluangkan waktunya dalam menyelesaikan penulisan skripsi ini.
2. Ibu Dr.Hj.Nurul Yakin, M.Pd selaku Dekan FakultasI Ilmu Tarbiyah dan Keguruan IAIN Mataram.
3. Bapak dan Ibu Dosen Jurusan Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI) atas bimbingan dan ilmu yang telah diberikan.
4. Bapak Kepala SDN 1 Jelantik Desa Jelantik Kecamata Jonggat Kabupaten Lombok Tengah yang telah memberikan izin melaksanakan penelitian.
5. Seluruh karyawan perpustakaan dan sub bagian Fakultas Tarbiyah yang dengan sabar dan ramahnya melayani dalam berbagai pengurusan proses penyusunan proposal ini.
Penulis menyadari bahwa dalam kapasitas sebagai mahasiswa masih banyak kekurangan dan keterbatasan yang dimiliki, untuk itu kritik dan saran yang bersifat konstruktif sangat peneliti harapkan bagi kemajuan dimasa yang akan datang.
Semoga proposal ini bisa memberikan manfaat bagi peneliti sendiri dan pembaca pada umumnya serta bagi perkembangan ilmu pengetahuan.
Mataram,……… 2015
Peneliti
DAFTAR ISI
HALAMAN SAMPUL
HALAMAN PERSETUJUAN... i
HALAMAN MOTTO ... ii
HALAMAN PERSEMBAHAN... iii
KATA PENGANTAR ... iv
DAFTAR ISI ... v
A. BAB I ... 1
1. Latar Belakang ... 1
2. Sasaran Tindakan ... 8
3. Rumusan Masalah ... 8
4. Tujuan dan Manfaat Penelitian ... 9
B. BAB II ... 10
1. Jarimatika ... 10
a. Pengertian metode jarimatika ... 10
b. Sejarah lahirnya metode jarimatika ... 11
c. Keunggulan dan kelemahan jarimatika ... 12
d. Langkah penggunaan jarimatika ... 14
2. Mata Pelajaran Matematika ... 18
a. Hakikat ... 18
b. Pengertian ... 19
c. Ruang lingkup ... 20
d. Sejarah matematika ... 21
e. Perkalian matematika ... 23
f. Tahapan dan konsep matematika ... 24
3. Kemampuan Berhitung ... 25
a. Pengertian ... 25
b. Faktor yang mempengaruhinya ... 26
C. BAB III ... 28
1. Seting Penelitian ... 28
a. Jenis penelitian ... 28
b. Lokasi penelitian ... 30
2. Sasaran Penelitian ... 31
3. Rencana tindakan... 31
a. Identifikasi masalah ... 31
b. Perencanaan ... 31
c. Pelaksanaan ... 32
d. Observasi ... 33
e. Refleksi ... 33
4. Jenis Instrumen dan Cara Penggunaannya ... 34
a. Tes ... 34
b. Observasi ... 34
c. Dokumentasi ... 35
5. Pelaksanaan ... 35
6. Cara Pengamatan ... 36
7. Analisis Data dan Refleksi ... 37
a. Analisis data ... 37
b. Refleksi ... 40
D. BAB IV 1. Deskripsi Seting Penelitian ... 41
a. Sejarah singkat SDN 1 Jelantik ... 41
b. Letak geografis ... 41
c. Keadaan siswa ... 42
d. Keadaan guru ... 42
e. Keadaan sarana prasarana ... 43
2. Hasil Penelitian ... 44
a. Pelaksanaan siklus I ... 44
b. Pelaksanaan siklus II ... 54
3. Pembahasan ... 61
a. Kegiatan siswa ... 62
b. Kegiatan guru ... 62
c. Hasil belajar siswa... 63
E. BAB V
1. Kesimpulan ... 67
2. Saran ... 67
DAFTAR PUSTAKA ... 70
LAMPIRAN-LAMPIRAN ... 72
PENERAPAN METODE JARIMATIKA UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN BERHITUNG SISWA KELAS IV MATA PELAJARAN MATEMATIKA MATERI PERKALIAN DI SDN 1 JELANTIK KECAMATAN
JONGGAT KABUPATEN LOMBOK TENGAH TAHUN PELAJARAN 2015/2016
Pembimbing 1 : Dr. M. SOBRY, M.Pd.
Pembimbing 2 : Alfira Mulya Astuti, M.Si ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui adanya peningkatan kemampuan berhitung dengan penerapan metode jarimatika terhadap peningkatan hasil belajar siswa SDN 1 Jelantik tahun pelajaran 2015/2016. objek dalam penelitian ini adalah siswa siswi kelas IV SDN 1 Jelantik tahun pelajaran 2015/2016 yang berjumlah 20 orang, dalam penelitian ini menggunakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Dan siklus yang digunakan dalam penelitian tindakan kelas ini sebanyak dua siklus
Jenis penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Metode
pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan metode test. Teknik analisis data menggunakan test perkalian dengan jari yang sebelumnya dilakukan praktik
penggunaan jari sebagai alat berhitung. Selanjutnya dilakukan tes dari siklus ke siklus, sesuai dengan skenario yang sudah di rencanakan.
Hasil dari siklus pertama dan kedua menunjukkan adanya peningkatan hasil belajar siswa setelah di terapkannya metode jarimatika, maka hal ini menunjukkan bahwa terdapat peningkatan kemampuan berhitung yang cukup positif atau
signifikan setelah di terapkan metode jarimatika terhadap kemampuan hasil belajar siswa di kelas IV SDN 1 Jelantik tahun pelajaran 2015/2016.
Kata kunci :Metode jarimatika, kemampuan berhitung.
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang
Pandangan Russefendi yang dikutip Heruman menjelaskan bahwa matematika adalah bahasa simbol. Ilmu deduktif yang tidak menerima pembuktian secara induktif, yang mana hal tersebut terkait tentang ilmu pola keteraturan dan struktur yang terorganisasi, mulai dari unsur yang tidak didefinisikan sampai unsur yang didefinisikan, ke aksioma atau postulat, dan akhirnya ke dalil.1 Berbagai model dan metode pembelajaran diterapkan guna menciptakan situasi belajar yang kondusif dan menarik. Terlebih lagi penerapan model dan metode tersebut diharapkan kesan peserta didik terhadap matematika akan berubah.
Matematika disebut ilmu deduktif, karena diketahui bahwa baik isi maupun metode pencarian kebenaran dalam matematika berbeda dengan ilmu pengetahuan alam dan ilmu pengetahuan pada umumnya. Metode pencarian kebenaran yang dipakai matematika adalah induktif atau experimen. Namun, dalam matematikamencari kebenaran itu bisa di mulai dengan cara induktif, tetapi seterusnya generalisasiyang benar untuk semua keadaan harus di buktikan secara deduktif. 2
1Heruman, Model pembelajaran matematika(bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2007), h. 1.
2Karso, dkk. Pendidikan matematika 1(Jakarta: Universitas Terbuka, 2007), h.1.40-1.41.
Berbicara mengenai penerapan berbagai model dan metode mengajar untuk mencapai hasil belajaryang lebih baik, sampai saat ini tidak semua guru telah melakukannya. Hal ini disebabkan oleh berbagai faktor yang terkait langsung dengan guru maupun yang tidak terkait langsung dengan guru. Hal ini juga terkait langsung dengan hasil survei diagnostik yang dilaksanakan oleh Depdikbud tahun 1996 bahwa prestasi belajar matematika peserta didik rendah dan masih banyak guru yang menggunakan metode ceramah yang tidak banyak mendorong pencapaian hasil belajar yang optimal.3
Bidang garapan pembelajaran matematika di sekolah dasar yang memegang peranan penting adalah pelajaraan operasi hitung bilangan. Operasi hitung bilangan merupakan dasar yang sangat penting yang harus di kuasai peserta didik, khususnya di sekolah dasar. Tanpa memiliki kemampuan menghitung yang memadai sejak dini, peserta didik akan mengalami kesulitan belajar dikemudian hari. Kemampuan menghitung menjadi dasar utama bagi pengajaran matematika, tapi juga pengajaran mata pelajaran lainnya. Hal ini dikarenakan operasi hitung meliputi berbagai aspek pembahasan, diantaranya:
operasi hitung penjumlahan, operasi hitung pengurangan, operasi hitung perkalian dan operasi hitung pembagian.
Kegemaran siswa dalam mempelajari matematika masih minim, bahkan sebagian besar siswa tidak memiliki respon yang baik terhadap mata pelajaran
3 Irzani Alkusaeri, Pengembangan Program Pembelajaran Matematika (Mataram: Sukses mandiri press, 2013), h. 2.
matematika. Selain dianggap sulit juga terkadang membuat kepala menjadi pusing. Masalah tersebut dapat dilihat dari kemalasan siswa dalam belajar dan hasil ujian akhir siswa yang rendah. Mereka hanya mau belajar pada saat tertentu saja, misalnya pada saat ulangan atau mendapatkan pekerjaan rumah (PR).
Namun, hal tersebut dapat diantisipasi dengan metode yang menarik dan pemberian motivasi yang secara terus menerus kepada peserta didik oleh guru, maka siswa dapat menerima dan terbiasa terhadap kesulitan dalam mata pelajaran matematika. Sehingga tantangan yang dihadapi oleh guru dewasa ini adalah kemampuan menciptakan proses belajar mengajar yang tepat dan menarik.
Seorang guru yang mengetahui bahwa ada anak didiknya sedang tidak memperhatikan pelajaran yang diberikan, tidak dibenarkan seorang guru langsung memberikan judgment, atau penghukuman bahwa ia merupakan pribadi yang nakal. Ketika ada seorang siswa yang tidak memperhatikan pelajaran, ada beberapa kemungkinan yang terjadi, yaitu diantaranya. Guru menyampaikan pelajaran dengan tidak menarik, artinya tidak motivatif, dan sugestif, dan si anak memang tidak menyukai pelajaran tersebut.4
Keberhasilan guru dalam menciptakan metode belajar serta menjalankan tugas dengan baik, sangat ditentukan oleh profesionalisme guru dalam hal:
pemilihan metode yang baik, strategi membangkitkan semangat siswa, dan
4 Asef Umar Fakhruddin, menjadi guru faforit (Jogjakarta: Diva press. 2009), h.172-173.
menciptakan pembelajaran dengan suasana yang kondusif dan menyenangkan.
Maka hal tersebut sangat mempengaruhi proses belajar mengajar dikelas. Oleh sebab itu, guru sebaiknya memiliki persiapan diri dalam menyajikan bahan ajar guna mencapai tujuan yang hendak diinginkan. Persoalan tersebut diwujudkan dalam peranan pendidikan yang berperan penting terhadap membentuk situasi dan kondisi siswa yang gemar berhitung.
Guru menjadi sorotan karena kemampuan belajar peserta didik sendiri dipengaruhi juga oleh pembelajaran yang kurang kondusif.5 Selain faktor tersebut juga dipengaruhi beberapa faktor dalam menentukan hasil belajar matematika,salah satunya adalah penggunaan metode klasik yang membosankan. Sehingga demikian, penerapan metode-metode baru yang mudah dipelajari dan menyenangkan penting bagi guru untuk dikuasai.
Mempelajari matematika, terdapat beberapa teknik yang bisa digunakan dalam menyelesaikan masalah yang sering dialami siswa. Operasi hitung perkalian misalnya, yaitu dengan menerapkan metode jarimatika. Jarimatika merupakan sebuah metode aplikasi yang menggunaka jari sebagai alat peraga.6 Penguasaan siswa terhadap metode jarimatika akan berdampak pada ketidak- tergantungan siswa terhadap metode hafalan perkalian untuk menyelesaikan soal dan menghitung hal-hal lain. Selain itu lama-kelamaan para siswa yang dilatih
5 Irzani Alkusaeri, Pengembangan Program Pembelajaran Matematika, h. 2.
6 Mudin Simanihuruk, Perkembangan perkalian jari magic (Yogyakarta: C.V ANDI OFFSET, 2013),
h. 1.
berhitung dengan cara yang mudah dan menyenangkan, cenderung akan menganggap matematika adalah mata pelajaran yang menyenangkan dan tidak membosankan.
Siswa kelas IV SDN 1 Jelantik kecamatan Jonggat kab. Lombok Tengah mengalami masalah mengenai berhitung cepat pada pelajaran matematika.
Dalam berhitung, siswa hanya mengandalkan hafalan dalam mengerjakan soal khususnya pada materi operasi hitung perkalian. Sehingga siswa membutuhkan waktu yang cukup lama untuk menyelesaikan soal, mengingat metode hafalan yang di terapkan pada siswa kelas IV SDN 1 Jelantik kecamatan Jonggat kab.
Lombok Tengah kurang efektif dan cenderung membuat siswa pusing dan bosan. Sehingga mengakibatkan kriteria ketuntasan minimal (KKM) siswa rendah dibawah 70% terutama pada operasi hitung perkalian.
Guru di kelas IV SDN 1 Jelantik kecamatan Jonggat kab. Lombok Tengah dalam kegiatan pembelajaran kurang memotivasi siswa terutamamata pelajaran matematika pada materi operasi hitung perkalian yang di anggap paling sulit. Guru di kelas IV SDN 1 Jelantik kecamatan Jonggat kab. Lombok Tengah masih mengunakan metode klasik dan menggunakan alat peraga yang kurang menarik minat siswa terutama pada kelas IV dalam pembelajaran, sehingga siswa menjadi bosan.
Penggunaan metode klasik inilah yang menyebabkan nilai siswa siswi kelas IV di SDN 1 Jelantik menjadi turun. Dan perlu dilakukan evaluasi sedini mungkin terhadap masalah ini yang tentunya akan berdampak buruk bagi
perkembangan peserta didik. Anjloknya nilai peserta didik ini, dapat dilihan dari presentase nilai matematika yang masih di bawah KKM yang sudah di tentukan yaitu 80%. Sedangkan siswa yang mencapai target hanya 60% dari 20 siswa.
Metode jarimatika merupakan solusi yang paling tepat untuk mengatasi kurangnya hasil belajar siswa. Menggunakan jari sebagai alat peraga untuk berhitung sangat disukai oleh anak-anak khususnya di SDN 1 Jelantik kelas IV, dikarenakan peneliti telah terlebih dahulu melakukan praktek pengenalan lapangan (PPL) 1 sekaligus melakukan penelitian awal pada mata pelajaran matematika khususnya tentang operasi hitung bilangan perkalian menggunakan metode jarimatika.
Metode jarimatika adalah suatu metode berhitung dengan menggunakan jari-jari, dengan menggunakan metode jarimatika siswa dapat terlihat aktif secara langsung untuk menggunakan jari-jari tangan mereka dalam mengikuti pembelajaran matematika tanpa terlihat adanya keaktifan sepihak dari guru saja dan peserta didik akan belajar berhitung dengan mudah dan menyenangkan7. Oleh sebab itu dengan menerapkan metode jarimatika di SDN 1 Jelantik, diharapkan akan memberikan kontribusi yang positif bagi kemampuan berhitung siswa.
Berhitung menggunakan jari sebenarnya sudah ada sejak dahulu, hal ini dapat kita pada hadist nabi Muhammad SAW (terlampir). Secara tersurat telah dianjurkan untuk menjadikan jari–jari sebagai salah satu metode dalam
7 Trivia Astuti, Buku Pintar dan Jarimatika (Surabaya : Zafana Raya, 2011), h.2.
berhitung, pada saat menggunakan jari-jari dalam berhitung jumlah zikir maka bilangan – bilangan yang akan ditemukan (dihitung) adalah bilangan bilangan bulat positif, begitu juga pada metode jarimatika dimana penggunakan jarimatika terbatas pada bilangan bulat positif. Hal ini menandakan bahwa penggunaan metode jarimatika merupakan salah satu metode yang tepat untuk berhitung bialangan bulat positif.
Operasi hitung perkalian dengan menggunakan metode jarimatika bertujuan untuk melatih kemampuan berhitung cepat siswa dalam penyelesaian perkalian satu angka, dua angka dan seterusnya. Metode jarimatika memiliki keunikan tersendiri bagi para siswa, karena mereka bisa mengoprasikan perkalian dari angka 1 sampai angka 10 hanya menggunakan kesepuluh jari mereka tanpa harus menghafalnya. Dengan tujuan agar siswa dapat meningkatkan kemapuan berhitungnya dengan carra yang mudah dan menyenangkan, sehingga dengan sendirinya siswa akan menyukai pelajaran matematika yang notabenenya adalah pelajaran berhitung. Oleh karena itu diupayakan tindakan untuk menigkatkan kemampuan berhitung cepat untuk siswa kelasa IV SDN 1 Jelantik kecamatan Jonggat kab. Lombok Tengah dengan menggunakan metode jarimatika.
Mengingat masih rendahnya minat berhitung siswa, terutama dalam hal mengoprasikan bilangan perkalian, maka perlu diadakan penelitian untuk meningkatkan kemampuan berhitung siswa menggunakan metode jarimatika
yang saat ini banyak digunakan untuk meningkatkan kemampuan berhitung siswa kelas IV SDN 1 Jelantik.
B. Sasaran Tindakan
Sasaran tindakan penelitian ini adalah siswa kelas IVSDN 1 Jelantik yang berjumlah 20 orang, yang terdiri atas 11 laki-laki dan 9 perempuan.
C. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas, Rumusan Masalah penelitian ini adalah “Bagaimana penerapan metode jarimatika dapat meningkatkan kemampuan berhitung siswa di kelas IV SDN 1 Jelantik tahun pelajaran 2015/2016 melalui penggunaan metode jarimatika?”
D. Tujuan Penelitian
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk meningkatan kemampuan berhitung siswa melalui penerapan metode jarimatika di kelas IV SDN 1 Jelantik Tahun pelajaran 2015/2016.
E. Manfaat Penelitian
Manfaat penelitian ini terdiri atas manfaat teoretis dan manfaat praktis.
Untuk lebih jelasnya dapat di rincikan sebagai berikut:
1. Manfaat Teoretik
Secara teoretik, penelitian ini diharapkan dapat menambah khazanah pengetahuan dan dapat dijadikan sebagai referensi untuk penelitian berikutnya.
2. Manfaat Praktis
Secara praktis, penelitian ini bermanfaat bagi siswa, guru, dan sekolah. Untuk lebih jelasnya, dapat dijelaskan sebagai berikut:
a. Bagi Siswa
Penelitian ini diharapkan dapat meningkatkan kemampuan berhitung menggunakan metode jarimatika dalam pembelajaran operasi hitung perkalian.
b. Bagi Guru
Penelitian ini diharapkan guru dapat memperoleh masukan dalam rangka meningkatkan kemampuan berhitung melalui metode jarimatika dalam pembelajaran operasi hitung perkalian. Sehingga dapat memperbaiki proses pembelajaran dan mengembangkan profesionalisme keguruannya.
c. Bagi Sekolah
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan yang baik bagi sekolah itu sendiri dalam rangka perbaikan pembelajaran Matematika sebagai bahan masukan dalam upaya meningkatkan kualitas belajar siswa dan mengetahui profesionalisme guru yang ada pada sekolah tersebut.
BAB II
KAJIAN PUSTAKA A. Tinjauan Tentang Metode Jarimatika
1. Pengertian
Jarimatika berasal dari dua kata yaitu : “jari dan aritmatika, jadi merupakan perkalian yang menggunakan jari tangan sebagai alat peraga”.8 Sedangkan pendapat lain mengatakan Metode jarimatika adalah suatu tehknik aritmatika (dalam peroses berhitung yaitu : kali, bagi, tambah dan kurang) dimana dalam peroses aritmatika tersebut kita menggunakan jari-jari tangan.9
Jadi dari pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa arimatika ialah alat bantu berupa sepuluh jari tangan yang digunakan untuk menyampaikan informasi, atau ide, misalnya: menyampaikan informasi tentang bagaimana cara penyelesaian perkalian dua angka secara cepat dan menyenangkan dengan menggunakan jari tangan.
Metode secara harfiah berarti “cara” Dalam pemakaian yang umum metode diartikan sebagai suatu cara atau prosedur yang dipakai untuk mencapai tujuan tertentu10, sedangkan menurut (David) yang di kutip dalam
8 Mudin Simanihuruk,Perkembangan perkalian jari magic (Yogyakarta: C.V ANDI OFFSET, 2013) ,h. 1.
9 Puput mugiati, Belajar Jarimatika (Jakarta : prima jaya, 2011), h. 6.
10 Sobry Sutikno, Belajar dan Pembelajaran (Lombok : Holistica Lombok, 2015), h. 86.
10
bukunya Sutarjo Adisusilo mengatakan metode adalahcara yang dapat di gunakan untuk melaksanakan strategi11.
Dari uraian singkat mengenai metode dan jarimatika di atas, maka dapat di simpulkan bahwa metode jarimatika adalah suatu cara yang digunakan untuk mencapai tujuan dengan menggunakan jari-jari sebagai alat untuk menyampaikan pesan tertentu.
Jarimatika tidak hanya penting untuk menyampaikan kesan menarik bagi peserta didik tetapi juga mampu meningkatkan kreatifitas peserta didik dalam penyelesaian operasi hitung perkalian. Menghitung dengan menggunakan metode jarimatika tidak hanya dapat dilakukan di kelas saja, namun peserta didik dapat memanfaatkan kemampuan beerhitung menggunakan jarimatika dalam kehidupan sehari-hari.
2. Sejarah Singkat Metode Jarimatika
Teknik ini telah diperkenalkan sejak tahun 1960 dan telah dibukukan dengan judul “kuncung dan bawuk pintar berhitunng”. Kemudian pada tahun 1986, oleh penulis yang sama, teknik ini mulai disusun kembali dengan judul
“Aneka Reka” diterbitkan oleh Aleks Media Komputindo Kelompok Gramedia12. Kemudian pada tahun 1994 diterbitkan oleh Cv angkasa bandung, jawa barat, karena semakin bertambahnya waktu semakin
11 Sutarjo Adisusilo, pembelajaran nilai karakter (Jakarta : PT Raja Grafindo Persada, 2013), h.86.
12 Dwi sumar prasetyono, dkk, Pintar jarimatika untuk SD,SLTP dan umum ( Jogjakarta : Diva press, 2008), h.28.
bertambah pula penemuan metode guna memberikan berbagai kemudahan untuk membantu para pelajar, khususnya sebagai pembantu dan penunjang kurikuluum13.
Namun pada dasarnya Kemunculan jarimatika berawal dari kepedulian dari seorang ibu terhadap materi pendidikan anak-anaknya, setelah anaknya yang pertama menguasai kemampuan membaca diusia 2,5 tahun, tibalah saatnya untuk memasuki gerbang pengenalan berhitung. Banyak metode yang sudah dipelajari, tetapi semuanya memakai alat bantu dan kadang membebani memori otak anak. Setelah itu dia mulai tertarik dengan jari sebagai alat bantu yang tidak perlu dibeli, dibawa kemana-mana, mudah dan menyenangkan.
Anak-anaknya mengusai metode itu dengan menyenangkan dan mengusai keterampilan berhitung. Akhirnya penelitian dari hari ke-hari untuk mengotak-atik jari hingga keperkalian dan pembagian, serta mencari uniknya berhitung dengan keajaiban jari, dan dia menamakannya jarimatika14.
3. Keunggulan dan Kelemahan Metode Jarimatika
a. Metode jarimatika mempunyai beberapa keunggulan, antara lain:
1) Berhitung dengan metodejarimatika mudah dipelajari dan menyenangkan bagi peserta didik. Mudah dipelajari karena jarimatika mampumenjembatani antara tahap perkembangan kognitif peserta didik yang konkret dengan materi berhitung yang bersifat abstrak.
2) Jarimatika memberikan visualisasi proses berhitung, peserta didik belajar dengan memanipulasi hal-hal konkret tersebut untuk
13Hendara, Aneka Berhitung Cepat (Bogor : R3W MEDIA, 2012), h.1.
14Haerani ”penerapan jarimatika dalam meningkatkan ketuntasan belajar warga belajar paket b PKBM al-kautsar ampenan selatan dalam pokok bahasan operasi bilangan bulat tahun pelajaran (Skripsi, IAIN Mataram, Mataram, 2008), h.13
memepelajari materi matematika yang bersifat abstrak dan deduktif.Ilmu ini mudah dipelajari segala usia, minimal anak usia 3 tahun. Menyenangkan karena peserta didik merasakan seolah mereka bermain sambil belajar dan merasa tertantang dengan metode jarimatika
3) Tidak membebani memori otak peserta didik. Metode berhitung jarimatika mampu menyeimbangkan kerja otak kanan dan kiri, hal itu dapat ditunjukkan pada waktu berhitung, mereka akan mengotak- atik jari-jari tangan kanan dan kirinya secara seimbang. Jarimatika mengajak peserta didik untuk dapat mengaplikasikan operasi hitung dengan dengan cepat dan akurat menggunakan alat bantu jari-jari tangan.
4) Praktis dan efisien. Dikatakan praktis karenaalat hitungnya jari maka selalu dibawa kemana-mana. Alatnya tidak akan pernah ketinggalan dan tidak akan disita apalagi diambil, jika si anak ketahuan memakai Jari-jarisebagai alat hitungnya pada saat ujian. Efisien karena alatnya selalu tersedia dan tidak perlu dibeli.
5) Penggunaan “Jarimatika” lebih menekankan pada penguasaan konsep terlebih dahulu baru ke cara cepatnya, sehingga anak-anak menguasai ilmu secara matang. Selain itu metode ini disampaikan secara menyenangkan.
6) Pengaruh daya pikir dan psikologis karena diberikan secara menyenangkan maka system limbik di otak anak akan senantiasa terbuka sehingga memudahkan anak dalam menerima materi baru.
Membiasakan anak mengembangkan otak kanan dan kirinya, baik secara motorik maupun secara fungsional, sehingga otak bekerja lebih optimal. Tidak memberatkan memori otak, sehingga anak menganggap mudah, dan ini merupakan step awal menguasai ilmu matematika secara luas.15
b. Kelemahan metode jarimatika
1) Karena jumlah jari tangan terbatas maka operasi matematika yang bisa di selesaikan juga terbatas
15Raharjo ismail, ”metode perkalian menggunakan jarimatika” http://zhoney.blogspot.co.id/
2010/09/perkalian-dengan-menggunakan-jari.html, diambil tanggal 21 Oktober 2015, pukul 20.15
2) Kalau kurang latihan agak lambat menghitung di bandingkan sempoa untuk penggunaan Jarimatika dalam Perkalian.16
1. Langkah-Langkah Pembelajaran Jarimatika Format jari untuk perkalian 5 – 25
Gambar 1 Gambar 2
Gambar 1 adalah bentuk dari lipatan jari untuk perkalian yang melibatkan angka 5.
Gambar 2 adalah bentuk dari lipatan jari untuk perkalian yang melibatkan angka 6, 11, 16, 21.
Gambar 3 Gambar 4
Gambar 3 adalah bentuk dari lipatan jari untuk perkalian yang melibatkan angka 7, 12, 17, 22.
Gambar 4 adalah bentuk dari lipatan jari untuk perkalian yang melibatkan angka 8, 13, 18, 23.
16Muhlas bahtiar, ”jarimatika” http://muhlasbahtiar.blogspot.co.id/2013/03/metode- jarimatika.
html, diambil tanggal 21 Oktober 2015, pukul 20.45
5 6, 11, 16, 21
7, 12, 17, 22 8, 13, 18, 23
Gambar 5 Gambar 5
Gambar 5 adalah bentuk dari lipatan jari untuk perkalian yang melibatkan angka 9, 14, 19, 24.
Gambar 3 adalah bentuk dari lipatan jari untuk perkalian yang melibatkan angka 10, 15, 20, 25.
Format jarimatika basis bilangan 6 sampai 10 Rumus : ( P + P) + (S×S)
Contoh : 7 × 8
Gambar. 2.1. Contoh format perkalian 6 sampai 10. 17 Keterangan
Jumlahkan jari yang berdiri untuk puluhan (20 + 30) Kalikan jari yang dilipat untuk satuan (3×2 )
17Raymond Blum, Matemajik (Bandung: ANGKASA, 2009), h.53
9, 14, 19, 24 10, 15, 20, 25
Rumus = (P + P) + (S × S) = (20 +30) + (2 × 3) = 50 + 6
= 56.18
Format jarimatika basis bilangan 11 sampai 15 Rumus :( P + P) + (S×S) + 100
Contoh : 12 × 13
Gambar. 2.2. Contoh format perkalian 11 sampai 15
Jumlahkan jari yang berdiri untuk puluhan (20 + 30) Kalikan jari yang berdiri untuk satuan (3×2 )
Rumus = (P + P) + (S × S) + 100 = (20 +30) + (2 × 3) +100 = 50 + 6 + 100
= 156. 19
Format jarimatika basis bilangan 16 sampai 20
18Mudin Simanihuruk, Perkembangan perkalian jari magic, h.18-20
19Trivia Astuti, Jarimatika(Jakarta: LINGKAR MEDIA. 2013), h.58-61
Rumus :2( P + P) + (S×S) + 200 17 × 18
Gambar. 2.3. Contoh format perkalian 16 sampai 20 Jumlahkan jari yang berdiri untuk puluhan (20 + 30) Kalikan jari yang dilipat untuk satuan (3×2 )
Rumus = 2 (P + P) + (S × S) + 200 = 2 (20 +30) + (2 × 3) + 200 = 2 (50) + 6 + 200
= 306
Format jarimatika dari basis bilangan 21 – 25 Rumus :Rumus : 2 (P + P) + (S × S) + 400 Contoh : 22 × 23
Gambar. 2.4. Contoh format perkalian 21 sampai 25 Jumlahkan jari yang berdiri untuk puluhan (20 + 30)
Kalikan jari yang berdiri untuk satuan (3×2 ) Rumus = 2 (P + P) + (S × S) + 400
= 2 (20 +30) + (2 × 3) +400 = 2 (50) + 6 + 400
= 100 + 6 + 400 = 506 20
B. Mata Pelajaran Matematika 1. Hakekat Matematika
Matematika merupakan salah satu jenis dari enam materi ilmu. Kenam jenis ilmu tersebut menurut dimyati adalah : matemtika, fisika, biologi, fsikologi, ilmu social dan linguistic21. Sedangkan Russel sebagaimana yang diikuti oleh Carpenter memberikan definisi dimana matematika sebagai suatu studi yang dimulai dari pengkajian kegiatan-kegiatan yang sangat dikenal menuju arah tak dikenal. Arah yang di kenal tersusun baik (konstuktif) secara bertahap menuju arah yang rumit (kompleks). Dari bilangan bulat kebilangan pecahan, bilangan riil ke bilangan kompleks, dari penjumlahan dan perkalian ke diferensial dan integral, dan integral menuju matematika yang lebih tinggi22.
20Ibid, h.62-70
21 Hamzah B. uno, Model Pembelajaran ( Jakarta : PT. Bumi Aksara, 2007), h.126
22 Ibid., h. 129
Matematika juga bersifat hirarkis, yaitu suatu materi merupakan prasarat untuk materi berikutnya. Untuk belajar matematika hendaknya berprinsif pada
a. Pengorganisasian isi (materi) matematika perlu memperhatikan materi urutan (sequence) dalam pencapaian komptensi dan pentahapan pembelajaran yang sistematis.
b. Mempertimbangkan factor anak didik serta serta peroses pembentukan kompetensi secara bertahap23.
Ciri utama pembelajaran matematika adalah penalaran deduktif, yaitu kebenaran suatu pernyataan diperoleh sebagai akibat logis kebenaran sebelumnya sehingga kaitan antara pernyataan dalam matematika bersifat konsisten24.
2. Pengertian Matematika
Matematika adalah suatu ilmu yang berhubungan dengan penelaahan bentuk-bentuk atau struktur-struktur yang abstrak dan hubungan di antara hal- hal itu.25
Di bawah ini terdapat beberapa definisi atau pengertian tentang matematika, diantaranya adalah:
a. Matematika adalah cabang ilmu pengetahuan yang eksak dan terorganisasi secara sistematik.
b. Matematika adalah pengetahuan tentang bilangan dan kalkulasinya.
23 Irzani, strategi belajar mengajar matematika ( Yogyakarta : media grafindo press, 2009), h.7.
24 Ibid., h. 7.
25Karso dkk, pendidikan matematika 1, h.1.40.
c. Matematika adalah pengetahuan tentang penalaran logis dan berhubungan dengan bilangan.
d. Matematika adalah pengetahuan tentang aturan yang ketat.
e. Matematika adalah pengetahuan tentang struktuk yang logis.
f. Matematika adalah pengetahuan tentang fakta-fakta kuantitatif dan masalah tentang ruang dan bentuk.26
Dari pendapat para ahli diatas maka dapat disimpulkan matematika adalah salah satu mata pelajaran yang didalamnya terdapat angka-angka yang tersusun secara beraturan, logis, berjenjang dari yang paling mudah hingga yang paling rumit. Dengan demikian, pelajaran matematika tersusun sedemikian rupa.
3. Ruang Lingkup dan Tujuan Mata Pelajaran Matematika di SD/MI Ruang lingkup pembelajaran matematika mencakup beberapa komponen, yang meliputi :
a. Penjumlahkan b. Pengurangan c. Perkalian d. Pembagian
Tujuan utama pembelajaran matematika di SD/MI adalah untuk meningkatkan keterampilan berhitung siswa, selan pembelajaran matematika bertujuan untuk kepentingan hidup siswa di lingkungannya, untuk mengembangkan pola pikirnya dan untuk mempelajari ilmu-ilmu yang
26Irzani, matematika 1 (Mataram: Kurnia Kalam Semesta.2010), h. 5.
kemudian.27 Akan tetapi secara umum tujuan dari pembelajaran matematika itu sendiri adalah sebagai berikut :
1) Memahami konsep matematika, menjelaskan keterkaitan-keterkaitan antar konsep atau algoritma, ssecara luwess, akurat, efisien, dan tepat dalam pemecahan masalah
2) Menggunakan penalaran pada pola dan sifat, melakukan manipulasi pada matematika untuk membuat generalisasi, menyusun bukti, atau menjelaskan gagasan dan pernyataan matematika.
3) Memecahkan masalah yang meliputi kemampuan memahami masalah, merancang model matematika, menyelesaikan model dan menafsirkan solusi yang di peroleh
4) Mengomunikasikan gagasan dengan symbol, table, diagram, atau media lain untuk memperjelas keadaan atau masalah
5) Memiliki sikap menghargai kegunaan matematika dalam kehidupan, yaitu memiliki rasa ingin tahu, perhatian, dan minat untuk mempelajari matematika, serta sikap ulet dan percaya diri dalam memecahkan masalah.28
Memang pada dasarnya tujuan akhir pembelajaran matematika di SD adalah agar siswa terampil dalam menggunakan berbagai konsep matematika dalam kehidupan sehari-hari.29
4. Sejarah Singkat Matematika
Kata “matematika” berasal daki kata (mathema) yang dalam bahasa yunani diartikan sebagai “sains, ilmu pengetahuan, atau belajar”. Ilmu matematika telah dikenal pada masa pra sejarah, banyak ditemukan berbagai macam tulisan matematika di berbagai wilayah yang merupakan sisa zaman prasejarah, di antaaranya :
a. Matematika Babilonia tahun 1900 SM, ditemukan oleh Plimpton;
27Karso dkk, pendidikan matematika, H,1.5
28Irzani, Alkusaeri.Pengembangan Program Pembelajaran.h.5-6.
29Heruman.Model pembelajaran matematika. H.2.
b. Matematika Moskow di Mesir tahun 1850 SM;
c. Matematika Rhind di Mesir tahun 1650 SM;
d. Sulbha sutra/ matematika India tahun 800 SM.
Matematika tumbuh dan berkembang karena proses berpikir. Oleh karena itu logika merupakan dasar untuk terbentuknya matematika. Logika adalah bayi matematika, sebaliknya matematika adalah masa dewasa logika.
5. Operasi Hitung Perkalian Pada Mata Pelajaran Matematika
Mata pelajaran matematika ada banyak sekali materi-materi pokok yang menjadi lingkup pembahasannya, dari yang mudah sampai yang sulit, dari yang mendasar sampai ke yang rumit. Semua itu ada dalam matematika, namun hal yang paling pokok dan paling mendasar yang harus dikuasai dalam kajian ilmu matematika adalah : penjumlahan, pengurangan, pembagian, dan perkalian.
a. Pengetian Perkalian
Perkalian pada prinsipnya adalah sama dengan penjumlahan berulang. Oleh karena itu kemampuan awal yang harus dimiliki sebelum mempelajari perkalian adalah penguasaan penjumlahan.30Sedangkan pendapat Steve Slavin yang dikutip artikel Linda nurmasari berpendapat bahwa “Perkalian adalah penjumlahan yang sangat cepat.31
30Heruman, Model pembelajaran matematika, h.22.
31Linda nurmasari ”meningkatkan kecepatan berhitung menggunakan metode jarimatika”
http://core.ac.uk/download/pdf/12352110.pdf, diambil tanggal 21 oktober 2015, pukul 21.00.
Dari pengertian diatas, dapat disimpulkan bahwa perkalian adalah penjumlahan dari suatu bilangan yang sama secara berulang, yaitu bilangan terkali dijumlah berulang-ulang sebanyak pengalinya.
Misalnya 5 x 2 = 2 + 2 +2 + 2 + 2 + 2 = 10. 32
Untuk menanamkan pemahaman konsep perkalian pada siswa usia SD perlu dilakukan dalam beberapa tahap, yaitu:
1) Perkalian bilangan bulat positif dengan bilangan bulat positif (p x p).
2) Perkalian bilangan bulat positif dengan bilangan bulat negatif (p x n).
3) Perkalian bilangan bulat negaatif dengan bilangan bulat positif (n x p).
4) Perkalian bilangan bulat negatif dengan bilangan bulat negatif (n x n).33 b. Sifat-Sifat Perkalian
1) Tertutup
Bila kita ambil 2 bilangan cacah dan kita kalikan, apakah hasilnya bilangan cacah? Ya, hasil kali 2 bilangan cacah adalah bilangan cacah juga, misalnya 3 x 4 = 12. Oleh karena hasil kali 2 bilangan cacah adalah bilangan cacah maka dikatakan bahwa pengerjaan kali atau perkalian itu tertutup dalam bilangan caacah.
2) Pertukaran
Apabila 2 bilangan cacah dikaliukan 5 x 3 = 15 dan dipertukarkan, maka hasilnya adalah sama 3 x 5 = 15, 6 x 7 = 42 dan 7 x 6 = 42.
oleh Karena 2 bilangan cacah apabila dikalikan hasilnya tidak berubah seandainya letak kedua bilangan itu dipertukarkan maka dikatakan bahwa perkalian dalam himpunan bilangan cacah memenuhi sifat pertukaran atau komulatif.
3) Pengelompokan
Ambillah bilangan cacah secara sembarang, misalnya 3, 4, 5 dan 6. Apakah (3 x 4) x 6 = 3 (4 x 6)? Jawabannya adalah benar.
32Karso dkk, pendidikan matematika 1, h.2.40.
33Ibid, h. 3.31.
Oleh karena untuk tiap 3 bilangan cacah sebarang hasil kalinya tidak berubah bila 2 bilangan pertama atau 2 bilangan terahir dikalikan terlebih dahulu maka dikatakan bahwa perkalian dalam himpunan bilangan cacah memenuhi sifat pengelompokan atau asosiatif.
4) Distributiv
Apakah 2 x (4 + 5) = (2 x 4) + (2 x 5)? Ya, betul. Oleh karena untuk setiap bilangan cacah sembarang a, b, dan c berlaku maka, dikatakan bahwa dalam himpunan bilangan caacah perkalian terdapat penjumlahan memenuhi sifat distributif atau sifat penyebaran.
5) Sifat bilangan satu dengan nol
Hasil kali bilangan cacah dengan angka nol adalah nol, 2 x 0 = 0, 3 x 0 = 0 dan seterusnya.34
6. Tahap Persiapan Mata Pelajaran Matematika di SD/MI
Tahapan kegiatan yang harus diperhatikan pada pembelajaran matematika yang sesuai dengan tahapan belajar matematika dan disesuaikan pada kenyataan-kenyataan tersebut meliputi 14 kegiatan. Ke-14 kegiatan tersebut dapat di kelompokkan menjadi 6 bagian besar yang perlu di pertimbangkan sebelum memulai pembelajaran di SD/MI. adapun tahapan kegiatan tersebut sebagai berikut:
a. Materi matematika
1) Memilih dan menamai pokok/sub pokok bahasan.
2) Mengidentifikasi objek matematika dalam pokok/sub pokok bahasan.
3) Mengurutkan setiap pokok/sub pokok bahasan.
b. Tujuan belajar matematika
4) Mengidentifikasi tujuan kognitif.
5) Memilih tujuan afektif.
6) Member tahu siswa tujuan belajar.
c. Sumber belajar
7) Menyediakan materi yang akan di gunakan siswa.
8) Menggunakan sumber pendukung.
d. Strategi praasesmen
9) Mengidentifikasi materi matematika prasyarat (prerekuisit).
10) Menguji kesiapan siswa untuk belajar pokok/sub pokok bahasan.
e. Strategi belajar
11) Memilih strategi yang sesuai.
12) Mengatur lingkungan belajar.
f. Strategi postassemen
34Karso dkk, pendidikan matematika 1, h.2.42.
13) Menguji hasil belajar murid.
14) Mengevaluasi efektivitas pembelajaran.35 7. Konsep Mata Pelajaran Matematika di SD/MI
Konsep-konsep pada kurikulum matematika SD dapat di bagi menjadi tiga kelompok besar, yaitu penanaman konsep dasar, pemahaman konsep, dan pembinaan keterampilan.
a. Penanaman konsep dasar yaitu konsep baru matematika yang belum pernah dan belum sama sekali di pelajari siswa
b. Pemahaman konsep yaitu lanjutan dari penanaman konsep, yang bertujuan agar siswa lebih memahami suatu konsep matematika.
c. Pembinaan keterampilan yaitu pembelajaran yang bertujuan agar sisawa lebih terampil dalam penggunaan konsep matematika.36
Memang pada dasarnya tujuan akhir pembelajaran matematika di SD adalah agar siswa terampil dalam menggunakan berbagai konsep matematika dalam kehidupan sehari-hari.
C. Kemampuan Berhitung
1. Pengertian Kemampuan Berhitung
Kemampuan merupakan suatu tindakan (performance) yang dapat dilakukan sekarang memerlukan latihan dan pendidikan. Kemampuan atau sering disebut juga sebagai bakat “aptituti” yang berarti sebagai kemampuan bawaan yang merupakan potensi yang masih perlu dikembangkan dan dilatih37.
35Karso dkk, pendidikan matematika 1, h.1.32.
36Heruman, Model pembelajaran matematika, H.3.
37Rina budiani, “Pengaruh kemampauan numerik dan kebiasaan belajar siswa terhadap prestasi belajar matematika siswa kelas VII MTs. An-najah sesela” (Skripsi, IAIN Mataram, Mataram, 2008), h. 8.
Berdarkan pengertian diatas maka dapat kita simpulkan bahwa kemampuan atau bakat merupakan suatu potensi yang masih membutuhkan pengarahan dan bimbingan.
Ilmu hitung adalah suatu bahasa yang digunakan untuk menjelaskan hubungan antara berbagai perencanaan, kejadian dan waktu, bahasa yang berbentuk lambang atau symbol yang memiliki arti, sifat konsistern dan deduktif. Dengan symbol yang sangat sederhana misalnya “×” tanda tersebut memiliki makna yang sama bagi setiap orang yang menggunakannnya itu sebagai tanda konsep perkalian38.
2. Faktor Yang Mempengaruhi Kemampuan Berhitung a. Faktor internal
Faktor internal adalah faktor yang ada dalam diri anak tersebut berupa motivasi, kematangan, gaya belajar yang khas dari masing- masing anak ,bakat yang ada dalam diru anak saat proses pembelajan yang dilaksanakan didalam maupun diliuar kelas.
b. Faktor eksternal
Faktor eksternal adalah faktor dari luar diri anak seperti dari proses belajar mengajar yang dapat mempengaruhi rendahnya kemampuan berhitung anak misalnya pembelajaran yang kurang atraktif (menyenangkan), pembelajaran yang monoton dan media pembelajaran yang kurang menarik, pembelajaran yang kurang memfasilitasi keaneka ragaman siswa39.
Dari pengertian diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa faktor yang mempengaruhi kemampuan berhitung anak adalah faktor internal dan eksternal. Faktor yang mempengaruhi kemampuan berhitung satunya yaitu kekhasan gaya belajar masing-masing anak, namun pada
38 Ibid., h.8.
39 Irzani, Alkusaeri.Pengembangan Program Pembelajaran, h. 16-17
kenyataanya pada proses pembelajaran yang dilaksanakan belum banyak yang memfasilitasi gaya belajar yang dimiliki anak.
BAB III
METODE PENELITIAN A. Seting Penelitian
1. Jenis Penelitian
Dalam penelitian ini, jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian tindakan kelas (PTK). Secara harfiah, PTK berasal dari bahassa Inggris, yaitu classroom action research yang berarti action research (penelitian dengan tindakan) yang dilakukan di kelas.40
Arikunto berpendapat bahwa PTK adalah pencermatan dalam bentuk tindakan terhadap kegiatan belajar yang sengaja di munculkan dan terjadi di dalam sebuah kelas secara bersamaan. Sedangkan menurutmenurut Kurt Lewin PTK adalah suatu rangkaian langkah yang terdiri atas empat tahap, yakni perencanaan, tindakan, pengamatan, dan refleksi.41 Dengan kata lain, PTK adalah pencermatan yang dilakukan seorang guru di dalam kelasnya sendiri melalui refleksi diri, dengan tujuan untuk memperbaiki profesionalismenya sebagai seorang guru, sehingga akan mampu meningkatkan hasil belajar peserta didik.42 Pada penelitian ini pemilihan subyek penelitian dilakukan atas pertimbangan bahwa rendahnya hasil belajar siswa di SDN 1 Jelantik Desa Jelantik.
40Suyadi, Panduan penelitian tindakan kelas (Jogjakarta: DIVA Press, 2015).h,17.
41Kunandar, langkah mudah penelitian tindakan kelas (Jakarta: Rajawali Press, 2011).h,41.
42Suyadi, PTK(Jogjakarta: DIVA Press, 2015.) h. 18.
28
Penelitian tindakan kelas (PTK) memiliki peranan yang sangat penting dan strategis untuk meningkatkan mutu pembelajaran apabila diiplementasikan dengan baik dan benar. Diimplementasikan dengan baik artinya pihak yang terlibat dalam PTK (guru) mencoba dengan sadar mengembangkan kemampuan dalam mendeteksi dan memecahkan masalah- masalah yang terjadi dalam pembelajaran di kelas melalui tindakan bermakna yang diperhitungkan dapat memecahkan masalah atau memperbaiki situasi dan kemudian secara cermat mengamati pelaksanaanya untuk mengkur tingkat keberhasilannya.
Pelaksanaan tindakan dalam penelitian ini terdiri dari dua siklus.
Siklus pertama dilaksanakan untuk melihat perubahan berupa peningkatan kemampuan berhitung siswa dengan penerapan metode Jarimatika yang telah dilaksanakan sesuai dengan apa yang telah dirancang dalam skenario penelitian yang telah dibuat.
Hasil belajar siswa dapat menghasilkan data sesuai dengan yang dibutuhkan peneliti, jika hasil dalam data yang diperoleh dalam siklus pertama kurang dari yang telah ditentukan, peneliti melaksanakan kembali pelaksanaan tindakan dalam siklus kedua, untuk memperbaiki kekurangan- kekurangan yang telah dialami pada siklus pertama, sehingga dapat diperbaiki.
Dalam siklus kedua, data yang diperoleh peneliti telah sesuai dengan apa yang telah dilaksanakan, maka akan membuktikan tingkat keberhasilan dari setiap siklus yang telah dilakukan dalam meningkatkan kemampuan berhitung siswa pada mata pelajaran Matematika dengan penerapan metode Jarimatika.
2. Lokasi Penelitian
Setting penelitian menjelaskan lokasi atau gambaran tentang siswa atau subjek yang dikenai tindakan. Lokasi penelitian berada di SDN 1 Jelantik kecamatan Jonggat kab. Lombok Tengah pada kelas IV yang beralamatkan Jl.Praya-Mataram kecamatan Jonggat. Penelitian mengambil lokasi ini dikarenakan lokasinya yang mudah dijangkau oleh peneliti dan siswa masih kurang dalam hal berhitung cepat dikarenakan di sekolah ini juga belum di ajarkan metode berhitung cepat menggunakan jarimatika, khususnya siswa kelas IV.
Lokasi ini dipilih sebagai tempat penelitian dengan pertimbangan sebagai berikut:
a. Masih rendahnya pengetahuan tentang metode berhitung cepat di sekolah tersebut.
b. Dalam pelaksanaan pembelajaran matematika selama ini belum pernah menerapkan metode Jarimatika.
c. Kurang bervariasi dalam menggunakan metode pembelajaran, dan penjelasan materi mayoritas didominasi oleh guru (guru yang aktif),
sehingga pembelajaran terasa sangat membosankan dan cenderung monoton bagi siswa.
B. Sasaran Penelitian
Dalam penelitian ini yang menjadi sasaran penelitian adalah siswa kelas IV SDN 1 Jelantik Desa Jelantik Kecamatan Jonggat Kabupaten Lombok Tengah yang berjumlah 20 orang siswa, laki-laki 11 orang dan perempuan 9 orang siswa.
C. Rencana Tindakan
Penelitian tindakan kelas ini dilakukan dengan menggunakan dasar penelitian kelas yang direncanakan dalam dua siklus. Maka model penelitian tindakan kelas ini menggunakan model Hopkins yang terdiri dari lima hal atau tahap yang dilakukan dalam proses penelitian tindakan yakni (1) identifikasi masalah, (2) perencanaan (planning), (3) aksi (acting), (4) pengamatan (observing), (5) refleksi (reflecting).
1. Identifikasi masalah
Pada tahap identifikasi masalah peneliti menemukan adanya permasalahan siswa terkait masalah berhitung cepat dan ini menjadikan bahan penelitian agar peserta didik dalam pembelajaran operasi hitung perkalian bisa terlaksana.
2. Perencanaan
Tahap perencanaan ini, dilakukan beberapa hal, yaitu:
a. Menyusun rencana pelaksanaan pembelajaranoperasi hitung perkalian.
pada pelajaran matematika di SDN 1 Jelantik tahun pelajaran 2015-2016.
b. Menyusun pedoman observasi, dan jurnal.
c. Menyiapkan panduan berhitung cepat menggunakan metode jarimatika.
d. Menyiapkan lembar penilaian.
3. Pelaksanaan
Pada tahap pelaksanaan ini, dilaksanakan sebagai berikut:
a. guru mendemonstrasikan cara berhitung cepat menggunakan jarimatika.
b. guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk mencoba menggunakan metode jarimatika untuk berhitung.
c. Setelah siswa menguasai tehnik berhitung menggunakan metode jarimatika, barulah guru mempersilahkan siswa untuk maju secara bergantian sesuai nomor urut absen siswa untuk mencoba menyelesaikan operasi hitung perkalian yang sudah di siapkan guru di papan tulis.
d. guru menganalisis kesalahan-kesalahan siswa selama proses berhitung menggunakan metode jarimatika berlangsung.
e. melaksanakan wawancara kepada siswa yang memperoleh nilai tertinggi, sedang, dan rendah. Wawancara dilakukan diluar pelajaran atau pada waktu jam istirahat.
4. Observasi
Pengamatan dilakukan pada saat proses pembelajaran dengan memperhatikan:
a. Benar tidaknya tekhnik menggunakan jari untuk berhitung.
b. Kecepatan berhitung.
c. Ekspresi siswa saat menggunakan jari untuk berhitung.
5. Refleksi
a. Menganalisis hasil pengamatan, hasil rubik, dan hasil wawancara.
b. Deskripsi hasil pengamatan selama siklus I.
c. Mencatat ketepatan penggunaan metode jarimatika dalam menyelesikan operasi hitung perkalian.
d. Deskripsi tindakan guru selama proses pembelajaran.
Hubungan diantara ke lima komponen tersebut dipandang sebagai satu siklus yang dapat digambarkan sebagai berikut:
.
SIKLUS I
SIKLUS II
Gambar 3.1 Alur Penelitian Tindakan Kelas Model Hopkins
Perencanaan Pelaksanaan
Refleksi Pengamatan
Perencanaan Pelaksanaan
Pengamatan Refleksi
Identifikasi masalah
D. Jenis Instrumen dan Cara Penggunaannya 1. Tes
Tes adalah salah satu alat yang dapat di gunakan untuk melakukan evaluasi. Tes diartikan sebagai alat yang digunakan untuk mengungkapkan aspek-aspek psikologis dalam diri manusia.43
Tes digunakan untuk mengumpulkan data mengenai tingkat pencapaian kemampuan siswa. Jenis tes yang digunakan adalah tes praktek dikarenakan tes praktek menuntut jawaban peserta didik dalam bentuk prilaku,tindakan/perbuatan.
2. Observasi
“Secara umum, observasi adalah cara menghimpun bahan-bahan keterangan dengan mengadakan pengamatan dan pencatatan secara sistematis, logis, rasional, dan objektif terhadap penomena-penomena yang sedang dijadikan sasaran pengamatan”.44
Adapun aktivitas siswa yang akan menjadi acuan dalam lembar observasi adalah:
a. Kesiapan siswa dalam menerima materi pembelajaran.
b. Antusiasme siswa dalam mengikuti pelajaran.
c. Aktivitas siswa dalam latihan menggunakan metode berhitung jarimatika.
d. Interaksi siswa dengan guru selama proses pembelajaran.
43 Warni Djuwita, Evaluasi Pembelajaran (Mataram: Elhikam Press Lombok, 2012), h. 66.
44Ibid., h. 97.
3. Dokumentasi
“Metode dokumentasi adalah salah satu metode yang digunakan untuk menelusuri data historis”.45 Jadi, dokumentasi merupakan laporan tertulis dari suatu peristiwa yang isinya terdiri atas penjelasan atau pikiran terhadap peristiwa dan ditulis dengan sengaja untuk menyimpan dan meneruskan keterangan mengenai peristiwa tersebut.
Peneliti menggunakan metode dokumentasi ini untuk mendapatkan data tentang rencana pelaksaana pembelajaran (RPP) dan jurnal guru dalam proses pembelajaran Matematika di kelas.
E. Pelaksanaan Tindakan
Penelitian ini dilaksanakan selama bulan November 2015 di Kelas IV SDN 1 Jelantik.
Pada tahap ini guru melaksanakan pembelajaran dengan menerapkan metode Jarimatika sesuai dengan rancangan yang telah ditetapkan. Anggota lainnya bertindak sebagai observer pada kegiatan tersebut dengan mengguankan instrumen yang telah di susun dengan tahapan pelaksanaan pembelajaran sebagai berikut :
1. Pendahuluan
a. Mensosialisasi pada siswa tentang tentang model pembelajaran yang digunakan dengan tujuan supaya siswa cepat memahaminya.
45 Burhan Bungin, Penelitian Kualitatif (Jakarta: Kencana, 2007), h. 121.
b. Dengan metode ceramah dan tanya jawab guru memberikan apersepsi berkaitan dengan materi yang akan dipelajari.
2. Tahap perkembangan
a. Menjelaskan kepada siswa tentang penggunaan jarimatika.
b. Membimbing siswa untuk mencoba menggunakan jarimatika.
c. Membagi kelas kedalam beberapa kelompok kecil, yang tediri dari tiga sampai empat siswa.
d. Memperaktikkan metode jarimatika dengan teman kelompoknya
e. Membandingkan kecepatan berhitung perkalian menggunakan metode bersusun dengan metode jarimatika
3. Penutup
a. Menyampaikan kesimpulan mengenai materi yang telah dipelajari.
b. Memberikan penguatan bahwa metode jarimatika penting untuk meningkatkan kemampuan berhitung.
F. Cara Pengamatan
Pada tahap ini peneliti melakukan pengamatan dan mencatat semua hal yang diperlukan dan terjadi selama pelaksanaan tindakan berlangsung.
Pengumpulan data ini dilakukan dengan menggunakan format observasi penilaian yang telah disusun, termasuk juga pengamatan secara cermat. Pelaksanaan sekenario pembelajaran dengan menggunakan metode Jarimatika dari waktu ke waktu serta dampaknya terhadap proses dan aktifitas belajar siswa. Data yang dikumpulkan dapat berupa data kuantitatif atau data kualitatif yang
menggambarkan keaktifan siswa, antusias siswa berdasarkan hasil pada instrument observasi.
Pengamatan dilakukan pada saat proses belajar mengajar berlangsung, pengamatan dilakukan dengan lembar obsevasi oleh observer atau orang yang dipercaya. Adapun yang diamati adalah pelaksanaan tindakan, bagaimana guru menyajikan pelajaran, dan bagaimana sikap siswa begitu juga dengan proses pembelajaran apakah sesuai dengan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP).
G. Analisis Data dan Refleksi 1. Analisis Data
Analisis data dalam rangka refleksi, setelah implementasi suatu tindakan dalam perbaikan suatu siklus. PTK sebagai keseluruhan dan analisis data adalah poses penyeleksi, menyederhanakan, memfokuskan,
mengorganisasikan secara sistematik, dan rasional untuk menampilkan bahan-bahan yang dapat digunakan untuk menyusun jawaban terhadap PTK.
a. Data hasil belajar siswa 1) Ketuntasan Individu
Ketuntasan individu yaitu setiap siswa dalam proses belajar mengajar dikatakana tuntas secara individu terhadap materi pelajaran yang diberikan jika siswa mampu memperoleh nilai 70.46
46 Hasil Wawancara Dan Observasi Guru Kelas IV.
2) Ketuntasan klasikal
Ketuntasan klasikal dikatakan telah tercapai apabila target pencapaian >70% dari jumlah siswa dalam kelas yang sudah memenuhi kriteria ketuntasan individu. Hal ini dapat di hitung dengan rumus sebagai berikut:
KK = P
𝑁 x100%
Keterangan :
KK = Ketuntasan Klasikal
P = Banyaknya siswa yang memperoleh nilai > 70 N = Jumlah siswa seluruhnya.47
Jika KK 80 % siswa mencapai nilai minimal 80, maka belajar dapat dikatakan tuntas dan sebaliknya jika KK 80% maka belajar secara klasikal dikatakan belum tuntas. Siswa dikatakan aktif apabila aktivitas siswa mencapai katagori aktif. Analisis data dilakukan setiap kali tindakan berakhir.
3) Untuk mengetahui nilai rata-rata kelas dipergunakan persamaan : X = ∑𝑋𝑁
𝑁
Keterangan :
X = Rata-rata (mean)
47Warni Djuiwita, Evaluasi Pembelajaran, h. 154.
∑ 𝑋 = Jumlah seluruh skor N = Banyak subjek b. Data aktivitas siswa
Dalam aktivitas belajar siswa dianalisis dengan cara sebagai berikut :48
1) Menentukan nilai yang diperoleh siswa
Menghitung rata-rata aktivitas belajar siswa dengan rumus :
∑𝑋
𝑛.𝑖
Keterangan :
= Rata-rata skor aktivitas siswa
x = Jumlah skor seluruh siswa N = Banyak siswaI = Jumlah indikator 2) Menentukan MI dan SDI
MI = 1
2 ( skor maksimal + skor minimal )
= 1
2 X ( 4 + 1 )
= 2, 5 SDI = 1
6 X ( skor maksimal + skor minimal )
= 1
6 x ( 4 – 1 )
48Nana Sudjan, Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2002), h. 109
= 0,5 Keterangan :
MI : Mean Ideal
SDI : Standar Deviasi Ideal
Kriteria untuk aktivitas guru dan siswa dapat dicari dengan rumus pada table di bawah ini :
Tabel 1. Penggolongan Katagori Aktivitas Guru dan Siswa
Internal Katagori
A> Mi + 1,5 Sdi Mi + 0,5 SDi A Mi + 1,5 Sdi Mi – 0,5 SDi A Mi + 1,5 SDi Mi – 0,5 SDi A Mi – 1,5 SDi A Mi – 1,5 SDi
Sangat aktif Aktif Cukup aktif Kurang aktif Sangat kurang aktif
Untuk aktivitas guru dan siswa skor tertinggi adalah 4 diperoleh dari ketiga diskriptor yang Nampak, dan skor terendah adalah I apabila dari ketiga descriptor tidak Nampak sama sekali. Dengan skor rata-rata aktivitas belajar siswa (AS) yang diperoleh salanjutnya dicocokkan pada ketentuan penggolongan diatas sehingga didapat aktivitas belajar setelah tindakan. 49 2. Refleksi
Dalam tahap ini peneliti melakukan tindakan evaluasi atas tindakan yang telah di lakukan yang meliputi mutu, jumlah dan waktu dari setiap tindakan yang telah diinginkan atau dengan kata lain memperbaiki tindakan yang akan dilakukan pada siklus berikutnya.
49 Ibid , h. 99
Hasil observasi dan hasil evaluasi belajar siswa dikumpulkan dan dianalisis, sehingga dari hasil tersebut guru dapat merefleksikan proses yang terjadi didalam kelas dengan melihat data yang diobservasi, yaitu identifikasi sehingga diketahui kekurangan yang terdapat pada siklus satu dan siklus dua yang kemudian dapat dianalisis penyebab terjadinya kekurangan, dari analisis tersebut dapat dijadikan tolak ukur untuk menentukan perbaikan pada siklus berikutnya.
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Deskripsi Setting Penelitian
1. Sejarah Singkat Berdirinya SDN 1 Jelantik
Berdirinya SDN 1 Jelantik tanggal 14 Sya’ban 1404 H, bertepatan dengan tanggal 14 Mei 1984 dimulailah pembangunan sekolah tersebut bersama masyarakat setempat.
Sekolah ini di bangun karena melihat kondisi dari masyarakat yang menyekolahkan anaknya ke tempat yang sangat jauh dari rumahnya dan melewati jalan raya yang bisa berbahaya bagi keselamatan anak- anaknya.Sekolah ini sebelum dikenal oleh masyarakat dengan nama SDN 1 Jelantik,nama sekolah ini sebelumnya adalah sekolah Dise karena sekolah ini terletak beberapa meter dari kantor pemerintahan desa Jelantik,sampai sekarang sekolah tersebut akrab dengan sebutan sekolah Dise.
2. Letak Geografis SDN 1 Jelantik
SDN 1 Jelantik terletak di jalan raya Praya-Mataram, Kecamatan Jonggat, lokasi berada di sekitar pemukiman penduduk dengan batas-batas sebagai berikut :
a. Sebelah Timur : Rumah Penduduk (RT Gontoran) b. Sebelah Barat : Rumah Penduduk (RT Bunjoet) c. Sebelah Utara : Jalan Raya Praya-Mataram d. Sebelah Selatan : Rumah Penduduk (RT Bunjoet)
41
3. Keadaan Siswa SDN 1 Jelantik
Data terakhir yang diperoleh bahwa jumlah siswa di SDN 1 Jelantik tahun pelajaran 2015/2016 sebanyak 95 orang siswa, terdiri atas laki-laki 51 orang dan perempuan 44 orang.
4. Keadaan Guru SDN 1 Jelantik
Guru merupakan objek pendidik yang bertanggung jawab atas kelangsungan proses belajar mengajar, disamping itu guru harus mampu menciptakan kondisi dan situasi yang tepat dengan kebutuhan peserta didik yang melakukan kegiatan belajar mengajar.
Jumlah guru di SDN 1 Jelantik sebanyak 20 orang, sebagian besar guru tersebut berlatar belakang pendidikan SI. Dengan demikian para guru telah memiliki bekal dan teori tentang pendidikan. Oleh karena itu, proses belajar mengajar dapat berjalan secara optimal demi pencapaian hasil belajar siswa dan tujuan pendidikan yang diharapkan.
5. Keadaan Sarana dan Prasarana SDN 1 Jelantik
Keadaan sarana dan prasarana sangat menunjang kelancaran kegiatan belajar mengajar. Oleh karena itu kegiatan belajar mengajar dapat berjalan dengan lancar dan berhasil bila didukung oleh fasilitas yang memadai. Adapun keadaan sarana dan prasarana yang ada di SDN 1 Jelantik yaitu: Bangunan terdiri dari: ruang kelas, ruang kepsek, ruang guru, perpustakaan, dan kantin. Meubel terdiri dari: meja, kursi, papan tulis, lemari, rak buku. Alat-alat peraga terdiri dari: globe, peta, calistung