PENDAHULUAN
LatarBelakangMasalah
FokusPenelitian
Bagaimana peran konselor sebagai pembimbing dalam menanamkan Kualitas Spiritual pada siswa Jurusan Multimedia SMKN 5 Jember. Bagaimana peran konselor sebagai pendidik dalam menanamkan Kualitas Spiritual pada siswa Jurusan Multimedia SMKN 5 Jember.
TujuanPenelitian
Mendeskripsikan peran konselor sebagai pendidik dalam membentuk Mental Quotient pada siswa Jurusan Multimedia SMKN 5 Jember.
ManfaatPenelitian
DefinisiIstilah
Jadi yang dimaksud dengan peran konselor dalam penanaman Kualitas Spiritual dalam penelitian ini adalah tenaga profesional (konselor) yang menciptakan suasana akademik yang menyenangkan bagi peserta didik dengan memberikan bantuan, dorongan, mengingatkan norma-norma yang telah ditetapkan syariat Islam dan menanamkan semangat. yang menyadarkan siswa akan hakikatnya. Berdasarkan pengertian istilah tersebut, maka yang tersirat dari judul penelitian adalah bahwa peran konselor dalam menanamkan Kualitas Spiritual pada siswa Jurusan Multimedia SMKN 5 Jember adalah upaya memberikan bantuan, memberikan dorongan, untuk mengingatkan dirinya akan norma-norma yang ditetapkan syariat Islam dan menanamkan semangat yang menyadarkan diri siswa pada fitrahnya.
SistematikaPembahasan
Data Peran Konselor Sebagai Pembimbing Dalam Menanamkan Pikiran Spiritual Pada Siswa Jurusan Multimedia SMKN 5 Jember. Peran konselor sebagai pendidik dalam menanamkan tingkat spiritual pada siswa multimedia di SMKN 5 Jember.
KAJIAN KEPUSTAKAAN
PenelitianTerdahulu
Perbedaan penelitian ini dengan peneliti terletak pada metode penelitiannya, dimana penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif. Berdasarkan penelitian-penelitian terdahulu tersebut, maka kedudukan penelitian ini merupakan kelanjutan dari penelitian-penelitian terdahulu dengan topik penelitian yang berbeda yaitu.
KajianTeori
Informasi Peran Konselor Sebagai Pendidik Dalam Membangun Kecerdasan Spiritual Siswa Jurusan Multimedia SMKN 5 Jember. Kesimpulan : Peran konselor sebagai pendidik dalam meningkatkan kecerdasan spiritual siswa Jurusan Multimedia SMKN 5 Jember.
METODE PENELITIAN
TeknikPengumpulan Data
Metode observasi adalah upaya sadar untuk mengumpulkan data secara sistematis, dengan menggunakan prosedur yang baku.66 Dengan menggunakan metode ini, orang melakukan observasi dan mencatat secara sistematis gejala/fenomena yang diselidiki, tanpa bertanya, meskipun objeknya adalah orang.67. Kegiatan konselor dalam memberikan pendidikan dan menanamkan kecerdasan spiritual pada siswa Jurusan Multimedia SMKN 5 Jember. Dan peneliti tidak harus memilih suasana resmi atau melakukan wawancara, sehingga peneliti memperoleh data yang sangat detail dan akurat tanpa adanya manipulasi data.
Wawancara yang dilakukan antara peneliti dan informan (kepala sekolah, koordinator bimbingan dan konseling, tutor, wali kelas, guru PAI dan siswa) Hal ini dikarenakan peneliti menggunakan wawancara bebas atau tidak terstruktur. Wawancara yang pertama kali dilakukan peneliti adalah dengan guru bimbingan dan konseling atau konselor di SMKN 5 Jember dengan menggunakan pedoman wawancara yang sudah ada.
Analisis Data
Data terkait peran konselor sebagai pendidik dalam menanamkan spiritualitas pada siswa Jurusan Multimedia SMKN 5 Jember... disisihkan dan dibuat file tersendiri, sedangkan data yang tidak relevan dihapus. Kemudahan bagi peneliti dalam menyajikan data karena seluruh data yang terkumpul diseleksi dan diurutkan berdasarkan data umum, data fokus, dan data dokumentasi. Dari proses pengumpulan data yaitu seluruh data dikumpulkan) kemudian direduksi yaitu diurutkan dan diurutkan sesuai kebutuhan data yang diinginkan kemudian data disajikan.
Setelah mereduksi data, peneliti kemudian menyajikan data yang diperoleh melalui observasi, wawancara dan dokumentasi tentang peran konselor dalam menanamkan kualitas spiritual pada siswa jurusan multimedia SMKN 5 Jember dalam bentuk uraian kalimat yang disusun dalam paragraf dan disajikan berdasarkan sistematika. pada fokus penelitian. Pada tahap ini peneliti mencari makna dari data yang direduksi dengan cara membandingkan, mencari pola, tema, hubungan persamaan, mengelompokkan dan menelaah hasil yang diperoleh dalam penelitian.71.
Keabsahan Data
Kesimpulan mengenai peran konselor sebagai pembimbing dalam menanamkan pikiran spiritual pada siswa program studi Multimedia dalam pengenalan poin spiritual pada siswa jurusan Multimedia di SMKN 5 Jember. Sedangkan triangulasi teknis untuk menguji reliabilitas data dilakukan dengan cara mengecek data terhadap sumber yang sama dengan teknik yang berbeda.72. Langkah yang dilakukan peneliti adalah dengan membandingkan atau mengecek informasi yang telah diperoleh dengan sumber lain.
Triangulasi sumber adalah teknik pengendalian yang baik terhadap keabsahan data yang diperoleh dari sumber tertentu, membandingkan kemudian data diperoleh melalui cara yang berbeda, melalui kegiatan yaitu membandingkan data hasil wawancara dengan kepala SMKN 5 Jember (Sofyan Hadi P.) dan hasilnya. hasil wawancara dengan koordinator pengajaran Bimbingan Konseling (Juman), dan guru/konselor (Khairi Mulyadi), serta guru PAI (Farida, Fahruddin, Andi Amin, Mahfuda) serta siswa yang bersangkutan. Teknik triangulasi yaitu pengecekan tingkat kepercayaan terhadap temuan penelitian dari beberapa metode pengumpulan data dan pengecekan tingkat kepercayaan beberapa informan dengan menggunakan metode yang sama dengan cara mengecek dan membandingkan data hasil wawancara dengan pengelola.
Tahap-tahapPenelitian
Dalam melaksanakan tugasnya sebagai seorang konselor, seorang konselor harus melakukan empat hal agar benar-benar mendapatkan kepercayaan dari siswa yang dibimbingnya, yaitu sebagai berikut: (1) Identifikasi masalah (2) Diagnosis (3) Prognosis dan (4) Pengobatan. Hal ini dibuktikan dengan pernyataan Bapak. Khairi bahwa 50% keberhasilan dalam konseling disebabkan oleh penggunaan sikap empati terhadap siswa. Berdasarkan hasil analisis data yang dilakukan peneliti dengan menggunakan teknik observasi, wawancara dan dokumentasi di lapangan dengan judul penelitian Peran Konselor Dalam Meningkatkan Kecerdasan Spiritual Siswa Multimedia Tahun Pelajaran 2017/2018 , diskusi tentang temuan ini diperlukan.
Langkah selanjutnya setelah hasil tersebut dibahas dengan teori yang dikembangkan oleh Syamsul Munir, maka dapat disimpulkan bahwa konselor sebagai guru dalam memberikan contoh atau teladan kepada siswa sangat mempengaruhi keberhasilan konselor dalam mendidik siswa di SMKN 5 Jember agar mereka menjadi lebih baik. sesuai dengan teori yang dikemukakan Syamsul Munir di atas. Berdasarkan hasil penyajian data yang dilanjutkan dengan analisis data mengenai “Peran Konselor dalam Menanamkan Kecerdasan Spiritual pada Siswa Pembelajaran Multi Media di SMKN 5 Jember Tahun Pelajaran 2017/2018”. Peran konselor sebagai pembimbing untuk menciptakan sumber spiritual bagi siswa multimedia di SMKN 5 Jember tahun ajaran 2017/2018.
Dalam kegiatan bimbingan dan konseling, seorang konselor berperan sebagai pembimbing untuk membentuk Spiritual Quotient pada diri siswa, yaitu memberikan arahan, bimbingan, bantuan dan memberikan solusi kepada siswa yang menghadapi permasalahan atau kesulitan dalam menyelesaikan permasalahannya. Peran Konselor Sebagai Pendidik Dalam Membangun Kuantitas Mental Pada Siswa Multimedia Di SMKN 5 Jember Tahun Pelajaran 2017/2018. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan penelitian lebih lanjut mengenai peran konselor dalam membentuk kecerdasan mental pada siswa Jurusan Multimedia SMKN 5 Jember.
PENYAJIAN DATA DAN ANALISIS
GambaranUmum
Penyajian Data danAnalisis
Hal ini diperkuat juga dengan ungkapan Devid Ardiansyah selaku wali kelas MMD 2 Kelas XI, beliau mengatakan : 78. Tugas koordinasi adalah tugas bekerjasama dengan pihak sekolah, hal ini bertujuan untuk mengungkapkan fungsi konselor dalam kepemimpinan untuk memberi makan Menurut Juman, dalam pelaksanaan tugas dan fungsi konselor sangat penting dilakukan koordinasi, hal ini bertujuan untuk bekerjasama dengan pihak-pihak yang terlibat maupun dengan pihak ketiga.
Guru bimbingan dan konseling mempunyai kewenangan yang sama dengan guru lainnya, hal ini berdasarkan peraturan pemerintah no. Hal ini dianjurkan agar pemberian pelayanan kepada pelanggan (siswa) tepat sasaran dan membuat siswa merasa nyaman serta mendapatkan jawaban yang sesuai dengan keinginannya. Berdasarkan hasil wawancara dengan guru bimbingan konseling juga memperkuat ungkapan koordinator guru bimbingan konseling, hal tersebut diungkapkan oleh Khairi Mulyadi, beliau mengatakan: 100.
Hal ini memastikan setiap kali memberikan bimbingan selalu membuahkan hasil dan membuat siswa tertarik untuk meminta bimbingan.
PembahasanTemuan
Langkah selanjutnya, setelah hasil tersebut dibahas dengan teori yang dikembangkan oleh Syamsu Yusuf, maka dapat disimpulkan bahwa peran konselor bimbingan sebagai konsultan di SMKN 5 Jember bertujuan untuk menyelesaikan permasalahan konseli, yang dilakukan dengan bekerjasama dengan orang tua, guru. dan rekan-rekan mahasiswa yang bersangkutan agar data yang diperoleh tepat sasaran dan mampu mengeluarkan mahasiswa dari kesulitannya. Langkah selanjutnya setelah hasil tersebut dibahas dengan teori yang dikembangkan oleh Syamsu Yusuf dan Achmad Juntika Nurihsaan maka dapat disimpulkan bahwa peran konselor sebagai konseling di SMKN 5 Jember maka dengan demikian dimana konselor di SMKN 5 Jember melakukan konseling bertujuan untuk memecahkan masalah. masalah, permasalahan siswa serta untuk mengembangkan dan membimbing siswa agar menjadi lebih baik dari sebelumnya, dan itu semua berlangsung secara perseorangan, kelompok, dan klasikal. sehingga sesuai dengan teori yang dikemukakan oleh Syamsu Yusuf dan Achmad Juntika Nurihsaan. Berikut ini bentuk data dokumentasi sebagai bukti bahwa konselor di SMKN 5 Jember kompeten.
Tahap selanjutnya, setelah temuan tersebut dibahas dengan menggunakan teori yang dikembangkan oleh Abdul Basit, maka dapat disimpulkan bahwa sikap empati sangat berpengaruh dalam menjalankan tugas seorang konselor bimbingan di SMKN 5 Jember untuk mempengaruhi siswa agar terbuka dan percaya. penasihat dan penasihat telah melakukannya. Wawancara dengan Bpk. Devit Ardiansyah, selaku guru kelas XI MMD 2 SMKN 5 Jember pada tanggal 22 Maret 2018.
PENUTUP
Kesimpulan
Sehingga dengan menerapkan strategi yang baik maka dosen pembimbing yang bersangkutan akan dihargai oleh mahasiswa yang terlibat, karena baik pula pelayanan yang diberikan oleh seorang dosen pembimbing. Bahkan siswa pun tidak akan menganggap bahwa konselor adalah polisi sekolah yang harus dihindari, dalam artian pelayanan yang baik akan membangun kepercayaan di kalangan siswa dan memudahkan konselor dalam mengungkap permasalahan yang dialami siswa yang terlibat serta memudahkan siswa. mereka. Khairi Mulyadi mengungkapkan koordinasi sangat penting dalam melaksanakan kegiatan bimbingan, hal ini bertujuan untuk memberikan rasa percaya diri pada siswa, koordinasi dapat dilakukan secara individu, kelompok maupun di kelas.
Pada tingkat selanjutnya, setelah temuan tersebut dibahas dengan teori yang dikembangkan oleh Syamsu Yusuf, maka dapat disimpulkan bahwa peran pengawas sebagai koordinator di SMKN 5 Jember adalah memberikan layanan pengolahan terhadap kegiatan menasihati dan membimbing serta membimbing siswa. agar mereka menyelesaikan permasalahan dan mengembangkan kecerdasan spiritual siswa dengan cara bekerjasama dengan pihak-pihak tertentu antara lain orang tua, guru, wali kelas, dan lain sebagainya, hal ini agar siswa mempunyai ketenangan jiwa dalam menjalani kehidupannya. sehingga sejalan dengan teori yang disampaikan Syamsu Yusuf.
Saran
Menumbuhkan budi pekerti beragama bukan berarti mengubah apa yang telah dilakukan peserta didik, melainkan mengubah keyakinannya, sebagaimana Allah SWT jelaskan dalam surat Al-Baqarah ayat 45-46 bahwa seseorang khusyuk bukan karena konsentrasinya, melainkan karena ia yakin terhadap apa yang dikerjakannya. dia lakukan. Hendaknya beliau terus menjadi teladan yang baik bagi klien (siswa) yang dibimbingnya dan mahasiswa pada umumnya serta bersabar dan ikhlas dalam memberikan bimbingan kepada mahasiswa agar keluar dari permasalahannya serta terus meningkatkan mengembangkan ilmu keahliannya sehingga penanaman dan penanaman karakter religius pada diri peserta didik tetap dimungkinkan bahkan mampu memberikan kemudahan bagi peserta didik untuk tetap menjalani kehidupan sesuai kodratnya. Penting untuk dilakukan penelitian lebih lanjut khususnya mengenai peran konselor dalam pembentukan kualitas spiritual pada peserta didik, tidak hanya melalui pembinaan dalam bimbingan konseling dan interaksi pembelajaran di kelas, namun juga melalui pembiasaan di lingkungan sehari-hari, baik di lingkungan sekolah, keluarga. dan masyarakat umum.
Rahasia sukses membangun kecerdasan emosional dan spiritual (ESQ) Emotional Spiritual Quotient; Berdasarkan 6 Rukun Imam dan 5 Rukun Islam.