• Tidak ada hasil yang ditemukan

Skripsi Pendidikan Agama Islam di Institut Agama Islam Negeri Jember

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2024

Membagikan "Skripsi Pendidikan Agama Islam di Institut Agama Islam Negeri Jember"

Copied!
130
0
0

Teks penuh

(1)

SKRIPSI

diajukan kepada Institut Agama Islam Negeri Jember untuk memenuhi salah satu persyaratan memperoleh

gelar Sarjana Pendidikan (S.Pd.)

Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan Jurusan Pendidikan Islam Program Studi Pendidikan Agama Islam

Oleh:

Navis Nidatul Qudsy Lidinillah NIM: 084141432

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN) JEMBER FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN

JUNI 2018

(2)
(3)
(4)

Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah

kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya.1

1Alquran,5:2.

(5)

terimakasih atas semua kasih sayang, perjuangan dan pengorbanan yang tiada henti serta untaian doa dalam setiap sujudmu.

2. Semua guru yang telah mendidik sejak taman kanak-kanak hingga perguruan tinggi, terimakasih yang tak terhingga atas ilmu yang engkau berikan.

3. Kakek dan nenek yang selalu memberi semangat, motivasi dan doa kepada penulis.

4. Saudara sekandung yang saya sayangi, senyum kalian memberi semangat baru.

5. Sahabat-sahabat dan teman-teman A10 (Separuh Aku), Mustofa Kost, PKPT IPNU IPPNU IAIN Jember dan semua teman yang selalu mendukung, memberi semangat dan doa, terimakasih atas kebersamaannya yang begitu menginspirasi.

(6)

nantinya dapat mengantarkan siswa mengalami perubahan pada aspek afektifnya dikenal dengan strategi pembelajaran afektif.Dalam strategi ini terdapat dua proses pembentukan sikap, sehingga diharapkan dalam proses pembelajaran berlangsung pendidik juga dapat membantu membentuk akhlak anak yang nantinya menjadi anak yang berakhlak karimah.

Adapun yang menjadi fokus penelitian skripsi ini adalah: 1) Bagaimana pola pembiasaan dalam membentuk akhlak siswa di SMP Negeri 7 Jember tahun pelajaran 2017/2018? 2) Bagaimana modeling dalam membentuk akhlak siswa di SMP Negeri 7 Jember tahun pelajaran 2017/2018?

Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan pola pembiasaan dalam membentuk akhlak siswa dan modeling dalam membentuk akhlak siswa di SMP Negeri 7 Jember tahun pelajaran 2017/2018.

Pendekatan yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan jenis penelitian lapangan, lokasi penelitian di SMP Negeri 7 Jember. Adapun teknik pengumpulan data menggunakan observasi partisipasi pasif, wawancara tidak terstruktur, dan dokumentasi.Analisis data yang digunakan yaitu reduksi data, datadisplay, verifikasi. Keabsahan data yang digunakan yaitu triangulasi sumber dan triangulasi teknik.

Penelitian ini memperoleh kesimpulan 1)Pola pembiasaan yang dilaksanakan di SMP Negeri 7 Jember dalam membentuk akhlak siswa dilaksanakan setiap hari dan ada yang satu Minggu sekali.Siswa dibiasakan untuk melaksanakan ibadah dengan tepat waktu dan tanpa adanya paksaan, seperti dalam melaksanakan pembacaan asmaul husna, salat berjamaah, membaca surah Yasin, salaman, infakdan kelas bersih. Sehingga, sebagian besar siswa sadar dengan sendirinyabetapa pentingnya beribadah kepada Allah dengan melaksanakan semua perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya, dan juga berakhak karimah kepada sesama manusia dan lingkungan sekitarnya. 2) Modeling dalam membentuk akhlak siswa kepada sesama manusia di SMP Negeri 7 Jember, seperti tartil dan hafalan Alquran setiap jam istirahat pada hari Selasa, Rabu dan Kamis ini menjadi bentuk aplikasi yang nyata dari kegiatan dalam membentuk akhlakul karimah dan disiplin waktu dalam beribadah. Kegiatan ini mengajarkan kepada siswa agarlebih mengenal Alquran sebagai kalamullah dan melatih siswa agar dapat membaca Alquran dengan baik dan benar.

(7)

dapat diselesaikan secara mudah dan lancar.

Salawat serta salam semoga tercurah limpahkan kepada Nabi Muhammad SAW. serta orang-orang yang mengikuti jejak Beliau sampai akhir zaman nanti.

Skripsi ini disusun dalam rangka untuk memenuhi salah satu persyaratan menyelesaikan program Sarjana Pendidikan (S.Pd)., Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan Jurusan Kependidikan Islam di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Jember Program Studi Pendidikan Agama Islam.

Kepada semua pihak yang membantu penulis sehingga skripsi ini dapat diselesaikan, tidak lupa penulis menyampaikan ucapan terimakasih kepada yang terhormat:

1. Bapak Prof. Dr. H. Babun Suharto, SE, MM selaku Rektor Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Jember yang telah memberikan bimbingan dan layanan yang memuaskan selama penulis belajar.

2. Bapak Dr. H. Abdullah, S.Ag., M.H.I. selaku Dekan Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Jember yang telah memberikan kesempatan kepada peneliti untuk melaksanakan penelitian.

3. Bapak Dr. H. Mundir, M.Pd selaku Ketua Jurusan Pendidikan Islam FTIK IAIN Jember yang telah meluangkan waktunya untuk menyetujui hasil skripsi yang telah diselesaikan.

(8)

5. Bapak Dr. H. Mashudi, M.Pd selaku dosen pembimbing skripsi yang telah membimbing dan mengarahkan saya dalam menyelesaikan skripsi.

6. Ayah dan Ibu yang telah mengasuh dan membesarkan saya dengan penuh kasih sayang, perhatian serta do’a-do’a yang dipanjatkan untuk keberhasilan

saya dalam menyelesaikan studi di IAIN Jember.

7. Kepala sekolah, guru-guru dan staf karyawan SMP Negeri 7 Jember yang telah memberikan banyak bantuan sehingga dapat menyelesaikan skripsi ini.

Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari kesempurnaan, oleh karena itu segala kritik dan saran yang membangun sangat penulis harapkan.

Akhirnya, hanya kepada Allah SWT. penulis memohon semoga skripsi ini bermanfaat serta memberikan kontribusi pengetahuan yang berharga bagi kita semua. Amin

Jember, Juni 2018

Penulis,

(9)

HALAMAN PERSETUJUAN ... ii

HALAMAN PENGESAHAN... iii

MOTTO ... iv

PERSEMBAHAN... v

ABSTRAK ... vi

KATA PENGANTAR ... vii

DAFTAR ISI... ix

DAFTAR TABEL ... xi

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang... 1

B. Fokus Penelitian ... 8

C. Tujuan Penelitian... 8

D. Manfaat Penelitian... 8

E. Definisi Istilah ... 10

F. Sistematika Pembahasan ... 12

BAB II KAJIAN KEPUSTAKAAN A. Penelitian Terdahulu... 15

B. Kajian Teori ... 18

BAB III METODE PENELITIAN A. Pendekatan dan Jenis Penelitian ... 43

B. Lokasi Penelitian ... 44

(10)

G. Tahap-tahap Penelitian ... 52 BAB IV PENYAJIAN DATA DAN ANALISIS

A. Gambaran Obyek Penelitian... 54 B. Penyajian Data dan Analisis ... 57 C. Pembahasan Temuan ... 83 BAB V PENUTUP

A. Kesimpulan... 98 B. Saran-saran ... 99 DAFTAR PUSTAKA ... 100 Pernyataan Keaslian Tulisan

Lampiran-lampiran:

1. Matrik Penelitian 2. Pedoman Penelitian 3. Jurnal Kegiatan Penelitian 4. Foto Kegiatan

5. Profil Sekolah

6. Denah Lokasi Sekolah 7. Surat Keterangan 8. Kartu Konsultasi 9. Biodata Penulis

(11)

1.2 Pembiasaan dan modeling... 23

(12)

Pendidikan hingga kini masih dipercaya sebagai media yang sangat ampuh dalam membangun kecerdasan sekaligus kepribadian anak manusia menjadi lebih baik. Oleh karena itu, pendidikan secara terus-menerus dibangun dan dikembangkan agar dari proses pelaksanaannya menghasilkan generasi yang diharapkan. Demikian pula dengan pendidikan di negeri tercinta ini. Dalam menghadapi zaman yang terus berkembang ini, bangsa Indonesia tidak ingin menjadi bangsa yang bodoh dan terbelakang. Maka, perbaikan sumber daya manusia yang cerdas, terampil, mandiri, dan berakhlak mulia terus diupayakan melalui proses pendidikan. Inti dari pendidikan terutama pendidikan agama Islam adalah terbentuknya manusia yang beriman, cinta damai, cerdas, kreatif, memiliki keluhuran budi, berpikir kritis dan peduli terhadap kondisi sosial masyarakat. Tugas utama pendidikan adalah upaya secara sadar untuk mengantarkan manusia pada cita-cita tersebut.1

Pendidikan lebih menitikberatkan kepada proses transformasi nilai dan pembentukan kepribadian seseorang, dimana pendidikan lebih mengacu kepada pembentukan kesadaran dan kepribadian anak didik disamping juga transfer ilmu dan keahlian.2 Pendidikan juga merupakan usaha sadar yang dilakukan oleh pendidik terhadap perkembangan jasmani

1Sukarno, Metodologi Pembelajaran Pendidikan Agama Islam, (Surabaya: eLKAF, 2012), 13.

2 Ahmad Munjin Nasih dan Lilik Nur Kholidah, Metode dan Teknik Pembelajaran Pendidikan Agama Islam, (Bandung: PT Refika Aditama, 2009), 2.

(13)

dan rohani peserta didik menuju terbentuknya kepribadian utama. Ki Hajar Dewantara menyatakan bahwa pendidikan adalah daya upaya untuk memajukan bertumbuhnya budi pekerti (kekuatan batin, karakter), pikiran (intellect) dan tubuh anak.3

Pembelajaran yang dapat memberikan dampak yang besar terhadap perkembangan siswa. Perkembangan siswa dimulai dari kegiatan pembelajaran selama di dalam kelas, yaitu kegiatan belajar mengajar. Guru diharapkan mampu untuk memberikan kegiatan belajar mengajar yang tepat dan sesuai agar siswa mampu untuk mengembangkan potensi serta prestasi yang dimiliki. Mengajar tidak hanya sekedar mentransfer ilmu pengetahuan, akan tetapi juga sejumlah perilaku yang akan menjadi kepemilikan peserta didik.4

Keberhasilan siswa dalam belajar sangat ditentukan oleh strategi pembelajaran yang dilakukan oleh guru. Dengan demikian, guru diharapkan mampu untuk mencapai tujuan pembelajaran. Dalam proses pembelajaran, siswa sebaiknya didorong untuk mengembangkan kemampuan berpikir. Maka dari itu, guru dituntut agar menggunakan strategi pembelajaran yang dapat memudahkan siswa memahami materi dan dapat mengembangkan serta mengamalkan suatu pelajaran yang di peroleh ketika pembelajaran berlangsung.

Melihat makna pendidikan dari beberapa ahli di atas dapat kita ketahui bahwa pada hakikatnya pendidikan tidak hanya berpusat pada

3 Fatchul Mu’in, Pendidikan Karakter (Kontruksi Teoritik dan Praktek), (Jogjakarta: Ar-Ruzz Media, 2011), 125.

4Tim Dosen Administrasi Pendidikan, Manajemen Pendidikan, (Bandung: Alfabeta, 2009), 103.

(14)

pengembangan intellect saja, melainkan pendidikan juga bertanggung jawab atas pembentukan pribadi atau akhlak anak yang nantinya dapat menjadi watak bagi diri anak, melalui transformasi nilai-nilai dan pengembangan potensi sehingga anak dapat bertindak sesuai dengan norma yang berlaku di dalam masyarakat. Di sisi lain, pendekatan pembelajaran yang terlalu kognitif telah merubah orientasi belajar para siswa menjadi semata-mata untuk meraih nilai yang tinggi. Akibatnya, para siswa tidak mengerti manfaat dari materi yang dipelajarinya untuk kehidupan nyata.5 Serta kegiatan yang tidak seharusnya dilakukan untuk mendapatkan nilai, sehingga akan menjadi kebiasaan dan berlanjut menjadi watak dari anak tersebut.

Untuk menjadikan seorang anak didik yang memiliki akhlak yang baik diperlukan pembinaan yang terus menerus dan berkesinambungan.

Untuk mewujudkan akhlak yang luhur pada diri anak didik tidaklah mudah karena menyangkut kebiasaan hidup. Pembinaan akan berhasil hanya dengan usaha yang keras dan kesabaran.6 Ketika pembinaan akhlak atau sikap diimplementasikan, hal pertama yang perlu disoroti adalah fitrah dari manusia, sedangkan fitrah merupakan unsur rohaniah yang tidak mungkin dapat berkembang secara sempurna tanpa adanya uluran tangan yang berupa bimbingan atau asuhan dari pihak-pihak lain atau pendidik.

Sehingga pembinaan akhlak atau sikap dapat diterapkan oleh pendidik

5Masnur Muslich, Pendidikan Karakter: Menjawab Tantangan Krisis Multidimensional, (Jakarta:

Bumi Aksara, 2011), 27.

6Imas Kurniasih dan Berlin Sani, Pendidikan Karakter Internalisasi dan Metode Pembelajaran di Sekolah, (Jakarta: Kata Pena, 2017), 86-87.

(15)

melalui proses pembelajaran dengan berbagai model dan strategi sebagai jembatan untuk mencapai tujuan dan fungsinya.7

Dalam Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 Pasal 3 dijelaskan bahwa Pendidikan Nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik, agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.8

Rumusan tujuan pendidikan di atas, searah dengan pembentukan sikap. Dengan demikian, tidaklah lengkap manakala dalam strategi pembelajaran tidak membahas strategi pembelajaran yang berhubungan dengan pembentukan sikap, yaitu dengan strategi pembelajaran afektif.

Dalam ajaran Islam pendidikan sangat dianjurkan, karena melalui pendidikan seseorang akan terlepas dari apa yang sebelumnya tidak diketahuinya menjadi mengetahui. Dengan demikian, seorang guru harus bisa menjadi suri tauladan yang baik dalam mengamalkan ajaran agamanya, mengetahui dan memahami, meresapi dan menghayati agama, juga dituntut untuk menguasai metodologi pendidikan agama, baik teori maupun aplikasinya.

7 Ahmad Tafsir, Metodologi Pengajaran Agama Islam, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2011), 126.8

Wina Sanjaya, Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan, (Jakarta:

Prenadamedia Group, 2016), 273.

(16)

Salah satu metode pendidikan yang diisyaratkan Allah di dalam Alquran surah Al-Alaq adalah pembiasaan dan pengulangan. Latihan dan pengulangan merupakan metode praktis untuk menghafalkan atau menguasai suatu materi pelajaran. Di dalam surah Al-Alaq pembiasaan dan pengulangan ini disebut secara implisit, yakni dari cara turunnya wahyu pertama (ayat 1-5). Malaikat Jibril menyuruh Muhammad Rasulullah SAW dengan mengucap

اَﺮْـﻗإ

(baca!) dan Nabi menjawab:

ٍئِرﺎَﻘِﺑ ﺎَﻧَا ﺎَﻣ

(saya tidak

bisa membaca), lalu malaikat Jibril mengulanginya lagi dan nabi menjawab dengan perkataan yang sama. hal ini terulang sampai tiga kali.

Kemudian Jibril membacakan ayat 1-5 dan mengulanginya sampai beliau hafal dan tidak lupa lagi apa yang disampaikanJibril tersebut.9 Dengan demikian, menurut Erwita Aziz metode pembiasaan dan pengulangan yang digunakan Allah dalam mengajar Rasul-Nya amat efektif sehingga apa yang disampaikan kepadanya langsung tertanam dengan kuat di dalam kalbunya. Pembiasaan adalah upaya praktis dalam pendidikan dan pembinaan anak. Hasil dari pembiasaan yang dilakukan seorang pendidik adalah terciptanya suatu kebiasaan bagi anak didiknya. Kebiasaan itu adalah suatu tingkah laku tertentu yang sifatnya otomatis, tanpa direncanakan dulu, serta berlaku begitu saja tanpa dipikir lagi.

Dalam pendidikan, peneladanan merupakan cara mendidik dengan memberi contoh dimana anak didik dapat menirunya baik dari segi perkataan, perbuatan, maupun cara berfikir dan sebagainya, karena itu

9Erwita Aziz, Prinsip-prinsip Pendidikan Islam, (Solo: Tiga Serangkai Pustaka, 2003), 81.

(17)

seorang pendidik hendaklah berhati-hati di hadapan anak didiknya. Al- Quran menandaskan dengan tegas pentingnya contoh teladan dan pergaulan yang baik dalam usaha membentuk kepribadian seseorang.10 Sebagaimana firman Allah SWT:

ْﻟاَو َﻪﱠﻠﻟا ﻮُﺟْﺮَـﻳ َنﺎَﻛ ْﻦَﻤِﻟ ٌﺔَﻨَﺴَﺣ ٌةَﻮْﺳُأ ِﻪﱠﻠﻟا ِلﻮُﺳَر ِﰲ ْﻢُﻜَﻟ َنﺎَﻛ ْﺪَﻘَﻟ اًﲑِﺜَﻛ َﻪﱠﻠﻟا َﺮَﻛَذَو َﺮ ِﺧﻵا َمْﻮَـﻴ

Artinya: ”Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan Dia banyak menyebut Allah.”

(Q.S. Al Ahzab, 33: 21)11

Dari ayat diatas kita ketahui salah satu contoh yang dapat dijadikan suri tauladan ialah Rasulullah SAW, dalam memberikan pengetahuan kepada sahabat-sahabatnya beliau akan terlebih dahulu mempraktekkan apa yang diajarkan agar dapat dijadikan contoh untuk para sahabat.

Keteladanan (modeling) untuk membentuk akhlak ini sesungguhnya adalah inti dari pendidikan, dan pendidikan itu sendiri harus memberikan keteladanan.

Strategi yang digunakan oleh pendidikan dalam proses pembelajaran yang nantinya dapat mengantarkan siswa mengalami perubahan pada aspek afektifnya dikenal dengan strategi pembelajaran afektif.12 Dalam strategi ini terdapat dua proses pembentukan sikap, sehingga diharapkan dalam proses pembelajaran berlangsung pendidik juga dapat membantu membentuk akhlak anak yang nantinya menjadi anak

10Fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo Semarang, Metodologi Pengajaran Agama, (Semarang: Pustaka Pelajar Offset, 1999), 125.

11Al-Quran,33:21.

12Muhaimin, Strategi Belajar Mengajar: Penerapannya dalam Pembelajaran Pendidikan Agama, (Surabaya: CV. Citra Media, 1996), 72.

(18)

yang berakhlakul karimah. Sebagaimana yang telah diprogramkan oleh SMP Negeri 7 Jember, dimana sekolah ini telah menerapkan berbagai program kegiatan pembiasaan agama yang mana guru juga ikut serta dalam setiap kegiatan pembiasaan tersebut sebagai contoh atau model bagi siswa.

Dalam kegiatan pembiasaan yang telah dilaksanakan di sekolah ini, menurut bapak Yusron ada perubahan yang positif pada siswa, beliau mengatakan:

“Semua pembiasaan-pembiasaan ini dilakukan secara konsisten dengan pendampingan seorang guru (modeling). Dilaksanakan setiap minggu dan ada yang setiap hari sesuai jadwal, dan ketika di lihat dari beberapa bulan kemudian ada perubahan positif yang terjadi pada siswa, artinya pembiasaan ini dapat merubah akhlak siswa menjadi lebih baik lagi”.13

Dari pernyataan di atasdiperkuat dengan hasil observasi yang telah dilakukan menunjukkan bahwa sebagai upaya pembinaan afektif siswa di SMP Negeri 7 Jember diterapkan berbagai macam kegiatan seperti membaca Asmaul husna atau surat-surat pendek sebelum pelajaran dimulai, berpakaian sopan sesuai dengan ajaran Islam ketika pelajaran PAI, membaca Yasin setiap hari Jum’at, salat berjamaah, pembinaan tartil

dan hafalan, salaman pagi, infak, dan kelas bersih sebelum pelajaran dimulai. Semua itu dilaksanakan dengan bimbingan dari guru-guru, tidak hanya membimbing, guru juga memberi teladan yang baik dalam setiap kegiatan pembiasaan dan modeling di sekolah. Sehingga diharapkan dapat merubah akhlak baik terhadap siswa dari hari ke hari.14

13Yusron, Wawancara, Jember, 15 Februari 2018.

14Observasi, Strategi Pembelajaran Afektif Pola Pembiasaan dan Modeling, Jember, 22 Februari 2018.

(19)

Berdasarkan kondisi tersebut, peneliti tertarik untuk mengangkat topik dan membahasnya dalam bentuk skripsi dengan judul “Implementasi

Strategi Pembelajaran Afektif dalam Membentuk Akhlak Siswa di SMP Negeri 7 Jember Tahun Pelajaran 2017/2018 .”

B. Fokus Penelitian

Fokus penelitian harus disusun secara singkat, jelas, tegas, spesifik, operasional yang dituangkan dalam kalimat tanya.

Beberapa fokus penelitian yang muncul berdasarkan latar belakang yang telah dipaparkan sebelumnya adalah sebagai berikut:

1. Bagaimana pola pembiasaan dalam membentuk akhlak siswa di SMP Negeri 7 Jember tahun pelajaran 2017/2018?

2. Bagaimana modeling dalam membentuk akhlak siswa di SMP Negeri 7 Jember tahun pelajaran 2017/2018?

C. Tujuan Penelitian

Adapun tujuan penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut:

1. Mendeskripsikan pola pembiasaan dalam membentuk akhlak siswa di SMP Negeri 7 Jember tahun pelajaran 2017/2018

2. Mendeskripsikan modeling dalam membentuk akhlak siswa di SMP Negeri 7 Jember tahun pelajaran 2017/2018

D. Manfaat Penelitian

Manfaat penelitian berisi tentang kontribusi apa yang akan diberikan setelah selesai melakukan penelitian. Kegunaannya yang bersifat teoritis dan kegunaan praktis.

(20)

Penelitian ini diharapkan dapat memberi manfaat secara teoritis dan praktis terhadap beberapa pihak, diantaranya:

1. Manfaat Teoritis

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi pengetahuan tentang penerapan strategi pembelajaran afektif terhadap pembentukan akhlak siswa bagi mahasiswa khususnya dan masyarakat pada umumnya terutama bagi guru Pendidikan Agama Islam.

2. Manfaat Praktis a. Bagi Peneliti

1) Dapat menambah wawasan, pengetahuan, dan pengalaman yang banyak terkait strategi pembelajaran, terutama strategi pembelajaran afektif dan dapat menerapkannya dalam masa mendatang sebagai upaya untuk membentuk akhlak siswa yang berbudi pekerti luhur.

2) Sebagai wawasan dari latihan menulis karya ilmiah bagi penulis dan sebagai bekal awal untuk penelitian lain di masa mendatang.

b. Bagi Sekolah Menengah Pertama Negeri 7 Jember

Hasil penelitian ini diharapkan dapat dijadikan sebagai referensi untuk menambah dan mengembangkan pengetahuan dalam menerapkan strategi pembelajaran afektif pola pembiasaan dan modeling dalam membina siswa untuk membentuk akhlak

(21)

yang baik dan berbudi luhur sesuai ajaran agama Islam, terutama dalam membentuk akhlak kepada Allah, kepada sesama manusia dan kepada lingkungan sekitar.

c. Bagi Guru PAI

Menambah pengetahuan yang lebih matang dalam bidang pengajaran dan menambah keberagaman strategi pengajaran dalam membentuk sikap siswa dengan strategi pembelajaran afektif yang akan digunakan oleh guru.

d. Bagi IAIN Jember

Penelitian ini diharapkan menjadi tambahan kajian untuk melengkapi kepustakaan yang berkaitan dengan implementasi strategi pembelajaran afektif dalam membentuk akhlak siswa, juga diharapkan dapat memberikan kontribusi kepada mahasiswa.

E. Definisi Istilah

Judul penelitian ini adalah “Implementasi Strategi Pembelajaran Afektif dalam Membentuk Akhlak Siswa di SMP Negeri 7 Jember Tahun Pelajaran 2017/2018 ”. Judul ini memilik beberapa istilah kata yang harus

dirumuskan, didefinisikan, dan dijelaskan agar tidak ada kesalahpahaman makna sesuai dengan pandangan bagi peneliti sendiri.

1. Implementasi

Dalam kamus besar bahasa Indonesia, implementasi diartikan sebagai pelaksanaan, penerapan.15Implementasi merupakan

15Depdiknas, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 2007), 180

(22)

pelaksanaan atau penerapan kegiatan yang dilakukan seseorang selama proses kegiatan. Dimana dalam penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan bagaimana praktek pelaksanaan strategi pembelajaran afektif pola pembiasaan dan modeling dalam membentuk akhlak siswa di SMP Negeri 7 Jember Tahun Pelajaran 2017/2018.

2. Strategi Pembelajaran Afektif

Strategi pembelajaran afektif adalah strategi pembelajaran yang tidak hanya bertujuan untuk mencapai pendidikan kognitif saja, akan tetapi juga bertujuan untuk mencapai dimensi yang lainnya. Yaitu sikap dan keterampilan afektif yang berhubungan dengan volume yang sulit diukur karena menyangkut kesadaran seseorang yang tumbuh dari dalam.Kesadaran setiap siswa dapat dibentuk melalui pembiasaan yang dilakukan setiap hari dan peneladanan atau pemberian contoh perilaku yang baik oleh guru ketika dalam proses pembelajaran berlangsung maupun di luar jam belajar.

3. Akhlak Siswa

Secara etimologis, kata akhlak berasal dari bahasa Arab yang berarti budi pekerti, perangai, tingkah laku atau tabiat. Atau menurut istilah berarti tata perilaku seseorang terhadap orang lain dan lingkungannya, baru mengandung akhlak yang hakiki apabila perilaku tersebut didasarkan pada kehendak khalik. Akhlak bukan saja norma yang mengatur antar sesama manusia, akan tetapi juga norma yang

(23)

mengatur hubungan manusia dengan Tuhan dan bahkan dengan alam sekalipun.16

Jadi yang dimaksud dengan Implementasi Strategi Pembelajaran Afektif dalam Membentuk Akhlak Siswa di SMP Negeri 7 Jember Tahun Pelajaran 2017/2018 dalam skripsi ini adalah praktek pelaksanaan atau penggunaan strategi afektif pola pembiasaan dan modeling yang telah dilakukan oleh guru PAI dan guru-guru lainnya yang telah menjadi kebiasaan secara berulang-ulang yang bertujuan untuk membentuk akhlak siswa yang mulia dan terpuji sesuai ajaran agama Islam.

F. Sistematika Pembahasan

Sistematika pembahasan berisi tentang deskripsi alur pembahasan skripsi yang dimulai dari bab pendahuluan hingga bab penutup. Dengan tujuan agar pembaca dapat dengan mudah mengetahui gambaran isi skripsi secara global. Adapun garis besarnya adalah sebagai berikut:

Bagian awal terdiri dari halaman judul, halaman surat pernyataan, persetujuan skripsi, halaman pengesahan, halaman motto, halaman persembahan, halaman abstraksi, halaman kata pengantar, halaman daftar isi, daftar tabel, daftar gambar dan daftar lampiran.

Bab pertama merupakan pendahuluan yang terdiri dari; latar belakang, fokus penelitian, tujuan dan manfaat penelitian, definisi istilah, dan sistematika pembahasan.

16Asy’ari, et al.,Pengantar Studi Islam, (Surabaya: IAIN Sunan Ampel Press, 2008), 108-109.

(24)

Bab kedua berisi tentang kajian kepustakaan yang terdiri dari kajian terdahulu yang memuat penelitian-penelitian terdahulu yang relevan dengan penelitian ini dan kajian teori yang digunakan sebagai perspektif oleh peneliti. Kajian teori di sini memaparkan tentang teoritis yang terkait dengan Implementasi Strategi Pembelajaran Afektif dalam Membentuk Akhlak Siswa Di SMP Negeri 7 Jember Tahun Pelajaran 2017/2018. Bab ini berfungsi untuk landasan teori pada bab berikutnya guna menganalisis data yang diperoleh.

Bab ketiga merupakan penyajian metode penelitian yang digunakan oleh peneliti. Di dalamnya berisi pendekatan dan jenis penelitian, lokasi penelitian, subjek penelitian, teknik pengumpulan data, analisis data, keabsahan data, dan tahap-tahap penelitian yang dilaksanakan oleh peneliti.

Bab keempat berisi mengenai gambaran objek penelitian, penyajian dan analisis data, serta pembahasan temuan. Bagian ini adalah pemaparan data yang diperoleh di lapangan dan juga menarik kesimpulan dalam rangka menjawab masalah yang telah dirumuskan.

Bab kelima merupakan bab penutup yang terdiri dari kesimpulan dari beberapa pembahasan tentang hasil analisis data penelitian, serta saran-saran yang berkaitan dengan hasil penelitian yang dapat dijadikan sebagai pertimbangan lebih lanjut.

(25)

Selanjutnya skripsi ini diakhiri dengan daftar pustaka, dan lampiran-lampiran sebagai pendukung dalam pemenuhan kelengkapan data skripsi.

(26)

Beberapa penelitian terdahulu yang sudah pernah dilakukan sebelumnya terkait dengan penelitian ini antara lain:

Pertama, skripsi Halimatus Sakdiyah mahasiswa IAIN Jember Tahun 2012 dengan judul “Implementasi Strategi Pembelajaran Afektif

dalam Meningkatkan Motivasi Belajar Siswa Pada Mata Pelajaran PAI di SDN Pakis 2 Panti”. Peneliti ini menggunakan pendekatan kualitatif

deskriptif dengan jenis pendekatan studi kasus, dan pengumpulan data menggunakan observasi, wawancara dan dokumentasi. Hasil dari penelitian ini adalah membahas tentang implementasi strategi pembelajaran PAI di SDN Pakis 02 Panti Jember dimana dalam penerapan strategi pembelajaran afektif ini mencakup beberapa hal yang diantaranya perencanaan, pelaksanaan, evaluasi, juga faktor yang mendukung penerapan strategi afektif, dan faktor penghambat dalam Implementasi strategi Afektif. Penelitian ini lebih menfokuskan pada implementasi strategi afektif dalam meningkatkan motivasi belajar siswa.17

Kedua, skripsi Hafilah Rozana Masykurun mahasiswa IAIN Jember Tahun 2017 dengan judul “Pembelajaran Pendidikan Agama Islam dalam Meningkatkan Akhlak Islami Siswa SMA N 2 Jember”. Peneliti ini menggunakan pendekatan penelitian deskriptif, pengumpulan data

17Halimatus Sakdiyah,“Implementasi Strategi Pembelajaran Afektif dalam Meningkatkan Motivasi Belajar Siswa Pada Mata Pelajaran PAI diSDN Pakis 2 Panti”, (Skripsi IAIN Jember, Jember, 2012).

(27)

menggunakan metode observasi, wawancara dan dokumentasi. Hasil penelitian yaitu, pelaksanaan pembelajaran PAI dalam meningkatkan akhlak Islami siswa terkait dengan pembiasaan membaca asmaul husnadi SMA Negeri 2 Jember, berjalan sangat efektif dan dapat memberikan perubahan terhadap akhlak siswa.18

Ketiga, skripsi Achmad Syamsudin mahasiswa IAIN Jember Tahun 2014 dengan judul “Implementasi Strategi Modelling The Way dalam Meningkatkan Aktifitas Belajar dan Kemampuan Melaksanakan Sholat Fardu Pada Siswa Kelas IV SD Negeri Petung 04 Bangsalsari Tahun Pelajaran 2014/2015”. Peneliti ini menggunakan pendekatan kualitatif yang berbentuk penelitian lapangan. Metode pengumpulan data menggunakan observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil penelitian ini yaitu, dalam implementasi strategi pembelajaran modelling the wayterhadap tahap-tahap yang ditempuh oleh seorang guru sebelum sampai selesainya proses pembelajaran, yaitu perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi, serta terdapat pengembangan-pengembangan dalam pelaksanaannya.19

18Hafilah Rozana Masykurun,“Pembelajaran Pendidikan Agama Islam dalam Meningkatkan Akhlak Islami Siswa SMA N 2 Jember”, (Skripsi, IAIN Jember, Jember, 2017).

19Achmad Syamsudin,“Implementasi StrategiModelling The Way dalam Meningkatkan Aktifitas Belajar dan Kemampuan Melaksanakan Sholat Fardhu Pada Siswa Kelas IV SD Negeri Petung 04 Bangsalsari Tahun Pelajaran 2014/2015”, (Skripsi, IAIN Jember, Jember, 2014).

(28)

Tabel 2.1

Persamaan dan perbedaan penelitian terdahulu NO Nama dan Judul

Penelitian

Persamaan Perbedaan

1 Halimatus Sakdiyah

“Implementasi Strategi Pembelajaran Afektif dalam Meningkatkan Motivasi Belajar Siswa Pada Mata Pelajaran PAI di SDN Pakis 2 Panti”

a. pendekatan kualitatif deskriptif b. pengumpulan

data

menggunakan metode observasi, wawancara dan dokumentasi.

a. Penelitian terdahulu lebih menfokuskan

padaperencanaan,

pelaksanaan dan evaluasi strategi afektif dalam meningkatkan motivasi belajar siswa.

b. Peneliti sekarang mengarahkan pada pelaksanaan strategi afektif pola pembiasaan dan modeling dalam membentuk akhlak siswa 2 Hafilah Rozana

Masykurun

“Pembelajaran Pendidikan Agama Islam dalam Meningkatkan Akhlak Islami Siswa SMA N 2 Jember”

a. pendekatan kualitatif deskriptif, b. pengumpulan

data

menggunakan metode observasi, wawancara dan dokumentasi.

a. Penelitian terdahulu mengarahkan pada pelaksanaan

pembelajaran PAI dalam meningkatkan akhlak Islami siswa

b. Peneliti sekarang mengarah pada strategi pembelajaran afektif pola pembiasaan dan

modeling 3 Achmad Syamsudin

“Implementasi Strategi Modelling The Way dalam Meningkatkan Aktifitas Belajar dan Kemampuan

Melaksanakan Sholat Fardhu Pada Siswa Kelas IV SD Negeri Petung 04 Bangsalsari Tahun Pelajaran

2014/2015”

a. pendekatan kualitatif deskriptif.

b. metode pengumpulan data

menggunakan observasi, wawancara, dan dokumentasi

a. penelitian terdahulu lebih mengarah pada strategi pembelajaran modelling the way dalam

meningkatkan aktifitas belajar dan kemampuan melaksanakan shalat fardu b. Peneliti sekarang

mengarah pada strategi afektif pola pembiasaan dan modeling dalam membentuk akhlak siswa

(29)

Penelitian ini merupakan penelitian lanjutan dari penelitian terdahulu karena terdapat kesamaan pada bahasan penelitian, yaitu strategi afektif maupun pembentukan akhlak siswa, akan tetapi dalam penelitian terdahulu belum ada yang membahas tentang implementasi strategi afektif pola pembiasaan dan modeling dalam membentuk akhlak siswa di SMP Negeri 7 Jember. Pembentukan akhlak siswa di sini yakni akhlak kepada Allah, akhlak kepada sesama manusia, dan akhlak kepada lingkungan.

Penelitian ini telah difokuskan pada implementasi strategi pembelajaran afektif dalam membentuk akhlak siswa. Pembahasan dalam penelitian tersebut merupakan hal yang berbeda dari penelitian-penelitian sebelumnya.

B. Kajian Teori

1. Strategi Pembelajaran Afektif

Strategi pembelajaran afektif terdapat beberapa sub bagian yang akan dijelaskan di bawah ini, yaitu:

a. PengertianStrategi Pembelajaran Afektif

Pendekatan adalah titik tolak atau sudut pandang seseorang terhadap suatu objek atau permasalahan. Pendekatan pembelajaran dapat diartikan sebagai titik tolak atau sudut pandang pendidik terhadap proses pembelajaran, yang merujuk pada pandangan tentang terjadinya suatu proses yang sifatnya masih sangat umum, di dalamnya mewadahi, menginspirasi, menguatkan, dan melatari metode pembelajaran dengan cakupan teoritis tertentu.Strategi adalah ilmu dan kiat dalam memanfaatkan segala sumber yang dimiliki dan yang dapat dikerahkan untuk mencapai tujuan yang telah di tetapkan. Strategi pembelajaran adalah suatu kegiatan pembelajaran yang harus dikerjakan guru

(30)

dan peserta didik agar tujuan pembelajaran dapat dicapai secara efektif dan efisien.20

Strategi pembelajaran sifatnya masih konseptual dan untuk mengimplementasikannya digunakan berbagai model pembelajaran tertentu. Jadi, Model pembelajaran adalah kerangka konseptual yang melukiskan prosedur yang sistematik dalam mengorganisasikan pengalaman belajar untuk mencapai tujuan belajar tertentu dan berfungsi sebagai pedoman bagi perancang pengajaran dan para guru dalam merencanakan dan melaksanakan aktivitas belajar mengajar. Model pembelajaran pada dasarnya merupakan bentuk pembelajaran yang tergambar dari awal sampai akhir yang disajikan secara khas oleh guru.21

Metode pembelajaran dapat diartikan sebagai cara yang digunakan untuk mengimplementasikan rencana yang sudah disusun dalam bentuk kegiatan nyata dan praktis untuk mencapai tujuan pembelajaran.

Selanjutnya metode pembelajaran dijabarkan ke dalam teknik dan gaya pembelajaran. Dengan demikian, teknik pembelajaran dapat diartikan sebagai cara yang dilakukan seseorang dalam mengimplementasikan suatu metode secara spesifik. Misalkan, penggunaan metode ceramah pada kelas pada jumlah peserta didik yang relatif banyak membutuhkan teknik sendiri, yang tentunya secara teknis akan berbeda dengan penggunaan ceramah pada kelas yang peserta didiknya terbatas.22

Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata ‘afektif’ diidentikkan dengan istilah emosi dan diartikan dengan tiga macam,

20Mulyono, Strategi Pembelajaran, (Malang: UIN Maliki Press, 2011), 13-14.

21Mulyono, Strategi Pembelajaran, 25.

22Mulyono, Strategi Pembelajaran,16.

(31)

yaitu: berkenaan dengan perasaan (takut, cinta), mempengaruhi keadaan, perasaan, dan emosi, mempunyai gaya dan makna yang menunjukkan perasaan (gaya bahasa atau makna).Strategi pembelajaran afektif adalah strategi pembelajaran yang diarahkan untuk mencapai tujuan pendidikan yang bukan hanya dimensi kognitif tetapi juga dimensi yang lainnya, yaitu sikap dan keterampilan, melalui proses pembelajaran yang menekankan kepada aktivitas siswa sebagai subjek belajar. Strategi pembelajaran afektif memang berbeda dengan strategi pembelajaran kognitif dan keterampilan. Afektif berhubungan dengan nilai (value), yang sulit diukur, oleh karena menyangkut kesadaran seseorang yang tumbuh dari dalam.23

Sikap (afektif) erat kaitannya dengan nilai yang dimiliki seseorang. Sikap merupakan refleksi dari nilai yang dimiliki. Sikap adalah kecenderungan seseorang untuk menerima atau menolak suatu obyek berdasarkan nilai yang dianggapnya baik atau tidak baik. Dengan demikian, belajar sikap berarti memperoleh kecenderungan untuk menerima atau menolak suatu objek, berdasarkan penilaian terhadap objek itu sebagai hal yang berguna atau berharga (sikap positif) dan tidak berharga atau berguna (sikap negatif). Sikap merupakan suatu kemampuan internal yang berperan sekali dalam mengambil tindakan (action), lebih-lebih apabila terbuka berbagai kemungkinan untuk bertindak atau tersedia beberapa alternatif.24

Nilai bagi seseorang tidaklah statis, akan tetapi selalu berubah. Setiap orang akan menganggap sesuatu itu baik sesuai dengan pandangannya pada saat itu. Oleh sebab itu, maka sistem

23Wina Sanjaya, Strategi Pembelajaran, 273-274.

24Husniyatus Salamah Zainiyati, Model dan Strategi Pembelajaran Aktif,(Surabaya: Putra Media Nusantara & IAIN Press Sunan Ampel PMN Anggota IKAPI Jatim, 2010), 165.

(32)

nilai yang dimiliki seseorang itu bisa dibina dan diarahkan. Apabila seseorang menganggap nilai agama adalah di atas segalanya, maka nilai-nilai yang lain akan bergantung pada nilai agama itu. Dengan demikian sikap seseorang sangat tergantung pada sistem nilai yang dianggapnya paling benar, dan kemudian sikap itu yang akan mengendalikan perilaku orang tersebut.25

Benjamin Samuel Bloom melihat afektif, seperti yang dikutip oleh Marselus R. Payong, dari perspektif peserta didik yang dikategorikan sebagai perilaku awal peserta didik yang harus diperhatikan dalam memberikan layanan pendidikan.26

Afektif peserta didik dapat mempengaruhi mutu pembelajaran dan hasil pembelajaran. Dalam hal ini ranah afektif berkenaan dengan sikap dan nilai. Beberapa ahli mengatakan bahwa sikap seseorang dapat diramalkan perubahannya, bila seseorang telah memiliki penguasaan kognitif tingkat tinggi.

Penilaian hasil belajar afektif kurang mendapat perhatian dari guru. Para guru lebih banyak menilai ranah kognitif semata- mata. Tipe hasil belajar afektif tampak pada siswa dalam berbagai tingkah laku seperti perhatiannya terhadap pelajaran, disiplin, motivasi belajar, menghargai guru dan teman sekelas, kebiasaan belajar, dan hubungan sosial. Sekalipun bahan pelajaran berisi ranah kognitif, ranah afektif harus menjadi bagian integral dari bahan tersebut dan harus tampak dalam proses belajar dan hasil

25Wina Sanjaya, Strategi Pembelajaran, 276.

26 Marselus R. Payong, Sertifikasi Profesi Guru: Konsep Dasar, Problematika, danImplementasinya, (Jakarta: Indeks, 2011), 30.

(33)

belajar yang dicapai oleh siswa.27 Sehingga strategi pembelajaran afektif dapat diartikan sebagai strategi yang dirancang oleh guru dalam kegiatan pembelajaran yang tidak hanya berpusat pada kognitif siswa saja, melainkan bagaimana pembelajaran tersebut dapat juga membuat perubahan tingkah laku pada diri siswa melalui penanaman nilai yang dilakukan dengan sengaja.

Seperti yang dikatakan oleh Djamarah dalam bukunya bahwa strategi pembelajaran itu tidak cukup hanya dengan memproses informasi atau meningkatkan kemampuan intelektual, nilai hidup harus dipraktekkan dan dibiasakan.28 Dengan demikian, strategi pembelajaran afektif mengarah pada aspek bagaimana pola pembelajaran yang mengantarkan siswa mengalami perubahan pada aspek afektifnya, dalam arti siswa peka terhadap nilai dan etika yang berlaku dalam ilmunya.

b. Proses Pembentukan Sikap (Afektif)

Strategi pembelajaran afektif berhubungan dengan nilai (value) yang sulit untuk diukur karena menyangkut kesadaran seseorang yang tumbuh dalam diri anak.29 Nilai berhubungan dengan pandangan seseorang tentang baik dan buruk, indah dan tidak indah, layak dan tidak layak, adil dan tidak adil dan sebagainya. Pandangan seseorang tentang semua itu tidak bisa

27Nana sudjana, Penilaian Hasil Belajar Mengajar, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2002), 29-30.

28Djamarah, Syaiful Bahri dan Aswan Zain, Strategi Belajar Mengajar, (Jakarta: Rineka Cipta, 2006), 279.

29Wina Sanjaya, Strategi Pembelajaran, 274.

(34)

diraba, kita hanya mungkin dapat mengetahuinya dari perilaku yang bersangkutan.30

Terkait dengan strategi pembelajaran afektif, Wina Sanjaya menegaskan proses pembentukan sikap ini bisa dilaksanakan melalui pola pembiasaan dan modeling.31 Dalam pembiasaan dan modeling ini terdapat pendekatan, strategi, model dan metode pembelajaran yang akan dipaparkan secara singkat dalam tabel, sebagai berikut:

Tabel 2.2

Pembiasaan dan Modeling

Pembiasaan Modeling

Pendekatan: behavioristik, teori Operant Conditioning menurut B.F.Skinner.

Pendekatan: kognitif Teori Sosial kognitif menurut Albert Bandura.

Strategi pembelajaran afektif Strategi pembelajaran afektif

Model Practice-rehearsal Pairs Model Bermain Peran (Role Playing)

Metode Latihan (drill) Metode Demonstrasi 1) Pembiasaan

Dalam pandangan ilmu psikologi pembiasaan itu disebut conditioning. Proses ini akan menjelmakan kebiasaan (habit) dan kemampuan (ability) yang akhirnya akan menjadi sifat-sifat pribadi (personal traits) yang terperangai dalam perilaku sehari-hari.32

Pembiasaan adalah upaya praktis dalam pendidikan dari pembinaan anak. Hasil dari pembiasaan yang dilakukan

30Husniyatus Salamah Zainiyati, Model dan Strategi Pembelajaran Aktif,(Surabaya: Putra Media Nusantara & IAIN Press Sunan Ampel PMN Anggota IKAPI Jatim, 2010), 163.

31Wina Sanjaya, Strategi Pembelajaran, 277.

32Husniyatus Salamah Zainiyati, Model dan Strategi Pembelajaran, 165.

(35)

seorang pendidik adalah terciptanya suatu kebiasaan bagi anak didiknya. Kebiasaan itu adalah suatu tingkah laku tertentu yang sifatnya otomatis, tanpa direncanakan dulu, serta berlaku begitu saja tanpa dipikir lagi. Dalam kehidupan sehari-hari pembiasaan itu sangat penting, karena banyak orang yang berbuat atau bertingkah laku hanya karena kebiasaan semata- mata. Tanpa itu hidup seseorang akan berjalan lambat sekali, sebab sebelum melakukan sesuatu ia harus memikirkan terlebih dahulu apa yang akan dilakukan.

Kegiatan pembiasaan adalah bagian dari kegiatan pembelajaran yang dilakukan oleh guru baik di dalam kelas maupun di luar kelas, guru yang mempunyai fungsi ganda dalam tugas pokoknya tidak hanya melaksanakan kegiatan pembelajaran tetapi lebih dari itu yakni sebagai fasilitator, instruktur, konselor, media dan sumber belajar.33

Pembiasaan juga diartikan melakukan sesuatu perbuatan atau keterampilan tertentu secara terus menerus dan konsisten untuk waktu yang cukup lama, sehingga perbuatan atau keterampilan itu benar-benar dan akhirnya menjadi suatu kebiasaan yang sulit ditinggalkan. Anak-anak dapat menurut dan taat kepada peraturan-peraturan dengan jalan membiasakannya dengan perbuatan-perbuatan yang baik, di

33Muhammad Fathurrohman, Mengenal Lebih Dekat Pendekatan dan Model Pembelajaran, (Yogyakarta: Kalimedia, 2018), 142.

(36)

dalam rumah tangga atau keluarga, di sekolah, dan juga di tempat lain.34

Seseorang yang telah mempunyai kebiasaan tertentu akan dapat melaksanakannya dengan mudah dan senang hati.

Bahkan segala sesuatu yang telah menjadi kebiasaan dalam usia muda sulit untuk dirubah dan tetap berlangsung sampai hari tua. Untuk itu, dari dini peserta didik harus segera dibiasakan dengan sesuatu yang diharapkan akan menjadi kebiasaan yang baik sebelum terlanjur mempunyai kebiasaan lain yang berlawanan dengannya.

Pendekatan yang digunakan dalam pembiasaan ini yaitu behavioristik, teoriOperant Conditioning menurut B.F.Skinner, yaitu respon itu sebagai tingkah laku operan. Pengondisian operan disebut juga pengondisian instrumental adalah bentuk pembelajaran dimana akibat dari perilaku menghasilkan perubahan dan kemungkinan besar perubahan perilaku akan terjadi. Ketika perilaku- perilaku diikuti dengan konsekuensi-konsekuensi yang diinginkan, perilaku-perilaku tersebut cenderung meningkat frekuensinya. Ketika perilaku-perilaku tidak memberikan hasil, perilaku-perilaku tersebut akan menurun dan menghilang seluruhnya.35

Strategi dalam pembiasaan ini yaitu strategi pembelajaran afektif yang sudah di jelaskan pada sub bagian di atas. Model dalam pembiasaan ini menggunakanmodel pasangan dalam praktik-pengulangan (practice-rehearsal pairs)merupakan model pembelajaran untuk mempraktikkan

34Ngalim Purwanto, Ilmu Pendidikan Teoritis dan Praktis, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2009), 177.35

Jeanne Ellis Ormrod, Psikologi Pendidikan, (Jakarta: Erlangga, 2008), 431.

(37)

dan mengulang keterampilan atau prosedur dengan pasangan belajar serta latihan praktik berulang-ulang menggunakan informasi untuk mempelajarinya.36Metode dalam pembiasaan ini yaitu metode latihan (drill), metode ini digunakan untuk memperoleh suatu keterampilan dari apa yang telah dipelajari.

Prinsip dan petunjuk menggunakan metode drill, antara lain: 1) peserta didik harus diberi pengertian yang mendalam sebelum diadakan latihan tertentu, 2) latihan untuk pertama kalinya hendak bersifat diagnosis, mula- mula kurang berhasil, lalu diadakan perbaikan untuk kemudian bisa lebih sempurna, 3) latihan tidak perlu lama asal sering dilaksanakan, 4) harus disesuaikan dengan taraf kemampuan peserta didik, 5) proses latihan hendaknya mendahulukan hal-hal yang esensial dan berguna.37

2) Modeling

Pembelajaran sikap seseorang dapat juga dilakukan melalui proses modeling, yaitu pembentukan sikap melalui proses asimilasi atau proses mencontoh. Hal yang ditiru itu adalah perilaku-perilaku yang diperagakan ataudidemonstrasikan oleh orang yang menjadi idolanya.

Prinsippeniruan ini yang dimaksud dengan modeling.Modeling adalahproses peniruan anak terhadap orang lain yang menjadi idolanyaatau orang yang dihormatinya.38

Dalam sebuah pembelajaran keterampilan atau pengetahuan tertentu, ada model yang biasa ditiru oleh siswanya, misalnya guru memodelkan langkah-langkah cara menggunakan neraca O’ haus dengan demonstrasi

36Melvin L. Silberman, Active Learning, (Bandung: Nusamedia, 2013), 238.

37Mulyono, Strategi Pembelajaran, 110-111.

38Wina Sanjaya, Strategi Pembelajaran, 278.

(38)

sebelum siswanya melakukan suatu tugas tertentu.Dalam pembelajaran kontekstual, guru bukan satu-satunya model. Pemodelan dapat dirancang dengan melibatkan siswa. Seseorang bisa ditunjuk untuk memodelkan sesuatu berdasarkan pengalaman yang diketahuinya.

Model dapat juga didatangkan dari luar yang ahli di bidangnya, misalnya mendatangkan seorang perawat untuk memodelkan cara menggunakan termometer untuk mengukur suhu tubuh pasiennya.39

Dari segi psikologis pada hakikatnya anak-anak senang dan mudah meniru sosok yang ia lihat, bahkan mereka tidak hanya meniru yang baik saja, terkadang tanpa mereka sadari perilaku yang jelek juga ditirunya. Hal ini sebagaimana dikatakan oleh Al-Bantai dalam Usus al- Tarbiyahal-Islamiyah, bahwa keteladanan merupakan metode yang paling berpengaruh dalam pendidikan manusia, karna individu manusia senang meniru terhadap orang yang dilihatnya.40

Proses penanaman sikap anak terhadap sesuatu objek melalui proses modeling pada mulanya dilakukan secara mencontoh, namun anak perlu diberi pemahaman mengapa hal itu dilakukan. Misalnya, guru perlu menjelaskan mengapa kita harus telaten terhadap tanaman, atau mengapa kita harus berpakaian bersih. Hal ini diperlukan agar sikap tertentu yang muncul benar-benar didasari oleh suatu keyakinan kebenaran sebagai suatu sistem nilai.41

Peserta didik butuh contoh nyata, bukan hanya contoh yang tertulis dalam buku apalagi contoh khayalan. Hal ini sejalan dengan pernyataan Berk yang dikutip oleh Sit, M (2010) perilaku moral diperoleh dengan cara yang sama dengan respon-respon lainnya, yaitu melalui modeling dan penguatan. Lewat pembelajaran modeling

39Trianto, Mendesain Model Pembelajaran Inovatif-Progresif, (Jakarta: Kencara Prenada Media Group, 2009), 117.

40M. R. Jauhari, Akhlaquna, (Bandung: Pustaka Setia, 2006), 256.

41Wina Sanjaya, Strategi Pembelajaran, 279.

(39)

akan terjadi internalisasi berbagai perilaku moral, sosial dan aturan-aturan lainnya untuk tindakan yang baik.

Demikian pula menurut Social Learning Theory dalam Bandura yang dikutip oleh Hadiwinarto, perilaku manusia diperoleh melalui cara pengamatan model, dari mengamati orang lain, membentuk ide dan perilaku- perilaku baru, dan akhirnya digunakan sebagai arahan untuk beraksi. Sebab seseorang dapat belajar dari contoh apa yang dikerjakan orang lain, sekurang-kurangnya mendekati bentuk perilaku orang lain, dan terhindar dari kesalahan yang dilakukan orang lain.42

Siapakah model terdekat bagi peserta didik. Tentu saja selain orang tua yang selama ini semakin berjarak dengan anaknya dan masyarakat yang semakin acuh tak acuh dengan lingkungannya serta media yang semakin merusak, gurulah yang akhirnya diharapkan mampu menjadi model bagi peserta didik. Guru seharusnya benar-benar menjadi uswah atau teladan bukan hanya sebatas penyampai informasi ilmu pengetahuan, melainkan lebih dari itu, meliputi kegiatan mentransfer kepribadian guna membentuk siswa yang berakhlak baik. Dengan demikian sekolah dapat menjadikan peserta didiknya sebagai manusia sesuai fitrahnya yang tangguh dan hanif yang mengajarkan kebajikan dan ilmu yang bermanfaat.43

Pendekatan yang digunakan dalam modeling yaitu pendekatan kognitif, teori Social kognitif menurut Albert Bandura, yaitu didasarkan pada konsep saling menentukan, tanpa penguatan, dan pengaturan diri/berfikir.44

42Imas Kurniasih dan Berlin Sani, Pendidikan Karakter,109.

43Imas Kurniasih dan Berlin Sani, Pendidikan Karakter, 111.

44Jeanne Ellis Ormrod, Psikologi Pendidikan, 4-5.

(40)

Salah satu asumsi dasar teori kognitif sosial, yaitu orang dapat belajar dengan mengamati orang lain. Mereka dapat menguasai banyak respons baru hanya dengan mengamati perilaku orang lain atau model.45

Strategi dalam modeling ini yaitu strategi pembelajaran afektif yang sudah di jelaskan pada sub bagian di atas. Model dalam modeling ini menggunakan bermain peran (role playing), yaitu merupakan salah satu proses belajar mengajar yang tergolong dalam model simulasi.Simulasi adalah suatu cara pengajaran dengan melakukan proses tingkah laku secara tiruan. Dengan demikian, pembelajaran bermain peran merupakan salah satu model pembelajaran yang diarahkan pada upaya pemecahan masalah-masalah yang berkaitan dengan hubungan antar manusia, terutama yang menyangkut kehidupan sekolah, keluarga maupun perilaku masyarakat sekitar peserta didik.46

Metode dalam modeling ini yaitu metode demonstrasi, metode ini merupakan metode penyajian pelajaran dengan memperagakan dan mempertunjukkan kepada peserta didik tentang suatu proses, situasi atau benda tertentu, baik sebenarnya atau sekadar tiruan. Sebagai metode penyajian, demonstrasi tidak terlepas dari penjelasan secara lisan oleh guru. Walaupun dalam proses demonstrasi peran peserta didik hanya sekadar memerhatikan, akan tetapi demonstrasi dapat menyajikan bahan pelajaran lebih konkret.47

45Jeanne Ellis Ormrod, Psikologi Pendidikan, 4-5.

46Mulyono, Strategi Pembelajaran, 45.

47Mulyono, Strategi Pembelajaran, 87.

(41)

Melalui metode demonstrasi peserta didik akan mengamati secara langsung bahan pelajaran yang dijelaskan dan memiliki kesempatan untuk membandingkan antara teori dan kenyataan. Dengan demikian peserta didik akan lebih meyakini kebenaran materi pembelajaran.

c. Kesulitan dalam Pembelajaran Afektif

Di samping aspek pembentukan kemampuan intelektual untuk membentuk kecerdasan peserta didik dan pembentukan keterampilan untuk mengembangkan kompetensi agar peserta didik memiliki kemampuan motorik, maka pembentukan sikap peserta didik merupakan aspek yang tidak kalah pentingnya. Proses pendidikan bukan hanya membentuk kecerdasan dan memberikan keterampilan tertentu saja, akan tetapi juga membentuk dan mengembangkan sikap agar anak berperilaku sesuai dengan norma-norma yang berlaku di masyarakat. Namun demikian, dalam proses pendidikan di sekolah pembelajaran sikap kadang- kadang terabaikan. Hal ini disebabkan proses pembelajaran dan pembentukan akhlak memiliki beberapa kesulitan.

Pertama, selama ini proses pendidikan sesuai dengan kurikulum yang berlaku cenderung diarahkan untuk pembentukan intelektual. Dengan demikian, keberhasilan proses pendidikan dan proses pembelajaran di sekolah ditentukan oleh kriteria kemampuan intelektual (kemampuan kognitif). Pendidikan agama

(42)

atau pendidikan kewarganegaraan misalnya yang semestinya diarahkan untuk pembentukan sikap dan moral, oleh karena keberhasilannya diukur dari kemampuan intelektual, maka evaluasinya pun lebih banyak mengukur kemampuan penguasaan materi pelajaran dalam bentuk kognitif.

Kedua, sulitnya melakukan kontrol karena banyaknya faktor yang dapat memengaruhi perkembangan sikap seseorang.

Pengembangan sikap baik melalui proses pembiasaan dan modeling bukan hanya ditentukan oleh faktor guru, akan tetapi juga faktor-faktor lain terutama faktor lingkungan. Pembentukan sikap memang memerlukan upaya semua pihak, baik lingkungan sekolah, keluarga, maupun lingkungan masyarakat.

Ketiga, keberhasilan pembentukan sikap tidak bisa dievaluasi dengan segera. Berbeda dengan pembentukan aspek kognitif dan aspek keterampilan yang hasilnya dapat diketahui setelah proses pembelajaran berakhir, maka keberhasilan dari pembentukan sikap baru dapat dilihat pada rentang waktu yang cukup panjang. Hal ini disebabkan sikap berhubungan dengan internalisasi nilai yang memerlukan proses yang lama.

Keempat, pengaruh kemajuan teknologi, khususnya teknologi informasi yang menyuguhkan aneka pilihan program acara, berdampak pada pembentukan karakter anak. Secara perlahan tapi pasti budaya asing yang belum tentu cocok dengan

(43)

budaya lokal merembes dalam setiap relung kehidupan, menggeser nilai-nilai lokal sebagai nilai luhur yang semestinya ditumbuhkembangkan, sehingga pada akhirnya pembentukan karakter baru yang mungkin tidak sesuai dengan nilai dan norma masyarakat yang berlaku.48

2. Akhlak

a. Pengertian Akhlak

Kata akhlak berasal dari bahasa Arab yang sudah diIndonesiakan; yang juga diartikan dengan istilah perangai atau kesopanan. Kata

ٌقَﻼْﺧأ

adalah jama’taksir

dari kata

ٌﻖُﻠُﺧ

sebagaimana halnya kata

ٌقﺎَﻨْﻋأ

adalah

jama’ taksir dari kata

ٌﻖُﻨُﻋ

yang artinya batang leher.

Kata-kata tersebut merupakan jama’ taksir yang tetap, atau tidak dapat diubah-ubah bentuknya dengan jama’

taksir yang lain. Ahli bahasa Arab sering menyamakan arti akhlak dengan istilah:

َا ،ُﺔﱠﻴِﺠﱠﺴﻟَا ُةَءْوُﺮُﻤْﻟَا ،ُﻦْﻳﱢﺪﻟَا ،ُةَدﺎَﻌْﻟَا ،ُﻊْﺒﱠﻄﻟ

Arti dari semua bahasa Arab di atas adalah akhlak, watak, kesopanan, perangai, kebiasaan dan sebagainya.49 Para Ulama Ilmu Akhlak merumuskan definisinya dengan berbeda-beda tinjauan yang dikemukakannya; antara lain:

Al-Qurtuby menekankan, bahwa akhlak itu merupakan bagian dari kejadian manusia. Oleh karena itu, kata al- khuluk tidak dapat dipisahkan pengertiannya dengan kata al-khilqah; yaitu fitrah yang dapat mempengaruhi perbuatan setiap manusia.

Muhammad bin ‘Ilan Al-Sadiqy, Ibnu Maskawaih dan Abu Bakar Jabir Al-Jaziri menekankan, bahwa akhlak adalah keadaan jiwa yang selalu menimbulkan perbuatan

48Wina Sanjaya, Strategi Pembelajaran, 286-288.

49Mahjuddin, Akhlak Tasawuf, (Jakarta: Kalam Mulia, 2009), 1-2.

(44)

yang gampang dilakukan. Meskipun ketiganya menekankan keadaan jiwa sebagai sumber timbulnya akhlak, namun dari sisi lain mereka berbeda pendapat, yaitu:

1) Muhammad bin ‘Ilan Al-Sadiqy menekankan hanya perbuatan baik saja yang disebutnya akhlak;

2) Ibnu Maskawaih menekankan seluruh perbuatan manusia yang disebut akhlak;

3) Abu Bakar Jabir Al-Jaziri menjelaskan perbuatan baik dan buruk yang disebut akhlak.

Imam Al-Ghazali menekankan bahwa akhlak adalah sifat yang tertanam dalam jiwa manusia, yang dapat dinilai baik atau buruk, dengan menggunakan ukuran ilmu pengetahuan dan norma agama.50

Dari beberapa definisi tersebut di atas, penulis menarik definisi lain bahwa akhlak adalah perbuatan manusia yang bersumber dari dorongan jiwanya. Maka gerakan refleks, denyut jantung dan kedipan mata tidak dapat disebut akhlak, karena gerakan tersebut tidak diperintah oleh unsur kejiwaan.51

Para ahli bahasa mengartikan akhlak dengan istilah watak, tabiat, kebiasaan, perangai, aturan. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata akhlak diartikan budi pekerti atau kelakuan. Secara etimologi akhlak berarti perangai, adat, tabiat atau sistem perilaku yang dibuat oleh manusia. Akhlak secara kebahasaan bisa baik atau buruk tergantung kepada tata nilai yang dipakai sebagai landasannya, meskipun secara sosiologis di Indonesia kata akhlak sudah mengandung konotasi baik sehingga orang yang berakhlak berarti orang yang berakhlak baik.52

Mengenai istilah akhlak dengan moral, kesusilaan dan kesopanan, dapat dilihat perbedaannya bila dipandang dari

50Mahjuddin, Akhlak Tasawuf, 5.

51Mahjuddin, Akhlak Tasawuf, 5.

52Zainuddin Ali, Pendidikan Agama Islam, (Jakarta: Bumi Aksara, 2008), 29.

(45)

objeknya, yaitu akhlak suatu perbuatan manusia yang menitik beratkan terhadap Tuhan dan sesama manusia, namun tujuan utamanya hanya karena Allah SWT. semata. Sedangkan moral, kesusilaan dan kesopanan hanya menitik beratkan perbuatan terhadap sesama manusia saja.53

b. Macam-macam Akhlak

Akhlak atau budi pekerti yang mulia adalah jalan untuk memperoleh kebahagiaan dunia dan akhirat kelak serta mengangkat derajat manusia ke tempat mulia. Sedangkan akhlak yang buruk adalah racun yang berbahaya dan merupakan sumber keburukan yang akan menjauhkan manusia dari rahmat Allah SWT sekaligus merupakan penyakit hati dan jiwa.

Akhlak terbagi pada dua macam yaitu akhlak terpuji akhlakmahmudah dan akhlak tercela akhlakmadzmumah.54

1) Akhlak terpuji

Akhlak terpuji adalah perilaku yang sesuai dengan norma ajaran Islam, seperti sikap sederhana dan lurus sikap sedang tidak berlebih-lebihan, baik perilaku, rendah hati, berilmu, beramal, jujur, tepati janji, amanah, istikamah, berkemauan, berani, sabar, syukur, lemah lembut, berharap dan bercemas, taqwa, malu, zuhud, tawakal kepada Allah, pemaaf dan bertoleransi, kasih sayang, cinta kasih, adil, baik dan

53Mahjuddin, Akhlak Tasawuf, 9-10.

54Aminuddin, Aliaras Wahid, dan Moh. Rofiq, Membangun Karakter dan Kepribadian melalui Pendidikan Agama Islam, (Jakarta: Graha Ilmu, 2006), 97.

(46)

mulia, tafakkur pada ciptaan Allah, disiplin, dan lain sebagainya.

2) Akhlak tercela

Akhlak tercela adalah akhlak yang buruk atau perilaku yang tidak sesuai dengan norma ajaran Islam. Akhlak tercela merupakan sikap berlebihan, buruk perilaku, takabur, bodoh jahil, malas, bohong, ingkar janji, khianat, plin-plan, lemah jiwa, penakut, putus asa, tidak bersyukur, kasar, ingkar, serakah, sombong, tidak tahu malu, dendam, kebencian, cuek, suka meremehkan, banyak bicara sia-sia, perbuatan tidak sesuai ucapan, dan lain-lain.

c. Ruang Lingkup Ajaran Akhlak

Ruang lingkup ajaran akhlak adalah sama dengan ruang lingkup ajaran Islam itu sendiri, khususnya yang berkaitan dengan pola hubungan. Akhlak dalam ajaran Islam mencakup berbagai aspek, lebih jelasnya dapat disimak paparan berikut:55

1) Akhlak terhadap Allah

Akhlak terhadap Allah dilakukan dengan cara berhubungan dengan Allah melalui media-media yang telah disediakan Allah, yaitu ibadah yang langsung kepada Allah seperti salat, puasa dan haji. Pelaksanaan ibadah-ibadah itu secara benar menurut ketentuan syariat serta dilakukan dengan

55Muhammad Alim, Pendidikan Agama Islam (Upaya Pembentukan Pemikiran & Kepribadian Muslim), (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2006), 152.

(47)

ikhlas mengharaprida Allah Swt, merupakan bentuk akhlak yang baik terhadap-Nya.

Berakhlak kepada Allah diajarkan pula oleh Rasul dengan bertahmid, takbir, tasbih, dan tahlil. Tahmid adalah membaca hamdalah yang ditujukan sebagai tanda terimakasih kepada Allah atas nikmat yang telah diberikan-Nya. Takbir adalah mengucap Allahu akbar, membaca takbir merupakan ungkapan pengakuan akan mahabesar Allah yang tiada taranya. Bacaan tasbih sebagai ungkapan kekaguman atas kekuasaan Allah yang tak terbatas yang ditampakkan dalam seluruh ciptaan-Nya. Bacaan tahlil merupakan suatu ungkapan pengakuan dan janji seorang muslim yang harus mengakui Allah sebagai satu-satunya Tuhan. Berakhlak terhadap Allah diungkapkan pula melalui berdo’a. Berdo’a adalah meminta

apa yang diinginkan dan dicita-citakan kepada-Nya. Berdo’a merupakan bukti ketakberdayaan manusia di hadapan Allah, karena itu orang yang tidak pernah berdo’a dipandang sebagai

orang yang sombong.56

Akhlak terhadap Allah dapat diartikan sebagai sikap atau perbuatan yang seharusnya dilakukan oleh manusia sebagai makhluk, kepada Tuhan sebagai khalik. Sikap atau

56Sofyan Sauri, Mata Kuliah Pengembangan Kepribadian Pendidikan Agama Islam, (Bandung:

Alfabeta, 2004), 117.

(48)

perbuatan tersebut memiliki ciri-ciri perbuatan akhlaki sebagaimana telah dijelaskan di atas.

2) Akhlak terhadap sesama manusia

Berakhlak kepada sesama manusia adalah bergaul dan berbuat baik kepada orang lain. Islam mengajarkan berbuat baik kepada orang lain, dimulai kepada keluarga sendiri, terutama ibu dan bapak. Berakhlak kepada orang tua merupakan kewajiban setiap anak, bahkan berbuat durhaka kepada orang tua dihukum sebagai dosa besar.

Akhlak yang baik juga dilakukan kepada tetangga, dengan cara berhubungan dan berkomunikasi dengan baik kepada tetangga. Tetangga adalah orang-orang yang paling dekat tempat tinggalnya dengan kita, karena itu ketenangan dan ketenteraman suatu keluarga sangat tergantung kepada perilaku terhadap tetangganya. Tetangga yang baik akan memberikan kebaikan kepada kita.57 Demikian pula, kita adalah tetangga bagi tetangga kita, maka saling berbuat baik, sopan santun, saling membantu dan sebagainya, agar terjalin hubungan yang positif antar lingkungan sekitar.

57Sofyan Sauri, Mata Kuliah Pengembangan Kepribadian Pendidikan Agama Islam, 118-120.

(49)

Akhlak terhadap sesama manusia yang dijelaskan dibawah ini yaitu akhlak terhadap guru dan teman atau sahabat.58

(a) Akhlak terhadap guru

Sebagaimana guru harus menyayangi anak. Maka seorang anak yang belajar kepadanya harus menghormati guru sebagai pendidik, baik dari segi usia maupun ilmunya.

Anak tersebut hendaklah memosisikan guru di tempatnya yang terhormat, ia tidak boleh menghina, mengejek ataupun bergurau atau membuat gaduh di depannya.

Berakhlak yang baik, ia juga harus tunduk, patuh, mendengar ucapan guru dan bersikap sopan. Seorang anak dituntut harus menghormati orang yang lebih tua dalam ilmunya dan usia.

(b) Akhlak terhadap teman dan sahabat

Akhlak terhadap teman dan sahabat dengan cara saling menghormati karena itu merupakan sikap terpuji dalam akhlak Islam. Karena teman dan sahabat adalah orang yang kita ajak bergaul dalam kehidupan, berbuat baik terhadap teman dan sahabat sangat dianjurkan. Sikap hormat kepada teman dan sahabat ini telah diajarkan oleh Rasulullah Saw kepada para sahabatnya.

58Samsul Munir Amin, Ilmu Akhlak, (Jakarta: Amzah, 2016), 223.

(50)

Dengan sikap saling menghormati ini, perselisihan di antara umat Islam tidak akan terjadi. Meskipun terjadi perselisihan atau perbedaan pendapat, akan mudah diselesaikan karena saling menghormati. Akhlak terhadap teman dan sahabat hendaklah mengedepankan nilai-nilai budi pekerti yang mulia, di samping bersumber kepada petunjuk Alquran dan sunnah Rasullah. Hubungan kasih sayang harus dijaga dan dibina sebaik-baiknya dengan seluruh teman dan sahabat, termasuk dengan seluruh anggota keluarga besar.

3) Akhlak terhadap lingkungan hidup

Akhlak kepada lingkungan hidup, seperti sadar dan memelihara kelestarian lingkungan hidup, menjaga dan memanfaatkan alam, terutama hewani dan nabati, untuk kepentingan manusia dan makhluk lainnya, sayang pada sesama makhluk dan menggali potensi alam seoptimal mungkin demi kemaslahatan manusia dan alam sekitarnya.59

Manusia merupakan bagian alam dan lingkungan, oleh karena itu umat Islam diperintahkan untuk menjalin hubungan yang baik dengan lingkungan hidupnya. Manusia dituntut untuk memelihara dan menjaga lingkungan hidupnya. Oleh karena itu, berakhlak dalam lingkungan sangat dianjurkan

59Aminuddin, Aliaras Wahid dan Moh. Rofiq, Membangun Karakter dan Kepribadian melalui Pendidikan Agama Islam, 99.

Referensi

Dokumen terkait

Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1)Pendidikan akhlak di SMP Negeri 4 Palopo menjadi landasan utama pihak sekolah dalam membentuk akhlak peserta didik, akhlak peserta didik di

Fakta yang di temui oleh peneliti yatu adanya perubahan di desa sumuran dengan adanya pengajian setiap malam rabu dengan ini warga di desa sumuran kelompangan ajung banyak mendapatkan

Jadi Dari hasil wawancara diatas sebagian besar nasabah yang telah mendapatkan pembiayaan Multiguna Tanpa Agunan dan Modal Usaha Barokah yang diberikan oleh BMT UGT Sidogiri Capem

Mengajak anak untuk tekun beribadah kepada Allah, saling menghormati kepada sesama terutama berbicara yang sopan kepada orang tua, dapat menyayangi hewan maupun tumbuhan; 2 Materi

Peran Keluarga sebagai Pembina Kehidupan Religius dalam Pembentukan Kepedulian Sosial Anak di Dusun Gaplek Desa Suci Kecamatan Panti Kabupaten Jember Tahun 2018 Berdasarkan

Kedua, menggunakan tasmi’ hafalan yakni mendengarkan langsung hafalan di depan B.nyai juga didepan jama’ah santri.81 Dengan demikian, dari hasil temuan di atas dapat ditarik kesimpulan

2 Syarifatul Imama Pendidikan Karakter Gemar Membaca melalui Ekstarkulikul er Jurnalistik Studi Kasus di Madrasah Aliyah Raudhotul Muta’allimin Simbar Tampo Cluring Banyuwangi

Metode Pelaksanaan Kurikulum Di Pondok Pesantren Burhanul Abrar Kecamatan Besuki Kabupaten Situbondo Tahun Pelajaran 2017/2018 Terkait dengan metode pelaksanaan kurikulum di pondok