Moh Munir, Lc., M.Ag, selaku Dekan Fakultas Tarbiyah dan Keguruan Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Ponorogo. Kharisul Wathoni, M.Pd.I, selaku ketua Jurusan Pendidikan Agama Islam, Fakultas Tarbiyah dan Keguruan, Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Ponorogo.
Latar Belakang Masalah
Namun pada kenyataannya masih banyak siswa yang belum mempraktekkan pensucian ini dengan baik dan benar. Namun, jika guru hanya menggunakan satu sumber saja, mungkin akan hilang dan siswa kurang mampu mengajarkan nilai-nilai tersebut.
Rumusan Masalah
Tujuan Penelitian
Untuk mengetahui sumbangan bahan utama pembelajaran taharah dalam Kitab Maba>di' al-Fiqhiyyah karya Umar Abdul Jabbar sebagai sumber bahan tambahan dalam buku teks fiqh Madrasah Tsanawiyah edisi 2019.
Manfaat Penelitian
Abdullah Bin ‘Abbas Bin Asy-Syafi’i dan Kaitannya dengan Materi Fiqh Madrasah V Ibtidaiyah Tahun 2015. Sementara itu, materi Fiqh Madrasah V Ibtidaiyah yang tidak relevan dengan kitab Maba>di’ Al-Fikhijah Juz 4 karya Imam Abu.
Kajian Teori
Pengertian Materi Ajar
Pengetahuan konseptual mencakup pengetahuan tentang kategori, klasifikasi, dan hubungan antara dua atau lebih kategori pengetahuan yang lebih kompleks dan terorganisir. Pengetahuan konseptual dibagi menjadi tiga subtipe, yaitu: (1) pengetahuan tentang klasifikasi dan kategori, (2) pengetahuan tentang prinsip dan generalisasi, (3) pengetahuan tentang teori, model, dan struktur.
Metode Penelitian
- Pendekatan Penelitian
- Sumber Data a. Sumber Data
- Teknik Pengumpulan Data
- Teknik Analisis Data
Editing yaitu pemeriksaan ulang seluruh data yang terkumpul yaitu materi thaharah dari kitab Maba>di' al-Fiqhiyyah karya Ustadz Umar Abdul Jabbar dan materi bab thaharah dari materi fiqh kelas VII MTs baik dari segi kelengkapan, kejelasan makna, . Organisasi, yaitu penyusunan sekaligus sistematisasi dari data yang diperoleh yaitu pada materi bab thaharah dalam kitab Maba>di' al-Fiqhiyyah karya Ustadz Umar Abdul Jabbar dan materi bab thaharah pada materi fiqh untuk kelas MTs VII dalam kerangka penawaran yang ada.
Sistematika Pembahasan
Berisi analisis data yang meliputi analisis tentang sub-bab materi thoharah dalam kitab
Pasal Satu (Thaharah)
راَهَّطلا
ولاَو ُغلاَو ِءو ُض
ءاَلداَا : ُّػتلاَو
ـاَسق َأ: ِهاَيِلدا
ءاَم ) ٖ
سِّجَنَػتُم
ءاَلدَا ُرِىاَّطلا
ءاَمَو ْلَّػثلا
بِا َلا
بُلحُطوَأ
اُءاَلدا
Air berubah karena ada sesuatu yang sulit dilindungi, seperti daun pohon yang jatuh tertiup angin. Air berubah karena ada sesuatu yang dekat, seperti bangkai di tepi air, kemudian air berubah karena bau bangkai yang terbawa angin, atau karena ada sesuatu yang tidak dapat dipisahkan dari air, seperti minyak atau lemak babi.
ءاَلدا ُرِىاَّطلا
Air berubah kerana kehadiran sesuatu air dicat, seperti minyak tar.
لدا ِرِّهَط
لاَخَا ٍةَط
ءاَلدا
ءاَلدا َغَلَػب
وِفاَص وَأ ًلايِلَق
Pasal Dua (Benda-Benda Najis)
لاِا َِّنَِلدا
لاِا
دَرَلجاَو
Najis ialah benda-benda yang ditentukan najisnya, seperti darah, nanah, muntah, arak (arak atau minuman keras), anjing, babi, susu haiwan yang tidak boleh dimakan dagingnya, sesuatu yang datang dari dua jalan, iaitu qibul dan dubur (kecuali benih, kerana sesungguhnya benih itu suci), juga bangkai (kecuali mayat manusia, ikan dan belalang).
ةَساَجَّنلا
شَرُػي ىَلَع
ةَط ِفاَعوَن
جَّنلا - ٌةَسا
ةَدِحاَو َّنلا -
و ٌحيِر
يِمَدلآاَةَتيَم
معَط
Pasal Tiga (Instinjak)
Istinja' adalah kegiatan yang bertujuan untuk membebaskan seseorang dari najis, yaitu dengan membersihkan segala sesuatu yang berasal dari anus atau qubul dengan bantuan alat, yaitu air, batu atau benda lain yang dapat menggantikan batu, istinja; Memiliki tata cara pelaksanaannya, yaitu sebagai berikut:
ؿوُزَػيِل ُرَػثَا
طوُرُش ا
رَجَلح
لا فَا
واَجَتَػيَلا فَا
Perkara yang boleh menggantikan batu (untuk menjadi sperminja) semuanya keras, suci, tidak hormat, contohnya kertas atau kayu. Adapun yang paling utama dalam berisinjak hendaklah dengan batu, kemudian ikuti dengan air dan boleh juga diringkaskan dengan air sahaja atau dengan tiga batu sahaja, dengan ketiga-tiganya tempat keluarnya kotoran itu boleh disucikan sebagaimana. selagi najis tidak melepasi dubur dan kepala kawasan kemaluan bagi lelaki. Terdapat beberapa perkara yang boleh menggantikan batu yang boleh digunakan sebagai pengganti batu untuk bersuci.
Artinya, segala sesuatu yang kuat, tidak lunak dan suci, juga bisa menghilangkan najis. Yang tidak dapat menggantikan batu adalah sesuatu yang lunak seperti spons karet, yang karena najis seperti tulang babi mati, yang karena tidak dapat menghilangkan najisnya menjadi seperti kulit kayu yang kasar dan sangat dihargai sebagai roti kering.
نُسا ُن
يِدقَت
ئاَبَلخاَو ِث
ىَذَلاا ِّنَع
نِاَفاَعَو
هَدعَبَو
Orang yang berdiri hendaklah mengucapkan "BISMILLAHI A'UUDZU BILLAHI MINAL KHUBUTSI WAL KHOBAITS" apabila masuk.
ؿاَبقِتسِا
ػباَقُم
مَّسلا ِءا
ساَّنلا
Pasal Empat (Wudlu)
فوُكَيَلا فَا
ءاَلدا َفوُكَي فَا
فُذُلاا َلَِا
تَِّلا
سأَّرلا ِضعَب ُحسَم
Batasan wajah menurut panjangnya adalah dari tempat tumbuhnya rambut di kepala yang biasa diyakini oleh kebanyakan orang, sampai ke ujungnya yang disebut dagu, ini untuk orang yang tidak berjanggut. Selain itu, wajib juga membasuh apa yang ada di antara puting susu, kedua telinga, wajib juga membasuh rambut di kedua pelipis dan apa yang cekung di mata, atau bekas luka yang cekung, serta segala sesuatu yang , menurut asalnya, dibuat dalam keadaan berlubang. 21.
يِمسَّتلا
ؾاَوِّسلَا
ضَلدا
ؽاَشنِتسِلاَا
يَْنُذُلاا ُحسَم
ةَيحِللا ُليِل َتَ
شَكلا ِةَفي
ثيِلثَّتلَا
هَدعَب ُءاَعُّدلا
لَع ٍث َلاَث ى
ءاَضعَلاا ُفِسنَت
لاَو ا
Pasal Lima (mandi)
لسُغل ا ُلسَغ َوٌى : ج
هَػتنى
لسُغلا ُبِج ْو
م ُتاَب ِجو
بَجَو َفاَتِلخا
Berdasarkan juga sabda Rasulullah saw yang bermaksud: “jika kedua-dua kemaluan atau jika kemaluan telah bertemu dengan kemaluan bererti persetubuhan, maka wajib dicuci”. Juga berdasarkan sabda Rasulullah saw yang bermaksud: “Jika kamu haidh, maka tinggalkan solat, kemudian apabila telah berlalu waktunya, mandilah untuk membersihkan darah dari dirimu kemudian solat. “Kematian, kerana sabda Nabi saw tentang orang yang menendang dan memijak untanya, lalu mati, yang bermaksud: “Basuhlah orang itu dengan air dan daun bidara”.
اَم : س ُةَباَنَلجا
نَلدا ُؿو
لدا
ؿوُصُو )ُثِلاَّثلا(
ءاَجنِتسِلاَا )
ةَلاا
Pasal Enam (Tayammum)
ءا
جاَيِتحِلااِوَا ) ٖ
ضرَف
وجَولا ُحسَم ) ٕ
Lakukan tayammum untuk setiap solat fardhu (jadi jika solat sunat, tayammum boleh digunakan berapa kali). Tayammum bagi setiap solat fardhu: Tayammum adalah wajib bagi setiap solat, tetapi seseorang boleh melakukan mana-mana amalan sunat atau solat sunat dengan hanya menggunakan satu waktu tayammum. Sesiapa yang luka di badannya akan mendapat kerosakan seperti sakit jika menggunakan air, maka wajib bagi manusia.
Jika luka itu pada salah satu anggota yang wajib dicuci ketika bertayammum, maka wajib dihaluskan dengan debu dan jika debu itu membahayakannya, maka dia hanya boleh meringkaskannya dengan membasuh anggota yang sihat sahaja, tetapi orang yang demikian Wajib mengulangi sembahyang setelah luka itu sembuh.
لدا ِوضُعلا
Pasal Tujuh (Mengusap di Atas Kedua Sepatu Muzah atau Khufah)
لدا ْس
ي فا
Bersuci
Air suci tetapi tidak menyucikan, air suci yang tidak menyucikan untuk perkara lain ialah air yang hanya mempunyai sifat suci dan tidak terkena najis. Tidak dianjurkan (Makruh): (1) Air yang sangat panas atau sejuk, tetapi tidak merosakkan anggota badan. Jika air bercampur dengan benda-benda suci dan tidak mengubah satu atau ketiga-tiga sifatnya, maka hukum penggunaannya adalah sama dengan air suci yang membersihkan.
Air suci dari tumbuh-tumbuhan dan buah-buahan: Air di dalamnya tidak boleh menghilangkan najis dan hadat. Hukum ini berlaku secara umum, terlepas dari apakah sifat air yang najis berubah atau tidak.
Alat Bersuci Selain Air 1. Batu sebagai alat bersuci
Najis „ainiyah ialah najis yang masih dapat dilihat dan dirasai dengan satu atau tiga sifatnya sama ada warna, rasa atau bau. Najis dari segi hukum bersuci terbahagi kepada dua iaitu najis yang tidak diampunkan dan najis yang dimaafkan. Najis melekat pada bekas batu atau benda seumpamanya yang digunakan untuk istinja'.
Kemudian air suci dan suci dipercikkan pada tempat atau benda yang terkena neji dan dikelilingi. Kemudian dipercikkan air yang suci lagi suci sehingga mengalir ke atas tempat atau benda yang terkena neji dan dikelilingi.
Hadats, Pembagiannya dan Tata Cara Mensucikannya
Sedangkan menurut istilah, mandi besar adalah memeratakan atau menyalurkan air ke seluruh tubuh dengan maksud dan cara tertentu. Syarat pertama diawali dengan niat mandi besar-besaran bersamaan dengan saat air pertama kali disiramkan ke tubuh. Artinya : “Saya niat mandi besar untuk menghilangkan hadats besar karena.. menunaikan kewajiban Allah SWT dan semata-mata karena Dia”.
Penggunaan air sebagai alat dalam istia berbeda, yaitu dengan menggunakan batu atau benda sejenis. Secara bahasa, tayammum berarti niat melakukan sesuatu.
Kontribusinya Sebagai Sumbar Belajar Tambahan dalam Buku Ajar Mata Pelajaran Fikih Kelas VII dalam Buku Ajar Mata Pelajaran Fikih Kelas VII
Kemiripan antara keduanya terlihat dari seluruh materi yang terdapat dan dijelaskan dalam buku tersebut, sangat relevan dengan materi yang ada di dalam buku tersebut. Jadi apa yang ada di dalam buku dan juga materi yang ada di dalam buku tersebut saling melengkapi, namun di antaranya ada beberapa materi yang mungkin tidak dijelaskan di dalam buku tersebut. Karena kitab Maba>di'ul-Fikhijah memiliki 4 jilid dan materi yang dikandungnya saling berkaitan.
Taharaja merupakan salah satu tujuan minor dalam materi fikih, dimana taharaja merupakan materi yang mengandung aturan-aturan Islam dalam kehidupan. Selain buku pelajaran yang disediakan oleh pihak sekolah, diharapkan siswa juga dapat memahami materi yang terdapat dalam kitab Maba>di'ul-Fikhijah, yang dapat mempermudah penjelasan karena materi yang disajikan lebih sederhana dan tercantum. secara terperinci. dalam setiap volume buku.
Kesimpulan
Namun setelah pemaparan materi yang ada di dalam buku tersebut lengkap, masih ada beberapa materi yang ada di dalam buku tersebut namun belum dijelaskan di dalam buku tersebut. Di dalam buku kontribusi tersebut antara lain materi thaharah di dalam buku, yaitu dalam hal pemaparan di dalam buku, materi disajikan lebih ringkas dan jelas, kemudian di dalam buku terdapat materi yang tidak disebutkan atau dijelaskan di dalam buku. Pada dasarnya ada beberapa jenis air, salah satunya adalah air suci dan juga suci.
Namun, ada penjelasan lain tentang fakta bahwa air tetap murni meskipun sifatnya telah berubah. Dan selebihnya buku atau materi buku tersebut dapat saling melengkapi menjadi materi yang lebih luas untuk disampaikan kepada siswa.
Saran
Wujudkan Dakwah dan Rosul, https://Al-Mawardi.Wordpress.com Jasa-A-Ulama-Saudi-Terhadap-Pendidikan-Islam-di-. Choiri, Moh. Miftachul dan Aries Fitriani, Problematika Pendidikan Islam Sebagai Sub Sistem Pendidikan Nasional Di Era Globalisasi (PT Islam Negri Ponorogo: Al-Tahrir Vol.11, No.2, November 2011. Wahyu Rofi'ah, Ilma Nikmatur dan Tirta Dima Negara, Implementasi Diklat Santri Baru Dalam Kegiatan Ibadah Harian Di Pondok Pesantren Darul Huda Mayak, Ma'alim: Jurnal Pendidikan Islam.
Kajian Materi Fiqh dalam Kitab Mabadi' Al-Fiqhiyah Juz 4 Karya Imam Abu Abdillah Muhammad Bin Idris Bin Al-Abbas Bin Syafi'i dan Relevansinya dengan Materi Fiqh Kelas V Madrasah Ibtidaiyah. Pada tahun 2017 beliau melanjutkan pendidikannya di Institut Agama Islam Ponorogo dengan mengambil mata kuliah Pendidikan Agama Islam hingga sekarang.