• Tidak ada hasil yang ditemukan

Status Hukum Anak Hasil Perkawinan Sedarah dalam Hukum Islam

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "Status Hukum Anak Hasil Perkawinan Sedarah dalam Hukum Islam"

Copied!
113
0
0

Teks penuh

PENDAHULUAN

Konteks Penelitian

Status hukum anak hasil perkawinan keluarga akan menjadi permasalahan dengan lahirnya anak dari hubungan darah. Berdasarkan uraian latar belakang yang penulis tulis, maka penulis mengambil judul penelitian Status Hukum Anak Hasil Perkawinan Keluarga Dalam Tinjauan Hukum Islam (Studi Kasus Desa Balung Kulon Kecamatan Balung Kabupaten Jember).

Fokus Penelitian

Tujuan Penelitian

Untuk menganalisis dan mengetahui kronologi penyebab perkawinan sedarah di Desa Balung Kulon Kecamatan Balung Kabupaten Jember. Untuk mengetahui bagaimana status hukum anak hasil perkawinan keluarga menurut hukum Islam di desa Balungkulon kecamatan Balung.

Manfaat Penelitian

Hasil penelitian ini dapat dijadikan acuan untuk penelitian selanjutnya agar penelitian yang membahas “Status Hukum Anak yang Lahir dari Perkawinan Sedarah Dalam Tinjauan Hukum Islam (Studi Kasus Desa Balung Kulon Kecamatan Balung)” dapat ditingkatkan dan lebih baik lagi. kinerja di masa depan. Ia dapat mengenal hukum Islam mengenai status anak hasil perkawinan sedarah sehingga masyarakat mengetahui penerapan hukum perkawinan sedarah.

Definisi Istilah

Hukum Islam adalah suatu perintah atau aturan yang diberikan oleh Allah SWT kepada umat-Nya, yang dibawakan oleh Rasulullah SAW, baik perintah yang berkaitan dengan keimanan (akidah) maupun perintah yang berkaitan dengan perbuatan (amaliyah) yang dilakukan oleh seluruh umat Islam tanpa pengecualian. 11. 11 Widya Resti Oktaviana, Arti Hukum Islam, Berbagai Tujuan dan Jenisnya, https://www.dream.co.id/stories/pengertian- Hukum-islam-besar-dan-various-.

Sistematika Pembahasan

Perkawinan diartikan sebagai ikatan batin dan lahiriah antara seorang laki-laki dan seorang perempuan sebagai suami istri, yang tujuannya adalah membentuk keluarga yang bahagia dan kekal berdasarkan keimanan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Sedangkan perkawinan sedarah adalah perkawinan antara seorang perempuan dan laki-laki yang masih mempunyai hubungan darah, misalnya saudara laki-laki dan perempuan, saudara sedarah atau orang tua dengan anak-anaknya.13.

KAJIAN PUSTAKA

Peneltian Terdahulu

Kajian Teori

  • Pengertian Perkawinan
  • Rukun dan Syarat Perkawinan
  • Akad perkawinan dalam syara’
  • Larangan perkawinan
  • Pencegahan Perkawinan

Akan ada hak dan kewajiban antara orang tua dengan anak yang dilahirkannya, baik anak sah maupun anak haram. 54 Khaira Ayumi Hasan, “Tanggung jawab orang tua terhadap anak incest menurut syariat Islam”, (Disertasi Universitas Sumatera Utara, 2016), 58. Orang tua mempunyai kewajiban terhadap anaknya, salah satunya adalah mendidik anak tentang hak dan kewajibannya. memelihara.

Menurut Pasal 45 Undang-undang Nomor 1 Tahun 1974, “kedua orang tua wajib menghidupi dan mendidik anaknya sebaik-baiknya”. Kewajiban ini berlanjut sampai anak tersebut menikah atau mandiri.57. Dalam Islam, seorang anak dianggap sah jika ia lahir sekurang-kurangnya enam bulan setelah perkawinan orang tua dan pasangannya. Dalam Islam, anak angkat adalah anak yang mendapat nafkah sehari-hari, biaya pendidikan dan biaya lainnya; Tunjangan ini berpindah dari orang tua yang melahirkan anak kepada orang tua angkatnya dan harus dikukuhkan dengan penetapan pengadilan.

Apabila seorang anak diangkat, tidak ada perubahan hubungan anak tersebut dengan orang tua angkatnya baik dari segi mahram maupun orang tuanya.60. Anak angkat tidak terpengaruh akibat hukum hubungan kekerabatan, hubungan wali-wali, atau hubungan keturunan dengan orang tua angkat dalam hukum Islam. Selain itu, ada juga anak asuh yang tetap tinggal bersama orang tua asuh dengan tetap menjaga hubungan dengan orang tua kandungnya.

METODE PENELITIAN

  • Pendekatan dan Jenis Penelitian
  • Lokasi Penelitian
  • Subyek Penelitian
  • Teknik Pengumpulan Data
  • Analisi Data
  • Keabsahan Data
  • Tahap-tahap Penelitian

Dijelaskan oleh Ibu Indira (nama samaran), keponakan yang melangsungkan perkawinan sedarah. Menurut Ibu Indira (nama samaran), pelaku melakukan praktik perkawinan sedarah tersebut. Latar Belakang Fenomena Perkawinan Sedarah Kedua Pihak di Desa Balungkulon Kecamatan Balung Kabupaten Jember.

Jadi menurut Kompilasi Hukum Islam dan Surat An-Nisa ayat 23 tentang inses adalah perkawinan yang tidak sah. Jadi dapat disimpulkan bahwa status anak dalam perkawinan sedarah adalah anak hasil perzinahan karena anak yang dilahirkan dari perkawinan yang tidak sah di mata hukum dan agama. Perkawinan sedarah merupakan perkawinan yang diharamkan, dan jika diteruskan maka perkawinan tersebut batal selamanya.

Bagaimana kedudukan hukum anak yang lahir dari perkawinan sedarah? menurut Syariat Islam di Desa Balungkulon Kecamatan Balung Kabupaten Jember.

PENYAJIAN DATA DAN ANALISIS

Gambaran Umum Lokasi Penelitian Desa Balung Kulon

Dene tembung kulon tegese Kulon, tegese Balung Kulon yaiku balung kang ana ing sisih kulon. Sawise penulis wawancara karo sawetara tokoh utawa sesepuh ing Desa Balung Kulon, critane pancen bener. 34: Ing tanah kosong ana tanduran, wit asem gedhe, lan ing wit asem ana susuh tawon, banjur ana wong tuwa njaluk tulung marang simbah. Wong tuwo enggal menek wit asem karo wong wedok iki, ngenteni wit asem mudhun, kok ora mudhun, takon nalika ngenteni beng lutung ing kulon, banjur wong tuwa ngomong kok. apa si beng langur ngenteni suwene wong sing lor kosong, nganti belung nang kidul ping telu pungkasan, banjur diceluk wong tuwa sing munggah lan jebule ora krungu swarane. , mbah iki ngendika yen Balung ing Kulon dudu Balung Kulon, ing sisih Lor dudu Balung Lor, lan ing sisih kidul dudu Balung Kidul.” 72.

Pada jaman dahulu kala ada sebuah tumbuhan yang berdiri di tanah kosong, tumbuhan tersebut adalah pohon asam jawa yang tinggi dan besar, dipuncak pohon asam jawa tersebut terdapat sebuah sarang lebah yang terdapat telurnya, kemudian ada seorang wanita tua yang ingin mengambil telur tersebut. dari pemandian sarang lebah wanita tersebut atas bantuan kakek tua memanjat pohon asam yang sangat tinggi, kakek kemudian memanjat pohon asam tersebut, seorang wanita tua menunggu kakek di bawah dan memanggilnya, namun tidak ada jawaban dari kakek, setelah menunggu beberapa saat masih ada lagi potongan tulang yang jatuh ke arah barat, lalu wanita tua ini menunggu lagi dan tulang yang lain jatuh ke utara, hingga akhirnya tulang tersebut jatuh ke selatan untuk yang ketiga kalinya, untuk memastikan tulang yang mana. Tadinya, wanita ini tiba-tiba memanggil kakek di atas, namun tidak menjawab, sehingga wanita tua ini membenarkan bahwa kakek tersebut meninggal di pohon karena disengat segerombolan lebah. Kemudian nenek tua ini berjanji, jika di kemudian hari ada perubahan, maka tulang yang jatuh ke arah barat disebut balung kulon, yang di utara disebut balung lor, dan yang jatuh ke selatan disebut balung kidul) . Desa Balung Kulon merupakan salah satu dari delapan desa yang ada di Kecamatan Balung, Kabupaten Jember.

Terkadang masyarakat aktif menjalankan agamanya, namun perilakunya tidak sesuai dengan nilai-nilai agama yang ada di masyarakat.

Penyajian Data dan Analisis

  • Status Hukum Anak Hasil Perkawinan Sedarah Menurut

Dari Tuan. Pandangan Siyono sebagai tokoh masyarakat mengenai maraknya perkawinan tersebut, ia mengatakan bahwa faktor utama terjadinya perkawinan sedarah adalah kehamilan di luar nikah. Berbeda dengan Pak. Menurut Sultan (nama disamarkan), orang tua kedua belah pihak yang terlibat perkawinan sedarah, faktor yang melatarbelakangi perkawinan sedarah ini adalah kedua belah pihak saling mempunyai perasaan cinta kasih. Islam jelas mengharamkan perkawinan sedarah karena akan berdampak sangat buruk bagi anak yang dilahirkannya.

Berdasarkan penjelasan kedua tokoh masyarakat tersebut dapat disimpulkan bahwa perkawinan sedarah adalah perkawinan yang diakhiri dengan perkawinan saudara laki-laki atau perempuan yang mempunyai hubungan darah. Perkawinan sedarah ini merupakan perkawinan yang tidak sah dan perkawinan ini dapat mempunyai akibat hukum bagi kedua belah pihak dan anak-anaknya. Ibu Indira (nama samaran) selaku penyebab perkawinan sedarah menjelaskan, anak yang dilahirkannya mengidap penyakit.

Dari penjelasan pihak keluarga dapat disimpulkan bahwa perkawinan sedarah sangat berdampak pada seseorang.

Pembahasan Temuan

  • Latar Belakang Terjadinya Perkawinan Sedarah Yang
  • Status Hukum Anak Hasil Perkawinan Sedarah

Status hukum anak hasil perkawinan sedarah menurut hukum Islam di Desa Balungkulon Kecamatan Balung Kabupaten Islam. Di Desa Balungkulon, Kecamatan Balung, Kabupaten Jember. Apabila anak tersebut tidak mendapat pengakuan dari undang-undang, maka hasil penelitian ini dapat menjelaskan mengenai status anak hasil perkawinan sedarah, terlepas dari apakah ia tergolong anak sah atau anak tidak sah. Jasmin Syria Pebriani, Analisis Yuridis Status Hukum Anak Hasil Perkawinan Sedarah dan Sedarah, Jurnal Hukum Keluarga Vol.

Jasmin Syria Pebriyani, (2021), Kajian Hukum Kedudukan Anak Hasil Perkawinan Sedarah dan Sedarah, IAIN Bone: Tesis PhD. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan Anti Sedarah (Studi Kasus di Desa Palapuan, Busungbiu, Kabupaten Buleleng), Universitas Pendidikan Ganesha: Skripsi. Yania Amelia, (2019), “Perlindungan Hukum terhadap Hak Anak dari Perkawinan Sedarah Ditinjau Hukum Islam dan Hukum Positif (Studi Kasus Perkawinan Sedarah di Kecamatan Meral Kabupaten Karimun)”, Universitas Islam Riau: Skripsi.

Dalam hukum Islam, anak yang lahir di luar nikah dianggap sebagai anak sah atau anak tidak sah. wawancara dengan Ibu Indira) (wawancara dengan Pak Tepel).

PENUTUP

Simpulan

Saran-saran

Saran peneliti bagi penulis yang melakukan praktik incest adalah perkawinan tersebut bertentangan dengan agama Islam dan dilarang oleh undang-undang, sehingga pelaku juga harus mengetahui akibat apa yang akan ditimbulkan terhadap anak yang akan dilahirkan. Putri Addiniaty, (2021), “Kedudukan anak hasil hubungan inses dalam perspektif hukum Islam dan hukum positif di Indonesia”, IAIN Bengkulu: Tesis. Raaph Sinta Karina, (2020), Perlindungan Hukum Terhadap Status Anak Hasil Perkawinan Keluarga Di Wilayah Balikpapan Kalimantan Timur, Universitas Islam Indonesia: Skripsi.

Satria Wijaya Budi, (2021), Analisis Hukum Pembatalan Perkawinan Keluarga Terkait Upaya Hukum Perlindungan Hukum Anak, Universitas Muhammadiyah Sumatera: Tesis. Edelwis Lararenjana, (11 Juli 2022) “Nasib anak di luar nikah, begini statusnya dalam perspektif hukum Islam”, https://www.merdeka.com/jatim/nasab-children-out-of-marriage -ini- status-dalam -perspeksi- Hukum-islam-kln.html diakses pada 15 November 2022. Fitri Novia Heriani, (4 Juli 2019), Begini UU Pernikahan Keluarga di Indonesia”, https://www. Hukum online. com/berita/a/begini-law-inbreeding-in-Indonesia-lt5d1e1c41636ed/ diakses pada 04 November 2022.

Teknik pengumpulan data : Observasi, wawancara dan dokumentasi. perkawinan sedarah dilakukan kedua pihak di Desa Balungkulon, Kecamatan Balung, Kabupaten Jember.

Referensi

Dokumen terkait

Hasil dari penelitian ini menunjukan bahwa anak yang lahir dari perkawinan orang tua yang wali nikahnya ayah angkat adalah anak sah dan memiliki hubungan nasab

status hukum anak yang perkawinan orang tuanya dibatalkan dan apakah akibat. hukum dari pembatalan perkawinan suami istri terhadap

Akibat hukum menikahi wanita hamil karena zina menurut Hukum Islam anak yang dilahirkan setelah enam bulan perkawinan memiliki hubungan nasab, perwalian, waris dan hak nafkah dari

Akibat hukum menikahi wanita hamil karena zina menurut Hukum Islam anak yang dilahirkan setelah enam bulan perkawinan memiliki hubungan nasab, perwalian, waris dan hak nafkah dari

Satrio, 48 anak zina merupakan anak yang dilahirkan dari hubungan luar nikah antara seorang laki-laki dan seorang perempuan, dimana. salah satu atau kedua-duanya terikat

Kedua , akibat hukum bagi anak Pasal 28 UUP tetap anak sah dan bagi istri dengan itikad baik, perkawinan tetap mempunyai akibat hukum yang sah bagi suami dan istri.. Apabila

1) Anak yang dilahirkan dalam atau akibat perkawinan yang sah. 2) Hasil pembuahan suami istri yang sah di luar rahim dan dilahirkan oleh istri tersebut. Pasal 100 menyatakan

Kesetaraan dan Kepemilikan Harta Bersama Perkawinan Perspektif Hukum Adat Harta perkawinan menurut hukum adat ialah semua harta yang dikuasai suami-istri selama dalam ikatan