STRATEGI
PEMBELAJARAN
BAHASA INGGRIS
Sanksi Pelanggaran Pasal 72
Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2002 Tentang Hak Cipta
1. Barangsiapa dengan sengaja melanggar dan tanpa hal melakukan perbuatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 Ayat (1) atau Pasal 49 Ayat (1) dan Ayat (2) dipidana denda pidana penjara masing-masing paling singkat 1 (satu) bulan dan/atau denda paling sedikit Rp 1.000.000,00 (satu juta rupiah), atau pidana penjara paling lama 7 (tujuh) tahun dan/atau denda paling banyak Rp 5.000.000.000,00 (lima miliar rupiah).
2. Barangsiapa dengan sengaja menyiarkan, memamerkan, mengedarkan, atau menjual kepada umum suatu ciptaan atau barang hasil pelanggaran hak cipta atau hak terkait sebagaimana dimaksud pada Ayat (1) dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan/atau denda paling banyak Rp 500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah).
STRATEGI
PEMBELAJARAN
BAHASA INGGRIS
Andi Asari I Agustina Pali I Winda Amelia I Yudi Kurniadi I Ervian Arif Muhafid I Dhesi Wulan Sari I Rani Ligar Fitriani I Siti Komala I Puji Pramesti I Lina Septianasari I Tomi Arianto I
Fuad Hasyim I Sheila Nanda Parayil
STRATEGI PEMBELAJARAN BAHASA INGGRIS
© 2023, Andi Asari; Agustina Pali; Winda Amelia; Yudi Kurniadi; Ervian Arif Muhafid;
Dhesi Wulan Sari; Rani Ligar Fitriani; Siti Komala; Puji Pramesti; Lina Septianasari;
Tomi Arianto; Fuad Hasyim; Sheila Nanda Parayil Cetakan, 2023
15,5 x 23 cm, x + 225 Halaman ISBN: 978-623-8242-13-9 Penulis : Andi Asari
Agustina Pali Winda Amelia Yudi Kurniadi Ervian Arif Muhafid Dhesi Wulan Sari Rani Ligar Fitriani Siti Komala Puji Pramesti Lina Septianasari Tomi Arianto Fuad Hasyim Sheila Nanda Parayil Editor : Maulana Aenul Yaqin Layout Isi : Al Amin Rois Desain Cover : Tim Istana Agency Diterbitkan oleh:
CV. ISTANA AGENCY
Anggota IKAPI No.138/ DIY/ 2021
Jl. Nyi Adi Sari Gg. Dahlia I, Pilahan KG.I/722 RT 39/12 Rejowinangun-Kotagede-Yogyakarta
0851-0052-3476 [email protected] 0857-2902-2165 istanaagency
istanaagency www.istanaagency.com Hak cipta dilindungi undang-undang.
Dilarang memperbanyak karya tulis ini dalam bentuk dan dengan cara apapun tanpa izin tertulis dari penerbit.
KATA PENGANTAR
S
egala puji syukur kami panjatkan kepada Tuhan yang maha Esa, karena atas pertolongan dan limpahan rahmatnya sehingga penulis bisa menyelasikan buku yang berjudul Ilmu Akuntansi. Buku ini di susun secara lengkap dengan tujuan untuk memudahkan para pembaca memahami isi buku ini.Buku ini membahas tentang konsep dasar strategi pembelajaran, pembelajaran efektif, keterampilan mengajar, metode mengajar, model belajar, pembelajaran listening, pembelajaran speaking, pembelajaran reading, pembelajaran writing, penilaian bahasa inggris, pembelajaran anak berkebutuhan khusus, english learning strategies in digital era, strategi mengajar bahasa inggris di era digital.
Kami menyadari bahwa buku yang ada ditangan pembaca ini masih banyak kekurangan. Maka dari itu kami sangat mengharapkan saran untuk perbaikan buku ini dimasa yang akan datang. Dan tidak lupa kami mengucapkan terimakasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam proses penerbitan buku ini. Semoga buku ini dapat membawa manfaat dan dampak positif bagi para pembaca.
Penulis, Yogyakarta 12 April 2023
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ... v
DAFTAR ISI ... vii
BAB 1 KONSEP DASAR STRATEGI PEMBELAJARAN ...1
A. Konsep Dasar Strategi ... 1
B. Adaptasi Dan Penggunaan Strategi Belajar Mengajar ... 2
BAB 2 PEMBELAJARAN EFEKTIF ...7
A. Pendahuluan ... 7
B. Pembahasan ... 9
C. Kesimpulan ... 15
BAB 3 KETERAMPILAN MENGAJAR ... 17
A. Pendahuluan ... 17
B. Keterampilan Mengajar ... 19
BAB 4 METODE MENGAJAR ... 37
A. Prinsip Dasar Belajar Mengajar Bahasa Inggris ... 37
B. Hakikat Pendekatan, Metode, Teknik Serta Gaya Mengajar Bahasa Inggris ... 40
C. Metode Mengajar Bahasa Inggris ... 42
BAB 5 MODEL BELAJAR ... 57
A. Pendahuluan ... 57
B. Dasar Model Pembelajaran... 59
C. Tujuan Model Pembelajaran ... 62
D. Manfaat Model Pembelajaran ... 65
E. Pengertian Model Pembelajaran ... 66
F. Identifikasi Model Pembelajaran ... 69
BAB 6 Pembelajaran Listening ... 75
A. Introduction ... 75
B. What is listening? ... 76
C. The Process of Listening ... 77
D. Strategy in Teaching Listening ... 79
E. Assessing Listening ... 82
BAB 7 PEMBELAJARAN SPEAKING ... 89
A. Pendahuluan ... 89
B. Keterampilan Berbicara (Speaking Skill)... 90
C. Pembelajaran Speaking ... 99
BAB 8 PEMBELAJARAN READING ... 107
A. Pendahuluan ...107
B. Pendekatan Mengajar Reading ...109
C. Beberapa Teknik dari Reading ...111
D. Strategi yang dapat membantu siswa membaca lebih cepat dan efektif, termasuk : ...113
E. 20% Kecepatan 80% Pemahaman dalam Membaca ...115
BAB 9 Pembelajaran Writing ... 119
A. Pendahuluan ...119
BAB 10 PENILAIAN BAHASA INGGRIS ... 131
A. Tes Vs Asesmen ...131
B. Jenis-jenis Penilaian ...133
C. Reliabilitas dan Validitas Penilaian ...136
D. Rubrik Penilaian Bahasa ...138
BAB 11 PEMBELAJARAN ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS ... ... 141
A. Pendahuluan ...141
B. Karakteristik Anak Berkebutuan Khusus ...145
C. Strategi Pembelajaran Anak Berkebutuhan Khusus ...151
BAB 12 English Learning Strategies in Digital Era ... 159
A. Introduction ...159
B. Digital Technology and English Learning ...161
C. Strategies for effective English learning in the digital era 162 D. Conclusion ...168
BAB 13 STRATEGI MENGAJAR BAHASA INGGRIS DI ERA DIGITAL ... 171
A. Pendahuluan ...171
B. Kendala ...172
DAFTAR PUSTAKA ... 203
BIODATA PENULIS ... 217
BAB 1
KONSEP DASAR STRATEGI PEMBELAJARAN
A. KONSEP DASAR STRATEGI
Strategi bertujuan untuk mempromosikan reflektif keterampilan berpikir, penelitian dan evaluasi yang akan membantu untuk mengambil tindakan positif untuk melindungi, meningkatkan dan mengadvokasi kesehatan sendiri dan orang lain, serta kesejahteraan dan keamanan. Kemudian pelajar menggunakan kemampuan pribadi dan sosial untuk bekerja secara kolaboratif dengan orang lain dalam kegiatan belajar, untuk menghargai kekuatan dan kemampuan mereka sendiri dan mengembangkan berbagai interpersonal keterampilan seperti komunikasi, negosiasi, kerja tim, kepemimpinan dan apresiasi terhadap berbagai perspektif (Shi, 2017).
Penyesuaian strategi memberikan kesempatan bagi pelajar untuk mengeksplorasi pengetahuan mereka saat ini,
sikap dan nilai tentang masalah kesehatan dan keselamatan.
Strategi mencari tahu dan membantu pelajar mengidentifikasi kesenjangan dalam pengetahuan dan pemahaman mereka yang ada tentang kunci konsep kesehatan, keselamatan, ketahanan, kesejahteraan, dan bekerja secara kolaboratif untuk mengumpulkan informasi (Anderson, 2005).
Strategi dapat mendorong pelajar untuk memilah, menganalisis, mengatur, review, membandingkan informasi untuk lebih mengembangkan dan mengkonsolidasikan pengetahuan, pemahaman, keterampilan, sikap dan nilai-nilai.
Strategi refleksi memungkinkan siswa untuk mengidentifikasi, berdiskusi dan mempertimbangkan perubahan dalam pemahaman, keterampilan, sikap dan nilai (Budiana et al., 2022).
B. ADAPTASI DAN PENGGUNAAN STRATEGI BELAJAR MENGAJAR
Guru didorong untuk profesional dalam penilaian untuk meninjau strategi yang disarankan dan memutuskan pada yang paling tepat untuk memenuhi kebutuhan pelajar dan menyampaikan konten penting dalam ruang lingkup kesejahteraan, pendidikan dan keselamatan. Strategi yang terkait dengan kegiatan pembelajaran adalah penting. Sebagai guru tahu gaya belajar siswa mereka dan kebutuhan mereka dapat memilih strategi alternatif atau mengadaptasinya untuk menyampaikan informasi dan pengetahuan (Panggabean et al., 2021).
Strategi belajar mengajar dapat mencakup serangkaian kegiatan kelas, kelompok, dan individu secara keseluruhan untuk mengakomodasi berbagai kemampuan, keterampilan, tingkat pembelajaran dan gaya yang memungkinkan setiap siswa untuk berpartisipasi dan untuk mencapai kesuksesan. Dan guru penting untuk memilih strategi yang fokus pada pengembangan
pengetahuan, pemahaman dan keterampilan, yang mendukung dan memperluas pembelajaran siswa, yang memungkinkan siswa untuk membuat kemajuan dan prestasi (Mariani, 2002).
Guru dalam melakukan kegiatan pembelajaran harus bertindak sebagai fasilitator dan tetap tidak menghakimi siswa.
Guru juga harus membuat siswa menyadari bahwa terkadang orang membentuk opini tanpa berpengetahuan luas. Dan menanyakan segera setelah strategi nilai untuk memungkinkan siswa berbagi perasaan yang dihasilkan dari kegiatan tersebut, meringkas poin-poin penting yang dipelajari dan dipersonalisasi ke situasi kehidupan nyata (Nisbet & Shucksmith, 2017).
Jadi strategi ditempatkan pada posisi strategis dalam kurikulum. Di sisi lain, strategi memainkan peran kognitif dalam pembelajaran, karena mereka memfasilitasi dan mengoptimalkan proses, terutama dalam tugas baru, di mana seseorang tidak dapat bergantung pada rutinitas dalam tugas yang membutuhkan pemikiran sadar dan akurasi (Shi, 2017).
Strategi juga memainkan peran afektif motivasi dalam belajar, karena mereka adalah alat di tangan peserta didik, alat yang mereka miliki dapat digunakan sendiri dan yang dapat memberi mereka perasaan bahwa mereka dapat melakukan sesuatu untuk memecahkan masalah. Dan strategi itu mempromosikan restrukturisasi atribusi kausal, jika peserta didik tahu bahwa mereka melakukan sesuatu untuk mencapai keberhasilan dalam belajar, mereka cenderung tidak melakukannya dan menghubungkan kesuksesan atau kegagalan mereka dengan nasib buruk atau kemampuan yang buruk.
Dengan cara ini mereka juga meningkatkan rasa kepercayaan diri, dan harapan sukses (Nisbet & Shucksmith, 2017).
Strategi belajar adalah milik pembelajar, dan harus tetap berbeda dari strategi pengajaran, mungkin tampak jelas,
bahkan dangkal, tetapi sebenarnya guru adalah sumber strategi.
Kemudian buku teks seringkali penuh dengan strategi, tetapi siswa jarang melihatnya, apalagi berpikir bahwa strategi belajar, harus menjadi milik mereka. Strategi pembelajaran sering dikunci dalam paket sumber daya dan teknik guru, sehingga, di mata siswa, mereka tetap menjadi bagian dari strategi guru.
Dengan cara ini siswa tetap tidak sadar bahwa perilaku strategi milik mereka. Dan tidak ada strategi yang secara intrinsik paling baik. Jadi pertanyaan yang tepat untuk ditanyakan bukanlah, apakah ini strategi yang baik?, melainkan, apakah itu baik untuk saya?.
Jadi guru masih bisa menggunakan berbagai teknik untuk menyajikan dan mempraktikkan strategi, dan ada dua syarat penting. Yang pertama, siswa mengalami strategi dalam konteks tugas aktual, dan tidak dalam ruang hampa, sehingga mereka dapat menguji strateginya. Dan kedua, guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk berefleksi, verbalisasi dan mensosialisasikan pengalaman mereka, meningkatkan kesadaran mereka. Guru perlu memperjelas bahwa tujuan strategi instruksi bukan untuk menggantikan strategi yang sudah bekerja, tetapi untuk membuat siswa sadar akan berbagai strategi. Seorang guru perlu menekankan bahwa komponen yang paling penting dari strategi yang digunakan adalah mampu mengevaluasi keefektifan strategi dan memilih alternatif bila diperlukan (Anderson, 2005).
Kecenderungan dalam praktik pengajaran dan bahan ajar telah berfokus bukan pada strategi pembelajar yang sebenarnya (yaitu, apa yang siswa benar-benar lakukan ketika mereka mencoba untuk memecahkan masalah), melainkan pada apa yang telah diidentifikasi oleh guru, peneliti, dan penulis materi. Jadi kita berbicara tentang strategi klasifikasi, strategi perencanaan, strategi komunikasi, dan sebagainya.
Jadi jika mengambil sekumpulan strategi, misalnya strategi asosiasi untuk pengembangan kosa kata, atau strategi inferensi untuk pemahaman teks, dan berangkat untuk mengajar, kita mengambil risiko untuk percaya bahwa siapa kita sebenarnya, dan benar-benar mengajar apa yang siswa akan lakukan dalam konteks nyata (Shi, 2017).
Sebagai seorang guru sebaiknya tidak menggunakan paket strategi yang sudah jadi, seperti yang sering disediakan oleh buku pelajaran. Tapi titik awal untuk pengembangan strategi seharusnya bukan strategi, melainkan tugas belajar yang mendorong penggunaan strategi. Jadi pertanyaannya adalah bagaimana menemukan keseimbangan yang tepat sehingga tugas menimbulkan masalah yang dapat diselesaikan dengan menggunakan strategi. Dalam hal ini, buku teks harus membantu guru menjadi lebih sadar akan kemungkinan strategi yang terlibat dalam melakukan tugas tertentu. Dan strategi harus menjadi bagian dari wacana kelas yang dipilih.
BAB 2
PEMBELAJARAN EFEKTIF
A. PENDAHULUAN
Dunia pendidikan menjadi barometer utama kemajuan sebuah peradaban. Hal ini disinyalir oleh maraknya temuan berbagai macam riset dari masa ke masa. Pendidikan baik dari tingkatan dasar maupun tingkatan lanjutan memiliki kontribusi besar terhadap capaian kemajuan tersebut. Capaian-capaian ini didukung penuh oleh berbagai key elements dalam dunia pendidikan. Key elements ini yang mendukung terlaksananya teaching learning process. Salah satu diantaranya adalah strategi pembelajaran. Strategi pembelajaran merupakan sebuah seni dalam merencanakan dan mengaplikasikan sebuah pembelajaran. Strategi pembelajaran yang dapat mendorong ketercapaian tujuan dari sebuah pembelajaran adalah strategi pembelajaran yang efektif. Pembelajaran yang efektif ini akan menjadi amunisi yang paling ampuh untuk mewujudkan indicator dan tujuan pembelajaran yang diformulasikan dalam
sebuah perangkat pembelajaran. Perangkat pembelajaran inilah yang menjadi koridor utama bagi seorang pendidik dalam pengajaran subject-subject pembelajaran sesuai dengan kurikulum. Salah satu diantaranya adalah Bahasa Inggris.
Bahasa Inggris merupakan bahasa asing yang paling popular digunakan di dunia saat ini (Seidlhofer, 2005). Banyak International Institution (85%) yang menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar atau working language, (Crystal, 2003).
Jumlah English native speaker diperkirakan sebanyak 375 juta orang; angka ini sebanding dengan jumlah pengguna English as a second language, dan diperkirakan sekitar 750 juta orang menggunakan english as a foreign language, Graddol dalam (Lestari, 2010). Jumlah para penutur yang mencengangkan ini menunjukan sebuah fakta bahwa pembelajaran bahasa inggris merupakan hal yang sangat urgent di abad ini, (Pali et al., 2021), (Nishanthi, 2018) karena kecakapan berbahasa inggris membantu seseorang untuk dapat memahami dan beradaptasi dengan IPTEKS. Untuk itu tidaklah berlebihan jika hampir semua negara di dunia memasukan mata pelajaran bahasa inggris dalam kurikulum pembelajaran. Salah satunya adalah kurikulum pendidikan di Indonesia.
Secara umum, tujuan dipelajarinya bahasa Inggris di sekolah- sekolah tidak lain adalah agar siswa dapat berkomunikasi dalam bahasa inggris secara baik, lancar dan juga berterima, baik itu dalam komunikasi lisan maupun dalam komunikasi tulisan.
Untuk menjawabi tujuan ini maka strategi pembelajaran bahasa Inggris yang efektif lah yang harus diterapkan dalam proses pembelajaran di sekolah. Oleh karena itu, tulisan ini membahas tentang seperti apa dan bagaimana pembelajaran yang efektif itu.
B. PEMBAHASAN
Pembelajaran efektif menjadi komponen utama yang menentukan keberhasilan sebuah tujuan pembelajaran. Untuk memahami makna pembelajaran efektif yang sebenarnya, maka akan dijelaskan apa pengertian serta komponenen-komponen yang terkandung dalam pembelajaran itu sendiri.
1. Pengertian Pembelajaran/learning
Dalam buku populernya yang berjudul The Conditioning of Learning; Robert M. Gagne menjelaskan bahwa “learning is a change in human disposition or capacity, wich persists over a period time, and wich is not simply ascribable to process of growth”.
Penjelasan ini mengandung makna bahwa pembelajaran adalah perubahan dalam watak atau kemampuan manusia, yang berlangsung selama periode waktu tertentu, dan tidak semata-mata berasal dari proses pertumbuhan saja. Perubahan ini dipengaruhi oleh factor eksternal maupun factor internal, dan kedua factor ini saling berinteraksi, (Gagne, Robert, 1987).
Penjelasan Gagne ini menujukan bahwa pengetahuan dan keterampilan yang dimiliki seseorang tidak didapatkan secara instant tetapi harus dibarengi dengan usaha dan kerja keras dari individu yang bersangkutan serta didukung pula oleh lingkungan diluar dirinya.
Dengan demikian dapat dijelaskan bahwa pembelajaran efektif adalah aktivitas pembelajaran yang mengerahkan semua sumber daya yang dimiliki dalam pembelajaran sebagai upaya untuk mencapai tujuan dari sebuah pembelajaran. Jika dihubungkan dengan lingkungan pendidikan bahasa Inggris, maka pembelajaran efektif adalah proses mendapatkan ilmu pengetahuan dan keterampilan bahasa Inggris seorang pembelajar melalui proses yang direncanakan secara kompleks dan latihan secara berulang-ulang dan berkesinambungan,
sehingga tujuan pembelajaran bahasa Inggris dapat diwujudkan.
Dalam mewujudkan hal ini maka pembelajaran efektif tidak terlepas dari elemen-elemen lain diantaranya adalah pendidik/English teacher, student, materi pembelajaran, media pembelajaran, metode pembelajaran yang diaplikasikan dalam kelas bahasa Inggris serta learning environment.
2. Komponen-Komponen Pembelajaran Efektif
Pembelajaran efektif pada dasarnya bertujuan untuk mewujudkan harapan yang akan dicapai oleh para pembelajar diakhir sebuah proses pembelajaran. Untuk itu, pembelajar yang efektif menekankan kesesuaian pada beberapa komponen antara lain:
a. Materi Pembelajaran
Secara umum materi pembelajaran bahasa Inggris merupakan penjabaran content dari sebuah kurikulum.
Subtansi dari materi pembelajaran inilah yang akan disampaikan oleh seorang pendidik dalam teaching learning process. Dengan demikian, dalam penyusunan materi, perlu diperhatikan beberapa criteria. Reigeluth dalam (Ramdhan, 2010) menyebutkan beberapa criteria dalam penyususna materi pembelajaran, diantaranya adalah:
materi harus tersusun secara sistematis, mempunyai cakupan dan urutan yang runut berdasarkan isi kurikulum, isi materi harus sesuai dengan tujuan pembelajaran yang telah diformulasikan, memiliki relevansi dengan kebutuhan peserta didik (mengandung aspek kognitif, afektif dan psikomotorik), materi harus disesuaikan dengan situasi dan kondisi masyarakat serta menekankan pada sistem nilai dan norma yang berlaku dalam sebuah komunitas.
b. Metode Pembelajaran
Metode pembelajaran merupakan jantung dari pencapaian tujuan sebuah pembelajaran. (Kurniawan, n.d.) menjelaskan metode pembelajaran bahasa sebagai sebuah rencana aktivitas pembelajaran bahasa yang dilakukan oleh seorang pendidik. Perencanaan tersebut mencakup pemilihan dan penyusunan bahan atau materi ajar secara sistematis, perencanaan pelaksanaan evaluasi, dll. Dalam pembelajaran bahasa inggris, (Mukminatien, n.d.) menyebutkan beberapa metode dan pendekatan yang dapat digunakan dalam English class. Beliau membaginya dalam dua periode, di antaranya adalah tren pengajaran sebelum abad ke-20 (the grammar- translation approach, the direct method) dan pembelajaran di awal dan pertengahan abad ke-20 (the reading approach, the audiolingual approach, the oral-situational approach). Metode- metode yang lahir di abad ini berpengaruh pada lahirnya pendekatan-pendekatan pembelajaran bahasa Inggris di era modern ini, diantaranya adalah Communicative Language Teaching (CLT), Contextual Teaching and Learning (CTL), Genre Based Approach (GBA), dan Cooperative Learning.
Penggunaan metode pembelajaran yang efektif adalah pengaplikasian metode pembelajaran yang tidak selalu monoton, melainkan harus bervariasi sesuai dengan konteks topik pembelajaran, usia pembelajar, dan juga harus peka terhadap budaya. Kekeliruan penggunaan metode pembelajaran bahasa inggris akan berpengaruh pada tingkat antusiasme peserta didik terhadap topic atau materi yang dibahas, sebaliknya penggunaan metode yang variatif berdasarkan topic pembahasan akan lebih memotivasi dan menarik minat belajar seorang pembelajar bahasa Inggris.
Minat belajar yang tinggi dapat berimbas pada tingginya hasil belajar.
c. Media Pembelajaran
Media pembelajaran merupakan sebuah produk yang tak dapat dipisahkan dari pembelajaran yang efektif.
Sebagai the carriers of the message, penggunaan media pembelajaran baik itu media pembelajaran audio, visual, maupun audio-visual dalam teaching learning proses memiliki kontribusi besar dalam pencapaian tujuan pembelajaran.
Meskipun masing-masing media ini memiliki kelebihan dan kelemahannya namun yang terpenting adalah peran guru dalam mengoptimalkan penggunaan media pembelajaran tersebut karena optimalisasi guru dalam penggunaan media pembelajaran akan berpengaruh pada hasil dan prestasi belajar para pembelajar. Dalam pembelajaran bahasa Inggris, peran media pembelajaran dapat membantu para pembelajar untuk memahami, kosa kata, grammar dan keterampilan-keterampilan lain (reading, speaking, writing dan listening).
d. Evaluasi Pembelajaran
Komponen evaluasi dalam sebuah pembelajaran merupakan bagian yang terintegrasi dalam proses pembelajaran itu sendiri. Evalusi pembelajaran dijelaskan oleh (Matondang, 2009) sebagai sebuah proses mengumpulkan, menganalisis, serta menginterpretasi hasil penilaian baik secara kualitatif maupun secara kuantitatif untuk mengetahui seberapa jauh tujuan pembelajaran telah dicapai oleh para pembelajar. Evaluasi pembelajaran memegang beberapa prinsip utama, diantaranya adalah:
1) Menjadi bagian integral dari proses pembelajaran, 2) Comprehensif, 3) valid dan reliabel, 5) Ada tindak lanjut/
continuities, serta 6) Bersifat objektif dan adil (Widiyanto, 2018). Selain memiliki prinsip-prinsip yang harus dipegang teguh oleh seorang pendidik, evaluasi pembelajaran juga
memiliki beberapa fungsi. (Matondang, 2009) menjelaskan fungsi dari evaluasi pembelajaran adalah untuk menyediakan informasi bagi pembuat keputusan dalam hal ini adalah guru. Dengan diadakannya evaluasi maka seorang guru dapat mengetahui apakah ia telah efektif dalam pengajarannya di kelas. Evaluasi pembelajaran yang dibuat secara sistematis akan membantu seorang guru untuk mendapatkan informasi yang valid tentang hasil dan prestasi belajar peserta didik, sehingga menghindari kesimpulan yang berdasarkan intuisi semata. Selain itu, fungsi dilaksanakannya evaluasi pembelajaran adalah untuk mengkomunikasikan program kepada public (orang tua) . Hal ini dilakukan agar para orang tua pun mengetahui sejauhmana program pembelajaran telah terlaksana. Apakah gagal ataukah sukses. Jika pembelajaran belum berhasil maka perlu dicaritahu letak kelemahannya sehingga dapat diperbaiki pada program pembelajaran berikutnya. Evaluasi pembelajaran ini dilakukan dalam semua bidang pembelajaran, tidak terkecuali dalam pembelajaran Bahasa Inggris.
e. Student (pembelajar)
Student atau pembelajar memiliki posisi yang sangat urgent dalam kosmos pembelajaran. Tanpa mereka maka proses pembelajaran tak akan berjalan. Dalam pembelajaran bahasa Inggris, seorang pembelajar diharapkan memiliki empat keterampilan dasar berbahasa Inggris (Reading, Speaking, Writing dan Listening). Keterampilan-keterampilan ini dapat dimanifestasikan jika seorang pembelajar bahasa Inggris memiliki tekad yang tinggi untuk berlatih.
Kedisiplinan dalam berlatih merupakan point utama keberhasilan seorang pembelajar bahasa Inggris dalam mewujudkan tujuan pembelajaran bahasa Inggris. Tanpa berlatih maka bahasa Inggris akan selamanya menjadi asing
di tengah pembelajar non-native speaker. Karena bahasa yang dipelajari adalah bahasa asing, maka yang harus dipelajari adalah materi dari level yang paling mudah dan dinaikan levelnya sedikit demi sedikit hingga pada level tertinggi sesuai dengan kurikulum yang dirancang.
f. Teacher (guru)
Tak dapat dibayangkan jika sebuah pembelajaran berjalan tanpa seorang guru. Guru diibaratkan sebuah kompas yang memberi jalan kesuksesan bagi seorang pembelajar. Meskipun dunia pembelajaran kontemporer telah merubah paradigma bahwa metode pembelajaran tidak menekankan pada teacher center, namun peran guru dalam memfasilitasi, memotivasi, mendidik dan membimbing pembelajar tidak bisa dianggap sebagai sebuah hal yang sepele. Dalam pembelajaran bahasa Inggris, seorang guru bahasa Inggris menjadi model central. Ibarat seorang ibu yang membimbing anakanya dari bayi; yang dengan sabar menuntun dan memperkenalkan dunia yang asing kepada anakanya, begitupun seorang guru bahasa Inggris tentu memiliki tantangannya tersendiri dalam meramu materi pembelajaran, mempelajari metode pembelajaran yang menyenangkan, mengembangkan media pembelajaran, mempelajari bagaimana cara mengelola kelas dengan memfasilitasi dan memotivasi pembelajar bahasa Ingggris agar termotivasi dan memiliki rasa kepercayaan diri untuk berbicara dalam bahasa Inggris adalah tanggung jawab yang luar biasa dari seorang guru bahasa Inggris.
Untuk itu dapat dikatakan bahwa eksistensi seorang guru akan selamanya dibutuhkan dan akan menjadi komponen yang terikat dalam sebuah pembelajaran di sekolah.
g. Learning Environment
Learning environment atau lingkungan belajar adalah lingkungan dimana seorang pembelajar menimba ilmu.
Lingkungan belajar tidak terlepas dari situasi dan kondisi di sekitar pembelajar, dimana hal-hal tersebut dapat memberikan rangsangan belajar bagi mereka. Lingkungan belajar yang efektif, baik itu indoor maupun outdoor setidaknya memperhatikan dua hal yakni comfortable dan memiliki positive atmosphere. Lingkungkan yang comfortable berhubungan erat dengan tata pengelolaan lingkungan belajar yang memiliki ‘kekuatan magic’ dalam memuluskan jalannya proses belajar. Sedangkan positive atmosphere lebih menekankan pada kontribusi positif dari lingkungan belajar yang dapat dijadikan sumber belajar dan merangsang imajinasi pembelajar, agar menjadi lebih aktif dan kreatif dalam mencapai tujuan pembelajaran.
C. KESIMPULAN
Pembelajaran efektif menjadi amunisi terbaik, yang memberikan kontribusi positif dalam pencapaian tujuan pembelajaran bahasa Inggris di semua level pendidikan.
Pembelajaran efektif didukung oleh beberapa komponen, diantaranya adalah materi pembelajaran, metode pembelajaran, media pembelajaran, evaluasi pembelajaran, teacher and students serta learning environment. Komponen-komponen ini adalah satu kesatuan yang terintegarsi dalam pembelajaran. Jika salah satu dari komponen-komponen ini tidak melaksanakan atau tidak dikelola dengan baik maka pembelajaran akan menjadi tidak efektif. Untuk itu, sebagai seorang pendidik, sudah sewajarnya ia harus memahami seperti apakah pembelajaran efektif dan bagaimana komponen yang terkandung dalam pembelajaran efektif itu sendiri agar tujuan pembelajaran yang telah diformulasikan dalam perangkat pembelajaran tidak sekedar menjadi wacana semata.
di era digital menghilangkan beberapa hal, namun disaat yang sama menggantinya dengan berbagai potensi baru yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya. Pembelajaran Bahasa inggris di era digital harus mampu merangsang siswa tak hanya secara intelektual tapi juga secara fisikal, emosional dan sosial.
B. KENDALA
Hal utama dalam pengajaran Bahasa inggris bukanlah pemahaman akan teori tata Bahasa, tetapi penerapannya dalam interaksi antar pengguna baik secara lisan maupun tulisan, dan digitalisasi membuat hal ini menjadi lebih menantang untuk diwujudkan. Salah satu yang sering menjadi kendala adalah ketidakstabilan konektivitas internet di Indonesia dan keterbatasan pemahaman pengguna akan teknologi terkini.
Sehingga meskipun kedua hal tersebut sudah memiliki solusi, tidak jarang siswa tetap menjadikannya alasan untuk menghindari interaksi langsung disaat mereka sebenarnya tidak siap dengan jawaban ataupun tidak percaya diri untuk berbicara Bahasa inggris di depan orang lain. Belum lagi jika masalahnya memang pada kerusakan atau spesifikasi perangkat yang mereka gunakan, kesempatan siswa untuk menghindari interaksi malah semakin besar. Padahal sebagaimana kita ketahui, konsistensi dalam melatih penggunaan Bahasa Inggris dapat meningkatkan kemampuan Bahasa inggris mereka secara signifikan. Dalam mencapai pembelajaran bahasa asing yang efektif, interaktif, kolaboratif dan menarik, kita perlu menerapkan sejumlah strategi dalam mengajar bahasa inggris di Era digital.
1. Berinvestasi pada perangkat pendukung yang tepat Sejumlah aplikasi yang dapat pengajar gunakan umumnya mensyaratkan spesifikasi minimum perangkat keras dan lunak yang digunakan agar bisa menjalankan berbagai fitur yang
tersedia tanpa ada gangguan. Karena pada dasarnya sedikit saja gangguan teknis pada saat mengajar daring, dapat mengganggu konsentrasi dan susunan waktu yang telah kita rencanakan sehingga pengajar perlu berinvestasi pada berbagai perangkat yang tepat.
a. Laptop atau PC
Saat mengajar bahasa inggris secara daring, pengajar seringkali perlu memastikan semua siswa mengaktifkan kamera atau menggunakan berbagai macam platform pembelajaran dalam satu sesi kelas. Tanpa prosesor dan standar minimum RAM dan VGA yang memadai maka proses pembelajaran akan terganggu dengan berbagai masalah seperti hang, blank, putus koneksi dan lain sebagainya. Memperbaiki dan mengatasi keadaan seperti ini bisa menghabiskan alokasi waktu hingga 5-30 menit.
Belum lagi jika ternyata pengajar pun tidak begitu melek teknologi yang membuatnya kehilangan cara lain dan fokus mengajar sehingga lebih memilih untuk mengakhiri kelas dengan berat hati. Untuk setidaknya menghindari persoalan seperti ini dan, pengajar bisa mulai mempersenjatai diri dengan berbagai perangkat dengan spesifikasi minimum seperti misalnya
1) Prosesor intel i3 atau AMD Ryzen 3 dengan versi windows atau Mac Os terbaru dan RAM 1 GB dengan memori internal 8 GB
Sebuah prosesor diibaratkan otak dari suatu tubuh, karenanya meskipun berukuran sangat kecil, prosesor sangat berpengaruh pada kinerja laptop atau Komputer. Jika spesifikasi prosesor cukup baik, maka kinerja laptop saat digunakan juga akan baik dan begitu pula sebaliknya. Dengan prosesor yang tepat,
kita dapat menjalankan berbagai aplikasi, mengakses berbagai situs secara bersamaan serta membuat video pengajaran yang menarik. Bermain kahoot live sambil membagikan layar di zoom bukan hal yang sulit lagi dilakukan. Anda bisa menyaksikan wajah antusias para siswa saat memainkannya.
2) Layar 13 inch
Pada dasarnya semakin besar layar semakin baik karena seringkali pengajar perlu memastikan seluruh siswa berada dibawah pengawasan kita pada saat kelas daring. Namun pengajar juga perlu mempertimbangkan sisi efisiensi karena kita tidak selalu mengajar di satu tempat sehingga pertimbangan ukuran yang tepat bisa memudahkan mobilitas kita.
3) Kamera depan 5 MP
Pembelajaran online dalam prosesnya banyak melibatkan platform konferensi daring seperti zoom, Google Meet ataupun Ms. Teams. Kualitas kamera depan atau webcam yang mumpuni akan sangat dibutuhkan.
Tampilan diri anda yang lebih tajam dibantu dengan pencahayaan yang cukup akan membuat sesi pengajaran anda lebih hidup karena setiap ekspresi, gerakan, dan dokumen non-elektronik yang dibagikan dapat terlihat dengan jelas.
b. Microphone dan speaker
Saat anda menjelaskan teori, memberikan instruksi dan umpan balik terhadap siswa secara daring, pastikan suara anda dan respon siswa terdengar sangat jelas. Hal ini bisa didapatkan dengan memastikan bahwa microphone dan speaker yang anda miliki berkualitas. Selain yang tertanam langsung di laptop atau PC, pengajar pun dapat
menggunakan headset ataupun earphone. Kualitas baik kedua perangkat ini terutama akan sangat terasa pada saat pronunciation atau pun kegiatan lain yang melatih kemampuan dan keterampilan listening da speaking.
c. Koneksi Internet
Masalah koneksi adalah salah satu permasalahan utama dalam pembelajaran daring. Koneksi yang patah- patah atau terputus saat anda mengajar juga saat siswa menjawab pertanyaan atau melakukan presentasi akan sangat mengganggu efektivitas pembelajaran dan efisiensi waktu yang telah kita alokasikan saat membuat rencana pembelajaran. Solusinya adalah dengan memiliki lebih dari satu pilihan koneksi internet, menggunakan provider dan perangkat internet yang berbeda. Sehingga begitu kendala muncul saat anda sedang menggunakan suatu koneksi anda akan dengan mudah beralih dan seger melanjutkan kelas anda yang terganggu.
2. Lingkungan mengajar yang kondusif
Mengajar online cenderung membutuhkan konsentrasi yang lebih tinggi karena kita sebagai pengajar tak hanya harus berurusan dengan rencana pembelajaran, tapi juga dengan teknologi penunjangnya. Hilang konsentrasi sedikit saja bisa- bisa anda malah menghapus hasil kerja siswa saat berkolaborasi di Google document atau mengakhiri zoom saat anda sebenarnya hanya ingin meninggalkan breakout room dan berpindah ruangan.
a. Ruangan Pribadi & Latar Belakang
Usahakan saat mengajar daring, anda selalu berada di ruang pribadi dengan pencahayaan yang cukup, sejuk dan relatif hening untuk meminimalisir berbagai hal yang dapat
mengganggu konsentrasi anda saat mengajar. Gunakan latar belakang satu warna atau dengan detail yang tidak terlalu ramai dan singkirkan benda-benda yang kurang relevan untuk proses pembelajaran. Jika memungkinkan anda bisa meluangkan sedikit waktu untuk menata salah satu sudut tempat tinggal anda dengan dekorasi dan wallpaper yang sedap dipandang mata untuk meningkatkan kesan profesionalisme anda. Jika hal ini dirasa sulit, jangan khawatir anda masih bisa menggunakan fitur virtual background pada platform konferensi daring seperti zoom.
b. Alas Duduk
Mulailah mempertimbangkan untuk membeli alas duduk yang sangat nyaman untuk anda pergunakan saat mengajar. Walaupun sesekali mengajar dengan posisi berdiri akan membuat anda lebih leluasa bergerak, aktif dan terlihat tidak monoton. Alas duduk yang nyaman, membuat anda lebih fokus dan tidak mudah Lelah ataupun pegal. Jika misalnya kursi dengan alas keras biasa sudah membuat pinggang anda pegal dalam waktu 30 menit, kursi yang empuk dan nyaman akan membuat anda tetap nyaman meski harus online lebih dari 2 jam.
c. Posisi Kamera
Posisikan kamera laptop atau webcam sejajar dengan mata anda. Jika kurang tinggi, tumpuk beberapa buku tebal atau kotak sepatu sebagai alas laptop atau kamera anda.
Posisi kamera yang lebih rendah secara tidak langsung mengisyaratkan superioritas atau merendahkan lawan bicara. Sementara posisi kamera yang lebih tinggi secara psikologis justru memposisikan anda lebih rendah dalam komunikasi sehingga akan relatif lebih sulit bagi anda untuk mengatur dan menertibkan kelas.
3. Menetapkan tujuan pembelajaran
Belajar Bahasa asing di era digital tentu merupakan suatu tantangan tersendiri bagi para pelajarnya terutama jika didasarkan pada anggapan relatif rendahnya kesempatan mereka untuk berinteraksi secara langsung dan spontan saat belajar Bahasa inggris secara daring disbanding saat mereka di sekolah atau tempat kursus, kalaupun ada, waktu yang tersedia relatif lebih singkat. Selain itu konsentrasi pun akan lebih mudah terpecah dengan misalnya pesan singkat, iklan ataupun notifikasi yang masuk ke perangkat daring mereka.
Oleh karena itu, mulailah kelas dengan pembahasan akan tujuan pembelajaran agar pada saat siswa sesaat kehilangan fokus karena adanya gangguan dari sekitarnya, siswa bisa segera menyesuaikan karena tahu tujuan akhir pembelajaran pada tiap sesinya. Gunakan chat box atau papan tulis interaktif untuk menampilkan tujuan pembelajaran dan apa yang anda harapkan dari siswa diakhir proses ini. Jika memungkinkan tujuan pembelajaran dapat diintegrasikan dengan icebreaking agar penyampaiannya lebih menarik dan lebih mudah diterima oleh siswa. Dalam menyusun tujuan pembelajaran pastikan setiap siswa dapat memahami ketiga hal di bawah ini:
a) Apa yang akan mereka pelajari
b) Mengapa mereka harus mempelajarinya
c) Bagaimana hubungannya dengan cakupan pembelajaran yang lebih luas
Tujuan pembelajaran dapat disusun dengan metode SMART yang merupakan singkatan dari 5 elemen penting dalam menentukan suatu tujuan yaitu (specific, measurable, Achieveable, Realistic dan Time bound). Hal ini berarti tujuan pembelajaran haruslah jelas, terperinci, terukur, realistis dan memiliki Batasan waktu.
a) Specific berarti tujuan pembelajaran haruslah konkrit terdefinisi dengan baik dan terfokus. Gunakan bilangan, persentase dan frekuensi.
b) Measureable berarti dapat diukur apakah tujuan pembelajarannya sudah tercapai atau belum. Pengukuran ini biasanya berbentuk asesmen dengan hasil akhir berbentuk nilai dengan beragam skala misalnya 10- 100 ataupun parameter gagal atau berhasil. Tanpa pengukuran akan seluit memonitor kemajuan siswa.
c) Achieveable berarti tujuan harus dapat dipenuhi terutama dengan mempertimbangkan tingkat pengetahuan dasar siswa. Tujuan pembelajaran yang terlalu tinggi misalnya berharap siswa tingkat basic untuk memahami dan mengaplikasikan Bahasa inggris untuk bisnis atau medis akan membuat siswa lebih mudah frustasi dan mengalami demotivasi sehingga pencapaian tujuan pembelajaran kemungkinan besar akan berakhir mengecewakan. Selain dapat dicapai, objektif ini juga harus tetap cukup menantang bagi semua siswa.
d) Realistic berarti pengajar perlu mempertimbangkan ketersediaan sumber daya pendukung yang diperlukan cukup atau tidak, jika dirasa ada yang kurang maka objektif dapat disesuaikan dengan submer daya yang tersedia.
e) Time bound berarti memiliki batas waktu ketercapaian.
Setiap aktivitas pada pembelajaran perlu diberikan batas waktu. Tanpa batas waktu maka tidak ada urgensi sehingga siswa pun akan mudah kehilangan motivasi dan fokus.
Tujuan pembelajaran yang anda rumuskan harus memuat ke 4 aspek yang dikenal sebagai ABCD yaitu (Audience, Behaviour, Condition, Degree).
A : (audience) yaitu siswa atau peserta didik
B : (behavior) yaitu kemampuan yang akan dicapai setelah mengikuti pembelajaran
C : (condition) yaitu aktivitas yang akan dilakukan dalam pembelajaran
D : (degree) yaitu tingkatan atau perilaku yang diharapkan Keempat aspek ini dapat digunakan secara berurutan ataupun acak Misalnya saja fokus Bahasa dalam suatu sesi adalah verb dalam membahas tentang leadership, maka kalimat objektif pembelajaran dapat disusun dengan menggunakan Langkah-langkah berikut.
a) Tentukan condition dengan menambahkan konteks pembelajaran. Misalnya “at the end of this section, …”
b) Tentukan siapa audience anda. Misalnya Students
c) Tentukan behavior dengan menggunakan verba dalam Taksonomi Bloom. Misalnya describe
d) Tentukan degree dengan memastikan tingkatan yang diharapkan dan bisa terukur. Misalnya … by using 5 verbs”
Sehingga kalimat yang didapat akan seperti berikut:
“At the end of this section, students should be able to describe leadership using 5 verbs”
Pastikan bahwa tujuan pembelajaran yang dibuat terukur, bermakna dan berfokus pada siswa. Sehingga siswa paham benar akan apa yang bisa didapatkannya dari kelas daring ini.
Lalu, diakhir kelas, refleksikan dan evaluasi kembali apa saja yang telah dilakukan dan berhasil dicapai bersama.
4. Menyusun Rencana Pengajaran
5. Memilih dan memaksimalkan aplikasi dan fiturnya
Senjata utama dalam pembelajaran Bahasa di era digital adalah berbagai aplikasi dan fitur-fiturnya. Berikut adalah sejumlah platform yang sering penulis gunakan dan rekomendasikan diantaranya
a. Moodle MOOC
Ini merupakan platform wajib di berbagai institusi Pendidikan formal. Selain sebagai media untuk mengelola dan berbagi materi dan kegiatan pembelajaran, platform ini juga memudahkan pihak institusi untuk mengawasi keaktifan para pengajar serta mendapatkan berbagai data kemajuan para siswa. Atau dengan kata lain Moodle merupakan platform terintegrasi yang didesain khusus untuk siswa, pendidik dan admin dari suatu institusi. Moodle bahkan bisa diintegrasikan dengan berbagai platform lainnya hanya dengan menambahkan link, sebagaimana yang akan penulis sebutkan kemudian.
Moodle memiliki banyak sekali fitur untuk tujuan-tujuan pembelajaran yang berbeda. Dalam satu sesi moodle, penulis hampir selalu menyertakan komponen-komponen seperti modul, link-link materi tambahan, video pembelajaran oleh pengajar, video materi tambahan atau penerapan ilmu dari youtube, quiz, forum, assignment dan link zoom. Kesemua komponen ini dapat diatur agar hanya bisa diakses secara berurutan. Misalnya siswa baru bisa mengerjakan kuis jika sudah terlebih dahulu mengakses modul dan video yang disediakan. Contoh lainnya siswa baru bisa membuka dan mengumpulkan assignment jika forum diatasnya sudah berstatus completed. Kriteria completed pun bisa diatur, dari mulai hanya mengklik saja, atau harus mendapatkan nilai, menyetorkan tugas, mengunggah jawaban ataupun
mengkomentari unggahan teman-teman lainnya, sebagai bentuk pembelajaran kolaboratif.
Moodle bisa digunakan pengajar untuk mengelola kegiatan saling mengevaluasi dan menilai hasil pekerjaan antara satu siswa dengan siswa lainnya pada fitur workshop, mengorganisasi dan menampilkan data nilai dan keaktifan siswa dengan lebih detil dan terukur. Menurut penulis, moodle bahkan menguak berbagai terobosan dan potensi baru pembelajaran dan pengajaran yang tak terbayangkan dalam proses tatap muka biasa sebelumnya.
b. Whatsapp
Ini merupakan aplikasi yang paling penting bagi penulis dalam pembelajaran daring. Karena pada dasarnya semua koordinasi utama dilakukan via Whatsapp group. Sebelum kelas dimulai, pengajar menginfokan siswa aka napa yang akan dipelajari dan garis waktu dan jadwal kegiatan pada suatu sesi melalui Whatsapp, sehingga siswa bisa melakukan persiapan dan menyiapkan mentalnya dalam menghadapi materi pembelajaran lebih awal. Selain itu, segala bentuk pertanyaan yang tidak sempat atau enggan siswa tanyakan pada saat tatap muka via daring pun disampaikan via Whatsapp. Bahkan materi yang tidak sempat tersampaikan karena waktu pun bisa ditambahkan pada Whatsapp.
c. Zoom & Google Meet
Zoom merupakan aplikasi konferensi video yang sangat cocok digunakan untuk pendidikan karena memiliki banyak sekali fitur yang menarik seperti fitur berbagi layar, papan tulis virtual, chat dalam konferensi, breakout room dan emoji reaksi. Selain digunakan untuk proses pembelajaran satu arah, zoom juga dapat digunakan untuk diskusi juga berkolaborasi dua bahkan banyak arah. Untuk dokumentasi,
sesi zoom ini dapat direkam, lalu diakses Kembali saat dibutuhkan melalui drive atau unggahan di Youtube.
Sebagai host, pengajar memiliki otoritas untuk menentukan batasan siapa saja yang bisa mengakses apa saja, dan siapa saja yang aksesnya dibatasi untuk fitur tertentu. Kendali ini penting untuk menjaga kondusifitas pembelajaran daring.
Sementara Google Meet merupakan aplikasi alternatif setelah zoom bagi penulis. Karena fitur dan spesifikasi yang tersedia tidak selengkap zoom, meskipun dalam penggunaannya GoogleMeet relatif lebih ramah bandwith dan pengguna tidak perlu mengunduh aplikasi terlebih dahulu, cukup dengan hanya memiliki akun Google.
Zoom dan Google Meet dapat diakses melalui perangkat laptop dan PC maupun smartphone meski dengan aksesibilitas fitur yang lebih terbatas. Hal ini memungkinkan pembelajaran dan pengajaran dilakukan dimanapun dan dalam situasi apapun.
d. Google for Education fundamentals
Disamping Google Meet sebagai sarana konferensi video, Google juga menyediakan Google Classroom, Google Docs, Google slides, Google Forms, dsb. Pengajar dapat memanfaatkan Google Classroom untuk mengola materi pembelajaran berbagai kelas yang dimilikinya sebagaimana moodle namun dengan fitur yang lebih terbatas. Google Docs dapat dgunakan untuk aktivitas koaboratif seperti misalnya membuat cerita berantai tentang suatu topik dimana setiap siswa menuliskan satu kalimat saja, untuk kemudian dilanjutkan dengan kalimat lain oleh siswa lainnya tanpa berdiskusi terlebih dahulu. Google slides biasa penulis gunakan untuk pembuatan Mind Map atau poster
berkelompok dimana setiap kelompok berkuasa atas cukup satu halaman saja. Aktivitas ini dengan menggunakan Google Slides dapat memudahkan pengajar untuk mengawasi kerja semua kelompok dan segera memberikan komentar atau umpan balik pada poster atau Mind Map tersebut tanpa harus berganti link. Sementara google Forms memudahkan pengajar untuk mengumpulkan dan mengelola data siswa, hasil poling atau bahkan kuis.
e. Quizziz, Kahoot & Quizlet
Ketiga platform ini memiliki fungsi yang kurang lebih sama dalam menyediakan ribuan kuis dengan berbagai tingkat kesulitan dan berbagai topik bahasan. Pengajar dapat membuat bank soal sendiri, menggabungkannya dengan dengan bank soal buatan para kontributor lain atau menggunakan soal dari kontributor lain. Ada berbagai bentuk soal, fitur bantuan dan leaderboard peringkat yang membuat aplikasi kuis ini terasa sangat menarik. Pengajar juga bisa menentukan batasan waktu dan menggunakannya untuk beberapa kelas yang berbeda, untuk kemudian diberikan laporan nilainya oleh sistem kedua aplikasi ini.
f. Learningapp & wordwall
Variasi bentuk soal pada kedua aplikasi ini lebih beragam dibanding ketiga aplikasi kuis diatas yang relatif terbatas pilihan ganda dan jawaban pendek. Pada kedua aplikasi ini, siswa dapat mencocokkan, menentukan garis waktu suatu kejadian, mengisi bagian yang hilang dari teks atau percakapan dan masih banyak lainnya. Bahkan Learningapp kini memiliki fitur baru yaitu SCORM Package yang memungkinkan pengajar memindahkan kuis ke Moodle tanpa menggunakan link hanya dengan mendownload file zipnya yang berukuran relatif kecil.
g. Nearpod
Aplikasi ini memungkinkan interaksi yang unik antara pendidik dengan siswa. Fitur yang ditawarkan terbagi menjadi dua kategori yaitu Content dan Activities yang bisa dipilih sesuai indikator yang ingin dicapai. Pengajar dapat menggunakan berbagai fitur seperti presentasi, papan interaktif, dinding diskusi, soal evaluasi interaktif, simulasi materi interaktif, dan media bentuk video, 3D, VR, BBC Video, dll, dalam satu rangkaian slide. Pengajar dapat memilih untuk menggunakan satu dari tiga cara mengakses Nearpod.
Yang pertama Live Lesson, dimana siswa dan pengajar harus mengakses aplikasi bersamaan. Kedua adalah Live Lesson plus Zoom, dimana selain mengakses secara bersamaan, siswa dan pengajar juga harus bergabung di zoom dan berinteraksi secara langsung. Yang ketiga adalah Student- Paced Mode dimana siswa bisa mengakses nearpod kapanpun tanpa harus didampingi oleh pengajar.
h. Youtube
Platform ini menyediakan jutaan video tentang apapun yang ingin anda ketahui. Pengajar bisa menambahkan link video dari Youtube sebagai tambahan wawasan untuk siswa ataupun sebagai icebreaking di awal kelas. Pengajar juga bisa menyarankan siswa untuk mencari sudut pandanbg alternatif jika kurang setuju atau kurang mengerti dengan apa yang disampaikan pengajar.
i. Gramarly
Aplikasi ini merupakan pengecek tata Bahasa, tanda baca, dan ejaan Bahasa inggris serta bisa langsung melakukan koreksi terhadap kesalahan yang terjadi. Jika siswa yang anda miliki dalam satu kelas teramat banyak, anda bisa menggunakan bantuan Grammarly untuk
melakukan pengecekan tahap awal terhadap karya tulis siswa anda. Aplikasi ini akan sangat membantu pengajar dalam mengefektifkan waktu yang digunakan untuk memeriksa pekerjaan siswa.
j. Deteksi Plagiarisme
Ada banyak aplikasi detektor plagiarisme online yang tersedia, berbayar ataupun gratis. Salah satunya adalah Mendeley dan Turnitin. Pengajar bisa menggunakannya untuk mengecek karya tulis siswa apakah mengandung unsur plagiarisme atau tidak. Pengajar bisa juga menganjurkan siswa untuk melampirkan hasil deteksi plagiarisme untuk setiap karya tulis yang mereka hasilnya untuk menjaga orijinalitas berpikir siswa. Hal ini sangatlah penting terutama dibidang akademik, siswa yang merasa kesulitan dalam memahami Bahasa inggris seringkali tergoda untuk menyalin dan mengambil buah pemikiran dari sumber lain tanpa tata cara yang baik dan benar.
6. Visualisasi
Salah satu aspek penting dalam pembelajaran online adalah keterampilan pengajar dalam memaksimalkan visualisasi dengan menghadirkan berbagai variasi alat peraga, realita, gambar atau tulisan yang ditampilkan pada papan tulis asli atau virtual. Misalnya saja saat mempelajari tentang Vacation, maka diawal sesi, pengajar bisa tampil menggunakan kacamata dan topi pantai atau meminta mereka menebak Bahasa inggris dari gambar-gambar wahana permainan pada flash card. Semakin dinamis pengajar dan apa yang siswa lihat dilayar mereka maka akan semakin menarik pembelajaran.
7. Manajemen kelas
Tantangan dalam mengelola kelas daring tentu berbeda dengan kelas luring, anda mungkin tidak disibukkan dengan siswa yang saling mengobrol, namun anda akan banyak menemui anak yang tidak mau menyalakan kamera laptop atau microphonenya, membuka konten online lainnya, tertidur atau bahkan main game. Oleh karena hal-hal tersebut, kemampuan seorang pengajar untuk mengelola kelasnya menjadi hal yang sangat penting. Menjaga fokus dan minat siswa untuk berpartisipasi adalah yang utama. Berikut beberapa hal yang dapat anda pertimbangkan untuk mengelola kelas daring dengan lebih kondusif.
a. Umumkan peraturan anda dan sepakati berbagai hal yang berlaku di kelas anda pada pertemuan pertama di awal semester
b. Ciptakan rutinitas dan konsisten dengan peraturan yang anda telah berlakukan sebelumnya. Rutinitas dan konsistensi menunjukkan bahwa anda orang yang berintegritas sehingga siswa pun akan cenderung lebih menghargai dan menyesuaikan diri dengan rutinitas dan konsistensi anda.
c. Sejumlah peraturan atau kesepakatan yang dapat anda berlakukan dalam kelas daring adalah
1) Ketepatan waktu mulai
Siswa harus join zoom/gMeet tepat waktu. Beri toleransi keterlambatan sekitar 5-15, lebih dari itu siswa tetap bisa masuk kelas namun dihitung sebagai tidak hadir. Salah satu cara mengelolanya adalah dengan mengaktifkan fitur ‘enable waiting room’, sehingga siswa-siswa yang datang terlambat akan lebih mudah ditandai. Jangan lupa begitu masuk zoom, tegur secara
singkat agar setidaknya dia menyadari kesalahannya dan berusaha tidak mengulanginya di kemudian hari.
Dalam menjaga kepatuhan siswa terhadap peraturan ini, pengajar juga harus sudah stand by di zoom setidaknya sejak 5 menit sebelum jadwal mulai kelas dan memulai kegiatan pembelajaran tepat waktu.
Pengajar bisa saja mengalokasikan 1 atau 2 menit untuk menunggu lebih banyak siswa yang bergabung. Namun, jika anda menjadikan ini rutinitas, maka siswa tidak akan melihat urgensi untuk bergabung zoom lebih awal.
Selain itu tandai beberapa siswa yang paling awal muncul dan apresiasi dengan menyebutkan nama- namanya dan berterima kasih atas antusiasmenya mengikuti perkuliahan. Secara tidak langsung, Sebagian besar siswa lainnya akan termotivasi untuk melakukan hal serupa. Karena bagaimanapun juga, mendengar nama kita disebut dan diapresiasi oleh guru/dosen di hadapan teman-teman sekelas itu amatlah membanggakan.
2) Aktivasi Kamera dan Microphone
Untuk yang satu ini, pengajar pada dasarnya memiliki 2 pilihan. Pilihan pertama adalah selama kelas daring berlangsung, siswa diperkenankan untuk mematikan kamera saat pengajar sedang berbicara, namun wajib menyalakan kamera dan microphone pada saat giliran berbicara, baik itu bertanya, berdiskusi, maupun menjawab pertanyaan. Hal ini cukup menguntungkan untuk kelas dengan jumlah siswa cukup banyak, karena dipercaya dapat mengurangi resiko kendala koneksi atau gadget yang kurang mumpuni agar tetap stabil. Pilihan kedua adalah semua siswa diwajibkan untuk selalu mengaktifkan kamera sehingga kehadirannya benar- benar nyata dan lebih mudah memonitor fokusnya.
Selain itu untuk memastikan bahwa tidak ada suara- suara disekitar siswa yang dapat mengganggu konsentrasi saat mengajar, pengajar dapat menonaktifkan fitur
‘unmute themselves’ sebagaimana tersedia di zoom hingga materi yang dibutuhkan selesai disampaikan. Siswa tetap diizinkan untuk bertanya atau bahkan berpendapat, namun dengan mengetikkaannya dikolom chat atau mengaktifkan fitur raise hand terlebih dahulu.
Untuk memastikan siswa tetap memperhatikan dan berpartisipasi meski saat kamera dan microphone tidak dinyalakan, beritahu siswa, bahwa kapanpun anda akan melemparkan pertanyaan dadakan dan siswa yang ditanya tidak merespon pertanyaan tanpa ada izin sebelumnya, maka yang bersangkutan dianggap tidak hadir. Namun, setidaknya sebelum memutuskan hal ini, pengajar bisa memanggil nama siswa dulu paling sedikit 3 kali.
3) Batas waktu kendali terhadap fitur-fitur
Tentukan kapan dan bagaimana mereka bisa mengakses link atau file kolaborasi seperti papan tulis virtual atau Google document, beritahukan konsekuensi jika mereka menggunakannya diluar yang telah diinstruksikan. Selain itu penting bagi seorang pengajar untuk mengatur batas waktu untuk setiap aktivitas yang diberikan, beberapa platform seperti misalnya MOOC atau Moodle, memberikan keleluasaan pada pengajar untuk mengatur batas waktu akses suatu tugas dan prasyarat yang harus dipenuhi siswa untuk dapat mengakses suatu kegiatan.
4) Pemenuhan tugas dan kehadiran
Pembelajaran daring mencakup pembelajaran dengan bimbingan yang umumnya terjadi di depan kamera dan pembelajaran mandiri yang biasanya
dilakukan sebelum dan sesudah tatap muka secara daring. Selalu ingatkan bahwa siswa diwajibkan menyelesaikan keduanya dan mengerjakan semua yang ditugaskan (misalnya kuis, forum atau tugas) agar dihitung kehadirannya. Untuk hal ini, anda bisa menentukan minimal ketidakhadiran yang diizinkan untuk bisa mengikuti ujian akhir.
d. Variasikan bentuk pembelajaran dari mulai individu, berpasangan (pair work), berkelompok, atau bahkan membagi kelas menjadi 2/3 kubu yang berbeda. Hal ini untuk memastikan bahwa pola interaksi siswa-siswa (student-student interaction) bisa lebih dimaksimalkan.
e. Jadwalkan interaksi dengan satu persatu siswa terutama untuk kelas besar, meskipun hanya 1 atau 2 menit untuk setiap siswanya. Cara ini dapat membantu anda memahami potensi dan kekurangan setiap siswa, dan untuk memonitor sejauh mana efektivitas pembelajaran bagi mereka. Dengan mengenal siswa lebih jauh, pengajar akan lebih mudah membuat formasi kelompok belajar maupun merevisi strategi pembelajaran yang telah direncanakan.
f. Buat catatan berkesinambungan akan materi atau strategi pembelajaran mana saja yang tepat digunakan secara daring dan mana yang tidak. Mana yang justru akan jauh lebih maksimal jika dilakukan secara luring. Setelah pandemi, banyak institusi Pendidikan yang sudah mulai memberlakukan pembelajaran gabungan (blended learning) dimana sebagian pertemuan dilakukan secara daring dan sebagian laginya luring. Misalnya saja, tugas berkelompok yang membutuhkan diskusi aktif, latihan percakapan atau persentasi baiknya dilakukan secara luring, karena benar-benar membutuhkan konsentrasi dan keaktifan siswa dalam berkolaborasi.
Dalam salah satu artikelnya yang berjudul Remote Teaching – How To Keep Learners’ Attention, Stanley (2019) menuliskan beberapa hal yang perlu pengajar biasakan dan perhatikan untuk menjaga perhatian siswa agar tetap tertuju pada proses pembelajaran:
a. Kontak mata
Pastikan untuk selalu menjaga kontak mata dengan selalu melihat ke kamera. Langkah ini akan membuat siswa merasa bahwa anda benar-benar berbicara langsung kepada mereka alih-alih berfokus kepada catatan atau slide yang sedang anda jelaskan. Ajarkan juga siswa untuk menjaga kontak mata terhadap kamera terutama saat berbicara atau persentasi secara daring.
b. Tampilan diri di kamera
Pastikan bahwa proporsi anda dilayar cukup, dari mulai ujung kepala hingga setidaknya batas antara dada dan perut, selain itu anda dikenai cukup cahaya. Hal ini untuk memastikan bahwa siswa benar-benar dapat melihat seluruh properti yang ingin anda tunjukkan serta gerakan tangan anda saat mengilustrasikan atau memberi penekanan pada hal yang anda jelaskan. Selain itu jika memungkinkan anda bisa memaju-mundurkan kepala atau mendekatkan mulut anda ke arah kamera, misalnya saat mempraktikan pengucapan suatu kata.
c. Bahasa tubuh dan ekspresi wajah
Ada banyak ragam Bahasa tubuh dan ekspresi wajah yang bisa anda mainkan untuk memaksimalkan proses pembelajaran dan menciptakan dinamika dalam proses tersebut. Semakin banyak dinamika dalam pembelajaran daring, maka akan semakin menyenangkan bagi siswa.
Alih-alih menerjemahkan langsung arti dari suatu kata atau konsep yang sedang anda berusaha sampaikan, misalnya mountain, anda bisa mengilustrasikan bentuknya dengan gerakan tangan. Lalu, konfirmasi apakah siswa benar-benar paham dengan meminta mereka menyebutkannya dalam Bahasa Indonesia. Jadi, terjemahan itu muncul dari siswa, tugas pengajar hanya membantu siswa memahaminya dengan berbagai cara.
d. Variasikan tampilan di layar
Jangan hanya duduk dengan satu posisi atau menggerakkan tangan saja, cobalah untuk sesekali berdiri, mendekatkan bibir anda ke kamera untuk berbagai tujuan, misalnya saja untuk memperjelas pelafalan suatu kata kepada siswa. Tunjukkan realia atau objek-objek nyata dari topik atau kosakata yang kita sampaikan, slides, bahkan jika memungkinkan bawa kamera anda untuk sesekali berpindah posisi menampilkan sudut pandang lain.
e. Variasikan Suara Anda
Pada kelas online pelafalan kata harus lebih tegas dan jelas dibanding pada kelas biasa. Hal yang yang tak kalah penting bagi pengajar adalah jadilah dinamis. Hindari menjadi datar dan monoton, mainkan intonasi dan kecepatan suara yang berbeda saat mengajar. Perlambat bicara anda di saat anda ingin memastikan bahwa siswa benar-benar menangkap setiap kata yang anda sampaikan, dan bicara lebih cepat saat yang anda harapkan mereka pahami hanya garis besarnya saja. Tinggikan intonasi saat anda memberi instruksi yang membutuhkan respon segera dan rendahkan atau agak berbisik saat anda ingin mengembalikan fokus Sebagian siswa yang tampaknya mulai menurun. Saat siswa menyadari bahwa pengajarnya tampak berbisik, biasanya
siswa akan mendekatkan telinganya ke speaker dan kembali memperhatikan pengajarnya karena ingin tahu akan apa yang dibisikkan.
f. Minimalisir distraksi
Ada banyak sekali potensi gangguan dalam pembelajaran daring, baik itu yang berasal dari sekeliling siswa maupun yang berasal dari sekitar pengajar. Eliminasi atau setidaknya minimalisir segala gambar ataupun benda yang terlihat di kamera serta suara yang berpotensi mengganggu konsentrasi siswa, selain itu hindari backlight di belakang kita yang mengganggu pandangan siswa.
Kenali dengan baik teknologi yang akan anda gunakan Selalu gunakan platform atau aplikasi pembantu yang memang sudah anda pahami sebelumnya. Jangan mencoba-coba aplikasi baru yang belum pernah anda gunakan sebelumnya saat mengajar. Coba dan pahami dahulu bagaimana cara dan pemanfaatan yang tepat untuk mendukung proses pembelajaran topik anda dalam suatu pertemuan. Sesuaikan pengaturan berbagai gawai, platform atau aplikasi yang akan anda gunakan sebelum kelas dimulai. Buka situs-situs, link atau video yang akan anda tampilkan, sehingga nanti anda tinggal berpindah layar atau tab saja, tanpa harus mencari-cari ditengah proses pembelajaran. Saat kelas daring dimulai, segala hal harus sudah siap dan instan untuk diakses dan digunakan.
Kalaupun ada yang tertinggal atau terpaksa harus and cari ditengah-tengah proses mengajar, maka instruksikan mereka untuk mengerjakan sesuatu terlebih dahulu, sembari anda mencari video atau link yang dimaksudkan.
Hal ini bertujuan untuk menghindarkan siswa dari waktu kosong selama kelas daring berlangsung.
g. Troubleshoot
Antisipasi berbagai kendala yang mungkin muncul, saat aplikasi atau platform yang kita gunakan tidak berjalan sesuai rencana atau berkendala di tengah-tengah pembelajaran. Cek troubleshoot setiap aplikasinya.
Siapkan rencana B agar anda bisa tetap tenang dan tidak kebingungan saat apa yang anda persiapkan tidak sesuai.
Misalnya saja saat anda meminta siswa menjawab suatu pertanyaan, namun microphonenya tiba-tiba tidak berfungsi, maka minta mereka mengetik di kolom chat atau mengirim pesan ke grup. Tunjukkan pada siswa bahwa anda pengajar yang kompeten dan melek teknologi sehingga mereka tidak akan berani mencoba mengakali anda atau tugas-tugas yang anda berikan.
8. Keaktifan dan kolaborasi seluruh siswa
Merangsang keaktifan dan kolaborasi dalam kelas daring tentunya jauh lebih menantang dibanding kelas luring dikarenakan berbagai keterbatasan teknis dan non teknis yang dimilikinya. Namun, cara pertama untuk merangsang keaktifan dan kolaborasi seluruh siswa adalah dengan membangun komunitas daring seperti misalnya whatsapp group atau menggunakan platform media sosial lainnya seperti facebook atau Instagram dimana siswa bisa dengan mudah menyampaikan gagasan dan saling merespon dalam membicarakan suatu topik bahasan. Cara ini juga sebenarnya memudahkan pengajar untuk mengkomunikasi berbagai perubahan ataupun membuat pengumuman secara real time. Beritahukan semenjak awal bahwa siswa dianjurkan untuk selalu mengecek aplikasi atau media sosial yang disepakati untuk kolaborasi terutama sebelum dan sesudah kelas berlangsung. Selain itu tawarkan poin ekstra untuk keaktifan mereka dalam diskusi daring.
a. Sebelum kelas dimulai
pengajar bisa mengumumkan tujuan pembelajaran di aplikasi tersebut agar siswa bisa mempersiapkan mental bahkan pengetahuan dasar mereka lebih awal.
Lalu kemudian di 15 menit pertama, sebelum kelas tatap muka daring dimulai, rangsang keaktifan mereka dengan pertanyaan-pertanyaan yang dapat membangun daya kritis dan kreatifitas mereka seperti misalnya
‘what do you think about entrepreneurship? how interested are you in being an entrepreuner?’
Pastikan bahwa pertanyaan yang diberikan membutuhkan respon yang relatif Panjang, bukan jawaban pendek seperti ‘yes’ atau ‘no’ saja. Jangan lupa untuk memberikan instruksi, batas waktu respon dan reward khusus untuk 10 jawaban tercepat misalnya, maka kalimat selanjutnya yang pengajar bagikan bisa berupa,
‘please type your idea below in 15 minutes, the first 10 responses will get extra 5 poin’
tanpa mereka sadari sebenarnya pada saat itu proses belajar sudah dimulai. Anda bahkan bisa memperpanjang waktu untuk mendapatkan lebih banyak respon.
Sambil membaca satu persatu respon dari siswa, berikan apresiasi dengan mengomentari, mengkoreksi atau setidaknya memberikan emoticon, thumbs down/thumbs up, tepukan tangan atau bahkan stiker. Berbagai platform sejenis ini biasanya menyediakan berbagai fitur dan opsi untuk bereaksi. Intinya siswa tetap merasa bahwa respon mereka benar-benar dibaca oleh pengajar. Hal ini penting sekali untuk menjaga antusiasme siswa dalam aktif berkolaborasi dalam komunitas yang anda cipatakan tersebut. Jika anda hanya membaca saja tanpa merespon apapun, besar
kemungkinan kali selanjutnya anda menggunakan cara yang sama, akan semakin sedikit siswa yang ikut berpatisipasi dan merespon pertanyaan anda karena berpikir anda tidak mengeceknya..
b. Saat kelas daring berlangsung
Begitu zoom atau Google Meet dimulai, pengajar bisa menampilkan video menarik yang berhubungan dengan topik yang sedang dibicarakan, seperti misalnya ilustrasi kejadian, contoh kegiatan atau percakapan. Lalu berikan mereka sejumlah pertanyaan yang merangsang daya berpikir kritis mereka terkait video mereka. Pastikan bahwa video yang anda tampilkan berkorelasi erat dengan topik yang akan dibahas sehingga dapat menggiring fokus siswa terhadap topik tersebut. Misalnya saja ketika topik yang akan dibahas adalah hobi, pengajar menampilkan sejumlah orang yang sedang melakukan hobi yang beragam, jika memungkinkan pilih hobi-hobi yang tidak umum atau cukup ekstrim, sehingga memperluas pengetahuan dan meningkatkan ketertarikan mereka karena hal yang ditampilkan merupakan hal baru bagi mereka. Maka pertanyaan yang ditanyakan bisa berupa,
(1) What are the people doing in the video? Do they like it? Are you interested to try similar things? What about you? what are doing in your spare time?
Pertanyaan-pertanyaan seperti ini akan merangsang siswa untuk berpikir karena bisa berlaku untuk dirinya. Batasi hingga paling banyak 10 pertanyaan agar siswa tidak cepat jenuh. Selain itu variasikan cara menjawab, berikut beberapa pilihan cara mahasiswa untuk merespon pertanyaan yang diberikan oleh pengajar diantaranya adalah.
(1) Mengetik jawaban langsung di kolom chat
(2) Menggunakan fitur Raise hand, Thumbs up dan thumbs down untuk setuju dan tidak setuju
(3) Menggunakan isyarat tangan ke kamera. Cara ini juga merangsang siswa untuk ikut aktif bergerak.
(4) Menggunakan papan tulis virtual yang bisa digunakan bersama
(5) Menggunakan aplikasi polling seperti mentimeter dengan hasil yang disajikan secara real dalam bentuk diagram batang atau awan kata (word cloud).
Untuk membuatnya menarik, daripada memilih langsung penjawab dari daftar nama siswa, pengajar bisa meminta penjawab pertama untuk memilih penjawab berikutnya dari layar zoom dan jika memungkinkan untuk membacakan juga pertanyaan selanjutnya. Atau ada aplikasi gratis yang bisa dengan mudah pengajar dapatkan secara online yaitu No Hands Up dari ehyde dimana pengguna tinggal menginput daftar nama siswa, lalu mengaktifkan dengan klik kapanpun anda membutuhkan sebuah nama acak. Uniknya proses pengocokan nama ini, bisa juga disaksikan oleh kelas secara langsung.
c. Setelah kelas berlangsung
Anda bisa membuat file kolaborasi pada aplikasi atau platform kolaborasi seperti misalnya Google slides atau Google document untuk siswa membuat jurnal bersama tentang apa saja yang mereka kerjakan dalam kelas beserta ringkasan materinya dalam satu file. Satu link untuk satu kelas dan bisa digunakan disetiap pertemuan. Jadi, siswa membuat rangkuman dan laporan bersama-sama, sehingga mereka bisa saling melengkapi informasi yang terlewatkan satu sama lain, dan file ini dapat diakses kembali kapanpun mereka ingin mempelajarinya kembali
9. Instruksi
Dalam pembelajaran daring, sederhanakanlah instruksi.
Jika terpaksa memberikan instruksi yang cukup Panjang dan rumit, usahakan dalam bentuk tertulis pada saat pertemuan daring dan juga di grup whatsapp. Cek pemahaman mereka dengan meminta beberapa siswa mengutarakan kembali setiap poin yang mereka dengar mengenai instruksi yang diberikan.
10. Umpan balik
Pastikan siswa selalu mendapatkan umpan balik untuk setiap asesmen atau kegiatan yang mereka selesaikan. Umpan balik yang dimaksud bisa berupa nilai, komentar ataupun pujian. Umpan balik pun sebaiknya tidak hanya berasal dari pengajar tapi juga dari sesame teman. Sehingga siswa memiliki sudut pandang dan standar yang lebih beragam. Berbagai aplikasi pendukung pembelajaran kini menyediakan fitur untuk siswa saling memberikan umpan balik.
11. Penilaian dan asesmen
Jika umpan balik penting untuk peningkatan keterampilan siswa membantu mereka mengembangkan kemampuan bahasanya baik secara lisan maupun tulisan, maka asesmen sangatlah krusial untuk mengukur ketercapaian tujuan pembelajaran. Terdapat berbagai cara untuk melakukan asesmen secara daring.
a. Ujian tertulis perorangan
Untuk ujian jenis ini pengajar bisa menggunakan berbagai platform seperti kahoot, quizziz, quizlet atau MOOC. Pastikan anda memberikan batas waktu sesuai bobot soal ujian seperti waktu mulai akses dan waktu akses ditutup. Selain itu untuk meminimalisir kecurangan, anda