• Tidak ada hasil yang ditemukan

Studi Kajian Tematik

N/A
N/A
Intan Pramesti Anjani (Intan)

Academic year: 2024

Membagikan " Studi Kajian Tematik"

Copied!
27
0
0

Teks penuh

(1)

Penafsiran Doa Nabi Yunus dalam QS. Al-Anbiya: 87 (Kajian Tafsir Jalalayn)

PROPOSAL SKRIPSI

Untuk Persyaratan dalam Penyusunan Skripsi Strata Satu (S1)

Oleh:

Nama : Intan Pramesti Anjani NIM : 2108304037

JURUSAN ILMU AL-QUR’AN DAN TAFSIR FAKULTAS USHULUDDIN DAN ADAB INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN)

SYEKH NURJATI CIREBON

2023 M/ 1445 M

(2)

Penafsiran Doa Nabi Yunus dalam QS. Al-Anbiya: 87 Perspektif Tafsir Al-Jalalayn: Studi Kajian Tematik

Latar Belakang Masalah

Doa merupakan salah satu aspek fundamental dalam praktik spiritual dan kehidupan sehari-hari umat beragama. Secara umum, doa diartikan sebagai bentuk komunikasi antara manusia dan Tuhan, yang mencakup pujian, permohonan, dan pengakuan dosa. Dalam banyak tradisi agama, doa dianggap sebagai sarana untuk mendekatkan diri kepada Tuhan, memohon bimbingan, serta mencari kedamaian batin.

Secara khusus, dalam konteks Islam, doa (du’a) memiliki posisi penting sebagai wujud ibadah yang menunjukkan ketergantungan manusia kepada Allah.

Doa tidak hanya dianggap sebagai sarana permohonan, tetapi juga sebagai bentuk penyerahan diri dan kerendahan hati di hadapan Sang Pencipta. Hadis-hadis Nabi Muhammad SAW menegaskan pentingnya doa, seperti dalam pernyataan bahwa

"Doa adalah senjata bagi orang beriman," yang menggambarkan kekuatan spiritual doa dalam menghadapi berbagai tantangan hidup.

Al-Qur’an sebagai pedoman hidup bagi umat Islam memuat berbagai kisah nabi yang sarat akan pelajaran moral dan spiritual. Salah satu kisah yang menonjol dan sering dijadikan teladan adalah kisah Nabi Yunus AS. Kisah ini dikenal terutama melalui Doa Nabi Yunus yang diabadikan dalam QS. Al-Anbiya: 87, ketika beliau berdoa kepada Allah SWT dari dalam perut ikan setelah mengalami ujian berat akibat ketergesaannya meninggalkan kaumnya tanpa menunggu perintah Allah. Dalam situasi penuh keputusasaan, Nabi Yunus memanjatkan doa yang terkenal: "Laa ilaaha illaa Anta, Subhaanaka innii kuntu minaz-zhaalimiin", yang artinya: “Tidak ada Tuhan selain Engkau, Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang zalim.” (QS. Al-Anbiya: 87).

Ayat ini mengandung pesan penting tentang pengakuan dosa, taubat, dan penyerahan diri sepenuhnya kepada Allah. Doa tersebut telah menjadi bagian

(3)

penting dalam tradisi Islam, digunakan sebagai doa pengakuan dan taubat oleh umat Islam dalam menghadapi kesulitan hidup. Doa ini juga menyimbolkan kekuatan taubat yang tulus dan rahmat Allah SWT yang Maha Pengampun, bahkan dalam situasi yang paling genting sekalipun.

Tafsir Al-Jalalayn Penafsiran yang Signifikan Penafsiran QS. Al-Anbiya:

87 oleh Tafsir Al-Jalalayn memberikan perspektif yang lebih mendalam mengenai makna spiritual dan moral dari doa tersebut. Tafsir Al-Jalalayn, karya Jalaluddin Al-Mahalli dan Jalaluddin As-Suyuti, adalah salah satu tafsir klasik yang sering dijadikan rujukan dalam studi Al-Qur’an. Dalam kajian tafsir, doa-doa yang terdapat dalam Al-Qur’an sering dianalisis melalui pendekatan tematik dan kontekstual. Salah satu tafsir yang signifikan dalam memahami QS. Al-Anbiya:

87 adalah Tafsir Al-Jalalayn, karya Jalaluddin Al-Mahalli dan Jalaluddin As- Suyuti. Tafsir Al-Jalalayn dikenal dengan pendekatan yang ringkas dan literal, memudahkan pembaca dalam memahami makna ayat. Dalam tafsir ini, doa Nabi Yunus dijelaskan sebagai ungkapan penyesalan mendalam atas tindakan tergesa- gesa meninggalkan kaumnya tanpa izin dari Allah. Penafsiran ini menyoroti aspek taubat yang tulus dan pengakuan akan kelemahan manusia di hadapan kekuasaan Allah.

Tafsir Al-Jalalayn menegaskan bahwa kekuatan doa Nabi Yunus bukan hanya terletak pada kata-katanya, tetapi juga pada sikap hati dan keikhlasan yang menyertainya. Penafsiran ini menunjukkan bahwa meskipun seorang nabi, Nabi Yunus tetap mengalami kelemahan manusiawi, namun melalui taubat dan doa yang tulus, ia mendapatkan ampunan dan keselamatan dari Allah SWT. Kisah ini memberikan pelajaran penting tentang pentingnya taubat dan pengakuan dosa sebagai jalan menuju rahmat dan ampunan Allah.

Relevansi Masalah Dalam konteks kehidupan modern yang penuh dengan stres dan ketidakpastian, QS. Al-Anbiya: 87 dan doa Nabi Yunus relevan dijadikan solusi spiritual bagi umat Islam. Doa ini dapat dijadikan sebagai mekanisme coping yang membantu individu mengatasi berbagai tantangan hidup.

Kajian tematik terhadap ayat ini melalui Tafsir Al-Jalalayn tidak hanya memberikan pemahaman mendalam tentang nilai-nilai yang terkandung dalam

(4)

doa tersebut, tetapi juga bagaimana doa ini dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari sebagai sarana untuk memperbaiki diri, bertaubat, dan berserah diri kepada Allah.

Nilai-nilai seperti pengakuan dosa, pentingnya taubat, kesabaran dalam menghadapi ujian, serta penyerahan diri kepada Allah yang terkandung dalam doa Nabi Yunus memberikan inspirasi besar dalam kehidupan spiritual umat Islam.

Doa ini mengajarkan bahwa pengakuan atas kesalahan dan taubat yang tulus merupakan langkah awal menuju ketenangan batin dan penyelesaian masalah.

Oleh karena itu, studi mengenai penafsiran doa Nabi Yunus dalam QS. Al-Anbiya:

87 melalui Tafsir Al-Jalalayn sangat penting untuk memahami lebih jauh bagaimana umat Islam dapat menggunakan doa ini sebagai pedoman moral dan spiritual dalam menghadapi tantangan kehidupan.

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan wawasan mengenai bagaimana doa ini dapat diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari sebagai sarana untuk bertaubat, memperbaiki diri, dan mencari ketenangan.

A. Rumusan Masalah

1. Bagaimana Tafsir Al-Jalalayn menafsirkan Doa Nabi Yunus dalam QS. Al-Anbiya:87?

2. Apa saja nilai-nilai spiritual dan moral dalam Doa Nabi Yunus menurut Tafsir Al-Jalalayn?

3. Bagaimana relevansi Doa Nabi Yunus dalam QS. Al-Anbiya:87 bagi kehidupan umat Islam masa kini?

B. Tujuan Penelitian

1. Menjelaskan penafsiran Doa Nabi Yunus dalam QS. Al-Anbiya:87 menurut Tafsir Al-Jalalayn.

2. Mengidentifikasi nilai-nilai spiritual dan moral dalam Doa Nabi Yunus.

3. Menggali relevansi Doa Nabi Yunus bagi kehidupan spiritual umat Islam di masa kini.

C. Kegunaan Penelitian

(5)

Kegunaan Teoritis

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi terhadap pengembangan ilmu pengetahuan, khususnya dalam bidang studi tafsir Al- Qur'an dan kajian tematik (maudhu’i) sebagai pendekatan ilmiah untuk memahami ayat-ayat Al-Qur'an. Beberapa aspek teoretis yang akan diperkaya oleh penelitian ini meliputi:

1. Kontribusi pada Kajian Tafsir Tematik :

Penelitian ini berkontribusi pada kajian tafsir tematik yang semakin penting dalam studi Al-Qur'an, terutama dalam konteks Islam kontemporer. Dengan meneliti makna doa Nabi Yunus dalam perspektif taubat dan pengakuan dosa, penelitian ini menambah literatur mengenai tafsir yang tidak hanya mengupas teks, tetapi juga makna tematik mendalam yang relevan bagi umat. Ini memperkaya pemahaman tentang pendekatan klasik, seperti yang ditemukan dalam Tafsir Al-Jalalayn, untuk memahami aspek-aspek spiritual dalam doa Nabi.

2. Pengembangan Kajian Spiritual dalam Tafsir Al-Qur’an :

Nilai-nilai yang terkandung dalam doa Nabi Yunus, seperti kesabaran, tawakal, dan keikhlasan, menjadi landasan bagi pengembangan kajian spiritualitas Islam yang bersumber langsung dari Al-Qur'an. Kajian ini bisa menjadi acuan bagi studi lanjutan di bidang teologi dan spiritualitas yang mempelajari hubungan manusia dengan Allah terutama dalam konteks ujian hidup dan ketergantungan kepada Allah sebagai Sang Pencipta.

3. Pemahaman tentang Konsep Taubat dalam Islam :

Dengan mengangkat tafsir QS. Al-Anbiya:87, penelitian ini membantu memperjelas konsep taubat sebagai salah satu bentuk pendekatan kepada Allah yang diabadikan dalam doa para nabi. Kajian ini juga membuka ruang diskusi lebih dalam mengenai proses taubat dan pengampunan dalam Al-Qur’an, serta aplikasinya bagi umat Islam untuk memahami proses ini sebagai jalan kesadaran diri, refleksi, dan reformasi diri yang menyeluruh dalam menghadapi kesalahan.

4. Penyempurnaan Referensi bagi Kajian Tematik Tafsir Klasik : Penelitian ini dapat memperkaya studi klasik dalam bidang tafsir dengan pendekatan tematik terhadap doa-doa para nabi, khususnya doa

(6)

Nabi Yunus. Dengan menambah referensi dalam penelitian tematik, hasil penelitian ini membantu memudahkan akademisi dalam menemukan landasan penafsiran berbasis nilai spiritual dan moral yang kontekstual.

Kegunaan Praktis

Selain memberikan manfaat dari segi teoritis, penelitian ini juga memiliki kegunaan praktis yang dapat diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari umat Islam. Beberapa aspek praktis dari penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Pedoman bagi Kehidupan Spiritual dan Moral Umat Islam:

Doa Nabi Yunus dalam QS. Al-Anbiya: 87 mengajarkan nilai-nilai penting seperti pengakuan dosa, taubat yang tulus, ketergantungan kepada Allah, dan keyakinan pada rahmat-Nya. Nilai-nilai ini sangat relevan bagi umat Islam dalam menjalani kehidupan sehari-hari, terutama dalam menghadapi berbagai cobaan hidup.

Penelitian ini diharapkan dapat menjadi sumber inspirasi bagi umat Islam dalam menerapkan nilai-nilai ini dalam kehidupan mereka, terutama dalam hal bersabar menghadapi ujian, berserah diri kepada Allah, dan senantiasa memohon ampunan atas kesalahan. Doa ini menjadi pengingat bagi umat Islam untuk tetap tawakal dan menjaga sikap rendah hati di hadapan Allah dalam setiap keadaan.

2. Motivasi dalam Menghadapi Ujian Kehidupan:

Kisah Nabi Yunus yang menghadapi ujian berat dengan ditelan oleh ikan besar, dan bagaimana ia menyadari kesalahannya dan bertaubat dengan tulus, dapat menjadi teladan bagi setiap Muslim yang menghadapi kesulitan dalam hidup. Doa yang dipanjatkan oleh Nabi Yunus mengajarkan pentingnya tetap berpegang teguh pada iman dan berdoa kepada Allah dalam situasi apa pun.

Penelitian ini dapat memberikan motivasi bagi umat Islam untuk tidak mudah putus asa ketika menghadapi masalah hidup, melainkan menjadikannya sebagai kesempatan untuk mendekatkan diri kepada Allah melalui doa dan taubat.

3. Panduan Praktis untuk Taubat dan Pengakuan Dosa:

(7)

Doa yang diucapkan oleh Nabi Yunus dalam QS. Al-Anbiya: 87 sering kali dibaca oleh umat Islam sebagai doa pengakuan dosa dan taubat.

Melalui penelitian ini, diharapkan masyarakat akan memiliki pemahaman yang lebih mendalam tentang doa ini, tidak hanya sebagai ungkapan verbal, tetapi sebagai bentuk kesadaran penuh tentang tanggung jawab terhadap kesalahan dan pentingnya permohonan ampun kepada Allah.

Pemahaman ini dapat membantu umat Islam dalam mempraktikkan taubat secara lebih mendalam dan bermakna dalam kehidupan sehari-hari

4. Penguatan Keimanan dan Ketakwaan:

Melalui pemahaman yang lebih baik tentang Doa Nabi Yunus dan makna spiritual yang terkandung di dalamnya, penelitian ini diharapkan dapat membantu meningkatkan keimanan dan ketakwaan umat Islam.

Kisah Nabi Yunus yang penuh kesabaran dan keikhlasan dalam menghadapi ujian mengajarkan pentingnya berserah diri sepenuhnya kepada Allah, dan hal ini dapat menjadi inspirasi bagi umat Islam dalam meningkatkan hubungan mereka dengan Allah SWT.

D. Literatur Revieu/Penelitian Terdahulu

Penelitian terdahulu dilakukan oleh peneliti untuk memperoleh perbandingan dan mendapatkan ide-ide baru bagi penelitian selanjutnya.

Selain itu, kajian penelitian terdahulu ini membantu peneliti untuk menentukan posisi penelitiannya sendiri sekaligus menunjukkan orisinalitas dari studi yang dilakukan. Pada bagian ini, peneliti merangkum berbagai hasil penelitian sebelumnya yang relevan dengan penelitian yang akan dilaksanakan, baik dari penelitian yang telah terpublikasi maupun yang belum. Berikut adalah beberapa penelitian terdahulu yang berkaitan dengan tema yang sedang dikaji penulis.

Penelitian pertama dilakukan oleh Nurhayati (2023) dalam jurnalnya berjudul “Doa Mustajab Nabi Zakariya A.S. Dalam Al-Qur’an: Analisis Surah Ali ‘Imrān (3) Ayat 37-38 Perspektif Maqāṣid Al-Qurān Ibn

‘Āsyūr”. Penelitian ini termasuk dalam jenis penelitian kepustakaan

(8)

(library research), dengan menerapkan metode pendekatan maqāṣid al- Qur’ān menurut Ibn ‘Āsyūr, yang berfokus pada pemahaman tujuan-tujuan utama ayat-ayat Al-Qur'an dalam konteks kebaikan, keadilan, dan maslahat bagi umat. Hasil Penelitiannya adalah penelitian ini menemukan bahwa doa Nabi Zakariya dalam Surah Ali ‘Imrān ayat 37-38 mengandung maqāṣid yang mencerminkan nilai ketulusan, kepasrahan, dan pengharapan yang mendalam kepada Allah. Doa ini menggambarkan permohonan seorang hamba yang sangat dekat dengan Tuhannya, serta menjadi contoh bagi umat Muslim dalam berdoa dan berserah diri sepenuhnya kepada kehendak Ilahi.

Persamaan dan perbedaan penelitian sebelumnya dengan penelitian ini adalah sebagai berikut :

Persamaan

1) Tema Keagamaan : Kedua judul berkaitan dengan doa dalam konteks Al-Qur'an. Keduanya mengkaji aspek spiritual yang terkandung dalam doa yang dipanjatkan oleh para nabi.

2) Pendekatan Tafsir: Baik judul dari Nurhayati maupun judul mengenai tafsir Jalalayn menekankan pada analisis teks Al-Qur'an. Keduanya menafsirkan ayat-ayat tertentu yang berkaitan dengan doa, meskipun dengan fokus yang berbeda.

3) Fokus pada Tokoh Nabi: Keduanya berfokus pada nabi sebagai subjek utama analisis. Nurhayati meneliti Nabi Zakariya, sedangkan judul kedua meneliti Nabi Yunus, menunjukkan minat terhadap tokoh- tokoh yang memiliki peran penting dalam tradisi keagamaan Islam.

Perbedaan

1) Fokus Ayat dan Surah: Fokus pada Surah Ali 'Imrān (3) Ayat 37-38, yang berbicara tentang doa Nabi Zakariya dan konteksnya dalam Al- Qur'an. Sedangkan menganalisis QS. Al-Anbiya: 87, yang merupakan doa Nabi Yunus dalam peristiwa ketika ia berada dalam kegelapan perut ikan.

2) Pendekatan Analisis: Menerapkan perspektif Maqāṣid Al-Qur'an Ibn 'Āsyūr, yang mungkin memberikan kerangka kerja yang lebih

(9)

sistematis dalam memahami tujuan dan nilai-nilai dalam ayat-ayat tersebut. Sedangkan perspektif tafsir Al-Jalalayn menerapkan pendekatan yang lebih tradisional dan langsung dalam menafsirkan teks, dengan fokus pada penjelasan bahasa dan konteks historis.

3) Konsep yang Ditekankan: judul sebelumnya lebih menekankan pada makna dan implikasi doa Nabi Zakariya dalam konteks sosial dan spiritual sesuai dengan maqāṣid. Sedangkan tafsir al-jalalayn Mungkin lebih berfokus pada aspek linguistik dan tafsir literal dari doa Nabi Yunus, menjelaskan makna yang terkandung dalam kalimat- kalimatnya.

Penelitian kedua dilakukan oleh Muhammad Kusuma Wardhana, Umi Sumbulah, dan Zed bin Smeer. (2024) dalam jurnalnya berjudul

“Pendekatan Kritik Naratif A.H. Johns Terhadap Penafsiran Doa Nabi Ayyub Dalam Al-Qur`an”. Penelitian ini termasuk dalam jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif dengan metode kritik naratif berdasarkan pendekatan A.H. Johns. Pendekatan ini mengeksplorasi cara- cara narasi dan gaya bahasa digunakan dalam Al-Qur'an untuk menyampaikan pesan dan nilai-nilai melalui kisah Nabi Ayyub, khususnya terkait dengan doa dan kesabarannya. Hasil Penelitian adalah penelitian ini menunjukkan bahwa doa Nabi Ayyub dalam Al-Qur'an mencerminkan makna ketulusan, kesabaran, dan keteguhan iman saat menghadapi ujian.

Melalui pendekatan kritik naratif, ditemukan bahwa narasi doa Nabi Ayyub tidak hanya mengajarkan ketekunan dalam menghadapi penderitaan tetapi juga menggambarkan kepasrahan penuh kepada Allah. A.H. Johns melihat narasi ini sebagai bentuk komunikasi yang bertujuan menginspirasi pembaca untuk memahami dan meneladani sifat kesabaran dan keteguhan Nabi Ayyub.

Persamaan dan perbedaan penelitian sebelumnya dengan penelitian ini adalah sebagai berikut :

Persamaan

(10)

1) Fokus pada Doa Nabi: Kedua judul mengkaji doa yang dipanjatkan oleh nabi, yaitu Nabi Ayyub dan Nabi Yunus, yang menunjukkan tema keagamaan yang mendalam.

2) Pendekatan Tafsir: Keduanya merupakan kajian tafsir yang berusaha memahami makna dan konteks doa dalam Al-Qur'an, meskipun dengan pendekatan yang berbeda.

3) Relevansi dalam Konteks Al-Qur'an: Kedua jurnal ini menunjukkan bagaimana doa para nabi berfungsi dalam narasi Al-Qur'an dan makna spiritual yang terkandung di dalamnya.

Perbedaan

1) Pendekatan Metodologis: Penelitian tentang Nabi Ayyub menggunakan pendekatan analisis semantik, yang berfokus pada makna kata, struktur kalimat, dan fungsi kalimat dalam doa.

Sebaliknya, penafsiran doa Nabi Yunus menggunakan perspektif tafsir Al-Jalalayn yang cenderung fokus pada analisis tematik dan konteks historis dari ayat tersebut.

Tokoh dan Ayat yang Dianalisis: Menganalisis doa Nabi Ayyub, yang terdapat dalam konteks ayat-ayat yang merujuk pada penderitaannya dan kesabarannya. Sedangkan tafsir tafsir al-jalalayn menganalisis doa Nabi Yunus dalam QS. Al-Anbiya: 87, yang berfokus pada situasi kritis Nabi Yunus ketika berada dalam perut ikan.

2) Objek Kajian: Meskipun kedua penelitian membahas doa yang terdapat dalam Surah Al-Anbiya, objek kajian yang berbeda.

Penelitian Ayyub meneliti dua ayat (QS. Al-Anbiya: 83 dan QS. Shad:

41) yang menunjukkan aspek ketundukan dan kesabaran, sedangkan penelitian tentang Nabi Yunus hanya berfokus pada satu ayat (QS. Al- Anbiya: 87) yang lebih menekankan pada penyesalan dan pengakuan dosa.

Pendekatan Analisis: Pendekatan Kritik Naratif A.H. Johns: Jurnal ini menggunakan pendekatan kritik naratif, yang mungkin menekankan aspek cerita, struktur naratif, dan karakterisasi dalam penafsiran doa

(11)

Nabi Ayyub. Sedangkan pendekatan tafsir al-jalalayn ini lebih bersifat tradisional dan linguistik, menekankan pada pemahaman kata demi kata serta konteks historis dari ayat tersebut.

3) Modus Kalimat: Dalam penelitian tentang Nabi Ayyub, terdapat analisis mengenai modus kalimat yang mencakup aspek deklaratif dan imperatif dari doa. Sementara itu, penafsiran doa Nabi Yunus dalam tafsir Al-Jalalayn lebih berfokus pada konteks dan tema permohonan ampun, tanpa memfokuskan pada analisis struktur kalimat secara mendalam.

Tujuan Penelitian: judul sebelumnya mungkin bertujuan untuk mengeksplorasi kedalaman naratif dan bagaimana cerita Nabi Ayyub dapat memberikan pelajaran moral dan spiritual. Sedangkan tafsir al- jalalayn bertujuan untuk memberikan pemahaman yang jelas dan langsung tentang makna doa Nabi Yunus serta konteksnya dalam kehidupan Nabi tersebut.

Penelitian ketiga dilakukan oleh Ruslan Abdul Ghani (2023) dalam jurnalnya “Makna Ujaran Kalimat Do’a Nabi Ayyub AS Dalam Al- Qur’an (Analisis Semantik Modus Dan Fungsi Kalimat QS. Al- Anbiya:83 Dan QS. Shad:41)”. Penelitian ini termasuk dalam jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif. Pendekatan yang digunakan adalah analisis semantik, yang berfokus pada makna kata dan struktur kalimat untuk menggali maksud dan fungsi doa Nabi Ayyub dalam konteks Al-Qur'an. Hasil Penelitian adalah Penelitian ini menemukan bahwa doa Nabi Ayyub dalam QS. Al-Anbiya: 83 dan QS. Shad: 41 tidak hanya berisi permohonan kesembuhan, tetapi juga mencerminkan sikap ketundukan, kesabaran, dan ketawakalan kepada Allah. Melalui analisis semantik, doa-doa ini dipahami sebagai bentuk komunikasi langsung dengan Allah yang mencakup modus deklaratif dan imperatif. Selain itu, penelitian ini mengidentifikasi fungsi kalimat yang menunjukkan pengakuan atas kelemahan manusia di hadapan kekuasaan Allah, yang

(12)

menjadi pelajaran bagi umat Islam untuk bersabar dan bertawakal dalam menghadapi cobaan hidup.

Persamaan :

1) Fokus pada Doa Nabi: Kedua judul mengkaji doa yang dipanjatkan oleh nabi, yaitu Nabi Ayyub dan Nabi Yunus, yang menunjukkan tema keagamaan yang mendalam.

2) Konteks Al-Qur'an: Kedua jurnal ini berfokus pada penafsiran dan analisis doa dalam konteks Al-Qur'an, menunjukkan relevansi dalam memahami teks suci.

3) Pembahasan Teks Spesifik: Kedua judul memilih untuk menganalisis doa yang terdapat dalam QS. Al-Anbiya, menunjukkan pentingnya ayat ini dalam konteks doa para nabi.

Perbedaan :

1) Tokoh dan Ayat yang Dianalisis: Judul Analisis Semantik Modus Dan Fungsi Kalimat: Menganalisis doa Nabi Ayyub, dengan fokus pada kalimat-kalimat spesifik dalam QS. Al-Anbiya:83 dan QS. Shad:41.

Judul Penafsiran Doa Nabi Yunus: Menganalisis doa Nabi Yunus yang terdapat dalam QS. Al-Anbiya: 87.

2) Pendekatan Analisis:

Analisis Semantik Modus Dan Fungsi Kalimat: Menerapkan analisis semantik yang pekat, memfokuskan pada modus dan fungsi kalimat dalam doa Nabi Ayyub.

Kajian Tafsir Jalalayn: Merupakan pendekatan tradisional yang lebih menekankan pada penjelasan bahasa dan konteks historis, serta pemahaman literal dari doa Nabi Yunus.

3) Tujuan Analisis :

Judul Analisis Semantik Modus Dan Fungsi Kalimat: Mungkin bertujuan untuk mengungkapkan makna lebih dalam dari kalimat- kalimat doa Nabi Ayyub, dengan memahami modus dan fungsi kalimat.

(13)

Judul Penafsiran Doa Nabi Yunus: Bertujuan untuk memberikan pemahaman yang jelas dan langsung tentang makna doa Nabi Yunus serta konteksnya dalam perut ikan.

Penelitian keempat dilakukan oleh Afifah, Kulsum Nur (2023) dalam skripsinya “Doa-doa Nabi Nuh terhadap Orang Kafir dalam Al-Qur’an:

Perspektif Sintaksis Stilistika”. Penelitian ini termasuk dalam jenis Penelitian yang digunakan adalah kepustakaan/ library research, dengan menggunakan pendekatan sintaksis dan stilistika. Pendekatan ini meneliti susunan kalimat (sintaksis) dan gaya bahasa (stilistika) dalam doa-doa Nabi Nuh yang ditujukan kepada orang-orang kafir, bertujuan untuk memahami kekhasan bahasa serta pesan yang disampaikan melalui gaya ekspresi Al- Qur'an. Penelitian ini menemukan bahwa doa-doa Nabi Nuh dalam Al- Qur'an, khususnya dalam ayat-ayat yang berhubungan dengan peringatan terhadap orang-orang kafir, menunjukkan struktur kalimat yang penuh ketegasan dan kesungguhan dalam memohon keadilan dari Allah. Analisis sintaksis mengungkapkan bahwa Nabi Nuh menggunakan struktur kalimat yang memperkuat posisi moralnya, dengan fokus pada unsur deklaratif yang menunjukkan penyerahan mutlak kepada kehendak Allah atas kaumnya.

Dari perspektif stilistika, penelitian ini menunjukkan bahwa pilihan kata dalam doa-doa tersebut menggambarkan perasaan frustasi dan ketidakberdayaan Nabi Nuh menghadapi kerasnya hati kaum kafir. Gaya bahasanya mencerminkan kepasrahan dan keikhlasan Nabi Nuh, sekaligus memancarkan kekuatan emosional yang mendalam. Hasil analisis ini menyoroti bahwa doa-doa tersebut bukan hanya bentuk komunikasi dengan Allah tetapi juga sebagai sarana untuk mengekspresikan nilai-nilai ketegasan dalam iman serta keyakinan dalam menghadapi penentangan yang terus-menerus dari kaumnya. Melalui pendekatan sintaksis dan stilistika, penelitian ini memberikan wawasan tentang kekayaan bahasa Al- Qur'an dan bagaimana struktur serta gaya bahasa dalam doa-doa Nabi Nuh berfungsi untuk menyampaikan pesan moral dan emosional yang kuat, memberikan teladan bagi umat Islam dalam menghadapi tantangan iman.

(14)

Persamaan :

1) Fokus pada Doa Nabi: Keduanya mengkaji doa yang dipanjatkan oleh nabi. Dalam hal ini, satu berfokus pada Nabi Nuh dan yang lainnya pada Nabi Yunus, menunjukkan tema keagamaan yang mendalam.

2) Konteks Al-Qur'an: Kedua judul berfokus pada penafsiran dan analisis doa dalam konteks Al-Qur'an, yang menunjukkan pentingnya pemahaman teks suci dalam tradisi Islam.

3) Analisis Teks: Keduanya berusaha untuk menggali makna dan konteks dari doa yang terdapat dalam Al-Qur'an, meskipun dengan pendekatan yang berbeda.

Perbedaan :

1) Tokoh dan Ayat yang Dianalisis: Menganalisis doa-doa Nabi Nuh, yang berfokus pada interaksinya dengan orang-orang kafir, serta bagaimana doa tersebut diungkapkan dalam Al-Qur'an. Sedangkan menganalisis doa Nabi Yunus yang terdapat dalam QS. Al-Anbiya:

87, yang berfokus pada situasi kritis Nabi Yunus ketika berada dalam perut ikan.

2) Pendekatan Analisis: Judul ini menggunakan pendekatan sintaksis dan stilistika, yang menekankan pada struktur kalimat dan gaya bahasa dalam doa-doa Nabi Nuh, serta bagaimana kedua aspek ini membentuk makna. Sedangkan tafsir al-jalalayn pendekatan ini lebih bersifat tradisional dan linguistik, yang berfokus pada penjelasan literal dari teks, konteks historis, dan makna dari doa Nabi Yunus.

3) Tujuan Penelitian: mungkin judul ini bertujuan untuk mengeksplorasi bagaimana doa Nabi Nuh disusun dan fungsi retorisnya terhadap orang kafir, serta dampak emosional dari doa tersebut. Sedangkan judul kedua bertujuan untuk memberikan yang lebih jelas mengenai makna doa Nabi Yunus, serta konteks spiritual dan psikologis dalam situasi yang dihadapi oleh Nabi Yunus.

(15)

Penelitian kelima dilakukan oleh Thoriq, Nurut (2022) “Analisis Doa Nabi Nūh dalam Q.S. Hūd (11): 45-47 (Studi Komparatif Tafsir Mafātiḥ al-Ghaib dan al-Taḥrīr wa al-Tanwīr)”. Penelitian ini termasuk dalam jenis penelitian pustaka dengan metode kualitatif . penelitian ini bersifat analisis isi (cintent analysis). Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan metode dokumentatif. Sedangkan pendekatan dalam penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif analitis.Penelitian ini mengungkap bahwa kedua mufasir memberikan perspektif yang saling melengkapi al-Razi lebih fokus pada sisi emosional dan kemanusiaan dalam doa Nabi Nuh, sementara Ibn ‘Āsyūr mengedepankan nilai-nilai keadilan dan maqashid al-Qur’an dalam keputusan yang Allah tetapkan. Studi ini memberikan wawasan tentang bagaimana interpretasi tafsir yang berbeda dapat memperkaya pemahaman akan doa Nabi Nuh dalam konteks nilai keimanan, kasih sayang, dan ketundukan kepada Allah.

Persamaan :

1) Fokus pada Doa Nabi: Kedua judul mengkaji doa yang dipanjatkan oleh nabi. Judul pertama berfokus pada Nabi Nūh, sedangkan judul kedua berfokus pada Nabi Yunus, menunjukkan tema keagamaan yang mendalam dalam konteks Al-Qur'an.

2) Konteks Al-Qur'an: Keduanya berusaha untuk menganalisis dan menafsirkan doa dalam konteks teks Al-Qur'an, menekankan pentingnya pemahaman spiritual dan moral yang terkandung di dalamnya.

3) Analisis Teks Al-Qur'an: Keduanya berupaya untuk menggali makna dan konteks dari doa yang terdapat dalam Al-Qur'an, meskipun dengan pendekatan yang berbeda.

Perbedaan

1) Tokoh dan Ayat yang Dianalisis: judul ini menganalisis doa Nabi Nūh yang terdapat dalam Q.S. Hūd (11): 45-47, yang berfokus pada interaksi Nabi Nūh dengan Allah, serta ungkapan penyesalan dan harapan di tengah situasi yang sulit. Sedangkan judul ini menganalisis

(16)

doa Nabi Yunus yang terdapat dalam QS. Al-Anbiya: 87, yang berfokus pada situasi kritis Nabi Yunus ketika berada dalam perut ikan, serta penyerahan diri dan pengharapan kepada Allah.

2) Pendekatan Analisis: Judul ini menggunakan pendekatan komparatif untuk menganalisis tafsir dari dua sumber yang berbeda, yang mencakup aspek-aspek penjelasan yang lebih luas serta interpretasi dari dua ulama yang berbeda. Sedangkan judul pendekatan ini lebih bersifat tradisional, berfokus pada penjelasan literal dari teks serta konteks historis, dan memberikan tafsir yang jelas dan langsung mengenai doa Nabi Yunus.

3) Tujuan Penelitian: bertujuan untuk mengeksplorasi makna mendalam dari doa Nabi Nūh dengan membandingkan dua tafsir yang berbeda, serta bagaimana masing-masing tafsir memberikan perspektif yang unik terhadap teks. Sedangkan judul ini bertujuan untuk memberikan pemahaman yang lebih mendalam mengenai makna doa Nabi Yunus, serta konteks spiritual dan psikologis yang dihadapi Nabi Yunus dalam situasi yang sulit.

Penelitian keenam dilakukan oleh Farah Mohd Ferdaus,dkk (2023) dalam jurnalnya berjudul “Elemen Psikoterapi Islam Berdasarkan Doa Nabi Ibrahim As”. Penelian ini termasuk dalam berbentuk kajian kualitatif dan dianalisis menggunakan kaedah analisis kandungan melalui penelitian terhadap literasi kepustakaan. Hasil dapatan kajian mendapati bahawa ayat- ayat Al-Quran berkaitan doa Nabi Ibrahim AS mempunyai elemen psikoterapi berdasarkan Kaedah Psikoterapi Iman, Kaedah Psikoterapi Ibadah dan Kaedah Psikoterapi Tasawuf.

Persamaan dan perbedaan penelitian sebelumnya dengan penelitian ini adalah sebagai berikut :

Persamaan

1. Tema Keagamaan dan Spiritual: Kedua judul berfokus pada doa dalam Al-Qur'an dan aspek spiritualitas nabi, memperlihatkan

(17)

bagaimana doa-doa ini berfungsi sebagai sarana komunikasi dengan Tuhan dalam situasi sulit.

2. Analisis Doa Nabi: Keduanya menyoroti doa yang dipanjatkan oleh nabi sebagai contoh kebijaksanaan dan sumber inspirasi, dengan Nabi Ibrahim dan Nabi Yunus masing-masing sebagai tokoh utama dalam kajian mereka.

3. Pendekatan Islam sebagai Solusi: Baik penelitian psikoterapi berbasis doa Nabi Ibrahim maupun tafsir doa Nabi Yunus menampilkan elemen-elemen Islam yang dapat diterapkan sebagai solusi bagi permasalahan hidup, seperti dalam konteks psikoterapi atau dalam makna spiritual.

Perbedaan

1. Tujuan Penelitian: Judul pertama berfokus pada psikoterapi Islam, menyoroti doa Nabi Ibrahim sebagai elemen penyembuhan psikologis dan mendalami aspek terapeutiknya. Sedangkan judul kedua lebih menekankan pada tafsir tekstual dan historis dari doa Nabi Yunus dalam QS. Al-Anbiya: 87 menurut Tafsir Jalalayn.

2. Pendekatan Analisis: Judul “Elemen Psikoterapi Islam Berdasarkan Doa Nabi Ibrahim As” menggunakan pendekatan psikologis atau terapeutik untuk memahami fungsi doa. Sementara itu, judul tentang doa Nabi Yunus menggunakan pendekatan tafsir klasik dalam Tafsir Jalalayn, yang lebih berfokus pada makna literal dan linguistik.

3. Fokus Tokoh dan Doa: Judul pertama mengkaji doa Nabi Ibrahim, yang relevan dalam konteks psikoterapi Islam, sementara judul kedua mengkaji doa Nabi Yunus dalam konteks pertobatan dan pengharapan dari kegelapan (secara literal dan metaforis).

Penelitian ketujuh dilakukan oleh Abdul Basid,dkk. (2022). Dalam jurnalnya berjudul “Kontribusi Doa Nabi Ibrahim Terhadap Perkembangan Perekonomian Arab Pra Islam – Pasca Islam (Studi Pemikiran Tafsir Ma’alim Al-Tanzil Karya Al-Baghawi)”. Penelitian ini temasuk dalam menggunakan penelitian kepustakaan yakni jenis penelitian

(18)

yang dilakukan dengan membaca buku yang bersumber dari perpustakaan maupun ditempat lain. Metode ini bertujuan untuk mengkaji dengan menggunakan metode deskriptif-analitis, pendekatan normatif-ekonomi dan sosiologi. Sedangkan data yang digunakan adalah data sekunder yang diperoleh dari sumber-sumber relavan berupa buku. Hasil penelitian ini salah satu nya ialah QS. Al-Baqarah ayat 126 berisi tentang doa Nabi Ibrahim as. kepada Allah agar memberikan keamanan negeri yang menjadi tempat tinggal keluarga dan masyarakat lain yang tinggal disana adalah bukti nyata kepeduliannya terhadap negeri dan kesejahteraan warga sekitar, termasuk keluarganya dan menjadikan keamanan yang ada di kota Mekkah.

Doa Nabi Ibrahim dalam surah al-Baqarah ayat 126, menurut Hamka, ayat ini menyuruh Nabi Muhammad Saw. memperingatkan kembali kepada kaum Quraisy bahwasanya yang memulai memancang negeri Mekkah tempat mereka berdiam itu yakni nenek-moyang mereka Nabi Ibrahim.

Kedua judul penelitian ini memiliki kesamaan yaitu berfokus pada analisis doa nabi dalam Al-Qur’an menggunakan metode tafsir, serta mengkaji relevansi doa tersebut dalam konteks umat Islam. Kedua penelitian ini memiliki perbedaan yaitu terletak pada nabi yang dikaji, sumber tafsir yang digunakan, fokus analisis, serta ruang lingkup penelitian yang lebih luas pada aspek ekonomi dibandingkan dengan analisis tematik spiritual.

Penelitian kedelapan dilakukan oleh Farikhul Anwar,dkk. (2021).

Dalam artikelnya berjudul “DO’A PARA NABI YANG DIABADIKAN AL-QUR’AN (Adam, Nuh,Hud, Salih,Ibrahim, Lut,dan Isma‘il)”.

Penelitian ini termasuk dalam menggunakan metode tematik dengan penyusunan berdasarkan naratologi Al-Qur’an. Pembatasan dalampenelitian ini hanya menjelaskan doa yang dipanjatkan oleh tujuh nabi yaitu Adam, Nuh, Hud, Salih, Ibrahim, Lut dan Isma’il. Hasil penelitian ini adalah nabi Adam berdoa dalam masalah menyesalikesalahan dan memohon ampunan Allah. Nabi Nuh memohon kepada Allah supaya keluarganya diselamatkan dari banjir bandang. Ia juga yang mengajarkan

(19)

tata cara berdoa saat akannaik perahu atau kendaraan. Nabi Nuh juga memohon supaya orang-orang kafir itu dimusnahkan karena mereka akan menyesatkan umat manusia. Nabi Hud memohon kepada Allah dalam persoalan berserah diri dan meminta keselamatan dariancaman kaumnya.

Nabi Salih berharap supaya kaumnya meninggalkan sesembahan apapun selain Allah. Nabi Ibrahim memohon kepada Allah supaya negeri Mekah aman sentosa, penduduknya dikarunia banyak rezeki dan buah-buahan, umat manusia condong kepadanya dan istiqamah di dalam menjalankan syariat agama. Nabi Lut memohon kepada Allah supaya diri, keluarga dan pengikutnya ditolong oleh Allah karena mereka akandiusir dari tempat tinggal mereka. Sedangkan nabi Isma’il berdoa dalam persoalan berserah diri kepada Allah dan bersabar.

Keduanya judul penelitian ini memiliki kesamaan yaitu mengkaji doa para nabi yang diabadikan dalam Al-Qur’an dan menggunakan pendekatan tafsir untuk meneliti makna spiritual dan relevansi doa-doa tersebut dalam kehidupan umat Islam dan penelitian juga mengakui pentingnya doa sebagai bagian dari ibadah dan sarana komunikasi antara manusia dengan Allah.

Penelitian kesembilan dilakukan oleh Puput Wahyuningsih (2021).

Dalam jurnalnya berjudul “Doa-Doa Nabi Musa Dalam Al-Qur’an (Kajian Tafsir Al Maraghi)”. Penelitian ini termasuk dalam jenis penelitian ini adalah kepustakaan (library research). Penelitian ini bersifat analisis isi, dengan pendekatan metode maudhui. Hasil penelitian ini menunjukkan penafsiran doa-doa Nabi Musa dalam fase alur kehidupan Nabi Musa, yaitu fase pertama sejak berada di mesir sebelum kenabian, fase kedua saat hijrah ke madyan dan fase ketiga ketika kembali ke mesir setelah kenabian. Penafsiran doa Nabi Musa dalam ketentuan berdoa secara umum diperoleh 4 kategori yaitu ikhlas dalam berdoa, yakin bahwa doa itu akan terkabul, bertaubat dan berbaik sangka kepada Allah.

Penelitian kesepuluh dilakukan oleh Azkiya Khikmatiar (2017). Dalam skripsinya berjudul “Doa Nabi Muhammad Saw Dalam Al-Qur’an (Studi Komparatif Tafsir Al-Tabari Dan Tafsir Al-Maragi”. Penelitian

(20)

ini sepenuhnya berbasis data kepustakaan (library research) dan menggunakan metode deskriptif-analisis. Metode deskriptif digunakan untuk menggambarkan penafsiran dalam Tafsir Al-Tabari dan Al-Maraghi terkait ayat-ayat doa Nabi Muhammad saw. Sementara itu, metode analisis dimanfaatkan untuk memahami lebih dalam perbandingan antara kedua tafsir tersebut dalam menafsirkan ayat-ayat doa Nabi. Hasil penelitian mengungkapkan adanya enam doa Nabi Muhammad saw dalam Al-Qur’an yang bervariasi. Sebagian besar doa dimulai dengan seruan "rabbi" atau

"rabbana," sementara satu doa diawali dengan "allahumma." Doa-doa ini mencakup permohonan duniawi, seperti doa saat berpindah tempat, permohonan keadilan, dan perlindungan. Doa terkait akhirat, seperti permohonan ampun dan keteguhan hati, juga ada. Semua doa ini pada dasarnya mencakup permohonan kebaikan di dunia dan akhirat. Secara metodologis, kedua mufassir sama-sama menggunakan metode tahlili.

Namun, Al-Tabari lebih banyak merujuk riwayat dalam penafsirannya, sementara Al-Maraghi lebih mengedepankan akal. Dari segi substansi, terdapat persamaan dan perbedaan. Sebagai contoh, pada tafsir surat Al- Baqarah ayat 201 yang memuat doa mohon kebaikan dunia dan akhirat, Al- Tabari menjelaskan makna "kebaikan" tersebut, sedangkan Al-Maraghi menjelaskan makna serta cara mencapainya.

Penelitian Kesebelas dilakukan oleh E. Kerangka Teori atau Kerangka Pemikiran

1. Teori Tafsir dalam Islam

a. Metode Tafsir bil-Ma’tsur (dengan Riwayat)

Metode tafsir bil-ma’tsur adalah penafsiran Al-Quran berdasarkan riwayat-riwayat yang sahih, yang meliputi Al-Quran itu sendiri, hadis Nabi Muhammad SAW, dan atsar (perkataan) dari para sahabat dan tabiin. Dalam metode ini, penafsiran dilakukan dengan merujuk pada teks-teks yang memiliki otoritas tinggi untuk menjaga kemurnian interpretasi. Karena QS.

Al-Anbiya: 87 terkait dengan peristiwa Nabi Yunus, tafsir bil-ma’tsur memainkan peran penting dalam menjelaskan konteks sejarah dan alasan di

(21)

balik doa Nabi Yunus. Tafsir Jalalayn mengandalkan pendekatan bil- ma’tsur dalam beberapa bagiannya untuk memberikan penjelasan tentang peristiwa ini melalui sumber yang terpercaya, yakni tradisi Islam yang sahih.

b. Metode Tafsir bil-Ra'yi (dengan Penalaran)

Tafsir bil-ra'yi adalah pendekatan yang menggunakan akal dan penalaran logis untuk menjelaskan ayat-ayat Al-Quran. Metode ini biasanya diterapkan untuk menafsirkan ayat-ayat yang tidak dijelaskan secara eksplisit dalam riwayat yang tersedia. Dalam Tafsir Jalalayn, metode bil- ra'yi digunakan dengan bijaksana, terutama dalam konteks ayat yang membutuhkan pemahaman linguistik dan interpretasi konteks sosial-budaya pada masa Nabi Yunus. Misalnya, istilah “zhaalimin” dijelaskan lebih lanjut secara gramatikal dan teologis sebagai refleksi dari pengakuan dosa yang mencerminkan sikap rendah hati.

2. Metode Penafsiran dalam Tafsir Jalalayn Karakteristik Tafsir Jalalayn

a. Pendekatan Singkat dan Padat: Tafsir Jalalayn terkenal karena penjelasannya yang langsung ke inti tanpa mengabaikan aspek penting dari ayat. Ini membuatnya ideal bagi pembaca yang membutuhkan penjelasan cepat namun akurat.

b. Fokus pada Aspek Linguistik: Banyak bagian dalam Tafsir Jalalayn yang mengandalkan penjelasan bahasa, seperti makna kata, penggunaan bentuk kata, dan konteks gramatikal. Pada QS. Al-Anbiya: 87, penggunaan kata

“subhaanaka” dan “zhaalimin” dijelaskan untuk memperkuat pemahaman atas kerendahan hati Nabi Yunus.

c. Penggabungan Pendekatan Bil-Ma’tsur dan Bil-Ra’yi: Tafsir Jalalayn sering mengombinasikan pendekatan bil-ma’tsur dengan bil-ra'yi. Ini memungkinkan interpretasi yang lebih komprehensif dan mendalam yang tetap mempertahankan validitas riwayat dan keterlibatan akal untuk menganalisis struktur kalimat serta konteks historis ayat.

(22)

3. Konsep Doa dan Pengampunan dalam Islam

a. Doa sebagai Bentuk Pengakuan dan Ketundukan: Dalam Islam, doa adalah sarana utama untuk berkomunikasi dengan Allah, yang mencakup pengakuan atas dosa, permohonan ampun, serta ketundukan total kepada kehendak-Nya. QS. Al-Anbiya: 87 menjadi contoh yang jelas di mana Nabi Yunus memanjatkan doa dalam keadaan penuh ketundukan dan pengakuan atas kesalahannya.

b. Istighfar dan Pengampunan: Istighfar, atau permohonan ampun, adalah elemen penting dalam Islam untuk membersihkan jiwa dan mendekatkan diri kepada Allah. Dalam ayat ini, doa Nabi Yunus menjadi lambang istighfar yang tulus. Pengampunan Allah terhadap Nabi Yunus mencerminkan pentingnya taubat dan ketundukan sejati di hadapan Allah dalam menghadapi kesulitan dan dosa.

3. Analisis Penafsiran QS. Al-Anbiya: 87 dalam Tafsir Jalalayn A. Isi dan Makna Ayat

QS. Al-Anbiya: 87 berbunyi, "Laa ilaaha illa anta subhaanaka inni kuntu minazh zhaalimin," yang berarti "Tidak ada Tuhan selain Engkau.

Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang zalim."

Ayat ini mengandung tiga unsur utama: pengakuan keesaan Allah (tauhid), tasbih atau pemuliaan terhadap Allah, dan pengakuan kesalahan atau pengakuan dosa.

B. Penafsiran Jalalayn atas Ayat

a) Dalam Tafsir Jalalayn, istilah “minazh zhaalimin” (orang-orang yang zalim) ditafsirkan sebagai pengakuan Nabi Yunus atas kesalahannya meninggalkan kaumnya sebelum mendapatkan izin dari Allah. Dengan mengucapkan doa ini, Nabi Yunus menunjukkan kesadaran penuh akan tanggung jawabnya dan ketergantungan mutlak pada rahmat Allah.

Tafsir Jalalayn menyoroti bagaimana ungkapan ini bukan hanya pengakuan dosa, tetapi juga sebagai bentuk kerendahan hati dan penyerahan diri.

(23)

b) Frasa “subhaanaka” digunakan dalam konteks tasbih, yang berarti memuliakan Allah dari segala sifat yang tidak layak bagi-Nya.

Penggunaan tasbih oleh Nabi Yunus mengindikasikan pengakuannya bahwa hanya Allah yang sempurna dan bebas dari segala kekurangan.

Ini memperkuat nilai spiritual dari doa Nabi Yunus sebagai bentuk pengakuan atas kekurangan manusia di hadapan kebesaran Allah.

C. Makna Spiritualitas dalam Doa

Doa ini mencerminkan dimensi spiritual yang mendalam di mana seorang nabi menunjukkan kerendahan hati dan penyerahan penuh kepada Allah. Ini adalah bentuk komunikasi yang sangat pribadi antara hamba dan Tuhannya. Melalui doa ini, Tafsir Jalalayn menekankan aspek spiritual dari kesadaran akan kesalahan dan pentingnya berbalik kepada Allah dengan sepenuh hati, yang dapat dijadikan teladan bagi umat Islam dalam menjalani kehidupan yang penuh ujian.

F. Metode Penelitian 1. Jenis Penelitian

Penelitian ini biasanya termasuk dalam kategori penelitian kualitatif deskriptif dengan pendekatan studi literatur atau kepustakaan.

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji teks tafsir, memahami konteksnya, dan menjelaskan kandungan doa Nabi Yunus menurut Tafsir Jalalayn.

2. Sumber Data

Data utama dalam penelitian ini adalah sumber data primer berupa Tafsir Jalalayn, yang dijadikan rujukan untuk menginterpretasi makna ayat. Selain itu, sumber data sekunder dapat meliputi berbagai kitab tafsir lainnya, seperti Tafsir al-Misbah, Tafsir Ibn Katsir, atau literatur tambahan yang membahas tentang doa Nabi Yunus, serta referensi mengenai metode tafsir.

3. Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini biasanya berupa dokumentasi, yaitu mengumpulkan teks dan referensi dari kitab-kitab

(24)

tafsir, khususnya Tafsir Jalalayn, serta kitab tambahan lainnya. Metode ini melibatkan pembacaan, pencatatan, dan pengorganisasian informasi yang berkaitan dengan interpretasi ayat dalam sumber-sumber tersebut.

4. Metode Analisis Data

Metode analisis yang digunakan adalah analisis isi atau content analysis. Dalam hal ini, peneliti menganalisis dan menafsirkan teks berdasarkan konteks dan makna yang disampaikan dalam Tafsir Jalalayn. Pendekatan analisis ini memungkinkan peneliti untuk memahami doa Nabi Yunus dari sudut pandang tematik, linguistik, serta konteks historis dan teologisnya sesuai penjelasan yang disajikan oleh Jalalayn.

G. Rencana Sistematika Pembahasan I. Pendahuluan

Latar belakang masalah Rumusan Masalah Tujuan Masalah Kegunaan Masalah

a. kegunaan teoritis b. kegunaan praktis

II. 1. Teori Tafsir dalam Islam

a. Metode Tafsir bil-Ma’tsur (dengan Riwayat) b. Metode Tafsir bil-Ra'yi (dengan Penalaran) 2. Metode Penafsiran dalam Tafsir Jalalayn a. Karakteristik Tafsir Jalalayn

1) Pendekatan Singkat dan Padat 2) Fokus pada Aspek Linguistik

3) Penggabungan Pendekatan Bil-Ma’tsur dan Bil-Ra’yi 3. Konsep Doa dan Pengampunan dalam Islam

1) Doa sebagai Bentuk Pengakuan dan Ketundukan 2) Istighfar dan Pengampunan

4. Analisis Penafsiran QS. Al-Anbiya: 87 dalam Tafsir Jalalayn

(25)

a. Isi dan Makna Ayat

b. Penafsiran Jalalayn atas Ayat 5. Makna Spiritualitas dalam Doa III. Metode Penelitian

1. Jenis Penelitian 2. Sumber Data

3. Teknik Pengumpulan Data 4. Metode Analisis Data IV. Hasil

V. Kesimpulan

H. Rencana Waktu Penelitian (Time Schedule)

No Tahapan Penelitian Bula

n I

Bula n II

Bula n III

Bula n IV

Bula n V

Bula n VI

1 Penentuan dan Perumusan Masalah 

2. Kajian Literatur dan Pengumpulan Referensi

 

3. Penyusunan Kerangka Teoretis dan Metodologi

 

4. Pengumpulan Data Tafsir Jalalayn  

5. Analisis data dan interpretasi  

6. Penulisan Laporan Awal  

7 Revisi Laporan Awal 

8 Penyusunan Laporan Akhir  

9 Seminar Hasil dan Finalisasi 

(26)

10 Penyelesaian dan Publikasi Penelitian

I. Rencana Krengka Outline Skripsi (Rencana Penulisan Garis Besar Per Bab dan Sub Bab, Sub Bab)

Daftar Pustaka I. Pendahuluan

Latar belakang masalah Rumusan Masalah Tujuan Masalah Kegunaan Masalah

c. kegunaan teoritis d. kegunaan praktis

II. 1. Teori Tafsir dalam Islam

c. Metode Tafsir bil-Ma’tsur (dengan Riwayat) d. Metode Tafsir bil-Ra'yi (dengan Penalaran) 2. Metode Penafsiran dalam Tafsir Jalalayn b. Karakteristik Tafsir Jalalayn

4) Pendekatan Singkat dan Padat 5) Fokus pada Aspek Linguistik

6) Penggabungan Pendekatan Bil-Ma’tsur dan Bil-Ra’yi 3. Konsep Doa dan Pengampunan dalam Islam

3) Doa sebagai Bentuk Pengakuan dan Ketundukan 4) Istighfar dan Pengampunan

4. Analisis Penafsiran QS. Al-Anbiya: 87 dalam Tafsir Jalalayn c. Isi dan Makna Ayat

d. Penafsiran Jalalayn atas Ayat 5. Makna Spiritualitas dalam Doa III. Metode Penelitian

5. Jenis Penelitian

(27)

6. Sumber Data

7. Teknik Pengumpulan Data 8. Metode Analisis Data IV. Hasil

V. Kesimpulan

Referensi

Dokumen terkait

19 Sedangkan menurut ‘Abd al- Satta>r Sa‘i>d dalam kitabnya Al-Madkhal ila> al-Tafsi>r al-Mawd}u>‘iy, tafsir tematik adalah tafsir yang membahas tentang

Tesis ini berjudul Konsep Pemuda dalam al-Qur’an (Studi Tafsir Tematik), latar belakang penelitian ini adalah Perbincangan seputar pemuda selalu menarik dan mengundang

Penelitian ini menggunakan metode kualitatif, dengan menggunakan pendekatan tafsir tematik. Referensi metodologis utamanya ialah karya Abd Hayy al-Farmawi. Hasil penelitian

Adam Dalam Al- Qur’an (Studi Pendekatan

Paradigma dari Tafsir Tematik al-Qur‟an tentang Hubungan Sosial Antarumat Beragama dan Tafsir At-Tanwir, ditemukan bahwa kedua tafsir kelembagaan Muhammadiyah tersebut

Dari pengertian tersebut dapat dipahami bahwa yang dimaksud dengan metode tafsir mauḍu’ī ini adalah tafsir yang menjelaskan beberapa ayat al-Qur’an mengenai

Menyatakan dengan sebenarnya bahwa skripsi yang saya yang berjudul: “Irhâb dalam Al-Qur’an (Kajian Tafsir Tematik dengan Pendekatan Semantik) ” adalah benar-benar

Metode yang digunakan dalam penyusunan Tafsir al-Qur’an Tematik Kementerian Agama RI ini adalah metode tematik, atau dikenal juga dengan istilah maudhu’i..