MAKALAH
PELANGGARAN HAK ASASI MANUSIA DALAM BIDANG EKONOMI, SOSIAL, DAN BUDAYA
(KONFLIK AGRARIA DI DESA WADAS)
Disusun Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Hukum HAM
Dosen Pengampu: Prof. Dr. Husni Jalil, S.H., M.Hum
Oleh:
Namira Meilina (2403201010002) Cut Sarah Maulida (2403201010038) Nurul Fitria Zulmi (2403201010034)
Munawwarah (2403201010042) Suci Nazilla (2403201010039)
PROGRAM STUDI MAGISTER ILMU HUKUM FAKULTAS HUKUM
UNIVERSITAS SYIAH KUALA BANDA ACEH
2025
KATA PENGANTAR
Syukur Alhamdulillah penulis serahkan kepada Allah SWT. Karena berkat rahmat dan hidayah-Nya maka kami dapat menyelesaikan makalah berjudul “Sarana Berpikir Ilmiah dan Berperilaku Ilmiah”. Shalawat beriring salam disampaikan kepada kepangkuan Rasulullah Muhammad SAW yang telah mengantarkan umatnya dari alam kebodohan ke alam yang penuh ilmu pengetahuan.
Penyusunan makalah ini merupakan tugas dari mata kuliah Hukum HAM. Pada semester II (genap) Program Studi Magister Ilmu Hukum, Fakultas Hukum, Universitas Syiah Kuala.
Selama penyusunan makalah ini kami banyak mendapatkan arahan dan bimbingan dari dosen mata kuliah Hukum HAM. Oleh karena itu penulis menyampaikan terima kasih kepada Prof. Dr. Husni Jalil, S.H., M.Hum yang telah memberikan tugas ini sehingga dapat menambah pengetahuan dan wawasan sesuai dengan bidang studi yang kami tekuni.
Kami mengharapkan kritik dan saran yang konstruktif dari rekan-rekan pembaca.
Atau dari pihak lain demi kesempurnaan makalah ini.
Banda Aceh, 20 Februari 2025
Kelompok 1
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR... ii
DAFTAR ISI... iii
BAB I PENDAHULUAN... 1
A. Latar Belakang... 1
B. Rumusan Masalah... 5
C. Tujuan Penulisan... 5
BAB II PEMBAHASAN... 6
A. Aturan Mengenai Hak Asasi Manusia (HAM) Dalam Bidang Ekonomi, Sosial, Dan Budaya (EKOSOB) di Indonesia... 6
B. Hak-Hak EKOSOB yang Dilanggar Dalam Konflik Agraria di Desa Wadas... 10
C. Upaya Penyelesaian Kasus yang Dapat Dilakukan Dalam Konflik Agraria di Desa Wadas... 14
BAB III PENUTUP... 19
A. Kesimpulan... 19
B. Saran... 20
DAFTAR PUSTAKA... 22
BAB I PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Perlindungan Hak Asasi Manusia (untuk selanjutnya disebut HAM) di bidang Ekonomi, Sosial, dan Budaya (untuk selanjutnya disebut EKOSOB) di Indonesia diatur oleh berbagai instrumen hukum, baik di tingkat nasional maupun internasional.
Pandangan bahwa HAM terutama mencakup hak-hak sipil dan politik, serta keberatan untuk menonjolkan hak-hak ekonomi, sosial, dan budaya, banyak muncul di negara-negara Barat, khususnya di Amerika Serikat.
Di sisi lain, hak-hak ekonomi, sosial, dan budaya diperjuangkan dengan gigih oleh Uni Soviet dan sekutunya setelah Perang Dunia II, dengan dukungan kuat dari negara-negara berkembang. Kedua kategori HAM ini kemudian dimasukkan ke dalam Deklarasi Universal Hak-hak Asasi Manusia sebagai hasil kompromi antara negara-negara "Barat" dan "Timur". Selanjutnya, hak-hak ini dirumuskan secara hukum dalam dua kovenan, yaitu: Kovenan Internasional Hak-hak Sipil dan Politik (International Covenant on Civil and Political Rights) dan Kovenan Internasional Hak-hak Ekonomi, Sosial, dan Budaya (International Covenant on Economic, Social, and Cultural Rights).1
Dalam Prinsip-Prinsip Limburg dimuat di dalamnya sejumlah prinsip penegakkan hukum oleh badan peradilan dalam upaya pemenuhan hak-hak ekonomi, sosial dan budaya, sebagaimana.
Prinsip 17, pada tingkat nasional, negara pihak seharusnya menggunakan semua sarana yang tepat, termasuk tindakan-tindakan legislatif, administratif, yudisial, ekonomi, sosial dan pendidikan, sesuai dengan sifat dari hak-hak untuk memenuhi kewajiban mereka berdasarkan Kovenan ini.
Prinsip 19, negara pihak seharusnya menyediakan upaya perbaikan efektif yang meliputi, apabila tepat, upaya perbaikan yudisial.
Prinsip 78, dalam melaporkan langkah-langkah hukum yang diambil untuk memberikan pengaruh pada Kovenan, negara pihak seharusnya tidak hanya menggambarkan suatu ketentuan legislatif yang relevan. Mereka seharusnya merinci,
1Anak Agung Sri Utari, Penegakan Hukum Hak-Hak Ekonomi, Sosial, dan Budaya (Denpasar : Fakultas Hukum Universitas Udayana: 2015), Hlm. 3.
apabila tepat, upaya perbaikan lewat pengadilan, prosedur administratif dan tindakan-tindakan lain yang telah diambil untuk memberlakukan hak-hak tersebut dan praktek-praktek berdasarkan upaya perbaikan dan prosedur tersebut.2
Sebelum tahun 2005, hak-hak ekonomi, sosial, dan budaya telah juga diterima dalam sistem hukum perundang-undangan Indonesia, yakni di dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 39 Tahun 1999 Tentang Hak Asasi Manusia (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 165, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3886). Penjelasan Umum Undang-Undang ini menjelaskan:
Dalam Undang-undang ini, pengaturan mengenai HAM ditentukan dengan berpedoman pada Deklarasi Hak Asasi Manusia Perserikatan Bangsa-Bangsa, Konvensi Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi Terhadap Wanita, Konvensi Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang Hak-hak Anak, dan berbagai instrumen internasional lain yang mengatur mengenai hak asasi manusia.Materi Undang-undang ini disesuaikan juga dengan kebutuhan hukum masyarakat dan pembangunan hukum nasional yang berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945.
Undang-Undang Dasar 1945 menjelaskan pada Pasal 27 yaitu menjamin hak setiap warga negara untuk mendapatkan pekerjaan dan penghidupan yang layak. Kemudian pada Pasal 28 huruf H yaitu menjamin hak setiap orang untuk hidup layak, mendapatkan tempat tinggal, dan mendapatkan pelayanan kesehatan dan pada Pasal 28 huruf I yang menyatakan bahwa hak asasi manusia tidak dapat dikurangi dalam keadaan apapun.
Undang-Undang No. 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia (UU HAM) merupakan salah satu landasan hukum penting di Indonesia yang mengatur berbagai HAM, termasuk EKOSOB pada Pasal 5 yang menyatakan bahwa setiap orang berhak untuk bebas dari diskriminasi atas dasar apapun, termasuk ras, warna kulit, jenis kelamin, bahasa, agama, pandangan politik, dan status sosial. Selanjutnya pada Pasal 18 bahwa negara bertanggung jawab untuk memberikan perlindungan terhadap hak asasi manusia, termasuk hak ekonomi, sosial, dan budaya.
Pandangan sosiologi terhadap konflik menggambarkan masyarakat sebagai suatu sistem sosial beserta komponen-komponen yang memiliki kepentingan berbeda. Dalam perspektif ini, munculnya konflik ketika salah satu komponen mengupayakan untuk mengatasi atau menguasai komponen lainnya untuk memenuhi kepentingannya atau
2Ibid, Hlm. 8.
memperoleh keuntungan sebesar-besarnya (Raho, 2007). Teori konflik Lewis A. Coser menjelaskan mengenai konflik antara dua kelompok dapat memperkuat struktur internal masing-masing kelompok.
Pada awal pemikiran lahirnya konsepsi Duham (1948) dan dua konvenan utama SIPOL dan EKOSOB menunjukkan adanya kecenderungan negara dalam melanggar HAM. HAM pada dasarnya adalah kumpulan peraturan yang dibuat guna melindungi warga negara dari potensi penindasan, pembatasan, atau penahanan oleh negara, sehingga memberikan kebebasan bergerak kepada warga negara, yang berarti bahwa pembatasan tertentu dikenakan pada negara untuk melindungi hak-hak warga negara dari kekuasaan yang sewenang-wenang.
Konflik agraria yang banyak terjadi seolah tidak menjadi pembelajaran bersama, karena sampai saat ini masih terus terjadi. Yang terbaru dan mendapatkan perhatian banyak pihak adalah konflik agraria yang terjadi di Desa Wadas. Konflik tersebut bermula dari rencana pemerintah untuk membangun bendungan di Kecamatan Bener.
Bendungan tersebut memerlukan material berupa batuan andesit yang mana oleh pemerintah, batuan tersebut diambil di Desa Wadas. Bendungan bener merupakan Proyek Strategis Nasional yang akan memasok sebagaian besar kebutuhan air ke Bandara Yogyakarta International Airport di Kabupaten Kulon Progo, Yogyakarta.
Pertambangan batuan andesit di Desa Wadas dinilai janggal karena tidak melihat Rencana Tata Ruang dan Wilayah Kabupaten Purworejo yang justru merekomendasikan lokasi lain.Awal mula konflik terjadi karena keluarnya rekomendasi AMDAL dari Kementrian PUPR untuk pertambangan batuan andesit di Desa Wadas yang justru berbalik dengan rekomendasi Rencana Tata Ruang dan Wilayah Kabupaten Purworejo.
Perjalanan panjang penuh perjuangan masyarakat Desa Wadas dari tahun 2013 mencapai puncak pada Februari tahun 2022 lalu, ketika isu wadas menjadi isu nasional karena memperlihatkan bentrokan yang terjadi antara aparat kepolisian dengan masyarakat Wadas yang berakhir dengan penangkapan puluhan masyarakat Desa Wadas.
Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) menyampaikan telah terjadi pelanggaran HAM akibat bentrok yang terjadi, yang menyebabkan jatuhnya korban dari pihak masyarakat Wadas yaitu mengalami luka-luka. Selain itu terdapat penyitaan terhadap barang milik warga yang dilakukan oleh aparat keamanan.
Pada tanggal 8 Februari 2022 dilakukan dilakukan pengukuran tanah oleh Kantor Pertanahan Kabupaten Purworejo dan Balai Besar Wilayah Sungai Serayu Opak yang dibantu oleh Aparat Kepolisian Gabungan Polda Jawa Tengah (selanjutnya disebut Tim
Pengukuran Lahan). Pengukuran dimaksud dilakukan pada bidang lahan yang telah disetujui oleh pemiliknya untuk dijadikan lokasi penambangan quarry batuan andesit guna pembangunan Bendungan Bener.
Dari sejumlah keterangan saksi dan video yang diperoleh, Komnas HAM RI menemukan adanya tindakan kekerasan pada saat penangkapan oleh aparat kepolisian pada Selasa, tanggal 8 Februari 2022 terhadap warga Wadas yang menolak quarry.
Akibat dari tindakan kekerasan tersebut, sejumlah warga mengalami luka pada bagian kening, lutut dan betis kaki, dan sakit pada beberapa bagian tubuh lainnya.
Dalam konteks pengukuran tersebut terjadi penggunaan kekuatan secara berlebihan (Excessive Use of Force)oleh aparat kepolisian Polda Jawa Tengah.
Dari identifikasi pelaku, tindakan kekerasan tersebut mayoritas dilakukan oleh petugas berbaju sipil/preman pada saat proses penangkapan. Berdasarkan temuan Komnas HAM RI terdapat 67 orang warga yang ditangkap dan dibawa ke Polres Purworejo pada 8 Februari 2022, dan baru dikembalikan ke rumah pada 9 Februari 2022.
Komnas HAM RI menemukan beberapa warga mengalami ketakutan paska peristiwa tanggal 8 Februari 2022 tersebut, hingga sampai sabtu dan minggu (4-5 hari) setelah peristiwa itu tidak berani pulang ke rumah. Selain itu, ditemukan potensial traumatik, khususnya bagi perempuan dan anak.
Merespon terjadinya peristiwa tersebut, Komnas HAM RI membentuk Tim Pemantauan dan Penyelidikan untuk melakukan investigasi atas kasus tersebut, sesuai dengan mandat Komnas HAM Pasal 89 ayat (3), Undang-undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia.3
Dalam keterangan pers nomor : 006/HM.00/II/2022 mengenai Ringkasan Eksekutif Pemantauan dan Penyelidikan Penggunaan Kekuatan secara Berlebihan (Excessive Use of Force) dalam Proses Pengukuran Lahan di Desa Wadas 8 Februari 2022 menjelaskan bahwa sebelum adanya peristiwa kekerasan tanggal 8 Februari 2022, sebelumnya terdapat pengabaian hak FPIC (Free and Prior Informed Consent) bahwa masyarakat memiliki hak untuk memberikan atau tidak memberikan persetujuan mereka atas setiap
3https://www.suarakeadilan.org/id/publikasi/publikasi/buletin/36-publikasi/suara-keadilan/201-pe rs-rilis-komnas-ham-ri-ringkasan-eksekutif-pemantauan-dan-penyelidikan-penggunaan-kekuatan-seca ra-berlebihan-excessive-use-of-force-dalam-proses-pengukuran-lahan-di-desa-wadas-8-februari-2022 diakses pada 12 Februari 2025 Pukul 10.07 WIB.
proyek quarry batuan andesit, yang berpotensi menimbulkan dampak terhadap lahan, mata pencaharian, dan lingkungan mereka.4
Konflik agraria yang terjadi di Desa Wadas melibatkan dua kepentingan yang berbeda. Pemerintah menilai bahwa pertambangan batuan andesit yang akan dilakukan di Desa Wadas akan memberikan banyak manfaat bagi warga sekitar. Sementara itu masyarakat Desa Wadas menyatakan bahwa pertambangan hanya akan merusak lingkungan tempat mereka tinggal, tempat mereka mencari nafkah, dan tempat mereka hidup. Untuk itu tidak ada alasan untuk mereka menyetujui pertambangan tersebut.
Konflik panjang yang terjadi bahkan tidak hanya merusak lingkungan Desa Wadas, kerukunan antarmasyarakat terganggu dan terpecah karena adanya pertambangan yang akan dilakukan.
B. IDENTIFIKASI MASALAH
1. Apa saja aturan mengenai Hak Asasi Manusia (HAM) dalam bidang Ekonomi, Sosial, dan Budaya (EKOSOB) di Indonesia?
2. Apa saja hak EKOSOB yang dilanggar dalam konflik tambang di Desa Wadas?
3. Bagaimana upaya penyelesaian kasus yang dapat dilakukan dalam konflik tambang di Desa Wadas?
C. TUJUAN PENULISAN
Adapun tujuan yang ingin dicapai dalam penulisan ini adalah sebagai berikut : a. Untuk mengetahui aturan mengenai Hak Asasi Manusia (HAM) dalam bidang
Ekonomi, Sosial, dan Budaya (EKOSOB) di Indonesia.
b. Untuk mengetahui hak EKOSOB yang dilanggar dalam konflik tambang di Desa Wadas.
c. Untuk mengetahui upaya penyelesaian kasus yang dapat dilakukan dalam konflik tambang di Desa Wadas.
4https://www.komnasham.go.id/files/20220224-keterangan-pers-nomor-006-hm-00-$YJR6AOIO.
pdf diakses pada 12 Februari 2025 Pukul 10.120 WIB.
BAB II PEMBAHASAN
A. Aturan Mengenai Hak Asasi Manusia (HAM) Dalam Bidang Ekonomi, Sosial, Dan Budaya (EKOSOB) Di Indonesia.
Negara Indonesia merupakan negara hukum sebagaimana tertuang dalam Pasal 1 ayat (3) UUD RI 1945 yang menjadi alasan kuat bahwa penghormatan dan jaminan perlindungan terhadap Hak Asasi Manusia sebagaimana salah satu ciri negara hukum tidak dapat diabaikan. Pada prinsipnya persoalan perlindungan dan pemenuhan Hak Asasi Manusia (HAM) dalam semua aspek termasuk hak ekonomi, sosial dan budaya (ekosob) merupakan bagian dari tujuan pendirian suatu negara, bahkan dalam perspektif Teori Locke Perlindungan hak-hak kodrati (hak asasi manusia) merupakan dasar pendirian suatu negara.5 Perlindungan berupa pencegahan dan jaminan bahswa tidak boleh ada pihak lain yang melanggar Hak Ekosob milik orang lain, jika terjadi pelanggaran maka yang dirugikan harus mendapatkan Jaminan Legal remedies.
Pemenuhan hak yaitu suatu negara harus memperkuat akses sumber daya kepada masyarakat dan harus dijalankan sebagaimana mestinya.6
Sejauh ini pemerintah telah meratifikasi beberapa perjanjian Internasional, diantaranya adalah The international Convention economic Sosial and Culture Rights (ICESCR) melalui Undang-Undang No. 11 Tahun 2005 tentang pengesahan Kovenan Hak Ekonomi, Sosial, dan Budaya, melalui intrumen pengikatan diri terhadap perjanjian tersebut tentunya akan mengakibatkan pemerintah Indonesia harus mengimplementasikan ketentuan dan substansi ICESCR dalam Perundang-undangannya.
Implementasi dalam hal ini dapat berupa pemenuhan kewajiban dalam membuat peraturan yang melindungi hak asasi warga negara, dapat pula berupa efektivitas dari peraturan yang telah ada sebelumnya.7
Pemerintah Indonesia meratifikasi Kovenan dengan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2005 tentang Pengesahan Kovenan Internasional tentang Hak Ekonomi, Sosial
5Yahya Ahmad Zein. 2012. Problematika Hak Asasi Manusia (HAM). Yogyakarta: Liberty Yogyakarta. Hal. 57
6Anisa Cahyani dan Awallia Septiyana P, “Meninjau Respon Masyarakat terkait Pemenuhan Hak Ekosob Melalui Kebijakan Protokol Kesehatan Di Masa Pandemi”, Seminar Nasional Hukum
Unviversitas Negeri Semarang, 7(1), 2021, hlm. 69.
7Iqbal, “Implementasi Hak Ekonomi Sosial dan Budaya Masyarakat Adat dalam Hukum Ham Internasional Di Indonesia”, Jurnal Ilmu Hukum, 5(3), 2011, hlm. 7.
dan Budaya yang ditandatangani pada 28 Oktober 2005 dan diundangkan pada Lembar Negara Tahun 2005 Nomor 118, Sebagai hak positif cara pemenuhannya diukur dengan seberapa jauh kehadiran tanggung jawab negara dalam pemenuhan hak-hak yang masuk dalam kategori Ekosob.8 Ratifikasi ini mempertegas tanggung jawab memenuhi kebutuhan minimal hak-hak ekosob yaitu kemampuan negara menyediakan prasarana dan keahlian yang minimal dalam fasilitas penyediaan pangan, pendidikan, kesehatan, perumahan dan pekerjaan yang memungkinkan bagi setiap individu anggota komunitas di satu wilayah negara baik di tingkat pusat maupun di daerah-daerah untuk hidup minimal dengan layak (right to livelihood).9 Ratifkasi ini memaksa negara untuk benar-benar melaksanakan perintah konstitusi dalam mensejahterakan rakyatnya.
The international Convention economic Sosial and Culture Rights (ICESCR) adalah sumber utama bagi perlindungan hak, sosial dan budaya yang terdiri dari 31 pasal yang diatur dalam 6 bagian. Inti dari konvensi ini terletak pada Bagian III (pasal 6-15) yang menguraikan hak-hak yang dilindungi, yaitu: hak atas pekerjaan, hak atas kondisi kerja yang layak (pasal 7), hak untuk bergabung dan membentuk serikat buruh (pasal 8), hak atas jaminan social (pasal 9), hak atas perlindungan bagi keluarga (pasal 10), hak atas standar hidup yang layak, termasuk hak atas pangan, pakaian, dan tempat tinggal (pasal 11), hak atas kesehatan (pasal 12), hak atas pendidikan (pasal 13), dan hak atas kebudayaan (pasal 15).
Adapun dasar pertimbangan pengesahan Hak-hak Ekonomi, social dan budaya dengan undang-undang, sebagaimana dikemukakan dalam menimbang undang-undang Nomor 11 Tahun 2005, adalah:
a. Bahwa hak asasi manusia merupakan hak dasar yang secara kodrati melekat pada diri manusia, bersifat universal dan langgeng, dan oleh karena itu, harus dilindungi, dihormati, dipertahankan, dan tidak boleh diabaikan, dikurangi, atau dirampas oleh siapapun;
b. Bahwa bangsa Indonesia sebagai bagian dari masyarakat internasional, menghormati, menghargai, dan menjunjung tinggi prinsip dan tujuan Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa serta Deklarasi Universal Hak-hak Asasi Manusia;
8Ismail Hasani. 2013.Dinamika Perlindungan Hak Konstitusional Warga: Mahkamah Konstitusi sebagai Mekanisme Nasional baru Pemajuan dan Perlindungan Hak Asasi Manusia.Jakarta: Pustaka Masyarakat Setara. Hal. 383
9Rafendi Djamin. 2007.Penguatan Status Legal Hak-Hak Ekonomi, Sosial dan Budaya Dalam Konstitusi dan Sistem Hukum Nasional.Yogyakarta.
c. Bahwa Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa, dalam sidangnya tanggal 16 Desember 1966 telah mengesahkan International Covenant on Economic, Social and Cultural Rights (Kovenan Internasional tentang Hak¬-hak Ekonomi, Sosial dan Budaya);
d. Bahwa instrumen internasional sebagaimana dimaksud pada huruf c pada dasarnya tidak bertentangan dengan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, sesuai dengan sifat negara Republik Indonesia sebagai negara hukum yang menjunjung tinggi harkat dan martabat manusia dan yang menjamin persamaan kedudukan semua warga negara di dalam hukum, dan keinginan bangsa Indonesia untuk secara terus¬ menerus memajukan dan melindungi hak asasi manusia dalam kehidupan berbangsa dan bernegara;
e. Bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a, huruf b, huruf c, dan huruf d perlu membentuk Undang-Undang tentang Pengesahan International Covenant on Economic, Social and Cultural Rights (Kovenan Internasional tentang Hak-hak Ekonomi, Sosial dan Budaya).10
Prinsip-prinsip penting pada Ekosob adalah:
1. Prinsip pemenuhan maju (progresive realisation) dimaknai sebagai negara diberi peluang untuk memenuhi hak ekonomi, sosial dan budaya secara bertahap namun harus bergerak maju dan bukan mundur. Pemenuhan tahap ini disesuaikan dengan kapasitas ekonomi di Negara Pihak.
2. Prinsip non – diskriminasi dimaknai bahwa pemenuhan atas hak ekonomi, social dan budaya tidak boleh dilakukan dengan membeda-bedakan orang atas dasar ras, warna kulit, jenis kelamin, bahasa, agama, dan identitas lainnya.
3. Prinsip tanggung jawab negara dimaknai sebagai pemenuhan atass hak ekonomi, sosial dan budaya adalah kewajiban negara.
Ketiga prinsip yang diuraikan di atas dapat ditemukan pada Pasal 2 Kovenan Ekosob yang berbunyi:
(1) Setiap negara pihak pada Kovenan ini berjanji untuk mengambil langkah-langkah, baik secara individual maupun melalui bantuan dan kerja sama internasional, khususnya dibidang ekonomi dan teknis sepanjang tersedia sumber dayanya, untuk secara progresif mencapai perwujudan penuh dari hak
10Anak Agung Sri Utari, 2015 “Penegakan Hukum Hak-Hak Ekonomi, Sosial, dan Budaya”, Universitas Udayana, Denpasar, hlm. 4-5.
yang diakui oleh Kovenan ini dengan cara-cara yang sesuai, termasuk dengan pengambikan langkah-langkah legislatif.
(2) Negara pihak pada Kovenan ini berjanji untuk menjamin bahwa hak yang diatur dalam Kovenan ini akan dilaksanakan tanpa diskriminasi apapun seperti ras, warna kulit, jenis kelamin, bahasa, agama, politik atau pendapat lainnya, asal – usul kebangsaan atau sosial, kekayaan, kelahiaran atau status lainnya.
Secara kategoris, hak-hak yang diakui dalam ekosob dibagi dalam 5 kelompok, yaitu:
Kelompok Pertama adalah hak atas dan dalam pekerjaan. Beberapa hak yang termasuk kelompok ini antara lain hak atas pekerjaan; hak atas pembinaan dalam rangka mencari pekerjaan; hak atas kondisi kerja yang layak dan adil yang di dalamnya termasuk hak atas upah yang layak untuk dirinya dan keuarganya, kondisi kerja yang aman dan sehat, kesempatan yang sama untuk promosi, hak atas istirahat dan liburan serta jam kerja yang layak; hak untuk membentuk dan/atau bergabung ke serikat pekerja termasuk hak untuk melakukan mogok kerja.
Kelompok Keduaadalah terkait jaminan perlindungan. kategori haknya antara lain hak atas jaminan sosial termasuk asuransi sosial; perlindungan khusus bagi keluarga termasuk bagi ibu yang akan melahirkan, hak ini terkait hak cuti dengan gaji yang memadai.
Kelompok Ketiga adalah kehidupan yang layak. Kategori haknya antara lain hak atas standar kehidupan yang layak bagi diri dan keluarga; hak bebas dari kelaparan; hak atas standar tertinggi pemenuhan fasilitas kesehatan fisik dan mental termasuk penurunan angka kematian bayi dan perkembangan anak yang baik, perbaikan fasilitas kesehatan dalam dunia industri, dan pencegahan penyebaran penyakit endemik menular.
Kelompok Keempat adalah pendidikan kategori haknya antara lain hak atas pendidikan, termasuk promosi nilai-nilai partisipasi aktif, saling pengertian antarmasyarakat, toleransi dan persahabatan antarbangsa; pembiayaan pendidikan termasuk pendidian dasar secara gratis, pendidikan lainnya yang dipenuhi secara bertahap menuju gratis, pendidikan tinggi yang tersedia dan dapat diakses oleh masyarakat dan pengembangan sistem beasiswa; hak dan kebebasan orang tua untuk memilih sekolah bagi anak-anaknya; dan kovenan meminta kepada negara pihak untuk memenuhi pendidikan dasar gratis dalam jangka waktu dua tahun setelah ratifikasi.
Kelompok Kelima adalah partisipasi budaya. Setiap orang meiliki hak dan kebebasan untuk berpartisipasi dalam kehidupan budaya menikmati hasil dari kemajuan
ilmu pengetahuan; hak atas perlindungan dan penikmatan atas kekayaan intelektual; dan hak atas kebebasan melakukan kegiatan ilmiah.
B. Hak Ekosob Yang Dilanggar Dalam Konflik Tambang Di Desa Wadas.
Konflik agraria yang terjadi di Desa Wadas, Kecamatan Bener, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah menjadi perhatian publik. Penyebab terjadinya konflik agraria tersebut adalah sebagian warga menolak rencana aktivitas penambangan batu andesit.
Penolakan tersebut ditandai dengan serangkaian aksi protes yang berujung bentrokan dengan aparat yang bersenjata lengkap. Kejadian tersebut dinyatakan sebagai konflik agraria karena ada proses 2 (dua) proyek pengadaan tanah untuk kepentingan umum.
Pertama adalah pengadaan tanah untuk kepentingan umum dengan tujuan pembangunan bendungan, dan proyek kedua adalah pengadaan tanah untuk kepentingan umum yaitu penambangan batu andesit yang digunakan untuk membangun proyek pertama (Bendungan Bener). Pilihan pemerintah untuk mengedepankan tindakan represif melalui aparat berujung pada konflik antara aparat dengan warga Desa Wadas yang menolak proyek penambangan. Solusi yang dianggap paling menguntungkan setiap pihak sangat dibutuhkan agar kebijakan Proyek Strategis Nasional (selanjutnya disebut PSN) Bendungan Bener yang sangat bermanfaat itu tujuannya dapat segera terbangun dengan meminimalkan konflik agrarian.
Beberapa pasal UU No. 2 Tahun 2012 tentang Pengadaan Tanah bagi Pembangunan Untuk Kepentingan Umum (selanjutnya disebut UU PT) telah memberikan gambaran umum terkait pengadaan tanah untuk kepentingan umum, yaitu definisi-definisi penting dalam pelaksanaan pengadaan tanah untuk kepentingan umum dalam Pasal 1 angka 2. Berdasarkan pasal tersebut, pengadaan tanah adalah kegiatan menyediakan tanah dengan cara memberikan ganti kerugian yang layak dan adil kepada pihak yang berhak. Selanjutnya definsi kepentingan umum diatur dalam Pasal 1 angka 6, kepentingan umum disebutkan sebagai kepentingan bangsa, negara, dan masyarakat yang harus diwujudkan oleh pemerintah dan digunakan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat. Pengadaan tanah untuk kepentingan umum hanya dapat diselenggarakan oleh pemerintah, seperti yang dinyatakan dalam Pasal 6, untuk membangun kepentingan umum yang telah ditentukan (dinyatakan dalam Pasal 10) serta bermanfaat bagi
masyarakat dan masyarakat yang tanahnya diambil untuk kepentingan umum diberikan ganti kerugian yang layak.11
Pasal 10 UU PT merupakan kunci dari konflik agraria yang terjadi di Desa Wadas, yaitu terkait pengaturan 18 kegiatan pembangunan yang menjadi objek pengadaan tanah bagi pembangunan untuk kepentingan umum. Oleh karena itu, pengadaan tanah menggunakan mekanisme yang tersedia dalam UU PT hanya dibatasi pada 18 objek kepentingan umum, selain 18 objek tersebut pengadaan tanah dilakukan dengan konsep jual beli dan tidak dapat dipaksakan menggunakan mekanisme pengadaan tanah berdasarkan UU PT.
Bendungan Bener termasuk salah satu objek pengadaan tanah bagi pembangunan untuk kepentingan umum yaitu dinyatakan dalam Pasal 10 huruf c, sedangkan proyek penambangan batu andesit di Desa Wadas yang rencananya sebagai proyek penunjang pembangunan Bendungan Bener tidak termasuk objek pengadaan tanah bagi pembangunan untuk kepentingan umum. Beberapa pasal dari UU PT tersebut dapat memberikan gambaran bahwa pengadaan tanah untuk kepentingan umum hanya dapat diselenggarakan oleh pemerintah untuk membangun kepentingan umum yang telah ditentukan serta bermanfaat bagi masyarakat dan masyarakat yang tanahnya diambil untuk kepentingan umum diberikan ganti kerugian yang layak. Apabila kriteria sesuai dengan aturan hukum maka konflik agraria dapat diminimalikan.12
Pembangunan dalam konteks pertambangan seringkali menjadi akar permasalahan konflik negara dengan rakyatnya. Dalam konflik pertambangan biasanya negara atau kekuasaan meminta lahan yang menjadi hak rakyatnya untuk kepentingan negara tanpa memperhatikan hak-hak lain dari warganya sendiri. Di Desa Wadas sendiri warga melakukan penolakan pertambangan batuan andesit dikarenakan dampak negatif dari adanya kegiatan tambang tersebut, sehingga dari dampak tambang tersebut banyak hak-hak warga yang hilang dan di abaikan oleh negara.
Atas dasar itulah warga desa wadas melakukan penolakan pertambangan, tentu dalam penolakan tersebut terjadi sengketa lahan antara negara dan warga Desa Wadas, dimulai dari tahun 2015 sampai puncaknya di tahun 2022, dalam sengketa lahan ini menjadi titik bermulanya konflik itu terjadi. Karena dalam pengambilan keputusan
11 Harris Y.P. Sibuea, “Konflik Agraria di Desa Wadas: Pertimbangan Solusi” Vol.XIV, No.4, Jakarta Pusat, 2022, hlm.2
12 Ibid, hlm.3
pemerintah tidak adanya pelibatan suara atau keputusan warga untuk ikut mempertimbangkan keputusan yang dikeluarkan oleh pemerintah.
Konflik yang terjadi di Desa Wadas, Purworejo, Jawa Tengah, berkaitan dengan penambangan batuan andesit untuk pembangunan proyek Bendungan Bener. Konflik ini melibatkan warga desa dengan pihak-pihak yang berwenang, termasuk pemerintah dan perusahaan yang terlibat dalam proyek tersebut. Beberapa ekosob (ekonomi, sosial dan budaya) yang dilanggar dalam konflik ini antara lain.
Pertama hak ekonomi, dalam hak ekonomi ketika Proyek Strategis Nasional itu masuk ke dalam Desa Wadas ada banyak permasalahan ekonomi yang di alami oleh warga, lahan perkebunan dan pertanian yang dimiliki oleh warga akan dijadikan pertambangan batuan andesit, dalam artian terdapat alih fungsi lahan. Sejatinya di Desa Wadas kebanyakan masyarakat adalah petani dan pekebun, dalam keseharian mereka menanam hasil pertanian dan perkebunan lalu dari hasil tersebut mereka jual untuk memenuhi kehidupan sehari-hari. Namun dengan melihat adanya pertambngan batuan andesit, mereka secara paksa harus kehilangan mata pencaharian untuk memunuhi kehidupan harian. Dalam konteks tersebut negara telah menghilangkan hak ekonomi para warga.
Pertambangan batuan andesit di Desa Wadas yang dapat membawa kosekuensi logis dan juga mengancam tempat tinggal yang selama ini telah banyak memberikan kesejahteraan bagi perekonomian warga Desa Wadas. Selain itu, jika pertambanagan batuan andesit tersebut benar-benar terjadi, dengan demikian kosekuensi logis yang akan di alami warga Desa Wadas selain kehilangan mata pencahariannya adalah terusir secara paksa dari tempat tinggalnya yang selama ini di tempati.
Kedua hak sosial, ketika pertambangan itu masuk terjadi segregasi antar warga yang akan resisten ketika tambang itu masuk karena ada warga pro dengan pertambangan dan ada juga yang kontra, akhirnya membuat terjadinya keguyuban antar warga menjadi tidak akur dan rukun. Dalam hal ini juga dapat menyebabkan konflik secara horizontal antar sesama warga, dengan melihat konteks tersebut terjadi di desa wadas sendiri di sebabkan adanya proyek pertambangan tersebut, dan negara tidak pernah melihat bahwa hal tersebut adalah sebuah permasalahan dan pelanggaran.
Ketiga hak budaya, masyarakat desa wadas masih banyak yang melestarikan budaya budaya leluhur, banyak warga yang merawat umur puluhan bahkan ratusan tahun dengan masih menganut kepercayaan dan pelestarian lingkungan, budaya-budaya seperti
ziarah ke makam kyai atau tokoh yang dituakan seringkali para warga melakukan adat dan budaya yang di warisi dari nenek moyang mereka.13
Pemerintah sebagai administrator negara nampaknya telah kehilangan rasa empati, terutama dalam penanganan masalah lapangan, yang ditunjukkan oleh pendekatan menggunakan strategi berbasis kekuatan dan taktik koersif. Pendekatan ini mencerminkan sudut pandang positivisme. Implikasi dari perspektif positivisme adalah bahwa hukum dianggap memiliki kapasitas untuk melayani kepentingan otoritas dan dapat menindas rakyat, sehingga memicu konflik antara penguasa dan yang diperintah.
Selain itu, Izin Penetapan Lokasi tidak memperhatikan tentang perlindungan sumber mata air. Sebagai kawasan lindung, sepantasnya Desa Wadas dijadikan sebagai wilayah yang fungsi utamanya adalah melindungi kelestarian lingkungan hidup. Desa Wadas memiliki lebih dari 27 sumber mata air yang tersebar di seluruh perbukitannya.
Menurut SK 590/20/2021, wilayah tersebut akan dijadikan lokasi tambang batuan andesit.
Jika dilihat dari faktor kebermanfaatan, sumber mata air tersebut dapat menjadi sumber utama pemasok air yang selama ini digunakan oleh seluruh warga Desa Wadas untuk kebutuhan sehari-hari, seperti minum, mandi, mencuci, bertani, dan lain sebagainya.
Sebagai salah satu kawasan yang menopang sumber mata air dan sebagai kawasan lindung, seharusnya wajib dilindungi dari segala aktivitas dan kegiatan yang berpotensi merusak, termasuk adanya pertambangan batuan andesit yang sedang berlangsung.14
Sejatinya, pemerintah sebagai pelindung masyarakat memiliki tanggung jawab untuk adanya upaya rehabilitasi atau pemulihan terhadap korban yang mengalami trauma terhadap apa yang sudah dilakukan oleh negara terhadap rakyatnya yang disebabkan oleh pengepungan terhadap warga Desa Wadas. Pada faktanya negara mengabaikan upaya-upaya pemulihan trauma terhadap rakyatnya, sehingga dalam pemenuhan hak-hak warga, negara telah melanggar tanggung jawab tersebut dan melanggara apa yang sudah di tentukan dalam pemenuhan hak-hak asasi manusia karena negara harus memberikan perlindungan terhadap rakyatnya.
13Muhamad Fazri Hasan Suhanto & Rina Martini, “ Dinamika Konflik Pertambangan Dan Pelanggaran Ham : Studi Kasus Konflik Tambang di Desa Wadas Kabupaten Purworejo Tahun 2015-2023”, Departemen Politik dan Pemerintahan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Diponegoro, 2024, hlm.7
14Ibid, hlm.6
C. Upaya Penyelesaian Konflik Tambang Di Desa Wadas
Dengan melihat dinamika konflik yang terjadi di Desa Wadas, tetntu dalam proses konflik tersebut mengalami pasang surut pergerakan yang terjadi, ini disebabkan oleh beberapa faktor seperti peraturan yang tidak sesuai dan gesekan yang terjadi antara negara melalui aparatnya yang menjadikan konflik itu bertambah besar. Tentu dalam hal ini, Pemerintah telah mengabaikan mekanisme partisipasi publik dan hal tersebut merupakan hak sipil warga Desa Wadas dalam ikut serta mengetahui dan memutuskan adanya peraturan tersebut, karena dalam hal pengambilan keputusan, warga Desa Wadas berhak untuk mengetahui pemahaman ataupun keterbukaan AMDAL ataupun Surat Izin Lingkungan dari pemerintah atau premakarsa itu sendiri.
Sementara itu, pelanggaran HAM dalam konteks pelanggaran Hak ekonomi,sosial, budaya dan sipil, politik mejadikan dasar dari adanya penolakan warga terhadap Negara yang dalam konteks sebagai pelaksana Proyek Strategis Nasional (PSN). Dalam menanggapi penolakan warga, Negara justru melakukan tindakan pemaksaan dalam bentuk represifitas menggunakan alat kekuasaannya. Oleh karena itu, dalam konteks tersebut negara dalam kaitanya mulai dari Presiden, Kementrian PUPR, Kementrian ESDM, BPN Kota Purworejo, Gubernur Jawa Tengah, TNI dan POLRI perlu bertanggung jawab terkait adanya pelanggaran dan permasalahan yang terjadi di Desa Wadas.
Pemerintah sebagai pelindung masyarakat memiliki tanggung jawab untuk adanya upaya rehabilitasi atau pemulihan terhadap korban yang mengalami trauma terhadap apa yang sudah dilakukan oleh negara terhadap rakyatnya yang disebabkan oleh pengepungan terhadap warga Desa Wadas. Pada hakikatnya, dalam menghadapi konflik, pemerintah seharusnya mengubah pendekatannya terhadap warga. Pasalnya, warga Desa Wadas memiliki hak yang sama dengan warga negara lainnya dan berhak mendapatkan perlindungan. Negara seharusnya hadir sebagai pengayom dan pelindung bagi masyarakat.
Pemberian ganti rugi oleh pemerintah seakan menjadi pedang bermata dua.
Meskipun di satu sisi merupakan bentuk tanggung jawab pemerintah terhadap warganya yang terdampak bencana, namun di sisi lain, ganti rugi tersebut dianggap sebagai upaya untuk menguasai dan mengontrol masyarakat. Budin mengatakan, "Pemerintah seakanakan membunuh rakyatnya sendiri dengan memberikan ganti rugi yang tidak
memadai. Ini bukan hanya merugikan secara ekonomi, tetapi juga merusak kehidupan sosial dan mental masyarakat.15
Dalam upaya resolusi yang di lakukan negara seharusnya dapat menjadikan resolusi konflik tersebut sebagai “conduction conflicts” yang dapat meminimalkan kekerasan dan sudah sepatutnya negara harus mencegah kekerasan itu terjadi. Sementara itu, dalam upaya resolusi konflik yang terjadi di Desa Wadas negara atau pemerintah justru membuat suatu hasil yang tidak dapat diterima oleh masyarakat yang menjadikan skema konsinyasi sebagai jalan keluar, hal tersebut menghasilkan keputusan win-lose solution (Negara menang, Rakyat kalah). Karena pada dasarnya, meskipun negara memberikan upaya ganti rugi lahan terhadap warga, hal tersebut tidak menjamin kesejahteraan dan keselamatan lingkungan akibat adanya perusakan lingkungan yang disebabkan oleh aktivitas pertambangan.16
Tanggung jawab negara dalam upaya resolusi konflik yang terjadi merupakan upaya pemaksaan dan negara menunjukan sikap ketidakadilan terhadap rakyatnya, karena skema konsinyasi yang dilakukan negara yang bertujuan untuk menyelesaikan konflik atau penolakan yang di lakukan oleh warga Desa Wadas justru tidak sesuai dengan keinginan warga yang meminta untuk menghentikan adanya pertambangan di Desa Wadas. Dengan demikian skema konsinyasi bukan solusi terbaik untuk menyelesaikan permasalahan yang terjadi di Desa Wadas.
Untuk menyelesaikan konflik ini dengan adil dan menghormati hak asasi manusia, beberapa pendekatan yang perlu diambil adalah sebagai berikut:17
1. Dialog dan Mediasi dengan Pemerintah
Salah satu langkah awal dalam penyelesaian konflik adalah mengadakan dialog antara pemerintah, perusahaan tambang, dan masyarakat Desa Wadas. Pada tahun 2021, pemerintah melakukan mediasi dengan melibatkan masyarakat untuk mencari solusi yang adil. Dialog ini diperlukan untuk membahas kekhawatiran masyarakat mengenai dampak proyek, hak atas tanah, dan proses pembebasan lahan.
15 Muhammad Fazri dan Rina Martini, “Dinamika Konflik Pertambangan Dan Pelanggaran HAM : Studi Kasus Konflik Tambang di Desa Wadas Kabupaten Purworejo Tahun 2015-2023”, Journal of Politic and Government Studies, Vol.13 No.2, 2024.
16 Ibid., hlm 13
17 Rafi Balebat dan Idil Akbar, “Peran Pemerintah Provinsi Jawa Tengah Dalam Meresolusi Konflik Proyek Strategis Nasional Di Desa Wadas”,JKP (Jurnal Kajian Pemerintah: Journal of Government, Social and Politics), Vol.10 No.2, 2024.
Namun, meskipun ada upaya mediasi, protes terus berlangsung karena banyak warga yang merasa tidak dilibatkan secara menyeluruh dalam pengambilan keputusan, serta karena ketidakpuasan terkait proses pembebasan tanah yang dilakukan secara paksa.
2. Penyelesaian Kasus Perampasan Tanah
Salah satu isu utama dalam konflik ini adalah masalah pembebasan tanah tanpa persetujuan yang sah dari masyarakat. Banyak warga yang merasa hak atas tanah mereka dirampas tanpa proses yang jelas. Dalam hal ini, penyelesaian konflik yang efektif harus melibatkan pengakuan terhadap hak atas tanah yang dimiliki oleh masyarakat setempat. Pemerintah harus memastikan bahwa proses pembebasan tanah dilakukan dengan cara yang transparan, adil, dan sesuai dengan hukum.
Untuk itu, penyelesaian yang dapat diterima oleh kedua belah pihak mungkin melibatkan kompensasi yang adil kepada warga yang terdampak atau menyediakan solusi relokasi yang layak, serta pengakuan terhadap hak ulayat masyarakat.
3. Perlindungan Terhadap Aktivis dan Masyarakat
Pada tahun 2021, beberapa warga yang menentang proyek tambang di Desa Wadas melaporkan adanya intimidasi dan kekerasan, yang mengarah pada pelanggaran hak-hak sipil dan politik mereka. Perlindungan terhadap aktivis dan warga yang mengkritik proyek ini menjadi hal penting dalam penyelesaian konflik.
Lembaga-lembaga perlindungan hak asasi manusia, seperti Komnas HAM, serta organisasi masyarakat sipil, berperan untuk memastikan bahwa tidak ada intimidasi atau tindakan kekerasan yang dilakukan terhadap warga yang menyuarakan pendapat mereka.
Salah satu bentuk perlindungan yang diperlukan adalah penyediaan keamanan bagi warga yang menentang proyek tambang agar mereka bisa menyampaikan pendapatnya tanpa rasa takut akan pembalasan.
4. Analisis Dampak Lingkungan dan Sosial
Proyek penambangan batu andesit di Desa Wadas juga menimbulkan dampak lingkungan yang signifikan. Aktivitas penambangan dapat merusak ekosistem, mengancam sumber air, serta menggangu pertanian warga yang mengandalkan tanah untuk penghidupan mereka. Oleh karena itu, salah satu langkah penyelesaian yang krusial adalah dilakukan analisis mengenai dampak sosial dan lingkungan (AMDAL) yang komprehensif dan melibatkan masyarakat dalam prosesnya. Selain itu,
diperlukan mitigasi yang tepat agar dampak negatif dari proyek dapat dikurangi atau dihindari.
Salah satu solusi yang dapat diajukan adalah penggunaan teknologi ramah lingkungan dalam proses penambangan dan memastikan bahwa pengelolaan lingkungan dilakukan secara bertanggung jawab.
5. Transparansi dan Partisipasi Publik
Dalam penyelesaian konflik ini, transparansi dan partisipasi publik menjadi faktor penting. Proses pengambilan keputusan mengenai proyek tambang harus dilakukan secara terbuka dan inklusif. Masyarakat Desa Wadas harus diberi informasi yang jelas mengenai manfaat dan risiko dari proyek tersebut, serta diberikan ruang untuk menyampaikan pendapat dan kekhawatirannya.
Penyelesaian yang adil harus mencakup akses informasi yang lebih baik kepada warga desa mengenai rencana proyek dan dampaknya, serta mengakomodasi kepentingan masyarakat dalam perencanaan dan pelaksanaan proyek.
6. Pengawasan oleh Lembaga Independen
Agar proyek ini tidak merugikan masyarakat dan lingkungan, pengawasan yang independen sangat dibutuhkan. Lembaga seperti Komnas HAM, lembaga perlindungan lingkungan, serta organisasi masyarakat sipil harus dilibatkan dalam mengawasi jalannya proyek penambangan. Dengan adanya pengawasan yang independen, diharapkan segala pelanggaran HAM atau dampak lingkungan yang merugikan dapat segera terdeteksi dan ditangani.
7. Pemulihan Sosial dan Kompensasi
Setelah proses penyelesaian konflik dilakukan, langkah berikutnya adalah pemulihan sosial bagi masyarakat yang terdampak. Ini mencakup pemberian kompensasi yang layak, baik berupa uang atau fasilitas lain, serta pemberdayaan masyarakat untuk memastikan mereka dapat melanjutkan kehidupan dengan baik setelah proyek selesai. Selain itu, penting untuk menyusun program-program pemberdayaan ekonomi bagi warga Desa Wadas agar mereka tetap dapat mempertahankan mata pencaharian mereka.
Penyelesaian kasus HAM dalam konflik tambang di Desa Wadas melibatkan serangkaian langkah yang harus dilakukan secara berimbang dan adil. Upaya mediasi dan dialog, pengakuan hak atas tanah, perlindungan terhadap aktivis, analisis dampak lingkungan, serta pengawasan independen adalah kunci untuk menyelesaikan konflik ini dengan cara yang menghormati hak asasi manusia. Penyelesaian yang adil dan
berkelanjutan tidak hanya melindungi hak-hak masyarakat, tetapi juga memastikan bahwa proyek pembangunan infrastruktur dilakukan dengan prinsip-prinsip keadilan sosial dan lingkungan yang baik.
BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan
Negara Indonesia merupakan negara hukum sebagaimana tertuang dalam Pasal 1 ayat UUD RI 1945 yang menjadi alasan kuat bahwa penghormatan dan jaminan perlindungan terhadap Hak Asasi Manusia sebagaimana salah satu ciri negara hukum tidak dapat diabaikan. Implementasi dalam hal ini dapat berupa pemenuhan kewajiban dalam membuat peraturan yang melindungi hak asasi warga negara, dapat pula berupa efektivitas dari peraturan yang telah ada sebelumnya.
Pemerintah telah meratifikasi beberapa perjanjian Internasional, diantaranya adalah The international Convention economic Sosial and Culture Rights (ICESCR) melalui Undang-Undang No. 11 Tahun 2005 tentang pengesahan Kovenan Hak Ekonomi, Ratifikasi ini mempertegas tanggung jawab memenuhi kebutuhan minimal hak-hak ekosob yaitu kemampuan negara menyediakan prasarana dan keahlian yang minimal dalam fasilitas penyediaan pangan, pendidikan, kesehatan, perumahan dan pekerjaan yang memungkinkan bagi setiap individu anggota komunitas di satu wilayah negara baik di tingkat pusat maupun di daerah-daerah untuk hidup minimal dengan layak (right to livelihood).18 Ratifkasi ini memaksa negara untuk benar-benar melaksanakan perintah konstitusi dalam mensejahterakan rakyatnya.
Prinsip-prinsip penting pada Ekosob adalah: Prinsip non – diskriminasi dimaknai bahwa pemenuhan atas hak ekonomi, social dan budaya tidak boleh dilakukan dengan membeda-bedakan orang atas dasar ras, warna kulit, jenis kelamin, bahasa, agama, dan identitas lainnya.
Salah satu bentuk pelanggaran HAM dibidang ekosob itu terjadi pada Konflik agraria yang terjadi di Desa Wadas, Kecamatan Bener, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah menjadi perhatian publik. Penyebab terjadinya konflik agraria tersebut adalah sebagian warga menolak rencana aktivitas penambangan batu andesit. Penolakan tersebut ditandai dengan serangkaian aksi protes yang berujung bentrokan dengan aparat yang bersenjata lengkap. Kejadian tersebut dinyatakan sebagai konflik agraria karena ada proses 2 proyek pengadaan tanah untuk kepentingan umum.
18Rafendi Djamin. 2007.Penguatan Status Legal Hak-Hak Ekonomi, Sosial dan Budaya Dalam Konstitusi dan Sistem Hukum Nasional.Yogyakarta.
Beberapa ekosob (ekonomi, sosial dan budaya) yang dilanggar dalam konflik ini antara lain.
Pertama hak ekonomi, permasalahan ekonomi yang di alami oleh warga, yaitu lahan perkebunan dan pertanian yang dimiliki oleh warga akan dijadikan pertambangan batuan andesit, dalam artian terdapat alih fungsi lahan. adanya pertambangan batuan andesit, mereka secara paksa harus kehilangan mata pencaharian untuk memunuhi kehidupan harian. Dalam konteks tersebut negara telah menghilangkan hak ekonomi para warga.
Kedua hak sosial, ketika pertambangan itu masuk terjadi segregasi antar warga yang akan resisten ketika tambang itu masuk karena ada warga pro dengan pertambangan dan ada juga yang kontra. Hal inimenyebabkan konflik secara horizontal antar sesama warga.
Ketiga hak budaya, masyarakat desa wadas masih banyak yang melestarikan budaya budaya leluhur, banyak warga yang merawat umur puluhan bahkan ratusan tahun dengan masih menganut kepercayaan dan pelestarian lingkungan, budaya-budaya seperti ziarah ke makam kyai atau tokoh yang dituakan seringkali para warga melakukan adat dan budaya yang di warisi dari nenek moyang mereka.
Untuk menyelesaikan konflik ini dengan adil dan menghormati hak asasi manusia, beberapa pendekatan yang perlu diambil seperti Dialog dan Mediasi dengan pemerintah, penyelesaian kasus perampasan tanah, perlindungan terhadap aktivis dan masyarakat, analisis dampak lingkungan dan sosial, transparansi dan partisipasi publik, pengawasan oleh lembaga independen, dan pemulihan sosial dan kompensasi.
penyelesaian konflik ini, transparansi dan partisipasi publik menjadi faktor penting. Proses pengambilan keputusan mengenai proyek tambang harus dilakukan secara terbuka dan inklusif.
B. Saran
Pemerintah perlu meningkatkan keterlibatan masyarakat dalam setiap tahap pengambilan keputusan terkait proyek penambangan di Desa Wadas. Hal ini dapat dilakukan dengan mengadakan forum diskusi dan konsultasi publik yang melibatkan semua pihak, baik yang mendukung maupun menolak proyek. Dengan memberikan ruang bagi masyarakat untuk menyampaikan pendapat dan kekhawatiran mereka, diharapkan akan tercipta rasa saling pengertian dan kepercayaan antara pemerintah dan
warga. Keterlibatan ini juga penting untuk memastikan bahwa keputusan yang diambil mencerminkan kepentingan dan kebutuhan masyarakat setempat.
Selain itu, pemerintah harus melakukan analisis dampak lingkungan dan sosial (AMDAL) yang komprehensif sebelum melanjutkan proyek. Proses AMDAL harus melibatkan partisipasi aktif dari masyarakat untuk memastikan bahwa semua potensi dampak negatif diidentifikasi dan diatasi dengan baik. Hasil dari analisis ini harus dipublikasikan secara terbuka dan dibahas dengan masyarakat, sehingga mereka dapat memahami implikasi dari proyek tersebut dan memberikan masukan yang konstruktif.
Dengan demikian, keputusan yang diambil akan lebih transparan dan akuntabel.
Terakhir, penting bagi pemerintah untuk menjamin perlindungan hak-hak masyarakat, termasuk hak untuk menolak proyek yang dianggap merugikan.
Perlindungan ini harus mencakup tindakan untuk mencegah intimidasi atau kekerasan terhadap aktivis dan warga yang menentang proyek. Dengan menciptakan lingkungan yang aman bagi masyarakat untuk menyuarakan pendapat mereka, pemerintah dapat menunjukkan komitmennya terhadap prinsip-prinsip hak asasi manusia dan keadilan sosial, serta membangun hubungan yang lebih harmonis dengan masyarakat Desa Wadas.
DAFTAR PUSTAKA
Adriansa, Muhammad, Zaky dkk.Pengadaan Tanah Bagi Pembangunan Bendungan Bener Di Desa Wadas Kabupaten Purworejo (Tahap 1) (Stusi Kasus Hambatan Dalam Pengadaan Tanah Di Desa Wadas). Diponegoro Law Journal. Volume 9, Nomor 1. 2020
Anak Agung Sri Utari, Penegakan Hukum Hak-Hak Ekonomi, Sosial, dan Budaya Denpasar : Fakultas Hukum Universitas Udayana: 2015.
Anisa Cahyani dan Awallia Septiyana P, “Meninjau Respon Masyarakat terkait Pemenuhan Hak Ekosob Melalui Kebijakan Protokol Kesehatan Di Masa Pandemi”, Seminar Nasional Hukum Unviversitas Negeri Semarang, 7(1), 2021.
Harris Y.P. Sibuea, “Konflik Agraria di Desa Wadas: Pertimbangan Solusi” Vol.XIV, No.4, Jakarta Pusat, 2022.
Iqbal, “Implementasi Hak Ekonomi Sosial dan Budaya Masyarakat Adat dalam Hukum Ham Internasional Di Indonesia”, Jurnal Ilmu Hukum, 5(3), 2011.
Ismail Hasani, Dinamika Perlindungan Hak Konstitusional Warga: Mahkamah Konstitusi sebagai Mekanisme Nasional baru Pemajuan dan Perlindungan Hak Asasi Manusia. Jakarta: Pustaka Masyarakat Setara 2013.
Muhammad Fazri dan Rina Martini, “Dinamika Konflik Pertambangan Dan Pelanggaran HAM : Studi Kasus Konflik Tambang di Desa Wadas Kabupaten Purworejo Tahun 2015-2023”, Journal of Politic and Government Studies, Vol.13 No.2, 2024.
Rafi Balebat dan Idil Akbar, “Peran Pemerintah Provinsi Jawa Tengah Dalam Meresolusi Konflik Proyek Strategis Nasional Di Desa Wadas”, JKP (Jurnal Kajian Pemerintah: Journal of Government, Social and Politics), Vol.10 No.2, 2024.
Rafendi Djamin. Penguatan Status Legal Hak-Hak Ekonomi, Sosial dan Budaya Dalam Konstitusi dan Sistem Hukum Nasional. Yogyakarta. 2007.
Yahya Ahmad Zein. Problematika Hak Asasi Manusia (HAM). Yogyakarta: Liberty Yogyakarta. 2012.
https://www.suarakeadilan.org/id/publikasi/publikasi/buletin/36-publikasi/suara-keadi lan/201-pers-rilis-komnas-ham-ri-ringkasan-eksekutif-pemantauan-dan-penyelidikan-penggu naan-kekuatan-secara-berlebihan-excessive-use-of-force-dalam-proses-pengukuran-lahan-di- desa-wadas-8-februari-2022
https://www.komnasham.go.id/files/20220224-keterangan-pers-nomor-006-hm-00-$Y JR6AOIO