TEMPLATE ANALISA MATERI BERBASIS PJBL MODUL PROFESIONAL LPTK UIN SALATIGA TAHUN 2023
Nama : SINDY NUR AINI
Mapel/Kelas : PAI / X2
Modul : QURAN HADIST
Tema/pokok permasalahan : PENERAPAN MODEL PBL PADA MATERI MEMAHAMI ILMU TAJWID TENTANG HUKUM BACAAN MAD (DALAM PEMBIASAAN HAFALAN DAN MEMBACA AL-QUR’AN)
Dosen Pengampu : Dr. RASIMIN, S.Pd., M.Pd.
NO MODUL JENIS TUGAS DESKRIPSI TUGAS
1 MODUL 1 IDENTIFIKASI MASALAH
(Masalah yang diidentifikasi merupakan masalah keagamaan kontekstual yang terkait dengan pokok bahasan modul profesional (fakta dan realita sosial)
Al-Qur’an merupakan salah satu rahmat yang tak ada taranya bagi alam semesta. Di dalamnya terkumpul wahyu Ilahi yang menjadi petunjuk, pedoman dan pelajaran bagi siapa yang mempercayai dan mengamalkan. Tajwid adalah ilmu yang menjelaskan tentang hukum-hukum dan kaidah-kaidah yang menjadi landasan wajib ketika membaca Al-Qur'an, sehingga sesuai dengan bacaan Rasulullah SAW. Ilmu tajwid dalam membaca Al-Qur’an itu sangat penting. Apabila membaca Alquran tanpa ilmu tajwid maka dikhawatirkan akan terjadi kesalahan serta dapat mengubah makna ayat Alquran yang dibacanya. Maka tidak heran jika Ibnu Al Jazari berpendapat bahwa membaca Alquran dengan tajwid adalah kewajiban bagi setiap Muslim.
Identifikasi Masalah :
Peserta didik belum mampu membaca Al-Qur’an
Kesadaran peserta didik akan pentingnya ilmu tajwid dalam membaca Al-Quran
Penyebab Masalah :
- Peserta didik takut ketika disuruh membaca Al-Qur’an - Peserta didik kurang berminat dalam membaca Al-Qur’an
- Pembiasaan peserta didik yang sejak awal tidak memperhatikan ilmu tajwid dalam membaca Al-Quran
- Peserta didik kurang membiasakan membaca Al-Quran
Aksi Nyata
1. Dikaitkan dengan teori yang relevan
Guru harus memberi pemahaman tentang pentingnya ilmu tajwid dalam membaca Al-Qur’an.
2. Langkah – Langkah pemecahan masalah :
Guru mencari peserta didik yang mampu secara bacaan untuk membantu siswa lain yang belum bisa
Guru mendampingi dalam proses pembelajaran ilmu tajwid melalui pembiasaan setiap pertemuan kelas melalui hafalan dan pembiasaan membaca Al-Qur’an
2 MODUL 2 EKSPLORASI PENYEBAB
MASALAH
(Melakukan literatur review dan realitas review yang relevan dengan identifikasi masalah)
Literatur review dan realitas review antara lain : 1) Q.S. Yunus ayat 57
² ٓٓٓٓي أَٓيُّ
ه ٓ ا ٱلنّٓ
ا س ُ ْ قٓ
ٓ د آَٓٓ ٓ ج ء
ُكم تْ
م َ و ْ ع ِ ظ ٓ ِ ةٌَ
م َ’
َ ن ِب ر ُ ’ ْ ك ٓ م ِ و آَٓٓ شفٓ
ٌء ِ ٓ ل’
ا م ى ِف ل ٱ ص ُ دَُ
و
ِر ٓ ُ و ه دًَ
ٓ ى ٓ و ْ ر ٓ ح م ِ ةٌَ
ْل ل’
م ُ ْ ِ ؤْ
نِن م ن ٓ
Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman.
Allah menyampaikan kepada manusia keagungan al-Quran. Al-Quran telah diturunkan kepada mereka yang mengandung pelajaran bagi mereka dari Sang Pencipta, agar menjadi pengingat, pelembut dan obat hati, penyelamat dari kepercayaan dan hawa nafsu yang rusak, cahaya yang melenyapkan kegelapan jahiliyah, petunjuk menuju kebenaran, dan rahmat yang besar bagi orang-orang yang beriman kepada Allah.
a. Peserta didik kurang menyadari akan pentingnya Al-Quran.
b. Peserta didik kurang berminat untuk mempelajari Al-Quran.
c. Peserta didik sulit menerima keberadaan Al-Quran karena tidak dibiasakan.
2) Riwayat Usman Bin Affan.
Dari Usman bin Affan r.a Nabi bersabda: “Sebaik-baik kalian adalahyang mempelajari Al-Qur`an dan mengajarkannya.” [HR. Al- Bukhari, Abu
Dawud, Al-Tirmizi, Al-Nasa’i dan Ibnu Majah, 5027].
Utsman bin Affan radhiallahu ‘anhu mengatakan, “Bagian dunia yang kucintai ada tiga: (1) mengenyangkan orang yang lapar, (2) memberi pakaian mereka yang tak punya, dan (3) membaca Alquran”. (Irsyadul Ibad li Isti’dadi li Yaumil Mi’ad, Hal: 88).
a.Peserta didik jarang membiasakan diri untuk membaca Al-Quran sehingga menjadi salah satu penyebab kurang lancarnya.
b. Peserta didik kurang berminat atau tertarik untuk belajar Al-Quran dan lebih suka bermain gadget.
c.Peserta didik merasa malu dan minder karena belum bisa membaca Al-Quran.
3) Nilai-nilai pendidikan membaca Al-Quran, Syekhul Islam Muhyiddin Abu Zakariyya Yahya bin Syaraf An-Nawawi dalam kitabnya, Riyaadhus-Shaalihiin membuat bab khusus tentang Keutamaan Membaca Al-Qur'an, di antaranya:
a. Al-Qur’an akan menjadi syafaat atau penolong di hari kiamat untuk para pembacanya.
b. Orang yang mempelajari dan mengajarkan Al-Qur’an merupakan sebaik- baik manusia.
c. Orang-orang yang mahir membaca Al-Qur’an, maka kelak ia akan bersama para malaikat-Nya
d. Mereka yang belum lancar dalam membaca dan mengkhatamkan Al- Qur’an, tidak boleh bersedih, sebab Allah tetap berikan dua pahala.
e. Al-Qur’an dapat meningkatkan derajat kita di mata Allah.
Penerapan nilai-nilai pendidikan Al-Quran dalam kehidupan sehari- hari, diantaranya :
a. Membiasakan membaca Al-Quran minimal 3 ayat atau satu surat.
b. Al-Quran dapat membuat kita merasa dekat dengan Allah, membuat hati kita tenang dan tentram, dan lain sebagainya.
c. Membersihkan tempat, pakaian, serta badan dari najis sebelum melaksanakan membaca Al-Quran.
3 MODUL 3 EKSPLORASI PENYEBAB MASALAH
(Melakukan literatur review dan realitas review yang relevan dengan identifikasi masalah pada siklus ke 2 lebih mendalam)
Membaca Al Quran sebagai budaya yang harus dibiasakan.
Sesuai perintah Allah dalam surat al-Alaq ayat 1-5 tentang wahyu pertama nabi Muhammad SAW melalui malaikat Jibril yaitu agar bisa “membaca”.
Pembelajaran pertama untuk menuju tahap selanjutnya diawali dengan membaca terlebih dahulu. Membaca Al Quran merupakan hal yang saling berkaitan dengan ibadah-ibadah lain. Terutama dalam inadah shalat. Dalam ibadah shalat pasti menggunakan bacaan-bacaan yang diambil Al-Quran dan hadis. Yang membacanya harus sesuai dengan mahraj dan tajwid. Bila ada kesalahan dalam pengucapan mahraj dan tajwidnya akan mengalami perbedaan arti yang dimkasud. Untuk itu membawa Al-quran juga merupakan bagian yang sanat penting dalam belajar ilmu agama khususnya.
Budaya membaca merupakan aktivitas otak dan mata, mata digunakan untuk menangkap tanda-tanda bacaan, sehingga apabila lisan mengucap tidak akan salah. Sedangkan otak digunakan untuk memahami pesan yang dibawa oleh mata, kemudian memerintahkan kepada organ tubuh lainnya untuk melakukan sesuatu, cara kerja diantara keduanya sangat sistematis dan saling berkesinambungan.
Budaya membaca merupakan aktifitas penting, banyak hal yang dapat diperoleh dari membaca. Melalui kegiatan membaca akan didapatkan informasi penting yang terkandung didalamnya. Bahan untuk membaca dapat diperoleh dari buku- bukupengetahuan, buku-buku pelajaran maupun al-Quran. Budaya baca al-Quran sejak dini, setelah terbiasa membaca al-Quran maka akan mencintainya, kemudian memahami isi kandungan al-Qur‟an. Belajar membaca al-Quran sejak dini akan mudah memahami dan mengerti, karena dalam jiwanya terdapat hati yang bersih, pikiran yang jernih dan semangat besar.
Membaca Al-Quran bagian dari Budaya dan Pendidikan
Membaca Al-Quran merupakan suatu kewajiban sebagai penunjang ibadah kepada Allah Swt. Tanpa bisa membaca Al-Quran dengan baik dan benar, maka secara langsung ibadah seseorang tersebut akan terasa sangat kurang. Begitu pun membaca buku-buku yang lain sebagai penunjang ilmu pengetahuan.
Membudayakan suatu kebiasaan lebih mudah dilakukan kepada anak-anak, sehingga fokus sasaran kegiatan adalah anak-anak. Metode yang dilakukan agar membuat anak tertarik adalah dengan mendekati secara personal dan emosi, membuat hati mereka senang dan tertarik dengan cara menonton film bersama.
Sehingga implikasinya adalah anak-anak antusias mengikuti kegiatan pelatihan
hingga akhir.
Budaya baca al-Qur‟an merupakan suatu proses mencari kebenaran dalam makhraj dan tajwidnya untuk mencapai kesempurnaan dalam membaca. Namun setelah membaca al- Qur‟an sudah dirasa benar yakni benar secara makhraj dan tajwidnya, selanjutnya ialah diwajibkan untuk mengetahui isi kandungan yang ada didalamnya. Sudah menjadi budaya masyarakat indo dulu, sehabis maghrib anak-anak dulu, di dampingi oleh orang tuanya untuk mengaji alquran. Tidak hanya anaknya saja yang harus belajar alquran, orang tua dulu juga berpartisipasi dan.aktif untuk memberikan atensi lebih kepada pendidikan alquran anaknya. kemudian, hal itu di zaman sekarang sudah kita rasakan dan kita lihat tidak ada lagi pemandangan semacam itu. Tentulah kita tahu, hal tersebut difaktori banyak hal;mulai dari pesannya media, lembaga bantu pendidikan Alquran, ramainya media sosial, varian permainan digital yang banyak dan lain lain. Hal itu tentu menjadi kepiluan tersendiri buat kita utamanya warga muslim yang taat, karena bagaimanapun kita senantiasa mencoba untuk mempertahankan budaya ketimuran kita.
Dalam hadits pun Rasulullah SAW bersabda, yang artinya :"Ibadah terbaik umatku adalah membaca alquran ". Dari hadit tersebut, tekstuallitas kandungan hadit diatas adalah :
1. Alquran adalah kunci kendali dan media utama kita dalam ibadah.
2. Ibadah utama adalah Alquran.
3. taat adalah mereka yang giat membaca alquran.
4. Ciri umat muhammad yaitu membaca alquran.
4 MODUL 4 ANALISIS PENENTU PENYEBAB
MASALAH
(Melakukan eksplorasi penyebab dominan dan keterkaitannya dengan penyebab determinan)
1) Peserta didik belum paham dan mengerti tentang ilmu hukum-hukum tajwid.
Dalam ilmu tajwid, ada beberapa macam bacaan yang berbeda-beda. Diantaranya mengatur cara baca apabila suatu huruf bertemu dengan huruf lainnya. Ada juga yang mengatur panjang pendeknya pelafadzan suatu ayat atau kata.
Hukum-hukum ilmu tajwid ada 4 macam:
a. Hukum bacaan nun mati atau tanwin Hukum nun mati atau tanwin terdiri dari:
a) Idzar
b) Idgom bigunnah
c) Idghom bilagunnah d) Infak hakiki
e) iqlab
b. Hukum bacaan mim mati Hukum mim mati terdiri dari:
a)Ikhfa syafawi b)Idzar syafawi c)Idghom mimi
c. Hukum bacaan qalqalah Bacaan qalqalah terdiri dari:
a)Qalqalah sugra b)Qalqalah kubra d. Hukum bacaan Mad
Bacaan mad terdiri dari:
a)Mad thabi’i b)Mad jaiz munfasil c)Mad wajib muttasil d)Mad layyin
e)Mad badal f) Mad iwadl g)Mad lazim
h)Mad arid lissukun i) Mad shilah qasiroh j) Mad shilah thawilah k)Mad tahkim
2) Peserta didik belum bisa membedakan dan menghafal huruf-huruf hijaiyyah dan tanda bacanya.
Ada beberapa peserta didik yang belum bisa mengenal maupun membedakan huruf- huruf hijaiyah sehingga mempersulit dirinya untuk membaca Al- Quran. Huruf hijaiyah sangat penting dipelajari bagi umat Islam, hal ini karena huruf ini merupakan huruf dasar untuk membaca Al-Qur’an. Sungguh memalukan apabila orang islam tidak bisa membaca Al-
Qur’an. Untuk itu, mau tidak mau kita harus belajar huruf hijaiyah ini agar bisa membaca Al-Qur’an. Biasanya huruf hijaiyah ini diajarkan
ketika kita masih kecil. Untuk itu, apabila Anak Anda masih belum mengerti tentang huruf hijaiyah dan membaca Al-Qur’an lebih baik diajari segera. Mengingat, anak kecil biasanya lebih mudah untuk menerima sesuatu hal yang baru, untuk itu ini waktu yang tepat untuk mengajarkan huruf hijaiyah kepada anak. Terlebih lagi, membiasakan diri membaca Al-Qur’an sejak dini kepada anak adalah salah satu langkah mendidik anak menjadi anak yang sholeh dan sholihah.
Huruf hijaiyyah ini terdiri dari 29 huruf, di antaranya
Beberapa tanda baca dalam membaca Al-Quran diantaranya:
1) Fathah
Tanda baca Al Quran dengan bentuk garis horizontal berada di atas huruf hijaiyah. Secara harfiah, tanda baca fathah berarti ‘membuka’
dan melambangkan fonem ‘a’. Contohnya, fathah yang diikuti huruf alif sukun (mati) melambangkan fonem a yang dibaca panjang.
2) Kasrah
Kasrah merupakan tanda baca Al Quran yang dilambangkan bentuk garis horizontal yang berada di bawah aksara Arab Tanda baca hijaiyah ini melambangkan fonem ‘i’ dan secara bahasa berarti
‘melanggar’. Ketika aksara hijaiyah diberi harakat kasrah, maka berbunyi i, contohnya ba yang diberi kasrah makan akan dibaca bi.
3) Dammah
Dammah merupakan tanda baca Al Quran yang berbentuk mirip huruf waw kecil dan terletak di atas huruf Arab tersebut. Tanda baca yang melambangkan fonem ‘u’ ini jika bertemu dengan huruf waw sukun atau mati akan melambangkan fonem ‘u’ yang dibaca panjang.
4) Sukun
Sukun merupakan harakat yang berbentuk bulat kecil dan tertulis di atas aksara hijaiyah. Harakat sukun melambangkan matinya suatu huruf.
5) Fathahtain
Fathahtain dapat disebut juga dengan tanwin fathah. Harakat ini memiliki bentuk dua garis miring kecil yang terletak di atas huruf hijaiyah. Huruf yang di atasnya terdapat harakat ini dapat dibaca menjadi -an. Jadi, huruf di atas memiliki tanda fathahtain di bagian atas huruf masing-masing, sehingga dapat dibaca qan, fan, ghan, ‘an, zhan.
6) Dhammahtain
Dhammahtain ini dapat disebut sebagai tanwin dhammah. Harakat ini memiliki bentuk gabungan dari harakat dhammah dan sukun, dan memiliki letak di atas huruf hijaiyah. Huruf yang memiliki harakat ini akan dibaca menjadi -un. Jadi, huruf hijaiyah di atas memiliki harakat dhammahtain yang jika dibaca menjadi wun, nun, mun, lun, kun.
7) Kasrahtain
Kasrahtain dapat disebut sebagai tanwin kasrah. Harakat ini memiliki bentuk dua garis miring kecil yang terletak di bawah huruf hijaiyah. Huruf yang memiliki harakat ini maka akan dibaca menjadi -in. Jadi, huruf hijaiyah yang memiliki harakat kasrahtain di bawahnya maka dapat dibaca menjadi thin, in, in, yin, dzin.
8) Tasydid
Tasyid ini bisa juga disebut sebagai syaddah. Harakat ini memiliki bentuk seperti kepala huruf sin yang memiliki letak di atas huruf hijaiyah. Huruf yang memiliki tanda tasydid ini pelafalannya akan ditekan. Artinya huruf tersebut dibaca seperti memiliki dua konsonan.
5 MODUL 5 ANALISIS PENENTU PENYEBAB
MASALAH
(Melakukan eksplorasi penyebab dominan dan keterkaitannya dengan penyebab determinan yang lebih mendalam)
1. Peserta didik takut ketika disuruh membaca Al-Qur’an 2. Peserta didik kurang berminat dalam membaca Al-Qur’an
3. Pembiasaan peserta didik yang sejak awal tidak memperhatikan ilmu tajwid dalam membaca Al-Quran
4. Peserta didik kurang membiasakan membaca Al-Quran 5. Peserta didik belum memahami macam-macam ilmu tajwid
6. Peserta didik belum mengetahui macam-macam tanda baca dalam membaca Al-Quran
7. Peserta didik dari awal tidak pernah mengikuti kegiatan TPA di lingkungan rumahnya
8. Orang yang membaca Al-Qur’an mendapatkan berbagai keutamaan dan keuntungan yang diberikan Allah SWT baik di dunia maupun di akhirat.
diantaranya:
Bahwa orang yang membaca Al-Qur’an tidak akan mendapatkan kerugian dalam tiap usahanya dan ia akan mendapat balasan pahala yang besar di akhirat kelak.
Orang yang belajar dan mengajarkan Al-Qur’an adalah orang yang paling baik.
Mendapat derajat sekelas Malaikat dan mendapatkan dua pahala.
Orang yang membaca Al-Qur’an lebih utama dari orang tidak membaca Al-Qur’an. Ia memiliki kedudukan istimewa di sisi Allah SWT.
Al-Qur’an Akan menjadi syafaat bagi yang membacanya.
Membaca Al-Qur’an dapat membersihkan hati.
Mendapat pahala yang belipat ganda.
Akan diberikan sesuatu yang istimewa dari sisi Allah yang tidak pernah diberikan kepada selain orang yang menyibukkan dirinya dengan Al-
Qur’an.
Allah akan mengaruniakan kepada orang-orang yang disibukkan dengan Al-Qur’an pahala yang lebih baik daripada pahala orang yang selalu bersyukur.
Mendapatkan derajat tertinggi di akhirat.
Orang yang senantiasa membaca Al-Qur’an akan mendapatkan ketenangan dalam hidupnya.
Orang yang pandai membaca Al-Qur’an lebih berhak menjadi pemimpin ditengah masyarakat.
Mengangkat derajat orang tua kelak di akhirat.
Dosa orang tua akan di ampuni karena anaknya membaca Al- Qur’an.
6 MODUL 6 RENCANA AKSI
(Menyusun rencana dan desain pembelajaran yang relevan dengan hasil analisis masalah)
Analisa Masalah yang relevan adalah Peserta didik belum mampu menerapkan bacaan – bacaan al-quran sesuai dengan ilmu tajwidnya
Rencana dan desain pembelajaran yang akan saya lakukan untuk meningkatkan kemampuan membaca al-quran sesuai dengan ilmu tajwid yaitu dengan menggunakan metode partisipatori, yaitu suatu metode yang lebih menekankan keterlibatan peserta didik secara penuh dengan menggunakan beberapa tahapan :
1. Menyusun rencana Tindakan dalam hal ini berupa rencanapelaksanaan pembelajaran (RPP) 2. Melaksanakan Tindakan di kelas
3. Melakukan observasi Tindakan 4. Melakukan refleksi
Dalam metode Partisipatori peserta didik lebih banyak belajar dari pengalaman. Selain itu, proses memfasilitasi proses belajar selalu terjadi variasi dan berubah dari satu situasi ke situasi lainnya sesuai dengan dinamika yang terjadi.
Dalam metode partisipatori, guru behrtugas secara bersinambungan menghubungkan materi yang dipelajari dengan kehidupan peserta didik. Oleh karena itu, strategi ini menuntut guru untuk merangkaikan asosiasi, perasaan, dan pengalaman pribadi ke dalam proses pengajaran. Jadi dalam hal ini guru bukan menjadi satu-satunya
sumber informasi yang paling benar sehingga terkesan menggurui. Guru hanya membimbing peserta didik menemukan informasi tersebut.