SUMBER DAYA TEOLOGIS
1. Apa yang dimaksud dengan sumber daya teologis?
"Sumber-sumber Teologis" adalah peristiwa-peristiwa historis dan pengalaman-pengalaman iman yang menjadi dasar dibangunnya teologi. Selain itu, bahan-bahan dan elemen-elemen yang digunakan untuk melakukan penafsiran dan penjelasan atas isi iman juga dianggap sebagai sumber daya untuk melakukan teologi.
2. Bagaimanakah teologi tradisional menentukan sumber-sumber teologisnya?
Sumber-sumber teologi tradisional Barat sangat beragam menurut aliran yang berbeda. Namun, secara umum, pernyataan John Macquarie, seorang teolog sistematika dari Amerika Serikat telah memberikan pandangan yang komprehensif dan dapat dilihat sebagai representasinya. Macquarie berpendapat bahwa wahyu, kitab suci, tradisi, budaya, pengalaman, dan akal budi, keenam elemen ini merupakan sumber-sumber teologi tradisional.
3. Apakah makna penting dari keenam elemen teologi ini?
Keenam elemen teologis ini mencakup aspek-aspek yang berkaitan dengan pesan agama dan situasi kehidupan umat beragama. Sebagai contoh, agama Kristen, wahyu, kitab suci dan tradisi adalah sumber dan dasar dari pesan Kristen, dan mereka memberikan dasar bagi rasa persatuan bagi gereja-gereja ekumenis. Sementara budaya, pengalaman dan akal budi adalah produk dari situasi; mereka meningkatkan hubungan teologi dengan pengalaman-pengalaman manusia.
4. Apakah kehadiran keenam elemen ini menyiratkan pengembangan sebuah teologi yang seragam?
Belum tentu. Keenam sumber ini hanya berfungsi sebagai tolok ukur untuk menilai natur teologi dan arah perkembangan teologi. Namun demikian, prioritas yang diberikan kepada salah satu dari sumber-sumber tersebut berbeda sesuai dengan keinginan dari usaha teologis yang berbeda.
Sebagai contoh, secara umum, aliran-aliran teologi yang lebih konservatif memberikan bobot yang lebih besar pada sisi pesan, dan aliran-aliran teologi yang lebih liberal memberikan penekanan yang lebih besar pada sisi situasi. Sekalipun penekanan dari sumber-sumber ini sama, perbedaan metode dan pendekatan akan menghasilkan teologi yang sama sekali berbeda.
5. Bagaimanakah "pengalaman" bertindak sebagai sumber daya bagi teologi?
Sejak teolog barat (John Macquarie) mendefinisikan teologi sebagai tugas refleksi dan interpretasi, teologi mengambil pengalaman iman sebagai objeknya. Pengalaman iman menunjuk pada fenomena dan realitas yang dirasakan oleh seseorang atau sebuah komunitas iman, yang dirasakan melalui keterlibatan mereka dalam kegiatan keagamaan dan menghayati kehidupan komitmen keagamaan. Pengalaman-pengalaman ini ada berdasarkan interpretasi iman dan menerima pengaruh dari karakter dan lingkungan komunitas iman tertentu. Pengalaman iman
berbeda, teologi pun berbeda. Dengan cara yang sama, orientasi teologis yang berbeda menghasilkan pengalaman iman yang berbeda pula. Jadi, sifat dari pemahaman teologis tertentu dan sifat dari pengalaman iman saling berhubungan.
6. Apakah hakikat dari "wahyu"?
Wahyu adalah sumber khusus bagi teologi Kristen, karena Kekristenan telah dianggap dan juga dipahami sebagai agama wahyu. Pengetahuan iman adalah anugerah dari Tuhan dan datang melalui wahyu Ilahi. Wahyu dapat dipahami melalui peristiwa-peristiwa sejarah atau kejadian- kejadian alam. Wahyu berkaitan dengan pengalaman iman, tetapi tidak semua pengalaman iman merupakan sumber wahyu, dan juga tidak semua wahyu dialami dan dirasakan dalam ruang dan waktu tertentu. Sebagai contoh, banyak peristiwa dan kejadian dalam kegiatan-kegiatan gerejawi dan misionaris yang dijadikan sebagai sumber untuk refleksi teologis, namun tidak dikategorikan sebagai wahyu. Dengan cara yang sama, sebuah komunitas iman dapat memiliki sebuah "wahyu primordial" melalui pengalaman-pengalaman historisnya (seperti panggilan Yesus), yang hanya dapat dialami oleh para pendirinya, dan generasi-generasi berikutnya dari komunitas tersebut hanya dapat berbagi pengalaman-pengalaman tersebut melalui partisipasi dalam kehidupan komunitas.
7. Apakah peran "kitab suci" sebagai sumber teologis?
Kitab suci dianggap sebagai kitab wahyu agama, meskipun tidak semua agama memiliki kitab suci sendiri. Setiap agama memiliki kitab suci dengan tingkat kepentingan yang berbeda, namun kitab suci memiliki peran penting bagi agama-agama yang memiliki kitab suci. Agama Kristen dianggap sebagai "agama kitab". Agama ini menganggap kitab sucinya sebagai sumber wahyu, dan karakteristik khas iman Kristen dimodelkan pada kitab suci. Ini tidak berarti bahwa kitab suci itu sendiri sepenuhnya identik dengan wahyu, dan juga tidak berarti bahwa kitab suci adalah SATU-SATUNYA cara pewahyuan. Orang Kristen percaya bahwa kitab suci menyediakan wahyu primordial yang membentuk esensi iman Kristen, yang menjaga agama Kristen dari perkembangan yang sewenang-wenang. Teologi apa pun yang mengklaim diri sebagai "Teologi Kristen" haruslah berdialog dengan pesan-pesan Kitab Suci pada dasarnya.
8. Peran apakah yang dimainkan oleh "tradisi" sebagai sebuah sumber teologis?
Kitab Suci adalah versi tertulis dari wahyu purba. Kitab Suci bukanlah satu-satunya sumber atau asal mula wahyu Kristen. Sebelum wahyu dicatat ke dalam bentuk tulisan suci, komunitas Kristen telah ada dan iman mereka telah diaktifkan. Kitab Suci yang ditulis bersandar pada tradisi komunitas Kristen mula-mula. Sementara itu, pembacaan dan penafsiran kita terhadap kitab suci juga diilhami dan dibatasi oleh tradisi gereja. Dengan kata lain, kitab suci tidak menghabiskan kepenuhan wahyu Allah, dogma dan aturan iman yang dihasilkan melalui tradisi gereja, seperti doktrin Tritunggal, meskipun tidak muncul dalam Alkitab, namun tidak dapat diabaikan dalam kepercayaan Kristen. Tradisi diberlakukan sebagai sumber teologis, selain menyediakan dogma dan aturan iman di luar kitab suci sebagai sumber teologi, tradisi juga
memberikan kontribusi pada penafsiran kitab suci dengan memasok tradisi iman dan perspektif historis.
9. Bagaimanakah "budaya" bertindak sebagai sumber teologis?
Menurut John Macquarie, wahyu, kitab suci dan tradisi adalah tiga elemen yang disediakan bagi manusia untuk berpartisipasi dalam refleksi iman. Pengalaman iman menunjuk pada fenomena dan realitas yang dirasakan oleh seseorang atau sebuah komunitas iman, yang dirasakan melalui keterlibatan mereka dalam kegiatan keagamaan dan menghayati kehidupan komitmen keagamaan. Pengalaman-pengalaman ini ada berdasarkan interpretasi iman dan menerima pengaruh dari karakter dan lingkungan komunitas iman tertentu. Pengalaman iman berbeda, teologi pun berbeda. Dengan cara yang sama, orientasi teologis yang berbeda menghasilkan pengalaman iman yang berbeda pula. Jadi, sifat dari pemahaman teologis tertentu dan sifat dari pengalaman iman saling berhubungan..
10. Apa artinya menjadikan "akal budi" sebagai sumber teologis?
Teologi tradisional Barat menganggap akal budi dan pengalaman sebagai fakta-fakta yang diperlukan untuk menjadikan teologi sebagai sebuah disiplin akademis. Akal budi mencakup dua fungsi yaitu refleksi dan kritik. Ketika diimplementasikan ke dalam konstruksi teologi, di satu sisi, ia menyediakan landasan metafisik dan teoretis, di sisi lain, ia berfungsi sebagai media bagi para teolog untuk melakukan analisis, penilikan , dan interpretasi atas sumber-sumber teologis lainnya ketika membangun teologi.
11. Apakah signifikansi yang ditunjukkan oleh sumber-sumber teologis dari teologi tradisional?
Pemilihan sumber-sumber teologi bergantung pada definisi teologi. Ketika John Macquarie melihat teologi sebagai sebuah aktivitas akademis, perhatiannya terhadap sumber-sumber teologis diarahkan pada objektivitas elemen-elemen dan kewajaran pengungkapannya. Dalam daftar yang ia ajukan mengenai enam elemen untuk konstruksi teologi, tiga di antaranya (wahyu, Kitab Suci, dan tradisi) dianggap sebagai sumber-sumber yang mendasar dan formatif bagi iman Kristen, dan ini adalah objek untuk analisis dan refleksi teologis. Tiga elemen yang terakhir (yaitu budaya, pengalaman dan akal budi) adalah media untuk membantu ekspresi yang masuk akal dan jelas, memberikan kondisi yang berharga bagi teologi untuk menjadi wacana akademis yang kompatibel.
12. Lalu, bagaimanakah teologi kontekstual menentukan sumber-sumber teologis?
Teologi kontekstual, seperti yang telah disebutkan dalam bab 1 buku ini, adalah sebuah gerakan kontemporer untuk melakukan pengakuan ulang di mana sebuah identitas iman dari orang-orang percaya atau sebuah komunitas iman diuraikan dan dipertahankan dalam kaitannya dengan konteks-konteks di mana identitas tersebut muncul. Ini adalah sebuah tindakan pengakuan ulang.
Dengan demikian, teologi kontekstual bukan hanya sebuah refleksi dan partisipasi terhadap
sebuah tradisi iman tertentu; teologi kontekstual juga bukan hanya sebuah persoalan akademis semata. Tetapi juga merupakan upaya penilikan dan pengakuan terhadap pembaharuan dan pembentukan kembali iman (Kristen) yang tidak pernah berhenti di sepanjang sejarah. Oleh karena itu, sumber-sumber yang menjadi dasar bagi pembentukan teologi semacam itu haruslah memberikan kesempatan bagi pembentukan dan rekonstruksi identitas.
13. Bagaimanakah sumber-sumber teologi kontekstual berbeda dengan sumber-sumber teologi tradisional?
Setidaknya ada tiga perbedaan mendasar di antara keduanya:
1. Ruang lingkup sumber daya berbeda-beda. Teologi tradisional cenderung membatasi cakupan sumber-sumber teologisnya di dalam wilayah-wilayah Kristen. Meskipun teologi kontekstual juga menggunakan pengalaman, budaya, nalar, tradisi, kitab suci dan wahyu sebagai sumber-sumbernya, tetapi teologi kontekstual tidak terikat pada latar belakang kekristenan. Pengalaman dan budaya dari berbagai etnis dan kitab suci agama yang berbeda adalah sumber-sumber yang memungkinkan untuk konstruksi teologis bagi teologi kontekstual.
2. Penekanan yang diberikan pada sumber-sumber tertentu berbeda. Karena teologi kontekstual menekankan pada kontekstualitas dan elemen-elemen pembebasan, maka sumber-sumbernya bersandar pada pengalaman-pengalaman penderitaan, akar rumput, minoritas, dan tradisi-tradisi rakyat.
3. Peran sumber daya berbeda-beda. Karena definisi teologi berbeda, maka sikap mereka terhadap sumber daya juga tidak sama. Dalam teologi tradisional, "budaya" dipandang sebagai alat ekspresi atau komunikasi. Sementara dalam teologi kontekstual "budaya"
menjadi bagian utama dan penting dari komponen-komponen isi teologi.
14. Lalu, apa saja yang telah dipertimbangkan sebagai sumber-sumber teologis bagi teologi kontekstual?
Sumber-sumber yang diadopsi oleh teologi kontekstual yang berbeda berbeda berdasarkan pada aliran teologis dan penekanan motif teologis mereka. Sebagai contoh, Teologi Pembebasan Amerika Latin telah mengambil dari pengalaman-pengalaman eksploitasi ekonomi dan perjuangan kelas yang ada di dalam masyarakat mereka. Teologi-teologi kulit hitam telah menemukan banyak bahan dalam pengalaman diskriminasi rasial mereka. Teologi-teologi feminis menemukan sumber-sumber kritis dalam pengalaman penindasan gender. Secara umum teologi kontekstual menekankan pada totalitas kehidupan manusia sebagai sumber-sumber teologis. Hal ini mencakup pengalaman kehidupan politik, ekonomi, sosial dan budaya, dan bahkan kehidupan religius mereka yang berbeda-beda. Setiap aspek kehidupan menjadi perhatian teologi dan menjadi objek untuk ditransformasikan, dan dengan demikian, semua itu menjadi bahan bagi konstruksi teologi.
15. Apakah Kitab Suci diterima sebagai sumber teologis untuk teologi kontekstual?
Tentu saja, pentingnya Alkitab dalam kehidupan religius orang Kristen tidak dapat dikurangi atau diabaikan. Jika teologi kontekstual ingin menjadi teologi Kristen, maka teologi kontekstual tidak boleh mengurangi Alkitab sebagai sumber daya dalam pembangunan teologinya.
16. Bagaimanakah "tradisi" menjadi sumber daya bagi teologi kontekstual?
Tradisi telah diterima sebagai sumber daya bagi teologi kontekstual tidak hanya dalam pengertian tradisi Kristen, tetapi juga termasuk tradisi historis lokal. Kedua jenis tradisi ini mewakili dua identitas yang berbeda dari orang Kristen dunia ketiga, yaitu identitas iman mereka sebagai orang Kristen dan identitas nasional (politik) dan budaya mereka. Interaksi dan keterikatan dari kedua identitas ini merupakan elemen-elemen yang sangat penting dalam pembangunan teologi kontekstual. Dan kedua hal ini juga merupakan tugas utama yang ditangani oleh teologi kontekstual.
17. Bagaimanakah penggunaan "kebudayaan" sebagai sumber daya bagi teologi kontekstual berbeda dengan penggunaannya dalam teologi tradisional?
Perbedaan dalam cara penggunaan budaya telah menjadi bagian yang paling penting dalam perbedaan antara teologi kontekstual dan teologi tradisional. Di satu sisi, teologi kontekstual menerima budaya sebagai budaya tidak hanya yang terbatas pada latar belakang "Kristen", tetapi juga mencakup budaya-budaya dengan karakter yang berbeda, terutama budaya-budaya dari penduduk asli dan akar rumput. Di sisi lain, budaya dianggap lebih dari sekadar "alat" (seperti yang difungsikan dalam teologi tradisional). Bagi teologi kontekstual, baik budaya-budaya Kristen maupun budaya-budaya yang bukan Kristen, bahkan budaya-budaya yang dianggap kafir sekalipun, semuanya merupakan bahan yang memungkinkan untuk membangun sebuah teologi.
Karena hanya dengan demikian, produk teologi dapat sungguh-sungguh kontekstual dan komprehensif.
18. Bagaimanakah teologi kontekstual memandang peran "wahyu" dan "akal budi"?
Teologi kontekstual biasanya menekankan metodologinya "dari bawah" dan "berdasarkan pengalaman". Teologi ini menentang teologi yang dilakukan dari atas, dan didasarkan pada proposisi-proposisi yang bersifat hipotesis. Meskipun teologi kontekstual tidak menyangkal wahyu sebagai subjek teologis, teologi kontekstual bersikeras bahwa wahyu harus dipahami berdasarkan pengalaman. Mengenai elemen "akal budi", ini adalah salah satu dari sekian banyak unsur biologis manusia yang tentu saja termasuk dalam sumber-sumber teologi; akan tetapi, teologi kontekstual telah menyatakan bahwa emosi, perasaan, dan intuisi manusia juga sama bergunanya dalam konstruksi teologi. Hal ini terutama terjadi di dunia Asia. Oleh karena itu, teologi kontekstual tidak secara khusus menekankan peran "akal budi" dalam sumber-sumber teologi.
19. Apakah semua sumber daya yang digunakan oleh teologi kontekstual itu baik?
Belum tentu. Pada dasarnya "kebaikan" atau "keburukan" sumber daya tidak memiliki hubungan langsung dengan nilainya sebagai sumber daya untuk konstruksi teologis. Sumber-sumber yang negatif sering kali memiliki nilai yang besar sebagai titik acuan dalam pemikiran teologis. Dapat juga dikatakan bahwa sikap terhadap bahan dan metode penggunaannya adalah faktor yang menentukan nilainya. Singkatnya, bahan-bahan yang digunakan dalam teologi kontekstual mencakup yang baik dan yang buruk, seperti halnya bahan-bahan yang digunakan dalam teologi tradisional. Sikap kritis yang digunakan dalam usaha-usaha teologis adalah hal yang penting.
20. Apakah kekuatan-kekuatan khusus dari sumber-sumber yang digunakan dalam teologi- teologi Asia?
Dibandingkan dengan wilayah-wilayah lain di dunia ketiga, selain dari pengalaman umum tentang kemiskinan ekonomi dan penjajahan asing, karakteristik yang paling berbeda dari pengalaman masyarakat di wilayah Asia adalah pluralitas dan keunikan agama mereka. Oleh karena itu, di kawasan ini kekayaan sumber daya agama menjadi aset sekaligus tantangan yang paling penting dan kritis.
21. Selain dari hal-hal di atas, apa lagi yang perlu diperhatikan oleh teologi kontekstual ketika menggunakan kebudayaan sebagai sumber daya?
Teologi kontekstual menekankan manusia sebagai subjeknya, oleh karena itu pemilihan sumber- sumber teologisnya secara sadar bersandar pada bahan-bahan rakyat, dan tidak mempercayai dokumen-dokumen resmi (dokumen-dokumen resmi tidak dilarang, tetapi karena sebagian besar ditulis di bawah manipulasi kekuasaan, maka diperlukan penilaian yang kritis terhadap penggunaannya). Bahan-bahan rakyat meliputi cerita rakyat, mitos, rumor, peribahasa, legenda, lagu, simbol, gerakan rakyat dan kegiatan agama rakyat, dll. 22. Untuk mengembangkan teologi kontekstual di Taiwan, elemen-elemen budaya apa saja yang secara khusus signifikan?
Teologi kontekstual di Taiwan menghadapi masyarakatnya yang memiliki beragam budaya agama, perbedaan identifikasi nasional (budaya politik), kerusakan ekologi yang disebabkan oleh pembangunan ekonomi, dan korupsi spiritualitas sosial. Dalam mengembangkan teologi, perhatian khusus harus diberikan pada peran dan makna agama-agama yang berbeda, proses transformasi sejarah Taiwan dan penafsirannya, keutuhan ciptaan Tuhan, dan berkomitmen untuk melakukan analisis kritis dan membangun kembali budaya spiritual Taiwan.
23. Sumber-sumber agama lokal apa yang berguna bagi pengembangan teologi kontekstual di dan untuk Taiwan?
Selain agama Kristen, ada banyak agama yang dianut oleh masyarakat Taiwan. Termasuk di antaranya adalah Konghucu, Buddha, Taoisme, I-Koan-Tao, dan animisme rakyat. Di antara agama-agama tersebut, agama rakyat paling banyak mempengaruhi rakyat biasa. Dalam
beberapa tahun terakhir, agama Buddha mengalami kebangkitan. Agama-agama ini tidak hanya mencerminkan nilai-nilai sosial rakyat biasa, tetapi juga berfungsi untuk membentuk mentalitas dan nilai-nilai sosial rakyat biasa. Jika sebuah teologi ingin menjadi kontekstual, berakar di tanah ini, diidentifikasikan dengan orang-orang di sini, teologi tersebut tidak dapat mengabaikan bahan-bahan yang terkandung dalam tradisi-tradisi keagamaan "selain Kristen" ini.
24. Dapatkah sejarah Taiwan digunakan sebagai sumber daya untuk teologi kontekstual Taiwan?
Salah satu tujuan alamiah dari teologi kontekstual adalah untuk mengkontekstualisasikan gereja Kristen, untuk meningkatkan pembentukan kembali identitas orang Kristen dalam masyarakat Taiwan, dan untuk menyatakan bahwa karya penebusan Allah berlaku bagi nasib orang-orang di negeri ini. Oleh karena itu, membaca kembali sejarah Taiwan dari sudut pandang iman Kristen, dan juga merefleksikan pesan-pesan Kristen melalui pengalaman-pengalaman masyarakat Taiwan, dapat dianggap sebagai salah satu tugas utama dalam melakukan teologi kontekstual di sini.
25. Apa yang kami maksud dengan "budaya Taiwan"?
Kita dapat melihat budaya Taiwan dari berbagai sudut pandang. Dari sudut pandang etnis, ada budaya penduduk asli Aborigin, Hakka, Hoklo, dan Tionghoa (yang datang setelah tahun 1949).
Selain itu, ada juga budaya internasional yang dibawa oleh para pekerja asing yang berimigrasi baru-baru ini. Dari perspektif perkembangan politik, ada budaya asli yang sudah ada dan budaya kolonial yang diperkenalkan dari luar, (termasuk Belanda, Spanyol, Jepang, dinasti Ming dan dominator Manchuria, yang masing-masing meninggalkan jejaknya sendiri). Dari perspektif agama, budaya Taiwan didasarkan pada agama rakyat sebagai struktur dasarnya dan dilengkapi dengan aliran Buddha, Tao, Kristen, dan semuanya bercampur dengan filosofi etika Konfusianisme. Dalam beberapa tahun terakhir, banyak gerakan "agama baru" yang telah memberikan dampak yang signifikan terhadap budaya religius Taiwan. Dari sudut pandang dinamika sejarah, manifestasi kerinduan spiritual masyarakat di Taiwan dalam gerakan sejarahnya telah mengilhami perjuangan dan harapan yang kuat untuk Chhut-Thâu-Tin (pembebasan) dalam momentum sejarahnya. Semua ini termasuk dalam istilah "Kebudayaan Taiwan". Tidak satu pun dari mereka dapat diabaikan jika teologi kontekstual yang berwawasan tentang Taiwan ingin dibangun.
26. Apakah ada sumber-sumber yang TIDAK BOLEH diabaikan dalam mengembangkan sebuah teologi kontekstual di dalam dan untuk Taiwan?
Ada. Karena teologi kontekstual adalah usaha teologi Kristen. Teologi ini harus sesuai dengan Kitab Suci dan memiliki hubungan dengan sejarah gereja di Taiwan.
27. Apa yang dapat kita pelajari dari sejarah gereja Taiwan untuk refleksi teologis?
Kegiatan dan pengalaman misi Kristen dalam sejarah gereja di Taiwan merupakan sumber yang baik untuk refleksi teologis. Termasuk di dalamnya adalah tiga pernyataan menantang yang dikeluarkan oleh Gereja Presbiterian di Taiwan pada tahun 1970-an demi mengidentifikasikan diri dengan masyarakat dan agar gereja berakar di negeri itu. Juga dokumentasi yang berkaitan dengan misi gereja dan keprihatinan sosial-politik. Terutama Pengakuan Iman Gereja Presbiterian di Taiwan yang dikeluarkan pada tahun 1985. Semua ini adalah sumber-sumber penting untuk pembangunan teologi di sini.
28. Secara konkret, elemen-elemen apa saja yang harus disertakan dalam teologi kontekstual Taiwan?
Secara umum, sumber-sumber untuk teologi kontekstual di Taiwan termasuk:
1. Sejarah dan budaya Taiwan
2. Situasi politik, ekonomi dan sosial di Taiwan 3. Agama-agama yang majemuk di Taiwan 4. Sejarah misi gereja-gereja di Taiwan 5. Kitab suci dan tradisi Kristen
29. Poin-poin mana yang paling penting untuk diperhatikan ketika menggunakan sumber-sumber ini untuk melakukan teologi kontekstual di dan untuk Taiwan?
Ketika menggunakan sumber-sumber yang disebutkan di atas dalam konstruksi teologi kontekstual, kita harus secara khusus memperhatikan sudut pandang keadilan rasial (suku Aborigin), kesetaraan gender (perempuan), pelestarian ekologi, dan kelompok-kelompok yang lemah, seperti kelompok-kelompok yang memiliki keterbatasan dan kelompok-kelompok minoritas yang terpinggirkan. Selain itu, kepentingan orang-orang yang dieksploitasi secara ekonomi seperti: kaum proletar (terutama buruh migran), kaum tani, dan mereka yang terlibat dalam industri perikanan dan pensiunan tentara yang datang ke sini dari Cina setelah Perang Dunia Kedua, tidak boleh diabaikan.
30. Beberapa elemen budaya Taiwan hampir tidak bersifat Kristen. Bagaimana kita dapat mengadopsi hal ini dalam melakukan teologi kontekstual di dalam dan untuk Taiwan?
Sumber-sumber daya dari budaya Taiwan ini, meskipun tidak secara tegas berlatar belakang
"Kristen", tidak berarti tidak ada yang terlepas dari karya Roh Allah pencipta. Para teolog kontekstual berpendapat bahwa jika kita benar-benar percaya bahwa Allah adalah pencipta seluruh alam semesta, dan Allah adalah Tuhan atas sejarah, maka tanah dan orang-orang Taiwan tidak dikecualikan dari tindakan kreatif Allah ini. Karya penebusan Tuhan juga akan dihadirkan
dalam sejarah dan budaya Taiwan. Jika sebuah usaha teologis adalah untuk terlibat dengan tugas untuk memahami tindakan-tindakan Allah dalam sejarah dan budaya, maka menyingkap dan memahami penebusan Allah dalam sejarah dan budaya Taiwan adalah misi yang tidak dapat dihindari dari Teologi Kontekstual.