• Tidak ada hasil yang ditemukan

Traction Planner dan OSCAR

N/A
N/A
Grace Alda Marthasari Siahaan

Academic year: 2025

Membagikan "Traction Planner dan OSCAR"

Copied!
7
0
0

Teks penuh

(1)

Pembelajaran Berdiferensiasi TRACTION PLANNER DAN OSCAR Dosen Pengampu : Adi Suseno S.Pd., M.Si.

Anggota Kelompok 5 :

1. Dian Eka Riyani 22413241004 / Pend.Sosiologi (B.1)

2. Dzakiyya Hilmiy Khoerunnisa 22413241045 / Pend.Sosiologi (B.1) 3. Aleyda Faradiba 22413244002 / Pend.Sosiologi (B.1)

4. Grace Alda Marthasari Siahaan 22413244020 / Pend.Sosiologi (B.1) 5. Audina Sakinah 22413244016 / Pend.Sosiologi (A.1)

TRACTION PLANNER Mata Pelajaran : Sosiologi

Materi : Konflik Sosial

TUJUAN PEMBELAJARAN

Peserta didik mampu memahami pengertian konflik serta menganalisis berbagai bentuk dan penyebab konflik yang terjadi di lingkungan sosial. Melalui pembelajaran ini, peserta didik juga diajak untuk memahami bahwa konflik tidak selalu berdampak negatif, namun dapat pula menjadi pendorong perubahan sosial yang konstruktif apabila dikelola dengan baik. Peserta didik diharapkan memiliki kepedulian terhadap masalah-masalah sosial atau konflik sosial di masyarakat sebagai orang dewasa atau warga negara yang bertanggung jawab terhadap lingkungan sekitar dan kehidupan publik.

KELEBIHAN/KEKUATAN SISWA

- Bidang Seni: membuat poster, infografis, konten edukatif (Tiktok/Youtube).

- Bidang Akademik: membuat makalah atau esai terkait studi kasus konflik.

- Bidang Olahraga: mengaitkan konflik dalam dunia olahraga (antar suporter, rivalitas tim) dalam bentuk role play (bermain peran).

PASSION SISWA

1. Membuat karya seni digital dan non digital seperti poster, pamflet, dan lainnya.

2. Senang membaca, mengikuti diskusi, dan mengeksplorasi hal-hal baru.

3. Rasa peduli yang tinggi seperti membantu orang lain dan terlibat dalam kegiatan sosial.

4. Senang bereksperimen menggunakan perangkat lunak dan terbuka dengan perkembangan teknologi terbaru.

5. Senang mengamati lingkungan sosial di sekitarnya.

(2)

PASSION GURU

1. Mengoperasikan Microsoft Office.

2. Mengoperasikan Google

3. Menggunakan media sosial seperti Instagram, TikTok, Twitter, Youtube 4. Mengoperasikan perangkat pembelajaran (hardware & software)

5. Membuat media pembelajaran digital (Canva, Quizizz, Kahoot, Wordwall, dll).

KEHIDUPAN SEHARI-HARI SISWA

1. Mengalami dan menerima perbedaan pendapat dengan lingkungan sekitar (teman/keluarga/tetangga)

2. Menanggapi konflik di dunia maya (berita dan sosial media) maupun dunia nyata dengan bijaksana.

3. Bijaksana dalam penggunaan sosial media (comments).

KENAPA PENTING UNTUK DIPELAJARI (HARI INI/ MASA DEPAN)?

Today | Memahami konflik sosial membantu peserta didik mengenali bentuk dan penyebab konflik di lingkungan mereka, sekaligus melatih kemampuan berpikir kritis dan objektif.

Peserta didik belajar bahwa konflik tidak selalu negatif, melainkan bisa menjadi peluang untuk perbaikan sosial.

Future | Melalui pembelajaran ini, peserta didik juga mengembangkan keterampilan menyelesaikan masalah secara damai, berdialog, berempati, menghargai perbedaan dan kemampuan penting dalam kehidupan bermasyarakat dan dunia kerja. Selain itu, peserta didik dibekali nilai-nilai toleransi, solidaritas, dan keadilan sosial sebagai bekal menjadi warga negara yang bijak dan beretika di tengah keberagaman.

KEBUTUHAN SISWA

Perangkat pembelajaran yang dapat menunjang gaya belajar peserta didik seperti proyektor, lcd, sound system, buku teks, handphone/laptop, media sosial, aplikasi editing, serta kolaborasi dengan teman/kelompok.

MATERI APA YANG PALING SULIT?

Membedakan bentuk-bentuk konflik sosial dan mengklasifikasikan dampaknya. Konflik sosial bisa berdampak positif maupun negatif dan peserta didik seringkali menganggap semua konflik sebagai hal yang buruk.

(3)

INTEGRASI D.I. DALAM PEMBELAJARAN

1. OBJECTIVE (TUJUAN PEMBELAJARAN)

Peserta didik mampu mengidentifikasi berbagai bentuk dan penyebab konflik sosial yang terjadi di masyarakat serta menganalisis dampaknya secara kritis untuk mengembangkan sikap toleransi dan kemampuan menyelesaikan konflik secara damai.

Empat karakteristik tujuan jangka panjang dari pembelajaran ini yaitu:

- Bermakna: Berkaitan langsung dengan kehidupan sosial peserta didik dan pembentukan karakter.

- Terukur: Dapat dinilai dari kemampuan peserta didik dalam mengidentifikasi, menganalisis, dan memberikan solusi.

- Dapat di monitor: Bisa dipantau melalui diskusi kelas, studi kasus, atau asesmen formatif seperti jurnal reflektif atau tes pemahaman.

- Berguna dalam pembuatan keputusan: Membekali peserta didik dengan keterampilan sosial dan pengambilan keputusan yang bijak dalam menyikapi konflik di lingkungan mereka.

2. STARTING POSITION (KEMAMPUAN AWAL SISWA)

a. Kemampuan awal peserta didik dalam pembelajaran adalah pengetahuan dan keterampilan yang didapat dari pembelajaran sebelumnya serta pengalaman tentang konflik yang didapat dari kehidupan sehari-hari.

● Pengetahuan: Peserta didik memiliki bekal pengetahuan berupa materi relevan yang didapat dari pembelajaran sebelumnya. Untuk pembelajaran dengan materi konflik sosial, peserta didik diharapkan sudah memahami materi permasalahan sosial yang diberikan pada pembelajaran sebelumnya.

● Keterampilan: Peserta didik memiliki bekal kemampuan dasar seperti kemampuan memecahkan masalah atau problem solving, kemampuan berpikir kritis dan kreatif, serta kemampuan beradaptasi yang baik.

● Pengalaman: Peserta didik memiliki pengalaman relevan dengan materi pembelajaran yang mana dalam materi konflik sosial peserta didik setidaknya

(4)

pernah mendengar atau melihat langsung konflik yang terjadi di lingkungan sekitarnya.

● Sikap: Peserta didik berpotensi memiliki sikap positif atau negatif dalam menanggapi isu konflik sosial. Sebagian peserta didik mungkin melihat konflik sebagai suatu masalah yang harus dihindari, sementara sebagian peserta didik lainnya menganggap konflik sebagai kesempatan untuk mendorong adanya perubahan.

b. Kekuatan Peserta Didik: Peserta didik memiliki kemampuan membuat konten digital (poster, video), keterampilan bicara yang baik, atau gemar mengamati fenomena sosial.

c. Pendekatan Efektif: Pendekatan berbasis studi kasus atau project-based learning, di mana peserta didik menganalisis konflik nyata lalu membuat solusi dalam bentuk konten atau presentasi kelompok.

d. Intervensi

- Individu: Peserta didik membuat refleksi tertulis atau lisan tentang pengalaman pribadi mereka ketika menghadapi konflik.

- Kelompok: peserta didik mendiskusikan konflik sosial yang terjadi di masyarakat (misalnya konflik agraria, konflik antar kelompok sosial), kemudian mempresentasikan hasil analisis dan solusinya dengan selaras.

3. CRITERIA (KRITERIA YANG AKAN DICAPAI)

Must Have : Peserta didik harus bisa mengaitkan konflik sosial yang dipelajari dengan pengalaman nyata yang mereka alami atau saksikan di lingkungan sekitar (sekolah, keluarga, media sosial, dll).

Contoh : Peserta didik mampu menganalisis konflik yang terjadi seperti: “Saya pernah mengalami konflik dengan teman sekelompok saat kerja kelompok, karena perbedaan pendapat dan pembagian tugas yang tidak adil.”

Amazing : Peserta didik mampu menunjukkan pemikiran kritis dan solusi dari pengalaman konflik yang mereka alami atau amati. Respon peserta didik dapat muncul berdasarkan dari hasil pembelajaran aktif di kelas, seperti diskusi kasus konflik nyata, bermain peran (role play), atau debat.

(5)

Contoh : Peserta didik mampu menentukan solusi untuk menyelesaikan konflik yang dialami seperti: “Setelah berdiskusi di kelas, saya menyadari pentingnya komunikasi terbuka dalam menyelesaikan konflik. Saat terjadi kesalahpahaman dengan sahabat saya, saya mengajaknya bicara baik-baik dan mencari solusi bersama. Ini membuat hubungan kami lebih kuat.”

4. ACTION PATTERN (AKTIVITAS PEMBELAJARAN)

Kegiatan Keterangan

Awal (Pendahuluan) 1. Guru membuka pelajaran dengan salam, doa dan menyapa peserta didik.

2. Guru menanyakan kabar dan mengkondisikan kelas agar siap belajar.

3. Melakukan presensi dan memastikan kondisi kelas nyaman.

4. Menyampaikan garis besar kegiatan pembelajaran hari ini.

5. Memberikan pertanyaan pemantik seperti: “Apa contoh perilaku konflik yang pernah kalian alami atau sudah kalian lihat hari ini?”

6. Memberikan apresiasi kepada peserta didik yang aktif merespon.

7. Menyampaikan tujuan dan manfaat mempelajari konflik sosial.

Inti 1. Guru menyampaikan materi tentang konflik sosial:

definisi, bentuk/jenis dan penyebab konflik dalam bentuk PPT dan Video YT yang ditayangkan.

2. Peserta didik mendengarkan dan memahami mengenai penjelasan awal yang diberikan oleh guru.

3. Guru membagi peserta didik ke dalam beberapa kelompok berbasis minat (bidang seni, akademik, olahraga)

4. Setiap kelompok memilih salah satu contoh konflik nyata untuk dianalisis.

5. Peserta didik mengerjakan proyek kelompok sesuai minat/passionnya (berdiferensiasi):

- Bidang seni : Infografis, video edukatif (konten

(6)

TikTok/Youtube)

- Bidang akademik : PPT, debat, essai/makalah - Bidang olahraga : Roleplay (bermain peran)

6. Guru membimbing proses pengerjaan, memberi masukan, dan membantu jika ada kendala.

7. Setiap kelompok mempresentasikan hasil proyeknya.

Akhir (Penutup)

1. Guru dan peserta didik memberikan tanggapan terhadap hasil presentasi kelompok lain.

2. Guru memberikan umpan balik dan klarifikasi terhadap materi.

3. Peserta didik memberikan refleksi pribadi: “Apa yang saya pelajari dari konflik sosial hari ini dan bagaimana saya bisa menyikapinya dengan bijak?”

4. Guru menutup pembelajaran dengan menyimpulkan inti kegiatan pembelajaran hari ini.

5. Guru menyampaikan materi yang akan dipelajari pada pertemuan selanjutnya.

6. Guru memberikan apresiasi dan motivasi kepada peserta didik.

7. Guru menyelesaikan pembelajaran dengan doa bersama dan salam penutup.

5. REFLECTION (REFLEKSI PEMBELAJARAN) 1. Bagi Guru:

Refleksi bagi guru adalah dengan melakukan evaluasi terhadap pembelajaran yang sudah dilakukan. Guru memastikan pemahaman peserta didik terhadap materi pembelajaran dengan memberikan aktivitas pembelajaran kepada peserta didik yang dapat digunakan untuk menilai sejauh mana pemahaman peserta didik. Aktivitas tersebut dapat berupa kuis sederhana, diskusi kelompok, analisa situasi, ataupun meminta peserta didik menjelaskan kembali apa saja yang sudah mereka pahami selama pembelajaran. Dari aktivitas tersebut guru bisa menilai bab atau sub bab mana yang mudah dipahami dan sulit untuk dipahami peserta didik. Kemudian guru bisa

(7)

berinovasi dalam penggunaan strategi atau model yang lebih mudah untuk dicerna peserta didik.

Contoh :

- Peserta didik menunjukkan antusiasme saat mengeksplorasi konflik sosial yang kontekstual dan dekat dengan kehidupan mereka.

- Beberapa peserta didik masih mengalami kesulitan dalam memilah fakta dan opini saat menganalisis kasus konflik.

- Kolaborasi antar peserta didik terbangun dengan baik, namun perlu pendampingan dalam manajemen waktu dan pembagian tugas.

- Kegiatan berbasis produk kreatif dapat membantu peserta didik lebih mudah memahami konflik.

2. Bagi Peserta Didik:

Refleksi pembelajaran bagi peserta didik adalah dengan mengikuti aktivitas yang diberikan oleh guru untuk mengetahui sejauh mana pemahaman peserta didik mengenai materi pembelajaran yang sudah disampaikan. Sebagai contoh, guru membagi peserta didik menjadi beberapa kelompok untuk melakukan analisis suatu contoh konflik dan dampaknya bagi masyarakat. Dengan mengikuti aktivitas ini peserta didik mengetahui sejauh mana pemahaman mereka dan bisa menanyakan kembali hal yang kurang dipahami pada guru untuk memperkuat pemahaman mereka.

Peserta didik juga bisa menyarankan pembelajaran seperti apa yang ingin mereka lakukan untuk memudahkan mereka memahami materi, seperti menggunakan media video ataupun game untuk pembelajaran selanjutnya.

Contoh :

- “Saya belajar bahwa konflik sosial bisa terjadi dalam berbagai bentuk dan penyebabnya sangat beragam”.

- “Saya menyadari pentingnya memahami sudut pandang yang berbeda dalam suatu konflik sebelum mengambil kesimpulan”.

- “Melalui kegiatan membuat infografis/video/makalah/roleplay, saya belajar menyampaikan gagasan secara kreatif dan kolaboratif”.

Referensi

Dokumen terkait

(1) Belajar bersama dengan teman; (2) Selama proses belajar terjadi tatap muka antar teman; (3) Saling mendengarkan pendapat di antara anggota kelompok; (4)

Konflik antar kelompok yaitu satu dengan yang lain dalam suatu. organisasi terjadi karena beberapa perbedaan

Konflik adalah perbedaan nilai, kepentingan, pendapat dan atau persepsi antara warga atau kelompok masyarakat dan atau warga atau kelompok masyarakat dengan badan hukum (privat

 Peserta didik berfikir bersama, tiap peserta didik dalam kelompok membagi tugas, menjelaskan kepada teman kelompoknya yang belum memahami materi, menyatukan pendapat

Jadi, konflik adalah suatu proses interaksi yang terjadi akibat adanya ketidak sesuaian atau perbedaan antara dua pendapat (sudut pandang), baik itu terjadi dalam

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa suatu organisasi yang sedang mengalami konflik dalam aktivitasnya menunjukkan ciri-ciri : (1) terdapat perbedaan pendapat

Tabel 4.14 Pemimpin mampu menyelesaikan konflik-konflik yang terjadi antar karyawan dengan baik dan bijaksana...54 Tabel 4.15 Pemimpin mampu menghargai perbedaan pendapat agar dapat

Adapun konflik adalah perbedaan nilai, kepentingan, pendapat, dan atau persepsi antara warga atau kelompok masyarakat dan atau warga atau kelompok masyarakat dengan badan hukum privat