• Tidak ada hasil yang ditemukan

TUGAS INDIVIDU FARMAKOTERAPI 3

N/A
N/A
Putri Adellia

Academic year: 2025

Membagikan "TUGAS INDIVIDU FARMAKOTERAPI 3"

Copied!
3
0
0

Teks penuh

(1)

TUGAS INDIVIDU FARMAKOTERAPI 3 PUTRI ADELLIA

21330039

1. Bagaimana terapi SLE untuk kondisi khusus (ibu hamil)?

JAWAB

a. Pengendalian Penyakit Sebelum Kehamilan

 Kehamilan sebaiknya direncanakan ketika SLE dalam remisi (minimal 6 bulan tanpa flare).

 Evaluasi keberadaan antibodi antiphospholipid (APS) yang meningkatkan risiko trombosis dan komplikasi kehamilan.

b. Pemantauan Ketat selama Kehamilan

 Pemantauan gejala SLE dan aktivitas penyakit (dengan indeks SLEDAI atau BILAG).

 Pemeriksaan rutin untuk fungsi ginjal, tekanan darah, dan tanda preeklampsia.

 USG dan pemantauan janin secara berkala.

c. Obat yang aman untuk ibu hamil

1. Kortikosteroid (Prednison, Metilprednisolon)

o Digunakan untuk mengontrol flare ringan hingga berat.

o Dosis rendah dianjurkan karena dosis tinggi meningkatkan risiko diabetes gestasional, hipertensi, dan kelahiran prematur.

2. Hydroxychloroquine (HCQ)

o Sangat dianjurkan selama kehamilan karena mengurangi risiko flare dan meningkatkan hasil kehamilan.

o Aman untuk janin.

3. Azathioprine (AZA)

o Dapat digunakan untuk lupus dengan keterlibatan organ berat atau sebagai steroid-sparing agent.

o Dosis maksimal: 2 mg/kg/hari.

4. Aspirin dosis rendah (81–100 mg/hari)

o Direkomendasikan untuk mencegah preeklampsia, terutama pada pasien dengan APS.

5. Heparin (Unfractionated Heparin atau Low Molecular Weight Heparin/LMWH)

o Digunakan pada pasien dengan APS untuk mencegah trombosis.

d. Obat yang harus dihindari pada trimester ke-3 karena beresiko premature closure ductus arteriosus

 Methotrexate (MTX) → Teratogenik, menyebabkan cacat lahir.

 Mycophenolate Mofetil (MMF) → Dapat menyebabkan kelainan kongenital.

 Cyclophosphamide (CYC) → Berisiko menyebabkan cacat lahir dan keguguran.

 Rituximab → Dapat menyebabkan imunosupresi neonatal.

 NSAID (Non-Steroidal Anti-Inflammatory Drugs)

e. Manajemen spesifik berdasarkan manifestasi SLE

(2)

manifestasi Terapi yang direkomendasikan

Lupus ringan (artritis, ruam, serositis) Hydroxychloroquine + kortikosteroid dosis rendah

Lupus ginjal (nefritis lupus) Azathioprine + kortikosteroid Lupus berat (neuropsikiatri, hematologic,

kardiopulmener) Kortikosteroid dosis tinggi+ azathioprine APS dengan Riwayat thrombosis Heparin + aspirin

APS dengan Riwayat keguguran berulang Aspirin dosis rendah + heparin

2. Jurnal efek samping SLE JAWAB

Judul Efek Samping Terapi Kortikosteroid Sistemik Jangka Panjang pada Pasien Lupus Erimatosus Sistemik dan Tatalaksana Dermatologi

Nama jurnal Laporan kasus Volume dan halaman Vol.47 no 2

Tahun terbit 2020

Penulis Joice Gunawan Putri, Angel Benny Wisan Permasalahan Efek samping

Tujuan penelitian Menganalisis efek samping

Metode Studi kasus, penerapan terapi, evaluasi klinis, pemeriksaan laboratorium, tatalaksana lebih lanjut

hasil Hasil penelitian dari laporan kasus ini menunjukkan beberapa temuan penting terkait efek samping penggunaan kortikosteroid sistemik jangka panjang pada pasien lupus eritematosus sistemik (LES)

1. Identifikasi Efek Samping: Pasien yang menjalani terapi kortikosteroid sistemik selama 18 bulan mengalami beberapa efek samping yang signifikan, termasuk:

Akne Steroid: Terdapat papul hiperpigmentasi multipel di area torakalis anterior dan posterior, serta ekstremitas superior .

Sindrom Cushing: Pasien menunjukkan perubahan wajah menjadi bulat (moon face), peningkatan berat badan, dan keluhan nyeri kepala [T9].

Leukositosis: Hasil laboratorium menunjukkan peningkatan jumlah leukosit (23.200/mm³), yang menandakan reaksi tubuh terhadap terapi .

2. Perubahan Fisik: Setelah 18 bulan terapi, pasien mengeluhkan beberapa gejala fisik, seperti munculnya bintik-bintik pada dada, lengan, dan punggung, tanpa disertai rasa gatal .

3. Stabilitas Vital: Meskipun mengalami efek samping, parameter vital pasien seperti tekanan darah, denyut nadi, frekuensi napas, dan suhu tetap dalam batas normal, menunjukkan bahwa pasien masih dalam kondisi yang stabil secara umum .

(3)

4. Respons Terhadap Tatalaksana: Setelah penerapan terapi topikal selama satu bulan dan penurunan dosis kortikosteroid, pasien menunjukkan perbaikan, baik dari segi dermatologis maupun gejala umum [T9].

5. Pengaruh Terhadap Kualitas Hidup: Efek samping ini berpotensi mempengaruhi kualitas hidup pasien, baik secara fisik (dari segi penampilan) maupun psikologis (dari segi kenyamanan dan kepuasan diri)

kesimpulan efek samping penggunaan kortikosteroid sistemik jangka panjang pada pasien LES perempuan 25 tahun, berupa akne steroid pada regio torakalis anterior et posterior dan ekstremitas superior dekstra et sinistra, sindrom Cushing (moon face, kenaikan berat badan, dan nyeri kepala) dan leukositosis. Diagnosis didasarkan atas anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan laboratorium. Setelah satu bulan pengobatan dan pengurangan dosis kortikosteroid sistemik, terdapat perbaikan.

400675-efek-samping-terapi-kortikosteroid-siste-66a5d72c.pdf

Referensi

Dokumen terkait

Efek samping penggunaan pada psoriasis sama dengan placebo. Efektivitas dan keamanan jangka

Tesis yang berjudul “Analisis Efek Samping Peningkatan Tes Fungsi Hati Pada Pasien TB RO dengan Terapi Jangka Pendek dan Terapi Individual” ini merupakan salah satu persyaratan

Lupus Eritemateus Sistemik (SLE) adalah suatu penyakit autoimun yang kronik yang mempunyai latar belakang kelainan multigenik dan tercetus karena berinteraksi dengan faktor luar

Secara umum penggunaan terapi topikal relatif lebih aman dan memiliki efek samping minimal bila dibandingkan dengan rute pemberian sistemik, namun terapi topikal memiliki

11 Banyak penelitian yang dilakukan mendapatkan hasil terapi kombinasi inhalasi β2 agonist kerja panjang dan kortikosteroid lebih memberikan efek yang menguntungkan terhadap

Menjelaskan siapa saja yang tidak bisa menggunakan metode kontrasepsi jangka panjang non hormonal AKDR IUD.. Menjelaskan efek samping metode kontrasepsi jangka panjang non hormonal AKDR

Obat untuk profilaksis HIV/AIDS memiliki kriteria seperti aman digunakan dalam jangka panjang baik secara in vitro maupun in vivo, tidak terdapat efek samping local maupun sistemik,

Bagi Tenaga Medis • Mengetahui perencaan pemberian medikasi yang dapat diberikan pada pasien Systemic Lupus Erythematosus SLE untuk meminimalisir efek samping dari penggunaan