Tidak Henti Mengkaji Al-Qur’an
Oleh: Wildan Fahdika Ahmad (21205032023)
Sejak kecil, seorang Muslim telah memulai aktivitasnya dalam mempelajari Al-Qur’an.
Mulai dari mempelajari cara membaca Al-Qur’an (ilmu tajwid), hingga menghafalnya.
Kemudian di masa selanjutnya ia mulai mempelajari kandungan Al-Qur’an, seperti mereka yang sekolah di madrasah. Di sisi lain, ada pula yang berhenti pada ilmu tajwid dan hafalan Al-Qur’an, minimal Juz ‘Amma. Ada pula yang telah menamatkan membaca Al-Qur’an 30 juz. Bagi yang berhasil menguasai ilmu tajwid atau cara membaca Al-Qur’an serta menghafalnya, menjadi bukti bahwa Al-Qur’an itu ‘dimudahkan’ oleh Allah. Hal ini bisa kita renungkan bahwa orang non-Arab yang biasa berbahasa Indonesia, misalnya, bisa membaca dan menghafal Al-Qur’an yang mana berbahasa Arab. Maka, benarlah firman Allah, Q.S. Al- Qamar: 17, ٍرِكّدّم ْنِم ْلَهَف ِرْكّذلِل َنٰاْرُقْلا اَنْرّسَي ْدَقَلَو , yang kurang lebih, artinya: Dan sungguh, telah Kami mudahkan Al-Qur'an untuk peringatan, maka adakah orang yang mau mengambil pelajaran?.1
Namun, manusia senantiasa tumbuh dan berkembang, badan maupun akalnya.
Karenanya, sebagian manusia tidak berhenti pada membaca dan menghafal, tetapi juga mempelajari kandungannya. Di dalam surat Al-Qamar, ayat tersebut diulang sebanyak 4 kali, yaitu pada ayat 17, 22, 32, dan 40. Hal ini barangkali menunjukkan kuatnya makna yang terkandung. Dan memang, Allah telah menunjukkan bukti bahwa Al-Qur’an itu mudah dengan banyaknya orang yang mampu membacanya dan menghafalnya.
Tapi, apakah hanya itu yang dituju? Apakah ِرْكّذلللِل hanya sebatas untuk bacaan dan hafalan? Secara tekstual mungkin iya, tetapi secara substansial belum tentu. Dalam ayat tersebut, selain menjamin bahwa Al-Qur’an mudah dihafal (diingat), Allah juga menanyakan kepada pembaca, sudahkah mereka mengambil pelajaran? Mengambil pelajaran berarti mengambil nasihat.2 Dan menurut Al-Zamakhsyari, Allah juga memudahkan manusia dalam mempelajari dan mengambil nasihat, selain menghafalnya. Hal itu karena Al-Qur’an mengandung nasihat serta dikemas dalam bentuk janji dan ancaman.3 Maka, sudahkah seorang Muslim mengambil nasihat?
1 https://quran.kemenag.go.id/sura/54
2 Al-Imāmain al-Jalālain, Tafsīr al-Qur’ān al-‘Aẓīm, Surabaya: Dār al-‘Ilm, t.th, juz 1, h. 130
3 Abi al-Qāsim Maḥmūd ibn ‘Umar al-Zamakhsyari al-Khawārizmi, Al-Kasyāf (juz 2), Beirut: Dār al-Ihyā at-Turāṡ al-‘Arabi, cetakan pertama, h. 1202
Bagi seseorang yang sejak lahir hingga berumur 25 tahun misalnya, tetap mempelajari Al-Qur’an, mungkin telah merasa cukup, mungkin masih merasa belum. Jika Al-Qur’an berisi nasihat-nasihat dan pelajaran, mungkinkah seseorang mampu menguasai seluruhnya?
Sedangkan dalam Al-Qur’an Allah berfirman, َدللَفْنَت ْنَا َلللْبَق ُر للْحَبْلا َدِفَنَل ْيّبَر ِت ٰمِلَكّل اًداَدِم ُر ْحَبْلا َناَك ْوّل ْلُق اًدَدَم ٖهِلْثِمِب اَنْئِج ْوَلَو ْيّبَر ُت ٰمِلَك , yang artinya: Katakanlah (Muhammad), “Seandainya lautan menjadi tinta untuk (menulis) kalimat-kalimat Tuhanku, maka pasti habislah lautan itu sebelum selesai (penulisan) kalimat-kalimat Tuhanku, meskipun Kami datangkan tambahan sebanyak itu (pula).”4 Ayat ini menunjukkan bahwa firman Allah, ilmu-ilmu-Nya, hikmah-hikmah- Nya, meskipun telah terhimpun di dalam Al-Qur’an yang kita kenal sebagai mushaf, tetapi betapa banyak tafsir yang bermunculan.
Dari situlah dapat diambil kesimpulan bahwa meskipun Al-Qur’an hanya terhimpun dalam ukuran satu mushaf, tetapi makna (kandungan)nya dinamis, senantiasan relevan untuk segala ruang dan waktu. Hal ini dapat dilihat dari sejarah tafsir Al-Qur’an yang dimulai sejak zaman Nabi hingga sekarang, begitu banyak penafsiran Al-Qur’an yang dihasilkan, dengan metode, corak, sistematika yang beraneka ragam. Dan itu akan terus berkembang.
Barangkali, jika seseorang mampu memahami seluruh isi kandungan Al-Qur’an, pun hanyalah ibarat memahami setetes dari lautan hikmah-Nya. Oleh karena itulah seyogyanya seorang Muslim tidak pernah berhenti mengkaji Al-Qur’an hingga akhir hayat, dalam rangka mencari kalimāt Allah yang pada akhirnya membawa keselamatan diri di dunia dan akhirat.
Wallahu a’lam.
Referensi:
Al-Khawārizmi, Abi Al-Qāsim Maḥmūd Ibn ‘Umar Al-Zamakhsyari, Al-Kasyāf, Juz 2.
Beirut: Dār al-Ihyā at-Turāṡ al-‘Arabi, Cetakan Pertama.
Al-Jalālain, al-Imāmain, Tafsīr al-Qur’ān al-‘Aẓīm, Surabaya: Dār al-‘Ilm, t.th.
https://quran.kemenag.go.id/
4 https://quran.kemenag.go.id/sura/18