Tugas CLO 3 Penelitian Operasional 1
Kelompok : 6 Kelas : TI-47-06
Anggota Kelompok : Andita Alya Zahra (102012300358) Nizar Fahrezian Malik (102012330134) Danu Andhika Saputra (102012300447)
CLO 3 Bagian 1
1. Tentukan kebijakan jumlah produksi yang optimal pada minggu pertama bulan Januari 2025 untuk OR Kitchen Appliances. Penentuan solusi optimal dilakukan dengan menggunakan alat bantu yang telah dipelajari pada pertemuan Hands-On.
Perhitungan menggunakan Excel
Dari perhitungan menggunakan Excel Solver tersebut dapat disimpulkan bahwa untuk mencapai keuntungan optimum yaitu sejumlah Rp182.460.000,00, saran kebijakan jumlah
produksi yang optimal pada minggu pertama bulan Januari 2025 untuk OR Kitchen Appliances, yaitu:
1. Jumlah unit Mesin Espresso OR24 yang harus diproduksi di Pabrik Bekasi(𝑥₁) adalah 198 unit
2. Jumlah unit Mesin Espresso OR24 yang harus diproduksi di Pabrik Subang(𝑥₂) adalah 279 unit
3. Jumlah unit Mesin Espresso OR47 yang harus diproduksi di Pabrik Bekasi(𝑥₃) adalah 102 unit
4. Jumlah unit Mesin Espresso OR47 yang harus diproduksi di Pabrik Padalarang(𝑥₄) adalah 260 unit
Dari tabel diatas juga dapat disimpulkan bahwa jumlah maksimum Mesin Espresso yang dapat di produksi adalah 839 unit Mesin Espresso.
2. Lakukan analisis mengenai pengaruh perubahan keuntungan setiap unit Mesin Espresso dan perubahan ketersediaan part terhadap kebijakan jumlah produksi optimal, sertakan bukti perhitungan yang sesuai.
Perubahan keuntungan setiap unit Mesin Espresso dan ketersediaan part saling berhubungan dan keduanya dipengaruhi oleh adanya perubahan nilai pembatas.
Skenario 1:
1. Ketersediaan maksimumHandle ConnectorPabrik Bekasi yang semula berjumlah 800 dikurangi menjadi 450 unit(Pembatas 4).
2. Ketersediaan maksimumHandle ConnectorPabrik Subang yang semula berjumlah 700 dikurangi menjadi 400 unit(Pembatas 5).
3. Ketersediaan maksimumHandle ConnectorPabrik Padalarang yang semula berjumlah 600 dikurangi menjadi 350 unit(Pembatas 6).
4. Ketersediaan maksimumPower SupportPabrik Bekasi yang semula berjumlah 800 dikurangi menjadi 450 unit(Pembatas 7).
5. Ketersediaan maksimumPower SupportPabrik Subang yang semula berjumlah 700 dikurangi menjadi 400 unit(Pembatas 8).
6. Ketersediaan maksimumPower SupportPabrik Padalarang yang semula berjumlah 600 dikurangi menjadi 350 unit(Pembatas 9).
7. Ketersediaan maksimumCenter SupportPabrik Bekasi yang semula berjumlah 1200 dikurangi menjadi 650 unit(Pembatas 10).
8. Ketersediaan maksimumCenter SupportPabrik Subang yang semula berjumlah 1200 dikurangi menjadi 650 unit(Pembatas 11).
9. Ketersediaan maksimumCenter SupportPabrik Padalarang yang semula berjumlah 1100 dikurangi menjadi 600 unit(Pembatas 12).
Dari tabel perhitungan diatas dapat dilihat akibat dari pengurangan ketersediaan part yaitu:
1. Jumlah produksi OR24 di Pabrik Bekasi(𝑋1)berkurang sebanyak 150 unit yang semula berjumlah 198 unit menjadi 48 unit.
2. Jumlah produksi OR24 di Pabrik Subang(𝑋2)berkurang sebanyak 117 unit yang semula berjumlah 279 unit menjadi 162 unit.
3. Jumlah produksi OR47 di Pabrik Bekasi(𝑋3)bertambah sebanyak 12 unit yang semula berjumlah 102 unit menjadi 114 unit.
4. Jumlah produksi OR47 di Pabrik Padalarang(𝑋4)berkurang sebanyak 164 unit yang semula berjumlah 260 unit menjadi 96 unit.
Jadi saat terjadi pengurangan ketersediaan jumlah part jumlah maksimum Mesin Espresso yang dapat di produksi turun, yang semula 839 unit menjadi 420 unit Mesin Espresso.
Keuntungan juga mengalami penurunan sebanyak Rp113.279.904,00 yang semula sebesar Rp182.460.000,00 menjadi Rp69.180.096,00.
Skenario 2:
1. Ketersediaan maksimumHandle ConnectorPabrik Bekasi yang semula berjumlah 800 ditambah menjadi 1000 unit(Pembatas 4).
2. Ketersediaan maksimumHandle ConnectorPabrik Subang yang semula berjumlah 700 ditambah menjadi 900 unit(Pembatas 5).
3. Ketersediaan maksimumHandle ConnectorPabrik Padalarang yang semula berjumlah 800 ditambah menjadi 1100 unit(Pembatas 6).
4. Ketersediaan maksimumPower SupportPabrik Bekasi yang semula berjumlah 800 ditambah menjadi 1000 unit(Pembatas 7).
5. Ketersediaan maksimumPower SupportPabrik Subang yang semula berjumlah 700 ditambah menjadi 900 unit(Pembatas 8).
6. Ketersediaan maksimumPower SupportPabrik Padalarang yang semula berjumlah 600 ditambah menjadi 800 unit(Pembatas 9).
7. Ketersediaan maksimumCenter SupportPabrik Bekasi yang semula berjumlah 1200 ditambah menjadi 1400 unit(Pembatas 10).
8. Ketersediaan maksimumCenter SupportPabrik Subang yang semula berjumlah 1200 ditambah menjadi 1400 unit(Pembatas 11).
9. Ketersediaan maksimumCenter SupportPabrik Padalarang yang semula berjumlah 1100 ditambah menjadi 1100 unit(Pembatas 12).
Dari tabel perhitungan diatas dapat dilihat akibat dari penambahan ketersediaan part yaitu:
1. Jumlah produksi OR24 di Pabrik Bekasi(𝑋1)bertambah sebanyak 17 unit yang semula berjumlah 198 unit menjadi 215 unit.
2. Jumlah produksi OR24 di Pabrik Subang(𝑋2)berkurang sebanyak 15 unit yang semula berjumlah 279 unit menjadi 264 unit.
3. Jumlah produksi OR47 di Pabrik Bekasi(𝑋3)bertambah sebanyak 2 unit yang semula berjumlah 102 unit menjadi 104 unit.
4. Jumlah produksi OR47 di Pabrik Padalarang(𝑋4)tetap tidak berkurang dan tidak bertambah dengan unit berjumlah 260.
Jadi saat terjadi penambahan ketersediaan jumlah part jumlah maksimum Mesin Espresso yang dapat di produksi naik , yang semula 843 unit menjadi unit Mesin Espresso.
Keuntungan juga mengalami penaikkan sebanyak Rp520.000,00 yang semula sebesar Rp182.460.000,00 menjadi Rp182.980.000,00.
3. Tentukan kebijakan rute dan alokasi pengiriman yang optimal untuk hasil produksi OR Kitchen Appliances pada minggu pertama bulan Januari 2025. Penentuan solusi optimal dilakukan dengan menggunakan alat bantu yang telah dipelajari pada pertemuan Hands-On.
Diketahui jumlah pasokan dan permintaan OR kitchen:
Dengan titik alokasi:
Maka dengan perhitungan menggunakan excel diperoleh hasil:
solusi optimal untuk OR Kitchen yaitu dengan memperoleh biaya optimal Rp6.983.800,00
4. Lakukan analisis mengenai pengaruh adanya titik transit terhadap kebijakan rute dan alokasi pengiriman optimal, sertakan bukti perhitungan yang sesuai.
Titik transit berperan penting dalam meningkatkan efisiensi pengiriman. Titik transit memungkinkan proses pengaturan ulang untuk pengiriman yang lebih efisien dan juga memengaruhi strategi
perencanaan rute dengan memilih rute alternatif yang lebih hemat biaya.
Perhitungan tanpa melalui titik transit:
Dari hasil perhitungan dapat dilihat perbedaan kebijakan rute dan alokasi pengiriman yang melalui titik transit dan tanpa melalui titik transit. Dalam kasus ini, biaya pengiriman akan lebih murah
apabila Mesin Espresso dikirimkan dari sumber ke tujuan dengan melalui titik transit. Terbukti dengan biaya pengiriman sebesar Rp6.983.800,00 dibandingkan pengiriman tanpa adanya titik transit sebesar Rp67.094.000,00.