UPAYA GURU PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DALAM MENINGKATKAN KEDISIPLINAN BELAJAR SISWA KELAS VIII DI
SMPN 1 LABUAPI TAHUN PELAJARAN 2021/2022
oleh Farizul Hadi NIM 160101221
JURUSANPENDIDIKAN AGAMA ISLAM FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN UNIVERSITAS ISLAM NEGERI MATARAM
MATARAM 2022
ii
UPAYA GURU PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DALAM
MENINGKATKAN KEDISIPLINAN BELAJAR SISWA KELAS VIII DI SMPN 1 LABUAPI TAHUN PELAJARAN 2021/2022
Skripsi
diajukan kepada Universitas Islam Negeri Mataram untuk melengkapi persyaratan mencapai gelar
Sarjana Pendidikan
oleh Farizul Hadi NIM. 160101221
JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN UNIVERSITAS ISLAM NEGERI MATARAM
MATARAM 2022
iii
iv
v
vi
vii
viii MOTTO
“karena Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, karena Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan,”
(QS. Al-Insyirah [94]: 5-6)1
1 Departemen Agama RI, “Al-Qur‟an Dan Terjemahan Translite Latin”, (Jakarta: PT.
Pena Pundi Akara), hlm. 102
ix
PERSEMBAHAN
“Kupersembahkan skripsi ini untuk Ibuku Hadiah Dan Bapakku. Sahman, adik-adikku Aryadi Sukma Al-madani dan Syaoqia Hidayati, almamaterku, semua guru dan dosenku”
x
KATA PENGANTAR
Alhamdulillah, segala puji hanya bagi Allah, Tuhan semesta alam yang telah memberikan kita nikmat berbagai macam nikmat sehingga masih diberikan umur yang panjang, dan shalawat serta salam semoga selalu tercurahkan kepada Nabi Muhammad Saw,yang telah membawa umatnya dari alam yang gelap menuju alam yang terang benderang, juga kepada keluarga, sahabat, dan semua pengikutnya, amin. sehingga skripsi dengan judul “Upaya Guru Pendidikan Agama Islam Dalam Meningkatkan Kedisiplinan Belajar Siswa Kelas VIII di SMP Negeri 1 Labuapi Tahun Ajaran 2021/2022” dapat terselesaikan.
Penulis menyadari bahwa proses penyelesaian skripsi ini tidak akan sukses tanpa bantuan dan keterlibatan berbagai pihak. Oleh karena itu, penulis memberikan penghargaan setingi-tingginya dan ucapan terima kasih kepada pihak-pihak yang telah membantu sebagai berikut;
1. Dr.H. Mukhlis, M.Ag sebagai Pembimbing I dan Dr. Emawati, M.Ag. sebagai Pembimbing II yang memberikan bimbingan, motivasi, dan koreksi mendetail, terus-menerus, dan tanpa bosan di tengah kesibukannya dalam suasana keakraban menjadikan skripsi ini lebih matang dan cepat selesai;
2. Dr. Abdul Fatah, M.Fil.I. sebagai dosen wali studi;
3. H. Muhammad Taisir, M.Ag. sebagai ketua jurusan;
4. Erwin Padli, M.Ag. sebagai sekertaris jurusan.
xi
5. Kedua orang tuaku Bapak Sahman dan Ibuku Hadiah yang telah berkorban tenaga dan fikiran, serta menjadi doa ridhonya peneliti sehingga peneliti bisa menyelesaikan penelitian ini dengan baik.
6. Dr. Jumarim, M.H.I selaku Dekan Fakultas Tarbiyah dan Keguruan;
7. Prof. Dr. H. Masnun, M.Ag. selaku Rektor UIN Mataram yang telah memberi tempat bagi penulis untuk menuntut ilmu.
8. Ahmad Anshori, S, Pd, M. selaku kepala sekolah SMP Negeri 1 Labuapi, yang telah mengizinkan peneliti meneliti sekolah tersebut.
9. Kepada saudara-saudariku yang telah membantu memberikan motivasi dan sedikit tips dalam membantu proses penyusunan skripsi, peneliti mengucapkan terimakasi banyak, semoga diberikan kesehatan wal afiat.
Terucap doa kepada pihak yang berperan, yang peneliti tidak dapat menyebutkan satu-persatu. Semoga amal kebaikan dari berbagai pihak tersebut mendapat pahala yang berlipat-ganda dari Allah swt. dan semoga karya ilmiah ini bermanfaat bagi semesta. Amin.
Mataram, 22 Agustus 2022 Penulis,
Farizul Hadi NIM 160101221
xii DAFTAR ISI
HALAMAN SAMPUL ... i
HALAMAN JUDUL ... ii
HALAMAN LOGO ... iii
PERSETUJUAN PEMBIMBING ...iv
NOTA DINAS PEMBIMBING ... v
PERNYATAAN KEASLIAN SKRIPSI ... vi
PENGESAHAN DEWAN PENGUJI ... vii
HALAMAN MOTO ... viii
HALAMAN PERSEMBAHAN... ix
KATA PENGANTAR ... x
DAFTAR ISI ... xii
DAFTAR TABEL...xiv
DAFTAR GAMBAR ... xv
DAFTAR LAMPIRAN ...xvi
ABSTRAK ... xvii
BAB I PENDAHULUAN ... 1
A. Latar Belakang ... 1
B. Rumusan Masalah ... 6
C. Tujuan dan Manfaat ... 6
D. Ruang Lingkup dan SettingPenelitian. ... 7
E. Telaah Pustaka ... 8
F. Kerangka Teori... 11
1. Guru Pendidikan Agama Islam. ... 11
a. PengertianGuru Pendidikan Agama Islam. ... 11
b. Dasar-dasar Pembelajaran Pendidikan Agama Islam... 14
c. Tujuan Pembelajaran Pendidikan Agama Islam ... 14
1) Bidang studi Aqidah akhlak ... 15
2) Bidang studi al-qur’an hadist ... 15
3) Bidang studi syariah ... 16
4) Bidang studi Sejarah Islam... 16
d. Peran Guru Pendidikan Agama Islam ... 16
e. Fungsi Guru Pendidikan Agama Islam ... 18
2. Kedisiplinan Belajar. ... 20
a. Pengertian Kedisiplinan Belajar. ... 20
b. Pentingya disiplin Dalam Belajar... 21
c. Fungsi Disiplin Belajar. ... 22
d. Langkah-langkah Disiplin Dalam Belajar. ... 25
xiii
G. Metode Penelitian... 27
H. Sistematika Pembahasan ... 37
BAB II PAPARAN DATA DAN HASIL TEMUAN... 38
A. Gambaran Umum SMP Negeri 1 Labuapi ... 38
1. Sejarah Singkat SMP Negeri 1 Labuapi... 38
2. Visi dan Misi ... 40
a. Visi SMP Negeri 1 Labuapi ... 40
b. Misi SMP Negeri 1 Labuapi ... 40
3. Letak Denah Lokasi SMP Negeri 1 Labuapi ... 41
4. Sarana dan Prasana SMP Negeri 1 Labuapi ... 42
5. Struktur Organisasi Guru dan Pegawai SMP Negeri 1 Labuapi ... 43
6. Data dan Keadaan Guru SMP Negeri 1 Labuapi ... 44
7. Data dan keadaan Siswa SMP Negeri 1 Labuapi ... 45
B. Upaya Guru Pendidikan Agama Islam Dalam MeningkatkanKedisiplinan Sisiwa... 45
C. Faktor Pendukung dan Penghambat Upaya Guru PAI Dalam Meningkatkan Kedisiplinan Belajar Siswa ... 53
1. Pendukung ... 53
2. Penghambat ... 54
BAB III PEMBAHASAN ... 56
A. Bagaimana upaya guru pendidikan agama islam dalam meningkatkan kedisiplinan belajar kelas VIII di SMP Negeri 1 Labuapi ... 56
B. Apa saja faktor pendukung dan penghambat upaya guru pendidikan agama Islam dalam meningkatkan kedisiplinan belajar kelas VIII di SMP Negeri 1 Labuapi ... 58
1. Pendukung ... 58
2. Penghambat ... 63
BAB IV PENUTUP ... 68
A. Kesimpulan ... 68
B. Saran... 69
DAFTAR PUSTAKA. ... 70
LAMPIRAN ... 74
xiv
DAFTAR GAMBAR
Gambar 2.1 Letak Denah Lokasi SMP Negeri 1 Labuapi, 41
Gambar 2.2 Struktur Organisasi Guru dan Pegawai SMP Negeri 1 Labuapi, 43
xv
DAFTAR TABEL
Tabel 2.1 Sarana SMP Negeri 1 Labuapi, 42 Tabel 2.2 Prasarana SMP Negeri 1 Labuapi, 42
Tabel 2.3 Data dan keadaan Guru SMP Negeri 1 Labuapi, 44 Tabel 2.4 Data dan Keadaan Siswa SMP Negeri 1 Labuapi, 45
xvi
DAFTAR LAMPIRAN Lampiran 1 Hasil Wawancara, 75
Lampiran 2 Surat Permohonan Rekomendasi Penelitian Dari Kampus, 78 Lampiran 3 Surat Rekomendasi Penelitian Dari Bangkespol, 79
Lampiran 4 Surat Hasil Penelitian Dari SMP Negeri 1 Labuapi, 80 Lampiran 5 Foto Kegiatan Penelitian, 81
Lampiran 6 Daftar Riwayat Hidup, 85
xvii
UPAYA GURU PAI DALAM MENINGKATKAN
BELAJAR SISWA KELAS VIII DI SMP NEGERI 1 LABUAPI Oleh :
Farizul Hadi NIM: 160101221
ABSTRAK
Pendidikan Agama Islam adalah usaha untuk memperkuat Iman dan ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, sesuai dengan ajaran Islam, bersikap inkluasif, rasional dan filosofis dalam rangka menghormati orang lain dalam hubungan kerukunan dan kerjasama antar umat beragama dalam masyarakat untuk mewujudkan persatuan Nasional.
Dalam penelitian ini penulis menggunakan jenis penelitian lapangan (field research), dapat juga dianggap sebagai pendekatan luas dalam penelitian kualitatif atau sebagai metode untuk mengumpulkan data kulatatif.Ide pentingnya adalah bahwa penelitian berangkat ke lapangan untuk mengadakan pengamatan tentang suatu fenomena dalam suatu keadaan alamiah.Penelitian ini menggunakan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan yang muncul, sehingga penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif.Pendekata kualitatif menekankan pada makna, penalaran, definisi suatu situasi tertentu, lebih banyak meneliti dalam kehidupan sehari-hari.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa: (1) Upaya guru pendidikan agama Islam dalam meningkatkan kedisplinan belajar kelas VIII di SMPN 1 Labuapi adalah dengan membiasakan siswa membaca Asmaul Husna, melaksanakan shalat Dhuha secara berjama’ah, guru memberikan tugas tambahan terhadap siswa yang melanggar aturan, dan guru menjadi contoh dalam berdisiplin. (2) Faktor pendukung upaya guru pendidikan agama Islam dalam meningkatkan kedisiplinan belajar kelas VIII di SMPN 1 Labuapi yaitu : Sarana prasarana yang memadai.
(3) Adapun faktor penghambatnya yaitu antara lain : a) Kondisi awal siswa yang tidak ikhlas dan malas, b) pergaulan, c) karakter siswa yang berbeda, d) unsur keterpaksaan siswa
Kata Kunci : Upaya Guru PAI, Kedisiplinan, Hasil Belajar
BAB I PENDAHULUAN A.Latar Belakang Masalah
Hakikat pendidikan Islam adalah kewajiban mutlak yang dibebankan kepada semua umat Islam, bahkan kewajiban pendidikan atau mencari ilmu dimulai semenjak bayi dalam kandungan hingga masuk ke liang lahat. Seorang ibu yang sedang hamil dianjurkan memperbayak ibadah, membaca al-Qur’an, dan berzikir keapada Allah karena akhlak ibu yang baik pada masa-masa hamil sangat benar pengaruhnya kepada bayi dalam kandungan. Demikianlah pula, anak yang baru dilahirkan dibacakan azan dan iqamat karena pendengaran sang bayi adalah alat indra pertama yang bekerja.Dalam proses pengajaran, unsur proses belajar memegang peranan yang penting, proses membimbing kegiatan belajar dan kegiatan mengajar hanya bermakna bila terjadi kegiatan belajar siswa. Oleh karena itu, adalah penting sekali bagi setiap guru memahami sebaik-baiknya tentang proses belajar siswa, agar ia dapat memberikan bimbingan dan menyediakan lingkungan belajar yang tepat dan serasi bagi siswa.
Pendidikan atau guru adalah contoh terbaik bagi murid-muridnya yang menjadi anak didik diberbagai lembaga pendidikan, dalam interaksi edukatif yang berlangsung antara pendidik dan anak didik atau guru dan murid- muridnya yang telah terjadi interaksi yang bertujuan, guru dan anak didiklah yang menggerakannya.2 Pendidikan merupakan hubungan antar pribadi
2 Hasan Basri, Filsafat Pendidikan Islam, (Bandung: Pustaka Setia, 2014), hlm. 56-60
pendidik dan anak didik, dalam pergaulan terjadi kontak atau komunikasi antar masing-masing pribadi.Hubungan ini jika meningkat ke taraf hubungan pendidikan, maka menjadi hubungan antar pribadi siswa yang pada akhirnya melahirkan tanggung jawab pendidikan dan kewibawaan pendidikan.3
Kedisiplinan sekolah erat hubungannya dengan kerajinan siswa dalam sekolah dan juga dalam belajar. Kedisiplinan sekolah mencakup kedisiplinan guru dalam mengajar dengan melaksanakan tata tertib, kedisiplinan pegawai atau karyawan dalam administrasi dan kebersihan atau keteraturan kelas, gedung sekolah, halaman dan lain-lain. Kedisiplinan Kepala Sekolah dalam mengelola seluruh staf beserta siswa-siswanya, dan kedisiplinan tim BP dalalm pelayanan siswanya.
Seluruh staf sekolah yang mengikuti tata tertib dan bekerja dengan displin membuat siswa displin pula, selain itu juga memberi pengaruh yang positif terhadap belajarnya. Banyak sekolah yang dalam pelaksanaan disiplin kurang, kurang bertanggung jawab, karena bila tidak melaksanakan tugas, itu tidak ada sangsi hal mana dalam proses belajar siswa perlu disiplin untuk mengembangkan motivasi yang kuat. Dengan demikian agar siswa belajar lebih maju, siswa harus disiplin di dalam belajar baik di sekolah, dirumah dan di perpustakaan, agar siswa disiplin haruslah guru beserta staf yang lain disiplin.4
3Hasbullah, Dasar-Dasar Ilmu Pendidikan, (Jakarta:Raja Grafindo Persada, 2012), hlm. 5
4Slameto, Belajar dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhi,(Jakarta: Rineka Cipta, 2013) hlm. 67
Penanaman disiplin dari tujuan akhir dari pengolahan kelas adalah anak didik dapat mengembangkan diri sendiri. Karena itu, guru sebaiknya selalu mendorong anak didik untuk melaksanakan disiplin dari diri sendiri dan guru sendiri hendaknya menjadi teladan mengenai pengendalian diri dan pelaksanaan tanggung jawabnya. Jadi, guru harus disiplin dalam segala hal bila ingin anak didiknya ikut berdisiplin dalam segala hal.5
Berdasarkan pengertian diatas,maka dapat dijelaskan bahwa upaya guru dalam meningkatkan kedisplinan belajar adalah, memberikan motivasi kepada siswa, mengaktifkan peserta didik, menyediakan pengalaman belajar.
Memberikan pendekatan dan komunikasi pembelajaran, dan pemanfaatan sumber pembelajaran. Indikator dalam meningkatkan kedisiplinan belajar adalah, memberikan contoh atau teladan, sesuai dengan psikologi siswa.
Kedisiplinan dapat ditinjau dari segi agama, terdapat dalam QS. An-Nisa [4]:59;
ۡم ُكۡن ِم ِر ۡم َ ۡالۡ ىِلوُاَو َلۡى ُسَّرلا اىُعـۡيِطَاَو َهّٰللا اىُعـۡيِطَا اٰۤۡىُنَمٰا َنۡيِذَّلا اَهُّيَاـٰٰۤي ٍٍ ۡۡ َىَ ۡىِِ ۡمََُُۡۡاَنََ ِۡۡاََ ۚ
ِر ِخٰ ۡالۡ ِمۡىـَيۡلاَو ِهّٰللاِب َۡۡىُنِمۡؤَُ ۡمُُـۡنُك ِۡۡا ِلۡى ُسَّرلاَو ِهّٰللا ىَلِا ُهۡوُّدُرََ
ََ ِل ٰٰ ؕ
ًل ۡيِو ۡاََ ُن َس ۡحَاَّو ٌرۡي َخ
Artinya : “Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. kemudian jika kamu berlainan Pendapat tentang sesuatu, Maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah
5 Syaiful Bahri Djamarah, Strategi Belajar Mengajar, (Jakarta: Rineka Cipta, 2010), hlm.
186
dan hari kemudian. yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.”6
Dari ayat diatas, terungkap pesan untuk patuh dan taat kepada para pemimpin, dan jika terjadi perselisihan diantara mereka, maka urusannya harus dikembalikan kepada aturan Allah dan Rasul-Nya.
Terkait kedisiplinan di sekolah, penulis melakukan observasi di kelas VIII SMP Negeri 1 Labuapi mengenai Siswa terlihat masih melakukan kegaduhan di kelas. seperti, mengobrol sendiri dengan kawannya saat pembelajaran dimulai, tidak memperhatikan guru saat menjelaskan kemudian main hp sendiri, dan ketidak hadiran siswa dengan kategori alpa sebagai salah satu kurangnya disiplin belajar. karena adanya ketidak hadiran tersebut, merupakan ciri bahwa disiplin belajar masih kurang. selain jumlah ketidak hadiran, ketepatan waktu siswa dalam mengikuti jadwal pelajaran sebagai alat ukur disiplin belajar juga masih kurang. masih ada siswa yang sering datang terlambat masuk ke dalam kelas tanpa memiliki perasaan bersalah telah melakukan pelanggaran tata tertib.
Melihat siswanya seperti itu guru Pendidikan Agama Islam berupaya meningkatkan kedisiplinan belajar kepada siswa agar proses belajar itu akan berjalan lancar. Selain itu guru memberikan pelajaran dengan metode diskusi, agar proses pembelajaran dikelas menjadi lebih menarik dan menyenangkan agar siswa tidak merasa bosan dan memiliki rasa keterkaitan utnuk melakukan
6 Departemen Agama RI, “al-Qur‟an Dan Terjemahan Translite Latin” (Jakarta: PT.
Pena Pundi Akara), hlm. 32
proses pembelajaran.7 Selanjutnya didapatkan suatu keterangan dari Sri Wahyuni selaku guru Pendidikan Agama Islam, bahwa beliau mengatakan:
“Pada saat proses pembelajaran terdapat permasalahan yang dihadapi oleh guru Pendidikan Agama Islam yaitu : ada beberapa siswa terlambat masuk ke kelas dan siswa kerap kali melakukan hal yang kontraproduktif saat belajar, dan didalam diri siswa krisis, dalam kedisplinannya.”
Krisis kedisplinan belajar siswa merupakan tantangan bagi seorang guru dalam mengajar, tantangan terbesar yang ada dihadapan guru adalah menjaga kedisplinan belajar dan ketertiban di kelas.8
Berdasarkan penjabaran di atas dapat dikatakan bahwa kedisplinan belajar yang dimiliki siswa kurang terlihat dari sikap yang ditujukan saat proses pembelajaran. Melihat kenyataan yang terjadi, peneliti melakukan untuk mengetahui upaya guru Pendidikan Agama Islam dalam menciptakan kedisplinan belajar siswa kelas VIII di SMPN 1 Labuapi Dusun Jerneng Timur Kabupaten Lombok Barat.Oleh karena itu, berangkat dari latar belakang diatas, penulis meneliti lebih mendalam tentang “Upaya Guru Pendidikan Agama Islam dalam Meningkatkan Kedisplinan Belajar Siswa Kelas VIII di SMPN 1 Labuapi”.
7Observasi, SMP Negeri 1 Labuapi,2 Agustus 2021
8 Sri Wahyuni, Wawancara, SMP Negeri 1 Labuapi, 2 Agustus 2021
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas, maka dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut:
1. Bagaimana upaya guru pendidikan agama Islam dalam meningkatkan kedisplinan belajar kelas VIII di SMPN 1 Labuapi?
2. Apa saja faktor pendukung dan penghambat upaya guru pendidikan agama Islam dalam meningkatkan kedisiplinan belajar kelas VIII di SMPN 1 Labuapi?
C.Tujuan dan Manfaat 1. Tujuan penelitian
a. Untuk mengetahui upaya guru pendidikan agama Islam dalam meningkatkan kedisiplinan belajar siswa di kelas VIII di SMPN 1 Labuapi
b. Untuk megetahui apa saja faktor pendukung dan penghambat upaya guru pendidikan agama Islam dalam meningkatkan kedisiplinan belajar siswa kelas VIII di SMPN 1 Labuapi
2. Manfaat
a. Untuk Kepala Sekolah
1) Dapat membuat ketentuan yang lebih tegas, supaya siswa disiplin dalam belajar
2) Demi tercapainya kedisplinan siswa kepala sekolah dapat memantau situasi pembelajaran di kelas
b. Bagi Guru
Guru Pendidikan Agama Islam (PAI) lebih dapat memperhatikan siswa didalam setiap pembelajaran dan guru dapat selalu memberikan contoh tingkah laku yang baik yang berkaitan dengan kedisplinan belajar kepada siswa.
D.Ruang Lingkup dan Setting Penelitian
Ruang lingkup penelitian merupakan salah satu unsur terpenting dalam sebuah penelitian karya ilmiah. Ruang lingkup penelitian dalam penelitian karya ilmiah dimaksudkan untuk memperjelas judul dalam karya ilmiah yang akan ditulis. Jika istilah yang terdapat dalam judul karya ilmiah tersebut masih membutuhkan penjelasan secara utuh sebagai batasan makna agar dapat dipahami oleh pembaca, sekalipun untuk memperjelas cakapan focus penelitian.
Adapun ruang lingkup penelitian ini yaitu terkait dengan, peran guru Pendidikan Agama Islam dalam membina kedisiplinan siswa, kendala-kendala yang dihadapi guru akidah akhlak dalam membina kedisiplinan siswa kelas VIII di SMP Negeri 1 Labuapi.
E. Telaah Pustaka
Telaah pustaka adalah untuk menjelaskan posisi (State Of Art) perbedaan atau memperkuat hasil penelitian tersebut dengan penelitian yang telah ada. Pengkajian terhadap hasil penelitian orang lain yang relevan, lebih berfungsi sebagai pembanding dari kesimpulan berfikir peneliti.9
Untuk menghindari duplikasi peneliti melakukan penulisan terhadap penelitian-penilitian terdahulu. Dari hasil penelusuran penelitian terdahulu, diperoleh beberapa masalah yang berkaitan dengan masalah yang akan diteliti, yaitu :
Pertama, skripsi yang ditulis oleh mahasiswa Universitas Muhammadiyah Surakarta yang bernama Nasrul Aziz (NIM: G00100182) Jurusan Pendidikan Agama Islam Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan tahun 2014 dengan judul “Peranan Guru Dalam Meningkatkan Kedisiplinan Ibadah
Salat Dhuha Siswa Madrasah Tsanawiah Negerti (MTsN) Surakarta”
Memiliki program kegiatan yang bertujuan agar siswa menjadi lebih disiplin, yaitu: melaksanakan salat dhuha secara berjama’ah.
Adapun permasalahan yang akan diangkat dalam penelitian ini ialah:
Upaya Guru PAI dalam meningkatkan kedisiplinan belajar siswa di kelas VIII SMP Negeri 1 Labuapi. Sedangkan tujuan dari penelitian ini adalah Untuk
9Zuhairi et. Al Pedoman Penulisan Karya Ilmiah STAIN Jurnal SiwoMetro,(Jakarta:Rajawali Press, 2016), hlm. 46
mengetahui dan mendeskripsikan kondisi kdisiplinan belajar siswa kelas VIII di SMP Negeri 1 Labuapi Bagek Polak.10
Kedua, skripsi yang ditulis oleh IAIN TULUNGGAGUNG yang bernama Nofi Susanti (NIM: 321103018) Jurusan Pendidikan Agama Islam Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan tahun 2014 dengan judul “Upaya Guru Fiqih dalam Meningkatkan Kedisiplinan Salat Berjama‟ah Siswa di SMP Islam Durenan”. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif yang membahas permasalahan dilatarbelakangi oleh sebuah fenomena pendidikan keagamaan yang dihadapkan pada zaman yang lebih berat dimana sekarang ini dengan mudah dijumpai anak-anak muslim yang belum begitu faham mengenai pembelajaran dan hikmah-hikmah salat berjama’ah.11
Dalam skripsi yang saya tulis, memiliki kemiripan dengan penelitian- penelitian sebelumnya namun dalam penelitian ini lebih memfokuskan mengenai upaya meningkatkan kedisiplinan belajar siswa sebagai dan hal-hal yang mendukung dan menghambat guru pendidikan Islam dalam meningkatkan disiplin belajar siswa skripsi ini menggunakan pendekatan kualitatif yang berupa data deskriptif yang memiliki kesamaan oleh kedua mahasiswa yang bernama Nasrul Aziz dan Nofi Susanti. Di dalam skripsi ini untuk memberoleh data, penulis banyak melakukan penggalian data melalui informasi yaitu melalui semua guru pendidikan agama Islam yang ada di SMP N 1 Labuapi
10Nashrul Aziz, “Peranan Guru Dalam Meningkatkan Kedisiplinan Ibadah Shalat Dhuha Siswa Madrasah Tsanawiah Negeri (MTsN) Surakarta II”, (Skripsi Universitas Muhammadiyah Surakarta, 2014) hlm. 8
11Nofi Susanti, “Upaya Guru Fiqih dalam Meningkatkan Kedisiplinan Shalat Berjama’ah Siswa di SMP Islam Durenan” (Skripsi, IAIN TULUNG AGUNG, 2014) hlm. 9
Bagek Polak.Namun dalam hal perbedaan antara skripsi sebelum-belumnya adalah jelas terletak pada judul, fokus, penelitian dan objek penelitian.
Ketiga, Juwita Muhammad (Institut Agama Islam Negeri Mataram tahun 2007) dalam skripsinya yang berjudul “Implikasi Tingkat Kedisiplinan siswa dalam prestasi belajar bidang studi aqidah akhlak XI SMA Muhammadiyah Mataram”.12
Perbedaannya, 1) Juwita Muhammad melakukan penelitian terhadap implikasi tingkat kedisiplinan siswa dalam prestasi belajar sendangkan peneliti melakukan penelitian pada tingkat kedisiplinan siswa, 2) Juwita Muhammad melakukan penelitian pada kelas XI SMA, persamaan penelitian yang dilakukan oleh Juwita Muhammad dengan penulis, yaitu: Peneliti yang dilakukan oleh kedua peneliti sama-sama fokus pada mata pelajaran Pendidikan Agama Islam dan pendekatan yang diiinginkan sama-sama pendekatan kualitatif.
Keempat, Azmi, (Institut Agama Islam Negeri Mataram 2009), dalam skripsinya yang berjudul “urgensi pendidikan akhlak dalam membentuk kepribadian siswa dalam mata pelajaran pendidikan aqidah akahlak di MI Al- madaniyah.”13
Perbedaan dan persamaanya judul skripsi Azmi, dengan judul yang disusun oleh penulis, yaitu:
12Juwita Muhammad, “Implikasi Tingkat Kedisiplinan siswa dalam prestasi belajar bidang studi aqidah akhlak XI SMA Muhammadiyah Mataram”(Skripsi, Institut Agama Islam Negeri Mataram , 2014) hlm. 10
13Azmi, “Urgensi Pendidikan Akhlak dalam Membentuk Kepribadian Siswa dalam mata pelajaran Pendidikan Akidah Akhlak di MI- madaniyah,“(Skripsi, Institut Agama Islam Negeri Mataram,2007) hlm. 12
Azmi melakukan penelitian yang memfokuskan pada akhlak sedangkan peneliti melakukan penelitian yang berkaitan dengan disiplin.Azmi melakukan penelitian memfokuskan pada kepribadian sedangkan penulis memfokuskan pada kedisiplinan. Persamaannya Azmi dan penulis sama-sama menekankan pada pendekatan kualitatif
F. Kerangka Teori
1. Guru Pendidikan Agama Islam
a. Pengertian Guru Pendidikan Agama Islam
Guru merupakan pendidik professional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada jalur pendidikan formal, tugas utama itu akan efektif jika guru memiliki derajat profesionalisme tertentu yang tercermin dari kompetensi, kemahiran, kecakapan, atau keterampilan, yang memenuhi standar mutu atau norma etik tertentu.14
Secara definisi sebutan guru tidak termuat dalam UU No. 20 Tahun 2003 pasal 3 tentang sistem pendidikan Nasional (Studiknas), didalam UU No. 20 Tahun 2003 Pasal 3 ini, kata guru dimasukkan ke dalam genus pendidik. Dalam peraturan pemerintah (PP) No. 74 Pasal 1 Tahun 2008 tentang Guru. Sebutan guru mencakup: (1) guru itu sendiri, baik itu guru kelas, guru bidang studi, maupun guru bimbingan dan konseling
14Supriyadi, “Strategi Belajar Mengajar” (Yogyakarta: Cakrawala Ilmu, 2015) hlm. 11
atau guru bimbingan karir; (2) guru dengan tugas tambahan sebagai kelapa sekolah; (3) dan guru dalam jabatan pengawas.15
Guru dalam melaksanakan pendidikan baik di lingkungan formal dan non formal dituntut untuk mendidik dan mengajar. Kerena keduanya mempunyai peranan yang penting dalam proses belajar mengajar untuk mencapai tujuan ideal pendidikan. Mengajar lebih cenderung mendidik anak menjadi orang yang pandai tentang ilmu pengetahuan saja, tetapi jiwa dan watak anak didik tidak dibangun dan dibina, sehingga di sini mendidiklah yang berperan untuk membentuk jiwa dan watak anak didik dengan kata lain memdidik adalah kegiatan transfer of velues, memindahkan sejumlah nilai kepada anak didik.
Dengan demikian, guru itu juga diartikan ditiru dan digugu, guru adalah orang yang dapat memberikan respon positif bagi peserta didik dalam proses belajar mengajar, untuk saat ini sangatlah diperlukan guru yang mempunyai basic, yaitu kompetensi sehingga proses belajar mengajar yang berlangsung berjalan sesuai dengan yang kita harapkan.
Banyak yang beranggapan bahwasanya guru Pendidikan Agama Islam sekarang ini hanya mengembang tugasnya dalam kelas (lokal), tidaklah lebih dari itu, melalui buku ini sebagiannya guru itu bertindak selam 24 jam seperti kata Bapak Abdurrahmansyah, artinya di sini guru kapan dan di mana saja siap mendidik, mengawasi anak didiknya. Ia tidak hanya
15Ibid.hlm. 12
sebagai bayangan semu saja melainkan harus bergerak sesuai dengan irama sebenarnya.16
Pendidikan Agama Islam adalah usaha untuk memperkuat Iman dan ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, sesuai dengan ajaran islam, bersikap inkluasif, rasional dan filosofis dalam rangka menghormati orang lain dalam hubungan kerukuran dan kerjasama antar umat beragama dalam masyarakat untuk mewujudkan persatuan Nasional ( Undang-undang No. 2 Tahun 1989 Pasal 3).17
Tujuan dari pendidikan agama islam adalah agar manusia lebih berakhlak mulia dengan cara memahami ajaran-ajaran Islam, dan mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari.
Dari pengertian tersebut dapat ditentukan beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pembelajaran PAI, yaitu:
1) Sebagai usaha sadar yakni sesuatu kegiatan bimbingan, pengajaran atau latihan yang dilakukan secara berencana dan sadar atas tujuan yang hendak dicapai.
2) Peserta didik yang hendak disiapkan untuk mencapai tujuan.
3) Guru PAI melakukan kegiatan bimbingan, pengejaran dan latihan secara sendiri terhadap peserta didiknya untuk mencapai tujuan PAI.
4) Kegiatan pembelajaran PAI diarahkan untuk meningkatkan keyakinan, pemahaman, penghayatan, dan pengalaman ajaran Islam
16Akmal Hawi, “Kompetensi Guru Pendidikan Agama Islam” (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2014) hlm. 9-10
17Aminuddin dan Aliaras Wahid, “Pendidikan Agama Islam”(Jakarta: University Press, 2006) hlm. 1
dari peserta didik, di samping untuk membentuk kesalehan atau kualitas pribadi juga sekaligus untuk membentuk kesalehan sosial.18 b. Dasar-dasar Pembelajaran Pendidikan Agama Islam
Dasar pembelajaran PAI bersumber dari Al-Qur’an dan hadis.Sebagai firman Allah SWT dalam QS. As-Shaad [38]:29;
ِباَب ۡ ِك لَ ۡالۡ اى ُ
لوُا َر َّك َذ ََُيِلَو ٖهُِٰي ٰا ا ٰۤۡوُرَّب َّدَيِّل ٌكَرٰبُم ََ ۡيَلِا ُهٰنۡلَزۡنَا ٌبُٰ
Artinya:“Ini adalah sebuah kitab yang kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayat-Nya dan supaya mendapat pelajaran orang- orang yang mempunyai fikiran.”19
Berdasarkan penjelasan ayat tersebut dapat dipahami bahwa Al- Qur’an diturunkan kepada umat manusia untuk memberikan petunjuk kepada jalan hidup yang lurus dalam arti memberi bimbingan dan petunjuk ke arah diridhoi oleh Allah.
c. Tujuan Pembelajaran Pendidikan Agama Islam
Pendidikan agama Islam (PAI) sebagai suatu disiplin ilmu, mempunyai karakteristik dan tujuan berbeda dari disiplin ilmu yang lain.
Bahkan sangat mungkin berbeda sesuai dengan orientasi dari masing- masing lembaga yang menyelenggarakannya. Peserta didik yang telah mencapai tujuan pendidikan agama Islam dapat digambarkan sebagai sosok indivindu yang memiliki keimanan, komitmen, ritual dan sosial pada tingkat yang diharapkan, menerima tanpa keraguan sedikitpun akan
18Ibid, h. 19-20
19Departemen Agama RI, “Al-Qur‟an Dan Terjemahan Translate Latin”(Jakarta: PT.
Pena Pundi Akara,2009) , hlm. 5.
kebenaran Islam, bersedia untuk berperilaku atau memperlakukan objek keagamaan secara positif, melakukan perilaku ritual dan sosial keagamaan secara positif, melakukan perilaku ritual dan sosial keagamaan sebagaimana yang digariskan dalam ajaran agama Islam.
Uraian secara rinci tujuan pembelajaran pendidikan Agama Islam seperti berikut:
1) Bidang studi Aqidah Akhlak:
a) Mendorong agar peserta didik meyakini dan mencintai aqidah akhlak Islam.
b) Mendorong agar peserta didik benar-benar yakin dan taqwa kepada Allah SWT.
c) Menambahkan penbentukan kebiasaan berakhlak mulia daberadat kebiasaan yang baik.
2) Bidang studi Al-Qur’an al-Hadis
a) Membimbing peserta didik ke arah pengenalan pengetahaun, pemahaman dan kesadaran untuk mengamalkan kandungan ayat- ayat suci al-Qur’an dan al-hadis
b) Menunjang kelompok studi yang lain dalam kelompok agama Islam.
c) Merupakan mata rantai dalam pembinaan peserta didik ke arah pribadi utama menurut norma-norma agama.
3) Bidang studi Syari’ah
a) Menumbuhkan pembentukkan kebiasaan dalam melaksanakan amal ibadah kepda Allah SWT sesuai ketentuan-ketentuan agama (Syari’at) ikhlas dan tuntunan akhlak mulia.
b) Mendorong tumbuh dan menebalnya insan.
c) Mendorong tumbuhnya semangat untuk mengolah alam sekitar anugrah Allah SWT.
4) Bidang studi Sejarah Islam
a) Membantu peningkatan iman peserta didik dalam rangka pembentukkan pribadi muslim, di samping memupuk rasa kecintaan dan kekaguman terhadap Islam dan kebudayaan.
b) Memberi bekal kepada pesertda didik dalam rangka melanjutkan pendidikannya ke tingkat yang lebih tinggi atau bekal untuk menjalani kehidupan pribadi mereka.20
d. Peran Guru Pendidikan Agama Islam
Peran guru yang dimaksud disini adalah berkaitan dengan peran guru dalam proses pembelajaran. Guru merupakan faktor penentu yang sangat dominan dalam pendidikan pada umumnya. Karena guru memegang peranan dalam proses pembelajaran.
Proses pembelajaran merupakan suatu proses yang mengandung serangkaian perbuatan guru dan siswa hubungan timbal balik yang
20Ahmad Mujiin Nasih dan Lilik Nur Kholidah, “Metode Teknik Pembelajaran Pendidikan Agama Islam,” (Bandung:Refika Aditama, 2013) hlm. 9-10
berlangsung dalam situasi edukatif untuk mencapai tujuan tertentu, dimana dalam proses tersebut terkandung multiperan dari guru.21
Peranan guru meliputi banyak hal, yaitu guru dapat berperan sebagai pengajar, pemimpin kelas, pembimbing, pengatur lingkungan belajar, perencanaan pembelajaran, supervisior, motivator, dan sebagai evaluator.22
Sebagai perencana pengajaran, seorang guru diharapkan mampu untuk merencanakan kegiatan belajar-mengajar secara efektif. Untuk itu ia harusmemiliki pengetahuan yang cukup tentang prinsip-prinsip belajar sebagai dalam merancang kegiatan belajar- mengajar.23Indikator peranan guru agama antara lain:
1) Mengajar ilmu pengetahuan agama
2) Menanamkan keimanan kedalam jiwa anak
3) Mendidik anak agar taat menjalankan ajaran agama 4) Mendidik anak agar berbudi pekerti yang mulia.24
Kualitas dan kuantitas belajar siswa di kelas bergantung pada banyak faktor, antara lain ialah guru, hubungan pribadi antara siswa di dalam kelas, serta kondisi umum dan suasana di dalam kelas.25
21Sudirman A.M, “Interaksi dan Motivasi,” hlm. 147
22Rusman, “Model-Model Pembelajaran Mengembangakan Profesionalisme,” Guru, (Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada), hlm. 58
23Slameto, “Belajar dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhi,” (Jakarta: PT Rineka Cipta, 20100), hlm. 98.
24Sardiman A.M, “Interaksi dan Motivasi,” hlm. 148.
25Moh. User Usman, “Menjadi Guru Profesional,” (Bandung: PT Remaja Rodakarya, 2013), hlm. 10
Berdasarkan pendapat tersebut diatas dapat diketahui bahwa tugas seorang guru itu bukan hanya sekedar menyampaikan imlu pengetahuan saja, akan tetapi memberikan bimbingan, pengarahan serta contoh tauladan yang baik pada siswa, dan mampu membimbing siswa agar terjalin interaksi yang efektif pada saat proses belajar mengajar.
e. Fungsi Guru Pendidikan Agama Islam
Fungsi guru dan kedudukan guru sebagai tenaga professional menurut ketentuan pasal 4 UU RI tentang guru dan dosen adalah sebagai agen dan pembelajaran yang berfungsi meningkatkan kualitas pendidikan Nasioal, sebagai agen pembelajaran guru memiliki peran yang sentral dan cukup strategis antara lain sebagai fasilitator, motivator, pemacu, perekayasa pembelajaran dan memberi inspirasi belajar bagi peserta didik.26
Guru harus dapat menempatkan diri sebagai orang tua kedua, dengan mengembang tugas yang dipercayakan orang tua kandu/wali anak didik dalam jangka waktu tertentu. Pemahaman terhadap jiwa dan watak anak didik diperlukan agar mudah dalam memahami anak didik.
Tugas guru tidak ringan, mungkin dalam pengamatan orang yang belum pernah mengajar, apa yang dilakukan guru adalah sebuah
26Auladuna, “Peranan Fungsi Guru dalam Proses Pembelajaran,” Vol. 1 No. 2, Desember 2014, hlm. 269
kegiatan yang kompleks, ada dinamika, kompleksitas kelas, keanekaragaman karakteristik siswa, dan berbagai aspek lainnya.27
Selain itu, guru memliki tugas kemanusiaan, sisi ini tidak bisa guru abaikan, karena guru harus terlibat dengan lingkungan masyarakat dan interaksi sosial. Secara lebih rinci tugas guru diantaranya yaitu :
1) Menyerahkan kebudayaan kepada anak didik berupa kepandaian, kecakapan, dan pengalaman-pengalaman.
2) Membentuk kepribadian anak yang harmonis, seusai cita-cita dan dasar Negara kita pancasila.
3) Sebagai perantara dalam belajar 4) Guru adalah sebagai pembimbing 5) Guru sebagai penegak disiplin.28
27Ngainun Naim, “Dasar-Dasar komunikasi Pendidikan,” (Jogjakarta: Ar-Ruzz Media), hlm. 96
28Syaiful Bahri Djamarah, “Guru dan Anak Didik dalam Interaksi Edukatif,” (Jakarta:
Rineka Cipta, 2010), hlm. 37-38.
2. Kedisiplinan Belajar
a. Pengertian Kedispinan Belajar
Menurut Bahri disiplin adalah suatu tata tertib yang dapat mengatur tatanan kehidupan pribadi dan kelompok, disiplin timbul dari dalam jiwa karena adanya dorongan untuk mentaati tata tertib tersebut disiplin dapat memberi semangat, menghargai sebuah waktu bukan menyia-nyiakan waktu dalam kehampaan.Menurut Siagian memberikan pengertian disiplin agalah merupakan suatu sikap menghormati, menghargai, patuh dan taat pada peraturan- peraturan. Dalam dunia pendidikan disiplin belajar merupakan kondisi yang sangat penting dan menentukan keberhasilan seorang siswa dalam proses belajarnya.29
Menurut Singgih Tego Saputra disiplin belajar adalah pengendalian diri siswa terhadap bentuk-bentuk aturan yang baik tertulis maupun tidak tertulis yang telah ditetapkan oleh siswa yang bersangkutan maupun berasal dari luar serta bentuk kesadaran akan tugas dan tanggung jawab sebagai pelajar baik disiplin dirumah, di sekolah dengan tidak melakukan sesuatu yang merugikan tujuannya dari proses belajarnya.30
Menurut Slameto ada beberapa macam disiplin belajar yang hendaknya yang dilakukan oleh siswa yaitu:
29Sultan Hasanudin, “Hubungan disiplin dengan hasil belajar siswa,” (Vol. 1 No. 1, 2016, hlm. 16)
30Saputra dan Pardiman, “Pengaruh Disiplin Belajar dan Lingkungan Teman Sebaya Terhadap Prestasi Belajar Mahasiswa,” (Vol. 10, No. 1)
1)Disiplin siswa dalam masuk sekolah 2)Disiplin siswa dalam mengerjakan tugas
3)Disiplin siswa dalam mengikuti pelajaran di kelas 4)Disiplin siswa dalam mentaati tata tertib di sekolah.31 b. Pentingnya Disiplin Dalam Belajar
Perilaku negatif sebagian remaja, pelajar, dan mahasiswa pada akhir-akhir ini telah melampaui batas kewajaran karena telah menjurus pada tindak melawan hukum, melanggar tata tertib, melanggar norma agama, kriminal, dan telah membawa akibat yang sangat merugikan masyarat. Kenakalan remaja dapat dikatakan wajar, jika perilaku itu dilakukan dalam rangka mencari identitas diri, serta tidak membawa akibat yang membahayakan kehidupan orang lain dan masyarakat.
Dalam menanamkan disiplin, guru bertanggung jawab mengarahkan, dan berbuat baik, menjadi contoh, sabar dan penuh pengertian. Guru harusmampu mendisiplin peserta didik dengan kasih sayang, terutama disiplin diri (self-discpline). Untuk kepentingan tersebut, guru harus mampu melakukan hal-hal sebagai berikut:
a) Membantu peserta didik mengembangkan pola perilaku untuk dirinya;
b) Membantu peserta didik meningkatkan standar prilakunya;
31Sultan Hasanudin, “Hubungan disiplin belajar dengan hasil belajar siswa,” hlm. 21.
c) Menggunakan pelaksanaan aturan sebagai alat untuk menegakkan disiplin.32
c. Fungsi Disiplin Belajar
Siswa yang disiplin akan mudah melakukan penyelesaian diri terhadap lingkungan dan disegani dilingkungannya, siswa yang memiliki perilaku disiplin akan mudah diatur baik dalam lingkungan masyarakat maupun lingkungan sekolah sehingga tujuan dari pembelajaran disekolah akan berjalan dengan baik. Maka dari itu, sikap disiplin belajar harus ditanamkan pada siswa karena disiplin belajar bertujuan untuk menciptakan keteraturan dalam kegiatan belajar dan masyarakat.
Menurut Tu’u beberapa fungsi disiplin belajar adalah:
1) Menata kehidupan bersama
Sikap disiplin pada siswa akan membangun hubungan yang baik dari siswa satu ke siswa yang lain karena dapat menumbuhkan rasa tanggung jawab, sehingga setiap siswa dapat melakukan proses pembelajaran dengan baik.
2) Membangun kepribadian
Lingkungan yang mempunyai sikap disiplin yang baik sangat berpengaruh terhadap kepribadian seseorang, terutama bagi siswa yang sedang membentuk kepribadiannya maka dari itu kondisi
32E. Mulyasa, “Menjadi Guru Profesional,”(Bandung: Remaja Rosdakarya, 2015), hlm.
170
lingkungan sekolah dan lingkungan keluarga memiliki pengaruh yang kuat terhadap kepribadian siswa.
3) Melatih kepribadian
Disiplin berfungsi untuk melatih kepribadian siswa, siswa harus berada pada lingkungan yang baik untuk membiasakan diri sikap disiplin, lingkungan yang dimaksud adalah lingkungan yang dimana terdapat indivindu-indivindu yang memiliki sikap disiplin dan dijadikan tauladan bagi siswa.
4) Menciptakan lingkungan kondusif
Lingkungan pendidikan yang kondusif adalah lingkungan yang nyaman, tenang, dan tidak ada gangguan dalam pelaksanaan dalam proses pembelajaran
5) Pendekatan Umum Terhadap Disiplin Belajar
Para ahli pendidikan secara khusus mengusulkan beberapa kombinasi teknik, dengan penekanan yang merefleksikan keyakinan pada filosofis mereka tentang seperti apa sisiwa mereka dan apa tujuan dari didirikannya sebuah sekolah. Mengingat resiko yang tidak kecil dari menyederhanakan keyakinan ini, bagian berikut akan menggambarkan tiga sikap umum menyangkut disiplin yang tepat dan beberapa saran khusus yang diberikan
masing-masing sikap tersebut kepada para guru. Beberapa pendekatan umum terhadap disiplin33:
1. Humanisme
Salah satu sikap yang bisa disebut dengan pendekatan humanis terhadap disiplin. Sikap ini menekankan keyakinan dalam rasionalitas para siswa serta kesediaan mereka sendiri dan mengatasi masalah mereka sendiri tanpa harus merugikan pihak- pihak lain.
2. Negoisasi
Sebuah sikap yang lain biasa disebut dengan pendekatan negoisasi terhadap disiplin. Meskipun sikap ini mengharapkan siswa untuk bertanggung jawab terhadap perilaku buruk mereka dan bertanggung jawab untuk memperbaikinya, pendekatan ini juga terhadap guru bisa memodifikasi dan mengarahkan usaha para siswa dalam cara-cara tertentu.
3. Memodifikasi perilaku
Pendekatan ketiga terhadap disiplin di dalam kelas adalah modifikasi perilaku, yang merupakan aplikasi dari prinsip- prinsip teori perilaku yang dijelaskan bahwa pendekatan ini menekankan pentingnya konsekuensi positif dan negative dalam mengendalikan perilaku para guru. Dalam pendekatan ini, akanmemanfaatkan semua strategi pendisiplinan melalui
33Kevin Seifert, “Pedoman Pembelajaran dan Instruksi Pendidikan ,”(Yogyakarta:
okIRCiSoD, 2012), hlm. 241
dampak dari usaha mereka dalam menggunakan motivasi para siswa.34
Pengelolaan pengajaran di kelas tidak akan berjalan dengan baik tanpa adanya kesadaran melaksanakan peraturan yang sudah di tentukan sebelumnya, misalnya kesepakatan peraturan antara guru dan murid sebelum pengajaran dimulai beserta sanksi yang akan didapat apabila ada yang melanggar, disiplin tersebut meliputim disiplin siswa selama pelajaran berlangsung, disiplin siswa pada waktu mengerjakan ulangan, disiplin siswa dalam mengerjakan tugas, dan disiplin siswa pada saat menggunakan fasilitas sekolah. Dengan adanya kesepakan itu kelas akan menjadi kondusif, terarah dan teratur.35
d. Langkah-Langkah Disiplin Dalam Belajar
Dalam pembelajaran guru berhadapa dengan sejumlah peserta didik dengan berbagai macam latar belakang, sikap, dan potensi, yang semuanya itu berpengaruh terhadap kebiasaannya dalam mengikuti pembelajaran dan berperilaku di sekolah.Kebiasaa tersebut masih banyak yang tidak menunjang bahkan menghambat pembelajaran kita masih sering menyaksikan dan mendengar peserta didik yang perilakunya tidak sesuai bahkan bertentangan dengan sikap moral yang baik.Misalnya merokok, rambut gondrong, (rambut di cat sendiri), membolos, tidak mengerjakan pekerjaan rumah, membuat
34Ibid,hlm.241-250
35Rufi Indriati, “Pengaruh Motivasi dan Disiplin Belajar Terhadap Hasil Belajar,”(Vol.11 No. 2, 2017, ) hlm 17
keributan dikelas, melawan guru, berkelahi, bahkan menjurus pada hal-hal yang bersifat kriminal. Dengan kata lain masih banyak peserta didik yang tidak disiplin, dan menghambat jalannya pembelajaran.
Kondisi tersebut menuntut guru untuk senantiasa mendisiplinkan peserta didik agar dapat mendongkrak kualitas pembelajaran.36
Untuk mendisiplinkan peserta didik dengan berbagai strategi tersebut, guru harus mempertimbangkan berbagai situasi, dan perlu memahami faktor-faktor yang mempengaruhinya. Oleh karena itu, guru dituntut untuk melakukan hal-hal sebagai berikut:
a. Mempelajari pengalaman peserta didik secara langsung, misalnya melalui daftar hadir kelas.
b. Mempelajari pengalaman peserta didik di sekolah melalui kartu catatan kumulatif.
c. Mempertimbangkan lingkungan sekolah dan lingkungan peserta didik.
d. Memberikan tugas yang jelas dan mudah di pahami peserta didik.
e. Menyiapkan kegiatan sehari-hari agar apa yang dilakukan dalam pembelajaran sesuai dengan yang direncanakan, tidak terjadi banyak penyimpangan.37
36E. Mulyasa, “Strategi Belajar Mengajar,”(Yogyakarta:Cakrawala Ilmu, 2015), hlm. 11
37Ibid, hlm. 171-172
G.Metode Penelitian
1. Pendekatan Penelitian
Dalam penelitian ini penulis menggunakan jenis penelitian lapangan (field research), dapat juga dianggap sebagai pendekatan luas dalam penelitian kualitatif atau sebagai metode untuk mengumpulkan data kulatatif.Ide pentingnya adalah bahwa penelitian berangkat ke lapangan untuk mengadakan pengamatan tentang suatu fenomena dalam suatu keadaan alamiah.38
Penelitian ini menggunakan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan yang muncul, sehingga penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif.Pendekata kualitatif menekankan pada makna, penalaran, definisi suatu situasi tertentu, lebih banyak meneliti dalam kehidupan sehari-hari.
2. Jenis Penelitian Kualitatif
Data merupakan hasil pencatatan penulis, baik berupa fakta ataupun angka.“Sebagai prosedur yang menghasilkan data deskriptif berupa kata- kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang diamati, peneliti yang diarahkan untuk memberi gejala-gejala, fakta-fakta atau kejadian- kejadian secara sistematis dan akurat, mengenai sifat-sifat populasi dan daerah tertentu.39Dalam penelitian ini diusahakan mengumpulkan data deskriptif yang banyak dituangkan dalam bentuk laporan dan uraian.Penelitian ini tidak mengutamakan angka dan statistik.
38 Lexy Moleong, “Metodologi Penelitian Kualitatif,” (Bandung: Remaja Rodakarya, 2013), hlm. 26
39Ibid, hlm.26
Berdasarkan sifat penelitian diatas, maka dalam penelitian ini penulis berupaya mendeskripsikan secara sistematis dan faktual Upaya Guru Pendidikan Agama Islam dalam meningkatkan kedisiplinan belajar siswa SMP Negeri 1 Labuapi Bagek Polak Kabupaten Lombok Barat didasarkan pada data yang terkumpul selama penelitian dan dituangkan dalam bentuk laporan dan uraian.
3. Kehadiran Peneliti
Data merupakan hasil pencatatan penulis, baik berupa fakta ataupun angka.“Sumber data dalam penelitian adalah subjek dari mana data dapat diperoleh.”40Adapun sumber yang penulis gunakan dalam menyusun proposal ini dikelompokkan menjadi dua yakni sumber primier dan sumber sekunder. Dari sumber primer dalam penelitian yang termasuk didalamnya adalah guru mata pelajaran PAI yang diupayakan untuk meningkatkan belajar dikelas, sedangkan sumber sekunder yang termasuk adalah untuk mengumpulkan data yang akan didapat dari siswa itu sendiri.
4. Lokasi Penelitian
Penelitian ini akan dilaksanakan di SMP Negeri 1 Labuapi Dusun Bagek Polak Kabupaten Lombok Barat, karena peniliti ingin menggali informasi dan membedah apa yang menjadi rumusan masalah dalam skripsi ini.
40Ibid,hlm. 4
5. Sumber Data a. Sumber Primer
Sumber Primer adalah “data yang diperoleh dari certa para pelaku peristiwa itu sendiri, dan sanksi mata yang mengalami yang mengalami atau mengetahui peristiwa tersebut.” Adapun yang dimaksud dengan primer “data dalam bentuk verbal atau kata-kata yang diucapkan secara lisan, gerak-gerik atau perilaku yang dilaksakan oleh subyek yang dapat dipercaya, dalam hal ini adalah subyek penelitian (Informan) yang berkenan denga variabel yag diteliti.”41
Jadi sumber primer dalam penelitian yang dilakukan oleh penulis adalah Guru mata pelajaran Pendidikan Agama Islam yang diupayakan untuk meningkatkan kedisiplinan belajar di kelas VIII SMP Negeri 1 Labuapi.
b. Sumber Sekunder
Sumber skunder adalah “informasi yang diperoleh dari sumber lain yang mungkin tidak berhubungan dengan peristiwa tersebut.”42 Berdasarkan pengertian diatas, maka penulis dalam mengumpulkan data tentang data yang akan didapat dari siswa kelas VIII SMPN 1 Labuapi, dokumen terkait kondisi sekolah dan pihak terkait di SMPN 1 Labuapi.
41 Suharsimi Arikunto, “Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik,” (Jakarta: PT.
Rineka Cipta, 2010), cek ke-14, 12
42 Sukardi, “Metodologi Penelitian, “205
6. Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data merupakan langkah yang paling strategis dalam penelitian, karena tujuan utama dari penelitian adalah mengumpulkan data. Tanpa mengetahui teknik pengumpulan data, maka penelitian tidak akan mendapat data yang memenuhi standar yang ditetapkan.
Dalam penelitian kali ini wawancara akan ditujukan kepada guru sebagai responden untuk mendapatkan informasi atau berita yang diinginkan oleh peneliti yaitu mengenai Upaya Guru Pendidikan Agama Islam dalam menciptakan kedisiplinan belajar siswa untuk mengetahui kedisiplinan yag ada pada diri siswa. Sehingga hasil yang diperoleh dari kedua responden tersebut benar-benar aurat dan dapat dijadikan sebagai informasi yang bisa digunakan sebagai penelitian di SMP Negeri 1 Labuapi.
Dalam rangka untuk memperoleh data yang alami dan obyektif dilokasi penelitian, hendaklah seorang penulis menggunakan bermacam- macam metode pengumpulan data untuk mencapai tujuan penelitian tersebut. Untuk mengumpulkan data yang diperlukan maka penulis menggunkan metode sebagai berikut:
a. Teknik Wawancara
Wawacara adalah “proses tanya jawab dalam penelitian yang berlangsung secara lisa dalam mana dua orang atau lebih bertatap muka mendengarkan secara langsung informasi-informasi atau keterangan- keterangan.”43 Secara garis besar ada dua macam pedoman wawancara:
43 Cholid Narbuko, “Metodologi Penelitian”, (Jakarta: Bumi Aksara, 2009), hlm. 83
1) Pedoman wawancara tidak terstruktur, yaitu pedoman wawancara yang hanya memuat garis besar yang akan ditanyakan.
2) Pedoman wawancara terstruktur, yaitu pedoman wawancara yang disusun secara terperinci sehingga menyerupai check-list.
Pewawancara tinggal menumbuhkan tanda v (check) pada nomor yang sesuai.44
Berdasarkan penjelasan diatas peneliti menggunakan wawancaratidak terstruktur yaitu wawancara yang dilakukan oleh pewawancara kepada Guru Pendidikan Agama Islam SMP Negeri 1 Labuapi dan siswa kelas VIII SMP Negeri Labuapi.Teknik interview atau wawancara disini penulis digunakan untuk mencari keterangan tentang upaya guru pendidikan agama Islam dalam meningkatkan kedisiplinan belajar siwa.
b. Teknik Observasi
Obsevasi merupakan suatu proses yang kompleks, suatu proses yang tersusun dari berbagai proses biologis dan psikologis. Dua diantara yang penting adalah proses-proses pengamatan dan ingatan.45Karena metode observasi ini terdiri dari dua macam, yaitu observasi partisipan dan non partisipan.Maka dengan berbagai pertimbangan, penulis dalam penelitian ini menggunakan metode observasi non partisipasi seorang pengamat bisa melakukan pengumulan data dan tanpa harus melibatkan diri langsung kedalam situasi dimana peristiwa itu berlangsung.
44Suhartini Arikunto, “Prosedur,” hlm. 270.
45 Sugiono,” Metodologi Penelitian Kualitatif dan R & D,”(Bandung: Alvabeta, 2012), hlm. 145
Teknik observasi ini digunakan peneliti untuk memperoleh tentang kedisiplinan belajar siswa, peneliti melakukan observasi pada saat sebelum jam belajar dimulai, dan saat pelaksanaan yang dilakukan oleh Guru Pendididkan Agama Islam.
c) Teknik Dokumentasi
Dokumentasi adalah mencari data, mengenai hal-hal atau variabel yang berupa catatan transkrip, buku, surat kabar, majalah, prasasti, notulen, rapat, lenger, agenda, dan sebagainya.46 Jadi metode dokumentasi adalah cara pengumpulan data dengan jalan mengumpulkan bukti-bukti tertulis atau tercetak, gambar, dan sebagainya.
Metode dokumentasi ini digunakan untuk memperoleh data sejarah atau profil sekolah, data guru, data peserta didik, denah lokasi, terhadap segala hal baik objek atau peristiwa yang terjadi di SMP Negeri 1 Labuapi.
7. Teknik Analisis Data
Untuk menganalisis data selama dilapangan, ada dua teknik yang sering digunakan tenik Miles dan Hubermen dan teknik Spradley.47 Pada penelitian ini peneliti menggunakan model interaktif Miles, Hubermen dan Saldana (2014), yang meletakkan menjadi tiga komponen yang saling berinteraksi dalam proses penelitian kualitatif yaitu: Kondensasi data (data condensation), penyajian data (data
46Suharsimi Arikunto, “Prosedur Penelitian,” hlm. 274
47 M. Sobry Sutikno, “Penelitian Kualitatif” (Lombok: Holistika Lombok, 2020), hlm.
139
display), dan penarikan kesimpulan (Drawing And Verifying Conclustion).
Gambar 1.1 Teknik Analisis Data 1) Kondensasi Data (Data Condensation)
Kondensasi data dapat diartikan sebagai proses pemilihan, memfokuskan, menyederhanakan, mengabstrakkan , mentransformasikan data, yang mendekati keseluruhan bagian catatan-catatan tertulis di lapangan, transkrip wawancara, dokumentasi-dokumentasi dan materi-materi empiris. Jadi, kondensasi data ini diperoleh setelah peneliti melakukan wawancara mendalam dan mendapatkan data tertulis di lapangan, yang nantinya transkrip wawancara itu dipilah-dipilah untuk mendapatkan fokus penelitian yang dibutuhkan.48
48Sugiono, “Metode Penelitian Kualitatif,” hlm. 140
2) Penyajian Data (Data Display)
Display data merupakan aktivitas terorganisir, yang dikompetensi dengan perakitan informasi yang memungkinkan menggambarkan simpulan dan tindakan. Dalam tahapan ini, peneliti menyajikan data dalam bentuk uraian singkat, yang tersusun dalam kalimat-kalimat yang sederhana.Kalimat-kalimat tersebut disusun saling berhubungan satu dengan lainnya secara naratif.
3) Penarikan Kesimpulan (Drawing And Verifying Conclustion) Penarikan kesimpulan hanyalah sebagian dari satu kegiatan dan konfigurasi yang utuh.Simpulan-simpulan juga diverifikasi selama penelitian berlangsung.Peneliti menggunakan sikap kritism skeptic dan terbuka untuk mendapatkan simpulan yang valid. Oleh karena itu simpulan harus diverifikasi terus menerus hingga diperoleh simpulan “ jenuh”, yang tidak memberikan peluang terhadap simpulan yang lain.49
8. Teknik Penjamin Keabsahan Data
Penulis dalam memeriksa keabsahan dan kevaliditasan data, menggunakan tringulasi data, yaitu teknik pemeriksaan keabsahan data yang memanfaatkan sesuatu yang lain, dimana data tersebut digunakan untuk pengecekan atau sebagai pembanding terhadap data
49Ibid, hlm. 141-142
itu.50Dalam hal ini peneliti menggunakan tringulasi teknik sumber.
Tringulasi dengan sumber berarti membandingkan dan mengecek balik derajat kepercayaan suatu informasi yang diperoleh melalui waktu dan alat yang berbeda dalam metode kualitatif, adapun teknik tringulasi yang peneliti gunakan dalam penelitian ini adalah:
1) Triangulasi Sumber
Triangulasi dengan sumber berarti membandingkan dan mengecek kembali derajat kepercayaan suatu sistem informasi yang diperoleh melalui waktu dan alat yang berbeda dalam penelitian kualitatif.51 Peneliti menggunakan dengan cara membandingkan data hasil pengamatan dengan data hasil wawancara, membandingkan dengan apa yang dikatakan orang di depan umum dengan apa yang dikatakan secara pribadi.
2) Triangulasi Teknik
Triangulasi teknik adalah untuk menguji kreabilitas data yang dilakukan dengan cara mengecek data kepada sumber yang sama dengan teknik yang berbeda.52 Peneliti menggunakan triangulasi tekni ini untuk mengetahui dan mengecek hasil data yang diperoleh dari ketiga teknik pengumpulan data di atas sama atau berbeda.
Jika sama maka data tersebut sudah kredibel dan jika berbeda, maka peneliti melakukan diskusi lebih lanjut kepada sumber data
50Lexy J Moleong, “Metodologi Penelitian,” hlm. 330
51Ibid, hlm. 330-331
52Ibid
yang bersangkutan, untuk memastikan data mana yang dianggap benar.
H.Sistematika Pembahasan
BAB I Pendahuluan: bagian ini terdiri dari judul penelitian, latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan dan manfaat, ruang lingkup dan setting penelitian, telaah pustaka, kerangka teori, metode penelitian dan sistematika pembahasan.
BAB II Paparan data dan temuan, pada bagian ini akan dipaparkan data tentang: Gambar SMPN 1 Labuapi, bagaimana upaya guru pendidikan agama Islam dalam meningkatkan kedisiplinan siswa, dan apa saja faktor pendukung dan penghambat upaya guru pendidikan agama Islam dalam meningkatkan kedisiplinan siswa.
BAB III, pada bab ini akan dilakukan pembahasan terhadap data-data yang sudah diperoleh dalam penelitian, kemudian dibahas berdasarkan konsep/teori yang sudah dibangun sebelumnya. Dalam hal ini akan dibahas tentang upaya guru PAI dalam meningkatkan kedispilnan siswa, bagaimana upaya guru pendidikan agama Islam dalam meningkatkan kedisiplinan siswa, dan apa saja faktor pendukung dan penghambat upaya guru pendidikan agama Islam dalam meningkatkan kedisiplinan siswa.
BAB IV, Penutup, pada bagian ini berisi tentang: kesimpulan,dan saran.
38 BAB II
PAPARAN DATA DAN HASIL TEMUAN A.Gambaran Umum SMP Negeri 1 Labuapi
1. Sejarah Singkat SMP Negeri 1 Labuapi
Sebagai salah satu lembaga pendidikan SMP Negeri 1 Labuapi memandang perlu dan bertanggungjawab untuk melaksanakan harapan- harapan yang diinginkan oleh masyarakat.Dengan pertimbangan yang bisa dipertanggung jawabkan sesuai dengan visi dan misinya berusaha mengadakan program-program yang sesatu, diantaranya program peningkatan mutu dalam berbagai aspek.
Dalam perjalanannya SMP Negeri 1 Labuapi tidak melupakan sejarah terbentuknya sekolah yang kita cintai ini, demikian pula kepada tokoh masyarakat, para pendidikan yang terus berusaha menumbuhkan situasi dari kondisi SMP Negeri 1 Labuapi.
SMP Negeri 1 Labuapi didirikan pada tahun 1984 yang merupakan sekolah kelas filial dari SMP Negeri 1 Kediri. Pada tahun 1984 SMP Negeri 1 Labuapi resmi sebagai sekolah yang mandiri berdasarkan SK Mendikbud RI Nomor : 0467/O/1977Tertanggal 20 November 1984, dengan Kepala Sekolah definitive yang pertama adalah sarafudin. Pada awal pendiriannya SMP Negeri 1 Labuapi memiliki 3 (tiga) rombongan belajar dengan tempat belajar mengajarnya menggunakan local yang baru dibangun dan dilaksanakan pagi hari… Keberhasilan perjalanan SMP Negeri 1 Labuapi