Kebiasaan merokok anggota keluarga

Top PDF Kebiasaan merokok anggota keluarga:

HUBUNGAN KEBIASAAN MEROKOK ANGGOTA KELUARGA DAN KONDISI LINGKUNGAN RUMAH DENGAN KEJADIAN ISPA PADA BALITA DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS II RAKIT KABUPATEN BANJARNEGARA

HUBUNGAN KEBIASAAN MEROKOK ANGGOTA KELUARGA DAN KONDISI LINGKUNGAN RUMAH DENGAN KEJADIAN ISPA PADA BALITA DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS II RAKIT KABUPATEN BANJARNEGARA

Latar Belakang: Prevalensi ISPA pada Balita di Puskesmas II Rakit pada tahun 2016 (22,6%). Terdapat 3 faktor risiko terjadinya ISPA yaitu faktor lingkungan, faktor individu anak dan faktor perilaku. Faktor lingkungan meliputi kondisi fisik rumah, udara dalam rumah dan pencahayaan alami. Faktor perilaku meliputi kebiasaan merokok anggota keluarga dan kebiasaan hidup sehat.

16 Baca lebih lajut

Gambaran Kebiasaan Merokok Anggota Keluarga Pada Kejadian Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) Balita di Puskesmas Bungah Kabupaten Gresik

Gambaran Kebiasaan Merokok Anggota Keluarga Pada Kejadian Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) Balita di Puskesmas Bungah Kabupaten Gresik

Kebiasaan merokok anggota keluarga tanpa memperhatikan lingkungan sekitar selain dapat menimbulkan masalah bagi perokok itu sendiri juga dapat menimbulkan masalah bagi orang lain, termasuk balita yang tinggal bersama. Salah satu masalah yang seringkali timbul pada balita akibat paparan asap rokok adalah Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA). ISPA pada balita menjadi penyebab utama kunjungan balita ke pelayanan kesehatan dan kematian balita di Indonesia. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui gambaran kebiasaan merokok anggota keluarga pada kejadian ISPA balita di Puskesmas Bungah Kabupaten Gresik. Sampel pada penelitian ini sebanyak 100 balita yang menderita ISPA dan teknik yang digunakan yaitu purposive sampling. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain deskriptif. Instrumen yang digunakan adalah lembar kuesioner. Hasil penelitian menunjukkan dari 100 responden balita, laki- laki 56%, perempuan 44%; usia ≤ 12 bulan 28%, usia 13-59 bulan 72%; status gizi buruk 6%, kurang 15%, baik 78%, lebih 1%; pendidikan terakhir ibu SD 5%, SMP/sederajat 24%, SMA/sederajat 60%, perguruan tinggi 11%; kebiasaan merokok anggota keluarga 73%, tanpa kebiasaan merokok anggota keluarga 27%; kebiasaan merokok tanpa memperhatikan lingkungan 58,90%, memperhatikan lingkungan 41,10% (n=73); perokok satu orang 25,58%, lebih dari satu orang 74,42% (n=43); perokok ringan (30,24), perokok sedang 34,88%, perokok berat 34,88% (n=43). Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi tentang bahaya asap rokok khususnya bagi balita, sehingga keluarga dapat merubah kebiasaan merokok yang dilakukan setiap hari.
Baca lebih lanjut

125 Baca lebih lajut

HUBUNGAN KEBIASAAN MEROKOK ANGGOTA KELUARGA DAN KONDISI LINGKUNGAN RUMAH DENGAN KEJADIAN ISPA PADA BALITA DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS II RAKIT KABUPATEN BANJARNEGARA - repository perpustakaan

HUBUNGAN KEBIASAAN MEROKOK ANGGOTA KELUARGA DAN KONDISI LINGKUNGAN RUMAH DENGAN KEJADIAN ISPA PADA BALITA DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS II RAKIT KABUPATEN BANJARNEGARA - repository perpustakaan

bermasyarakat. Sementara untuk kebiasaan baik patut dilakukan bahkan dibudayakan, kebiasaan baik ini juga mampu menjadi obat terhadap kebiasaan buruk. Semisal kebiasaan merokok bisa jadi disebabkan kebosanan yang melanda saat waktu luang. Bisa dialihkan dengan melakukan hal-hal positif, seperti membaca atau kegiatan lain yang tidak akan mengingatkan pelaku untuk merokok. Kebiasaan yang buruk tidak akan bisa menjadi adat bagi masyarakat di suatu daerah, sebab merugikan banyak pihak. Kebiasaan yang baik akan mendorong seseorang memiliki prestasi di masa depan, sehingga berlatih melakukan kegiatan-kegiatan yang bermanfaat akan memberikan keuntungan jangka panjang (Syafrudin, 2011).
Baca lebih lanjut

29 Baca lebih lajut

HUBUNGAN KEBIASAAN MEROKOK ANGGOTA KELUARGA DENGAN KEJADIAN INFEKSI SALURAN PERNAPASAN AKUT PADA BALITA DI PUSKESMAS AJUNG KABUPATEN JEMBER

HUBUNGAN KEBIASAAN MEROKOK ANGGOTA KELUARGA DENGAN KEJADIAN INFEKSI SALURAN PERNAPASAN AKUT PADA BALITA DI PUSKESMAS AJUNG KABUPATEN JEMBER

Berdasarkan asal paparan asap rokok didapatkan data dari 22 balita yang mengalami ISPA, paparan asap rokok sebagian besar didapatkan dari anggota keluarga yaitu sebesar 17 balita (38,6%) sedangkan sisanya yaitu 5 balita (11,4%) mendapatkan paparan asap rokok dari tetangga atau tamu yang berkunjung dirumah balita. Berdasarkan data diatas dapat disimpulkan bahwa sebagian besar balita mempunyai anggota keluarga perokok. Kebiasaan merokok telah membudaya dengan lingkungan masyarakat kita disetiap acara biasanya disajikan rokok. Hal ini mendorong semakin banyak orang yang akan menjadi perokok. Generasi muda juga mendapatkan tekanan sosial dari teman-temannya sehingga menjadi perokok sejak usia muda. Seseorang memiliki kebiasaan merokok banyak dipengaruhi oleh banyak faktor. Hasil penelitian Zaki Afif tahun 2004 beberapa faktor yang menyebabkan seseorang merokok adalah karena pengaruh orang tua, faktor kepribadian, pengaruh teman dan pengaruh iklan. Dengan banyaknya orang yang merokok maka semakin banyak juga resiko orang yang berada disekitar perokok tersebut yang terpapar asap rokok.
Baca lebih lanjut

119 Baca lebih lajut

HUBUNGAN KEBIASAAN MEROKOK ANGGOTA KELUARGA DENGAN KEJADIAN INFEKSI SALURAN PERNAPASAN AKUT PADA BALITA DI PUSKESMAS AJUNG KABUPATEN JEMBER

HUBUNGAN KEBIASAAN MEROKOK ANGGOTA KELUARGA DENGAN KEJADIAN INFEKSI SALURAN PERNAPASAN AKUT PADA BALITA DI PUSKESMAS AJUNG KABUPATEN JEMBER

Puji syukur kehadirat Allah Swt, karena atas rahmat dan ridho-Nya maka penulis dapat menyelesaikan skripsi ini yang berjudul “Hubungan Kebiasaan Merokok Anggota Keluarga Dengan Kejadian Infeksi Saluran Pernapasan Akut Pada Balita di Puskesmas Ajung Kabupaten Jember”. Penulis menyadari sepenuhnya bahwa masih banyak terdapat kekurangan dan kelemahan, baik dari teknik penulisan maupun materi. Untuk itu penulis mengharapkan saran dan kritik dari pembaca yang sifatnya membangun. Penyelesaian skripsi ini penulis banyak mendapatkan bantuan, bimbingan, saran, keterangan dan data-data baik secara tertulis maupun secara lisan, maka pada kesempatan ini juga penulis ingin menyampaikan ucapan terimah kasih kepada:
Baca lebih lanjut

17 Baca lebih lajut

Hubungan Kondisi Lingkungan Rumah dan Kebiasaan Merokok Anggota Keluarga dengan Kejadian ISPA pada Anak Usia (0-5) Tahun di Desa Suka Sipilihen Kecamatan Tiga Panah Tahun 2016

Hubungan Kondisi Lingkungan Rumah dan Kebiasaan Merokok Anggota Keluarga dengan Kejadian ISPA pada Anak Usia (0-5) Tahun di Desa Suka Sipilihen Kecamatan Tiga Panah Tahun 2016

Dengan ini saya menyatakan bahwa skr ipsi yang berjudul “ HUBUNGAN KONDISI LINGKUNGAN RUMAH DAN KEBIASAAN MEROKOK ANGGOTA KELUARGA DENGAN KEJADIAN ISPA PADA ANAK USIA (0-5) TAHUN DI DESA SUKA SIPILIHEN KECAMATAN TIGA PANAH TAHUN 2016” ini beserta seluruh isinya adalah benar hasil karya saya sendiri, dan saya tidak melakukan penjiplakan atau pengutipan dengan cara yang tidak sesuai dengan etika keilmuan yang berlaku dalam masyarakat keilmuan. Atas pernyataan ini, saya siap menaggung risiko atau sanksi yang dijatuhkan kepada saya apabila kemudian ditemukan adanya pelanggaran terhadap etika keilmuan dalam karya saya ini, atau klaim dari pihak lain terhadap keaslian karya saya ini.
Baca lebih lanjut

134 Baca lebih lajut

HUBUNGAN ANTARA KONDISI LINGKUNGAN RUMAH DAN KEBIASAAN MEROKOK ANGGOTA KELUARGA DENGAN KEJADIAN ISPA PADA BALITA DI KELURAHAN BANDARHARJO KOTA SEMARANG

HUBUNGAN ANTARA KONDISI LINGKUNGAN RUMAH DAN KEBIASAAN MEROKOK ANGGOTA KELUARGA DENGAN KEJADIAN ISPA PADA BALITA DI KELURAHAN BANDARHARJO KOTA SEMARANG

Secara umum ada 3 (tiga) faktor risiko terjadinya ISPA yaitu faktor lingkungan, faktor individu anak, serta faktor perilaku. Faktor lingkungan meliputi pencemaran udara dalam rumah, kondisi fisik rumah, dan kepadatan hunian rumah. Faktor individu anak meliputi umur anak, berat badan lahir, status gizi, vitamin A, dan status imunisasi. Sedangkan faktor perilaku berhubungan dengan pencegahan dan penanggulangan penyakit ISPA pada bayi dan balita dalam hal ini adalah praktek penanganan ISPA di keluarga baik yang dilakukan oleh ibu ataupun anggota keluarga lainnya (Departemen Kesehatan RI, 2001:19).
Baca lebih lanjut

105 Baca lebih lajut

Hubungan Kondisi Lingkungan Rumah dan Kebiasaan Merokok Anggota Keluarga dengan Kejadian ISPA pada Anak Usia (0-5) Tahun di Desa Suka Sipilihen Kecamatan Tiga Panah Tahun 2016

Hubungan Kondisi Lingkungan Rumah dan Kebiasaan Merokok Anggota Keluarga dengan Kejadian ISPA pada Anak Usia (0-5) Tahun di Desa Suka Sipilihen Kecamatan Tiga Panah Tahun 2016

Membuka jendela atau membatasi merokok di ruang khusus hanya memberikan sedikit perlindungan terhadap paparan asap rokok. Para peneliti telah menemukan bahwa asap dari sebatang rokok bisa melayang di dalam ruangan selama 2,5 jam bahkan ketika jendela terbuka. Kemudian polutan dari asap tersebut akan mengendap di lantai dan menempel di dinding rumah dan akan dilepaskan kembali ke udara (ASH, 2015).

9 Baca lebih lajut

HUBUNGAN KEBIASAAN MEROKOK ANGGOTA KELUARGA DENGAN KEJADIAN INFEKSI SALURAN PERNAPASAN AKUT PADA BALITA DI PUSKESMAS AJUNG KABUPATEN JEMBER

HUBUNGAN KEBIASAAN MEROKOK ANGGOTA KELUARGA DENGAN KEJADIAN INFEKSI SALURAN PERNAPASAN AKUT PADA BALITA DI PUSKESMAS AJUNG KABUPATEN JEMBER

Tujuan penelitian ini adalah mengidentifikasi hubungan antara kebiasaan merokok anggota keluarga dengan kejadian infeksi saluran pernapasan akut pada balita, mengidentifikasi karakteristik balita dengan penyakit ISPA pada balita, mengidentifikasi karakteristik kejadian ISPA terkait balita dan perilaku merokok dalam keluarga antara kelompok kontrol dan kelompok kasus, mengidentifikasi peluang/resiko terjadinya ISPA pada balita. Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah Survei analitik dengan pendekatan retrospektif. Sampel dalam penelitian ini berjumlah 44 balita dengan menggunakan teknik cluster sampling yang terdiri dari 22 balita sebagai kelompok kasus dan 22 balita
Baca lebih lanjut

17 Baca lebih lajut

FAKTOR RISIKO KEJADIAN ISPA PADA BALITA DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS SUKOHARJO   Faktor Risiko Kejadian Ispa Pada Balita Di Wilayah Kerja Puskesmas Sukoharjo.

FAKTOR RISIKO KEJADIAN ISPA PADA BALITA DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS SUKOHARJO Faktor Risiko Kejadian Ispa Pada Balita Di Wilayah Kerja Puskesmas Sukoharjo.

Infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) menjadi penyebab pertama kematian balita di Negara berkembang. Prevalensi ISPA padabalita di Kabupaten Sukoharjo tahun 2011 sebanyak 142 kasus (2,2%), padatahun 2012 sebanyak 87 kasus (1,3%), padatahun 2013 sebanyak 171 kasus (12,4%) dengan penderita di wilayah kerja Puskesmas Sukoharjo sebanyak 40 anak (30,0%). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor risiko dominan kejadian ISPA pada balita di wilayah kerja Puskesmas Sukoharjo. Jenis penelitian ini adalah penelitian observasional dengan pendekatan case control. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh ibu atau orang tua yang memiliki balita baik yang menderita ISPA dan tidak menderita ISPA. Pemilihan sampel menggunakan Exhaustive Sampling dengan jumlah subjek penelitian yaitu kasus sebanyak 40 sampel dan kontrol sebanyak 40 sampel. Analisis bivariat menggunakan Chi-Square dan analisis multivariat menggunakan Regresi Logistik. Hasil bivariat penelitian bahwa ada hubungan antara pengetahuan orang tua (p= 0,001), ada hubungan antara luas ventilasi (p= 0,001), ada hubungan antara kebiasaan merokok anggota keluarga (p= 0,006) dengan kejadian ISPA pada balita di wilayah kerja Puskesmas Sukoharjo. Sedangkan hasil multivariat menunjukkan bahwa pengetahuan orang tua memiliki OR tertinggi sebesar 8,75 (95% CI= 2,764- 27,712), artinya orang tua yang memiliki pengetahuan yang buruk tentang ISPA berisiko sebesar 8,75 kali untuk mengalami kejadian ISPA pada balita.
Baca lebih lanjut

14 Baca lebih lajut

DETERMINAN KEBIASAAN MEROKOK KEPALA KELUARGA PADA BALITA PENDERITA ISPA DI DESA KARANGHARJA

DETERMINAN KEBIASAAN MEROKOK KEPALA KELUARGA PADA BALITA PENDERITA ISPA DI DESA KARANGHARJA

Anak yang orang tuanya merokok akan mudah menderita penyakit gangguan pernapasan. Sebagian besar sering (45,7%) merokok di dalam rumah sehingga penghuni rumah terutama balita terpapar asap rokok. Keterpaparan asap rokok pada balita sangat tinggi pada saat berada dalam rumah. Hal ini disebabkan karena anggota keluarga biasanya merokok dalam rumah pada saat bersantai bersama anggota, misalnya sambil nonton TV atau setelah selesai makan dengan anggota keluarga lainnya. 6

8 Baca lebih lajut

Karateristik Pasien yang Menderita Retinopati Hipertensi di Rumah Sakit Haji Adam Malik pada Periode Tahun 2013-2015

Karateristik Pasien yang Menderita Retinopati Hipertensi di Rumah Sakit Haji Adam Malik pada Periode Tahun 2013-2015

Dari tabel 5.5 terdapat kebiasaan merokok pada penderita retinopati hipertensi yang paling banyak 53 (70,0%) yang merokok dan 22 (29,3%) yang tidak merokok. Menurut Penelitian Klein pada tahun 2004 yang dilakukan terhadap pada penderita yang tidak menderita hipertensi, setelah pengamatan selama 9,8 tahun diperoleh peningkatan yang signifikan terhadap kenaikan tekanan darah pada penderita yang merokok lebih dari 15 batang per hari. 24 Mekanisme yang mendasari hubungan rokok dengan tekanan darah berdasarkan penelitian tersebut adalah proses inflamasi. Baik pada mantan perokok maupun perokok aktif terjadi peningkatan jumlah protein C-reaktif dan agen-agen inflamasi alami yang dapat mengakibatkan disfungsi endotelium, kerusakan pembuluh darah, pembentukan plak pada pembuluh darah, dan kekakuan dinding arteri yang berujung pada kenaikan tekanan darah. 24
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

Laporan Individu Pendampingan Keluarga KKN PPM UNUD Periode XIII Tahun 2016 Desa Nongan - Kecamatan Rendang - Kabupaten Kongan.

Laporan Individu Pendampingan Keluarga KKN PPM UNUD Periode XIII Tahun 2016 Desa Nongan - Kecamatan Rendang - Kabupaten Kongan.

KKN PPM Universitas Udayana merupakan salah satu bentuk perwujudan pengabdian kepada masyarakat melalui pembelajaran pemberdayaan masyarakat secara langsung dan terpadu. Salah satu program dalam KKN PPM ini adalah program KK Dampingan yang bertujuan untuk membantu pemberdayaan keluarga yang didampingi. Keluarga yang penulis dampingi adalah keluarga Bapak Ketut Ginarka. Masalah yang terdapat dalam keluarga tersebut adalah masalah ekonomi dan kesehatan. Masalah ekonomi yang dialami keluarga ini adalah pendapatan yang tidak menentu dan tidak dapat mencukupi kehidupan sehari- hari, dimana solusi yang dapat ditawarkan adalah memperbaiki cara pengelolaan keuangan keluarga sehingga dapat menabung. Masalah kesehatan yang dialami oleh keluarga ini adalah kebiasaan merokok yang dimiliki oleh Bapak Ketut Ginarka, serta kurangnya kesadaran keluarga Bapak Ketut Ginarka akan pola hidup sehat diantaranya kesehatan gigi dan mulut, sehingga solusi yang dapat diberikan adalah penjelasan mengenai bahaya merokok kepada Bapak Ketut Ginarka maupun untuk istrinya sebagai perokok pasif, termasuk anak-anak mereka yang masih dalam masa pertumbuhan karena rentan dengan penyakit-penyakit yang disebabkan oleh asap rokok, serta pentingnya menjaga kesehatan gigi dan mulut.
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

Laporan Proposal Kegiatan KKN PPM Periode XIII Tahun 2016 Desa Nongan - Kecamatan Rendang - Kabupaten Kongan.

Laporan Proposal Kegiatan KKN PPM Periode XIII Tahun 2016 Desa Nongan - Kecamatan Rendang - Kabupaten Kongan.

Untuk keperluan makan sehari- hari, keluarga Bapak Ketut Ginarka menghabiskan uang sebesar ± Rp 50.000,- yang digunakan untuk membeli bahan makanan yang akan dimasak untuk makan keluarga. Setiap bulan Bapak Ketut Ginarka mengeluarkan biaya sebesar Rp 500.000,- untuk membeli beras. Selain biaya makan untuk dirinya, sang istri dan anak-anaknya, Bapak Ketut Ginarka juga harus mengeluarkan biaya untuk keperluan bulanannya seperti deterjen, sabun, rokok dll. Untuk biaya listrik dan air per bulannya Bapak Ketut Ginarka menghabiskan biaya Rp. 125.000. Rata – rata biaya yang harus dikeluarkan Bapak Ketut Ginarka untuk kebutuhan lain, seperti deterjen, sabun mandi, sabun cuci, dan sebagainya menghabiskan biaya sebesar kurang lebih Rp 20.000,-. Bapak Ketut Ginarka juga adalah seorang perokok namun tidak terlalu berat, satu bungkus rokok yang seharga Rp. 15.000,- dihabiskan dalam waktu 3-4 hari. Anak ketiga dan keempat Bapak Ketut Ginarka saat ini masih duduk di bangku SMP dan SD. Bapak Ketut Ginarka tidak mengeluarkan biaya untuk sekolah kedua anaknya hanya saja mengeluarkan biaya untuk uang saku Rp. 20.000,- perhari untuk kedua anaknya.
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

PENGARUH LAMA KERJA DAN KEBIASAAN MEROKOK TERHADAP FUNGSI PARU PADA PETUGAS SPBU JATINANGOR.

PENGARUH LAMA KERJA DAN KEBIASAAN MEROKOK TERHADAP FUNGSI PARU PADA PETUGAS SPBU JATINANGOR.

Salah satu faktor yang dapat mempengaruhi fungsi paru adalah kualitas udara. Dampak pencemaran berupa polusi udara yang dihasilkan oleh asap kendaraan bermotor akan berpengaruh terhadap penurunan kapasitas paru. SPBU Jatinangor merupakan salah satu tempat pengisian bensin yang strategis di kawasan Sumedang, karena banyak kendaraan bermotor yang singgah di tempat ini untuk mengisi bensin. Berdasarkan premis tersebut, orang yang paling sering terkena dampak polusi dari asap kendaraan bermotor tersebut adalah orang yang bekerja di SPBU. Selain itu, faktor lain seperti merokok juga dapat mempengaruhi fungsi paru. Oleh karena itu, untuk mengetahui pengaruh polusi udara dan kebiasaan merokok terhadap fungsi paru, maka telah dibuat penelitian mengenai pengaruh lama kerja dan kebiasaan merokok terhadap fungsi paru pada petugas operator SPBU Jatinangor.
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

HUBUNGAN ANTARA KEBIASAAN MEROKOK DENGAN KAPASITAS VITAL PARU  Hubungan Antara Kebiasaan Merokok dengan Kapasitas Vital Paru.

HUBUNGAN ANTARA KEBIASAAN MEROKOK DENGAN KAPASITAS VITAL PARU Hubungan Antara Kebiasaan Merokok dengan Kapasitas Vital Paru.

1. Karakteristik Responden Berdasarkan IMT ..................................... 30 2. Hubungan antara Usia dengan Kapasitas Vital Paru......................... 31 3. Hubungan antara Kebiasaan Merokok dengan Kapasitas Vital Paru 32 4. Hubungan antara Jenis Rokok dengan Kapasitas Vital Paru ............ 33 C. Keterbatasan Penelitian ......................................................................... 34 BAB V. KESIMPULAN DAN SARAN

Baca lebih lajut

HUBUNGAN KEBIASAAN MEROKOK DENGAN TEKANA

HUBUNGAN KEBIASAAN MEROKOK DENGAN TEKANA

Hasil ini menunjukkan bahwa apabila responden yang berolahraga futsal dan memiliki kebiasaan merokok maka akan mempengaruhi tekanan darah responden tersebut. Peningkatan tekanan darah pada responden yang merokok ini di pengaruhi oleh zat yang terkandung di dalam rokok itu, antara lain nikotin, tar dan karbon monoksida (Sugito, 2007).

Baca lebih lajut

HUBUNGAN ANTARA KEBIASAAN MEROKOK, AKTIVITAS FISIK, RIWAYAT KELUARGA DENGAN KEJADIAN HIPERTENSI DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS  Hubungan Antara Kebiasaan Merokok, Aktivitas Fisik, Riwayat Keluarga Dengan Kejadian Hipertensi Di Wilayah Kerja Puskesmas Nguter.

HUBUNGAN ANTARA KEBIASAAN MEROKOK, AKTIVITAS FISIK, RIWAYAT KELUARGA DENGAN KEJADIAN HIPERTENSI DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS Hubungan Antara Kebiasaan Merokok, Aktivitas Fisik, Riwayat Keluarga Dengan Kejadian Hipertensi Di Wilayah Kerja Puskesmas Nguter.

Berdasarkan penelitian Kurniasih (2011), menyatakan bahwa merokok tidak ada hubungan dengan kejadian hipertensi (p= 0,057). Hasil penelitian Rachmawati (2012) juga menunjukkan bahwa tidak ada hubungan antara merokok dengan kejadian hipertensi (p= 0,747). Berdasarkan data survei Depkes RI dan BPS, Rumah Tangga Sehat (2004) dan Profil Kesehatan Indonesia (2007) dalam Notoatmodjo (2010) menunjukkan apabila dilihat dari segi pendidikan, kelompok orang yang berpendidikan rendah justru lebih tinggi persentase yang tidak merokok dibandingkan dengan yang berpendidikan tinggi. Hal ini bertentangan dengan teori, karena semestinya orang yang berpendidikan tinggi lebih mengetahui bahaya-bahaya merokok bagi kesehatan, sehingga lebih mengurangi rokok.
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

PERILAKU MEROKOK PADA DOSEN PRIA FAKULTAS KEDOKTERAN (Studi kasus di Fakultas kedokteran Undip) - Diponegoro University | Institutional Repository (UNDIP-IR)

PERILAKU MEROKOK PADA DOSEN PRIA FAKULTAS KEDOKTERAN (Studi kasus di Fakultas kedokteran Undip) - Diponegoro University | Institutional Repository (UNDIP-IR)

Kematian akibat rokok pada tahun 2030 didunia diperkirakan akan meningkat menjadi 10 juta orang di dunia. Di Amerika Serikat menurut American Cancer Society setiap tahun tercatat 400.000 orang meninggal akibat rokok, setengahnya berumur 35-69 tahun. Para perokok itu dapat kehilangan 20-25 tahun masa hidupnya, Indonesia situasinya lebih memprihatinkan karena konsumsi rokok dari tahun ke tahun terus meningkat pesat melebihi laju pertambahan penduduk. Kebiasaan merokok justru dimulai pada umur yang sangat muda yaitu pada tingkat sekolah dasar, bahkan ada yang mulai pada umur 5-6 tahun. Delapan puluh persen golongan pemula ini akan menjadi perokok tetap. Rokok yang banyak dikonsumsi di Indonesia adalah rokok kretek yaitu sekitar 80% dari semua rokok yang beredar di pasaran. Rokok kretek mempunyai kadar nikotin dan tar 2- 3 kali lebih besar dari rokok putih. (13)
Baca lebih lanjut

15 Baca lebih lajut

FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN TINDAKAN MEROKOK SISWA LAKI-LAKI DI SMA NEGERI KOTA PADANG TAHUN 2011.

FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN TINDAKAN MEROKOK SISWA LAKI-LAKI DI SMA NEGERI KOTA PADANG TAHUN 2011.

kejiwaan menimbulkan kebingungan di kalangan remaja, sehingga mereka mengalami penuh gejolak emosi dan tekanan jiwa sehingga mudah menyimpang dari aturan dan norma-norma sosial yang berlaku di kalangan masyarakat. 12 Menurut Depkes RI (2005), pada masa transisi tersebut remaja rentan untuk mengalami masalah serta berperilaku resiko tinggi, seperti menggunakan Napza (narkotika, psikotropika, dan zat adiktif lainnya), merokok, melakukan seks pra nikah, kekerasan, bunuh diri, dan lain-lain. 13

17 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...