kekuasaan negara

Top PDF kekuasaan negara:

Proses pengelolaan kekuasaan negara di R

Proses pengelolaan kekuasaan negara di R

Proses pengelolaan kekuasaan negara di Republik Indonesia sangat dinamis. Berbagai perubahan mewarnai pelaksanaan pengelolaan negara di Indonesia. Perubahan tersebut dilakukan agar negara Indonesia dapat lebih maju agar terwujud cita-cita dan tujuan negara. Pengelolaan kekuasaan negara dilakukan oleh lembaga-lembaga negara. Pengelolaan kekuasaan negara tidak hanya dilakukan oleh Presiden beserta para menteri negara selaku pemegang kekuasaan eksekutif. Hal tersebut dikarenakan kekuasaan negara bukan hanya kekuasaan eksekutif saja, tetapi terdapat pula kekuasaan legislatif dan yudikatif yang dijalankan oleh lembaga negara lainnya.
Baca lebih lanjut

7 Baca lebih lajut

KEKUASAAN NEGARA KEKUASAAN NEGARA KEKUASAAN NEGARA

KEKUASAAN NEGARA KEKUASAAN NEGARA KEKUASAAN NEGARA

Negara (sebagai suatu organisasi di suatu wilayah) memiliki kekuasaan untuk memaksakan kedudukannya secara sah terhadap semua golongan yang ada dalam wilayah itu dan menetapkan tujuan kehidupan bersama. Negara berkewajiban menetapkan cara dan batas kekuasaan untuk digunakan dalam kehidupan bersama, sehingga dapat membimbing berbagai kegiatan penduduk ke arah tujuan bersama.

4 Baca lebih lajut

SISTIM PEMBAGIAN KEKUASAAN NEGARA REPUBL

SISTIM PEMBAGIAN KEKUASAAN NEGARA REPUBL

Sistem  ketatanegaraan  Republik  Indonesia  menurut  UUD  1945,  tidak menganut  suatu  sistem  negara  manapun,  tetapi  adalah  suatu  sistem  khas  menurut kepribadian  bangsa  indonesia,  namun  sistem  ketatanegaraan  Republik  indonesia tidak  terlepas  dari  ajaran  Trias  Politica  Montesquieu.  Ajaran  trias  politica  tersebut adalah  ajaran  tentang  pemisahan  kekuasaan  negara  menjadi  tiga  yaitu  Legislatif, Eksekutif,  dan  Judikatif    yang  kemudian  masing­masing  kekuasaan  tersebut  dalam pelaksanaannya  diserahkan  kepada  satu  badan  mandiri,  artinya  masing­masing badan  itu  satu  sama  lain  tidak  dapat  saling  mempengaruhi  dan  tidak  dapat  saling meminta pertanggung jawaban.
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

MAKALAH TENTANG KEKUASAAN NEGARA DI INDO

MAKALAH TENTANG KEKUASAAN NEGARA DI INDO

Bentuk pemerintahan yang buruk di dalam satu tangan adalah Tirani. Tiran-tiran kejam yang pernah muncul dalam sejarah politik dunia misalnya Kaisar Nero, Caligula, Hitler, atau Stalin. Meskipun Hitler atau Stalin memerintah di era negara modern, tetapi jenis kekuasaan yang mereka jalankan pada hakekatnya terkonsentrasi pada satu tangan, di mana keduanya sama sekali tidak mau membagi kekuasaan dengan pihak lain, dan kerap kali bersifat kejam baik terhadap rakyat sendiri maupun lawan politik.

26 Baca lebih lajut

Konflik agama di INdonesia Kekuasaan Negara

Konflik agama di INdonesia Kekuasaan Negara

Masalah konflik antar agama di Indonesia merupakan sebuah masalah yang rumit dan kompleks. Jika kita menengok kembali ke belakakang kepada masa Orde Baru sampai pada saat ini, kasus konflik antar agama tidak pernah absen mewarnai perjalanan kehidupan bangsa Indonesia. Banyak korban yang sudah berjatuhan akibat dari konflik antar agama, baik oleh negara maupun masyarakat sipil.

10 Baca lebih lajut

BAB 4 Penyelenggaraan Kekuasaan Negara

BAB 4 Penyelenggaraan Kekuasaan Negara

7. Peserta didik dengan kelompok mengumpulkan data hal yang berkaitan dengan penyelenggaraan kekuasaan negara Guru memberi kesempatan peserta didik melakukan pemeriksaan dan mengolah berbagai informasi guna membuktikan hipotesis yang dirumuskan

9 Baca lebih lajut

Teori Pemisahan Kekuasaan Negara p1

Teori Pemisahan Kekuasaan Negara p1

Kekuasaan membuat undang-undang (legislatif) harus dipegang oleh badan yang berhak khusus untuk itu. Dalam negara demokratis, kekuasaan tertinggi untuk menyusun undang-undang itu sepantasnya dipegang oleh badan perwakilan rakyat. Sedangkan kekuasaan melaksanakan undang-undang harus dipegang oleh badan lain, yaitu badan eksekutif. Dan kekuasaan yudikatif (kekuasaan yustisi, kehakiman) adalah kekuasaan yang berkewajiban memertahankan undang-undang dan berhak memberikan peradilan kepada rakyat. Badan yudikatiflah yang berkuasa memutuskan perkara, menjatuhkan hukuman terhadap setiap pelanggaran undang-undang yang telah diadakan oleh badan legislatif dan dilaksanakan oleh badan eksekutif.
Baca lebih lanjut

2 Baca lebih lajut

Kekuasaan Negara Moralitas Publik dan Pr

Kekuasaan Negara Moralitas Publik dan Pr

Jika dari inkonsistensi itu kemudian harus diusulkan suatu alternatif solusi agar, misalnya, negara membedakan secara jelas antara ruang publik dan ruang privat sehingga terjadi perombakan cara pandang terhadap realitas di mana hak-hak hidup privat individu dalam relasinya dengan negara harus dikalkulasikan kembali, maka cara yang harus ditempuh tentu bukan dengan menciptakan "moralitas baru" untuk mendiskreditkan bahkan mencampakkan moralitas lama. Juga bukan dengan merevisi bahkan mengganti moralitas lama itu dengan moralitas baru. Mengabaikan --tentu untuk sementara-- kemungkinan-kemungkinan penyelesaian sejenis, saran yang lebih reformatif dan dekonstruktif ialah memperlakukan hubungan aktor-koaktor pada konteks bersama dengan me-reka-kan kemungkinan baru, yakni melalui penciptaan kontrak sosial baru.
Baca lebih lanjut

3 Baca lebih lajut

Kekerasan Sipil dan Kekuasaan Negara

Kekerasan Sipil dan Kekuasaan Negara

Beberapa pengamat, akademisi, serta aktivis demokrasi dan Hak Asasi Manusia (HAM) menilai fenomena vigilantisme sebagai produk dari kegagalan negara dalam menjamin perlindungan sosial kepada warganya. Kegagalan itu juga diyakini sebagai manifestasi dari lemahnya penegakan hukum, baik yang berkaitan dengan aparaturnya maupun sistemnya. Negara, di satu sisi, dapat dipandang abai dalam melindungi warganya dari kekerasan, tetapi di sisi lain juga dapat diklaim secara sengaja membutuhkan aktor-aktor kekerasan sipil itu sebagai proxy (perwakilan dari). Pandangan semacam itu sesungguhnya lahir dari asumsi bahwa negara adalah aktor yang memonopoli penggunaan kekerasan yang sahih dalam suatu teritori tertentu, seperti yang didefinisikan oleh ilmuwan politik Max Weber. Namun, karena kekuasaan negara dianggap tidak selalu dapat merengkuh semua yang ada dalam batas teritorinya, agen-agen non-negara diperlukan untuk melengkapinya.
Baca lebih lanjut

6 Baca lebih lajut

Indonesia negara hukum demokratis bukan negara kekuasaan otoriter

Indonesia negara hukum demokratis bukan negara kekuasaan otoriter

Istilah negara hukum selain dikenal dengan istilah rechtsstaat dan rule of law, juga dikenal istilah monocracy yang artinya sama dengan negara hukum. Intinya bahwa, hukum yang berlaku dalam suatu negara hukum haruslah yang terumus secara demokratis, yakni yang dikehendaki oleh rakyat. Sejalan dengan perkembangan kehidupan kebangsaan dan ketatanegaraan Indonesia, maka dengan melalui amandemen UUD 1945, istilah negra hukum (rechtsstaat) secara jelas dan tegas disebutkan dalam Batang Tubuh UUD NRI tahun 1945 yang sebelum amandemen hanya ditemukan dalam Penjelasan UUD 1945. Hal itu mempertegas komitmen bahwa Indonesia adalah negara hukum yang demokratis bukan negara kekuasaan yang otoriter. Indonesia sebagai negara hukum yang demokratis, maka kekuasaan manapun harus berlandaskan konstitusi. Konstitusi itu diadakan supaya para penyelenggara negara mempunyai arah serta tujuan yang jelas dalam menjalankan tugas dan kewenangannya, konstitusi itu merupakan hukum dasar tertinggi dan dinobatkan sebagai negara hukum yang demokratis. Dalam konteks itu, negara menempatkan hukum sebagai dasar kekuasaan negara dan penyelenggaraan kekuasaan tersebut dalam segala bentuknya dilakukan di bawah kekuasaan hukum. Hukum sebagai urat nadi dalam segala aspek kehidupan. Negara hukum, konstitusi, dan demokrasi merupakan satu kesatuan yang tak terpisahkan menuju sebuah bangunan negara yang menjunjung tinggi supremasi konstitusi dan demokrasi yang berdasarakan kepada hukum.
Baca lebih lanjut

12 Baca lebih lajut

WARGA NEGARA DAN KEKUASAAN p1

WARGA NEGARA DAN KEKUASAAN p1

Teori para ahli hukum tata negara tentang Kekuasaan Negara berubah dari waktu ke waktu dikarenakan tuntutan dan kondisi jaman pada saat para ahli hukum menyusun teori atau menterjemahkan cara praktis suatu kekuasaan negara pada saat sedang berlangsung. Dalam suatu kurun waktu bisa saja bentuk kekuasaan negara tetap sebagaimana dikonsepkan, tetapi bisa juga berubah, sesuai kebutuhan konsep struktur dan fungsi dalam kekuasaan suatu pemerintahan pada masanya. Kekuasaan dalam prakteknya akan terbagi-bagi lagi dan dibedakan menurut fungsi dan wewenangnya, untuk memenuhi kepentingan menjalankan kekuasaan secara baik dan mencapai tujuan yang dicita-citakan suatu negara bagi kehidupan rakyat negaranya. Lahirnya teori para Ahli Hukum Tata Negara bermula berkembang di daratan benua Eropa, teori tersebut diinspiratif menyaksikan kenyataan kekuasaan para Raja Eropa yang dipandang sangat absolut. Raja dengan kekuasaan absolutnya, sewenang- wenang mengendalikan segala hal yang berkenaan dengan kepentingan kekuasaannya dalam satu tangan, hanya Raja yang paling berhak mengatur, mengurus, menentukan, memutuskan, dan boleh memberi perintah. Kepentingan Raja dan keluarganya yang utama, kepentingan rakyat cenderung terabaikan. Rakyat hanya bisa patuh mengikuti apapun keinginan maupun perintah sang Raja berkuasa, Raja yang harus dilayani bukan sebaliknya, karena Raja adalah penguasa dan sekaligus pengendali pemerintahan tunggal.
Baca lebih lanjut

4 Baca lebih lajut

soal ulangan pkn bab 1 kelas x semester

soal ulangan pkn bab 1 kelas x semester

2. Kekuasaan membentuk undang-undang disebut juga kekuasaan legislatif, setelah dilakukan perubahan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, DPR mempunyai kedudukan yang lebih kuat dalam pengelolaan kekuasaan negara. DPR secara tegas dinyatakan sebagai pemegang kekuasaan untuk membentuk undang- undang. Hal tersebut diatur dalam …

3 Baca lebih lajut

KONSTITUSIONALISME DALAM UUD 1945 AMANDE

KONSTITUSIONALISME DALAM UUD 1945 AMANDE

Kewenangan MPR sebelum amandemen tercantum yakni menetapkan UUD dan Garis-Garis Besar Haluan Negara (GBHN), memilih Presiden dan Wakil Presiden berdasarkan suara terbanyak di MPR. Bahkan sebelum amandemen terhadap UUD 1945, MPR menjelma sebagai kedaulatan rakyat yang menjadikannya sebagai lembaga tertinggi negara. Setelah amandemen, kekuasaan MPR dibatasi hanya pada penetapan UUD, dan adapun kewenangan MPR untuk melakukan pemberhentian terhadap presiden dan wakil presiden dalam masa jabatannya dilakukan menurut UUD yang diatur dalam pasal 7A dan 7B harus diusulkan oleh DPR yang sebelumnya harus diajukan terlebih dahulu kepada MA untuk memeriksa, mengadili, dan memutus apakah presiden dan/atau wakil presiden dinyatakan telah melakukan pelanggaran yang disebutkan dalam konstitusi. Hal ini menjadi bentuk checks and balances antara MPR dengan lembaga kekuasaan negara lainnya di mana MPR dalam menjalankan tugasnya tidak bisa berdiri sendiri tanpa adanya hubungan dengan lembaga kekuasaan lainnya.
Baca lebih lanjut

20 Baca lebih lajut

KEKUASAAN DALAM KONTEKS NEGARA HUKUM

KEKUASAAN DALAM KONTEKS NEGARA HUKUM

Terkait dengan teori pemisahan kekuasaan, baik John Locke maupun Montesquieu sama-sama membagi kekuasaan negara menjadi tiga bidang, tetapi ada perbedaannya. John Locke mengatakan bahwa kegiatan negara bersumber dari tiga kekuasaan negara, yaitu kekuasaan legislatif (legislative power), kekuasaan eksekutif (executive power), dan kekuasaan federatif (federative power). Sedang Montesquieu melalui ajaran Trias Politica membelah seluruh kekuasaan negara secara terpisah-pisah (separation of power; separation du pouvoir) dalam tiga bidang (tritochomy), yakni bidang legislatif, eksekutif dan yudikatif. Ajaran Trias Politika didasarkan pada pemikiran bahwa kekuasaan negara harus dipisahkan (separation of powers) dan tidak boleh berada dalam satu tangan (concentration of powers). Berbeda dengan Montesquieu, Hans Kelsen membagi segenap unsur “power” dalam negara itu dalam dua bidang pokok, yakni: “legislatio” yang meliputi “law creating function”; dan “legis executio”, yang meliputi: legislative power dan judicial power.
Baca lebih lanjut

14 Baca lebih lajut

KEKUASAAN PEME RINTAHAN NEGARA BERDASARK

KEKUASAAN PEME RINTAHAN NEGARA BERDASARK

Trias politica adalah danggapan bahwa kekuasaan negara terdiri tiga macam kekuasasan : oertama kekuasaan legislatif atau kekuasaanmembuat undang-unf=dang dalam istilah baru sering diesebut rule making function; kedua, kekuasan ekesekutif atau kekuasaan melaksanakan undang-undang dalam perisstilahan baru sering disebut rule application function ;ketiga , kekuasaan yudikatif atau kekuasaan mengadili atas pelanggaran undang-undang dalam peristilaha n baru sering disebut rule of adjudication function. Trias politica adalh suatu prinsip normatif bahwa kekuasaan ini sebaiknya tidak diserahkan pada orangyang sama untuk mencegah penyalahgunaan kekuasaan oleh orang yang berkuasa.
Baca lebih lanjut

11 Baca lebih lajut

FUNGSI KEKUASAAN LEMBAGA NEGARA LEGISLAT

FUNGSI KEKUASAAN LEMBAGA NEGARA LEGISLAT

a. Sistem perwakilan politik ( political representation ), dalam sistem perwakilan politik menghasilkan wakil – wakil politik. Sebagai sistem perwakilan politik, ada yang melindungi lembaga legislatif agar kekuasaannya tidak di campuri oleh lembaga kekuasaan lain.Misalnya saja antara lembaga kekuasaan legislatif dan kekuasaan yudikatif. Sebagai lembaga yudikatif MK pada prinsipnya hanya boleh menyatakan bahwa pasal/ayat/bagian atau seluruh UU bertentangan atau tidak bertentangan dengan konstitusi.MK tidak boleh membuat putusan yang bersifat mengatur, tidak boleh membatalkan Undang – Undang atau isi UU yang oleh UUD dinyatakan terbuka (diserahkan pengaturannya kepada legislatif), dan tidak boleh pula membuat putusan yang ultra petita , apalagi ultra petita yang bersifat positive legislature . 12
Baca lebih lanjut

12 Baca lebih lajut

KONSTITUSI DALAM DEMOKRASI

KONSTITUSI DALAM DEMOKRASI

Belajar dari pengalaman tersebut, demokrasi harus dimaknai tidak hanya sebagai mekanisme prosedural pemilihan wakil rakyat dan pembentukan pemerintahan yang dipilih oleh rakyat. Demokrasi harus dimaknai secara substansial, yaitu penghargaan dan perlindungan hak asasi manusia, pemerintahan yang terbatas, serta penyelenggaraan pemerintahan yang dilakukan harus sesuai dengan kehendak rakyat yang digariskan dalam konstitusi. Kebijakan negara, atau undang-undang, walaupun dibuat oleh lembaga yang dipilih secara demokratis dan dirumuskan melalui prosedur yang sah, harus dibatalkan apabila substansinya bertentangan atau melanggar substansi demokrasi.
Baca lebih lanjut

5 Baca lebih lajut

Sastra dan Kekuasaan Jejak Negara di Zam

Sastra dan Kekuasaan Jejak Negara di Zam

Buku Kekuasaan Zaman Edan: Derajat Negara Tampak Sunya-ruri ini hadir menyemarakkan suasana yang ada dengan membawa berbagai informasi tentang kekuasaan pada zaman edan yang diikuti dengan menurunnya derajat negara sehingga tampak sunya-ruri (suwung, sunyi, dan sepi). Maknanya bagaimana kekuasaan dan kepemimpinan [sosial, budaya, ideologi, politik, kebijakan negara, konglomerasi, loyalitas, multikulturalisme, sentralisasi, desentralisasi, kekuasaan yang marginal, kekuasaan stilistika, kekuasaan iptek dan mitos, gerakan mahasiswa menumbangkan kekuasaan rezim Orde Lama dan Orde Baru, kekuasaan maut dan tragedi, kekuasaan mitologis, dan kekuasaan bahasa tubuh atau erotisme literer, sehingga muncul orde reformasi kekuasaan dengan semiosis asmaradana, kekuasaan promosi kepariwisataan Indonesia, serta kekuasaan tragedi kemanusiaan yang menimpa Marsinah dan Widji Thukul semasa kekuasaan Orde Baru] yang terjadi pada zaman edan sehingga dapat menurunkan derajat negara dan berbagai upaya untuk dapat meruwat, bebas dari segala bencana dan malapetaka, terhindar dari musibah sehingga berharap hadirnya Ratu Adil, Satriya Piningit, Mesias, atau Imam Mahdi. Di situlah suatu zaman yang disebut “zaman Edan” timbul dengan berbagai kerusakan moral masyarakatnya, penuh huru-hara, pemberontakan, makar, berbagai bencana dan malapetaka, serta kehancuran negara dan bangsa oleh berbagai sebab yang ada. Hal ini sekiranya perlu mendapat perhatian yang lebih intens dan koheren dari pembaca yang budiman sehingga mampu membangkitkan semangat juang, semangat beradaptasi, semangat untuk mempertahankan hidup, semangat untuk berkarya dan bekerja, semangat untuk membangkitkan persatuan dan kesatuan dalam bingkai kebhineka-tunggalikaan dan multikulturalisme, dapat mengorhmati perbedaan, kasih sayang sesama hidup, meningkatkan kesadaran manusia atas peran kekuasaannya sebagai khafilah di muka bumi, dan tentu saja semangat religiusitas manusia agar terbebas dari belenggu zaman edan.
Baca lebih lanjut

1 Baca lebih lajut

PEROLEHAN HAK GUNA USAHA PT. PERKEBUNAN XXIII KEBUN WONOSARI KABUPATEN MALANG Repository - UNAIR REPOSITORY

PEROLEHAN HAK GUNA USAHA PT. PERKEBUNAN XXIII KEBUN WONOSARI KABUPATEN MALANG Repository - UNAIR REPOSITORY

mengetahui cara memperoleh Hak Guna Usaha, maka pembahasan akan ditekankan apakah Hak Guna Usaha tersebut dapat di­ berikan pada semua tanah, baik tanah negara bekas dan ta­ nah negara tidak bebas. Untuk itu di dalam Bab III diurai- kan tentang objek yang dapat dibebani dengan Hak Guna Usa­ ha. Pada Bab IV berisi tentang subjek dalam pemegang Hak Guna Usaha, hal ini untuk melihat apakah ayarat dan pro- sedur diberikan secara sama, baik untuk badan hukum milik pemerintah dan badan hukum milik swasta. Pada akhirnya tulisan ini disampaikan kesimpulan dan saran yang menja- di penutup dalam skripsi ini dan untuk itu di tempatkan dalam bab V.
Baca lebih lanjut

85 Baca lebih lajut

Filosofi Jean Jacques Rosseau.

Filosofi Jean Jacques Rosseau.

Rosseau secara filosofis menempatkan dirinya sebagai bapak humanisme pertama di Eropa, dan hal ini tidaklah terlepas dari konstruksi pemikirannya terkait manusia, kekuasaan, dan negara. Terkait esensi manusia, maka ada dua konsep penting, yaitu Original Sin dan Savage Man. Original Sin merupakan penafsiran ulang dari Rosseau mengenai hakikat manusia. Rosseau menyakini bahwa pada hakikatnya manusia tercipta secara bebas di awal penciptaannya di Surga, atau The Garden of Eden. Namun, kemudian manusia terusir dari Taman Eden ini karena ketamakan, dan ketamakan inilah yang menurut Rosseau adalah the original sin. Gagasan ini sekaligus lebih maju daripada pemikiran kalangan Protestan pasca terjadinya gelombang protes terhadap dominasi Gereja Katolik Roma di era kegelapan, yang masih menyakini bahwa pasca turunnya manusia ke bumi, masih memiliki dosa.
Baca lebih lanjut

9 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...

Related subjects