kemampuan berpikir kreatif matematis

Top PDF kemampuan berpikir kreatif matematis:

Pengaruh Strategi Heuristik Terhadap Kemampuan Berpikir Kreatif Matematis Siswa

Pengaruh Strategi Heuristik Terhadap Kemampuan Berpikir Kreatif Matematis Siswa

Tujuan penelitian ini untuk menganalisis pengaruh strategi heuristik terhadap kemampuan berpikir kreatif matematis siswa. Penelitian ini dilakukan di SMP PGRI 1 Ciputat Tahun Ajaran 2013/2014. Metode yang digunakan adalah metode quasi eksperimen dengan desain penelitian Randomized Subjects Post- test Only Control Group Design, yang melibatkan 80 siswa sebagai sampel. Penentuan sampel menggunakan teknik cluster random sampling. Pengambilan data menggunakan instrumen berupa tes kemampuan berpikir kreatif matematis berbentuk essay. Hasil penelitian mengungkapkan bahwa kemampuan berpikir kreatif matematis siswa yang diajar dengan strategi heuristik lebih tinggi dari pada siswa yang diajar dengan strategi konvensional. Hal ini dapat dilihat dari nilai rata-rata hasil tes kemampuan berpikir kreatif matematis siswa yang diajar dengan strategi heuristik adalah sebesar 69,90 dan nilai rata-rata hasil tes kemampuan berpikir kreatif matematis siswa yang diajar dengan strategi konvensional adalah sebesar 59,25 (t hitung = 2,86 dan t tabel = 1,67). Kesimpulan
Baca lebih lanjut

205 Baca lebih lajut

Institutional Repository | Satya Wacana Christian University: Implementasi Pendekatan Pembelajaran Open Ended terhadap Kemampuan Berpikir Kreatif Matematis Siswa T1 202009096 BAB V

Institutional Repository | Satya Wacana Christian University: Implementasi Pendekatan Pembelajaran Open Ended terhadap Kemampuan Berpikir Kreatif Matematis Siswa T1 202009096 BAB V

pembelajaran open ended terhadap kemampuan berpikir kreatif matematis siswa. Hasil peningkatan kemampuan berpikir kreatif matematis akibat pendekatan pembelajaran open ended juga terlihat melalui kenaikan kemampuan berpikir kreatif matematis dengan pendekatan pembelajaran open ended pada siswa kelas VII A sebesar 0,11 dan penurunan kemampuan berpikir kreatif matematis dengan pendekatan pembelajaran konvensional pada kelas VII B sebesar -0,15. Hasil posttest juga dapat disimpulkan bahwa mayoritas siswa kelas VII A dan VIIB mempunyai tingkat kemampuan berpikir pada taraf kemampuan berpikir kreatif matematis sedang. Implementasi pendekatan pembelajaran open ended juga mengoptimalkan partisipasi siswa dalam pembelajaran, seperti menemukan solusi masalah terbuka, melakukan diskusi bersama anggota kelompok dan mempresentasikan hasil diskusi mereka di depan kelas.
Baca lebih lanjut

2 Baca lebih lajut

DESKRIPSI KEMAMPUAN BERPIKIR KREATIF MATEMATIS SISWA SMP NEGERI 1 REMBANG DITINJAU DARI CREATIVE PERSONALITY

DESKRIPSI KEMAMPUAN BERPIKIR KREATIF MATEMATIS SISWA SMP NEGERI 1 REMBANG DITINJAU DARI CREATIVE PERSONALITY

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan kemampuan berpikir kreatif matematis siswa ditinjau dari creative personality (kepribadian kreatif) pada materi lingkaran. Penelitian ini menggunakan matode penelitian deskriptif kualitatif. Subyek dalam penelitian ini adalah siswa kelas VIII A SMP Negeri 1 Rembang. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah menggunakan angket, tes, wawancara, dan dokumentasi. Pemilihan subyek dalam penelitian ini menggunakan angket creative personality (kepribadian kreatif) dengan mengambil 3 siswa untuk kelompok kepribadian kreatif tinggi, sedang dan rendah. Teknik analisis data yang digunakan meliputi reduksi data (data reduction), penyajian data (data display), dan kesimpulan (verification). Hasil penelitian menunjukkan bahwa kelompok siswa kepribadian kreatif tinggi mampu menguasai empat indikator kemampuan berpikir kreatif matematis siswa yaitu berpikir lancar (fluent thinking), berpikir luwes (flexible thinking), berpikir orisinil (original thinking), keterampilan mengelaborasi (elaboration ability). Kelompok siswa kepribadian kreatif sedang mampu menguasai dua indikator kemampuan berpikir kreatif siswa yaitu berpikir lancar (fluent thinking) dan keterampilan mengelaborasi (elaboration ability). Sedangkan kelompok siswa dengan kepribadian kreatif rendah juga mampu menguasai dua indikator kemampuan berpikir kreatif siswa yaitu berpikir orisinil (original thinking) dan keterampilan mengelaborasi (elaboration ability).
Baca lebih lanjut

16 Baca lebih lajut

Pengaruh Pendekatan Open Ended Terhadap Kemampuan Berpikir Kreatif Matematis Siswa (Penelitian Quasi Eksperimen di MTs Annajah Jakarta)

Pengaruh Pendekatan Open Ended Terhadap Kemampuan Berpikir Kreatif Matematis Siswa (Penelitian Quasi Eksperimen di MTs Annajah Jakarta)

Berdasarkan pengamatan penulis selama penelitian berlangsung, baik saat kegiatan belajar mengajar maupun saat di luar pembelajaran, siswa kelas eksperimen cenderung suka belajar secara berkelompok. Belajar secara berkelompok memang memiliki kelebihan yaitu siswa dapat bertukar pikiran dengan siswa lainnya, lebih bersemangat dalam belajar, serta dapat memecahkan persoalan yang sulit. Namun, kebiasaan belajar secara berkelompok juga memiliki beberapa kekurangan yaitu siswa yang tadinya memiliki persepsi/pendapat yang berbeda dalam memecahkan suatu masalah menjadi memiliki persepsi/pendapat yang sama dalam memecahkan sebuah permasalahan. Hal ini mungkin terjadi karena argumen-argumen yang muncul dari salah seorang siswa dapat meyakinkan siswa yang lain, sehingga akhirnya mengikuti persepsi/pendapat siswa tersebut. Sedangkan siswa kelas kontrol cenderung lebih suka belajar sendiri-sendiri, bahkan ada yang menyepelekan pelajaran sehingga kurang ada minat untuk belajar. Dengan adanya kecenderungan tersebut, keragaman berpikir pada kelas kontrol lebih terlihat.
Baca lebih lanjut

197 Baca lebih lajut

Pengaruh model pembelajaran experiential learning terhadap kemampuan berpikir kreatif matematis siswa

Pengaruh model pembelajaran experiential learning terhadap kemampuan berpikir kreatif matematis siswa

Setelah proses pembelajaran berlangsung sebanyak 8 kali, terjadi perubahan positif pada perilaku siswa. Pada awalnya pembelajaran di kelas eksperimen dengan menggunakan model pembelajaran experiential learning belum berjalan optimal. Hal ini dikarenakan siswa belum terbiasa belajar secara berkelompok dan dituntut untuk menemukan secara mandiri suatu konsep yang akan dipelajari, selain itu siswa terbiasa belajar dalam suasana pasif dan hanya berpusat pada guru, siswa mendengarkan penjelasan guru kemudian mencatatnya dan mengerjakan latihan soal yang diberikan guru sesuai langkah – langkah yang diajarkan. Siswa belum terbiasa menyampaikan gagasannya ataupun bertanya jika ada yang kurang dipahami, juga belum mampu menyelesaikan masalah dengan langkah-langkah yang detail. Dari hasil pertemuan pertama siswa belum memiliki kemampuan berpikir kreatif yang cukup.
Baca lebih lanjut

218 Baca lebih lajut

T MAT 1201565 table of content

T MAT 1201565 table of content

Kemampuan Berpikir Kreatif dan Komunikasi serta Disposisi Berpikir Kreatif Matematis ..................................... 57 Tabel 4.2 Statistik Deskriptif Kemampuan Berpikir Kreatif Matematis 59 Tabel 4.3 Uji Normalitas Rerata Pretes Kemampuan Berpikir Kreatif

5 Baca lebih lajut

Meningkatkan Kemampuan Berpikir Kreatif dan Komunikasi serta Disposisi Berpikir Kreatif Matematis Siswa SMP Melalui Pembelajaran Inkuiri Model Alberta.

Meningkatkan Kemampuan Berpikir Kreatif dan Komunikasi serta Disposisi Berpikir Kreatif Matematis Siswa SMP Melalui Pembelajaran Inkuiri Model Alberta.

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh hasil-hasil penelitian terdahulu yang menunjukkan bahwa kemampuan berpikir kreatif dan komunikasi serta disposisi berpikir kreatif matematis siswa belum sesuai dengan yang diharapkan. Salah satu model pembelajaran yang dapat diterapkan untuk meningkatkan kemampuan berpikir kreatif dan komunikasi matematis adalah pembelajaran inkuiri model Alberta. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui peningkatan kemampuan berpikir kreatif dan komunikasi matematis serta disposisi berpikir kreatif matematis sebagai akibat dari pembelajaran Inkuiri model Alberta. Penelitian ini adalah kuasi eksperimen yang menerapkan dua model pembelajaran yaitu inkuiri model Alberta dan pembelajaran konvensional. Populasi dalam penelitian ini adalah salah satu SMP Negeri di kota Bandung, sekolah ini berjarak 3 km dari pusat kota (Gedung Sate). Pengambilan sampel dilakukan secara purposive sampling, dan diperoleh kelas VII D dan VII E. Untuk kepentingan analisis masing- masing kelas penelitian dikategorikan menurut kemampuan awal matematis (KAM; tinggi, sedang, rendah). Instrumen penelitian yang digunakan adalah tes kemampuan berpikir kreatif dan komunikasi, skala disposisi berpikir kreatif matematis dan lembar observasi. Analisis data menggunakan uji-t, uji Mann-Whitney, dan analisis deskriptif. Analisis data ditinjau berdasarkan data keseluruhan dan kategori KAM. Berdasarkan hasil analisis tersebut diperoleh kesimpulan: 1) pencapaian dan peningkatan kemampuan berpikir kreatif matematis siswa yang memperoleh pembelajaran inkuiri model Alberta lebih baik daripada siswa yang memperoleh pembelajaran konvensional; 2) terdapat perbedaan peningkatan kemampuan berpikir kreatif matematis siswa yang memperoleh pembelajaran inkuiri model Alberta dan siswa yang memperoleh pembelajaran konvensional berdasarkan kategori KAM (tinggi, sedang, rendah); 3) pencapaian dan peningkatan kemampuan komunikasi matematis siswa yang memperoleh pembelajaran inkuiri model Alberta lebih baik daripada siswa yang memperoleh pembelajaran konvensional; 4) terdapat perbedaan peningkatan kemampuan komunikasi matematis siswa yang memperoleh pembelajaran inkuiri model Alberta dan pembelajaran konvensional berdasarkan kategori KAM (tinggi, sedang, rendah); 5) Disposisi berpikir kreatif matematis siswa yang memperoleh pembelajaran inkuiri model Alberta lebih baik daripada siswa yang memperoleh pembelajaran konvensional; 6) Terdapat asosiasi antara kemampuan berpikir kreatif dengan kemampuan komunikasi matematis siswa, namun antara kemampuan dengan disposisi berpikir kreatif matematis siswa tidak terdapat asosiasi.
Baca lebih lanjut

59 Baca lebih lajut

Pengaruh Strategi Konflik Kognitif Terhadap Kemampuan Berpikir Kreatif Matematis Siswa

Pengaruh Strategi Konflik Kognitif Terhadap Kemampuan Berpikir Kreatif Matematis Siswa

Kenyataannya, hasil survei Trends in International Mathematics and Science Study (TIMSS) menunjukkan skor rata-rata prestasi matematika siswa tingkat 8 setingkat dengan siswa kelas VIII SMP pada tahun 2011 sebesar 386 yang menurun jika dibandingkan pada tahun 2007 memperoleh skor rata-rata sebesar 397. 2 TIMSS merupakan lembaga penilaian matematika dan sains Internasional pada siswa tingkat ke-4 (kelas 4 SD) dan tingkat ke-8 (kelas 2 SMP). Penilaian ini diselenggarakan setiap 4 tahun sejak tahun 1995. Survei pada tahun 2011 diikuti oleh 600.000 siswa dari 63 negara. TIMS ini diselenggarakan oleh IEA (International Association for The Evaluation Achievement). Adapun dimensi kognitif matematis yang diukur dalam survei TIMSS ini adalah pengetahuan 30%, penerapan 40%, dan penalaran 25%. Soal-soal yang disajikan lebih banyak mengukur kemampuan pemecahan masalah yang konteksnya ada pada kehidupan sehari-hari daripada soal-soal yang mengukur kemampuan teknis yang berkaitan dengan ingatan dan penggunaan rumus-rumus umum atau secara algoritmik. Berdasarkan hasil survei TIMSS tahun 2007 dan 2011 prestasi matematika Indonesia masih berada pada tingkat rendah (low international benchmark). Menurut TIMSS, deskripsi pada level low (rendah) prestasi matematika adalah siswa memiliki pengetahuan dasar tentang bilangan-bilangan bulat dan desimal dan dapat melakukan perhitungan dasar. Mereka dapat mencocokkan tabel ke
Baca lebih lanjut

276 Baca lebih lajut

MENINGKATKAN KEMAMPUAN BERPIKIR KREATIF MATEMATIS SISWA MELALUI PENDEKATAN OPEN-ENDED

MENINGKATKAN KEMAMPUAN BERPIKIR KREATIF MATEMATIS SISWA MELALUI PENDEKATAN OPEN-ENDED

Untuk mengembangkan berfikir kreatif matematis siswa, peneliti menggunakan pendekatan secara proses, produk dan aspek-aspek dalam berpikir kreatif. Maksudnya tetap memperhatikan bagaimana seorang siswa mampu berpikir secara divergen untuk menyelesaikan soal atau menghasilkan berbagai macam cara jawaban yang tepat atas soal-soal yang diberikan. Dalam pendekatan produk divergen Guilford (Matlin, 2003) mengukur tingkat kreativitas seseorang yaitu dengan cara melihat hasil jawaban yang diperoleh siswa atau banyaknya siswa membuat respon bervariasi untuk tiap item test atau kemampuan berpikir dalam berbagai arah. Ketiga aspek dalam “ Structure of Intellectual ” model Guilford ada dimensi operasi, isi dan produk dapat bekerja bersama-sama untuk menciptakan (creating) ide baru.
Baca lebih lanjut

7 Baca lebih lajut

PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN INVESTIGASI KELOMPOK TERHADAP KEMAMPUAN BERPIKIR KREATIF MATEMATIS SISWA

PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN INVESTIGASI KELOMPOK TERHADAP KEMAMPUAN BERPIKIR KREATIF MATEMATIS SISWA

Menurut Setiawan (2006), kelebihan dari pembelajaran investigasi kelompok diantaranya: (1) dapat bekerja secara bebas selama proses pembelajaran, (2) memberi semangat untuk berinisiatif, kreatif, dan aktif, (3) meningkatkan rasa percaya diri, (4) melatih siswa untuk belajar memecahkan suatu masalah, (5) memiliki kemampuan yang baik dalam berkomunikasi, dan (6) belajar menghargai pendapat orang lain. Sedangkan kelemahannya adalah (1) sedikitnya materi yang tersampaikan pada satu kali pertemuan, (2) sulit memberikan penilaian secara personal, (3) tidak semua topik cocok dengan model pembelajaran ini, dan (4) siswa yang malas menjadi pasif dan akan memengaruhi kelompoknya sehingga usaha kelompokya gagal.
Baca lebih lanjut

53 Baca lebih lajut

ANALISIS KEMAMPUAN BERPIKIR KREATIF MATEMATIS SISWA SMP

ANALISIS KEMAMPUAN BERPIKIR KREATIF MATEMATIS SISWA SMP

Namun pada kenyataannya, kemampuan berpikir kreatif matematis yang merupakan salah satu tujuan pendidikan tersebut belum tercapai dengan maksimal. Salah satu penelitian Fardah yang menjelaskan bahwa kemampuan berpikir kreatif matematis siswa tingkat sekolah dasar dan menengah masih dalam kategori rendah, yaitu sebesar 46,67%. 11 Penelitian ini mengukur kemampuan berpikir kreatif menggunakan tes open-ended yang dirancang sehingga dapat menggambarkan proses berpikir kreatif dengan lebih jelas. Contohnya dalam mengerjakan soal ditekankan pada banyaknya jawaban benar dan banyaknya strategi yang dapat digunakan dalam menyelesaikan masalah, kemampuan ini merupakan bagian dari indikator keluwesan. Namun
Baca lebih lanjut

135 Baca lebih lajut

T MTK 1204654 Table of content

T MTK 1204654 Table of content

Kreatif Matematis ...................................................................... 55 4.2. Skor Rata-rata Hasil Pretes dan Postes ....................................... 57 4.3. Hasil Peningkatan Kemampuan Berpikir Kritis Matematis Siswa. 61 4.4. Skor Rata-rata Hasil Pretes dan Postes ....................................... 64 4.5. Hasil Peningkatan Kemampuan Berpikir Kreatif Matematis

8 Baca lebih lajut

T MTK 1201706 Chapter5

T MTK 1201706 Chapter5

Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan tentang pengaruh model pembelajaran Missouri Mathematics Project (MMP) terhadap kemampuan berpikir kreatif dan pembuktian matematis siswa sekolah menengah pertama diperoleh simpulan sebagai berikut:

2 Baca lebih lajut

T MAT 1201565 chapter3

T MAT 1201565 chapter3

Sebelum melakukan uji coba kepada siswa dalam satu kelas, peneliti melakukan uji coba instrumen kepada lima orang siswa kelas VIII SMP, dengan tujuan untuk melihat keterbacaan tes instrumen oleh siswa. Dari hasil uji coba terbatas, peneliti mendapatkan bahwa siswa sudah bisa memahami maksud dari setiap butir soal. Namun, dari beberapa komentar siswa setelah mengerjakan tes instrumen mengenai tingkat kesulitan soal yang membutuhkan waktu relatif lama, sehingga peneliti juga mempertimbangkan alokasi waktu. Selanjutnya, instrumen tes kemampuan berpikir kreatif dan komunikasi diujicobakan kepada siswa kelas VIII A di SMP tempat penelitian. Kemudian data tes diuji tingkat validitas, reliabilitas, daya pembeda, dan tingkat kedukaran untuk memperoleh instrumen tes yang baik. Perhitungan tingkat validitas, reliabilitas, daya pembeda, dan tingkat kesukaran soal tes dianalisis dengan bantuan Software Analisis Uraian Versi 4.0.5. berikut ini adalah hasil analisis butir soal kemampuan berpikir kreatif dan komunikasi matematis.
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

T MAT 1201565 chapter1

T MAT 1201565 chapter1

Berkaitan dengan sikap, Ruseffendi (1991) mendefinisikan sikap positif siswa yaitu dapat mengikuti pelajaran dengan sungguh-sungguh, dapat menyelesaikan tugas yang diberikan dengan baik, tuntas dan tepat waktu, berpartisipasi aktif dalam diskusi dan dapat merespon dengan baik tantangan yang diberikan. Sedangkan Neale (dalam Arwana, 2006) memaparkan pengertian sikap sebagai ukuran suka atau tidak suka seseorang siswa tentang matematika, yaitu kecenderungan seseorang terlibat atau menghindar dari kegiatan matematika. menurut Alport (dalam Suherman dan Winataputra, 1992: 24) sikap yaitu (1) sikap merupakan suatu kecenderungan dalam diri individu yang diwujudkan dalam bentuk kesiapan mental dan fisik; (2) sikap merupakan wujud dari respon atau tanggapan individu terhadap sesuatu atau sejumlah objek dan stimulus yang dihadapi; (3) sikap merupakan kecenderungan dan manifestasi yang diorganisasikan melalui pengamatan individu sebelumnya; dan (4) sikap berfungsi untuk memberi arah dan langkah kepada individu yang diwujudkan dalam bentuk respon terhadap objek sikap. Sikap positif ataupun negatif yang dialami siswa pada saat proses pembelajaran secara terus menerus akan berpengaruh pada kemampuan matematis siswa dalam belajar matematika. jadi, terdapat hubungan antara kemampuan berpikir kreatif matematis dengan disposisi berpikir kreatif matematis, begitupun dengan kemampuan berpikir kreatif matematis dengan kemampuan komunikasi matematis.
Baca lebih lanjut

13 Baca lebih lajut

KEMAMPUAN BERPIKIR KREATIF MATEMATIS SISWA DIKAJI DARI TINGKAT DISPOSISI MATEMATIS DI MADRASAH ALIYAH

KEMAMPUAN BERPIKIR KREATIF MATEMATIS SISWA DIKAJI DARI TINGKAT DISPOSISI MATEMATIS DI MADRASAH ALIYAH

Beberapa saran yang dapat peneliti sampaikan berdasarkan temuan dalam penelitian ini sebagai berikut: (1) Dalam mengukur disposisi matematis siswa, sebaiknya data hasil lembar angket disposisi matematis wajib ditopang dengan melakukan wawancara disposisi matematis agar disposisi matematis siswa yang diperoleh tidak keliru; (2) Bagi peneliti selanjutnya yang ingin melakukan penelitian kualitatif, sebaiknya mempersiapkan diri dengan banyak latihan dalam menggali informasi agar pada saat melakukan wawancara bisa memperoleh data yang mendalam; (3) Bagi peneliti selanjutnya yang ingin melakukan penelitian mengenai kemampuan berpikir kreatif, instrumen soal sebaiknya memberikan kebebasan bagi sisa dalam menjawab; (4) Menggunakan model wawancara klinis dalam melakukan wawancara terhadap siswa; (5) Bagi guru yang mengajar di sekolah, sebaiknya siswa dibiasakan untuk diberikan soal-soal yang menunjang berpikir kreatif siswa.
Baca lebih lanjut

15 Baca lebih lajut

S MTK 1102836 Abstract

S MTK 1102836 Abstract

Matematika merupakan mata pelajaran yang jarang disukai oleh generasi muda Indonesia. Padahal matematika merupakan dasar dari segala ilmu. Pengaplikasian ilmu matematika ini selalu ditemui di persoalan kehidupan manusia sehari-hari, seperti menggunakan kalkulator, menghitung berat sayuran, dan lain-lain. Indonesia menempati peringkah terbawah di PISA 2012 dalam kemampuan matematis. Ini berarti kemampuan matematis siswa Indonesia perlu ditingkatkan. Rendahnya kemampuan ini disebabkan siswa yang terlalu fokus pada soal rutin.Untuk hal ini maka dibutuhkan kemampuan berpikir kritis dan kreatif untuk memecahkan soal non rutin tersebut. Hal lain yang mendukung opini ini adalah hasil studi pendahuluan di SMP Negeri 6 Cimahi menunjukkan kemampuan matematis siswa khususnya kemampuan berpikir kritis dan kreatif matematis siswanya masih rendah. Maka dari itu, penelitian ini menggunakan pembelajaran Problem- Centered Learning (PCL) untuk meningkatkan dua kemampuan itu. Metode yang digunakan adalah kuasi eksperimn, dengan pengambilan satu kelas eksperimen saja, dengan tujuan mengetahui kualitas dari pembelajaran PCL itu sendiri. Teknik pengumpulan data melalui hasil pretes dan postes pada kelas eksperimen yang dipilih secara acak. Dari hasil penelitian dengan melihat rata-rata indeks gain, diperoleh hasil terdapat peningkatan pada kemampuan berpikir kritis dan kreatif matematis dengan kualitas sedang. Selain itu, diperoleh indikator yang paling tinggi peningkatannya pada kemampuan berpikir kritis adalah memberikan penjelasan dan paling rendah adalah menyimpulkan. Sedangkan pada kemampuan berpikir kretaif yang peningkatannya paling tinggi adalah berpikir luwes, dan paling rendah adalah berpikir orisinal.
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

T MTK 1201586 Chapter5

T MTK 1201586 Chapter5

3. Penelitian ini hanya terbatas pada implementasi pendekatan Open-Ended untuk meningkatkan kemampuan dan disposisi berpikir kreatif siswa. Untuk itu, peneliti selanjutnya diharapkan dapat meningkatkan kemampuan dan disposisi berpikir kreatif siswa dengan menggunakan pendekatan, metode dan strategi pembelajaran lain yang mungkin.

Baca lebih lajut

ANALISIS KEMAMPUAN BERPIKIR KREATIF BERDASARKAN GAYA BELAJAR SISWA PADA MODEL KNISLEY MATERI PELUANG DI SMP N 1 JUWANA

ANALISIS KEMAMPUAN BERPIKIR KREATIF BERDASARKAN GAYA BELAJAR SISWA PADA MODEL KNISLEY MATERI PELUANG DI SMP N 1 JUWANA

Subjek G-12 dan G-22 memenuhi indikator kefasihan, keluwesan, dan kebaruan dengan sangat baik. Oleh karena itu dapat disimpulkan siswa dengan gaya belajar visual berada pada Tingkat Berpikir Kreatif Matematis Level 4 atau sangat kreatif. Siswa dengan gaya belajar visual mampu menyelesaikan masalah dengan fasih dan lancar serta dapat memberikan beragam jawaban yang benar. Selain itu siswa dengan gaya belajar visual mampu menyelesaikan masalah dengan berbagai cara yang berbeda serta mampu meyelesaikan masalah dengan cara yang baru dan dengan pemikiran sendiri. Hal ini sejalan dengan penelitian oleh Sari (2014) yang menyatakan bahwa untuk mengembangkan kemampuan berpikir kreatif siswa bergaya belajar visual yaitu dengan membuat pembelajaran dengan menggunakan diagram-diagram atau gambar-gambar yang membuat siswa lebih tertarik sehingga mampu menambah minat belajar siswa.
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

T MTK 1201586 Chapter5

T MTK 1201586 Chapter5

1. Secara keseluruhan, peningkatan kemampuan berpikir kreatif siswa yang memperoleh pembelajaran matematika dengan menggunakan pendekatan Open-Ended lebih baik daripada menggunakan pembelajaran konvensional. Bila ditinjau berdasarkan kemampuan awal matematis, peningkatan kemampuan berpikir kreatif siswa dengan kemampuan awal matematis kategori tinggi dan sedang lebih baik memperoleh pembelajaran dengan menggunakan pendekatan Open-Ended daripada pembelajaran konvensional. Selanjutnya, peningkatan kemampuan berpikir kreatif untuk siswa dengan kemampuan awal matematis kategori rendah tidak lebih baik memperoleh pembelajaran dengan menggunakan pendekatan Open-Ended daripada menggunakan pembelajaran konvensional.
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...