Nematoda Parasit Tanaman Kopi

Top PDF Nematoda Parasit Tanaman Kopi:

IDENTIFIKASI NEMATODA PARASIT TANAMAN KOPI PADA LOKASI PENGAMBILAN SAMPEL TANAH YANG BERBEDA

IDENTIFIKASI NEMATODA PARASIT TANAMAN KOPI PADA LOKASI PENGAMBILAN SAMPEL TANAH YANG BERBEDA

selain rasa syukur yang sebesar-besarnya atas rahmat dan hidayah-Nya yang telah memberikan kemampuan berpikir dan kesabaran dalam menyelesaikan Karya Ilmiah Tertulis (skripsi) yang berjudul “Identifikasi Nematoda Parasit Tanaman Kopi Pada Lokasi Pengambilan Sampel Tanah yang Berbeda. Skripsi ini disusun untuk memenuhi salah satu syarat untuk menyelesaikan pendidikan program strata satu (S1) Program Studi Agronomi, Jurusan Budidaya Pertanian, Fakultas Pertanian, Universitas Jember.

14 Baca lebih lajut

IDENTIFIKASI NEMATODA PARASIT TANAMAN KOPI PADA LOKASI PENGAMBILAN SAMPEL TANAH YANG BERBEDA

IDENTIFIKASI NEMATODA PARASIT TANAMAN KOPI PADA LOKASI PENGAMBILAN SAMPEL TANAH YANG BERBEDA

selain rasa syukur yang sebesar-besarnya atas rahmat dan hidayah-Nya yang telah memberikan kemampuan berpikir dan kesabaran dalam menyelesaikan Karya Ilmiah Tertulis (skripsi) yang berjudul “Identifikasi Nematoda Parasit Tanaman Kopi Pada Lokasi Pengambilan Sampel Tanah yang Berbeda. Skripsi ini disusun untuk memenuhi salah satu syarat untuk menyelesaikan pendidikan program strata satu (S1) Program Studi Agronomi, Jurusan Budidaya Pertanian, Fakultas Pertanian, Universitas Jember.

14 Baca lebih lajut

Keanekaragaman Hayati Nematoda Parasitik Pada Tanaman Kopi (Coffea sp.) Di Sumatera Utara

Keanekaragaman Hayati Nematoda Parasitik Pada Tanaman Kopi (Coffea sp.) Di Sumatera Utara

Fransius Simanjuntak, Keanekaragaman Hayati Nematoda Parasitik Pada Tanaman Kopi (Coffea sp.) Di Sumatera Utara. Dibawah bimbingan Lisnawita dan Lahmuddin Lubis. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keanekaragaman hayati nematoda parasit tanaman kopi yang terdapat di tanah dan akar kopi di Kabupaten Dairi dan Kabupaten Simalungun, dimana dipilih tiga lokasi di Dairi dan tiga lokasi di Simalungun. Penelitian ini menggunakan sistem acak dalam pengambilan sampel, dimana sampel akar dan tanah diekstraksi dengan menggunakan metode modifikasi Corong Baerman di Laboratorium Penyakit Tumbuhan, Departemen Hama dan Penyakit Tumbuhan, Fakultas Pertanian, Universitas Sumatera Utara yang dimulai dari bulan Mei dan selesai bulan September 2010. Hasil penelitian ini ditemukan dua genus nematoda parasitik tanaman kopi di Dairi dan Simalungun.
Baca lebih lanjut

44 Baca lebih lajut

Nematoda parasit tanaman.

Nematoda parasit tanaman.

hayati, karena bahan organik dapat memacu perkembangan mikroorganisme antagonis dalam tanah seperti jamur, bakteri, dan nematoda predator. Penggunaan pupuk NPK, dolomit, dan mulsa daun akar wangi pada lahan yang terinfeksi nematoda di Jawa Barat mampu menghasilkan terna basah (bagian daun dan ranting) sekitar 11,44 ton/ha, sedangkan bila tanpa mulsa hasilnya hanya 9,75 ton/ha. Selain berfungsi sebagai bahan organik, mulsa juga berperan dalam mempertahankan kelembapan tanah. Hasil pelapukan bahan organik bersifat racun terhadap nematoda serta mampu memacu perkembangbiakan dan aktivitas mikroorganisme antagonis yang merupakan musuh alami nematoda seperti jamur, bakteri, dan antagonis lainnya. Menurut Puslit Kopi dan Kakao Indonesia, pemberian pupuk kandang (kotoran sapi 1-2 kg/tanaman dapat dilakukan sebelum tanam dengan tujuan untuk meningkatkan produksi mikroorganisme antagonis (musuh alami) nematoda pada tanaman nilam.
Baca lebih lanjut

55 Baca lebih lajut

Potensi Bakteri Endofit Asal Tanaman Kopi Untuk Pengendalian Nematoda Luka Akar Pratylenchus Coffeae (Zimmermann) Filipjev & Schuurmans Stekhoven Dan Pemacu Pertumbuhan Tanaman

Potensi Bakteri Endofit Asal Tanaman Kopi Untuk Pengendalian Nematoda Luka Akar Pratylenchus Coffeae (Zimmermann) Filipjev & Schuurmans Stekhoven Dan Pemacu Pertumbuhan Tanaman

yang merupakan salah satu kandungan dalam eksudat akar (Rovira dan Davey 1974; Curl dan Truelove 1985). HCN dapat mematikan nematoda parasit P. coffeae melalui gangguan pernafasan nematoda. Gallangher dan Manoil (2001) menemukan bahwa HCN merupakan faktor toksin utama yang diproduksi oleh Pseudomonas aeruginosa, yang dapat mematikan Caenorhabditis elegans, nematoda kosmopolitan pada tanah. Isolat tunggal bakteri endofit yang diuji dalam penelitian ini tidak ada yang memproduksi hidrogen sianida, sedangkan konsorsium bakteri endofit uji semuanya dapat menunjukkan warna oranye koloni bakteri di bawah sinar UV (Gambar 6). HCN banyak diproduksi oleh bakteri golongan pseudomonas (Masumi et al. 2014). Tidak adanya isolat tunggal yang menunjukkan aktivitas tersebut sesuai dengan hasil pengelompokan isolat yang digunakan dalam karakterisasi fisiologis ini, yaitu isolat yang terpilih bukan merupakan bakteri dari golongan pseudomonas. Isolat-isolat yang dapat membunuh P. coffeae dengan tingkat mortalitas yang lebih besar dari 60% dan mampu memacu pertumbuhan batang dan/atau akar tanaman tomat uji bukan merupakan bakteri kelompok fluoresen/pseudomonas. Suatu seleksi agens biokontrol bertujuan untuk memperoleh isolat yang potensial dalam mengendalikan patogen target secara efektif, sehingga meskipun suatu isolat yang diperoleh dapat berpendar di bawah sinar UV namun tidak mampu membunuh P. coffeae dengan persentase yang tinggi maupun memacu pertumbuhan tanaman, maka isolat tersebut dieliminasi dalam proses pengujian berikutnya.
Baca lebih lanjut

69 Baca lebih lajut

Sebaran Genera Nematoda Nonparasit Tumbuhan pada Kopi Arabika | Widowati | Jurnal Perlindungan Tanaman Indonesia 15572 29705 1 SM

Sebaran Genera Nematoda Nonparasit Tumbuhan pada Kopi Arabika | Widowati | Jurnal Perlindungan Tanaman Indonesia 15572 29705 1 SM

Populasi masing-masing genus nematoda non- parasit pada tiap blok di tanaman kopi Arabika di Afdeling Plalangan, dapat dilihat pada Gambar 7, 8, 9, 10, dan 11. Pada Tabel 1 tersebut tertera bahwa jenis- jenis nematoda yang ditemukan meliputi Dorylaimus, Rhabditis, Mononchus, Acrobeles, dan Aphelenchus. Nematoda parasit sendiri juga ditemukan di beberapa blok pengambilan sampel, hal ini dapat dijadikan sebagai pembanding ada tidaknya populasi nematoda parasit di antara populasi nematoda nonparasit. Genus Dorylaimus dan Rhabditis ditemukan di semua blok yang diamati. Genus Mononchus ditemukan pada blok I, II, dan III. Genus Acrobeles ditemukan pada blok II. Genus Aphelenchus ditemukan pada blok II dan III. Pada Blok I, II, dan III ditemukan nematoda parasit, sedangkan pada blok IV, Bentaan, dan VI tidak ditemukan. Hasil analisis lebih lanjut terhadap tingkat populasi pada tanaman sehat dan tanaman menunjukkan gejala sakit di setiap blok diuraikan pada Gambar 7, 8, 9, 10, dan 11.
Baca lebih lanjut

9 Baca lebih lajut

Keragaman Nematoda Parasit Tanaman pada

Keragaman Nematoda Parasit Tanaman pada

Nematoda parasit tanaman (NPT) telah dilaporkan menginfeksi berbagai tanaman, baik tanaman semusim maupun tanaman tahunan (Neher & Campbell 1994). Infeksi nematoda Meloidogyne graminicola pada tanaman padi dilaporkan mampu menurunkan produksi padai 11% sampai dengan 73% (Padgham et al. 2004). Pada tanaman tahunan seperti kopi, kapas, nilam, dan lada infeksi NPT telah dilaporkan menyebabkan kehilangan hasil yang cukup besar (Trudgill 1991; Bertrand et al. 2000; Duong et al. 2012). Tanaman kehutanan yang memiliki struktur kuat juga terinfeksi oleh nematoda parasit tanaman. Infeksi oleh NPT tidak hanya menyebabkan kehilangan hasil, namun juga menyebabkan perubahan biokimia pada tanaman yang terinfeksi (Dropkin 1969; Giebel 1974; Kesba & El- Beltagi 2012).
Baca lebih lanjut

15 Baca lebih lajut

TINJAUAN PUSTAKA Tanaman Kopi (Coffea sp.)

TINJAUAN PUSTAKA Tanaman Kopi (Coffea sp.)

Siklus hidup nematoda sangat sederhana sekali yaitu betina meletakkan telur kemudian telur-telur tersebut menetas menjadi larva. Dalam banyak hal, larva-larva ini menyerupai nematoda, hanya ukurannya lebih kecil. Selain nematoda dewasa dan telur, dalam siklus hidup nematoda terdapat 4 stadia larva dan empat kali pergantian kulit. Stadia larva pertama berkembang dalam telur dan pergantian kulit pertama biasanya terjadi di dalam telur. Dari pergantian kulit pertama muncul stadia larva dua, yang bergerak bebas ke dalam tanah dan masuk ke dalam jaringan tanaman. Apabila nematoda stadia larva dua tersebut mulai makan pada jaringan inang yang cocok, terjadi pergantian kulit kedua, ketiga dan keempat dan lima atau stadia dewasa. Secara umum, siklus hidup nematoda parasit berlangsung selama 25-35 hari, bergantung pada jenis nematoda, tanaman inang, keadaan lingkungan tanah (suhu, kelembaban, tekstur) (Mustika, 2003).
Baca lebih lanjut

12 Baca lebih lajut

Sebaran dan Kerapatan Populasi Pratylenchus sp dan Radopholus sp Pada Tanaman Kopi (Coffea sp.) Kabupaten Gayo Lues Provinsi Aceh

Sebaran dan Kerapatan Populasi Pratylenchus sp dan Radopholus sp Pada Tanaman Kopi (Coffea sp.) Kabupaten Gayo Lues Provinsi Aceh

Siklus hidup nematoda sangat sederhana sekali yaitu betina meletakkan telur kemudian telur-telur tersebut menetas menjadi larva. Dalam banyak hal, larva-larva ini menyerupai nematoda, hanya ukurannya lebih kecil. Selain nematoda dewasa dan telur, dalam siklus hidup nematoda terdapat 4 stadia larva dan empat kali pergantian kulit. Stadia larva pertama berkembang dalam telur dan pergantian kulit pertama biasanya terjadi di dalam telur. Dari pergantian kulit pertama muncul stadia larva dua, yang bergerak bebas ke dalam tanah dan masuk ke dalam jaringan tanaman. Apabila nematoda stadia larva dua tersebut mulai makan pada jaringan inang yang cocok, terjadi pergantian kulit kedua, ketiga dan keempat dan lima atau stadia dewasa. Secara umum, siklus hidup nematoda parasit berlangsung selama 25-35 hari, bergantung pada jenis nematoda, tanaman inang, keadaan lingkungan tanah (suhu, kelembaban, tekstur) (Mustika, 2003).
Baca lebih lanjut

55 Baca lebih lajut

Pertumbuhan tanaman pokok Cendana (Santalum album Linn.) pada sistem agroforestri di Desa Sanirin, Kecamatan Balibo, Kabupaten Bobonaro-Timor Leste

Pertumbuhan tanaman pokok Cendana (Santalum album Linn.) pada sistem agroforestri di Desa Sanirin, Kecamatan Balibo, Kabupaten Bobonaro-Timor Leste

Definisi agroforestri menurut ICRAF yang diacu dalam Wiersum (1998) adalah suatu istilah paduan untuk aneka sistem penggunaan lahan yang didalamnya pohon dikembangkan di atas sebidang tanah yang sama, seperti tanah pertanian atau ternak, dalam beberapa bentuk pengaturan ruang dalam kesatuannya. Dalam beberapa sistem agroforestri tanaman kayu-kayuan berinteraksi secara ekologis dan ekonomis dengan tanaman pertanian dan/atau ternak. Agroforestri merupakan nama bagi sistem-sistem dan teknologi penggunaan lahan dimana pepohonan berumur panjang (termasuk semak, palem, bambu, kayu, dan lain-lain) serta tanaman pangan dan/atau pakan ternak berumur pendek diusahakan pada petak lahan yang sama dalam suatu pengaturan ruang atau waktu (ICRAF 2000). Dalam sistem-sistem agroforestri terjadi interaksi ekologis dan ekonomis antar unsur-unsurnya. Huxley (1999) yang diacu dalam Hairiah et al. (2003) menyatakan bahwa agroforestri adalah sistem penggunaan lahan yang mengkombinasikan tanaman berkayu (pepohonan, perdu, bambu, rotan dan lainnya) dengan tanaman tidak berkayu atau dapat pula dengan rerumputan (pasture). Kadang-kadang ada komponen ternak atau hewan lainnya (lebah dan ikan), sehingga terbentuk interaksi ekologis dan ekonomis antara tanaman berkayu dengan komponen lainnya.
Baca lebih lanjut

66 Baca lebih lajut

PENGARUH REDUKSI OLAH TANAH DAN PEMULSAAN TERHADAP KELIMPAHAN NEMATODA NIR-PARASIT DAN PARASIT TUMBUHAN PADA PERTANAMAN TEBU

PENGARUH REDUKSI OLAH TANAH DAN PEMULSAAN TERHADAP KELIMPAHAN NEMATODA NIR-PARASIT DAN PARASIT TUMBUHAN PADA PERTANAMAN TEBU

Nematoda parasit tumbuhan biasanya melimpah pada kedalaman 0-15cm dari permukaan tanah. Kecenderungan itu muncul karena adanya perakaran tanaman dan kadar oksigen yang relatif tinggi, sehingga laju reproduksi nematoda lebih cepat (Agrios, 2000). Aktivitas nematoda sangat dipengaruhi oleh struktur dan tekstur tanah, aerasi, dan kelembaban tanah. Nematoda hanya dapat bergerak aktif pada jarak pendek sekitar 20-30cm setahun. Angin, aliran air, hewan, dan juga manusia dapat membantu penyebaran nematoda dengan jarak yang relatif lebih jauh (Semangun, 2000).
Baca lebih lanjut

45 Baca lebih lajut

Hama Pada Tanaman Kopi dan

Hama Pada Tanaman Kopi dan

Bangsa Etiopia di benua Afrika sekitar 3000 tahun yang lalu, atau 1000 tahun Sebelum Masehi merupakan bangsa pertama yang menemukan biji kopi sebagai minuman yang sangat berkhasiat dan berenergi. Kopi kemudian terus mernerus berkembang hingga seperti saat ini sehingga menjadi salah satu minuman paling populer di dunia. Indonesia merupakan negara yang mampu memproduksi lebih dari 400 ribu ton kopi per tahunnya yang kemudian di ekspor di berbagai penjuru dunia. Rasa dan aroma kopi memang sangat menarik, namun di samping itu kopi juga memiliki khasiat yaitu dapat menurunkan risiko terkena penyakit kanker , diabetes , batu empedu , dan berbagai penyakit jantung. Kopi mengandung kafein, yang dalam dosis rendah dapat mengurangi rasa lelah dan membuat pikiran jadi segar. Kafein jika dikonsumsi dalam jumlah tinggi cepat mempengaruhi sistem saraf pusat, sistem pernapasan, otot, pembuluh darah, jantung dan ginjal pada manusia dan hewan.
Baca lebih lanjut

38 Baca lebih lajut

NEMATODA PURU AKAR DAN JAMUR PARASITNYA PADA PERTANAMAN JAMBU BIJI DI LAMPUNG Root Knot Nematodes and Their Parasitic Fungi on Guava Plantation in Lampung

NEMATODA PURU AKAR DAN JAMUR PARASITNYA PADA PERTANAMAN JAMBU BIJI DI LAMPUNG Root Knot Nematodes and Their Parasitic Fungi on Guava Plantation in Lampung

Paecilomyces lilacinus (Thom.) Samson yaitu jamur parasit telur NPA telah banyak digunakan sebagai agensia pengendali NPA karena mudah diisolasi dan diperbanyak. Prabu et al. (2009) memproduksi jamur P. lilacinus menggunakan media Agar, Bran et al., (2009) memperbanyak melalui fermentasi bentuk padat, sedangkan Sundaraju dan Cannayane (2002) membiakkan P. lilacinus menggunakan media beras, bekatul dan pelepah pisang. Jamur P. lilacinus telah diformulasikan sebagi bionematisida dan dipasarkan dengan berbagai nama dagang, seperti Bio-Nematon berbentuk cair dan formulasi padat (T. Stanes & Comapny Limited, 2017). Produk bionematisida semacam ini mungkin kurang efektif di Indonesia karena bahan aktifnya jamur eksotik, oleh karena itu penggunaan jamur P. lilacinus lokal akan lebih efektif dan adaptif terhadap lingkungan.
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

Wuchereria bancrofti

Wuchereria bancrofti

Handout Materi Kuliah Wuchereria bancrofti Wuchereria bancrofti merupakan parasit yang tergolong dalam nematoda jaringan.[r]

1 Baca lebih lajut

Penyebaran dan Status Kerusakan oleh Nem

Penyebaran dan Status Kerusakan oleh Nem

Pisang kepok merupakan kultivar yang dominan dibudidayakan oleh petani di Kalimantan Timur, sedangkan kelompok pisang buah seperti kultivar raja, ambon, dan susu kurang berkembang karena selalu diserang oleh jamur Fusarium dan rumpun-rumpunnya jarang ada yang dapat bertahan lebih dari tiga tahun. Pusat-pusat budidaya tanaman pisang kepok di Kalimantan Timur dimulai pada daerah aliran sungai (DAS) yang relatif banyak ditemukan di daerah ini. Kemudian kegiatan budidaya tersebut berkembang pada daerah lahan kering, khususnya di daerah pemukiman transmigrasi.
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

Survei Nematoda Parasit Rumput Golf pad Green di Klub Golf Bogor Raya

Survei Nematoda Parasit Rumput Golf pad Green di Klub Golf Bogor Raya

Survei Nematoda pada Seluruh Green dengan Metode Acak Sistematis Nematoda parasit yang ditemukan pada sampel tanah secara acak sitematis antara lain: Criconemoides, Xiphinema, Helicotylenchus, dan Hoplolaimus (Tabel 1). Xiphinema merupakan NPT yang ditemukan hampir pada semua sampel akar di green (Tabel 2). Penyebaran dari satu green ke green yang lain diduga melalui pemakaian alat kultur teknis. Berdasarkan hasil wawancara alat kultur tersebut dipakai dari satu green ke green yang lain tanpa dicuci terlebih dahulu.

13 Baca lebih lajut

Effect of Application Fungicide as Corn Seed Treatmenton on Soil Nematodes and Arthropods Abundance

Effect of Application Fungicide as Corn Seed Treatmenton on Soil Nematodes and Arthropods Abundance

Dalam penelitian ini, pemberian fungisida sebagai perlakuan benih terutama yang berbahan aktif Metalaksil 30% dan Propiconazole 25% nyata menurunkan kelimpahan nematoda parasit tumbuhan (Tabel 1). Hasil penelitian ini tidak sejalan dengan hasil penelitian Dernoeden et al. (1990) yang menyatakan bahwa aplikasi fungisida Benomyl, Chlorothalonil, Iprodione, Thiram, dan Triadimefon pada daun rumput Kentucky Bluegrass dan Perennial Ryegrass tidak mempengaruhi kelimpahan nematoda parasit tumbuhan. Demikian juga laporan Pullen at al. (1990) yang menyebutkan bahwa aplikasi fungsisida pada tanaman persik (Prunus persica) tidak mempengaruhi populasi Criconemella cineplex yaitu nematoda yang menjadi hama utama pada tanaman tersebut. Pada penelitian ini, perlakuan fungisida terutama Metalaksis 25% dan Propiconazole 25% nyata menurunkan kelimpahan nematoda parasit tumbuhan (Tabel 1). Sementara itu, Faghihi et al. (2007) melaporkan hasil pengujian aplikasi fungisida terhadap nematoda kista pada tanaman kedelai di tingkat rumah kaca menunjukkan hasil bahwa fungsida Cleary 3336 F pada dosis 48 µg ai/µl nyata mempengaruhi perkembangan nematoda kista kedelai, tetapi fungisida Azoxystrobin, Cholorothalonil dan Metalaksil tidak mempengaruhi nematoda tersebut. Fungisida berbahan aktif Metalaksil sebagai perlakukan benih yang mempengaruhi nematoda parasit tumbuhan mungkin karena fungisida metalaksil bersifat sistemik sehingga berada dalam jaringan akar tanaman bibit jagung (Tapalov et al., 1999). Fungisida sistemik dapat meracuni dan mematikan nematoda parasit tumbuhan yang mengisap cairan sel jaringan akar tanaman menggunakan stiletnya.
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

DAMPAK APLIKASI FUNGSISIDA PERLAKUAN BENIH JANGUNG TERHADAP KELIMPAHAN NEMATODA DAN ARTROPODA TANAH IMPACT OF APPLICATION FUNGICIDE AS CORN SEED TREATMENT ON SOIL NEMATODES AND ARTHROPODS ABUNDANCE

DAMPAK APLIKASI FUNGSISIDA PERLAKUAN BENIH JANGUNG TERHADAP KELIMPAHAN NEMATODA DAN ARTROPODA TANAH IMPACT OF APPLICATION FUNGICIDE AS CORN SEED TREATMENT ON SOIL NEMATODES AND ARTHROPODS ABUNDANCE

Aplikasi fungisida sebagai perlakuan benih (seed treatment) banyak dilakukan petani jagung di Lampung untuk mengendalikan panyakit bulai. Perlakuan benih dengan fungisida diperkirakan berdampak samping terhadap aktivitas biota di dalam tanah. Namun, informasi mengenai hal ini belum banyak tersedia. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari pengaruh aplikasi fungisida sebagai perlakuan benih terhadap kelimpahan nematoda dan artropoda di dalam tanah. Percobaan pengujian fungisida sebagai perlakuan benih dengan dosis 5 g per 1 kg benih dilaksanakan dalam rumah plastik di Natar Lampung Selatan pada bulan Januari sampai Juni 2016. Satuan percobaan berupa empat tanaman jagung pada polibag 5 kg, disusun dalam rancangan acak kelompok dengan 4 kelompok sebagi ulangan. Fungisida yang diuji adalah fenimidon, metalaksil, propiconazole, dan dimetomorf berserta kontrol yaitu tanaman tanpa fungisida. Pengambilan sampel tanah terusik untuk pengamatan nematoda dan sampel tanah takterusik dengan ring-sampler untuk pengamatan artropoda, dilakukan ketika tanaman berumur 40 hari setelah tanam. Nematoda diekstraksi menggunakan metode penyaringan dan sentrifugasi dengan larutan gula, sedangkan artropoda diekstraksi dengan Berlese funnel extractor. Nematoda diidentifikasi dan dikelompokkan ke dalam kelompok makan, sedangkan artropoda dikelompokkan ke tingkat tokson ordo. Data kelimpahan nematoda dan artropoda dianalisis ragam dan pemisahan nilai tengah menggunakan uji BNT pada taraf nyata 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengaruh aplikasi fungisida sebagai perlakuan benih pada jagung terhadap nematoda dan artropoda tanah bervariasi. Aplikasi fungisida metalaksil dan propiconazole sebagai perlakuan benih menurunkan kelimpahan nematoda parasit tumbuhan, tetapi tidak terhadap nematoda hidup bebas. Fungsida uji lainnya tidak berpengaruh terhadap baik nematoda parasit tumbuhan maupun nematoda hidup bebas. Semua fungisida uji menurunkan kelimpahan Acarina, tetapi tidak terhadap kelimpahan Collembola dan artropoda lainnya. Berdasarkan hasil penelitian ini dapat dikatakan bahwa aplikasi fungisida sebagai perlakukan benih jagung tidak berdampak samping serius terhadap aktivitas biota di dalam tanah.
Baca lebih lanjut

11 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...