openness to experience

Top PDF openness to experience:

Hubungan antara dimensi extraversion dan openness to experience dalam kepribadian big five dengan kecenderungan remaja melakukan cyberbullying.

Hubungan antara dimensi extraversion dan openness to experience dalam kepribadian big five dengan kecenderungan remaja melakukan cyberbullying.

sistem psikofisik yang menentukan atau menciptakan pola perilaku, pikiran dan karakteristik seseorang. Menurut Costa & Mc Crae kepribadian digambarkan dalam lima dimensi. Lima dimensi tersebut sering disebut dengan kepribadian big five. Dimensi big five terdiri dari agreeableness, extraversion, neuroticism, openness to experience dan conscientiousness. Kelima dimensi tersebut digambarkan sebagai 1). Agreeableness menunjukkan pribadi yang berhati lembut dan pribadi yang berhati kejam. 2). Extraversion menunjukkan tingkat kesenangan menjalin relasi dan beraktivitas. 3). Neuroticism menunjukkan temperamental, pencemas, dan emosional namun jika pribadi memilliki skor neuroticism rendah maka cenderung tenang, lembut, dan tidak berperasaan. 4). Openness to experience menunjukkan pribadi yang lebih menyukai keragaman dengan pribadi yang memiliki kebutuhan besar akan kedekatan dan rasa nyaman dari hubungan yang sudah dikenal. 5). Conscientiousness berfokus pada pencapaian tujuan serta kemampuan mengendalikan dorongan dalam kehidupan sosial.
Baca lebih lanjut

110 Baca lebih lajut

HUBUNGAN OPENNESS TO EXPERIENCE DAN CONSCIENTIOUSNESS DENGAN KEMATANGAN KARIR SISWA BINTARA TNI-AD PUSDIK ARHANUD MALANG

HUBUNGAN OPENNESS TO EXPERIENCE DAN CONSCIENTIOUSNESS DENGAN KEMATANGAN KARIR SISWA BINTARA TNI-AD PUSDIK ARHANUD MALANG

Kepribadian merupakan salah satu dari sekian banyak faktor yang mempengaruhi kematangan karir. Conscientiousness dan Openness to experience merupakan dua dari lima dimensi dari kepribadian Big Five Personality yang digunakan oleh peneliti sebagai variabel terikat. Karena penelitian sebelumnya banyak yang menggunakan kedua dimensi tersebut sebagai variabel. Apabila Tentara Nasional Indonesia memiliki Openness to experience maka akan selalu proaktif dan mengapresiasi pengalamannya, dan hal tersebut membuat Tentara menjadi kreatif, penuh dengan keingintahuan yang tinggi terhadap pekerjaanya. Selanjutnya apabila Conscientiousness dimiliki oleh Tentara Nasional Indonesia maka hal yang terjadi adalah memiliki kepekaan yang tinggi, selalu tertarik dengan hal yang baru, pekerja keras, ambisius, tepat waktu dan tidak menyukai hal yang tidak rapi. Kedua dimensi dari kepribadian Big five personality tersebut akan berdampak pada kematangan karir, jadi jika seseorang memiliki openness to experience serta conscientiousness yang tinggi maka TNI-AD yang melaksanakan pendidikan di Pusdik Arhanud Malang akan selalu konsisten dengan karirnya sebagai tentara sampai akhir masa jabatannya.
Baca lebih lanjut

64 Baca lebih lajut

SIFAT KEPRIBADIAN SEBAGAI PEMODERASI HUBUNGAN STRES KERJA DAN PERILAKU DISFUNGSIONAL AUDIT

SIFAT KEPRIBADIAN SEBAGAI PEMODERASI HUBUNGAN STRES KERJA DAN PERILAKU DISFUNGSIONAL AUDIT

Penilaian atas sifat kepribadian sering digunakan sebagai prediktor kinerja dan perilaku seseorang. Sifat kepribadian meru- pakan fondasi dasar kepribadian individu yang melandasi pemikiran, perasaan, dan perilaku seseorang (Barrick dan Mount 2005). Konsep sifat kepribadian yang digunakan dalam penelitian ini adalah The Big Five Personality yang terbagi dalam lima dimensi yaitu openness to experience, conscientiousness, extraversion, agreeableness, dan neuroticism . Auditor yang memiliki sifat kepribadian openness to experience atau kepribadian “O” memiliki kreativitas yang tinggi, sifat ingin tahu, berwawasan luas, imajinatif, terbuka dengan berbagai cara-cara baru (Goldberg 1990). Kepribadian ini mampu mengatasi masalah dalam waktu singkat, informasi terbatas, dan ketidakpastian yang tinggi (Denissen dan Penke 2008). Meskipun demikian, Jaffar et al. (2011) menemukan bahwa kepribadian ini tidak berpengaruh pada kemampuan auditor dalam mendeteksi kecurangan, serta berpengaruh negatif pada kinerja (Kraus 2002). Berdasarkan studi literatur, peneliti menduga auditor dengan kepribadian “O” yang tinggi, ketika mengalami stres kerja akan memiliki kemungkinan yang rendah untuk melakukan perilaku disfungsional karena auditor memiliki inovasi, kecerdasan, teknik, atau strategi baru untuk menyelesaikan pekerjaan yang diberikan. Dengan demikian, hipotesis yang dirumuskan adalah:
Baca lebih lanjut

19 Baca lebih lajut

Institutional Repository | Satya Wacana Christian University: Analisis Tipe Kepribadian dan Preferensi Resiko Terhadap Kinerja Perusahaan

Institutional Repository | Satya Wacana Christian University: Analisis Tipe Kepribadian dan Preferensi Resiko Terhadap Kinerja Perusahaan

Investors have several consideration related to their investment decision. The purpose of this study was to determine the owner personality type of the big five personality types (neuroticsm, extraversion, openness to experience, agreeableness and conscientiousness ), Risk Preference, and it relationship to company (CV. Kompo Motor) performance. In this study , the data obtained using interview and questionnaire. The study is kind of descriptive qualitiative research. The sampel in this study is Owner of CV. Kompo Motor Purbingga (investor). Based on the analysis of data , it can be concluded that the investors has combination from two type of personality (extraversion and openess to the experience). Subject also has high risk preference which known from the coruage in making investment by opening branch in several part of Banyumas area and Wonosobo. Furthermore, based on type personality and risk preference of the owner and also some beneficial external factors (such as technology, market, and social situation), company performance increases significantly (in sales and ROI value enhancement).
Baca lebih lanjut

1 Baca lebih lajut

Workaholism and Its Correlates: A Study of Academicians

Workaholism and Its Correlates: A Study of Academicians

A B S T RA C T: This study examined the relationship of the personality factors (Openness, Conscientiousness, Extraversion, Agreeableness, and Neuroticism) with each of the three workaholism components i.e. working compulsively, working excessively and combined workaholics. As the study is of exploratory in nature, a sample of 145 academicians was drawn from the two universities of Jammu region (India), namely, Shri Mata Vaishno Devi University, Katra (India) and the University of Jammu, Jammu (India). The internal consistencies of each dimension of Dutch Work Addiction Scale (DUWAS) ranged from 0.883 to 0.837 and Cronbach’s α reliability coefficient value of scale- measuring Extraversion, Agreeableness, Conscientiousness, Neuroticism and Openness to experience- ranged from 0.75 to 0.83, which is within the specified limit. Three dependent variables, namely, combined workaholics, working compulsively workaholics and working excessively workaholics were regressed with age, monthly salary, family type, family size, marital status; whereas extraversion, agreeableness, conscientiousness, neuroticism, and openness to experience vary individually. The study has identified neuroticism and conscientiousness as the significant personality traits causing the negative impact on all the three dimensions of workaholics. Whereas, salary is negatively correlated and has a significant impact on the two dimensions of workaholism, namely, combined workaholics and working compulsively workaholics. However, the designation is significant variable and is positively affecting the working compulsively workaholics.
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

Kecemasan dalam Menghadapi Assessment Centre di Kalangan Pekerja Telekomunikasi | Zulkarnain | Jurnal Psikologi 9914 18209 1 SM

Kecemasan dalam Menghadapi Assessment Centre di Kalangan Pekerja Telekomunikasi | Zulkarnain | Jurnal Psikologi 9914 18209 1 SM

Hasil studi menunjukkan bahwa big five personality dan dukungan organisasi berkaitan dengan kecemasan karyawan dalam menghadapi assessment centre. Hal ini sesuai dengan penelitian yang dilaku- kan oleh Muris, Roelofs, Rassin, Franken, dan Mayer (2005) yang menunjukkan terdapat dua trait kepribadian yang berhubungan secara positif signifikan dengan kecemasan menghadapi assessment centre yaitu trait neuroticism dan conscien- tiousness. Sedangkan dua trait kepribadian big five yaitu trait extraversion, dan openness to experience berhubungan negatif secara signifikan dengan kecemasan menghadapi assessment centre. Adapun, secara bersama- sama, dukungan organisasi juga berhu- bungan negatif dengan kecemasan meng- hadapi assessment centre. Hasil penelitian ini didukung oleh penelitian yang dilaku- kan oleh Shore dan Tetrick (1991) yang mana karyawan memiliki kepercayaan secara umum kepada organisasi bahwa mereka akan terus didukung oleh organi- sasinya dan harapan bahwa kebutuhannya dapat dipenuhi oleh organisasi. Karyawan memiliki kepercayaan terhadap organisasi tempat kerjanya bahwa organisasi memi- liki kesediaan membantu permasalahan yang dihadapi termasuk ketika merasakan kecemasan menghadapi assessment centre. Dukungan organisasi yang dirasakan karyawan akan mendorong respons positif karyawan, karena mampu memberdaya- kan secara psikologis yaitu keyakinan dan kepercayaan diri sehingga karyawan dapat mengerjakan tugas-tugasnya de- ngan baik (Ali, Rehman, Ul Haq, Ghafoor, & Azeem, 2010). Selanjutnya akan dibahas mengenai peran masing-masing variabel terhadap variabel dependen.
Baca lebih lanjut

19 Baca lebih lajut

Hubungan Big Five Personality dan Dukungan Sosial Suami dengan Body Image pada Perempuan dalam Periode Postpartum - Ubaya Repository

Hubungan Big Five Personality dan Dukungan Sosial Suami dengan Body Image pada Perempuan dalam Periode Postpartum - Ubaya Repository

Hasil uji analisis regresi berganda menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara openness to experience, conscientiousness, extraversion, agreeablenes, neuroticism dan dukungan sosial suami dengan body image pada perempuan dalam periode postpartum (R = 0,765, p= 0,000). Pada penelitian ini dukungan sosial suami merupakan prediktor bagi body image pada perempuan dalam periode postpartum (R 2 =0,503, p=0,000), namun big five personality ditemukan tidak menjadi prediktor bagi body image dalam penelitian ini. Hasil uji korelasi parsial menunjukkan dimensi big five personality yaitu conscientiousness memiliki hubungan negatif dengan body image (r parsial= -0,278, p=0,040) dan
Baca lebih lanjut

1 Baca lebih lajut

BAB II LANDASAN TEORI DAN PENGEMBANGAN HIPOTESIS - SIFAT KEPRIBADIAN DAN TIME PRESSURE SEBAGAI PEMODERASI HUBUNGAN STRES KERJA DAN PERILAKU DISFUNGSIONAL AUDIT (Studi Kasus Pada KAP Di Yogyakarta) - UMBY repository

BAB II LANDASAN TEORI DAN PENGEMBANGAN HIPOTESIS - SIFAT KEPRIBADIAN DAN TIME PRESSURE SEBAGAI PEMODERASI HUBUNGAN STRES KERJA DAN PERILAKU DISFUNGSIONAL AUDIT (Studi Kasus Pada KAP Di Yogyakarta) - UMBY repository

the big five personality dan locus of control. Sebagai responden dalam penelitian ini adalah auditor yang bekerja pada Kantor Akuntan Publik (KAP) di Bali. Teknik analisis yang digunakan untuk menguji tujuh hipotesis yang dirumuskan adalah moderated regressions analysis. Hasil pengujian menunjukan bahwa stress kerja berpengaruh positif pada perilaku disfungsional audit. Selain itu, hanya sifat kepribadian openness to experience serta locus of control internal dan eksternal yang berpengaruh pada hubungan stress kerja dan perilaku disfungsional audit, namun sifat kepribadian lainnya seperti conscientientiousnes, extraversion, agreeableness, dan neuroticism tidak berpengaruh pada hubungan stress kerja dan perilaku disfungsional. Hal ini mengindikasikan bahwa kepribadian auditor penting untuk mengurangi kemungkinan terjadinya perilaku disfungsional audit.
Baca lebih lanjut

24 Baca lebih lajut

Hubungan antara Big Five Peronality dan Gratitude dengan Psychological Well Being Karyawan PT. X Bali - Ubaya Repository

Hubungan antara Big Five Peronality dan Gratitude dengan Psychological Well Being Karyawan PT. X Bali - Ubaya Repository

Variables that have correlation when associated with psychological well- being is openness to experience, conscientiousness, neuroticism, and gratitude. Correlation value of gratitude (0222 , p = 0048), openness to experience (0243 , p = 0.043), neuroticism (-0286 , p = 0.045), and conscience (0406 , p = 0.000). Further research can be suggested involving local cultural factors influence against the big five personality and gratitude so it can be measured psychological well-being with attention to cultural context .
Baca lebih lanjut

2 Baca lebih lajut

Institutional Repository | Satya Wacana Christian University: Pengaruh Tipe Kepribadaian dan Risk Tolerance sebagai Variabel Intervening terhadap Orientasi Investasi

Institutional Repository | Satya Wacana Christian University: Pengaruh Tipe Kepribadaian dan Risk Tolerance sebagai Variabel Intervening terhadap Orientasi Investasi

Investors have several consideration related to their investment decision. The purpose of this study was to determine the effect of the big five personality types (neuroticsm, extraversion, openness to experience, agreeableness and conscientiousness ) on investments and to determine the orientation of risk tolerance as an intervening variable effect on the personality type of investment orientation. In this study , the data obtained using a questionnaire . The sampling method used in this study was a non -probability sampling with snowball sampling technique . The sample used in this study were all investors in Salatiga Danareksa , PT Trimegah Asset Management and as many as 76 individual investors . Based on the analysis of data , it can be concluded that the investors with the type of personality and agreeableness neuroticsm choose the orientation of short-term investments, risk tolerance has an influence on the short -term orientation, risk tolerance as an intervening variable only amplify the effect of agreeableness on personality types of short-term investment orientation .
Baca lebih lanjut

16 Baca lebih lajut

24277 ID pengaruh kepribadian self efficacy dan locus of control terhadap persepsi kinerj

24277 ID pengaruh kepribadian self efficacy dan locus of control terhadap persepsi kinerj

Uji validitas dilakukan untuk menguji kesesuaian instrumen penelitian (item pertanyaan atau pernyataan) dengan konstruk yang akan diukur (Sekaran, 2003). Berdasarkan hasil statistik, ada tiga item yang tidak berkorelasi signifikan dengan skor rata-rata variabelnya yaitu item ketujuh dari variabel openness to experience, serta item ketiga dan kesepuluh dari variabel locus of control. Ketiga item ini dinyatakan tidak valid untuk mengukur kedua variabel tersebut. Ketiga item ini tidak akan digunakan untuk langkah analisa data selanjutnya. Jadi, secara keseluruhan, jumlah item yang dinyatakan valid adalah sebagai berikut: sembilan item untuk openness to experience, sembilan item untuk conscientiousness, delapan item untuk extrovertion, sembilan item untuk agreeableness, delapan item untuk neuroticism, empat item
Baca lebih lanjut

18 Baca lebih lajut

ICE BREAKING REFLEKTIF DAN

ICE BREAKING REFLEKTIF DAN

You will experience a painful sharpening from time to time, by going through various problems, but you'll need it to become a stronger person.. You will experience a painful..[r]

14 Baca lebih lajut

 this  file 669 2720 1 PB

this file 669 2720 1 PB

Smilansky (2009:1) menyatakan bahwa “People talk about experiences every day because life is ultimately an amalgamation of daily experiences. Experiences are real. They are true life” . Konsumen berpendapat bahwa hidup itu adalah gabungan dari pengalaman, sehingga setiap kegiatan yang dilakukan oleh konsumen termasuk mengkonsumsi produk atau jasa merupakan pengalaman, apabila pengalaman tersebut mengesankan maka konsumen tidak segan untuk mengkonsumsi barang atau jasa tersebut untuk kesekian kalinya.Vézina, (1999) dalam Caru dan Cova (2002) menyatakan bahwa “ Experience as a central element of the life of today’s consumer, a consumer who is looking for sense: “for the post - modern consumer, consumption is not a mere act of devouring, destroying, or using things. It is also not the end of the (central) economic cycle, but an act of production of experiences and selves or selfimages”. Pengalaman merupakan elemen utama dari kehidupan konsumen, bagi konsumen post modern mengkonsumsi tidak hanya melahap atau menggunakan produk atau jasa, melainkan perlu adanya pengalaman yang berkesan dalam mengkonsumsi.Customer experience atau pengalaman pelanggan merupakan kebutuhan penting yang perlu diberikan oleh perusahaan.Meyer dan Schwager (2007) meny atakan bahwa “ The secret to a good experience isn’t the multiplicity of features on offer ”. Konsumen akan mendapatkan pengalaman yang baik apabila tidak hanya mendapatkan fitur yang banyak dari sebuah produk atau jasa.
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

Analisa Pengaruh Experiential Marketing Terhadap Minat Beli Ulang Konsumen Cafe Buntos 99 Sidoarjo | Hendarsono | Jurnal Strategi Pemasaran 524 935 1 SM

Analisa Pengaruh Experiential Marketing Terhadap Minat Beli Ulang Konsumen Cafe Buntos 99 Sidoarjo | Hendarsono | Jurnal Strategi Pemasaran 524 935 1 SM

Feel experience adalah strategi dan implementasi untuk memberikan pengaruh merek kepada konsumen melalui komunikasi (iklan), produk (kemasan dan isinya), identitas produk (co-branding), lingkungan, website, pemahaman yang jelas mengenai cara penciptaan perasaan melalui pengalaman konsumsi yang dapat menggerakkan imajinasi konsumen yang diharapkan konsumen dapat membuat keputusan untuk membeli. Feel experience timbul sebagai hasil kontak dan interaksi yang berkembang sepanjang waktu, di mana dapat dilakukan melalui perasaan dan emosi yang ditimbulkan. Selain itu juga dapat ditampilkan melalui ide dan kesenangan serta reputasi akan pelayanan konsumen.
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

Georges Bataille and the Fate of the Sac

Georges Bataille and the Fate of the Sac

Bataille’s visit to Quarr Abbey in 1920 actually occurred as a stop on a research trip to London. While there, Bataille chanced to meet the famous French philosopher, Henri Bergson. In preparation for the meeting, he quickly read Bergson’s shortest book, Le Rire (Laughter), only to find the book, and shortly thereafter the man, disappointing. Whereas Bergson accounted for the phenomenon of laughter as a kind of comforting comedy, Bataille’s own experience of laughter demonstrated a sweeping and convulsive liberation. Though Bataille was in fundamental and violent disagreement with Bergson’s position, the book made manifest the possibility of taking things like laughter seriously, indeed of utmost seriousness.
Baca lebih lanjut

15 Baca lebih lajut

Motivasi 17 the pencil parable

Motivasi 17 the pencil parable

You will experience a painful sharpening from time to time, by going through various problems, but you'll need it to become a stronger person.. You will experience a painful..[r]

14 Baca lebih lajut

Lecture 4 and 5

Lecture 4 and 5

– Disadvantages: • Lack of transparency and openness • Sometimes tolerant of poor performance • May be unresponsive to global change • Practice of Governance: France – Shareholding[r]

6 Baca lebih lajut

 Artikel dan Makalah Pendidikan | tentang PENDIDIKAN | n 3 the pencil parable

Artikel dan Makalah Pendidikan | tentang PENDIDIKAN | n 3 the pencil parable

You will experience a painful sharpening from time to time, by going through various problems, but you'll need it to become a stronger person.. You will experience a painful..[r]

14 Baca lebih lajut

Garuda Indonesia Airlines: Providing Emotional Experience to Retain Customer Loyalty

Garuda Indonesia Airlines: Providing Emotional Experience to Retain Customer Loyalty

Customers will feel satisfied when the product or service they buy can fulfil their needs and wants. So customer satisfaction is very crucial in facing a competitive business nowadays since they tend to purchase more products or services in the future. Studies show that the more positive and stronger feelings the customers get from the brand, the more products or services the customers will purchase. Thus, it strengthens customers’ repurchase behavior (Kotler and Keller, 2011). Customers who are emotially attached to the company wouldn’t mind to sacrifice their money and time to consume and repurchase the products or services consistently from the offered brand (Grisaffe and Nguyen,2011). It is also known as customers’ emotional attachment to the brand (Thomson et. al., 2005) or emotional branding (O’Shaughnessy, 2003).
Baca lebih lanjut

16 Baca lebih lajut

Materi tentang AHP Analytic Hierarchy Process

Materi tentang AHP Analytic Hierarchy Process

Contractor A Contractor B Contractor C Contractor D Contractor E Experience 5 years experience 7 years experience 8 years experience 10 years experience 15 years experience Two simila[r]

38 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...