Peningkatan motivasi belajar

Top PDF Peningkatan motivasi belajar:

PENINGKATAN MOTIVASI BELAJAR PENDIDIKAN. docx

PENINGKATAN MOTIVASI BELAJAR PENDIDIKAN. docx

Cooperative Learning adalah suatu strategi belajar mengajar yang menekankan pada sikap atau perilaku bersama dalam bekerja atau membantu di antara sesama dalam struktur kerjasama yang teratur dalam kelompok, yang terdiri dari dua orang atau lebih. Dimana pada tiap kelompok tersebut terdiri dari siswa- siswa berbagai tingkat kemampuan, melakukan berbagai kegiatan belajar untuk meningkatkan pemahaman mereka tentang materi pelajaran yang sedang dipelajari. Setiap anggota kelompok bertanggung jawab untuk tidak hanya belajar apa yang diajarkan tetapi juga untuk membantu rekan belajar, sehingga bersama- sama mencapai keberhasilan. Semua Siswa berusaha sampai semua anggota kelompok berhasil memahami dan melengkapinya. Model pembelajaran kooperatif dikembangkan untuk mencapai setidak-tidaknya tiga tujuan pembelajaran yaitu hasil belajar akademik, penerimaan terhadap perbedaan individu, dan pengembangan keterampilan sosial. Prinsip model pembelajaran kooperatif yaitu 1) saling ketergantungan positif; 2) tanggung jawab perseorangan; 3) tatap muka; 4) komunikasi antar anggota; dan 5) evaluasi proses kelompok (Lie, 2000).
Baca lebih lanjut

80 Baca lebih lajut

PENINGKATAN MOTIVASI BELAJAR DENGAN PENGGUNAAN MEDIA PEMBELAJARAN AUDIO VISUAL PADA MATA PELAJARAN  Peningkatan Motivasi Belajar Dengan Penggunaan Media Pembelajaran Audio Visual Pada Mata Pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial Terpadu Kelas VIIE Di Sekolah Me

PENINGKATAN MOTIVASI BELAJAR DENGAN PENGGUNAAN MEDIA PEMBELAJARAN AUDIO VISUAL PADA MATA PELAJARAN Peningkatan Motivasi Belajar Dengan Penggunaan Media Pembelajaran Audio Visual Pada Mata Pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial Terpadu Kelas VIIE Di Sekolah Me

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peningkatan motivasi belajar siswa pada mata pelajaran IPS Terpadu dengan media belajar audio visual pada siswa kelas VIIE SMP N 1 Boyolali Tahun Ajaran 2013/2014. Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas. Subyek penerima tindakan dalam penilitian ini adalah siswa kelas VIIE SMP N 1 Boyolali tahun ajaran 2013/2014 sebanyak 24 siswa terdiri dari 11 siswa laki-laki dan 13 siswa perempuan.Data dikumpulkan melalui metode observasi, tes, dan dokumentasi. Hasil penelitian ini menunjukan adanya peningkatan motivasi belajar siswa. Hal ini dilihat dalam hasil belajar siswa, sebelum pelaksanaan tindakan yang memenuhi KKM ≥ 75 terdapat 3 siswa (12,5%), kemudian dilakukan tindakan pada putaran I menurun menjadi 2 siswa (8,33%) selanjutnya pada tindakan putaran II meningkat menjadi 10 siswa (41,66%) dan terakhir pada tindakan putaran III yang memenuhi KKM 22 siswa (91,66 %). Serta dapat dilihat adanya peningkatan nilai rata-rata kelas sebesar 27,48 %, sebelum tindakan rata-rata kelas 62,91 menjadi 80,20 pada putaran terakhir. Pada lembar observasi motivasi juga menunjukan peningkatan. Sebelum tindakan memperoleh nilai 24, putaran I 36, putaran II 44 dan meningkat menjadi 49 pada putaran III. Kesimpulan penelitian ini adalah penggunan media pembelajaran audio visual dalam mata pelajaran IPS Terpadu dapat meningkatkan motivasi belajar siswa kelas VIIE SMP N 1 Boyolali Tahun Ajaran 2013/2014.
Baca lebih lanjut

13 Baca lebih lajut

PENINGKATAN MOTIVASI BELAJAR MELALUI PEM

PENINGKATAN MOTIVASI BELAJAR MELALUI PEM

Pada pertemuan berikutnya, dilaksanakan kegiatan pembelajaran secara kelompok, masing-masing kelompok bertugas menyelesaikan masalah rata-rata dan modus jenis sepeda motor yang lewat didepan sekolah. Data kendaraan telah disiapkan pada lembar kerja. Siswa diminta mendiskusikan kendaraan jenis apa yang paling sering lewat di depan sekolah. Pada kegiatan ini tampak sebagian besar siswa bersemangat mengerjakan tugas-tugas, senang mengikuti diskusi dengan mengemukakan ide-ide, dan siswa berusaha mengerjakan tugas dengan berbagai cara. Lembar keja yang diberikan adalah lembar kerja yang dikejakan secara berkelompok, pada proses kali ini semua dapat diisi siswa. Hal ini berbeda dengan pengisian pada LKS sebelumnya yang merupakan LKS individu sehingga masih banyak siswa terutama siswa laki-laki yang malas mengisi, dari pengamatan ada peningkatan respons siswa laki-laki hampir 70% senang mengikuti kegiatan.
Baca lebih lanjut

11 Baca lebih lajut

PENINGKATAN MOTIVASI BELAJAR DENGAN MENE

PENINGKATAN MOTIVASI BELAJAR DENGAN MENE

Sejalan dengan fakta atau kenyataan diatas diketahui bahwa hal-hal yang menjadi penyebab rendahnya aktivitas belajar siswa antara lain model pembelajaran tidak efektif, guru terlalu mendominasi kelas sehingga kurang memberi kesempatan pada siswa untuk bertanya dan berpendapat, siswa merasa malu dan takut jika pendapatnya salah, guru sering memberikan pelajaran dalam bentuk ceramah dan tanya jawab sehingga siswa tidak terangsang untuk mengembangkan kemampuan berfikir kreaktif. Maka diperlukan suatu upaya pengembangan pembelajaran yang dapat membangkitkan motivasi siswa dalam belajar dan memahami materi pelajaran yaitu dengan menerapkan model pembelajaran Kooperatif Tipe Teams Games Tournament ( TGT ). Pembelajaran koperatif telah menjadi salah satu pembaharuan dalam pergerakan reformasi pendidikan. Pembelajaran kooperatif sebenarnya merangkumi banyak jenis bentuk pengajaran pembelajaran. Pembelajaran kooperatif dilaksanakan secara kumpulan kecil supaya peserta didik dapat bekerjasama dalam kumpulan untuk mempelajari isi kandungan pelajaran dengan pelbagai kemahiran sosial. Pada dasarnya, pembelajaran kooperatif melibatkan pelajar bekerjasama dalam mencapai satu- satu objektif pembelajaran
Baca lebih lanjut

6 Baca lebih lajut

NASKAH PUBLIKASI PENINGKATAN MOTIVASI BELAJAR MATEMATIKA DENGAN  Peningkatan Motivasi Belajar Matematika Dengan Memberikan Umpan Balik Kuis Melalui Pembelajaran Contextual Teaching And Learning (Ctl) (Ptk Pada Peserta Didik Kelas Viii H Semester Genap Smp

NASKAH PUBLIKASI PENINGKATAN MOTIVASI BELAJAR MATEMATIKA DENGAN Peningkatan Motivasi Belajar Matematika Dengan Memberikan Umpan Balik Kuis Melalui Pembelajaran Contextual Teaching And Learning (Ctl) (Ptk Pada Peserta Didik Kelas Viii H Semester Genap Smp

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan peningkatan motivasi belajar matematika dengan memberikan umpan balik kuis melalui pembelajaran Contextual Teaching and Learning (CTL).Penelitian ini termasuk jenis penelitian PTK. Subyek penerima tindakan dalam penelitian ini adalah peserta didik kelas VIII H SMP Negeri 2 Banyudono dengan jumlah murid 30 peserta didik dan subjek pelaksana tindakan adalah peneliti dan pendidik matematika kelas VIII H. Metode pengumpulan data melalui metode observasi, catatan lapangan, dokumentasi, dan metode tes.Teknik analisis data dilakukan secara deskriptif kualitatif dengan metode alur yang terdiri dari proses analisis data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian ini menunjukkan adanya peningkatan motivasi belajar matematika dapat dilihat dari meningkatnya beberapa indikator motivasi belajar matematika peserta didik dalam hal: a) memperhatikan penjelasan pendidik saat proses pembelajaran berlangsung sebelum tindakan 33,33% dan setelah tindakan 83,33%, b) antusias peserta didik dalam kerja kelompok sebelum tindakan 30% dan setelah tindakan 63,33%, c) antusias peserta didik dalam menjawab kuis yang diberikan pendidik sebelum tindakan 16,67% dan setelah tindakan 66,67%. Kesimpulan penelitian ini adalah strategi pembelajaran Contextual Teaching and Learning (CTL) dengan memberikan umpan balik kuis dapat meningkatkan motivasi belajar matematika peserta didik.
Baca lebih lanjut

12 Baca lebih lajut

UPAYA PENINGKATAN MOTIVASI BELAJAR SISWA

UPAYA PENINGKATAN MOTIVASI BELAJAR SISWA

“a)Kebutuhan yang bersifat fisiologis (lahiriyah). Manifestasi kebutuhan ini terlihat dalam tiga hal pokok, sandang, pangan dan papan. Bagi karyawan, kebutuhan akan gaji, uang lembur, perangsang, hadiah-hadiah dan fasilitas lainnya seperti rumah, kendaraan dll. Menjadi motif dasar dari seseorang mau bekerja, menjadi efektif dan dapat memberikan produktivitas yang tinggi bagi organisasi. b) Kebutuhan keamanan dan ke-selamatan kerja (Safety Needs) Kebutuhan ini mengarah kepada rasa keamanan, ketentraman dan jaminan seseorang dalam kedudukannya, jabatan-nya, wewenangnya dan tanggung jawabnya sebagai karyawan. Dia dapat bekerja dengan antusias dan penuh produktivitas bila dirasakan adanya jaminan formal atas kedudukan dan wewenangnya. c) Kebutuhan sosial (Social Needs). Kebutuhan akan kasih sayang dan bersahabat (kerjasama) dalam kelompok kerja atau antar kelompok. Kebutuhan akan diikutsertakan, mening-katkan relasi dengan pihak-pihak yang diperlukan dan tumbuhnya rasa kebersamaan termasuk adanya sense of belonging dalam organisasi. d) Kebutuhan akan prestasi (Esteem Needs). Kebutuhan akan kedudukan dan promosi dibidang kepegawaian. Kebutuhan akan simbul-simbul dalam statusnya se¬seorang serta prestise yang ditampilkannya. e) Kebutuhan mempertinggi kapisitas kerja (Self actualization). Setiap orang ingin mengembangkan kapasitas kerjanya dengan baik. Hal ini merupakan kebutuhan untuk mewujudkan segala kemampuan (kebolehannya) dan seringkali nampak pada hal-hal yang sesuai untuk mencapai citra dan cita diri seseorang. Dalam motivasi kerja pada tingkat ini diperlukan kemampuan manajemen untuk dapat mensinkronisasikan antara cita diri dan cita organisasi untuk dapat melahirkan hasil produktivitas organisasi yang lebih tinggi.”
Baca lebih lanjut

9 Baca lebih lajut

PENDAHULUAN Peningkatan Motivasi Belajar IPS Melalui Metode Tutor Sebaya Pada Siswa Kelas II SD Negeri 01 Mojogedang Kecamatan Mojogedang Kabupaten Karanganyar Tahun Pelajaran 2012/2013.

PENDAHULUAN Peningkatan Motivasi Belajar IPS Melalui Metode Tutor Sebaya Pada Siswa Kelas II SD Negeri 01 Mojogedang Kecamatan Mojogedang Kabupaten Karanganyar Tahun Pelajaran 2012/2013.

anak dapat lebih aktif dalam berkomunikasi, sehingga dapat mempermudah mereka dalam memahami konsep / materi yang sedang diajarkan oleh guru. Dengan demikian penggunaan metode pembelajaran tutor sebaya ini selain dapat meningkatkan kecakapan siswa dalam berkomunikasi juga dapat memberi solusi kepada siswa dalam memahami suatu konsep mata pelajaran sehingga dapat meningkatkan hasil belajar mereka.

4 Baca lebih lajut

PENINGKATAN MOTIVASI BELAJAR MATEMATIKA MELALUI PENDEKATAN KONTEKSTUAL PADA SISWA KELAS IV  Peningkatan Motivasi Belajar Matematika Melalui Pendekatan Kontekstual Pada Siswa Kelas IV SD Negeri 04 Plumbon Tawangmangu Kabupaten Karanganyar Tahun Pelajaran 2

PENINGKATAN MOTIVASI BELAJAR MATEMATIKA MELALUI PENDEKATAN KONTEKSTUAL PADA SISWA KELAS IV Peningkatan Motivasi Belajar Matematika Melalui Pendekatan Kontekstual Pada Siswa Kelas IV SD Negeri 04 Plumbon Tawangmangu Kabupaten Karanganyar Tahun Pelajaran 2

Halaman Gambar 1. Kerangka Pemikiran ………………………………….. 28 Gambar 2. Spiral Penelitian ………………………………………. 32 Gambar 3. Siklus Analisis ………………………………………… 40 Gambar 4. Grafik Hasil observasi Motivasi Belajar Pra Siklus . .. . 43 Gambar 5. Grafik Nilai KetuntasanHasil Belajar Matematika

15 Baca lebih lajut

PENINGKATAN MOTIVASI BELAJAR MATEMATIKA MELALUI STRATEGI PROBLEM BASE INSTRUCTION  Peningkatan Motivasi Belajar Matematika Melalui Strategi Problem Base Instruction (Ptk Pembelajaran Matematika Kelas Vii Smp N 1 Jatisrono).

PENINGKATAN MOTIVASI BELAJAR MATEMATIKA MELALUI STRATEGI PROBLEM BASE INSTRUCTION Peningkatan Motivasi Belajar Matematika Melalui Strategi Problem Base Instruction (Ptk Pembelajaran Matematika Kelas Vii Smp N 1 Jatisrono).

Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkatkan motivasi belajar matematika melalui strategi problem base instruction. Penelitian ini merupakan jenis penelitian tindakan kelas bersifat kolaboratif. Subyek penelitian ini adalah siswa SMP N 1 Jatisrono pada kelas VII G yang berjumlahkan 30 siswa. Data dikumpulkan melalui metode observasi, tes, catatan lapangan dan dokumentasi. Berdasarkan hasil penelitian ada peningkatan pada setiap siklusnya. Hasil penelitian ini menunjukkan adanya peningkatan motivasi belajar siswa yang dapat dilihat dari meningkatnya indikator motivasi belajar : 1) antusias dalam belajar sebelum dilakukan tindakan sebesar 36,67 % dan sesudah dilakukan tindakan sebesar 93,33%, 2) memberi tanggapan dari guru atau siswa lain sebelum dilakukan tindakan sebesar 16,67 % dan sesudah dilakukan tindakan sebesar 76,67%, 3) menjawab pertanyaan dari guru atau siswa lain sebelum dilakukan tindakan sebesar 23,33 % dan sesudah dilakukan tindakan sebesar 83,33%, 4) menanyakan yang belum jelas sebelum dilakukan tindakan sebesar 10 % dan sesudah dilakukan tindakan sebesar 63,33%. Penelitian menyimpulkan bahwa penggunaan strategi problem base instruction dapat meningkatkan motivasi belajar siswa pada pembelajaran matematika.
Baca lebih lanjut

16 Baca lebih lajut

PENINGKATAN MOTIVASI BELAJAR MATEMATIKA

PENINGKATAN MOTIVASI BELAJAR MATEMATIKA

Formasi auditorium atau aula merupakan tawaran alternatif dalam menyusun ruangan kelas. Meskipun bentuk auditorium menyediakan lingkungan yang sangat terbatas untuk belajar aktif, namun hal ini dapat dicoba untuk dilakukan pendidik guna mengurangi kebosanan peserta didik yang terbiasa dalam penataan ruang secara konvensional atau tradisional. Selain penataan atau pengaturan tempat duduk, sebenarnya masih banyak lagi pembahasan mengenai pengelolaan kelas. Pengelolaan kelas terkait dengan banyak aspek, setidaknya menurut Reid (2009,54-58) ada 20 (duapuluh) faktor kunci mengelola kelas sebagai lingkungan pembelajaran, seperti pengaturan alat-alat pengajaran,penataan keindahan dan kebersihan kelas, ventilasi dan tata cahaya, warna dan perancangan ruang, prediktabilitas dan rutinitas, memberi siswa rasa kepemilikan dan tanggung jawab, pengaturan siswa, dan sebagainya. Sedangkan Mulyadi (2009) mengungkapkan bahwa pengorganisasian kelas meliputi banyak aspek, seperti pengorganisasian kegiatan pelajaran, siswa, sarana-sarana pelajaran, serta pencatatan dan pelaporan kelas. Semua aspek tersebut hendaknya diperhatikan guru agar proses pembelajaran dapat aktif, efektif dan menyenangkan.
Baca lebih lanjut

25 Baca lebih lajut

PENINGKATAN MOTIVASI DAN PRESTASI BELAJAR AKUNTANSI PERUSAHAAN JASA MELALUI MODEL  Peningkatan Motivasi Dan Prestasi Belajar Akuntansi Perusahaan Jasa Melalui Model Pembelajaran Kontekstual (CTL) DI MA Negeri 1 Sragen.

PENINGKATAN MOTIVASI DAN PRESTASI BELAJAR AKUNTANSI PERUSAHAAN JASA MELALUI MODEL Peningkatan Motivasi Dan Prestasi Belajar Akuntansi Perusahaan Jasa Melalui Model Pembelajaran Kontekstual (CTL) DI MA Negeri 1 Sragen.

Peningkatan motivasi belajar siswa yang menerapkan indikator delapan elemen pembelajaran kooperatif, diketahui terjadi peningkatan motivasi belajar siswa, karena siswa dalam pembelajaran ini langsung dihadapkan pada keadaan nyata, praktik nyata di lapangan atau dunia usaha, yang berarti siswa menggunakan masyarakat dan lingkungan sekitar, yaitu dunia usaha sebagai sumber belajar. Hal ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Berns and Erickson (2006), menjelaskan bahwa “Contextual teaching and learning as an innovative instructional process that helps students connect the content they are learning to the life contexts in which that content could be used. Problem-solving, self-regulated learning, teaching anchored in student’ diverse life-contexts, learning from each other and together, authentic assessment, and the use of a variety of context such as home, community, and work sites, have been identified as practices of contextual teaching and learning”.
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Student Teams Achievement Division Terhadap Motivasi Belajar Peserta Didik Di SMAN 8 Banda Aceh

Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Student Teams Achievement Division Terhadap Motivasi Belajar Peserta Didik Di SMAN 8 Banda Aceh

Abstrak. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan motivasi belajar peserta didik. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan rancangan eksperimen dengan desain penelitian Pre-test Post-tes, Nonequivalent Control Grop Desaign. Populasi dalam penelitian ini seluruh peserta didik SMAN 8 Banda Aceh kelas X dengan jumlah 215 orang dalam 7 kelas. Sampel penelitian ditentukan dengan teknik random sampling, dengan jumlah sampel masing-masing kelas 30 peserta didik. Pengolahan data dari angket motivasi belajar peserta didik dilakukan secara kualitatif, yaitu melalui perhitungan skor angket yang diberikan. Data diperoleh dari hasil isian angket yang lakukan oleh peserta didik dengan penskoran menggunakan skala Likert. Hasil penelitian menunjukkan motivasi belajar peserta didik pada kriteria sangat setuju sebelum pembelajaran (3,33%) meningkat mencapai (96,7%), berdasarkan n-gain pada kategori tinggi sebelum pembelajaran terlihat (18,75%) meningkat mencapai (50%), berdasarkan indikatorattention (85,13%), relevance (82,78%), convidence (80,09%) danstatisfaction (62,83%). Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa terdapat peningkatan motivasi belajar peserta didik melalui penerapanmodel pembelajaran kooperatif STAD, hal ini menunjukkan bahwa STAD dapat mempengaruhi peserta didik untuk belajar
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

MODEL PEMBELAJARAN SAVI BERBANTU MACROMEDIA FLASH BERBASIS LESSON STUDY TERHADAP MOTIVASI BELAJAR SISWA KELAS VIII SMP NEGERI 7 SUNGAI RAYA Rimalastari 1) , Arif Didik Kurniawan 1) , Adi Pasah Kahar 1) Program Studi Pendidikan Biologi, FKIP, Universitas M

MODEL PEMBELAJARAN SAVI BERBANTU MACROMEDIA FLASH BERBASIS LESSON STUDY TERHADAP MOTIVASI BELAJAR SISWA KELAS VIII SMP NEGERI 7 SUNGAI RAYA Rimalastari 1) , Arif Didik Kurniawan 1) , Adi Pasah Kahar 1) Program Studi Pendidikan Biologi, FKIP, Universitas M

Model pembelajaran yang digunakan guru biologi selama ini adalah model konvensional dengan metode ceramah. Penelitian ini bertujuan mengetahui perbedaan dan pengaruh model pembelajaran SAVI berbantu macromedia flash berbasis lesson study terhadap motivasi belajar siswa kelas VIII SMP Negeri 7 Sungai Raya. Bentuk penelitian yang digunakan adalah Quasy Exsperimental Design dengan rancangan Nonequivalent Control Group Design. Penentuan sampel menggunakan teknik purposive sampling. Hasil uji-t data signifikansi yaitu 0,034 < 0,05 menunjukan terdapat perbedaan motivasi belajar siswa yang diajar menggunakan model pembelajaran SAVI berbantu macromedia flash dengan siswa yang diajar menggunakan metode ceramah berbantuan macromedia flash. Berdasarkan perhitungan Effect Size, model pembelajaran SAVI berbantu macromedia flash berbasis lesson study terhadap motivasi belajar siswa pada mata pelajaran IPA pada materi rangka dan otot memberikan kontribusi terhadap persentasi peningkatan motivasi belajar sebesar 79,4 %. Hal ini menunjukan model pembelajaraan SAVI berbantu macromedia flash berbasis lesson study terhadap motivasi belajar siswa pada mata pelajaran IPA siswa kelas VIII SMP Negeri 7 Sungai Raya dengan nilai Effect Size (ES) 1,9 (kategori tinggi).
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

PENDAHULUAN  Peningkatan Motivasi Dan Hasil Belajar IPA Tentang Perubahan Wujud Benda Melalui Metode Inkuiri Bagi Siswa Kelas IV SDN I Ngemplak Tahun 2013/2014.

PENDAHULUAN Peningkatan Motivasi Dan Hasil Belajar IPA Tentang Perubahan Wujud Benda Melalui Metode Inkuiri Bagi Siswa Kelas IV SDN I Ngemplak Tahun 2013/2014.

Sebelum melakukan penelitian diadakan survei untuk kelas yang akan diteliti. Dan dapat diperoleh bahwa hasil belajar IPA di kelas IV SDN I NGEMPLAK masih rendah. Nilai rata-rata hasil belajar hanya mencapai 63, 07. Padahal kriteria ketuntasan minimal untuk standar kompetensi IPA di SDN I NGEMPLAK adalah 70. Motivasi belajar sebelum tindakan hanya mencapai 59% padahal yang ingin dicapai pada peningkatan motivasi belajar 80%.

6 Baca lebih lajut

UPAYA MENINGKATKAN MOTIVASI BELAJAR DAN PRESTASI BELAJAR MATEMATIKA DENGAN MENGGUNAKAN PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE SNOWBALL THROWING SISWA KELAS VIII A SMP TAMAN DEWASA IBU PAWIYATAN YOGYAKARTA

UPAYA MENINGKATKAN MOTIVASI BELAJAR DAN PRESTASI BELAJAR MATEMATIKA DENGAN MENGGUNAKAN PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE SNOWBALL THROWING SISWA KELAS VIII A SMP TAMAN DEWASA IBU PAWIYATAN YOGYAKARTA

siklus, siklus I dan siklus II. Pada pra siklus skor angket sebesar 998 dengan persentase rata-rata 60,35%. Pada siklus I meningkat 106 poin menjadi 1104 dengan persentase rata- rata 66,44%. Pada siklus II meningkat lagi 26 poin menjadi 1130 dengan persentase rata- rata 76,58%. Berdasarkan hasil tes, prestasi belajar siswa selalu meningkat dari pra siklus, siklus I dan siklus II. Pada pra siklus nilai rata-rata yang digunakan adalah nilai UTS semester gasal sebagai nilai awal siswa yaitu sebesar 59,81 dengan siswa yang mencapai KKM sebanyak 10 orang dan persentase ketuntasan sebesar 38,46%. Pada siklus I nilai rata-rata naik 20,19 poin yaitu menjadi 80 dengan siswa yang mencapai KKM sebanyak 18 orang dan persentase ketuntasan sebesar 69,23%. Pada siklus II nilai rata-rata meningkat lagi sebanyak 2,45 poin yaitu menjadi 82,45 dengan siswa yang mencapai KKM sebanyak 20 orang dan persentase ketuntasan sebesar 76,92%. Berdasarkan kesimpulan tersebut peneliti mempunyai saran yang hendaknya dapat dijadikan pertimbangan guru matematika saat mengajar yaitu dengan menerapkan pembelajaran dengan model pembelajaran snowball throwing sebagai alternatif dalam upaya meningkatkan motivasi belajar dan prestasi belajar matematika siswa.
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

PENGGUNAAN MULTIMEDIA INTERAKTIF BERBASIS ADOBE FLASH UNTUK MENINGKATKAN MOTIVASI DAN HASIL BELAJAR SISWA PADA MATA PELAJARAN KEWIRAUSAHAAN

PENGGUNAAN MULTIMEDIA INTERAKTIF BERBASIS ADOBE FLASH UNTUK MENINGKATKAN MOTIVASI DAN HASIL BELAJAR SISWA PADA MATA PELAJARAN KEWIRAUSAHAAN

Salah satu alternatif untuk membangkitkan motivasi dan hasil belajar siswa adalah dengan cara memilih dan menggunakan media pembelajaran yang tepat, menarik dan sesuai dengan tujuan pembelajaran. Penggunaan media pembelajaran merupakan bagian dari tugas guru dalam menjalankan kompetensinya sebagai guru yang profesional. Guru yang profesional adalah guru yang memiliki empat kompetensi, yaitu kompetensi pedagogik, kompetensi sosial, kompetensi profesional dan kompetensi kepribadian. Kustandi (2011:25) mengemukakan bahwa “penggunaan media pembelajaran dalam proses belajar mengajar dapat memperjelas penyajian pesan dan informasi sehingga dapat memperlancar serta meningkatkan proses dan hasil belajar, meningkatkan dan mengarahkan perhatian anak sehingga dapat menimbulkan motivasi belajar, dapat mengatasi keterbatasan indera, ruang, dan waktu dan media pembelajaran dapat memberikan kesamaan pengalaman kepada siswa tentang peristiwa peristiwa di lingkungan mereka, serta memungkinkan terjadinya interaksi langsung dengan guru, masyarakat, dan lingkungan. Selanjutnya Susilana at al.(2009:2010) mengemukakan “penggunaan media dalam pembelajaran secara tepat dan bervariasi dapat mengatasi sikap pasif anak didik.
Baca lebih lanjut

9 Baca lebih lajut

PENERAPAN METODE ACTIVE KNOWLEDGE SHARING UNTUK  Penerapan Metode Active Knowledge Sharing Untuk Meningkatkan Motivasi Belajar IPA Kelas IV Sekolah Dasar Negeri 03 Ngargoyoso, Kabupaten Karanganyar Tahun Pelajaran 2012/2013.

PENERAPAN METODE ACTIVE KNOWLEDGE SHARING UNTUK Penerapan Metode Active Knowledge Sharing Untuk Meningkatkan Motivasi Belajar IPA Kelas IV Sekolah Dasar Negeri 03 Ngargoyoso, Kabupaten Karanganyar Tahun Pelajaran 2012/2013.

Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan motivasi belajar siswa dalam pembelajaran IPA yang terlihat dalam 7 indikator; yaitu indikator memperhatikan guru yang sedang mengajar meningkat pada siklus I 70% menjadi 80% di siklus II. Indikator menyatakan pendapat dan merumuskan jawaban 70% di siklus I menjadi 90% di siklus II. Indikator mendengarkan dengan baik penjelasan guru di siklus I sebesar 70% menjadi 90% di siklus II. Indikator mencatat penjelasan dari guru dengan lengkap dan rapi 60% di siklus I menjadi 80% di siklus II. Indikator merespon dan mengajukan pertanyaan 80% di siklus I menjadi 90% di siklus II. Indikator mengingat materi dan mampu memecahakan masalah dengan baik 50% disiklus I menjadi 80% di siklus II. Sedangkan indikator keberanian dalam menyampaikan pendapat 60% di siklus I menjadi 80% di siklus II. Selain peningkatan indikator motivasi, hasil belajar siswa juga mengalami peningkatan yaitu tingkat ketuntasan belajar pra siklus hanya mencapai 40% atau 4 siswa, kemudian pada siklus I mencapai 7 siswa atau 70%, dan meningkat pada siklus II mencapai 9 siswa atau 90%
Baca lebih lanjut

15 Baca lebih lajut

t pd 0907572 chapter5

t pd 0907572 chapter5

4. Terdapat perbedaan yang signifikan pada peningkatan prestasi belajar siswa antara yang belajar dengan model pembelajaran konvensional dengan siswa yang belajar dengan model pembelajaran kontekstual tipe inkuiri. Hal ini dibuktikan dengan perhitungan N-Gain antara nilai prestasi belajar siswa pada kelas kontrol dengan kelas eksperimen.

Baca lebih lajut

Kebutuhan akan Kasih Sayang dan Rasa Serta

Kebutuhan akan Kasih Sayang dan Rasa Serta

Bila individu merasakan bahwa kebutuhan rasa amannya telah tercapai, maka segera akan timbul kebutuhan untuk memberi dan menerima afeksi kasih sayang. Bila kebutuhan akan kasih sayang tidak terpenuhi, maka individu akan merasa tidak mempunyai rasa serta sebagai anggota kelompoknya. Dalam situasi demikian, siswa akan menampakkan perilaku yang tidak disukai oleh orang lain, dan akibatnya orang lain akan mengimbangi dengan sikap yang serupa terhadap dirinya. Dengan demikian terjadilah keadaan yang merusak keinginan siswa untuk belajar dan untuk mencapai prestasi tertentu.

Baca lebih lajut

DIFFERENCE OF MOTIVATION THROUGH GROUP GUIDANCE USING WORD GAMES CRUSH IN CLASS VII A SMP NEGERI 5 NATAR SOUTH LAMPUNG

DIFFERENCE OF MOTIVATION THROUGH GROUP GUIDANCE USING WORD GAMES CRUSH IN CLASS VII A SMP NEGERI 5 NATAR SOUTH LAMPUNG

Dampak dari permainan kata sebagai perangkat penguat pada peningkatan siswa, pengetahuan kosakata AOS adalah topik yang perlu diselidiki. Penelitian ini berusaha untuk menyelidiki peran menggunakan permainan kata-kata dalam memperluas pelajar, AOS kosakata. Dengan demikian, percobaan menggunakan lima permainan kata-kata, bernama Dua puluh Pertanyaan, Charades, Permainan Definisi, AOS, Sandi, dan Puzzle Crossword masing-masing dilakukan. Para peserta dipilih secara acak dari kelompok pria / wanita dari kelas tiga siswa SMP belajar di sebuah sekolah swasta. Pertama, tes standar diberikan kepada 100 siswa dari 60 siswa yang hampir homogen dipilih dan dibagi secara acak menjadi dua kelompok: eksperimen dan kontrol. Kedua kelompok diajarkan kata-kata dengan menggunakan metode tradisional, bagaimanapun, kelompok eksperimen menerima permainan kata-kata sebagai pengobatan pada akhir setiap sesi. Akhirnya, tes kosakata diberikan kepada kedua kelompok untuk menentukan perbedaan antara mereka. Skor yang diperoleh dari kelompok dibandingkan dengan uji t independen. T dihitung melebihi nilai tcritical, membenarkan efek positif dari permainan kata pada perluasan peserta didik, ao kosakata. d. Pareto, Lena : 2012 . Judul Journal: A teacher-agent-based game affording
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...