Posisi Pengelasan

Top PDF Posisi Pengelasan:

SKRIPSI VARIASI POSISI PENGELASAN DAN GERAKAN ELEKTRODA TERHADAP BAJA VCN 150

SKRIPSI VARIASI POSISI PENGELASAN DAN GERAKAN ELEKTRODA TERHADAP BAJA VCN 150

Pembangunan konstruksi dengan menggunakan logam pada masa sekarang ini banyak melibatkan unsur pengelasan khususnya bidang rancang bangun karena sambungan las merupakan salah satu pembuatan sambungan yang secara teknis memerlukan keterampilan yang tinggi bagi pengelas, agar diperoleh sambungan dengan kualitas baik.pada penelitian ini menggunakan baja VCN 150 pada pengelasan Shield Metal Arc Welding (SMAW). Salah satu faktor yang mempengaruhi ketangguhan material adalah sifat mekanik dari material tersebut. Jika material diberi proses pengelasan, maka akan dapat merubah sifat mekanik dari material tersebut. Untuk mengkaji hal tersebut disusunlah sebuah konsep penelitian yang terdiri dari 3 tahapan. Mengukur kekuatan tarik pengelasan pada VCN 150 ,Mengukur kekerasan pada VCN 150 dan Pengujian Impact. Hasil penelitian pada pengelasan SMAW, uji tarik baja VCN 150 dengan posisi pengelasan atas kepala dan gerakan elektroda pola C, diperoleh regangan rata-rata (ε) sebesar 14,6466 %, , Sedangkan untuk posisi pengelasan datar dan pada gerakan elektroda pola zig-zag, diperoleh regangan rata-rata sebesar 10,4 % , lalu untuk uji hardness baja VCN 150 untuk pola C sebesar 142 BHN sedangkan untuk pola pengelasan zig-zag diperoleh hasil 151 BHN, kemudian hasil pengujian impact baja VCN diperoleh hasil energy serap untuk pola C sebesar 101.29641 Nm, sedangkan untuk pola zig-zag diperoleh hasil 56,473774 Nm.
Baca lebih lanjut

13 Baca lebih lajut

Variasi Posisi Pengelasan Dan Gerakan Elektroda Terhadap Sifat Baja Vcn 150

Variasi Posisi Pengelasan Dan Gerakan Elektroda Terhadap Sifat Baja Vcn 150

Pergerakan atau ayunan elektroda las juga dapat mempengaruhi karakteristik hasil lasan, pada sisi lain bentuk gerakan elektroda untuk pengelasan sering menjadi pilihan pribadi dari tukang las itu sendiri tanpa memperhatikan kekuatan lasnya.Untuk mengetahui bentuk gerakan elektroda yang menghasilkan sifat mekanik yang paling baik, perlu dilakukan penelitian dan pengujian. Salah satu sifat mekanik yang paling penting dalam pengelasan adalah sifat kekerasan (hardness). Berdasarkan latar belakang diatas maka penelitian ini mengambil judul : “ Variasi Posisi Pengelasan dan Gerakan Elektroda Terhadap Sifat Baja VCN 150” .
Baca lebih lanjut

83 Baca lebih lajut

Analisis dan Perancangan Meja Las dengan Pendekatan Ergonomi dan QFD

Analisis dan Perancangan Meja Las dengan Pendekatan Ergonomi dan QFD

Ada beberapa jenis pengelasan yang ada di kejuruan teknik las BLKI Semarang seperti : las SMAW (Shielded Metal Arc Welding) atau las busur listrik, las GMAW (Gas Metal Arc Welding) atau las listrik gas metal, las GTAW (Gas Tungsten Arc Welding) atau las tungsten inert gas (TIG), las OAW (Oxyacetylene welding) atau las karbit. Meja las merupakan perlengkapan pengelasan yang berfungsi sebagi dudukan atau tempat dari material yang akan dilas. Meja las ini juga untuk tempat setting material yang akan di las disesuaikan dengan posisi pengelasan yang akan dilakukan. Berdasarkan observasi awal yang dilakukan pada peserta pelatihan di kejuruan teknik las BLKI Semarang bahwa meja las yang digunakan banyak dikeluhkan oleh peserta pelatihan. Berat meja las 35 kg, hal ini terlalu berat pada saat setting meja las yaitu saat meja las dinaikan, diturunkan dan diputar disesuaikan dengan posisi pengelasan. Berdasarkan observasi semua peserta pelatihan mengeluhkan hal ini.
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

PENGARUH POSISI DAN ARUS LAS TERHADAP KECEPATAN GESER PENGELASAN PADA BAJA LUNAK DENGAN MENGGUNAKAN LAS BUSUR LISTRIK AC.

PENGARUH POSISI DAN ARUS LAS TERHADAP KECEPATAN GESER PENGELASAN PADA BAJA LUNAK DENGAN MENGGUNAKAN LAS BUSUR LISTRIK AC.

Posisi pengelasan tegak naik dengan elektroda  2,6 mm rata-rata kecepatan geser pengelasan untuk penggunaan arus las 75 A sebesar 2,62 mm/det. Semakin tinggi arus lasan, maka kecepatan geser pengelasan semakin cepat, begitu juga dengan posisi pengelasan di bawah tangan dan mendatar. Hal ini ditunjukkan pula pada arus las 135 A dengan rata-rata kecepatan geser sebesar 3,73 mm/det. Perbedaan kecepatan geser ini disebabkan oleh arus lasan yang semakin tinggi, sehingga akan berpengaruh terhadap penembusan lasan. Pengelasan yang baik akan terlihat pada penembusan terhadap sambungan yang akan dilas, yang merata masuk kedalam sambungan (celah). Semakin kecil arus lasan (di bawah 90 A) semakin dangkal penembusannya dan kekuatan sambungan tidak baik untuk tebal bahan 5 mm. Sedangkan penggunaan arus las di atas 90 A untuk posisi pengelasan tegak naik penembusannya lebih baik dan untuk kekuatan sambungan juga akan semakin baik. Posisi pengelasan tegak naik ini pelumeran bahan kurang merata, sehingga untuk elektroda lebih dahulu melumer. Adanya gravitasi bumi kurang mendukung meratanya pengelasan dan penembusan pada posisi ini. Hal ini ditunjukkan dengan cairan lasan yang berjatuhan dan percikan elektroda yang meleleh terlebih dahulu sehingga menghasilkan sambungan yang kurang sempurna. Kualitas pengelasan tegak naik yang baik terletak pada penggunaan arus las yaitu sebesar 110 A. Semakin besar arus las justru hasil pengelasannya tidak bagus, karena pelumerannya terlalu cepat saat pengelasan dan menghasilkan penembusan yang tidak baik, hal ini diakibatkan dari kecepatan geser pengelasan yang terlalu cepat karena untuk mengimbangi laju pelumeran dari elektroda maupun bahan yang dilas.
Baca lebih lanjut

16 Baca lebih lajut

PERANCANGAN ALAT BANTU LAS LISTRIK DENGAN TEKNIK PENGELASAN DUA SISI BERDASARKAN PRINSIP ERGONOMI

PERANCANGAN ALAT BANTU LAS LISTRIK DENGAN TEKNIK PENGELASAN DUA SISI BERDASARKAN PRINSIP ERGONOMI

Ada beberapa kelemahan ataupun hambatan yang dimiliki alat bantú las yang baru. Pada keadaan sebelumnya proses pengelasan lebih cepat, karena fasilitas yang ada hanya besi siku. Berdasarkan análisis, keadaan sebelumnya pada saat pengelasan menimbulkan keluhan rasa nyeri dibeberapa segmen tubuh karena posisi pengelasan dilakukan dengan posisi postur tubuh jongkok. Sedangkan pada alat las rancangan diketahui waktu pengelasan lebih lama, karena sistem pemasangan benda kerja harus dilakukan satu persatu sesuai dengan bagian penjepit alat bantú tersebut. Hal ini menyebabkan operator harus memasang dan melepas satu persatu terhadap benda yang dilas. Berdasarkan análisis, alat las rancangan juga mempunyai keunggulan dibandingkan keadaan sebelumnya, karena desain alat las rancangan mengurangi keluhan dibeberapa segmen tubuh, karena posisi pengelasan dilakukan dengan posisi postur tubuh berdiri.
Baca lebih lanjut

105 Baca lebih lajut

Pengaruh Kuat Arus Pengelasan Dua Layer dengan Metode GTAW dan SMAW terhadap Kekuatan Tarik pada Plat ASTM A 36

Pengaruh Kuat Arus Pengelasan Dua Layer dengan Metode GTAW dan SMAW terhadap Kekuatan Tarik pada Plat ASTM A 36

Untuk pengujian tarik pada sesimen bertujuan untuk mengetahui dan mengukur nilai dari kekuatan tarik dimasing-masing posisi pengelasan, yang menggunakan alat Universal Machine Test, Dari Gambar 5 nilai kekuatan tarik hasil pengelasan tertinggi terdapat pada posisi A1 yaitu sebesar 410,82 N/mm 2 dengan arus terendah namun nilainya menurun seiring bertambahnya arus yang digunakan, sedangkan nilai kekuatan tarik terendah pada posisi B1 yaitu sebesar 364,87 N/mm 2 namun nilainya meningkat seiring bertambahnya arus yang digunakan. Secara umum bisa diambil kesimpulan sesuai dengan grafik bahwa nilai kekuatan tarik akan meningkat seiring bertambahnya arus yang digunakan ketika pengelasan tersebut menggunakan metode SMAW sedangkan untuk pengelasan satu jenis metode GTAW Sambungan las
Baca lebih lanjut

6 Baca lebih lajut

MENGELAS DENGAN PROSES LAS GAS METAL

MENGELAS DENGAN PROSES LAS GAS METAL

Tampilan rigi-rigi yang jelek diakibatkan oleh arus yang terlalu tinggi, persiapan sambungan yang salah, maupun teknik pengelasan yang tidak sesuai. Untuk mengatasinya adalah dengan mengatur kembali arus pengelasan lebih rendah dengan disesuaikan dengan ketebalan plat, diameter elektroda, maupun posisi pengelasan, persiapan sambungan yang salah dapat diatasi dengan memperhatikan prosedur pengelasan yang benar yang menyangkut persiapan permukaan sambungan jarak celah akar, sisi akar maupun cara melakukan las ikat. Teknik pengelasan yang tidak sesuai dapat diatasi dengan mempelajari kembali cara mengelas las gas metal yang benar.
Baca lebih lanjut

62 Baca lebih lajut

HUBUNGAN ANTARA MINAT BELAJAR DASAR-DASAR PENGELASAN DAN GAYA BELAJAR DASAR-DASAR PENGELASAN DENGAN HASIL BELAJAR DASAR-DASAR PENGELASAN SISWA KELAS X PROGRAM TEKNIK MESIN OTOMOTIF SMK SWASTA CINTA RAKYAT PEMATANGSIANTAR T.A 2011/2012.

HUBUNGAN ANTARA MINAT BELAJAR DASAR-DASAR PENGELASAN DAN GAYA BELAJAR DASAR-DASAR PENGELASAN DENGAN HASIL BELAJAR DASAR-DASAR PENGELASAN SISWA KELAS X PROGRAM TEKNIK MESIN OTOMOTIF SMK SWASTA CINTA RAKYAT PEMATANGSIANTAR T.A 2011/2012.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan yang signifikan antara Minat Belajar Dasar-Dasar Pengelasan dan Gaya Belajar Dasar-Dasar Pengelasan dengan Hasil Belajar Dasar-Dasar Pengelasan Siswa Kelas X Program Teknik Mesin Otomotif SMK Swasta Cinta Rakyat Pematangsiantar Tahun Ajaran 2011/2012 ” dan untuk mengetahui tingkat kecenderungan Minat Belajar Dasar-Dasar Pengelasan, Gaya Belajar Dasar-Dasar Pengelasan dan Hasil Belajar Dasar-Dasar Pengelasan siswa. Metode penelitian ini bersifat deskriptif korelasional yaitu bertujuan untuk memperoleh informasi tentang suatu gejala pada saat penulisan dilakukan.
Baca lebih lanjut

20 Baca lebih lajut

PENGARUH KECEPATAN PUTAR TOOL TERHADAP SIFAT MEKANIK SAMBUNGAN ALLUMUNIUM 1XXX DENGAN METODE FRICTION STIR WELDING

PENGARUH KECEPATAN PUTAR TOOL TERHADAP SIFAT MEKANIK SAMBUNGAN ALLUMUNIUM 1XXX DENGAN METODE FRICTION STIR WELDING

Berdasarkan uraian tersebut, pengkajian terhadap FSW terhadap proses pengelasan dalam dunia indutri masih sangat luas. Pengelasan FSW dengan menggunakan Putaran tool masih jarang dan masih banyak ilmu yang bisa digali untuk menjelaskan pengelasan FSW baik dari sisi metode pengelasan, kekerasan tool, bahan yang digunakan, kecepatan putar, kecepatan pemakanan, gas pelindung dan sebagainya. Untuk itulah penelitian tentang pengaruh Putaran tool terhadap kekuatan mekanik dengan FSW pada aluminium seri 1xxx ini dilakukan, dengan harapan dapat memberikan informasi baru tentang kekuatan tarik, tingkat kekerasan, struktur mikro dan makro, dan bentuk dari patahan pengelasann dari variasi putaran tool dengan menggunakan pengelasan FSW.
Baca lebih lanjut

58 Baca lebih lajut

PENGARUH PUTARAN TOOL TERHADAP SIFAT-SIFAT MEKANIS SAMBUNGAN PADA ALUMINIUM 5051 DENGAN METODE FRICTION STIR WELDING

PENGARUH PUTARAN TOOL TERHADAP SIFAT-SIFAT MEKANIS SAMBUNGAN PADA ALUMINIUM 5051 DENGAN METODE FRICTION STIR WELDING

Dalam perkembangan dunia konstruksi pengelasan sangat umum digunakan dengan berbagai macam metode pengelasan. Pengelasan adalah sebuah proses penyambungan yang menghasilkan penggabungan dari material – material dengan memanaskannya hingga temperatur pengelasan, dengan adanya tekanan atau hanya dengan menggunakan tekanan dan tanpa penggunaan logam pengisi. penggunaan teknik pengelasan dalam kontruksi sangat luas, meliputi rangka baja, bejana tekan, pipa pesat, pipa saluran dan sebagainya. Disamping untuk pembuatan, proses las dapat juga dipergunakan untuk reparasi misalnya untuk mengisi lubang-lubang pada coran. Membuat lapisan las pada perkakas mempertebal bagian-bagian yang sudah aus, dan macam – macam reparasi lainnya.
Baca lebih lanjut

79 Baca lebih lajut

HUBUNGAN ANTARA KOMPETENSI PENGELASAN DAN MOTIVASI BERPRESTASI DENGAN MINAT BERWIRASWASTA PENGELASANPADA SISWA KELAS XI SMK YAPIM BATANG KUIS T/P 2011/2012.

HUBUNGAN ANTARA KOMPETENSI PENGELASAN DAN MOTIVASI BERPRESTASI DENGAN MINAT BERWIRASWASTA PENGELASANPADA SISWA KELAS XI SMK YAPIM BATANG KUIS T/P 2011/2012.

1. Dengan diterimanya dihipotesis pertama, maka perlu kiranya menjadi pertimbangan bagi pihak pengelola SMK YAPIM Batang Kuis (guru) untuk lebih dapat menumbuh-kembangkan kompetensi pengelasan dengan las busur manual pada diri siswa sehingga dapat meningkatkan Minat Berwiraswasta.

26 Baca lebih lajut

DASAR KOMPETENSI KEJURUAN DAN KOMPETENSI (1)

DASAR KOMPETENSI KEJURUAN DAN KOMPETENSI (1)

Melakukan rutinitas pengelasan dengan menggunakan proses las busur manual 5.1 Menentukan persyaratan pengelasan 5.2 Menyiapkan bahan untuk pengelasan 5.3 Mengeset mesin las sesuai SOP [r]

24 Baca lebih lajut

014-19 SKKD Teknik Pemesinan

014-19 SKKD Teknik Pemesinan

Melakukan rutinitas pengelasan dengan menggunakan proses las busur manual 5.1 Menentukan persyaratan pengelasan 5.2 Menyiapkan bahan untuk pengelasan 5.3 Mengeset mesin las sesuai SOP [r]

24 Baca lebih lajut

SENSOR POSISI Macam Macam Sensor Posisi

SENSOR POSISI Macam Macam Sensor Posisi

Sensor ini melaporkan posisi suatu benda dgn mengacu pd rujukan tertentu. Pengukuran posisi dapat dilakukan dengan cara analog dan digital. Untuk pergeseran yang tidak terlalu jauh pengukuran dapat dilakukan menggunakan cara-cara analog, sedangkan untuk jarak pergeseran yang lebih panjang lebih baik digunakan cara digital.

20 Baca lebih lajut

Keselamatan dan Kesehatan Kerja K3 (1)

Keselamatan dan Kesehatan Kerja K3 (1)

Bahaya pengelasan dapat terjadi dalam berbagai situasi yang mungkin berbeda. Menurut CAN/ CSA W 117.2-M87 Safety in Welding, Cutting, and Allied Processes bahaya secara umum dapat dibedakan berdasarkan proses pengelasannya. Namun secara umum bahaya dapat dibedakan menjadi bahaya karena sifat pekerjaannya seperti operasi mesin, shok karena listrik, api/ panas (terbakar), radiasi busur las, bising juga karena kendaraan/ alat angkat serta gerakan material. Berikut ini sumber-sumber bahaya pada pengerjaan las:

25 Baca lebih lajut

PENGARUH VARIASI ARUS PENGELASAN TERHADAP SIFAT MEKANIK PADA PROSES PENGELASAN SMAW

PENGARUH VARIASI ARUS PENGELASAN TERHADAP SIFAT MEKANIK PADA PROSES PENGELASAN SMAW

5. Menyetel ampere meter yang digunakan untuk mengukur arus pada posisi jarum nol, kemudian salah satu penjepitnya, dijepitkan pada kabel yang digunakan untuk menjepit elektroda. Mesin las dihidupkan dan elektroda digoreskan sampai menyala. Ampere meter diatur pada angka yang telah ditentukan, selanjutnya mulai dilakukan pengelasan untuk spesimen dengan arus yang telah ditentukan. Bersamaan dengan hal itu dilakukan pencatatan waktu pengelasan.

6 Baca lebih lajut

Vektor Posisi   GuruPintar Vektor Posisi

Vektor Posisi GuruPintar Vektor Posisi

1. Koordinat suatu partikel mula-mula berada di titik P ( 4 m, 6 m ) kemudian berpindah ke titik Q ( - 3 m, 7 m ). Nyatakan vektor posisi, vektor perpindahan, besar perpindahan dan arah perpindahan dari partikel tersebut. 2. Sebuah mobil mainan dikendalikan dengan remote kontrol bergerak dalam

2 Baca lebih lajut

STUDI METALOGRAFI HASIL PENGELASAN TITIK  (SPOT WELDING) PADA PENGELASAN DI LINGKUNGAN  Studi Metalografi Hasil Pengelasan Titik (Spot Welding) Pada Pengelasan Di Lingkungan Udara Dan Di Lingkungan Gas Argon.

STUDI METALOGRAFI HASIL PENGELASAN TITIK (SPOT WELDING) PADA PENGELASAN DI LINGKUNGAN Studi Metalografi Hasil Pengelasan Titik (Spot Welding) Pada Pengelasan Di Lingkungan Udara Dan Di Lingkungan Gas Argon.

Tugas akhir berjudul “Studi Metalografi Hasil Pengelasan Titik (Spot Welding) Pada Pengelasan Di Lingkungan Udara Dan Di Lingkungan Gas Argon”, telah disetujui oleh dosen pembimbing dan diterima untuk memenuhi sebagian persyaratan dalam memperoleh derajat sarjana S1 pada jurusan teknik mesin fakultas teknik universitas muhammadiyah Surakarta.

19 Baca lebih lajut

Show all 7306 documents...