Sistem Jaringan Jalan

Top PDF Sistem Jaringan Jalan:

SNI Sistem Jaringan Jalan Perumahan (1)

SNI Sistem Jaringan Jalan Perumahan (1)

Standar Nasional Indonesia Persyaratan umum sistem jaringan dan geometrik jalan perumahan, disusun untuk memberikan arahan dan pedoman kepada pihak yang terlibat dalam perencanaan dan pembangunan kawasan perumahan pada umumnya dan jaringan jalan perumahan pada khususnya serta untuk memperoleh suatu keseragaman dalam definisi, hirarki sistem jaringan jalan perumahan yag jelas serta syarat minimum geometrik jalan.

29 Baca lebih lajut

KAJIAN SISTEM JARINGAN JALAN DI WILAYAH KOTA PEKANBARU

KAJIAN SISTEM JARINGAN JALAN DI WILAYAH KOTA PEKANBARU

Jalan merupakan prasarana transportasi yang penting buat pendukung kehidupan ekonomi, sosial budaya, politik dan pertahanan keamanan. Evaluasi sistem jaringan jalan dilakukan guna menyelaraskan pertumbuhan penduduk dengan prasarana yang ada sehingga tidak menimbulkan konflik lalulintas dan bisa membentuk jaringan jalan yang berstandar. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kinerja jaringan jalan di Kota Pekanbaru.

14 Baca lebih lajut

Kajian Sistem Jaringan Jalan di Wilayah Kota Pekanbaru

Kajian Sistem Jaringan Jalan di Wilayah Kota Pekanbaru

Variabel ketersediaan prasarana jalan (Ktj) dihitung dengan mengasumsikan bahwa total panjang jalan adalah jumlah panjang jalan kota dan luas wilayah adalah total luas wilayah administrasi. Pada tabel berikut ini disampaikan contoh data kondisi ketersediaan prasarana jalan (Ktj) dengan asumsi seperti diatas, sebagai referensi anda:

8 Baca lebih lajut

Kajian Sistem Jaringan Jalan di Wilayah Kota Pekanbaru

Kajian Sistem Jaringan Jalan di Wilayah Kota Pekanbaru

Pertambahan penduduk mempengaruhi perkembangan suatu kota. Hal ini mempengaruhi terjadinya perubahan fisik dari kota tersebut dan penggunaan lahan. Pertambahan penduduk juga berakibat terhadap bertambahnya jumlah pergerakan. Salah satu faktor penting untuk mencukupi kebutuhan penduduk dalam suatu kota adalah adanya sistem transportasi yang baik. Untuk menunjang sistem transportasi yang baik terutama transportasi darat, diperlukan sebuah jaringan jalan yang baik. Menurut UU No.38 Tahun 2004 jalan sebagai prasarana transportasi mempunyai peranan penting dalam bidang ekonomi, sosial budaya, lingkungan hidup, politik, pertahanan dan keamanan, serta dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat.
Baca lebih lanjut

120 Baca lebih lajut

Kesesuaian Sistem Jaringan Jalan Arteri

Kesesuaian Sistem Jaringan Jalan Arteri

markah jalan berwarna kuning ditengah jalan guna sebagai reflektor markah jalan khususnya pada cuaca gelap atau malam hari, pemisah jalur dan sebagai tanda peringatan. Selain itu, banyak terdapat rambu baik rambu perintah dan lokasi utilitas umum seperti lokasi masjid, maupun rambu peringatan seperti rambu rawan kecelakaan sebagai salah satu pedukung keselamatan pengendara. Namun, di sepanjang jalan ini hanya ada 2 titik yang terdapat median jalan yakni di kiometer 13 dekat jalan tol Balikpapan-Samarinda dan di kilometer 7 yang tinggi jalan sisi kanan dan kirinya tidak sama. Kurangnya median di jalan ini bisa dikarenakan lebar jalan yang kurang memadai yakni 6 meter dengan 2 jalur dan 2 lajur dimana untuk ukuran jalan arteri primer seharusnya memiliki minimal 11 meter dan memiliki 4 lajur. Tidak hanya median jalan, lampu penerangan pun juga kurang memadai. Terdapat banyak tiang lampu di pinggir jalan namun tidak ada lampunya atau tidak berfungsi dan hanya beberapa lampu saja yang menyala di malam hari sehingga tidak bisa memenuhi kebutuhan penerangan di sepanjang jalan tersebut. Penerangan yang kurang memadai berpeluang terjadi kecelakaan lalu lintas apalagi ketika malam hari dengan kondisi jalan yang kurang baik pula.
Baca lebih lanjut

6 Baca lebih lajut

PERENCANAAN JEMBATAN TEMBELANG WONOSOBO (Design of Tembelang Bridge At Wonosobo ) - Diponegoro University | Institutional Repository (UNDIP-IR)

PERENCANAAN JEMBATAN TEMBELANG WONOSOBO (Design of Tembelang Bridge At Wonosobo ) - Diponegoro University | Institutional Repository (UNDIP-IR)

Berdasarkan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 34 Tahun 2006 tentang jalan Bab II pasal 7, sistem jaringan jalan primer disusun berdasarkan rencana tata ruang dan pelayanan distribusi barang dan jasa untuk pengembangan semua wilayah di tingkat nasional, dengan menghubungkan semua simpul jasa distribusi yang berwujud pusat-pusat kegiatan sebagai berikut :

73 Baca lebih lajut

HIBAH PENGAJARAN PERENCANAAN GEOMETRIK J

HIBAH PENGAJARAN PERENCANAAN GEOMETRIK J

(optimum) adalah apabila jumlah pergerakan relatif dapat dipenuhi secara proporsional oleh sistem jaringan jalan, sehingga pergerakan tidak banyak mengalami hambatan. Untuk mendapatkan ukuran jalan yang baik (menurut orientasi tersebut), maka dalam perencanaan jalan harus mengacu – berpedoman pada prosedur perencanaan jalan tipe ini. Secara skematis, prosedur tipe ini dijelaskan gambar 1.9. & Zoning adalah menentukan batas-batas wilayah dari satu ruang,

26 Baca lebih lajut

RPP Sarana

RPP Sarana

3) Jalan kabupaten/kota merupakan jalan lokal dalam sistem jaringan jalan primer yang tidak termasuk jalan nasional dan jalan provinsi, yang menghubungkan ibu kota kabupaten dengan ibu kota kecamatan, antaribu kota kecamatan, ibu kota kabupaten dengan pusat kegiatan lokal, antarpusat kegiatan lokal, serta jalan umum dalam sistem jaringan jalan sekunder dalam wilayah kabupaten, dan jalan strategis kabupaten/kota. Pada tahun 2012, total panjang jaringan jalan yang ada di Indonesia mencapai 501.969 km, terdiri atas jalan nasional sepanjang 38.570 km, jalan provinsi sepanjang 409.757 km dan jalan kabupaten/kota sepanjang 501.969 km (BPS, 2012). Pertumbuhan kendaraan yang tinggi melampaui pembangunan jalan berdampak pada kemacetan di sejumlah daerah perkotaan. Beberapa kota besar di Indonesia menghadapi masalah kemacetan, di antaranya Jakarta dan Bandung.
Baca lebih lanjut

11 Baca lebih lajut

PERBAIKAN FAKTOR DAYA DAN EVALUASI KUALITAS SISTEM TENAGA LISTRIK DI PT. PISMA PUTRATEX SPINNING PEKALONGAN.

PERBAIKAN FAKTOR DAYA DAN EVALUASI KUALITAS SISTEM TENAGA LISTRIK DI PT. PISMA PUTRATEX SPINNING PEKALONGAN.

tersebut biasanya perusahaan atau instansi menggunakan alat-alat distribusi jaringan tegangan yang handal dan efektif serta menyediakan pembangkit sendiri, dengan sistem keandalan yang baik dan juga menyiapkan pembangkit tenaga listrik pada perusahaan sebagai cadangan bila terjadi gangguan pada pembangkit tenaga dari PLN.

7 Baca lebih lajut

Studi Kelayakan Jalan Tol Wisata Sukorejo - Batu - ITS Repository

Studi Kelayakan Jalan Tol Wisata Sukorejo - Batu - ITS Repository

4.4.2. Derajat Kejenuhan (DS) Kondisi Without Project Derajat Kejenuhan merupakan rasio arus terhadap kapasitas yang digunakan sebagai factor kunci dalam penentuan perilaku lalu lintas pada suatu simpang dan juga segmen jalan. Nilai derajat kejenuhan menunjukan apakah segmen jalan akan mempunyai masalah atau tidak. Apabila nilai DS yang didapat kurang dari 0.75 dapat dikatakan jalanan belum macet. Derajat kejenuhan ini nantinya juga akan digunakan pada penentuan factor koreksi lalu lintas di perhitungan BOK. Derajat kejenuhan ini dapat dihitung dengan perumusan sebagai berikut:
Baca lebih lanjut

175 Baca lebih lajut

PENENTUAN LOKASI OPTIMUM JALUR PIPA PDAM BARU DENGAN METODE LEAST COST PATH SERTA ANALISIS DEBIT DAN TEKANAN AIRNYA DI KECAMATAN GAMPING DAN SEKITARNYA

PENENTUAN LOKASI OPTIMUM JALUR PIPA PDAM BARU DENGAN METODE LEAST COST PATH SERTA ANALISIS DEBIT DAN TEKANAN AIRNYA DI KECAMATAN GAMPING DAN SEKITARNYA

Hasil dari setiap jalur tersebut berupa deretan piksel dengan jumlah setiap jalurnya seperti terlihat pada tabel 1.4 diatas. Berdasarkan jumlah tersebut hasil analisis ini perlu di lihat perpikselnya apakah mempunyai jalur yang kurang sesuai dengan yang di harapkan atau tidak mengingat parameter yang digunakan memungkinkan terjadinya jalur yang kurang sesuai seperti melewati area penggunaan lahan yang kurang sesuai seperti gedung, sawah irigasi, dan pemukiman tanpa mengikuti jaringan jalan. Berdasarkan hasilnya ternyata terdapat beberapa piksel yang tidak mengikuti jaringan jalan 22 piksel yang tidak tepat dari jumlah total piksel 1.333 piksel, sehingga dalam analisis ini memiliki error sebesar 1,7 %. Semua piksel tersebut melewati lahan pemukiman dan tidak mengikuti jaringan jalan yang ada namun hasil tersebut masih tidak jauh dari jaringan jalan yang ada sehingga nantinya dapat di pertegas lagi jalurnya sebagai peta rekomendasi dengan mengubah jalur mengikuti jaringan jalan yang ada sebgaai konsekuensi dari penentuan bobot yang paling besar adalah untuk jaringan jalan.Meskipun demikian hasil ini dapat diterima mengingat peta yang dihasilkan dari model yang dibuat yaitu untuk skala 1:40.000 sehingga dalam kedepannya perlu di lakukan pengukuran lebih detail bila akan melakukan perencanaan yang lebih teknis terkait jalur pipa tersebut.
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

Studi Permasalahan On Street Parking Di Kotamadya Medan

Studi Permasalahan On Street Parking Di Kotamadya Medan

Fasilitas parkir untuk umum ada 2 bagian yaitu di luar badan jalan dan pada badan jalan (on street parking). Parkir di luar badan jalan dapat berupa taman parkir atau gedung parkir. Yang dimaksud dengan di luar badan jalan antara lain pada kawasan tertentu seperti pusat perbelanjaan, bisnis maupun perkantoran yang menyediakan fasilitas parkir untuk umum. Parkir tepi jalan atau biasa disebut On Street Parking adalah kegiatan parkir yang menggunakan bagian sisi tepi badan jalan. Ada beberapa klasifikasi jalan yang diperkenankan untuk parkir dan ada pula jalan yang tidak diijinkan untuk parkir untuk lebih jelasnya dapat dilihat dari buku panduan penentuan klasifikasi fungsi jalan di Wilayah Pertokoan No. 010 / BNKT / 1990 DitJen Bina Marga ( BinKot ) seperti terlihat pada Tabel 1.
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

Karakteristik dan Pengelompokan Jaringan perdagangan

Karakteristik dan Pengelompokan Jaringan perdagangan

dibarengi dengan sistem jaringan yang baik, maka akan merupakan penyebab kemacetan yang sangat kronis. Studi penelitian lain mengungkapkan bahwa pengurangan jumlah kendaraan di kawasan CBD menunjukkan pengurangan kemacetan lalu lintas di kawasan bersangkutan Lebih lanjut oleh Direktorat BSLLAK Dirjen Perhubungan Darat (1998: 29), disarankan agar trayek yang melalui pusat kota tidak berhenti dan mangkal di pusat kota tetapi jalan terus, karena hal ini akan berdampak kepada kemacetan lalu lintas disekitar disekitar terminal pusat kota.

11 Baca lebih lajut

BT PERPRES 28-2012 RTR Pulau Jawa-Bali

BT PERPRES 28-2012 RTR Pulau Jawa-Bali

(2) Pemertahanan luas lahan pertanian pangan berkelanjutan, pengendalian perkembangan kegiatan budi daya pada kawasan pertanian pangan berkelanjutan terutama di sisi kiri dan sisi kanan jalan, pengendalian alih fungsi peruntukan lahan pertanian tanaman pangan, dan pengembangan sentra pertanian tanaman pangan yang didukung peningkatan fungsi industri pengolahan dan industri jasa hasil pertanian tanaman pangan untuk ketahanan pangan nasional sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a, b, c, dan d dilakukan di Kabupaten Pandeglang, Kabupaten Lebak, Kabupaten Tangerang, Kabupaten Serang, Kota Serang, Kota Cilegon, Kabupaten Bogor, Kabupaten Sukabumi, Kabupaten Cianjur, Kabupaten Bandung, Kabupaten Bandung Barat, Kabupaten Garut, Kabupaten Tasikmalaya, Kabupaten Ciamis, Kabupaten Kuningan, Kabupaten Cirebon, Kabupaten Majalengka, Kabupaten Sumedang, Kabupaten Indramayu, Kabupaten Subang, Kabupaten Purwakarta, Kabupaten Karawang, Kabupaten Bekasi, Kabupaten Cilacap, Kabupaten Banyumas, Kabupaten Purbalingga, Kabupaten Banjarnegara, Kabupaten Kebumen, Kabupaten Purworejo, Kabupaten Wonosobo, Kabupaten Magelang, Kabupaten Boyolali, Kabupaten Klaten, Kabupaten Sukoharjo, Kabupaten Wonogiri, Kabupaten Karanganyar,
Baca lebih lanjut

210 Baca lebih lajut

Permen PU no.11 Tahun 2010 Tentang Tata Cara dan Persyaratan Laik Fungsi Jalan (Lampiran 2)

Permen PU no.11 Tahun 2010 Tentang Tata Cara dan Persyaratan Laik Fungsi Jalan (Lampiran 2)

Petunjuk: 1) Ruas jalan yang dievaluasi kelaikannya dapat dibagi menjadi beberapa segmen yang ditentukan oleh kese- ragaman fisiknya. Contoh: Satu segmen 2 lajur 2 arah, dipisahkan dengan segmen lain yang 4 lajur 2 arah; 2) Segmentasi ini disketsa dan diberi tanda oleh station kilometer (Sta.Km.) pada awal dan akhir segmen; 3) Segmentasi ini dapat karena perbedaan tipe prasarana, perbedaan jenis/kualitas perkerasan, perbedaan

Baca lebih lajut

STUDI EVALUASI KELAYAKAN PEMBANGUNAN JALAN TOL SURABAYA - MOJOKERTO

STUDI EVALUASI KELAYAKAN PEMBANGUNAN JALAN TOL SURABAYA - MOJOKERTO

Surabaya dan Mojokerto sebagai kota dengan aktivitas lalu lintas yang padat dan ramai, tentunya harus terdapat prasarana transportasi yang memadai. Pelebaran atau penambahan jalan penghubung harus disiapkan karena jalan Nasional yang tersedia mengalami kemacetan akibat besarnya volume kendaraan yang ada, tetapi tidak didukung oleh lebar jalan yang memadai. Untuk mengatasi kemacetan di ruas jalan tersebut, Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT) mempertimbangkan perlunya pembangunan jalan tol Surabaya – Mojokerto. Tujuan dari tugas akhir ini adalah untuk mengetahui besarnya penghematan dan kelayakan dari proyek pembangunan Jalan Tol Surabaya - Mojokerto. Sehingga perlu dilakukan analisis kelayakan pembangunan Jalan Tol Surabaya - Mojokerto dari segi ekonomi dan finansial.
Baca lebih lanjut

344 Baca lebih lajut

PEMBUATAN SISTEM INFORMASI JARINGAN JALAN KABUPATEN

PEMBUATAN SISTEM INFORMASI JARINGAN JALAN KABUPATEN

Kabupaten Barito Timur merupakan kabupaten pemekaran dari Kabupaten Barito Se- latan yang hingga saat ini masih dalam tahap pembangunan. Tahap pembangunan ter- sebut terdiri dari beberapa aspek, salah satunya adalah pembangunan jaringan jalan Ka- bupaten Barito Timur. Guna mendukung kemajuan kegiatan pembangunan jaringan jalan di Kabupaten Barito Timur terutama dalam pengolahan dan manajemen data jaringan ja- lan maka perlu memanfaatkan teknologi informasi berupa Sistem Informasi Geografis (SIG). Hal tersebut yang mendorong penulis untuk membuat suatu rancangan aplikasi Sistem Informasi Jaringan Jalan dengan menggunakan salah satu software SIG yaitu Mapinfo Professional 9,0 SCP.
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

Rencana Pembangunan Jangka Panjang (RPJP) Kementerian Perhubungan

Rencana Pembangunan Jangka Panjang (RPJP) Kementerian Perhubungan

Transportasi merupakan salah satu mata rantai jaringan distribusi barang dan mobilitas penumpang yang berkembang sangat dinamis, serta berperan di dalam mendukung, mendorong dan menunjang segala aspek kehidupan baik dalam pemba- ngunan politik, ekonomi, sosial budaya dan pertahanan keamanan. Pertumbuhan sektor transportasi akan mencerminkan pertumbuhan ekonomi secara langsung sehingga transportasi mempunyai peranan yang penting dan strategis, baik secara makro maupun mikro. Keberhasilan sektor transportasi secara makro diukur dari sumbangan nilai tambahnya dalam pembentukan Produk Domestik Brutto, dampak ganda (multiplier effect) yang ditimbulkannya terhadap pertumbuhan sektor-sektor lain dan kemampuannya meredam laju inflasi melalui kelancaran distribusi barang dan jasa ke seluruh pelosok tanah air. Dari aspek mikro, keberhasilan sektor transportasi diukur dari kapasitas yang tersedia, kualitas pelayanan, aksesibilitas, keterjangkauan daya beli masyarakat dan utilisasi.
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

BAB II TINJAUAN PUSTAKA - BAB II MUHAMAD REZA N. TS'17

BAB II TINJAUAN PUSTAKA - BAB II MUHAMAD REZA N. TS'17

Transportasi merupakan kegiatan yang dilakukan pada tat guna lahan yang hubunganya dikembangkan untuk lebih memahami hubungan yang terjadi dalam suatu kota, yaitu antara tata guna lahan (kegiatan), transportasi (jaringan), dan lalu lintas (pergerakan). Model tersebut harus dengan mudah dapat dimodifikasi dan diperbaiki secara terus menerus. Hal ini sering dilakukan oleh pemerintahan untuk meramalkan arus lalu lintas yang nantinya menjadi dasar perencanaan investasi untuk suatu fasilitas tranportasi yang baru.

Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...