sistem manajemen keselamatan

Top PDF sistem manajemen keselamatan:

HUBUNGAN ANTARA FAKTOR PENGHAMBAT SISTEM MANAJEMEN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA (SMK3) DENGAN PELAKSANAAN SISTEM MANAJEMEN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA (Studi di RSUD Balung Kabupaten Jember)

HUBUNGAN ANTARA FAKTOR PENGHAMBAT SISTEM MANAJEMEN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA (SMK3) DENGAN PELAKSANAAN SISTEM MANAJEMEN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA (Studi di RSUD Balung Kabupaten Jember)

Syukur Alhamdulillah penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, karena atas karunia-Nya peneliti dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul Hubungan antara Faktor Penghambat Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (SMK3) dengan Pelaksanaan Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (Studi di RSUD Balung Kabupaten Jember) sebagai salah satu syarat memperoleh gelar Sarjana Kesehatan Masyarakat (S.KM) Bagian Kesehatan Lingkungan dan Kesehatan Keselamatan Kerja.

17 Baca lebih lajut

HUBUNGAN ANTARA FAKTOR PENGHAMBAT SISTEM MANAJEMEN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA (SMK3) DENGAN PELAKSANAAN SISTEM MANAJEMEN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA (Studi di RSUD Balung Kabupaten Jember)

HUBUNGAN ANTARA FAKTOR PENGHAMBAT SISTEM MANAJEMEN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA (SMK3) DENGAN PELAKSANAAN SISTEM MANAJEMEN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA (Studi di RSUD Balung Kabupaten Jember)

Syukur Alhamdulillah penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, karena atas karunia-Nya peneliti dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul Hubungan antara Faktor Penghambat Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (SMK3) dengan Pelaksanaan Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (Studi di RSUD Balung Kabupaten Jember) sebagai salah satu syarat memperoleh gelar Sarjana Kesehatan Masyarakat (S.KM) Bagian Kesehatan Lingkungan dan Kesehatan Keselamatan Kerja.

17 Baca lebih lajut

ABSTRAK SISTEM MANAJEMEN KESELAMATAN DAN

ABSTRAK SISTEM MANAJEMEN KESELAMATAN DAN

SMK3 yang dilakukan oleh PT Waskita Karya (Persero) Tbk pada proyek pembangunan apartemen The Reiz Condo Medan yaitu PT Waskita Karya (Persero) Tbk menerapkan Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja Lingkungan, Mutu, dan Pengamanan (SM-K3LMP). Dan Pelaksanaan K3 pada proyek apartemen The Reiz Condo Medan yaitu PT Waskita Karya (Persero) Tbk telah melakukan identifikasi bahaya, penilaian, pengendalian risiko, serta telah melakukan audit internal secara rutin dengan ketentuan-ketentuan perusahaan sehingga PT Waskita Karya (Persero) Tbk telah diberi penghargaan berupa sertifikat audit SMK3 dan sertifikat audit sistem pengamanan.
Baca lebih lanjut

2 Baca lebih lajut

SISTEM MANAJEMEN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA

SISTEM MANAJEMEN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA

Perusahaan yang bonafide dan mempunyai prospek kedepan harus senantiasa memperhatikan keselamatan dan kesehatan kerja dari pimpinan hingga pekerja bawah. Oleh sebab itu masalah keselamatan dan kesehatan kerja sudah menjadi bagian dari perusahaan itu sendiri. Dengan sistem yang terus-menerus dan berkesinambungan terhadap pengembangan keselamatan dan kesehatan kerja diwujudkan dengan adanya sistem manajemen keselamatan dan kesehatan kerja (SMK 3) disetiap level perusahaan.

5 Baca lebih lajut

HUBUNGAN ANTARA FAKTOR PENGHAMBAT SISTEM MANAJEMEN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA (SMK3) DENGAN PELAKSANAAN SISTEM MANAJEMEN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA (Studi di RSUD Balung Kabupaten Jember)

HUBUNGAN ANTARA FAKTOR PENGHAMBAT SISTEM MANAJEMEN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA (SMK3) DENGAN PELAKSANAAN SISTEM MANAJEMEN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA (Studi di RSUD Balung Kabupaten Jember)

Tabel 4.11 menunjukkan bahwa sebagian besar responden yaitu sebanyak 47,14% berpendapat bahwa pelaksanaan SMK3 di RSUD Balung telah berjalan dengan baik dimana 7,14% dari ruang bersalin dan 7,14% dari medical center. Pelaksanaan SMK3 di rumah sakit meliputi penyuluhan K3 ke semua petugas RS, pelatihan K3 yang disesuaikan dengan kebutuhan individu dan kelompok di dalam organisasi RS, pelaksanaan program K3 sesuai peraturan yang berlaku seperti pemeriksaan kesehatan karyawan, penyediaan alat pelindung diri dan keselamatan kerja, penempatan pekerja pada pekerjaan yang sesuai kondisi kesehatan, pengobatan pekerja yang menderita sakit, melaksanakan biological monitoring. Menurut keterangan sebagian besar responden, mereka tidak pernah mengikuti penyuluhan maupun pelatihan K3 rumah sakit. Hal ini dikarenakan selama ini penyuluhan maupun pelatihan mengenai K3 dilaksanakan diluar lingkungan rumah sakit dan yang mengikuti pelatihan tersebut merupakan perwakilan yang ditunjuk oleh direktur. Umumnya responden telah sadar mengenai kesehatan. Mereka telah melaksanakan pemeriksaan kesehatan baik itu berupa pemeriksaan berkala maupun pemeriksaan kesehatan khusus apabila terjadi PAK maupun KAK. Selain itu responden telah memakai APD yang disediakan oleh pihak rumah sakit sesuai dengan kebutuhan tiap- tiap unit kerja. Namun, ada responden yang tidak memakai APD tersebut dikarenakan jumlahnya yang terbatas. Pihak rumah sakit memiliki kebijakan rolling untuk karyawan dan apabila responden mengalami PAK dan KAK maka mereka mendapatkan pengobatan dari rumah sakit.
Baca lebih lanjut

120 Baca lebih lajut

Pelaksanaan Sistem Manajemen Keselamatan bandar

Pelaksanaan Sistem Manajemen Keselamatan bandar

Lalu, penyebab yang lainnya adalah minimnya pengawasan manajemen pada pabrik tersebut. Karena pengawasan merupakan hal yang wajib dan terstruktur, mengingat pabrik tersebut adalah perusahaan manufaktur. Tentunya pihak pabrik mengetahui bahwa perusahaannya memiliki pekerjaan yang berisiko tinggi, maka dari iru pihak pabrik sangat dianjurkan untuk melakukan pengawasan secara berkala. Salah satunya adalah dengan memfasilitasi Alat Perlindungan Diri agar kejadian tersebut tidak terulang kembali.

14 Baca lebih lajut

RISK ASSESSMENT ALAT LISTRIK DAN MEKANIK PADA PROYEK OASIS DI KONTRAKTOR PT.X Repository - UNAIR REPOSITORY

RISK ASSESSMENT ALAT LISTRIK DAN MEKANIK PADA PROYEK OASIS DI KONTRAKTOR PT.X Repository - UNAIR REPOSITORY

Berdasarkan tingginya kemungkinan terjadinya kecelakaan kerja pada setiap pekerja, penanggulangan untuk menghindari kecelakaan atau penyakit akibat kerja sangatlah penting. Salah satu cara penanggulangan tersebut tertuang pada UU No. 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan yang menegaskan bahwa setiap perusahaan wajib menerapkan sistem manajemen keselamatan dan kesehatan kerja yang terintegrasi dengan sistem manajemen perusahaan (pasal 87, ayat (1)). Pengertian Sistem Manajemen Keselamatan Dan Kesehatan Kerja pada pasal 87, ayat (1) adalah : “ Sistem manajemen keselamatan dan kesehatan kerja adalah bagaian dari sistem manajemen perusahaan secara keseluruhan yang meliputi struktur organisasi, perencanaan, pelaksanaan, tanggung jawab, prosedur, proses, dan sumber daya yang dibutuhkan bagi pengembangan penerapan, pencapaian, pengkajian, dan pemeliharaan kebijakan keselamatan dan kesehatan kerja dalam rangka pengendalian risiko yang berkaitan dengan kegiatan kerja guna terciptanya tempat kerja yang aman, efisien, dan produktif.”
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

sistem manajemen keselamatan dan kesehat

sistem manajemen keselamatan dan kesehat

Dalam Undang-undang No. 13 Tahun 2003 Pasal 87 ayat 1 dinyatakan bahwa “Setiap perusahaan wajib menerapkan Sistem Manajamen Keselataman dan Kesehatan Kerja yang terintegrasi dengan system manajemen perusahaan”. Selanjutnya ketentuan mengenai penerapan Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja diatur dalam Peraturan Menteri Tenaga Kerja RI No. 05/MEN/1996 Pasal 3 ayat 1 dan 2 tentang Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja yang menyatakan bahwa “Setiap perusahaan yang mempekerjakan tenaga kerja sebanyak 100 orang atau lebih atau mengandung potensi bahaya yang dapat mengakibatkan kecelakaan kerja seperti peledakan, kebakaran, pencemaran lingkungan dan penyakit akibat kerja wajib menerapkan Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja”.
Baca lebih lanjut

81 Baca lebih lajut

TINJAUAN PUSTAKA  IDENTIFIKASI FAKTOR-FAKTOR PENYEBAB KECELAKAAN KERJA DAN PENERAPAN SAFETY MANAGEMENT PADA PROYEK KONSTRUKSI DI BALI.

TINJAUAN PUSTAKA IDENTIFIKASI FAKTOR-FAKTOR PENYEBAB KECELAKAAN KERJA DAN PENERAPAN SAFETY MANAGEMENT PADA PROYEK KONSTRUKSI DI BALI.

Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja yang disebut SMK3 adalah bagian dari sistem manajemen secara keseluruhan yang meliputi struktur organisasi, perencanaan, tanggung jawab, pelaksanaan, prosedur, proses dan sumber daya yang dibutuhkan bagi pengembangan, penerapan, pencapaian, pengkajian dan pemeliharaan kebijakan K3 dalam rangka pengendalian resiko yang berkaitan dengan kerja guna terciptanya tempat kerja yang aman, efisien dan produktif (Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor. 09 / PER / M / 2008).

Baca lebih lajut

PELAKSANAAN PERLINDUNGAN HUKUM ATAS KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA ( K3) PEGAWAI PT. KERETA API ( Persero)  Pelaksanaan Perlindungan Hukum Atas Keselamatan Dan Kesehatan Kerja ( K3) Pegawai PT. Kereta Api ( Persero) DAOP VI Yogyakarta.

PELAKSANAAN PERLINDUNGAN HUKUM ATAS KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA ( K3) PEGAWAI PT. KERETA API ( Persero) Pelaksanaan Perlindungan Hukum Atas Keselamatan Dan Kesehatan Kerja ( K3) Pegawai PT. Kereta Api ( Persero) DAOP VI Yogyakarta.

Berdasarkan uraian hasil penelitihan dan analisis data, maka dapat disimpulkan bahwa pelaksanaan sistem manajemen keselamatan dan kesehatan kerja di PT. Kereta Api ( Persero) telah dilakukan dan dijalankan dengan baik, berjalan lancar dan telah sesuai dengan Undang-undang yang berlaku, karena perusahaan disini menyadari benar bahaya yang akan timbul. Dalam pelaksanaan peningkatan produktivitas karyawan tersebut tidak terlepas dari hambatan atau problem tersebut diantaranya adalah Keterlambatan datangnya Kereta Api atas jadwal yang ditentukan, Pelayanan pemesanan tiket pada PT. Kereta Api, Adanya penumpang yang tidak memiliki tiket saat naik kereta api, Banyaknya korban jiwa atas kurangnya palang perlintasan kereta api, Kelalaian petugas penjaga perlintasan kereta api yang tidak segera menutup palang perlintasan disaat kereta api merlintas, Kurangnya perawatan sarana dan prasarana pada rel kereta api, Belum meratanya pembangunan rel kereta api di seluruh Indonesia. Untuk itulah ditetapkan cara-cara untuk mengatasi adanaya hambatan atau problem tersebut yaitu untuk permulaan diadakan musyawarah antara kedua belah pihak, selanjutnya pekerja mendapat tuguran. Apabila pekerja tersebut masih melakukan kesalahan atau pelanggaran maka pihak perusahaan akan memberikan surat peringatan ke I sampai ke III dengan disertai tindakan skorsing dan atau potong gaji. Peringatan ke IV akan diberikan jika pekerja tersebut masih mengulang kesalahan tang disertai dengan tindakan pemutusan hubungan kerja.
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

SISTEM MANAJEMEN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA

SISTEM MANAJEMEN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA

Industri pun penyumbang banyak jenis zat pencemar yang berbahaya. Salah satunya ialah raksa atau merkuri (Hg). Hg juga banyak digunakan oleh para penambang emas. Penggunaan Hg yang tidak terkontrol menyebabkan tersebarnya Hg melalui perairan laut dan sungai. Di dalam air Hg mengalami metilasi oleh jasad renik menjadi monometilmerkuri yang sangat beracun. Monometilmerkuri larut dalam air dan mudah terserap oleh ikan dan dari ikan terakumulasi dalam tumbuh manusia yang memakan ikan. Hg anorganik merusak ginjal dan hati. Metilmerkuri mengganggu fungsi otak dan metabolisme sistem saraf serta membentuk ikatan yang kuat dengan gugus sulfur dalam protein dan enzim sehingga mengganggu berbagai sistem enzim dan mekanisme sintetik.
Baca lebih lanjut

5 Baca lebih lajut

IDENTIFIKASI BAHAYA DAN PENILAIAN RISIKO (1)

IDENTIFIKASI BAHAYA DAN PENILAIAN RISIKO (1)

Setiap lingkungan atau tempat kerja mengandung potensi bahaya yang tinggi sehingga diperlukan suatu upaya pencegahan dan pengendalian agar tidak terjadi kecelakaan kerja. Penyebab kecelakaan kerja disebabkan oleh tindakan orang yang tidak mematuhi keselamatan kerja (unsafe action) dan keadaan-keadaan lingkungan atau proses dan sistem yang tidak aman (unsafe condition). Pengidentifikasian bahaya dan risiko kerja merupakan tahap awal yang harus diperhatikan oleh perusahaan. Tujuan dari penelitian adalah mencegah terjadinya bahaya risiko K3 terhadap tindakan perawatan, dan mengetahui sumber bahaya keselamatan dan kesehatan kerja dalam tindakan perawatan dan perbaikan dalam sistem yang diter apkan. Penelitian dilakukan dengan menggunakan metode deskriptif yang mendeskripsikan terkait identifikasi dan penilaian risiko K3. Pengambilan data mengenai identifikasi dan penilaian risiko dianalisa dengan HIRARC (Hazard Identification Risk Assessment and Risk Control), kemudian akan dievaluasi dan ditentukan upaya perbaikan dan pengendalian risiko bahaya di tempat kerja sehingga tempat kerja menjadi aman. Hasil penelitian ini adalah hasil risk assessment teridentifikasi 70 resiko dari 52 bahaya dari 5 proses tindakan perawatan dan perbaikan yang di klasifikasikan risiko rendah 16 %, sedang 54 %, tinggi 27% dan extrim 3%. Pengendalian risiko untuk terkena sengatan listrik pada saat menghidupkan panel operasional, tindakan pengendalian/penurunan risiko dapat dilakukan dengan penggunaan APD seperti safety shoes dan sarung tangan kulit, iritasi karena percikan dan terserap ke dalam mata dan kulit, gangguan pernafasan karena menghirup gas/uap dapat dilakukan tindakan pengendalian/pengurangan risiko dengan menggunakan APD (googles, masker) MSDS material, serta larangan makan dan minum di tempat kerja, kebakaran, tindakan pengendalian resiko dapat dilakukan yaitu penyedian alat pemadam kebakaran dan Untuk jatuh dari ketinggian, tindakan pengendalian yang dilakuka n dengan menggunakan APD yaitu safety belt dan body harness pada saat bekerja di tempat ketinggian serta melakukan rekayasa engineering atau modifikasi pemasangan hand rail
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

SISTEM MANAJEMEN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA

SISTEM MANAJEMEN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA

Pencemaran lingkungan merupakan masalah kita bersama, yang semakin penting untuk disele- saikan, karena menyangkut keselamatan, kesehatan, dan kehidupan kita. Siapapun bisa berperan serta dalam menyelesaikan masalah pencemaran lingkungan ini, termasuk kita. Dimulai dari lingkungan yang terkecil, diri kita sendiri, sampai ke lingkungan yang lebih luas. Permasalahan pencemaran ling- kungan yang harus segera kita atasi bersama diantaranya pencemaran air tanah dan sungai, pencema- ran udara perkotaan, kontaminasi tanah oleh sampah, hujan asam, perubahan iklim global, penipisan lapisan ozon, kontaminasi zat radioaktif, dan sebagainya.
Baca lebih lanjut

12 Baca lebih lajut

SISTEM MANAJEMEN KESELAMATAN KESEHATAN docx

SISTEM MANAJEMEN KESELAMATAN KESEHATAN docx

Metode penilaian dapat digunakan untuk memperhitungkan resiko yang teridentifikasi oleh penilaian resiko. Penilaian metode juga dapat menghitung organisasi keselamatan dan kesehatan perusahaan dan pelatihan prosedur yang dilakukan pada saat menghadapi keadaan yang berbahaya. Penilaian metode mendeskripsikan urutan logis bagaimana pekerjaan harus dilakukan dengan cara yang aman dan tanpa resiko kesehatan, mencakup semua tindakan pengendalian.

10 Baca lebih lajut

SISTEM MANAJEMEN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA

SISTEM MANAJEMEN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA

Kepemimpinan adalah suatu kegiatan mempengaruhi orang lain agar orang tersebut mau bekerja sama untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Kepemimpinan juga sering dikenal sebagai kemampuan untuk memperoleh konsensus anggota organisasi untuk melakukan tugas manajemen agar tujuan organisasi tercapai.

8 Baca lebih lajut

Sistem Manajemen Keselamatan Kesehatan K

Sistem Manajemen Keselamatan Kesehatan K

Dalam salah satu pasal 11 ayat 2, pada Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 50 Tahun 2012 Tentang Penerapan Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja, “upaya menghadapi keadaan darurat kecelakaan dan bencana industri”. Tidak dapat dipungkiri bahwa dalam perencanaan wilayah dan kota pun memiliki potensi akan terjadi hal yang demikian.

30 Baca lebih lajut

PENDAHULUAN  Pengaruh Penerapan Program Keselamatan dan Kesehatan Kerja Terhadap Kinerja Karyawan Bagian Produksi PT. Djitoe Indonesian Tobacco Surakarta.

PENDAHULUAN Pengaruh Penerapan Program Keselamatan dan Kesehatan Kerja Terhadap Kinerja Karyawan Bagian Produksi PT. Djitoe Indonesian Tobacco Surakarta.

Seiring perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang canggih serta munculnya inovasi-inovasi baru di bidang teknik produksi, telah mendorong perusahaan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan sumber daya manusianya, agar dapat menghasilkan produk yang berkualitas tinggi. Sumber daya manusia sebagai karyawan tidak lepas dari masalah yang berkaitan dengan keselamatan dan kesehatan kerja saat bekerja, dengan menjamin keselamatan dan kesehatan kerja dapat menumbuhkan semangat kerja pada karyawan (Ilfani, 2013).

Baca lebih lajut

PELAKSANAAN SISTEM MANAJEMEN KESEHATAN DAN KESELAMATAN KERJA RUMAH SAKIT (SMK3RS) UNTUK MEMENUHI HAK TENAGA KESEHATAN RUMAH SAKIT UMUM ROEMANI SEMARANG

PELAKSANAAN SISTEM MANAJEMEN KESEHATAN DAN KESELAMATAN KERJA RUMAH SAKIT (SMK3RS) UNTUK MEMENUHI HAK TENAGA KESEHATAN RUMAH SAKIT UMUM ROEMANI SEMARANG

Alhamdulillahhirobbilalamain, berkat rahmat dan karunian-Nya yang telah melimpahkan nikmat sehat sehingga penulis dapat menyelesaikan penyusunan proposal tesis dengan judul Pelaksanaan Sistem Manajemen Kesehatan dan Keselamatan Kerja (SMK3) Untuk Memenuhi Hak Tenaga Kesehatan Rumah Sakit Umum Roemani Kota Semarang. Sistem Manajemen Kesehatan dan Keselamatan Kerja di Rumah Sakit merupakan bagian dari manajemen rumah sakit yang dibentuk dalam rangka upaya untuk menciptakan tempat kerja yang aman, sehat, bebas dari pencemaran lingkungan, sehingga dapat mengurangi dan atau bebas dari kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja. Dari hasil penelitian yang telah dilakukan di Rumah Sakit Umum Roemani Semarang, mengenai pelaksanaan sistem manajemen kesehatan dan keselamatan kerja (SMK3) untuk memenuhi hak tenaga kesehatan rumah sakit sudah melaksanakannya namun belum berjalan secara optimal.
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehat (1)

Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehat (1)

SMK3 diwajibkan bagi perusahaan, mempekerjakan lebih dari 100 org dan mempunyai tingkat potensi bahaya tinggi. Untuk itu perusahaan diwajibkan menyusun Rencana K3, dalam menyusun rencana K3 tersebut, pengusaha melibatkan Ahli K3, Panitya Pembina Keselamatan dan Kesehatan Kerja(P2K3), Wakil Pekerja dan Pihak Lain yag terkait

Baca lebih lajut

HUBUNGAN PENERAPAN SISTEM MANAJEMEN KESETAN DAN KESEHATAN KERJA DENGAN MOTIVASI KERJA DAN STRES KERJA PADA PERAWAT DI RSU ANUTAPURA PALU | Salmawati | Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan 5770 47263 1 PB

HUBUNGAN PENERAPAN SISTEM MANAJEMEN KESETAN DAN KESEHATAN KERJA DENGAN MOTIVASI KERJA DAN STRES KERJA PADA PERAWAT DI RSU ANUTAPURA PALU | Salmawati | Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan 5770 47263 1 PB

Bahaya-bahaya potensial di rumah sakit yang disebabkan oleh faktor biologi (virus, bakteri, jamur, dan lain-lain); faktor kimia (antiseptik, gas anastesi, dan lain-lain); faktor ergonomi (cara kerja yang salah, dan lain-lain); faktor fisik (suhu, cahaya, bising, listrik, getaran, radiasi, dan lain-lain); faktor fisiko sosial (kerja bergilir, hubungan sesama pekerja/atasan, stres kerja,motivasi kerja, dan lain-lain) dapat meng- akibatkan penyakit dan kecelakaan akibat kerja. Kecelakaan kerja yang terjadi pada petugas kesehat- an dipengaruhi oleh beberapa faktor. Faktor penyebab yang sering terjadi karena kurangnya kesadaran pe- kerja dan kualitas serta keterampilan pekerja yang kurang memadai. Banyak pekerja yang meremehkan risiko kerja, sehingga tidak menggunakan alat-alat pengaman walaupun sudah tersedia, serta kurangnya motivasi kerja dan tingginya stres kerja yang dialami oleh pekerja rumah sakit. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara penerapan Sis- tem manajemen keselamatan dan kesehatan kerja (SMK3) dengan motivasi kerja dan stres kerja pada perawat yang bekerja di Rumah Sakit Umum (RSU) Anutapura Palu.
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...