Top PDF Due Diligence dalam Akuisisi Perseroan Terbatas Berdasarkan Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 Tentang Perseroan Terbatas.

Due Diligence dalam Akuisisi Perseroan Terbatas Berdasarkan Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 Tentang Perseroan Terbatas.

Due Diligence dalam Akuisisi Perseroan Terbatas Berdasarkan Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 Tentang Perseroan Terbatas.

Pengalaman menunjukkan bahwa banyak masalah hukum yang krusial dalam suatu perusahaan tidak sampai kelihatan ke permukaan yang sebenarnya cukup potensial untuk meledak di kemudian hari. Masalah hukum tersebut sangat bergraduasi 11 , mulai dari hanya persoalan kecil yang dapat segera diperbaiki sampai dengan masalah serius yang tidak dapat diperbaiki dan dapat mengancam eksistensi perusahaan itu sendiri. Bisa saja kelihatannya perusahaan tersebut mempunyai kinerja keuangan yang baik, tetapi terdapat masalah hukum yang tersembunyi dan fatal. Masalah hukum tersebut misalnya dapat mengancam untuk turun tangannya pemerintah mencabut izin usahanya, atau ancaman kepailitan ataupun ancaman atas penyitaan aset utama dari perusahaan tersebut oleh pengadilan atau aparat hukum yang berwenang atau oleh pihak krediturnya. Hal- hal tersebut atau hal-hal yuridis yang krusial lainnya baru akan terbongkar jika dilakukan due diligence yang baik terhadap perusahaan yang bersangkutan. 12
Baca lebih lanjut

110 Baca lebih lajut

Tinjauan Yuridis Atas Akuisisi Perusahaan Setelah Berlakunya Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas

Tinjauan Yuridis Atas Akuisisi Perusahaan Setelah Berlakunya Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas

Law No.40/2007 on Corporation (also called UUPT/2007, Article 1 paragraph 11 states: “The expropriation (also called acquisition) constitutes a legal act which is done by a legal entity or individuals to expropriate corporation shares which causes the management of the corporation to be expropriated. Acquisition does not mean that the company whose shares have been expropriated becomes closed down or terminated. It can be done by the board of directors or by the shareholders directly. Before the acquisition is conducted, they have to know the situation and the condition of the company (due diligence). It is aimed to give information and facts about the condition of a certain company in order to avoid any risk which will possibly occur. In doing the acquisition, it is important to consider the company’s interest, minority shareholders, the employees, the creditors and other business partners, the public and healthy business competition; all of these are aimed to avoid any possibility of ‘monopoly’ and monopsony’. Law No. 5/1999 on the Prohibition of the Practice of Monopoly and Unhealthy Business Competition appointed KPPU (Business Competition Supervisory Committee) as an independent institution to monitor the process of acquisition. The monitoring was started when the acquisition is being acknowledged officially by implementing pre-notification and post notification. The acquisition was validated by the Minister of Law and Human Rights after the expropriation document had been signed by a Notary. The problems which arose in the thesis, entitled “Judicial View on the Acquisition of a Company with the imposition of Law No. 40/2007 on Corporation” was about how the regulation of acquisition of a company which was based on Law No. 40/2007 on Corporation, whether legal restrictions occurred in the process of the acquisition of a certain company and what the legal solution in the acquisition of a certain company was to avoid the practice of monopoly. The research used legal theory because the acquisition was done by both parties that are related to the parties concerned such as the stakeholders, the public, and the creditors who had to be treated fairly.
Baca lebih lanjut

142 Baca lebih lajut

Tinjauan Yuridis Pembubaran Perseroan Terbatas Berdasarkan Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007

Tinjauan Yuridis Pembubaran Perseroan Terbatas Berdasarkan Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007

renteng atas perbuatan hukumersebut. Oleh karena itu Direksi perseroan hanya boleh melakukanperbuatan hukum atas nama perseroan yang belum memperolehstatus badan hukum dengan persetujuan semua pendiri, anggotaDireksi dan anggota Dewan Komisaris. Perseroan yang belum memperoleh status badan hukum, tidak dapat diadakan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) dimana keputusan diambil berdasarkan suara setuju mayoritas. Oleh karena itu setiap perubahan akta pendirian perseroan hanya dapat dibuat apabila disetujui oleh semua pendiri dan perubahan tersebut harus dituangkan dalam akta notaris yang ditandatangani oleh semua pendiri atau kuasa mereka yang sah. Sesuai Pasal 7 ayat (4) Undang-undang Perseroan Terbatas, status badan hukum diperoleh sejak akta pendirian disahkan oleh Menteri Hukum Dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia. Ini berarti secara prinsipnya pemegang saham tidak bertanggungjawab secara pribadi atas seluruh perikatan yang dibuat oleh dan atas nama perseroan dengan pihak ketiga, dan oleh karenanya tidak bertanggungjawab atas setiap kerugian yang diderita oleh perseroan. Para pemegang saham tersebut hanya bertanggungjawab atas penyetoran penuh dari nilai saham yang telah diambil bagian olehnya.
Baca lebih lanjut

141 Baca lebih lajut

Kajian Yuridis Terhadap Koperasi Apabila Berubah Menjadi Perseroan Terbatas Berdasarkan Undang-Undang Nomor 25 Tahun 1992 dan Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 Tentang Perseroan Terbatas

Kajian Yuridis Terhadap Koperasi Apabila Berubah Menjadi Perseroan Terbatas Berdasarkan Undang-Undang Nomor 25 Tahun 1992 dan Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 Tentang Perseroan Terbatas

Prinsip ini berlaku tidak ubahnya dengan prinsip umum dari tanggung jawab kolegial, yakni tanggung jawab renteng, misalnya di antara para direktur, jika salah seorang direktur menyebabkan kerugian bagi orang lain sejauh hal tersebut dilakukannya tidak dalam hal melanggar anggaran dasar, atau melanggar tugas ”semi fiduciary” dari direktur. Hanya saja, terhadap prinsip presumsi kolegial ini dibuka kemungkinan pengecualiannya dengan sistem pembuktian terbalik (ompkering vanbewijst last). Artinya kepada anggota direktur diberikan kemungkinan untuk mengelak dari tanggungjawab renteng jika dia dapat membuktikan bahwa dia tidak bersalah. Sistem tanggung jawab presumsi kolegial ini berlaku misalnya dalam hal tanggung jawab renteng direksi yang karena kesalahannya menimbulkan kepailitan terhadap suatu perseroan. Anggota direksi yang dapat membuktikan bahwa kepailitan perseroan tersebut bukan karena kesalahannya atau kelalaiannya, maka dia tidak ikut bertanggung jawab secara renteng dengan anggota direktur lainnya Pasal 104 ayat (4) UUPT
Baca lebih lanjut

96 Baca lebih lajut

Implementasi Ketentuan Pasal 155 Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 Tentang Perseroan Terbatas Dalam Pengurusan Perusahaan

Implementasi Ketentuan Pasal 155 Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 Tentang Perseroan Terbatas Dalam Pengurusan Perusahaan

Berdasarkan hal tersebut diatas, perlu adanya suatu penelitian ilmiah yang membahas mengenai persoalan yang diterangkan diatas. Agar didalam pembebanan tanggung jawab kepada direksi maupun Perseroan Terbatas adanya suatu batasan yang jelas, baik secara teori hukum, maupun dalam penegakan hukum. Dan hal ini menjadi penting untuk memberikan perlindungan dan kepastian hukum kepada direksi sebagai pengurus perusahan, agar tidak secara mudah dan cepat dapat dikenakan pertanggungjawaban pidana, atas setiap kebijakan-kebijakan bisnis yang dibuatnya, dalam hal melakukan pengurusan perusahaan.
Baca lebih lanjut

14 Baca lebih lajut

Kajian Yuridis Terhadap Koperasi Apabila Berubah Menjadi Perseroan Terbatas Berdasarkan Undang-Undang Nomor 25 Tahun 1992 dan Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 Tentang Perseroan Terbatas

Kajian Yuridis Terhadap Koperasi Apabila Berubah Menjadi Perseroan Terbatas Berdasarkan Undang-Undang Nomor 25 Tahun 1992 dan Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 Tentang Perseroan Terbatas

Prinsip koperasi bersifat gotong royong, kerja sama dan mempunyai solidaritas yang kuat. Didalam perkoperasian secara langsung mendidik anggotanya untuk hidup hemat, suka menabung, menjauhi sikap pemerasan terhadap orang lain, menjauhi sifat boros, dan tidak bergaya hidup mewah. Pengertian organisasi ekonomi dalam UUD 1945 dan UU Koperasi menggariskan bahwa koperasi adalah organisasi ekonomi yang berwatak sosial. Pengertian organisasi ekonomi dalam undang-undang tersebut dimana koperasi diberikan kebebasan berusaha dan mencari keuntungan yang wajar bagi kepentingan anggotanya dengan tidak mengabaikan fungsi sosial sebagai watak asli koperasi. Hal ini tercermin dalam pembagian keuntungan melalui dana-dana pembangunan, dana sosial, dana pendidikan, dan lain-lain. Semakin besar keuntungan yang diperoleh koperasi, semakin besar pula dana yang disediakan untuk pembangunan kesejahteraan sosial bagi seluruh masyarakat wilayahnya.
Baca lebih lanjut

20 Baca lebih lajut

MERGER DAN AKUISISI k 11.docx

MERGER DAN AKUISISI k 11.docx

Akuisisi adalah pengambilalihan sebagian besar (lebih dari 50%) atau seluruh kepemilikan suatu bank. Akuisisi merupakan lembaga hukum yang dalam kontek undang-undang Nomor 40 tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas (UUPT) dikenal dengan istilah pengambilalihan, yaitu perbuatan hokum yang dilakukan oleh badan hukum atau orang perseorangan untuk mengambil alih saham perseroan yang mengakbatkan beralihnya pengendalian atas perseroan tersebut.

15 Baca lebih lajut

AKIBAT HUKUM PERSEROAN TERBATAS YANG BELUM MELAKUKAN PENYESUAIAN ANGGARAN DASAR TERHADAP UNDANG-UNDANG NOMOR 40 TAHUN 2007 TENTANG PERSEROAN TERBATAS.

AKIBAT HUKUM PERSEROAN TERBATAS YANG BELUM MELAKUKAN PENYESUAIAN ANGGARAN DASAR TERHADAP UNDANG-UNDANG NOMOR 40 TAHUN 2007 TENTANG PERSEROAN TERBATAS.

Pada hakikatnya suatu PT mempunyai dua sisi, yang pertama sebagai suatu badan dan yang kedua pada sisi yang lain adalah suatu wadah atau tempat diwujudkannya kerjasama antara pemegang saham atau pemilik modal. Jelas terlihat bahwa PT merupakan suatu badah hukum yang sengaja diciptakan dengan demikian PT adalah subyek hukum yang mandiri, yang mempunyai hak dan kewajiban, yang pada dasarnya tidak berbeda dengan hak dan kewajiban subyek hukum manusia. Sebagai suatu subyek hukum yang mandiri, maka keberadaan PT tidak bergantung pada keberadaan para pemegang saham, direksi dan dewan komisaris. Pergantian pemegang saham, direksi, atau komisaris tidak mempengaruhi keberadaan PT. maka suatu perbuatan perdata semata-mata tidak dapat menjadikan suatu organisasi menjadi badan hukum, akan tetapi harus berdasarkan undang-undang. Hal ini berbeda dengan yayasan yang menjadi badan hukum berdasarkan sistem terbuka yaitu dengan tidak berdasar pada undang-undang atau dengan undang-undang, tetapi berdasarkan kebiasaan, doktrin, dan mungkin didukung oleh yurisprudensi 21 . Jika dilihat dari butir 9.0 lampiran III Kepmen Nomor. M.03-PR.08.01 Tahun 1996, tentang tata Cara Penyampaian Laporan Akta
Baca lebih lanjut

63 Baca lebih lajut

AKIBAT HUKUM PERSEROAN TERBATAS YANG BELUM MELAKUKAN PENYESUAIAN ANGGARAN DASAR TERHADAP UNDANG-UNDANG NOMOR 40 TAHUN 2007 TENTANG PERSEROAN TERBATAS.

AKIBAT HUKUM PERSEROAN TERBATAS YANG BELUM MELAKUKAN PENYESUAIAN ANGGARAN DASAR TERHADAP UNDANG-UNDANG NOMOR 40 TAHUN 2007 TENTANG PERSEROAN TERBATAS.

Pada hakikatnya suatu PT mempunyai dua sisi, yang pertama sebagai suatu badan dan yang kedua pada sisi yang lain adalah suatu wadah atau tempat diwujudkannya kerjasama antara pemegang saham atau pemilik modal. Jelas terlihat bahwa PT merupakan suatu badah hukum yang sengaja diciptakan dengan demikian PT adalah subyek hukum yang mandiri, yang mempunyai hak dan kewajiban, yang pada dasarnya tidak berbeda dengan hak dan kewajiban subyek hukum manusia. Sebagai suatu subyek hukum yang mandiri, maka keberadaan PT tidak bergantung pada keberadaan para pemegang saham, direksi dan dewan komisaris. Pergantian pemegang saham, direksi, atau komisaris tidak mempengaruhi keberadaan PT. maka suatu perbuatan perdata semata-mata tidak dapat menjadikan suatu organisasi menjadi badan hukum, akan tetapi harus berdasarkan undang-undang. Hal ini berbeda dengan yayasan yang menjadi badan hukum berdasarkan sistem terbuka yaitu dengan tidak berdasar pada undang-undang atau dengan undang-undang, tetapi berdasarkan kebiasaan, doktrin, dan mungkin didukung oleh yurisprudensi 21 . Jika dilihat dari butir 9.0 lampiran III Kepmen Nomor. M.03-PR.08.01 Tahun 1996, tentang tata Cara Penyampaian Laporan Akta
Baca lebih lanjut

66 Baca lebih lajut

BAB II PENYETORAN MODAL PERSEROAN TERBATAS MELALUI PERNYATAAN MENYETORKAN MODAL A. Penyetoran Modal Pada Saat Pendirian Perseroan Terbatas - Aspek Hukum Kelalaian Menyetorkan Modal Dalam Proses Pendirian Perseroan Terbatas Dan Akibat Hukumnya

BAB II PENYETORAN MODAL PERSEROAN TERBATAS MELALUI PERNYATAAN MENYETORKAN MODAL A. Penyetoran Modal Pada Saat Pendirian Perseroan Terbatas - Aspek Hukum Kelalaian Menyetorkan Modal Dalam Proses Pendirian Perseroan Terbatas Dan Akibat Hukumnya

Perseroan harus berdasarkan “perjanjian” para pendiri. Hal ini ditegaskan dalam Pasal 1 ayat (1) Undang-undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas. Hal tersebut juga dinyatakan pada Pasal 1313 Kitab Undang-undang Hukum Perdata bahwa perjanjian pendirian sebuah perseroan dilakukan secara “konsensual” dan “kontraktual”. Artinya, bahwa pendirian perseroan dilakukan oleh para pendiri atas persetujuan, dimana para pendiri antara satu dan yang lain saling mengikatkan dirinya untuk mendirikan perseroan terbatas. Perjanjian berbentuk akta Notaris (notarial deed) harus dibuat secara tertulis, tidak boleh berbentuk akta dibawah tangan (private instrument). 58
Baca lebih lanjut

33 Baca lebih lajut

ERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP PERSEROAN TERBATAS ATAS PEMBELIAN KEMBALI SAHAM DI PASAR MODAL BERDASARKAN UNDANG-UNDANG NOMOR 40 TAHUN 2007 TENTANG PERSEROAN TERBATAS

ERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP PERSEROAN TERBATAS ATAS PEMBELIAN KEMBALI SAHAM DI PASAR MODAL BERDASARKAN UNDANG-UNDANG NOMOR 40 TAHUN 2007 TENTANG PERSEROAN TERBATAS

Hasil peneltian ini bahwa latar belakang Perseroan melakukan aksi korporasi buy back saham karena perseroan berhasil meningkatkan laba dan memelihara kecukupan likuiditas, serta kegiatan usaha yang tumbuh pesat dan arus kas yang signifikan jumlahnya. Di samping alasan tersebut, Perseroan Terbatas memiliki tingkat utang (leverage) yang relatif lebih rendah dibanding perusahaan sejenis, serta dapat meningkatkan harga saham yang ada di bursa. Pemegang saham minoritas dapat memilih tetap mempertahankan sahamnya atau melakukan penjualan kembali (sale back) kepada penjual, jika itu dirasakan dapat membawa keuntungan. Pemegang saham minoritas merupakan salah satu stakeholders disamping stakeholders lainnya, yaitu pemegang saham mayoritas, direksi, komisaris, pegawai dan kreditor. Lebih dari itu, bersama-sama dengan pemegang saham mayoritas, pemegang saham minoritas juga merupakan pihak yang membawa keuntungan bagi pemasukan perusahaan (bagholders). Dalam hal pemegang saham minoritas akan melakukan buy back maka perseroan mengembalikan keputusan berdasarkan RUPS (Pasal 38 ayat (1) UUPT). Akan tetapi apabila tujuan buy back sudah sesuai dengan ketentuan yang berlaku (Pasal 37 UUPT), tidak ada alasan bagi pemegang saham minoritas untuk tidak menjual kembali sahamnya. Dalam hal terdapat upaya konsolidasi atas perusahaan, maka pemegang saham minoritas (biasanya pihak yang kalah) dapat mengajukan appraisal rights yang merupakan salah satu keistimewaan yang diberikan oleh Pasal 102 juncto 123 UUPT.
Baca lebih lanjut

16 Baca lebih lajut

KAJIAN YURIDIS KEDUDUKAN HUKUM DAN TANGGUNG JAWAB DIREKSI PERSEROAN TERBATAS MENURUT UNDANG-UNDANG NOMOR 40 TAHUN 2007 TENTANG PERSEROAN TERBATAS

KAJIAN YURIDIS KEDUDUKAN HUKUM DAN TANGGUNG JAWAB DIREKSI PERSEROAN TERBATAS MENURUT UNDANG-UNDANG NOMOR 40 TAHUN 2007 TENTANG PERSEROAN TERBATAS

Perseroan Terbatas, menurut Undang-Undang No. 40 tahun 2007 Pasal 1 angka 1, adalah badan hukum yang merupakan persekutuan modal, didirikan berdasarkan perjanjian, melakukan kegiatan usaha dengan modal dasar yang seluruhnya terbagi dalam saham dan memenuhi persyaratan yang ditetapkan dalam Undang-Undang ini serta peraturan pelaksanaannya. Perseroan Terbatas (PT) sebagai badan hukum, dia memiliki status, kedudukan dan kewenangan yang dapat dipersamakan dengan manusia sehingga disebut sebagai artificial person, yaitu sesuatu yang diciptakan oleh hukum guna memenuhi kebutuhan perkembangan kehidupan masyarakat. Oleh karenanya Perseroan Terbatas ini merupakan subjek hukum yang menyandang hak dan/ atau kewajiban yang diakui oleh hukum. Berdasarkan latar belakang tersebut, penulis tertarik untuk mengkaji permasalahan yang ada di dalam suatu karya ilmiah berupa skripsi dengan judul: “KAJIAN YURIDIS KEDUDUKAN HUKUM DAN TANGGUNG JAWAB DIREKSI PERSEROAN TERBATAS MENURUT UNDANG-UNDANG NOMOR 40 TAHUN 2007 TENTANG PERSEROAN TERBATAS.
Baca lebih lanjut

16 Baca lebih lajut

AKIBAT HUKUM PEMBUBARAN PERSEROAN TERBATAS DITINJAU DARI UNDANG-UNDANG NOMOR 40 TAHUN 2007 TENTANG PERSEROAN TERBATAS

AKIBAT HUKUM PEMBUBARAN PERSEROAN TERBATAS DITINJAU DARI UNDANG-UNDANG NOMOR 40 TAHUN 2007 TENTANG PERSEROAN TERBATAS

Bahwa pembubaran perseroan dapat terjadi baik dikarenakan masalah internal maupun eksternal. Pembubaran karena masalah internal dapat dikarenakan Berdasarkan keputusan RUPS yang telah disepakati oleh seluruh pemegang saham. Berdasarkan jangka waktu berkhirnya perseroan yang telah ditetapkan dalam Anggaran Dasar. Pembubaran yang disebabkan karena faktor eksternal dapat terjadi karena adanya penetapan Pengadilan Negeri. Pembubaran juga dapat terjadi karena disebabkan atas kepailitan yang terjadi dalam perseroan.

16 Baca lebih lajut

BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Tinjauan Umum Corporate Social Responsibility 1. Pengertian Corporate Social Responsibility (CSR) - PELAKSANAAN CORPORATE SOCIAL RESPONSIBILITY (CSR) PADA PT TIGA PUTRA ABADI PERKASA PURBALINGGA - repository perpustakaan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Tinjauan Umum Corporate Social Responsibility 1. Pengertian Corporate Social Responsibility (CSR) - PELAKSANAAN CORPORATE SOCIAL RESPONSIBILITY (CSR) PADA PT TIGA PUTRA ABADI PERKASA PURBALINGGA - repository perpustakaan

kepentingan dan tidak mempergunakan posisinya sebagai direksi untuk memperoleh keuntungan pribadi. Perbuatan yang melanggar kepentingan dapat dikategorikan sebagai tindakan penyalahgunaan kewenangan (abuse of authority). Berdasarkan Pasal 98 Undang-undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas juga menentukan bahwa kewenangan perseroan oleh direksi adalah tidak terbatas dan tidak bersyarat, sepanjang tidak ditentukan lain dalam Undang-undang ini, anggaran dasar maupun keputusan (RUPS). Kapasitas direksi untuk mewakili perseroan adalah kuasa atau perwakilan karena Undang-undang, direksi tidak membutuhkan kuasa dari perseroan sebab kuasa yang dimilikinya atas nama perseroan yang melekat secara inherent pada diri jabatan direksi berdasarakan Undang- undang
Baca lebih lanjut

39 Baca lebih lajut

KAJIAN YURIDIS KEDUDUKAN HUKUM DAN TANGGUNG JAWAB DIREKSI PERSEROAN TERBATAS MENURUT UNDANG-UNDANG NOMOR 40 TAHUN 2007 TENTANG PERSEROAN TERBATAS

KAJIAN YURIDIS KEDUDUKAN HUKUM DAN TANGGUNG JAWAB DIREKSI PERSEROAN TERBATAS MENURUT UNDANG-UNDANG NOMOR 40 TAHUN 2007 TENTANG PERSEROAN TERBATAS

Perseroan Terbatas, menurut Undang-Undang No. 40 tahun 2007 Pasal 1 angka 1, adalah badan hukum yang merupakan persekutuan modal, didirikan berdasarkan perjanjian, melakukan kegiatan usaha dengan modal dasar yang seluruhnya terbagi dalam saham dan memenuhi persyaratan yang ditetapkan dalam Undang-Undang ini serta peraturan pelaksanaannya. Perseroan Terbatas (PT) sebagai badan hukum, dia memiliki status, kedudukan dan kewenangan yang dapat dipersamakan dengan manusia sehingga disebut sebagai artificial person, yaitu sesuatu yang diciptakan oleh hukum guna memenuhi kebutuhan perkembangan kehidupan masyarakat. Oleh karenanya Perseroan Terbatas ini merupakan subjek hukum yang menyandang hak dan/ atau kewajiban yang diakui oleh hukum. Berdasarkan latar belakang tersebut, penulis tertarik untuk mengkaji permasalahan yang ada di dalam suatu karya ilmiah berupa skripsi dengan judul: “KAJIAN YURIDIS KEDUDUKAN HUKUM DAN TANGGUNG JAWAB DIREKSI PERSEROAN TERBATAS MENURUT UNDANG-UNDANG NOMOR 40 TAHUN 2007 TENTANG PERSEROAN TERBATAS.
Baca lebih lanjut

16 Baca lebih lajut

Penerapan Gugatan Class Action Dalam Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 Tentang Perseroan Terbatas

Penerapan Gugatan Class Action Dalam Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 Tentang Perseroan Terbatas

Dalam melaksanakan usahanya, Perseroan Terbatas atau dipersamakan di sini dengan perusahaan harus memperhatikan seluruh aspek, yaitu aspek keuangan, aspek sosial, dan aspek lingkungan yang berdasarkan konsep Triple Bottom Line. Tidak hanya mementingkan keuntungan yang akan dicapai. Perusahaan sebagai pelaku bisnis di dalam menjalankan usahanya yaitu dituntut untuk semakin memperhatikan keadaan sosial dan lingkungan yang ada di sekitarnya. Jadi ketika suatu perseroan tersebut telah memperoleh keuntungan, maka perusahaan tersebut harus menyadari bahwa ada masyarakat di sekitarnya dan memikirkan tanggung jawab apa yang harus dilakukannya terhadap masyarakat tersebut. Karena perusahaan tersebut awalnya adalah berdiri untuk memenuhi kebutuhan dan kepentingan masyarakat, bukan hanya untuk mencari keuntungan sendiri. Terutama perusahaan-perusahaan yang mengusai hajat hidup orang banyak. Hal inilah yang dikatakan tanggung jawab sosial perusahaan terhadap masyarakat sekitar.
Baca lebih lanjut

124 Baca lebih lajut

Mekanisme pendirian perseroan terbatas PT.umar power(Pada: Notaris & PPAT Dradjat Darmadji, S.H., di Jakarta)

Mekanisme pendirian perseroan terbatas PT.umar power(Pada: Notaris & PPAT Dradjat Darmadji, S.H., di Jakarta)

Setelah perseroan disahkan sebagai badan hukum, maka perseroan tersebut harus memenuhi asas publisitas, yaitu dengan mendaftarkan perseroan ke dalam daftar perseroan yang diterbitkan dan diselenggaraakn oleh menteri. Ketentuan daftar perseroan yang diatur dalam Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas ini berhubungan dengan UndangUndang Nomor 3 Tahun 1982 dan Keputusan Menteri Perindustrian dan Perdagangan Republik Indoensia Nomor 12/MPP/kep/1998 tentang Penyelenggaraan Wajib Daftar Perusahaan. Kegiatan pendaftaran tersebut diadakanoleh Menteri Perindustrian dan Perdagangan (sekarang Menteri Perdagangan). Peraturan tersebut mensyaratkan setiap korporasi wajib mendaftarkan korporasinya berdasarkan akta – akta yang telah diotorisasi oleh Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia. Otorisasi tersebut meliputi; Akta Pendirian sesuai denganpengesahan menteri kehakiman, akta perubahan anggaran dasar dan surat persetujuan menteri; atau akta perubahan anggaran dasar dan laporan kepada menteri. 74
Baca lebih lanjut

139 Baca lebih lajut

AKIBAT HUKUM PEMBUBARAN PERSEROAN TERBATAS DITINJAU DARI UNDANG-UNDANG NOMOR 40 TAHUN 2007 TENTANG PERSEROAN TERBATAS

AKIBAT HUKUM PEMBUBARAN PERSEROAN TERBATAS DITINJAU DARI UNDANG-UNDANG NOMOR 40 TAHUN 2007 TENTANG PERSEROAN TERBATAS

Salah satu tujuan utama dari pendirian perseroan adalah untuk memperoleh keuntungan dan roda perseroan tetap dapat berjalan dengan baik, karenanya diantara para pemilik perseroan atau pemegang saham dengan pengurus dan karyawan perseroan harus tetap terjalin kekompakan dan kerja sama yang baik agar perkembangan dan roda perseroan tetap dapat berjalan dengan sebaik-baiknya. Tujuan tersebut di atas tidak selamanya dapat tercapai dengan baik, bahkan suatu perseroan yang sebelumnya berkembang dan berjalan dengan baik serta telah menghasilkan suatu keuntungan yang besar kepada para pemegang saham, pada akhirnya mengalami suatu kerugian dan kemerosotan yang menyebabkan perseroan menjadi bubar. Penyebab dari bubarnya suatu Perusahaan Perseroan Terbatas (P.T.) secara umum bisa terjadi karenanya adalah pertentangan diantara pemegang saham sendiri, pertentangan antara pemegang saham dengan pengurus perseroan, pertentangan perseroan dengan pihak ketiga ataupun bisa juga karena suatu keadaan memaksa yang tidak bisa dihindarkan oleh perseroan, seperti karena terjadinya krisis ekonomi yang berkepanjangan yang pada akhirnya menyebabkan perseroan mengalami kerugian yang sangat besar dan menyebakan pembubaran dalam perseroan. Berdasarkan latar belakang tersebut, penulis ingin mengkaji dalam suatu karya ilmiah berbentuk skripsi dengan judul ”AKIBAT HUKUM PEMBUBARAN PERSEROAN TERBATAS DITINJAU DARI UNDANG-UNDANG NOMOR 40 TAHUN 2007 TENTANG PERSEROAN TERBATAS
Baca lebih lanjut

16 Baca lebih lajut

TANGGUNG JAWAB DIREKSI DALAM PENGURUSAN PERSEROAN BERDASARKAN UNDANG-UNDANG NOMOR 40 TAHUN 2007 TENTANG PERSEROAN TERBATAS

TANGGUNG JAWAB DIREKSI DALAM PENGURUSAN PERSEROAN BERDASARKAN UNDANG-UNDANG NOMOR 40 TAHUN 2007 TENTANG PERSEROAN TERBATAS

Direksi merupakan organ yang memegang peranan penting dalam menentukan maju atau mundurnya perseroan. Direksi menjalankan pengurusan perseroan untuk kepentingan, sesuai dengan maksud dan tujuan perseroan. Direksi berwenang menjalankan pengurusan sesuai dengan kebijakan yang dipandang tepat menurut undang-undang atau anggaran dasar perseroan tersebut. Perumusan masalah dalam penelitian ini adalah: ”B agaimanakah tanggung jawab direksi dalam pengurusan perseroan berdasarkan Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 Tentang Perseoran Terbatas? ” P okok bahasan dalam penelitian ini adalah kewajiban dan tanggung jawab direksi dalam pengurusan perseroan. Tujuan penelitian ini adalah untuk memperoleh diskripsi lengkap, rinci, dan sistematis tentang kewajiban dan tanggungjawab direksi dalam pengurusan perseroan berdasarkan Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 Tentang Perseoran Terbatas Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian hukum normatif, dengan tipe penelitian deskriptif. Metode pengumpulan data dilakukan dengan studi kepustakaan. Data selanjutnya dianalisis dengan analisis kualitatif. Hasil penelitian ini menunjukkan: (1) Kewajiban direksi dalam pengurusan perseroan berdasarkan Undang-Undang Perseroan Terbatas adalah: a) Membuat daftar pemegang saham, daftar khusus, risalah RUPS, dan risalah rapat direksi (Pasal 100 huruf (a) UUPT b) Membuat laporan tahunan dan dokumen keuangan (Pasal 100 huruf (b) UUPT c) Memelihara seluruh daftar, risalah, dan dokumen keuangan perseroan (Pasal 100 huruf (c) UUPT) d) Melaporkan kepada perseroan mengenai saham yang dimiliki anggota Direksi (Pasal 101 ayat (1) UUPT) e) Meminta persetujuan RUPS untuk mengalihkan kekayaan Perseroan (Pasal 102 ayat (1) UUPT) (2) Tanggungjawab Direksi dalam Pengurusan Perseroan menurut Undang-Undang Perseroan Terbatas adalah: (a) Bertanggungjawab secara pribadi atas kerugian Perseroan yang disebabkan oleh kesalahan atau kelalaian Direksi dalam Pengurusan Perseroan (Pasal 97 Ayat (2) UUPT) dan bertanggungjawab secara tanggung renteng setiap anggota Direksi dalam dalam hal Direksi terdiri atas dua anggota Direksi atau lebih. (Pasal 97 Ayat (3) UUPT) (b) Bertanggungjawab atas kepailitan Perseroan yang disebabkan oleh kesalahan dan kelalaian Direksi (Pasal 104 Ayat (2) UUPT.
Baca lebih lanjut

36 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...