Top PDF HUBUNGAN ANTARA KONSEP DIRI DENGAN KEMAMPUAN KOMUNIKASI INTERPERSONAL PADA REMAJA Hubungan Antara Konsep Diri Dengan Kemampuan Komunikasi Interpersonal Pada Remaja.

HUBUNGAN ANTARA KONSEP DIRI DENGAN KEMAMPUAN KOMUNIKASI INTERPERSONAL PADA REMAJA  Hubungan Antara Konsep Diri Dengan Kemampuan Komunikasi Interpersonal Pada Remaja.

HUBUNGAN ANTARA KONSEP DIRI DENGAN KEMAMPUAN KOMUNIKASI INTERPERSONAL PADA REMAJA Hubungan Antara Konsep Diri Dengan Kemampuan Komunikasi Interpersonal Pada Remaja.

Atraksi interpersonal artinya mampu meramalkan dari mana pesan akan muncul kepada siapa pesan akan mengalir, dan lebih-lebih lagi bagaimana pesan akan diterima. Ketika individu mengetahui siapa tertarik pada siapa, atau siapa menghindari siapa,individu dapat meramalkan arus komunikasi interpersonal yang akan terjadi. Semakin tertarik individu dengan seseorang, maka semakin besar kecenderungan individu berkomunikasi dengan orang lain. Kesukaan kepada orang lain, sikap positif, dan daya tarik seseorang disebut sebagai atraksi interpersonal.
Baca lebih lanjut

19 Baca lebih lajut

HUBUNGAN ANTARA KONSEP DIRI DENGAN KEMAMPUAN KOMUNIKASI INTERPERSONAL PADA REMAJA  Hubungan Antara Konsep Diri Dengan Kemampuan Komunikasi Interpersonal Pada Remaja.

HUBUNGAN ANTARA KONSEP DIRI DENGAN KEMAMPUAN KOMUNIKASI INTERPERSONAL PADA REMAJA Hubungan Antara Konsep Diri Dengan Kemampuan Komunikasi Interpersonal Pada Remaja.

Remaja mempunyai kebutuhan untuk berkomunikasi dan keinginan untuk memiliki banyak teman, namun kadang-kadang untuk membangun hubungan dengan orang lain tidak mudah. Berhubungan dengan orang lain memerlukan kemampuan berkomunikasi yang baik. Konsep diri merupakan faktor yang sangat menentukan dalam komunikasi interpersonal, karena setiap orang bertingkah laku sedapat mungkin sesuai dengan konsep dirinya. Penelitian ini bertujuan untuk 1. mengetahui apakah ada hubungan antara konsep diri dengan kemampuan komunikasi interpersonal pada remaja, 2. mengetahui tingkat kemampuan komunikasi interpersonal remaja, 3. mengetahui kondisi konsep diri remaja, 4. mengetahui sumbangan efektif konsep diri terhadap komunikasi interpersonal pada remaja. Sample dalam penelitian ini adalah siswa-siswi di SMP Negeri 1 Pedan.
Baca lebih lanjut

17 Baca lebih lajut

PENDAHULUAN  Hubungan Antara Konsep Diri Dengan Kemampuan Komunikasi Interpersonal Pada Remaja.

PENDAHULUAN Hubungan Antara Konsep Diri Dengan Kemampuan Komunikasi Interpersonal Pada Remaja.

Dalam perkembangannya, remaja mempunyai kebutuhan untuk berkomunikasi dan keinginan untuk memiliki banyak teman, namun kadang- kadang untuk membangun hubungan dengan orang lain itu sendiri tidak mudah. Berhubungan dengan orang lain memerlukan keterbukaan diri, apabila individu mau membuka diri kepada orang lain, maka orang lain yang diajak bicara akan merasa aman dalam melakukan komunikasi antarpribadi yang akhirnya orang lain tersebut akan turut membuka diri. Hal ini sesuai dengan pendapat Sugiyo (2005), keterbukaan atau sikap terbuka sangat berpengaruh dalam menumbuhkan komunikasi antarpribadi yang efektif. Keterbukaan adalah pengungkapan reaksi atau tanggapan kita terhadap situasi yang sedang dihadapi serta memberikan informasi tentang masa lalu yang relevan untuk memberikan tanggapan kita di masa kini tersebut.
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

HUBUNGAN ANTARA KONSEP DIRI DENGAN KECEMASAN  KOMUNIKASI INTERPERSONAL PADA REMAJA  Hubungan Antara Konsep Diri Dengan Kecemasan Komunikasi Interpersonal Pada Remaja.

HUBUNGAN ANTARA KONSEP DIRI DENGAN KECEMASAN KOMUNIKASI INTERPERSONAL PADA REMAJA Hubungan Antara Konsep Diri Dengan Kecemasan Komunikasi Interpersonal Pada Remaja.

Analisis data penelitian ini menggunakan Product Moment dengan bantuan program SPSS 16,0 windows dan Stepwise . Dari hasil analisis data dapat disimpulkan bahwa korelasi product moment diperoleh rxy sebesar -0,605 dengan p<0,01 hal ini berarti terdapat hubungan negatif yang sangat signifikan antara konsep diri dengan kecemasan komunikasi interpersonal. Semakin positif konsep diri maka semakin rendah kecemasan komunikasi interpersonal pada remaja dan sebaliknya. Konsep diri subyek penelitian tergolong tinggi, tingkat kecemasan komunikasi interpersonal subyek penelitian tergolong sedang. Aspek konsep diri yang paling tinggi berpengaruh terhadap kecemasan komunikasi interpersonal yaitu aspek psikis dan yang paling rendah yaitu aspek moral.
Baca lebih lanjut

19 Baca lebih lajut

HUBUNGAN ANTARA KONSEP DIRI DENGAN KEMAMPUAN KOMUNIKASI INTERPERSONAL PADA PENYANDANG TUNA DAKSA.

HUBUNGAN ANTARA KONSEP DIRI DENGAN KEMAMPUAN KOMUNIKASI INTERPERSONAL PADA PENYANDANG TUNA DAKSA.

dan kecelakaan. Ini mengakibatkan adanya hambatan dalam menjalin hubungan dengan orang lain. Seperti rasa kurang percaya diri, kurang terbuka dan sering menghindar untuk menjalin komunikasi dengan orang lain. Penelitian di atas didukung oleh pendapat Daradjat (dalam Handayani, 2007), bahwa remaja tuna daksa mempunyai rasa rendah diri terhadap keadaan diriya yang tidak seperti teman sebayanya. Dalam perkembangan pribadinya, hambatan-hambatan yang sering timbul pada remaja tuna daksa umumya mempunyai perasaan yang berubah-ubah, mempunyai kestabilan emosi, adanya masalah-masalah yang berhubungan dengan jasmani, orang tua, sekolah atau pengajaran dan teman- teman. Hambatan- hambatan tersebut bila dibiarkan akan melahirkan tingkah laku menarik diri secara berlebihan, menunjukkan sikap selalu mengeluh, murung dan menyendiri.
Baca lebih lanjut

9 Baca lebih lajut

HUBUNGAN ANTARA KOMUNIKASI INTERPERSONAL ORANG TUA DENGAN PERILAKU BULLYING PADA REMAJA  Hubungan Antara Komunikasi Interpersonal Orang Tua Dengan Perilaku Bullying Pada Remaja.

HUBUNGAN ANTARA KOMUNIKASI INTERPERSONAL ORANG TUA DENGAN PERILAKU BULLYING PADA REMAJA Hubungan Antara Komunikasi Interpersonal Orang Tua Dengan Perilaku Bullying Pada Remaja.

keluaga, menjaga komunikasi yang baik kepada anak. Pola komunikasi yang baik akan membuat anak merasa dihargai, dipedulikan, dan dianggap ada oleh keluarganya; (3) Bagi siswa/subjek hendaknya tetap mempertahankan komunikasi dengan orang tua dan selalu berupaya untuk menghindari melakukan hal-hal negatif seperti melakukan tindakan yang cenderung mengarah kepada perilaku bullying; (4) Bagi peneliti selanjutnya yang tertarik untuk melakukan penelitian dengan tema yang sama diharapkan dapat memperluas hasil penelitian dikarenakan masih terdapat faktor-faktor lain yang mempengaruhi perilaku bullying selain komunikasi interpersonal orang tua. Selain itu, peneliti selanjutnya diharapkan menggunakan teori-teori yang lebih banyak dan hasil penelitian yang lebih terbaru. Peneliti selanjutnya juga diharapkan menggunakan random sampling untuk pengambilan sampel agar generalisasi lebih luas.
Baca lebih lanjut

12 Baca lebih lajut

HUBUNGAN ANTARA EFEKTIVITAS KOMUNIKASI INTERPERSONAL DENGAN PENERIMAAN SOSIAL PADA REMAJA

HUBUNGAN ANTARA EFEKTIVITAS KOMUNIKASI INTERPERSONAL DENGAN PENERIMAAN SOSIAL PADA REMAJA

Hasil penelitian oleh Rusda (1999) tentang Kondisi-kondisi Yang Mempengaruhi Penerimaan Sosial Remaja Di sekolah, menyebutkan bahwa remaja yang mampu diajak berbicara atau berdiskusi tentang berbagai hal, terbuka, dan cocok sebagai tempat curahan hati; menduduki urutan kedua untuk alasan dipilihnya remaja bergaul yang menyenangkan di sekolah, dengan prosentase sebesar 10,7%. Sehingga dikatakan bahwa kemampuan berkomunikasi secara efektif yang dimiliki remaja dengan teman sebayanya merupakan salah satu faktor penting yang menentukan diterimanya remaja dalam kelompok teman sebaya.
Baca lebih lanjut

19 Baca lebih lajut

HUBUNGAN ANTARA KOMUNIKASI INTERPERSONAL ORANG TUA DENGAN PERILAKU BULLYING PADA  Hubungan Antara Komunikasi Interpersonal Orang Tua Dengan Perilaku Bullying Pada Remaja.

HUBUNGAN ANTARA KOMUNIKASI INTERPERSONAL ORANG TUA DENGAN PERILAKU BULLYING PADA Hubungan Antara Komunikasi Interpersonal Orang Tua Dengan Perilaku Bullying Pada Remaja.

Adolescence is the period of life which is full of dynamic, since the development stage in this period change very rapidly. This period is in a transition step and adolescents are at high risk of experiencing delinquency and violence, either as victims or the people who conduct the violence activity which then lead to bullying behavior. One of the factors that influence the bullying behavior is the interpersonal communication of parent. The purpose of this study was to determine the negative relationship of parent interpersonal communication on bullying behavior of adolescents. The hypothesis proposed for this study was there is a negative relationship of parent interpersonal communication on bullying behaviors. This study was done by using quantitative methods. The subject of this study was the VIII grade students of junior high school, 91 students. The sampling technique of this study was done by using a quota sampling technique in accordance with the number of subjects determined by researchers and selected by the classroom teacher. The data collection method was done by using bullying behavior scale, and parents interpersonal communication analytical methods performed by using product moment analysis technique of SPSS (Statistical Product and Service Solution) 16.0 for Windows Program. Based on the analysis of the study obtained r value - 0.667; p = 0.000 (p <0.01), there is a negative relationship of parent interpersonal communication on bullying behavior. Bullying behavior has a low categorization with an empirical mean (EM) = 39.52 and hypothetical mean (HM) = 52.2, and parents interpersonal communication has a high categorization with an empirical mean (EM) = 46.84 and hypothetical mean (HM) = 40. Thw effective contribution of parents interpersonal communication variables on bullying behavior is 44.5%, the remaining of 55.5% are other factors that influence the bullying behavior.
Baca lebih lanjut

16 Baca lebih lajut

Skripsi Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi Program Studi Psikologi

Skripsi Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi Program Studi Psikologi

bersama kawan-kawan sebaya. Percakapan yang berlangsung dengan kawan-kawan menjadi lebih intim dan mereka lebih membuka diri. Ketika remaja memasuki dunia perkuliahan, mereka memasuki dunia sekolah yang lebih luas dibandingkan pada masa sekolah menengah dulu. Prestasi menjadi hal penting dan tantangan akademis meningkat. Selain itu, remaja akhir juga lebih terampil dalam menampilkan emosinya ke orang lain. Mereka lebih memahami bahwa kemampuan mengkomunikasikan emosi- emosinya secara konstruktif dapat meningkatkan kualitas relasi mereka (Saarni, 1999; Saarni,dkk.,2006). Mahasiswa psikologi sebagai masa remaja akhir sudah mulai terbentuk penyesuaian sosial secara matang, yang dapat diartikan sebagai kemampuan untuk mereaksi secara tepat terhadap realita sosial, situasi dan relasi. Perkembangan ini diiringi dengan bertambahnya minat-minat terhadap penampilan diri, peer group, serta kegiatan kelompok sosial lainnya sehingga membentuk hubungan interpersonal secara lebih luas.
Baca lebih lanjut

0 Baca lebih lajut

HUBUNGAN ANTARA KEMAMPUAN KOMUNIKASI INTERPERSONAL DENGAN PENYESUAIAN DIRI PADA MAHASISWA

HUBUNGAN ANTARA KEMAMPUAN KOMUNIKASI INTERPERSONAL DENGAN PENYESUAIAN DIRI PADA MAHASISWA

Mariani, K. 1991. Hubungan Antara Sifat Pemantauan Diri dengan Kecemasan Dalam komunikasi Interpersonal Pada Mahasiswa Psikologi dan Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Surakarta. Skripsi Sarjana. Yogyakarta: Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada.

11 Baca lebih lajut

BAB V PEMBAHASAN A. Hasil Penelitian 1. Uji Asumsi - 13.40.0283 Theresia Dwi Okta AP   BAB V

BAB V PEMBAHASAN A. Hasil Penelitian 1. Uji Asumsi - 13.40.0283 Theresia Dwi Okta AP BAB V

= -0.592 (p < 0.01). Hasil analisis tersebut menunjukan bahwa ada hubungan negatif yang sangat signifikan antara komunikasi interpersonal remaja dan orangtua dengan stres remaja dalam keluarga. Dimana semakin baik komunikasi interpersonal remaja dan orangtua, maka semakin rendah tingkat stres remaja dalam keluarga, demikian sebaliknya semakin buruk komunikasi interpersonal remaja dan orangtua, maka semakin tinggi tingkat stres remaja dalam keluarga. Dengan demikian hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini diterima. Hasil uji hipotesis dapat dilihat dalam lampiran E.
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

HUBUNGAN ANTARA KONSEP DIRI DENGAN KOMUNIKASI INTERPERSONAL YANG EFEKTIF ANTARA IBU DAN ANAK

HUBUNGAN ANTARA KONSEP DIRI DENGAN KOMUNIKASI INTERPERSONAL YANG EFEKTIF ANTARA IBU DAN ANAK

Menurut Calhaun dan Acocella (Desmita, 2012) konsep diri terdiri dari beberapa dimensi mencakup pengetahuan, harapan dan penilaian. Pengetahuan tentang diri akan meningkatkan komunikasi individu dengan orang lain. Apabila individu meyakini nilai-nilai dirinya yang baik maupun yang kurang baik dan menerimanya serta mampu memperbaiki dirinya karena sanggup mengungkapkan aspek-aspek kepribadian yang tidak disenanginya dan berusaha mengubahnya, maka ia akan mampu membuka diri kepada orang lain dengan tanpa ada keinginan untuk menutup diri sehingga ia tidak akan menghindari situasi komunikasi interpersonal (Rakhmat, 1994). Harapan merupakan diri ideal (self ideal) atau diri yang dicita-citakan yang terdiri atas dambaan, aspirasi, harapan, keinginan bagi diri kita atau menjadi manusia seperti apa yang kita inginkan. Cita-cita diri menentukan konsep diri dan konsep diri menjadi faktor paling penting dalam menentukan perilaku (Rakhmat, 2015). Adanya keinginan untuk memperbaiki dan mencapai diri idealnya akan membutuhkan dan melahirkan sikap dukungan positif dengan sikap saling menerima. Oleh karena itu remaja akan mampu untuk berkomunikasi dengan ibunya secara efektif atas kesadaran dirinya, karena semakin mengetahui dan menyadari akan dirinya sendiri dan orang lain maka akan semakin akrab hubungannya dengan orang tersebut. Dimensi terakhir dari konsep diri ialah penilaian.
Baca lebih lanjut

9 Baca lebih lajut

HUBUNGAN ANTARA KESTABILAN EMOSI DAN PENERIMAAN DIRI DENGAN KECEMASAN KOMUNIKASI INTERPERSONAL PADA REMAJA

HUBUNGAN ANTARA KESTABILAN EMOSI DAN PENERIMAAN DIRI DENGAN KECEMASAN KOMUNIKASI INTERPERSONAL PADA REMAJA

Hasil tersebut sesuai pendapat yang dikemukakan Hjelle dan Zeigler (1992) yang menyatakan bahwa individu yang memiliki penerimaan diri akan dapat menerima dirinya dengan kelemahan dan keterbatasan yang ada, tidak terbebani oleh rasa bersalah, rasa malu, dan kecemasan. Johnson (1993) juga mengemukakan bahwa menerima diri sendiri merupakan salah satu cara untuk dapat menanggulangi ketakutan dan kecemasan pada individu. Dengan demikian kecemasan komunikasi interpersonal yang mungkin dialami oleh remaja cenderung rendah. Sebaliknya remaja yang penerimaan dirinya rendah cenderung mengalami kecemasan yang tinggi ketika melakukan komunikasi interpersonal. Hal ini sesuai dengan pendapat Crawford, dkk (2006) yang menyatakan bahwa kecemasan komunikasi berkaitan beberapa variabel, antara lain harga diri dan masalah penerimaan diri. McCrosckey (dalam William, 1991) juga menambahkan bahwa kecemasan komunikasi interpersonal berhubungan dengan penerimaan diri pada individu. Hubungan negatif antara penerimaan diri dengan kecemasan komunikasi interpersonal ini juga sesuai dengan hasil penelitian yang pernah dilakukan oleh Lustig (dalam Croskey, 1977) yang menunjukkan adanya hubungan negatif antara penerimaan diri dengan kecemasan komunikasi interpersonal.
Baca lebih lanjut

101 Baca lebih lajut

ANALISIS DOMINASI KOMUNIKASI SCIENTIFIC PADA PEMBELAJARAN BIOLOGI SERTA HUBUNGAN MOTIVASI DAN FREKUENSI KOMUNIKASI DENGAN KEMAMPUAN KOMUNIKASI INTERPERSONAL SISWA

ANALISIS DOMINASI KOMUNIKASI SCIENTIFIC PADA PEMBELAJARAN BIOLOGI SERTA HUBUNGAN MOTIVASI DAN FREKUENSI KOMUNIKASI DENGAN KEMAMPUAN KOMUNIKASI INTERPERSONAL SISWA

Yunita Prihatiningsih. K4313075. ANALYSIS OF THE STUDENTS’ SCIENTIFIC COMMUNICATION DOMINATION ON BIOLOGY LEARNING AND CORRELATION BETWEEN MOTIVATION AND COMMUNICATION FREQUENCY WITH THE STUDENTS’ INTERPERSONAL COMMUNICATION SKILL. Bachelor Thesis, Surakarta: Faculty of Teacher Training and Education. Universitas Sebelas Maret Surakarta. October 2017.

19 Baca lebih lajut

Institutional Repository | Satya Wacana Christian University: Hubungan Komunikasi Interpersonal Orang Tua-Remaja tentang Seksualitas dengan Perilaku Seks pada Mahasiswa

Institutional Repository | Satya Wacana Christian University: Hubungan Komunikasi Interpersonal Orang Tua-Remaja tentang Seksualitas dengan Perilaku Seks pada Mahasiswa

Akhir-akhir ini fenomena tentang perilaku seksual yang dilakukan oleh remaja cukup memprihatinkan. Kurangnya komunikasi interpersonal antara orang tua dan remaja mengenai seksualitas merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi terjadinya perilaku seksual pranikah pada remaja. Penelitian ini bertujuan untuk melihat apakah ada hubungan antara komunikasi orang tua dan remaja tentang seksualitas dengan perilaku seks pranikah pada mahasiwa. Komunikasi interpersonal orang tua-remaja tentang seksualitas sebagai variabel bebas dan perilaku seks pada mahasiswa sebagai variabel terikat. Subjek yang digunakan untuk penelitian ini adalah mahasiswa Universitas Kristen Satya Wacana Fakultas Ekonomika dan Bisnis yang berusia 18-21 tahun dan masih tinggal bersama orang tua. Teknik sampling yang digunakan adalah teknik purposive sampling. Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis korelasi product moment dari Pearson. Hasil yang diperoleh dari penelitian ini menunjukan bahwa tidak ada hubungan negatif yang signifikan antara komunikasi interpersonal orang tua – remaja tentang seksualitas dengan perilaku seks pranikah ( r = - 0,109, sig. = 0,276 → p>0,05 )
Baca lebih lanjut

2 Baca lebih lajut

HUBUNGAN KEPRIBADIAN EKSTROVET DAN KOMUNIKASI INTERPERSONAL DALAM KELUARGA TERHADAP PERILAKU SEKSUAL PADA REMAJA AWAL.

HUBUNGAN KEPRIBADIAN EKSTROVET DAN KOMUNIKASI INTERPERSONAL DALAM KELUARGA TERHADAP PERILAKU SEKSUAL PADA REMAJA AWAL.

Perilaku seksual diperoleh remaja seperti di tayangan televisi yang sering memberikan contoh dalam cerita remaja awal yang sudah berpacaran, media cetak ya ng sering memberitakan perbuatan-perbuatan perilaku seksual yang tidak baik, dan alat telepon genggam yang sudah banyak dimiliki oleh remaja dimanfaatkan untuk memperoleh informasi tentang seksual yang salah (Daradji, 2005). Faktor lain yang mendukung adanya film-film di televisi atau gambar-gambar porno yang mudah diperoleh dan dilihat oleh remaja (Anonim, Suara Merdeka, 2003). Bukti semakin banyaknya remaja yang melakukan perilaku seksual dilakukan penelitian oleh Boyke (dalam Nugroha, http://hqweb01.bkkbn.go.id. 16-06-2006). Dari penelitian tersebut diperoleh kesimpulan
Baca lebih lanjut

9 Baca lebih lajut

HUBUNGAN ANTARA KONSEP DIRI DENGAN KOMUNIKASI INTERPERSONAL PADA MAHASISWA YANG BERASAL DARI  Hubungan Antara Konsep Diri Dengan Komunikasi Interpersonal Pada Mahasiswa Yang Berasal Dari Provinsi X.

HUBUNGAN ANTARA KONSEP DIRI DENGAN KOMUNIKASI INTERPERSONAL PADA MAHASISWA YANG BERASAL DARI Hubungan Antara Konsep Diri Dengan Komunikasi Interpersonal Pada Mahasiswa Yang Berasal Dari Provinsi X.

berani. Namun sebaliknya jika memiliki konsep diri yang positif memiliki penerimaan diri, bukan sebagi suatu kebanggaan yang besar tentang diri. Individu tersebut tahu betul tentang dirinya, dapat memahami dan menerima sejumlah fakta yang sangat bermacam-macam tentang dirinya, sehingga evaluasi terhadap dirinya sendiri menjadi positif dan dapat menerima keberadaan orang lain. Maka komunikasi interpersonal akan berjalan dengan baik di lingkungan sosialnya, seperti dapat mengemukakan pendapat, ketika berucap akan lebih hati-hati dan berkomunikasi dengan orang lain pun akan lebih baik.
Baca lebih lanjut

20 Baca lebih lajut

PENDAHULUAN  Hubungan Antara Konsep Diri Dengan Kecemasan Komunikasi Interpersonal Pada Remaja.

PENDAHULUAN Hubungan Antara Konsep Diri Dengan Kecemasan Komunikasi Interpersonal Pada Remaja.

Remaja dihadapkan pada masalah dari dalam yakni, kesulitan berkomunikasi atau sering disebut sebagai hambatan komunikasi (communication apprehension) (Rakhmat, 2007). Remaja yang mengalami hambatan komunikasi (communication apprehension) akan merasa sulit dan merasa cemas ketika harus berkomunikasi antar pribadi dengan manusia lain, sehingga tidak mampu mencerminkan rasa kehangatan, keterbukaan, dan dukungan. Peristiwa komunikasi antar pribadi sebenarnya mampu menimbulkan perasaan senang bagi pihak yang bersangkutan atau menjadi peristiwa yang tidak menarik, dan bahkan cenderung untuk dihindari.
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

TAP.COM -   HUBUNGAN ANTARA KOMUNIKASI INTERPERSONAL DALAM KELUARGA ...

TAP.COM - HUBUNGAN ANTARA KOMUNIKASI INTERPERSONAL DALAM KELUARGA ...

Menurut Damon (dalam Zainuddin 2004) banyak faktor yang berhubungan dengan perkembangan pemahaman moral remaja antara lain faktor keluarga, teman sebaya, sekolah, media massa, komunitas, perkembangan kognitif, kepribadian dan lain-lain. Diantara faktor-faktor lingkungan, faktor keluarga adalah faktor yang sangat berpengaruh terhadap pemahaman moral remaja. Pendapat ini diperkuat oleh Yusuf (2006) yang mengatakan bahwa ada beberapa faktor yang berhungan dengan pemahaman moral remaja antara lain konsistensi dalam mendidik, penghayatan dan pengamalan agama yang dianut, sikap konsistensi orangtua dalam menerapkan norma, dan sikap orangtua dalam keluarga. Orangtua merupakan faktor primer bagi perkembangan anak karena yang pertama kali memperkenalkan anak pada hukum dan sistem sosial adalah orangtua, maka orangtua merupakan faktor yang sangat penting dalam perkembangan pemahaman moral anak (Mounts & Steinberg, dalam Papalia 2001).
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

KOMUNIKASI INTERPERSONAL PADA REMAJA AKHIR DITINJAU DARI KONSEP DIRI

KOMUNIKASI INTERPERSONAL PADA REMAJA AKHIR DITINJAU DARI KONSEP DIRI

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui secara empirik hubungan konsep diri terhadapa komunikasi interpersonal pada remaja akhir. Hipotesis yang diajukan adalah ada hubungan positif antara konsep diri dengan komunikasi interpersonal pada remaja akhir. Subjek penelitian berjumlah 70 orang dengan usia 16-21 tahun. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan alat ukur skala komunikasi interpersonal dan skala konsep diri. Data yang diperoleh kemudian dianalisis dengan Analisa Korelasi Parsial. Diketahui nilai rxy sebesar 0,582 dengan p < 0.01. Hal tersebut menunjukkan adanya hubungan positif yang sangat signifikan antara konsep diri dengan komunikasi interpersonal. Dengan demikian, hasil analisis data ini mendasari bahwa hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini diterima.
Baca lebih lanjut

15 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...