Top PDF IDENTIFIKASI DAN STRATEGI BAHAYA KIMIA AKIBAT KEBAKARAN

IDENTIFIKASI DAN STRATEGI BAHAYA KIMIA AKIBAT KEBAKARAN

IDENTIFIKASI DAN STRATEGI BAHAYA KIMIA AKIBAT KEBAKARAN

Prevention Strategy • Flammable and Combustible Materials – Materials that contribute to a flammable liquid fire should not be stored with flammable liquids... Prevention Strategy • [r]

43 Baca lebih lajut

IDENTIFIKASI BAHAYA DAN PENILAIAN RISIKO (1)

IDENTIFIKASI BAHAYA DAN PENILAIAN RISIKO (1)

Untuk iritasi karena percikan dan terserap ke dalam mata dan kulit, gangguan pernafasan karena menghirup gas/uap dapat dilakukan tindakan pengendalian/pengurangan risiko dengan menggunakan APD (googles, masker) MSDS material, serta larangan makan dan minum di tempat kerja. Hal ini sesuai dengan UU No. Tahun 1970 pasal 13 tentang keselamatan kerja, yaitu kewajiban bila memasuki tempat kerja dan Kepmenaker. 333/MEN/1989 tentang diagnosis dan pelaporan penyakit akibat kerja dan Kepmenaker. 187/MEN/1999 tentang pengendalian bahan kimia berbahaya serta PP No. 18 tahun 1999 revisi PP 101/2014 di pengendalian sampah B3 padat/non organik, dan IK Waste Management di tempat kerja serta di lakukan sosialisai dan pelatihan pengunaan APD yang benar dan penanganan bahan kimia .
Baca lebih lanjut

6 Baca lebih lajut

Makalah identifikasi bahaya di tempat

Makalah identifikasi bahaya di tempat

Langkah pertama manajemen risiko kesehatan di tempat kerja adalah identifikasi atau pengenalan bahaya kesehatan. Pada tahap ini dilakukan identifikasi faktor risiko kesehatan yang dapat tergolong fisik, kimia, biologi, ergonomik, dan psikologi yang terpajan pada pekerja. Untuk dapat menemukan faktor risiko ini diperlukan pengamatan terhadap proses dan simpul kegiatan produksi, bahan baku yang digunakan, bahan atau barang yang dihasilkan termasuk hasil samping proses produksi, serta limbah yang terbentuk proses produksi. Pada kasus terkait dengan bahan kimia, maka diperlukan: pemilikan material safety data sheets (MSDS) untuk setiap bahan kimia yang digunakan, pengelompokan bahan kimia menurut jenis bahan aktif yang terkandung, mengidentifikasi bahan pelarut yang digunakan, dan bahan inert yang menyertai, termasuk efek toksiknya. Ketika ditemukan dua atau lebih faktor risiko secara simultan, sangat mungkin berinteraksi dan menjadi lebih berbahaya atau mungkin juga menjadi kurang berbahaya. Sebagai contoh, lingkungan kerja yang bising dan secara bersamaan terdapat pajanan toluen, maka ketulian akibat bising akan lebih mudah terjadi.
Baca lebih lanjut

23 Baca lebih lajut

Identifikasi Bahaya and Penilaian Risiko

Identifikasi Bahaya and Penilaian Risiko

Sedangkan bahaya kesehatan kerja (Health Hazard) merupakan bahaya yang mempunyai dampak terhadap kesehatan manusia dan dapat menyebabkan terjadinya penyakit akibat kerja. Klasifikasi bahaya kesehatan kerja antara lain 1 Bahaya fisika yang berupa kebisingan, getaran, radiasi, suhu ekstrim, dan pencahayaan; 2 Bahaya kimia yakni bahaya yang berasal dari bahan kimia berbahaya karena komposisi, karakteristik, dan jumlahnya dapat menyebabkan keracunan dan iritasi; 3 Bahaya biologi merupakan bahaya yang berkaitan dengan makhluk hidup seperti bakteri, virus, jamur, serta vektor penyakit; 4 Bahaya ergonomi merupakan bahaya yang ditimbulkan akibat aktivitas kerja yang terus menerus; serta 5 Bahaya psikologi merupakan bahaya yang berasal dari aktivitas pekerjaan seperti beban pekerjaan yang berat, hubungan dan kondisi kerja yang tidak nyaman.
Baca lebih lanjut

9 Baca lebih lajut

IDENTIFIKASI BAHAYA DAN PENILAIAN RISIKO (2)

IDENTIFIKASI BAHAYA DAN PENILAIAN RISIKO (2)

Untuk iritasi karena percikan dan terserap ke dalam mata dan kulit, gangguan pernafasan karena menghirup gas/uap dapat dilakukan tindakan pengendalian/pengurangan risiko dengan menggunakan APD (googles, masker) MSDS material, serta larangan makan dan minum di tempat kerja. Hal ini sesuai dengan UU No. Tahun 1970 pasal 13 tentang keselamatan kerja, yaitu kewajiban bila memasuki tempat kerja dan Kepmenaker. 333/MEN/1989 tentang diagnosis dan pelaporan penyakit akibat kerja dan Kepmenaker. 187/MEN/1999 tentang pengendalian bahan kimia berbahaya serta PP No. 18 tahun 1999 revisi PP 101/2014 di pengendalian sampah B3 padat/non organik, dan IK Waste Management di tempat kerja serta di lakukan sosialisai dan pelatihan pengunaan APD yang benar dan penanganan bahan kimia .
Baca lebih lanjut

6 Baca lebih lajut

MAKALAH IDENTIFIKASI BAHAYA  di tempat (1)

MAKALAH IDENTIFIKASI BAHAYA di tempat (1)

3. Potensi bahaya biologis, yaitu potensi bahaya yang berasal atau ditimbulkan oleh kuman-kuman penyakit yang terdapat di udara yang berasal dari atau bersumber pada tenaga kerja yang menderita penyakit-penyakit tertentu, misalnya : TBC, Hepatitis A/B, Aids,dll maupun yang berasal dari bahan-bahan yang digunakan dalam proses produksi. Dimana pun Anda bekerja dan apa pun bidang pekerjaan Anda, faktor biologi merupakan salah satu bahaya yang kemungkinan ditemukan ditempat kerja. Maksudnya faktor biologi eksternal yang mengancam kesehatan diri kita saat bekerja. Namun demikian seringkali luput dari perhatian, sehingga bahaya dari faktor ini tidak dikenal, dikontrol, diantisipasi dan cenderung diabaikan sampai suatu ketika menjadi keadaan yang sulit diperbaiki. Faktor biologi ditempat kerja umumnya dalam bentuk mikro organisma sebagai berikut :
Baca lebih lanjut

25 Baca lebih lajut

Form Laporan Identifikasi Bahaya Penilai

Form Laporan Identifikasi Bahaya Penilai

Form Laporan Identifikasi Bahaya, Penilaian Resiko dan Pengendalian Resiko K3 Ditulis : Hebbie Ilma Adzim | Pada : Senin, Desember 09, 2013 Advertisements : Form Identifikasi Bahaya, P[r]

2 Baca lebih lajut

MENCERMATI STANDAR PENGAMANAN GEDUNG UNTUK ANTISIPASI BAHAYA KEBAKARAN

MENCERMATI STANDAR PENGAMANAN GEDUNG UNTUK ANTISIPASI BAHAYA KEBAKARAN

Tidak semua bangunan terutama untuk fasilitas umum, perkantoran, pasar dan sebagainya sudah dilengkapi dengan sistem detektor kebakaran. Padahal sistem deteksi awal terjadinya kebakaran ini akan sangat membantu untuk kepentingan evakuasi dan penyelamatan manusia dan barang serta upaya pencegahan kebakaran yang semakin meluas. Kebakaran terkadang baru diketahui setelah api menjalar semakin besar. Apalagi bila kondisi ruangan kosong atau berupa gudang yang terkunci dan penjaga berada saat itu di luar bangunan, sehingga pada saat api sudah membakar ruangan/barang belum menyadari kalau telah terjadi kebakaran. Pemasangan detektor dan peralatan pemadaman kebakaran merupakan salah satu upaya aktif agar bangunan tersebut mampu melakukan swalindung ( self protective ). Alarm tanda terjadinya kebakaran, yang biasanya berupa detektor asap, akan segera berbunyi bila terjadi kebakaran, sehingga upaya lokalisasi dan pemadaman juga dapat segera dilakukan sebelum api menjadi besar dan menjalar ke lain ruangan.
Baca lebih lanjut

6 Baca lebih lajut

PERDA Nomor 5 Tahun 2015 tentang Pencegahan dan Penanggulangan Bahaya Kebakaran

PERDA Nomor 5 Tahun 2015 tentang Pencegahan dan Penanggulangan Bahaya Kebakaran

Pada tahap perencanaan pembangunan gedung baru sebagaimana dimaksud dalam Pasal 37, Satuan memberikan masukan teknis kepada perangkat daerah yang tugas pokok dan fungsinya bertanggung jawab dalam bidang ketatakotaan mengenai akses mobil pemadam, sumber air untuk pemadaman, pos pemadam kebakaran untuk dijadikan acuan pemberian perizinan blok plan.

29 Baca lebih lajut

Tata cara perencanaan, pemasangan dan pengujian sistem deteksi dan alarm kebakaran untuk pencegahan bahaya kebakaran pada bangunan gedung.

Tata cara perencanaan, pemasangan dan pengujian sistem deteksi dan alarm kebakaran untuk pencegahan bahaya kebakaran pada bangunan gedung.

Maksud dari lampiran ini untuk membantu para ahli perancang sistem alarm kebakaran yang menaruh perhatian terhadap masalah jarak antara dari detektor panas atau detektor asap. C.1.2.1. Apendiks ini dimaksudkan untuk melengkapi metode modifikasi jarak terdaftar dari detektor panas jenis laju kenaikan panas dan detektor jenis temperatur-tetap yang disyaratkan untuk mencapai respon detektor terhadap suatu nyala api yang membesar secara geometris, pada suatu ukuran api yang spesifik, mengikutkan di dalam perhitungan ketinggian dari langit-langit dimana detektor dipasangkan. Prosedur ini juga membolehkan modifikasi terhadap jarak yang "terdaftar" dari detektor panas jenis temperatur-tetap guna perhitungan untuk variasi dari temperatur sekeliling (Ta) terhadap kondisi pengetesan standar.
Baca lebih lanjut

165 Baca lebih lajut

APLIKASI SISTEM PROTEKSI KEBAKARAN SEBAGAI UPAYA PENCEGAHAN DAN PENANGGULANGAN BAHAYA KEBAKARAN DI PT. PURA BARUTAMA UNIT OFFSET KUDUS

APLIKASI SISTEM PROTEKSI KEBAKARAN SEBAGAI UPAYA PENCEGAHAN DAN PENANGGULANGAN BAHAYA KEBAKARAN DI PT. PURA BARUTAMA UNIT OFFSET KUDUS

Pengadaan simulasi kebakaran bagi karyawan sangat penting dalam upaya penanggulangan bahaya kebakaran. Sehingga apabila terjadi bahaya kebakaran, karyawan dapat mengetahui tindakan yang paling tepat yang harus dilakukan. Pura Offset telah mengadakan simulasi kebakaran disetiap tahunnya, hal ini telah menunjukkan adanya komitmen dari pimpinan unit dalam upaya menanggulangi bahaya kebakaran. Hal ini sesuai dengan Peraturan Menteri Tenaga Kerja No. 2/MEN/1983 tentang Instalasi Alarm Kebakaran Otomatik dalam pasal 59 yang menyebutkan “ Pemeliharaan dan pengujian
Baca lebih lanjut

71 Baca lebih lajut

ANALISIS BAHAYA DAN IDENTIFIKASI TITIK K (1)

ANALISIS BAHAYA DAN IDENTIFIKASI TITIK K (1)

Tahap perendaman kedelai pembuatan Tahu Sumedang menjadi titik kritis karena dari hasil pemeriksaan di laboratorium air perendaman kedelai mengandung bakteri E.coli . jeregen- jeregen perendaman yang digunakan untuk perendaman juga dipenuhi lumut dan kondisi jeregen yang berwarna kekuningan akibat sudah usang juga menjadi penyebab timbulnya bahaya. Pencegahan yang dapat dilakukan misalnya mencuci jeregen dengan menggunakan sabuk pembersih dan jangan hanya disiram saja.

9 Baca lebih lajut

Evaluasi keandalan sarana penyelamatan jiwa terhadap bahaya kebakaran pada bangunan gedung.

Evaluasi keandalan sarana penyelamatan jiwa terhadap bahaya kebakaran pada bangunan gedung.

Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian deskriptif menggunakan pendekatan kualitatif dengan melakukan pengamatan langsung/observasi dan dokumentasi. Penelitian lebih bersifat menguraikan, memaparkan data-data dan memberikan gambaran aktual secara cermat berdasarkan penemuan fakta-fakta di lapangan. Pengamatan dilakukan pada sarana penyelamatan jiwa yang tersedia di dalam bangunan gedung Perpustakaan dan Rektorat Universitas Andalas dalam upaya meminimalisir terjadinya kecelakaan pada saat melakukan upaya evakuasi ketika terjadi keadaan darurat khususnya kebakaran.
Baca lebih lanjut

19 Baca lebih lajut

Kajian Sistem Pencegahan Bahaya Kebakaran di Kompleks Pasar Johar Semarang

Kajian Sistem Pencegahan Bahaya Kebakaran di Kompleks Pasar Johar Semarang

Pasar Johar area can become an example of building complex with some problems related to its function as market and relate to preventative utility of fire.. Network utility which are n[r]

1 Baca lebih lajut

BAHAN KIMIA BERBAHAYA - symbol bahaya

BAHAN KIMIA BERBAHAYA - symbol bahaya

2. Bahan Kimia Korosif (Corrosive)Adalah bahan kimia yangkarena reaksi kimia dapat mengakibatkan kerusakanapabila kontak dengan jaringan tubuh atau bahan lain.Zat korosif dapat bereaksi dengan jaringan seperti kulit, mata, dan saluran pernafasan. Kerusakan dapat berupa luka, peradangan, iritasi (gatal-gatal) dansinsitisasi (jaringan menjadi amat peka terhadap bahan kimia).

4 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...