Top PDF Kondisi Ekosistem Terumbu Karang di Perairan Kabupaten Bintan dan Alternatif Pengelolaanya

Kondisi Ekosistem Terumbu Karang di Perairan Kabupaten Bintan dan Alternatif Pengelolaanya

Kondisi Ekosistem Terumbu Karang di Perairan Kabupaten Bintan dan Alternatif Pengelolaanya

Kerusakan ekosistem terumbu karang pada umumnya diakibatkan oleh sebab alami dan manusia. Sedikit perubahan kecil pada kualitas air atau fisik dapat menyebabkan perubahan besar pada kondisi dan struktur ekosistem terumbu karang. Di daerah penelitian, informasi tentang kondisi kualitas air dan terumbu karang sangat terbatas sehingga dapat menghambat proses pengambilan keputusan dalam pengelolaan kawasan terumbu karang. Tujuan dari penelitian ini adalah penentuan kondisi ekosistem terumbu karang, identifikasi penyebab potensial utama kerusakan terumbu karang, dan mencari alternatif pengelolaan terumbu karang di lokasi penelitian. Metode yang digunakan adalah transek kuadrat untuk determinasi penutupan karang dan makroalga, sementara untuk observasi ikan menggunakan teknik Line Intercept Transect (LIT) dan Underwater fish Visual Census (UVC). Analisis data dilakukan dengan menggunakan beberapa analisis standar ekologis, korelasi multivariabel dengan menggunakan Principle Component Analysis (PCA), dan analisis ANOVA. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara umum kondisi penutupan karang masih dalam kondisi baik. Analisis menunjukkan bahwa peningkatan persentase penutupan karang hidup diikuti oleh penurunan penutupan makroalga. Selanjutnya, ikan herbivora dan penutupan alga terhubungkan secara terbalik. Kesimpulannya adalah bahwa jika terumbu karang mengalami gangguan, maka akan berpotensi menyebabkan peningkatan penutupan makroalga. Ikan herbivora terbukti secara efektif mampu mengkontrol penutupan makroalga dan sekaligus membantu pemulihan kondisi ekosistem terumbu karang.
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

KONDISI EKOSISTEM TERUMBU KARANG DI PERAIRAN KABUPATEN BINTAN DAN ALTERNATIF PENGELOLAANYA 1

KONDISI EKOSISTEM TERUMBU KARANG DI PERAIRAN KABUPATEN BINTAN DAN ALTERNATIF PENGELOLAANYA 1

Kerusakan ekosistem terumbu karang pada umumnya diakibatkan oleh sebab alami dan manusia. Sedikit perubahan kecil pada kualitas air atau fisik dapat menyebabkan perubahan besar pada kondisi dan struktur ekosistem terumbu karang. Di daerah penelitian, informasi tentang kondisi kualitas air dan terumbu karang sangat terbatas sehingga dapat menghambat proses pengambilan keputusan dalam pengelolaan kawasan terumbu karang. Tujuan dari penelitian ini adalah penentuan kondisi ekosistem terumbu karang, identifikasi penyebab potensial utama kerusakan terumbu karang, dan mencari alternatif pengelolaan terumbu karang di lokasi penelitian. Metode yang digunakan adalah transek kuadrat untuk determinasi penutupan karang dan makroalga, sementara untuk observasi ikan menggunakan teknik Line Intercept Transect (LIT) dan Underwater fish Visual Census (UVC). Analisis data dilakukan dengan menggunakan beberapa analisis standar ekologis, korelasi multivariabel dengan menggunakan Principle Component Analysis (PCA), dan analisis ANOVA. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara umum kondisi penutupan karang masih dalam kondisi baik. Analisis menunjukkan bahwa peningkatan persentase penutupan karang hidup diikuti oleh penurunan penutupan makroalga. Selanjutnya, ikan herbivora dan penutupan alga terhubungkan secara terbalik. Kesimpulannya adalah bahwa jika terumbu karang mengalami gangguan, maka akan berpotensi menyebabkan peningkatan penutupan makroalga. Ikan herbivora terbukti secara efektif mampu mengkontrol penutupan makroalga dan sekaligus membantu pemulihan kondisi ekosistem terumbu karang.
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

Kondisi ekosistem terumbu karang di perairan Kabupaten Bintan dan alternatif pengelolaannya

Kondisi ekosistem terumbu karang di perairan Kabupaten Bintan dan alternatif pengelolaannya

Aktifitas daratan di Kabupaten Bintan seperti penambangan pasir dan batu granit yang telah beroperasi diwilayah ini sejak berpuluh tahun meskipun sebagian besar perusahaan telah tidak diberi izin lagi untuk pengoperasiannya, menghasilkan dampak terhadap ekosistem pesisir Kabupaten Bintan dengan tingginya tingkat sedimentasi di sekitar wilayah perairan Kabupaten Bintan. Pengaruh sedimen terhadap terumbu karang terjadi secara langsung maupun tidak langsung. Secara langsung sedimen yang terdeposit akan menutupi permukaan polip karang sehingga akan meningkatkan kebutuhan energi metabolik untuk menghilangkannya kembali. Secara tidak langsung sedimen yang tersuspensi dapat menghalangi masuknya penetrasi sinar matahari yang dibutuhkan untuk fotosintesis alga simbion karang zooxanthellae. Apabila jumlah sedimen cukup tinggi dan melebihi batas kemampuan polip karang untuk beradaptasi, maka akan terjadi kematian dan penurunan penutupan terumbu karang pada daerah tersebut. Di sisi lain apabila sedimen mengandung sejumlah besar bahan organik akan terjadi invasi oleh alga. Menurut Tomascik (1991), beberapa kegiatan manusia yang berhubungan erat dengan sedimentasi adalah semakin tingginya pemanfaatan hutan dan lahan pertanian, kegiatan pengerukan, pertambangan, dan pembangunan konstruksi.
Baca lebih lanjut

125 Baca lebih lajut

Kondisi Ekosistem Terumbu Karang Di Rote Timur, Kabupaten Rote Ndao, Taman Nasional Perairan Laut Sawu Menggunakan Metode Manta Tow

Kondisi Ekosistem Terumbu Karang Di Rote Timur, Kabupaten Rote Ndao, Taman Nasional Perairan Laut Sawu Menggunakan Metode Manta Tow

Kerusakan yang terjadi di Sisi Barat diakibatkan oleh faktor manusia yaitu bom ikan dan racun sianida, hal itu diperparah dengan kondisi alam yang bergelombang pada saat musim barat berlangsung. Persentase HCD di Mulut Seribu berada pada 18,61% RB berada pada 9,92% dan RO berada pada 10%. Faktor terbesar kerusakan karang di Mulut Seribu adalah akibat banyaknya aktivitas manusia di wilayah ini untuk budidaya rumput laut. Wilayah Sisi Timur mengalami kerusakan terumbu karang yang cukup parah dimana tutupan karang keras mati (HCD) berada pada 14,13%, RB pada 3,98% dan RO pada 17,67%. Penyebab kerusakan terumbu karang di lokasi ini adalah perairan yang keruh akibat dari transport sedimen. Lokasi penelitian yang merupakan teluk menyebabkan sedimen juga menumpuk di wilayah ini sehingga dengan adanya gelombang yang besar menyebabkan perairan di lokasi ini menjadi keruh.
Baca lebih lanjut

9 Baca lebih lajut

Valuasi Ekonomi Ekosistem Terumbu Karang di Perairan Karang Kelop Kabupaten Kendal

Valuasi Ekonomi Ekosistem Terumbu Karang di Perairan Karang Kelop Kabupaten Kendal

Tingkat pemanfaatan ekosistem terumbu karang bagi masyarakat sekitar Desa Pidodo Kulon meliputi kegiatan perikanan dan wisata bahari. Penduduk yang secara turun-temurun berprofesi sebagai nelayan sangat menyadari bahwa hasil tangkapan ikan terkait dengan kondisi terumbu karang di perairan tersebut. Mengingat begitu pentingnya terumbu karang di perairan Karang Kelop baik sebagai potensi ekonomi maupun bagi kelestarian lingkungan maka perlu dilakukan pendugaan nilai ekonomi ekosistem terumbu karang secara menyeluruh. Studi tentang valuasi ekonomi yang dilakukan terdiri dari beberapa aspek seperti, manfaat langsung, manfaat tidak langsung, dan manfaat pilihan.
Baca lebih lanjut

7 Baca lebih lajut

KONDISI TERUMBU KARANG DI PERAIRAN PULAU (1)

KONDISI TERUMBU KARANG DI PERAIRAN PULAU (1)

Pulau Beralas Pasir berada dalam wilayah Kecamatan Gunung Kijang Kabupaten Bintan Provinsi Kepulauan Riau. Pulau Beralas Pasir merupakan salah satu tempat ekowisata yang sering dikunjungi wisatawan saat ini. Kondisi geografis daerah ini berupa wilayah pesisir pantai berpasir putih dan dengan pemandangan bawah laut yang indah serta hamparan terumbu karang yang luas juga beraneka jenis ikan karang.

9 Baca lebih lajut

STUDI AKRESI MINERAL: Sebagai alternatif rehabilitasi untuk ekosistem terumbu karang

STUDI AKRESI MINERAL: Sebagai alternatif rehabilitasi untuk ekosistem terumbu karang

Melihat kondisi tersebut, maka diperlukan perhatian dan aksi rehabilitasi secara cepat dan tepat. Terdapat dua cara rehabilitasi yaitu dengan kebijakan manajemen dan penggunaan teknologi. Terumbu buatan merupakan salah satu pengembangan teknologi rehabilitasi. Terumbu buatan ini didefinisikan sebagai penenggelaman struktur ke dasar perairan yang menyerupai karakteristik terumbu alami (Seaman 2001). Namun, sangat penting memperhatikan berbagai bahan yang dipakai untuk merehabilitasi terumbu karang, termasuk dampak yang ditimbulkannya terhadap ekosistem alami sekitarnya.
Baca lebih lanjut

7 Baca lebih lajut

Efek sedimentasi terhadap terumbu karang di Pantai Timur Kabupaten Bintan

Efek sedimentasi terhadap terumbu karang di Pantai Timur Kabupaten Bintan

Secara umum karang tumbuh di perairan dekat pantai lebih toleran terhadap konsentrasi tinggi sedimen tersuspensi daripada spesies yang hidup di perairan lebih dalam pada fringing reef yang menghadap laut (Pastorok dan Bilyard 1985 in Connell dan Hawker 1992; Robert & Muray 1995 in Rehm Team 1997). Karang batu dapat mentolerir masukan sedimen dalam jangka waktu pendek selama beberapa hari, tetapi sedimentasi dan kekeruhan tinggi akan mengurangi jumlah zooxanthellae, polip yang mengembang, atau sekresi mukus yang abnormal. Karang lebih toleran terhadap masukan sedimen dalam waktu pendek daripada pada kondisi kekeruhan tinggi secara terus menerus (Connell & Hawker 1992). Pada Gambar 6 disajikan bagaimana pengaruh sedimentasi terhadap zonasi karang. Sedangkan pada Gambar 7 mendeskripsikan diagram pengaruh energi gelombang, kecepatan arus dan kecerahan perairan terhadap sebaran vertikal karang dan bentuk pertumbuhannya.
Baca lebih lanjut

99 Baca lebih lajut

Dampak Aktivitas Masyarakat terhadap Ekosistem Terumbu Karang di Perairan Pesisir Dusun Katapang Kabupaten Seram Bagian Barat

Dampak Aktivitas Masyarakat terhadap Ekosistem Terumbu Karang di Perairan Pesisir Dusun Katapang Kabupaten Seram Bagian Barat

Terumbu karang di Indonesia mengalami penurunan kualitas sangat cepat (Monk et.al., 2000 dan Sahetapy, 2006) karena sifat alami terumbu karang yang sensitif dan mudah hancur. Berbagai penelitian menunjukan penyebab utama penurunan kualitas terumbu karang adalah tekanan pemanfaatan sumberdaya perikanan untuk memenuhi kebutuhan ekonomi dan konsumsi, dan aktivitas manusia di wilayah teresterial (Hopley and Suharsono, 2000; Dutton, et.al., 2000). Terkait fungsi dan peran terumbu karang, pertambahan jumlah penduduk dan peningkatan kebutuhan hidup, maka tekanan pemanfaatan sumberdaya terumbu karang terus meningkat yang menyebabkan kondisi terumbu karang terdegradasi menurut waktu. Oleh karena itu, Tuwo (2011) mengatakan 70% terumbu karang Indonesia dalam kondisi Rusak dan hanya 30% dalam kondisi Baik.
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

Identifikasi Kondisi Ekosistem Terumbu Karang Pulau Nusa Manu dan Nusa Leun di Kabupaten Maluku Tengah

Identifikasi Kondisi Ekosistem Terumbu Karang Pulau Nusa Manu dan Nusa Leun di Kabupaten Maluku Tengah

Berdasarkan hasil penelitian ini, maka dapat disimpulkan bahwa, perairan kedua pulau di kelilingi oleh terumbu karang tepi laut (fringing reef) dengan tutupan hamparan karang hidup yang beragam di setiap lokasi pengamatan. Dominansi terumbu karang jenis Acropora branching dengan bentuk pertumbuhan terumbu karang mengukuti kontur dasar laut dan membentuk cincin terumbu karang yang luas dan melingkar. Kurun waktu delapan tahun terakhir diketahui terumbu karang di lokasi ini telah mengalami penyusutan luasan sebanyak 94.1 Ha. Kondisi terumbu karang pada lokasi pengamatan bervariasi, pada stasiun 1 dan 2 masuk dalam kategori sedang, untuk stasiun 3 berada pada kategori baik, sedangkan sangat baik ditemui pada stasiun 4 yaitu di utara Pulau Nusa Leun.
Baca lebih lanjut

13 Baca lebih lajut

Pengelolaan Ekosistem Terumbu Karang Pasca Pemutihan Karang Studi Kasus Pemutihan Karang Pada 2010 Di Perairan Utara Aceh

Pengelolaan Ekosistem Terumbu Karang Pasca Pemutihan Karang Studi Kasus Pemutihan Karang Pada 2010 Di Perairan Utara Aceh

Berbeda halnya dengan wilayah Weh Open Access, wilayah ini terletak mulai dari bagian selatan Pulau Weh sampai dengan bagian barat Pulau Weh yang berbatasan dengan kawasan wisata Iboih dan kawasan utara yang berbatasan dengan KKP Pantai Timur dan Kawasan wisata Iboih. Wilayah Weh Open Access mempunyai kontur pegunungan dengan lahan yang bisa dimanfaatkan untuk perkebunan. Sehingga selain menjadi nelayan masyarakat di wilayah ini mempunyai alternatif untuk berladang atau beternak. Hal tersebut yang membuat parameter komposisi nelayannya kecil serta tingkat ketergantungan masyarakat terhadap sumberdaya laut relatif lebih kecil dibandingkan dengan yang lainnya. Masyarakat nelayan di wilayah Weh Open Access beberapa ada yang menggunakan alat tangkap panah dengan bantuan kompresor, sehingga nelayan ini cukup mengerti tentang kondisi terumbu karang. Hal tersebut terlihat ketika pada saat pemutihan terjadi tahun 2010, sebagian besar nelayan panah mengetahui karang sedang memutih walaupun tidak semua mengetahui penyebab dan dampaknya. Hal tersebut membuat nilai persepsi masyarakat terhadap sumberdaya alam mempunyai nilai yang sama tingginya dengan kawasan TWAL Iboih.
Baca lebih lanjut

87 Baca lebih lajut

Kajian Keterkaitan Ekologi Acanthaster Planci Dan Ekosistem Terumbu Karang Di Kabupaten Bintan

Kajian Keterkaitan Ekologi Acanthaster Planci Dan Ekosistem Terumbu Karang Di Kabupaten Bintan

Kabupaten Bintan memiliki hamparan ekosistem terumbu karang, berbagai aktivitas antropogenik masyarakat di wilayah ini seperti eksploitasi sumberdaya perikanan, pariwisata, penambangan pasir diduga sebagai penyebab kerusakan ekosistem terumbu karang. Kerusakan ini dijelaskan dari hasil penelitian CRITC-LIPI Coremap II 2006, bahwa tutupan karang hidup rata-rata 25,27 %, tidak hanya itu populasi megabenthos sebagai indikator lingkungan yang tercatat menunjukkan kekawatiran. Perlu penelitian yang berkaitan dengan faktor bioekologi terhadap Kualitas Tutupan Karang Hidup. Beberapa metode telah digunakan untuk mendeskripsikan kondisi terumbu karang tersebut. Hasil penelitian diperoleh di kawasan I dengan 11 stasiun pengamatan: luasan tutupan karang hidup berkisar 34-99 %, tidak ditemukan adanya Acanthaster planci . Kawasan II dengan 4 stasiun pengamatan, tutupan karang hidupnya berkisar 65-87%, ditemukan A. planci di 3 stasiun. A. planci lebih banyak ditemukan di substrat Acropora branching (ACB) dengan jumlah 14 individu, 6 individu pada substrat coral massive dan coral foliose, 4 individu pada substrat coral submassive, dan 3 individu pada dead coral (DC). Kelimpahan A. planci lebih terkait pada jenis substrat dan bentuk karang bila dibandingkan dengan luas penutupan karang hidup. Kerusakan terumbu karang di kawasan I lebih disebabkan oleh kondisi perairan seperti sedimentasi dan berbagai aktivitas langsung dari masyarakat. Sedangkan di kawasan II kerusakan dipengaruh oleh destructive fishing,disamping kelimpahan A. planci diduga telah mempengaruhi tutupan karang hidup dengan kelimpahan 25 ekor/0,5 ha setara (50 ind/ha). Ini melebihi daya dukung terumbu karang sebanyak 30 ind/ha. Monitoring dan DPL diperlukan untuk mengontrol kelimpahan A. planci.
Baca lebih lanjut

11 Baca lebih lajut

Hasil tangkapan bubu pada terumbu karang alami dan terumbu karang buatan di Perairan Barru Kabupaten Barru

Hasil tangkapan bubu pada terumbu karang alami dan terumbu karang buatan di Perairan Barru Kabupaten Barru

Besarnya jumlah hasil tangkapan bubu pada terumbu karang asli dibandingkan dengan jumlah hasil tangkapan pada terumbu karang buatan diduga disebabkan oleh sifat terumbu itu sendiri, dimana terumbu karang asli mmerupakan habitat utama bagi ikan-ikan karang. Selain itu juga disebabkan oleh kondisi terumbu karang tersebut yang masih layak bagi ikan-ikan ikan untuk mencari makan, memijah, ataupun bersembunyi dan jumlah spesies ikan ini banyak. Menurut Sukarno (1983) lingkungan hidup, ekosistem terumbu karang sekaligus berfungsi sebagai lingkungan tempat tinggal dan berlindung, tempat mencari makan dan berkembang biak bagi biota yang hidup di karang dan dari perairan sekitarnya. Selain itu menurut Nybakken (1988), salah satu penyebab tingginya keragaman spesies di terumbu adalah karena variasi habitat terdapat di terumbu. Terumbu karang tidak hanya terdiri karang saja tetapi juga daerah berpasir, teluk dan celah, daerah alga juga perairan yang dangkal dan dalam serta zona-zona yang berbeda melintasi karang. Habitat yang beraneka ragam ini dapat menerangkan jumlah ikan-ikan itu.
Baca lebih lanjut

6 Baca lebih lajut

ANALISIS KEBERLANJUTAN PENGELOLAAN EKOSISTEM TERUMBU KARANG DI KAWASAN KONSERVASI LAUT DAERAH BINTAN TIMUR KEPULAUAN RIAU

ANALISIS KEBERLANJUTAN PENGELOLAAN EKOSISTEM TERUMBU KARANG DI KAWASAN KONSERVASI LAUT DAERAH BINTAN TIMUR KEPULAUAN RIAU

Wilayah pesisir Bintan Timur mempunyai obyek atau tempat yang bernilai estetika tinggi, seperti pantai pasir putih, ekosistem terumbu karang serta panorama laut lainnya. Dalam RTRW Kabupaten Bintan kawasan Pesisir Bintan Timur telah ditetapkan sebagai daerah pengembangan pariwisata bahari dan perikanan berkelanjutan. Obyek atau tempat-tempat ini telah menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan sebagai obyek wisata. Bila masyarakat tempatan diberdayakan untuk ikut berpartsipasi dalam pengelolaan, maka akan menjadi mata pencaharian alternatif yang sangat potensial untuk meningkatkan pendapatan masyarakat.
Baca lebih lanjut

15 Baca lebih lajut

KAJIAN KETERKAITAN EKOLOGI Acanthaster planci DAN EKOSISTEM TERUMBU KARANG DI KABUPATEN BINTAN

KAJIAN KETERKAITAN EKOLOGI Acanthaster planci DAN EKOSISTEM TERUMBU KARANG DI KABUPATEN BINTAN

substrat dan bentuk karang bila dibandingkan dengan luas penutupan karang hidup. Kerusakan terumbu karang di kawasan I lebih disebabkan oleh kondisi perairan seperti sedimentasi dan berbagai aktivitas langsung dari masyarakat. Sedangkan di kawasan II kerusakan dipengaruh oleh destructive fishing,disamping kelimpahan A. planci diduga telah mempengaruhi tutupan karang hidup dengan kelimpahan 25 ekor/0,5 ha setara (50 ind/ha). Ini melebihi daya dukung terumbu karang sebanyak 30 ind/ha. Monitoring dan DPL diperlukan untuk mengontrol kelimpahan A. planci.
Baca lebih lanjut

11 Baca lebih lajut

Kondisi Ekosistem Terumbu Karang di Perairan Tablasupa Kabupaten Jayapura dan Nilai Manfaat Ekonominya

Kondisi Ekosistem Terumbu Karang di Perairan Tablasupa Kabupaten Jayapura dan Nilai Manfaat Ekonominya

Keberadaan ekosistem terumbu karang di perairan Tablasupa berdampak pada ekonomi dan pengembangan wilayah setidaknya dapat dilihat dalam dua hal, yaitu dampak keberadaannya secara spasial (keruangan) dan dampak ekonomi (finansial) yang ditimbulkannya. Secara spasial, terdapat pembatasan berbagai aktivitas dan jumlah input (adanya zonasi perlindungan), akan dapat menolong melindungi habitat-habitat, merupakan keterwakilan tipe kehidupan lautan, membantu produktifitas lautan di wilayah sekitarnya dan menghindarkan dari kerusakan yang lebih jauh. Sedangkan secara ekonomi, keberadaan ekosistem terumbu karang akan berdampak terhadap peningkatan pendapatan ekonomi masyarakat setempat.
Baca lebih lanjut

6 Baca lebih lajut

Kondisi ekosistem terumbu karang di Perairan Teluk Sebong Kabupaten Bintan (Condition of coral reef ecosystems in Teluk Sebong waters, Bintan Regency)

Kondisi ekosistem terumbu karang di Perairan Teluk Sebong Kabupaten Bintan (Condition of coral reef ecosystems in Teluk Sebong waters, Bintan Regency)

Pengudang dan Perairan Pulau Rawa yaitu Coral Massive (CM) serta Perairan Lagoi Bay dan Perairan Banyan Tree yaitu Acropora Tabulate (ACT). Van Woesik (2002) menyatakan bahwa karang di daerah yang sedimentasi tinggi, umumnya membentuk pertumbuhan yang kecil atau foliose. Chappel (1980) menyatakan bahwa karang yang tumbuh di perairan dengan sedimentasi tinggi mengarah ke bentuk massive, sedangkan di perairan yang jernih atau sedimentasi rendah, lebih banyak ditemukan dalam bentuk bercabang dan tabulate. Menurut Zamani et al. (2011), karang massive lebih banyak tumbuh di terumbu terluar dengan perairan berarus. Gelombang berpengaruh terhadap perubahan bentuk koloni terumbu. Karang yang hidup di daerah terlindung dari gelombang (leeward zones) memiliki bentuk percabangan ramping dan memanjang sementara pada gelombang yang kuat (windward zones) kecenderungan pertumbuhan berbentuk percabangan pendek, kuat, merayap atau submassive. Tingginya bentuk pertumbuhan foliose dan massive di Perairan Berakit, Perairan Pengudang dan Perairan Pulau Rawa mengindikasikan bahwa kondisi perairan terletak di perairan yang terbuka yang berhadapan langsung dengan perairan luas yaitu Laut Natuna Utara, serta perairan tersebut dipengaruhi oleh sedimentasi yang tinggi dan tekanan hidrodinamis dari alam seperti gelombang dan anginnya kencang yang terjadi setiap tahunnya, khususnya terjadi pada Musim Utara (Desember hingga Februari) (Suhana et al., 2018). Sedangkan, untuk Perairan Lagoi Bay dan Perairan Banyan Tree merupakan perairan yang dangkal dengan kejenihan yang tinggi dan sedimentasi yang rendah.
Baca lebih lanjut

14 Baca lebih lajut

TINJAUAN PUSTAKA Ekosistem Terumbu Karang

TINJAUAN PUSTAKA Ekosistem Terumbu Karang

Berdasarkan periode aktif mencari makan, ikan karang juga dikelompokkan menjadi tiga kategori (Adrim 1993; Terangi 2004), yaitu: (1) Ikan nocturnal, jenis ikan karang yang aktif ketika malam hari. Ada sekitar 10% jenis ikan karang yang memiliki sifat nokturnal. Ikan ini bersembunyi di celah-celah karang atau gua karang sepanjang siang hari dan akan muncul ke permukaan air untuk mencari makan pada malam hari. Ikan-ikan dari suku Holocentridae (Swanggi), suku Apogonidae (Beseng), suku Hamulidae, Priacanthidae (Bigeyes), Muraenidae (Eels), Serranidae (Jew fish) dan beberapa dari suku Mullidae (Goat fish) merupakan contoh dari ikan nocturnal, (2) Ikan diurnal yaitu jenis ikan karang yang aktif di siang hari. Meliputi sekitar 75% ikan yang hidup di daerah terumbu karang. Sebagian dari ikan- ikan ini berwarna sangat menarik serta umumnya sangat erat berkaitan dengan terumbu karang, contohnya ikan dari suku Labridae (wrasse), Chaetodontidae (Butterfly fishes), Pomacentridae (Damselfishes), Scaridae (Parrot fishes), Acanthuridae (Surgeon fishes), Bleniidae (Blennies), Balistidae (Trigger fishes), Pomaccanthidae (Angel fishes), Monacanthidae, Ostracionthidae (Box fishes), Tetraodontidae, Canthigasteridae dan beberapa dari Mullidae (Goat fish), dan (3) Ikan crepuscular yaitu jenis-jenis ikan karang yang aktif pada pagi hari atau pada sore sampai menjelang malam), contohnya pada ikan-ikan dari suku Sphyraenidae (Barracudas), Serranidae (Groupers), Carrangidae (Jacks), Scorpionidae (Lion fishes), Synodontidae (Lizardi fishes), Carcharinidae, Lamnidae, Lutjanidae, Spyrnidae (Sharks) dan beberapa dari Muraenidae (Eels).
Baca lebih lanjut

21 Baca lebih lajut

Ekosistem Terumbu KaranG IBU NEVI

Ekosistem Terumbu KaranG IBU NEVI

Kenaikan suhu laut 1–2°C diperkirakan terjadi tahun 2100 (Bijkma et al., 1995). Di banyak daerah tropis bahkan telah terjadi kenaikan 0,5°C selama 2 dekade terakhir (Strong et al., 2000). Tampaknya mungkin hanya perubahan kecil, tetapi ini dapat diartikan bahwa selama periode yang lebih hangat dari fluktuasi musim yang normal, suhu akan melebihi batas toleransi dari hampir semua jenis karang. Ini dapat menaikkan frekuensi pemutihan (Hoegh Guldberg, 1999). Suatu kenaikan suhu dapat berarti daerah yang saat ini berada diluar wilayah terumbu karang akan menjadi tepat untuk pertumbuhan karang, menghasilkan perpindahan geografis dari distribusi populasi pembangun terumbu karang. Memang membutuhkan waktu sebelum hal ini terbukti; dan bilamana hal ini terjadi, faktor-faktor lingkungan lain dengan posisi lintang yang lebih tinggi mungkin tidak kondusif untuk pertumbuhan terumbu karang. Lebih lanjut lagi, naiknya SPL mempengaruhi kepekaan zooxanthellae, contohnya sinar yang diperlukan untuk fotosintesis malah merusak sel-selnya (Hoegh-Guldberg, 1999). Karang malah dapat menjadi rapuh terhadap kenaikan radiasi sinar UV karena menipisnya lapisan ozon.
Baca lebih lanjut

17 Baca lebih lajut

Indeks Kerentanan Ekosistem Terumbu Karang Terhadap Tumpahan Minyak. Studi Kasus Ekosistem Terumbu Karang Di Kepulauan Seribu

Indeks Kerentanan Ekosistem Terumbu Karang Terhadap Tumpahan Minyak. Studi Kasus Ekosistem Terumbu Karang Di Kepulauan Seribu

Salah satu metode untuk menentukan pengelolaan yang efektif bagi sumberdaya pesisir dan lautan adalah analisis kerentanan. Tumpahan minyak merupakan salah satu ancaman bagi terumbu karang, kejadiannya tidak dapat diprediksi dan berdampak sangat merusak. Kepulauan Seribu berpotensi terdampak akibat tumpahan minyak. Kejadian tumpahan minyak di wilayah ini bersumber dari kecelakaan kapal yang keluar masuk Pelabuhan Tanjung Priok dan jalur ALKI I, dan kecelakaan pada operasi eksplorasi-eksploitasi minyak bumi. Setidaknya telah tercatat kejadian tumpahan minyak memasuki kawasan Kepulauan Seribu sejak 2003, 2004, 2006, 2007 dan 2008. Penelitian ini bertujuan merumuskan parameter dalam menentukan indeks kerentanan ekosistem terumbu karang terhadap tumpahan minyak dan menghitung indeks kerentanan di Kepulauan Seribu. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan pendekatan teori kerentanan, dimana kerentanan merupakan fungsi dari keterpaparan (exposure/E), kepekaan (sensitivity/S), dan kapasitas adaptif (adaptive capacity/AC). Tahapan penelitian ini yaitu: 1) tahap studi pustaka untuk menyusun parameter; 2) tahap survei pakar untuk menentukan signifikansi masing-masing parameter; 3) tahap survei lapang untuk mengumpulkan data-data per parameter; dan 4) tahap analisis data. Parameter dalam kategori exposure antara lain: tipe pasang surut, tunggang pasang, tinggi gelombang, tipe substrat dan kedalaman habitat. Parameter dalam kategori sensitivity yaitu: tipe pertumbuhan terumbu karang, kelandaian, status perlindungan, persentase tutupan, kerapatan, spesies dilindungi, dan kelimpahan ikan. Parameter dalam kategori adaptive capacity yaitu: perangkat pengananan tumpahan minyak, kelembagaan konservasi, respon masyarakat dan ketergantungan ekonomi. Stasiun penelitian adalah Pulau Pramuka, Panggang, Harapan, Kelapa, Belanda
Baca lebih lanjut

130 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...

Related subjects