Top PDF Kualitas Tidur dan Faktor-faktor Gangguan Tidur Pada Penderita Diabetes Mellitus di Wilayah Kerja Puskesmas Medan Johor

Kualitas Tidur dan Faktor-faktor Gangguan Tidur Pada Penderita Diabetes Mellitus di Wilayah Kerja Puskesmas Medan Johor

Kualitas Tidur dan Faktor-faktor Gangguan Tidur Pada Penderita Diabetes Mellitus di Wilayah Kerja Puskesmas Medan Johor

Tidur dapat dihasilkan dari pengeluaran serotonin dari sel tertentu dalam sistem tidur Raphe pada pons dan otak depan bagian tengah. Zat agonis serotonin berguna untuk menekan tidur dan antagonis serotonin meningkatkan tidur gelombang-lambat pada manusia. Seseorang tetap tertidur atau terbangun tergantung pada keseimbangan impuls yang diterima dari pusat yang lebih tinggi, reseptor sensori perifer dan sistem limbik. Ketika seseorang mencoba untuk tidur mereka akan menutup mata dan berada pada posisi relaks. Jika stimulus ke SAR menurun maka aktivasi SAR juga akan menurun. Pada beberapa bagian lain, BSR mengambil alih dan menyebabkan seseorang tidur (Ganong, 2002).
Baca lebih lanjut

68 Baca lebih lajut

Kualitas Tidur Dan Faktor-Faktor Gangguan Tidur Pada Penderita Hipertensi Di Wilayah Kerja Puskesmas Medan Johor

Kualitas Tidur Dan Faktor-Faktor Gangguan Tidur Pada Penderita Hipertensi Di Wilayah Kerja Puskesmas Medan Johor

Gangguan tidur juga dapat disebabkan oleh faktor lingkungan, di antaranya adalah suara bising dari keluarga, sorot lampu ruangan yang terlalu terang dan suhu ruangan yang terlalu panas (Potter & Perry, 2005). Pada penelitian ini didapati ada 57% responden yang pernah berada pada lingkungan yang terkadang menimbulkan suara bising dan 35% di antaranya mengalami gangguan tidur ringan. Menurut Hanning (2009), kebisingan dapat menyebabkan tertundanya tidur dan juga dapat membangunkan seseorang dari tidur. WHO (2004) juga menyatakan hal yang sama namun WHO menambahkan bahwa sebagian besar responden tidak mengeluhkan kurang tidur tetapi memiliki tidur yang non-restoratif, mengalami kelelahan dan atau sakit kepalapada saat bangun pagi dan kantuk yang berlebihan di siang hari.
Baca lebih lanjut

70 Baca lebih lajut

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 1. Konsep Tidur 1.1. Defenisi Tidur - Kualitas Tidur Dan Faktor-Faktor Gangguan Tidur Pada Penderita Hipertensi Di Wilayah Kerja Puskesmas Medan Johor

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 1. Konsep Tidur 1.1. Defenisi Tidur - Kualitas Tidur Dan Faktor-Faktor Gangguan Tidur Pada Penderita Hipertensi Di Wilayah Kerja Puskesmas Medan Johor

Tidur didefenisikan sebagai suatu keadaan bawah sadar dimana seseorang masih dapat dibangunkan dengan pemberian rangsang sensorik atau dengan rangsang lainnya (Guyton & Hall, 1997). Tidur adalah suatu proses perubahan kesadaran yang terjadi berulang-ulang selama periode tertentu (Potter & Perry, 2005). Menurut Chopra (2003), tidur merupakan dua keadaan yang bertolak belakang dimana tubuh beristirahat secara tenang dan aktivitas metabolisme juga menurun namun pada saat itu juga otak sedang bekerja lebih keras selama periode bermimpi dibandingkan dengan ketika beraktivitas di siang hari.
Baca lebih lanjut

17 Baca lebih lajut

Perbandingan Kualitas Tidur pada Pasien Diabetes Melitus Laki-laki dan Perempuan di RSUD Dr. Djasamen Saragih Pematangsiantar

Perbandingan Kualitas Tidur pada Pasien Diabetes Melitus Laki-laki dan Perempuan di RSUD Dr. Djasamen Saragih Pematangsiantar

Dewi, M. P. (2011). Kualitas Tidur dan Faktor-faktor Gangguan Tidur Pada Penderita Diabetes Mellitus di Wilayah Kerja Puskesmas Medan Johor. Skripsi. Medan: Fakultas Keperawatan Universitas Sumatera Utara. Ghifaajah. (2012). Pengaruh pemberian aktivitas ROM (Rage of Motion) terhadap

5 Baca lebih lajut

Kualitas Tidur dan Faktor-faktor Gangguan Tidur pada Penderita Hipertensi

Kualitas Tidur dan Faktor-faktor Gangguan Tidur pada Penderita Hipertensi

Penelitian ini hanya dilakukan pada 35 orang responden penderita hipertensi di Wilayah kerja Puskesmas Medan Johor. Untuk penelitian selanjutnya yang berkaitan dengan judul penelitian ini sebaiknya mempunyai sampel yang lebih banyak yang mewakili dari beberapa Wilayah Kerja Puskesmas. Di samping itu perlu diperhatikan apakah gejala klinis dari penderita hipertensi yang menyebabkan tidurnya terganggu sebelum diidentifikasi tingkat gangguannya dan juga perlu diidentifikasi skala tiap-tiap bagian dari faktor gangguan tidur yang dialami oleh penderita hipertensi seperti faktor fisik yaitu pusing, rasa tidak nyaman, sulit bernafas, sukar tidur, dan mudah lelah serta faktor lingkungan yaitu suara/ kebisingan, sorot lampu ruangan yang terlalu terang, dan suhu ruangan yang terlalu panas. Selain itu, peneliti juga menyarankan untuk menambahkan pertanyaan terbuka pada kuesioner faktor-faktor gangguan tidur untuk mengetahui adanya faktor lain yang menyebabkann gangguan tidur selain gejala fisik penyakit tertentu maupun lingkungan.
Baca lebih lanjut

70 Baca lebih lajut

KUALITAS TIDUR DAN FAKTOR FAKTOR GANGGUA

KUALITAS TIDUR DAN FAKTOR FAKTOR GANGGUA

Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi kualitas tidur dan faktor- faktor gangguan tidur pada penderita hipertensi di wilayah kerja Puskesmas Medan Johor. Penelitian ini menggunakan desain deskriptif dengan metode pengambilan sampel secara purposive sampling. Sampel dalam penelitian ini adalah 35 orang penderita hipertensi yang bertempat tinggal di wilayah kerja Puskesmas Medan Johor. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan kuesioner yang terdiri dari data demografi responden, kualitas tidur dan faktor- faktor gangguan tidur pada penderita hipertensi di wilayah kerja Puskesmas Medan Johor.
Baca lebih lanjut

11 Baca lebih lajut

Kualitas Tidur dan Faktor Gangguan Tidur pada Penderita Hipertensi di Wilayah Kerja Medan Teladan

Kualitas Tidur dan Faktor Gangguan Tidur pada Penderita Hipertensi di Wilayah Kerja Medan Teladan

Siklus tidur-bangun akan mempengaruhi fungsi fisiologi, respons perilaku, dan kemampuan seseorang untuk berkonsentrasi membuat keputusan serta melakukan kegiatan sehari – harinya. (Potter & Perry, 2005). Saat sakit kebutuhan tidur seseorang penting, hal ini disebabkan karena tidur merupakan salah satu kebutuhan dasar manusia yang brfungsi untuk memulihkan kesehatan seseorang (Tarwoto, 2006) agar dapat kembali pada keadaan yang optimal (Priharjo, 1993). Selain itu tidur berfungsi untuk memulihkan keseimbangan alami di antara pusat-pusat neuron (Guyton, 2007).
Baca lebih lanjut

21 Baca lebih lajut

FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEPATUHAN PENGOBATAN PADA PENDERITA DIABETES MELLITUS  Faktor Yang Berhubungan Dengan Kepatuhan Pengobatan Pada Penderita Diabetes Mellitus(Dm) Tipe Ii Di Wilayah Kerja Puskesmas Purwodiningratan Surakarta.

FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEPATUHAN PENGOBATAN PADA PENDERITA DIABETES MELLITUS Faktor Yang Berhubungan Dengan Kepatuhan Pengobatan Pada Penderita Diabetes Mellitus(Dm) Tipe Ii Di Wilayah Kerja Puskesmas Purwodiningratan Surakarta.

Diabetes Mellitus tipe II adalah penyakit kronis defisiensi atau resistensi insulin absolute atau relatif, ditandai dengan gangguan metabolisme karbohidrat, protein, dan lemak, resistensi insulin dengan derajat defek sekresi insulin yang bervariasi. Diabetes menjadi salah satu penyebab utama kematian di dunia. Prevalensi DM tipe II di wilayah kerja Puskesmas Purwodiningratan pada tahun 2014 (7,48%) lebih tinggi dibanding pada tahun 2012 (4,08%). Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis hubungan antara niat pasien, sikap pasien, dukungan suami, kepercayaan pasien dengan kepatuhan pengobatan pada penderita DM tipe II di wilayah kerja Puskesmas Purwodiningratan Surakarta. Metode penelitian ini adalah observasional dengan menggunakan rancangan cross sectional design. Populasi dari penelitian ini adalah semua pasien wanita yang patuh atau tidak patuh pada pengobatan DM tipe II pada tahun 2015. Pemilihan sampel sebanyak 71 orang dilakukan menggunakan Purposive Sampling, sedangkan teknik uji statistik menggunakan uji Chi Square. Hasil analisis bivariat menunjukkan bahwa ada hubungan antara niat pasien (p=0,024;OR=3,900; 95%CI=1,143-13,311), ada hubungan antara sikap pasien (p=0,018;OR=4,182; 95%CI=1,214-14,408), tidak ada hubungan antara dukungan suami (p=0,614;OR=1,455; 95%CI=0,337-6,274), tidak ada hubungan antara kepercayaan pasien (p=0,674;OR=0,777; 95%CI=0,239-2,525) dengan kepatuhan pengobatan DM tipe II di Puskesmas Purwodiningratan Surakarta. Kata Kunci : Niat pasien, sikap pasien, dukungan suami, kepercayaan pasien, kepatuhan terhadap pengobatan
Baca lebih lanjut

15 Baca lebih lajut

Kualitas Tidur dan Faktor Gangguan Tidur pada Penderita Hipertensi di Wilayah Kerja Medan Teladan

Kualitas Tidur dan Faktor Gangguan Tidur pada Penderita Hipertensi di Wilayah Kerja Medan Teladan

gangguan homeostasis pada peningkatan tekanan darah seseorang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa seseorang yang mengalami tidur kurang dari 6-7 jam setiap malamnya ternyata memiliki risiko penyakit darah tinggi yang lebih besar (Gottlieb, 2006). Hasil penelitian lainnya juga menunjukkan bahwa tekanan darah dan denyut jantung seseorang akan menurun sebanyak 10-20% saat tidur, dan akan meningkat kembali saat bangun (Gangwisch, 2006).

4 Baca lebih lajut

Kualitas Tidur dan Faktor Gangguan Tidur pada Penderita Hipertensi di Wilayah Kerja Medan Teladan

Kualitas Tidur dan Faktor Gangguan Tidur pada Penderita Hipertensi di Wilayah Kerja Medan Teladan

Sehubungan dengan akan dilakukannya penelitian tentang “Kualitas Tidur dan Faktor-Faktor Gangguan Tidur pada Penderita Hipertensi di Wilayah Kerja Puskesmas Medan Teladan”, maka peneliti berharap dapat menggunakan Sleep Quality Questionaires (SQQ) yang telah Ibu buat untuk thesis Ibu dengan judul “Sleep Quality and Factors Interfering with Sleep Among Hospitalized Elderly in Medical Units, Medan Indonesia”.

16 Baca lebih lajut

Kualitas Tidur dan Faktor Gangguan Tidur pada Penderita Hipertensi di Wilayah Kerja Medan Teladan

Kualitas Tidur dan Faktor Gangguan Tidur pada Penderita Hipertensi di Wilayah Kerja Medan Teladan

Buku Ajar Asuhan Keperawatan Klien dengan Gangguan Sistem Kardiovaskular dan Hematologi.. Jakarta: Salemba Medika.[r]

4 Baca lebih lajut

Kualitas Tidur dan Faktor Gangguan Tidur pada Penderita Hipertensi di Wilayah Kerja Medan Teladan

Kualitas Tidur dan Faktor Gangguan Tidur pada Penderita Hipertensi di Wilayah Kerja Medan Teladan

menunjukkan bahwa sekitar 68% penderita hipertensi mengalami nokturia, hal ini biasanya terjadi (Kuswardhani, 2006). Dan sekitar 46% hasil penelitian menunjukkan bahwa penderita hipertensi mengalami sakit kepala. Secara umum penderita hipertensi mengalami gangguan tidur karena beberapa kondisi klinis yang dialaminya sehingga berdampak pada kualitas tidur yang buruk (Cortelli, 2004). Sedangkan faktor lingkungan seperti suhu ruangan yang terlalu panas atau terlalu dingin, suara bising, cahaya yang terlalu terang, serta ruang dan ukuran tempat tidur juga berdampak pada kualitas tidur (Potter & Perry, 2005). Hasil penelitian menunjukkan bahwa siklus sirkadian pada tidur ternyata tidak hanya sensitif terhadap cahaya, tapi juga suhu. Suhu yang terlalu dingin pun akan membuat tidur menjadi tidak nyaman, sedangkan suhu yang terlalu panas akan mengakibatkan sesorang terbangun dari tidur karena fase REM pada saat tidur terganggu, hal ini juga akan mengakibatkan seseorang kesulitan untuk memulai tidur bahkan bisa mengubah pola tidur. Dengan adanya kondisi fisik dan lingkungan yang nyaman, dan tenang saat tertidur maka seseorang dapat terhindar dari gangguan tidur dan kualitas tidur yang buruk (Harvard, 2007).
Baca lebih lanjut

81 Baca lebih lajut

FAKTOR RISIKO KEJADIAN DIABETES MELLITUS TIPE II DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS PURWODININGRATAN   Faktor Risiko Kejadian Diabetes Mellitus Tipe Ii Di Wilayah Kerja Puskesmas Purwodiningratan Surakarta.

FAKTOR RISIKO KEJADIAN DIABETES MELLITUS TIPE II DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS PURWODININGRATAN Faktor Risiko Kejadian Diabetes Mellitus Tipe Ii Di Wilayah Kerja Puskesmas Purwodiningratan Surakarta.

Menurut PERKENI (2006), aktivitas fisik atau kegiatan jasmani sehari-hari secara teratur (3-4 kali seminggu selama kurang lebih 30 menit), merupakan salah satu pilar dalam pengelolaan DM tipe II. Kegiatan sehari-hari seperti berjalan kaki ke pasar, menggunakan tangga, mencuci mobil, menyapu, mengepel, membersihkan jendela, membereskan kamar tidur, menyetrika, menyiram tanaman, membersihkan taman, berkebun, dan aktivitas-aktivitas kecil lainnya harus tetap dilakukan. Aktivitas fisik selain menjaga kebugaran juga dapat menurunkan berat badan dan memperbaiki sensitivitas insulin, sehingga akan memperbaiki kendali glukosa darah. Aktivitas fisik yang dianjurkan berupa latihan jasmani yang bersifat aerobik seperti jalan kaki, bersepeda santai, jogging, dan berenang. Selain itu, bagi penderita DM dapat melakukan senam diabetes secara teratur (3 kali seminggu selama 15-30 menit). Senam diabetes dapat berupa gerakan senam kaki diabetes yang bertujuan untuk mencegah terjadinya komplikasi dan infeksi jika terjadi luka.
Baca lebih lanjut

16 Baca lebih lajut

Pola Tidur dan Gangguan Tidur Klien Hipertensi di Puskesmas Helvetia

Pola Tidur dan Gangguan Tidur Klien Hipertensi di Puskesmas Helvetia

Kualitas tidur dan faktor gangguan tidur pada penderita hipertensi di wilayah kerja puskesmas medan teladan.. Sleep Disorders and Headache.[r]

3 Baca lebih lajut

Kualitas Tidur dan Faktor Gangguan Tidur pada Penderita Hipertensi di Wilayah Kerja Medan Teladan

Kualitas Tidur dan Faktor Gangguan Tidur pada Penderita Hipertensi di Wilayah Kerja Medan Teladan

In general, people with hypertension have a experience sleep disturbances caused by physical conditions and environmental conditions experienced have impact on poor sleep quality and will affect a person blood pressure. This research method uses a descriptive design that aims to identify the quality of sleep and sleep disturbance factors of Patients With Hypertension At The Work Area Of Teladan Medan Community Health Center by using 37 samples people with hypertension. The sampel taken uses convinience sampling in technique. The data collecting uses questionnaire consist of subject personal data questionnaire, sleep quality questionnaire and sleep distrubances factors questionnaire. The results of research shows the majority respondents have a total sleep time during the night of 5-6 hours (43%), frequency awakening three time or more through the night (38%), and the length of time it takes to intiate sleep at night is 31 - 60 minutes (35%). The majority of respondents have a sleep distrubances from the physical conditions is a headache (81%), nocturia (64%), and discomfort (57%) and sleep disturbance from the environmental conditions is a poor ventilation (76%), noise (73 %) and the hot room temperature (59%). Based on research data, the researcher recommends for The Work Area Of Teladan Medan Community Health Center to overcome a poor sleep quality and sleep disturbances ffactors in patients with hypertension.
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

Kualitas Tidur dan Faktor Gangguan Tidur pada Penderita Hipertensi di Wilayah Kerja Medan Teladan

Kualitas Tidur dan Faktor Gangguan Tidur pada Penderita Hipertensi di Wilayah Kerja Medan Teladan

Secara umum penderita hipertensi mengalami gangguan tidur karena beberapa kondisi fisik dan kondisi lingkungan yang dialaminya sehingga berdampak pada kualitas tidur yang buruk dan akan mempengaruhi peningkatan tekanan darah seseorang. Penelitian ini menggunakan desain deskriptif yang bertujuan untuk mengidentifikasi kualitas tidur dan faktor-faktor gangguan tidur pada penderita hipertensi di wilayah kerja Puskesmas Teladan Medan. Teknik pengumpulan sampel peelitian ini menggunakan metode covinience sampling dengan sampel penelitian adalah 37 orang penderita hipertensi. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan kuesioner yang terdiri dari kuisoner data demografi, kuisoner kualitas tidur dan kuisoner faktor-faktor gangguan tidur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas responden tidak dapat tidur dengan baik yang dapat dilihat dari total waktu tidur pada malam hari 5-6 jam (43%), frekuensi terbangun 3-4 kali pada malam hari (38%), dan lama waktu yang dibutuhkan untuk tertidur 31-60 menit (35%). Mayoritas responden mengalami gangguan tidur karena kondisi fisik seperti pusing (81%), nokturia (64%), dan rasa tidak nyaman (57%) dan mengalami gangguan tidur karena kondisi lingkungan seperti ventilasi yang tidak baik (76%), suara bising (73%) dan ruangan yang tidak nyaman (59%). Berdasarkan hasil penelitian diperlukan adanya rekomendasi untuk mengatasi kualitas tidur yang buruk dan fakor-faktor gangguan tidur pada penderita hipertensi.
Baca lebih lanjut

2 Baca lebih lajut

BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Lanjut Usia - Iin Purnamasari BAB II

BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Lanjut Usia - Iin Purnamasari BAB II

Orang yang bekerja dengan shif dan seringnya perubahan shifharus menyusun aktifitas sehingga orang tersebut siap untuk tidur padawaktu atau saat yang benar atau tepat. Latihan yang moderat biasanya mengkonduksi tidur. Akan tetapi latihan yang berlebihan dapat menyebabkan lambat atau tertundanya tidur. Kemampuan seseorang untuk relak sebelum memasuki tidur merupakan faktor yang pentingyang mempengaruhi kemampuannya untuk jatuh tidur.

23 Baca lebih lajut

ANALISIS FAKTOR DETERMINAN PENYEBAB JATUH PADA LANSIA DENGAN DIABETES MELLITUS DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS BANTUL 1 YOGYAKARTA

ANALISIS FAKTOR DETERMINAN PENYEBAB JATUH PADA LANSIA DENGAN DIABETES MELLITUS DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS BANTUL 1 YOGYAKARTA

Risk factor adalah kondisi yang mungkin terjadi pada lansia dengan efek merugikan yang signifikan terhadap kesehatan dan fungsi mereka dimana umumnya muncul dari kondisi lingkungan, kondisi psikososial, atau efek pengobatan yang buruk. (Miller 2012). Sesuai dengan teori Miller tersebut, faktor farmakologi menjadi faktor resiko penyebab jatuh pada lansia dengan diabetes mellitus. Hal ini disebabkan karena polifarmakologi atau konsumsi obat dengan jenis lebih dari 3 atau 4 jenis obat. Dua hal yang signifikan menyebabkan jatuh karena medikasi yaitu kerusakan yang disebabkan penggunaan obat dengan jumlah berlebih (overmedication) dan kerusakan akibat pemilihan dan interaksi beberapa obat (Cook 2003). Hal ini sesuai dengan penelitian Mettelinge (2013) yang menyebutkan lansia dengan diabetes mellitus mengkonsumsi obat rata-rata sembilan jenis dimana lansia tanpa diabetes biasanya mengkonsumsi empat jenis obat (Mettelinge et al. 2013). Penggunaan medikasi dihubungkan dengan efek obat yaitu terjadinya pusing pada lansia (Achmanagara 2012).
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

Hubungan Gaya Hidup, Nokturia, Nyeri Neuropati, dan Restless Legs Syndrome dengan Kualitas Tidur Pasien Diabetes Melitus

Hubungan Gaya Hidup, Nokturia, Nyeri Neuropati, dan Restless Legs Syndrome dengan Kualitas Tidur Pasien Diabetes Melitus

Gangguan tidur pada klien diabetes akan berdampak pada kualitas tidur klien yang buruk (Rajendran, Shruthi, Bubblu, Krishna, dan Mohamed, 2012). Lou, Peipe, Lei, Pan, Guiqiu, Ning, dan Cheng (2014) dalam penelitiannya menemukan bahwa umur, jenis kelamin, tingkat pendidikan merupakan faktor yang berhubungan dengan kualitas tidur klien diabetes melitus. Penelitian Lou, Peipe, Lei, Pan, Ziaxi, Ning, dan Jing (2012) ditemukan bahwa berat badan (BMI) dan kondisi komorbid berhubungan dengan kualitas tidur klien diabetes melitus. Spiegel, Kristen, Rachel, Esra, dan Eva (2005, dan Lou, Peipe, Lei, Pan, Ziaxi, Ning, dan Jing, 2012) melaporkan dalam penelitiannya bahwa beberapa penelitian menemukan adanya hubungan antara tidur dengan faktor risiko diabetes seperti gaya hidup.
Baca lebih lanjut

7 Baca lebih lajut

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KETERLAMBATAN DIAGNOSIS DIABETES MELITUS TIPE 2 DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS ABANG I, KABUPATEN KARANGASEM BALI TAHUN 2015.

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KETERLAMBATAN DIAGNOSIS DIABETES MELITUS TIPE 2 DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS ABANG I, KABUPATEN KARANGASEM BALI TAHUN 2015.

Diabetes Melitus (DM) Type 2 merupakan salah satu penyakit yang menjadi perhatian di dunia dimana salah satu masalah utamanya adalah keterlambatan diagnose. Hal tersebut juga tampak di Puskesmas Abang I. Pada tahun 2014, 34 kasus baru DM dan sebanyak 74% terdiagnosis DM pertama kali karena telah datang dengan komplikasi seperti gangraine, retinopati, dan nefropati. Namun tidak ada informasi ataupun penelitian sebelumnya yang dapat menjelaskan alasan mengapa keterlambatan ini terjadi di Puskesmas Abang I. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor- faktor yang mempengaruhi keterlambatan diagnosis diabetes mellitus tipe 2 di wilayah kerja Puskesmas Abang I, Kabupaten Karangasem.Penelitian ini merupakan studi kualitatif dengan melakukan wawancara mendalam kepada enam pasien yang telah mengalami komplikasi saat pertama kali terdiagnosis DM dan focus group discussion (FGD) bersama empat petugas kesehatan di Puskesmas Abang I yang terkait dengan layanan untuk pasien DM. Hasil penelitian menunjukkan faktor-faktor yang mempengaruhi keterlambatan diagnosis diabetes mellitus tipe 2 di wilayah kerja Puskesmas Abang I diantaranya keterbatasan pengetahuan masyarakat terkait diabetes mellitus, persepsi negatif masyarakat mengenai diabetes mellitus, persepsi yang salah tentang pemeriksaan kesehatan secara dini, ketidakpercayaan masyarakat terhadap kualitas layanan puskesmas, penyakit diabetes mellitus bukan menjadi prioritas bagi puskesmas, dan kurangnya dukungan petugas kesehatan untuk melakukan deteksi dini DM. Berdasarkan temuan ini, Puskesmas hendaknya memningkatkan promosi kesehatan tentang DM dengan memperbanyak media Komunikasi informasi dan edukasi (KIE) yang mudah diakses oleh masyarakat disamping pentingnya untuk memasukkan penyakit tidak menular kedalam salah satu agenda kerja prioritas Puskesmas Abang I. Kata Kunci: faktor-faktor, keterlambatan diagnosis, Diabetes Melitus Tipe 2
Baca lebih lanjut

13 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...