Top PDF MP3EI Negara dan Rencana Pembangunan di

MP3EI Negara dan Rencana Pembangunan di

MP3EI Negara dan Rencana Pembangunan di

Pertumbuhan kota di dunia ketiga sangat pesat yang didorong oleh adanya berbagai second hand technology dari negara maju telah menyebabkan kota memiliki daya tarik bagi masyarakat desa. Dampak yang paling nyata dari hal ini adalah terjadinya proses urbanisasi besar-besaran. Hal ini telah menyebabkan beban kota menjadi pesat dan memunculkan berbagai masalah tata ruang seperti kampung kumuh, kurangnya infrastruktur kota, munculnya sektor informal dan terjadinya urban primacy . Berbagai permasalahan tersebut kemudian mendorong munculnya urban planning kedua. Proses urban planning pada tahap ini ditandai dengan munculnya perencanaan komprehensif, pendekatan-pendekatan ilmiah dalam perencanaan kota, dan perkembangan sistem kelembagaan di negara-negara dunia ketiga.
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

Rencana Pembangunan dan Rencana Kerja Pemerintah

Rencana Pembangunan dan Rencana Kerja Pemerintah

Perubahan dunia di era globalisasi memberi pengaruh yang cukup mendasar kepada bangsa Indonesia. Krisis ekonomi dan moneter sejak pertengahan tahun 1997 sampai dengan saat ini masih belum sepenuhnya pulih. Implikasi otonomi daerah juga memberikan sumbangan yang tidak kecil terhadap lemahnya kesatuan dan persatuan bangsa di dalam kerangka negara kesatuan Republik Indonesia. Terjadinya konflik horisontal maupun vertikal sampai dengan saat ini masih sering terjadi walaupun tidak sesering pada kurun waktu 1997–2000. Namun yang lebih memprihatinkan dan juga mengakibatkan meningkatnya kemiskinan dan pengangguran adalah adanya aksi terorisme. Dimulai dari kasus bom Bali yang sangat memukul perekonomian Indonesia dan disusul dengan kejadian-kejadian teror lainnya, menyebabkan kondisi keamanan dan keselamatan tidak saja masyarakat Indonesia namun juga warga negara asing menjadi terancam. Sebagai negara berkembang yang masih sangat memerlukan investasi asing maupun dalam negeri, maka meningkatnya kejahatan terorisme sangat mengganggu ketenteraman dan keselamatan para pelaku usaha yang sebanarnya masih banyak ingin menanamkan modalnya di Indonesia. Untuk itu penanganan yang komprehensif terhadap kejahatan terorisme sudah sangat mendesak untuk dilakukan baik dari sisi pembangunan materi hukum guna menetapkan sanksi hukum yang tegas maupun dari sisi peningkatan kesadaran hukum serta kewaspadaan terhadap segala aktivitas yang mencurigakan di dalam kehidupan masyarakat. Upaya saling mendukung baik dari aparat penegak hukum maupun masyarakat untuk medeteksi adanya upaya- upaya untuk melakukan tindakan teror sejauh ini sudah cukup baik. Tindakan hukum terhadap pelaku tindak kejahatan terorisme selama ini juga cukup memberikan rasa keadilan bagi sebagian masyarakat, walaupun mungkin tidak bagi keluarga yang menjadi korban kejahatan terorisme. Namun upaya untuk meningkatkan kerjasama yang lebih baik lagi agar kejahatan terorisme dapat dicegah sedini mungkin sangat diperlukan.
Baca lebih lanjut

321 Baca lebih lajut

TINJAUAN GEOGRAFI REGIONAL TERHADAP MASTERPLAN PERCEPATAN DAN PERLUASAN PEMBANGUNAN EKONOMI INDONESIA (MP3EI)

TINJAUAN GEOGRAFI REGIONAL TERHADAP MASTERPLAN PERCEPATAN DAN PERLUASAN PEMBANGUNAN EKONOMI INDONESIA (MP3EI)

secara kewilayahan meliputi karakter, pola, koneksi, dinamika dan kecenderungannya. Dov Nir dalam bukunya Region as a Socio-envi- ronmental System: A n Introduction to a Systematic Regional Geography (1990) mengemuka-kan pentingnya memahami kecenderungan fenomena penyeragaman kehidupan di tengah kehidupan yang beragam. Peradaban dunia berada di persimpangan jalan apakah akan terus menuju keseragaman menuju budaya global atau mempertahankan kebe-ragaman kehidupan? Pilihannya saat itu bagi masya- rakat negara-negara berkembang adalah meng- ikuti totalitarianism atau pluralism berkaitan dengan kehidupan sosial ekonomi. Ia menekan- kan pada kebebasan (freedom ) yang merupakan hak pilihan untuk berbeda dengan yang lain. Francis Fukuyama dalam bukunya Trust: The Social V irtues and The Creation of Prosperity (1995) menyoroti aspek-aspek budaya yang mendasari pertumbuhan ekonomi di Asia Timur. Menurutnya keperayaan masyarakat merupakan dasar yang penting bagi per- tumbuhan ekonomi Asia. Kegiatan ekonomi tidak dapat dipisahkan dari kehidupan sosial dan politik masyarakat luas. Dengan preposisi seperti itu, maka reformasi eko- nomi dengan sendirinya memerlukan reformasi politik dan sosial yang berbasis rasa saling percaya. Percepatan dan perluas- an ekonomi memerlukan basis kepercayaan yang dibangun antara pemerintah pusat dan daerah otonom, antar sektor dan aktor pelaku pembangunan. Keberlangsungan percepat- an dan perluasan ekonomi ditentukan oleh kerjasama yang erat berdasarkan nilai ke- adilan dan keperayaan diantara pemerintah, masyarakat dan dunia usaha.
Baca lebih lanjut

16 Baca lebih lajut

Rencana Pembangunan dan Rencana Kerja Pemerintah

Rencana Pembangunan dan Rencana Kerja Pemerintah

Permasalahan-permasalahan pada urusan pertanian di Dinas Pertanian Perkebunan dan Peternakan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, diantaranya ; tingkat ketergantungan masyarakat Bangka Belitung terhadap bahan makanan pokok terutama tanaman pangan (padi dan palawija) sangat tinggi sehingga bahan makanan tersebut sebagian besar dipasok dari luar pulau Bangka Belitung, rendahnya produksi pertanian (khususnya padi) dalam memenuhi kebutuhan masyarakat, rendahnya produksi sayuran, kurangnya jaminan harga terhadap produk hortikultura, kurangnya jaminan pasar seperti manggis yang termasuk dalam komoditi unggulan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, kurangnya penangkar bibit lada pada saat bibit lada dalam polybag sudah mulai menarik minat masyarakat, kurangnya penangkar bibit karet, sehingga masyarakat harus mengirim dari luar daerah yang mengakibatkan harga bibit lebih tinggi (mahal), mata rantai perdagangan Tandan Buah Segar (TBS) terlalu panjang sehingga mengakibatkan harga yang diterima petani kelapa sawit tidak sesuai dengan harga yang telah ditetapkan oleh Tim Penetapan Harga TBS Provinsi serta kualitas TBS yang diterima Perkebunan Kelapa Sawit (PKS) sangat rendah, meningkatnya persyaratan mutu hasil pertanian, rendahnya dukungan perbankan terhadap pengembangan pertania, tingginya angka alih guna (konversi) lahan pertanian menjadi lahan non pertanian, dan tingginya angka kerusakan lahan, pertumbuhan yang cukup pesat dari negara produsen perkebunan lainnya serta minimnya peran Indonesia dalam sistem perdagangan dunia.
Baca lebih lanjut

691 Baca lebih lajut

Rencana Pembangunan dan Rencana Kerja Pemerintah

Rencana Pembangunan dan Rencana Kerja Pemerintah

Tidak adanya kebijakan yang jelas untuk mendorong pengalihan teknologi dari PMA. Perkembangan globalisasi serta pesatnya kemajuan teknologi dan komunikasi membawa pengaruh besar di dalam liberalisasi investasi. Fenomena ini, menurut World Investment Report 2002 (WIR 2002) dimotori dan sangat didominasi oleh transnational corporations (TNCs) melalui terjadinya fragmentasi (internasionalisasi) produksi komponen dengan memperhitungkan keunggulan komparasi tingkat global. WIR 2002 menyebutkan bahwa pesatnya perkembangan dominasi TNCs dapat dicermati dari perkembangannya dalam foreign direct investment (FDI). Bila pada tahun 1990 jumlah modal yang ditanamkan sebesar USD 1,7 triliun (melibatkan 24 juta tenaga kerja di seluruh dunia), pada tahun 2001 jumlah modal yang ditanam meningkat empat kali lipat menjadi USD 6,6 triliun dan melibatkan pekerja 45 juta orang di seluruh dunia. Dengan kekuatannya dalam jaringan nilai tambah (value-added chain) dari mulai R & D sampai pada logistik dan pemasaran, aktivitas TNCs banyak mendominasi pola perdagangan global, terutama jaringan ekspor-impor (baik produk antara maupun final) dari dan ke negara-negara berkembang. Fenomena ini mengindikasikan perlunya rumusan strategi dan kebijakan investasi, terutama di negara-negara berkembang, yang menyesuaikan dan mengamati konstelasi global.
Baca lebih lanjut

384 Baca lebih lajut

EVALUASI PROGRAMPROYEK PENGEMBANGAN KAWASAN EKONOMI KHUSUS SEI MANGKE DALAM RANGKA PELAKSANAAN KEBIJAKAN MP3EI 20112025 DI KORIDOR EKONOMI SUMATERA | firrean | Jurnal Manajemen Bisnis 1 PB

EVALUASI PROGRAMPROYEK PENGEMBANGAN KAWASAN EKONOMI KHUSUS SEI MANGKE DALAM RANGKA PELAKSANAAN KEBIJAKAN MP3EI 20112025 DI KORIDOR EKONOMI SUMATERA | firrean | Jurnal Manajemen Bisnis 1 PB

Dalam komponen input sumber daya program hasil penelitian menunjukan bahwa rata-rata keseluruhan aspek memenuhi kriteria standar program pembangunan dan pengembaangan kawasan ekonomi khusus, hanya pengorganisasian dari sumber daya program yang terlihat belum optimal. Dengan demikian rekomendasi teknis yang dapat diambil adalah dengan melakukan pemetaan penangangan dalam RDI dilakukan berdasarkan patokan rencana COD proyek/kegiatan, penanggung-jawab proyek/kegiatan, identifikasi permasalahan penghambat proyek/kegiatan, upaya tindak lanjut sebagai bagian dari solusi atas permasalahan, penanggung-jawab penuntasan solusi, dan tenggat waktu penuntasan solusi. RDI tidak hanya memerhatikan penanganan percepatan sektor tunggal, namun juga memerhatikan penanganan percepatan sektor jamak yang terintegrasi secara holistik dalam suatu kawasan.
Baca lebih lanjut

13 Baca lebih lajut

Rencana Pembangunan dan Rencana Kerja Pemerintah Pembangunan Semesta

Rencana Pembangunan dan Rencana Kerja Pemerintah Pembangunan Semesta

Oleh karena angka X variabel, sesuai dengan kegiatan bekerdja, maka dengan sendirinja keharusan memindjam dari luar-negeri (hu- ruf Z) djadi djuga variabel. Makin besar angka X maka makin ketjil angka Z. Besarnja angka Z djuga akan dibatasi, menurut haluan po- litik negara ; ada jang mengharap 20% dan ada pula jang mengharap 40% dari total amount Rp. 240 miljar. Djika kita ambil djalan tengah bagi pembatasan itu 30%, djadi Indonesia dimana perlu dapat me- mindjam longterm credit dari luar negeri paling tinggi Rp. 80 miljar. Oleh karena Indonesia dalam tahun pertama 1961 — 1969 sudah mem- butuhkan dollar, maka dapatlah dipertanggung djawabkan djika In - donesia misalnja dalam periode 1961 — 4 sudah memindjam lebih dahulu longterm crediet darj luar negeri 20% — 40% daripada Rp. 80 miljar, jaitu kira-kira 16 — 32 miljar rupiah atau kira-kira $ 350 — 700 djuta.
Baca lebih lanjut

253 Baca lebih lajut

Rencana Pembangunan dan Rencana Kerja Pemerintah

Rencana Pembangunan dan Rencana Kerja Pemerintah

Jepang dan negara-negara tetangga Asia Tenggara lainnya untuk meningkatkan kemampuan aparatur negara dalam memerangi terorisme internasional. Hal yang sama juga berlaku di tingkat regional, misalnya ASEAN di mana Indonesia perlu mendorong berlanjutnya kerjasama kongkrit antar negara dalam pemberantasan terorisme internasional. Masalah terorisme tidak dapat dipisahkan dari isu radikalisme dan kemiskinan. Karena itu, penanganan isu terorisme mesti menyentuh isu-isu kesejahteraan, penciptaan kehidupan yang lebih baik dan penyelenggaraan dialog antaragama yang konstruktif. Dalam masalah kecenderungan penggunaan kekerasan dan ancaman terorisme internasional, masyarakat internasional memang memerlukan soliditas sikap dalam memerangi tindakan yang tidak manusiawi tersebut. Namun demikian, pada saat bersamaan masyarakat dunia juga dituntut untuk menekuni kemungkinan akar permasalahan sesungguhnya yang menjadi pemicu utama menguatnya aksi-aksi kekerasan internasional dewasa ini. Rasionalitas dan keterbukaan pikiran masyarakat internasional diharapkan akan membantu membuka jalan bagi tumbuhnya sikap bersama yang tegas namun obyektif dalam menghadapi bahaya terorisme internasional. Kompleksitas isu itu semakin diperumit oleh kecenderungan menguatnya isu perlombaan senjata (arms race) di antara negara-negara maju. Sikap saling curiga dan inkonsistensi masyarakat internasional dalam menegakkan standar- standar obyektif bagi pengaturan persenjataan (arms control) maupun perlucutan senjata (disarmament) secara menyeluruh, khususnya senjata pemusnah massal, merupakan kelemahan utama yang mungkin sulit untuk diselesaikan dalam waktu dekat ini.
Baca lebih lanjut

676 Baca lebih lajut

Rencana Pembangunan dan Rencana Kerja Pemerintah

Rencana Pembangunan dan Rencana Kerja Pemerintah

bagi keberlanjutan fungsi hutan, baik dari aspek ekonomi, ekologis, maupun sosial. Kerugian hutan Indonesia akibat praktik pembalakan liar diperkirakan mencapai USD 5,7 miliar atau setara dengan Rp 46,74 triliun per tahun, tidak termasuk kerugian dari aspek ekologis yang berpotensi menimbulkan dampak bencana seperti tanah longsor, banjir, kekeringan, dan kebakaran hutan. Upaya untuk mengatasi masalah pembalakan liar ini merupakan usaha yang sulit mengingat pelakunya memiliki jaringan sangat luas dan sulit tersentuh. Namun demikian upaya penegakan hukum yang tegas diharapkan mampu memutus jaringan pembalakan liar baik di dalam negeri maupun antar negara. Dalam upaya mengatasi masalah tersebut dari segi yuridis Pemerintah telah mengeluarkan Instruksi Presiden Nomor 4 Tahun 2005 tentang Pemberantasan Penebangan Kayu secara Ilegal di Kawasan Hutan dan Peredarannya di Seluruh Wilayah Republik Indonesia. Dalam upaya memberantas praktek-praktek illegal logging telah dilakukan beberapa kegiatan diantaranya: merevitalisasi kelembagaan polisi hutan sebagai bagian dari desentralisasi kewenangan, peningkatan pengamanan hutan berbasisi sumber daya masyarakat, dan penegakan undang-undang dan peraturan serta mempercepat proses penindakan pelanggaran hukum di sektor kehutanan. Sementara itu dalam rangka penanggulangan pencurian ikan (illegal fishing), telah dilakukan upaya pengendalian sumber daya kelautan dan perikanan melalui penerapan sistem monitoring, controlling, and surveilance yang diantaranya berupa pemasangan transmitter dalam rangka pengembangan vessel monitoring system dengan sasaran kapal perikanan Indonesia; pembangunan pos pengawas dan pembentukan Unit Pelaksana Teknis Pengawasan di 5 lokasi yaitu Belawan, Jakarta, Pontianak, Bitung dan Tual; kerja sama operasional pengawasan dengan TNI AL dan Polri serta operasi pengawasan oleh kapal pengawas DKP ; dan pembentukan Pengadilan Khusus Perikanan yang diresmikan pada bulan Oktober 2006.
Baca lebih lanjut

810 Baca lebih lajut

Rencana Pembangunan dan Rencana Kerja Pemerintah

Rencana Pembangunan dan Rencana Kerja Pemerintah

Kondisi dan struktur perekonomian yang ada tidak cukup mendukung untuk mencapai pertumbuhan ekonomi yang tinggi. Iklim usaha masih belum kondusif, jauh di bawah iklim usaha negara-negara pesaing di kawasan Asean. Biaya transaksi ekonomi meskipun telah diperbaiki masih tinggi. Biaya untuk memulai suatu usaha di Indonesia adalah yang tertinggi di kawasan Asia. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh International Finance Corporation (IFC) biaya untuk memulai suatu usaha di Indonesia mencapai US $ 1,163, melalui 12 jenis prosedur dan membutuhkan waktu 151 hari. Berbeda sekali dengan Thailand yang hanya US $ 159,63, melalui 8 prosedur dan hanya membutuhkan 33 hari. Akibat terhambatnya investasi dan kegiatan produksi, sektor riil belum dapat bergerak secepat keadaan sebelum krisis. Selanjutnya, struktur dan kinerja industri dan pertanian masih lemah. Pasar tenaga kerja masih kurang fleksibel, serta kapasitas dan kualitas tenaga kerja masih terbatas. Berbagai sarana dan prasarana pembangunan meskipun telah mulai ditingkatkan pada tahun 2005 masih jauh dari memadai. Reformasi struktur ekonomi di berbagai sektor ekonomi yang telah dilakukan sejak tahun 2005 masih belum memadai dan perlu dipercepat untuk menggerakkan sektor riil, mengejar ketertinggalan, dan menghadapi persaingan yang meningkat.
Baca lebih lanjut

714 Baca lebih lajut

PEMBANGUNAN NEGARA JEPANG SEBAGAI NEGARA

PEMBANGUNAN NEGARA JEPANG SEBAGAI NEGARA

Jepang secara umum dibagi menjadi 8 region. Ada tiga daerah metropolitan terbesar – Ibukota Nasional (Tokyo), Kinki (Osaka-Kobe- Kyoto), dan Chubu (Nagoya) Kawasan. Selain itu, ada Kawasan Hokkaido, Shikoku, Kyushu, Tohoku dan Chugoku. Rencana NCR dan Daerah Kinki berisi kebijakan strategis dan proyek yang penting, khususnya kontrol lokasi industri di wilayah pusat pembangunan, pengembangan situs industri di daerah pinggiran kota, rencana kota baru dalam skala besar, dan pembangunan jaringan jalan motor metropolitan. Kebanyakan pelaksanaan pembangunan daerah diberlakukan pada tahun 1960 dengan ketentuan area khusus untuk industri dan infrastruktur di seluruh negeri. Industrial Relocation Promotion Act of 1972, misalnya, menentukan daerah mana industri yang harus direlokasi dan memberikan bantuan keuangan khusus dan insentif pajak.
Baca lebih lanjut

25 Baca lebih lajut

Bahan Perencanaan FGD Bappenas

Bahan Perencanaan FGD Bappenas

2. SPPN adalah satu kesatuan tata cara perencanaan pembangunan untuk menghasilkan rencana-rencana pembangunan dalam jangka panjang, jangka menengah, dan tahunan yang dilaksanakan oleh unsur penyelenggara negara dan masyarakat di tingkat pusat dan daerah.

20 Baca lebih lajut

ReferensiReference - ForBALI Perpres MP3EI

ReferensiReference - ForBALI Perpres MP3EI

Menimbang : a. bahwa dalam rangka pelaksanaan Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional 2005 – 2025 dan untuk melengkapi dokumen per enca na a n gu na meni ngka t ka n da ya sa ing p er ekonomia n nasional yang lebih solid, diperlukan adanya suatu masterplan per cepa ta n da n per lua sa n pemba nguna n ekonomi Indonesia yang memiliki arah yang jelas, strategi yang tepat, fokus dan terukur; b. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud pada h u r u f

6 Baca lebih lajut

Apa itu Bali Tolak Reklamasi

Apa itu Bali Tolak Reklamasi

Setiap kebijakan pembangunan harus memerhatikan pemanfaatan ruang agar tidak terjadi pelanggaran dalam pemanfaatan ruang. Saat ini, kebijakan pemanfaatan ruang di Indonesia lebih banyak diakomodasi melalui berbagai proyek yang ditetapkan dalam Peraturan Presiden (Perpres) No. 32 Tahun 2011 tentang Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI). Pembangunan untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat memang mutlak dibutuhkan namun para pemangku kebijakan dan investor haruslah taat pada peraturan perundang-undangan. Kebijakan MP3EI pada dasarnya dibagi menjadi enam koridor. Bali termasuk dalam koridor V bersama Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur, yang memiliki fokus peningkatan investasi di bidang Pariwisata, Perikanan dan Peternakan. Fokus MP3EI di Bali adalah pada pertumbuhan pariwisata sehingga setiap investasi diarahkan untuk terus memompa denyut nadi pariwisata. Salah satu kawasan perhatian utama investasi sektor pariwisata di Bali adalah Kawasan Perhatian Investasi (KPI) Benoa. Dokumen MP3EI khususnya dalam laporan perkembangan pelaksanaan MP3EI koridor V, menempatkan KPI Benoa dengan fokus investasi pada rencana reklamasi Teluk Benoa. Melalui penetapan KPI Benoa dengan fokus reklamasi Teluk Benoa, sedari awal sudah ada upaya
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

MP3EI Breakthrough Indonesia strategi In

MP3EI Breakthrough Indonesia strategi In

vii Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) merupakan strategi yang cerdas, fokus, dan terukur untuk mendorong percepatan dan perluasan pembangunan ekonomi serta menjadikan Indonesia sebagai negara maju (developed nation) nomor 12 dunia pada tahun 2025 dan nomor 9 dunia pada tahun 2045. MP3EI hadir untuk mendorong terciptanya kegiatan ekonomi yang terintegrasi, sinergi, dan bernilai tambah tinggi, serta mengatasi berbagai sumbatan atau hambatan pembangunan melalui strategi debotlenecking dan connectivity. MP3EI dikembang- kan dengan pendekatan breaktrough yang didasari oleh semangat ‘not business usual’, melalui perubahan mindset bahwa keberhasilan pembangunan ekonomi tidak hanya bergantung pada pemerintah saja, tetapi merupakan kolaborasi bersama antara Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah, BUMN, BUMND, dan Swasta. Pemerintah berperan sebagai fasilitator, regulator, dan katalisator, sementara swasta berperan dalam meningkatkan investasi dan penciptaan lapangan kerja.
Baca lebih lanjut

23 Baca lebih lajut

Rencana Pembangunan dan Rencana Kerja Pemerintah

Rencana Pembangunan dan Rencana Kerja Pemerintah

Perkiraan pencapaian output tahun 2013 untuk meningkatkan kualitas SDM di daerah tertinggal, terdepan, terluar dan pascakonflik, antara lain : peningkatan pelayanan kesehatan dasar dengan membangun 24 unit Rumah Sakit Bergerak dan 91 unit Puskesmas Rawat Inap. Di bidang pendidikan telah disalurkan tunjangan khusus untuk 56.287 guru jenjang pendidikan dasar dan menengah didaerah terpencil serta 3.500 orang guru madrasah didaerah terpencil. Sedangkan untuk upaya penegasan dan pengamanan batas wilayah negara (BWN) serta pengembangan kawasan perbatasan (KP) pada tahun 2012 telah dilakukan dengan penyediaan infrastruktur dan pengembangan sosial ekonomi masyarakat telah dikoordinasikan dengan dilaksanakannya pembukaan akses beberapa ruas jalan menuju lokpri di 15 kabupaten perbatasan Kalimantan, NTT, dan Papua melalui Dana Alokasi Khusus (DAK). Untuk pengamanan batas wilayah dalam konteks perbatasan laut, dilakukan pengamanan sumberdaya kelautan dengan meningkatkan pengawasan di Wilayah Pengelolaan Perikanan (WPP) Bagian Barat dan Bagian Timur yang bebas IUU (Illegal, Unreported, Unregulated) Fishing, capaian telah dilaksanakan pengawasan mencapai 6 WPP di Bagian Barat dan 12 untuk WPP di Bagian Timur. Dalam konteks perbatasan darat, telah dilakukan pembangunan sarana dan prasarana perbatasan sebanyak 206 pos keamanan dari target tahun 2014 sebanyak 224 pos (total kebutuhan minimal sebanyak 396 pos pertahanan). Sedangkan dalam rangka meningkatkan kualitas dan kuantitas pembinaan wilayah pertahanan telah dilaksanakan penggelaran satuan TNI di pos-pos penjagaan di wilayah perbatasan RI – Malaysia, RI – Filipina, RI – Timor Leste, dan RI – Papua Nugini. Selain itu, telah dilaksanakan pula operasi bakti TNI secara terpilih di wilayah perbatasan melalui TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD).
Baca lebih lanjut

1246 Baca lebih lajut

Rencana Pembangunan dan Rencana Kerja Pemerintah

Rencana Pembangunan dan Rencana Kerja Pemerintah

Selain program-program tersebut, terdapat berbagai program yang mendukung pembangunan perdesaan yang dilaksanakan untuk mengembangkan ekonomi lokal terutama di perdesaan dan daerah-daerah tertinggal untuk meningkatkan kapasitas masyarakat miskin di perdesaan dalam pelaksanaan kegiatan produksi, distribusi dan pemasaran produk-produk pertanian maupun non pertanian serta mempermudah aksesibilitas kepada berbagai sumber daya produktif. Selain itu, perkuatan kepada kelembagaan di tingkat masyarakat serta kelembagaan ekonomi di tingkat lokal seperti Lembaga Keuangan Perdesaan, Usaha Ekonomi Desa-Simpan Pinjam (UED-SP) dan Badan Kredit Desa (BKD), Badan Usaha Milik Kelurahan (BUMKEL) serta Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) juga menjadi perhatian dalam pelaksanaan kegiatan di perdesaan dan daerah-daerah tertinggal. Dengan demikian, kegiatan ekonomi di tingkat lokal dapat dikembangkan untuk pencapaian kesejahteraan masyarakat, khususnya masyarakat miskin di perdesaan dan daerah-daerah tertinggal. Dengan program- program tersebut, kemiskinan dapat diturunkan dari 37,17 juta (16,6 persen) pada tahun 2007 menjadi 34,96 juta (15,4 persen) pada tahun 2008. Walaupun menurun, pencapaian ini masih jauh dari sasaran akhir RPJM 2004-2009 sebesar 8,2 persen. Dalam tahun 2009, tingkat kemiskian diperkirakan hanya menurun menjadi sebesar 12-14 persen. Hal ini terutama karena awal tahun 2009 merupakan tahun sulit bagi Indonesia karena dampak krisis finansial global sudah mulai terasa. Dampak ini juga dirasakan oleh masyarakat miskin berupa naiknya harga- harga kebutuhan dasar, sehingga menyebabkan masyarakat miskin semakin sulit untuk memenuhi kebutuhan dasar mereka secara layak. Selain itu, dengan terjadinya pemulangan tenaga kerja Indonesia (TKI) akibat dari krisis finansial di negara-negara tujuan TKI, telah menyebabkan terdesaknya masyarakat miskin yang bekerja di sektor informal karena sektor informal juga akan banyak dimasuki oleh orang-orang yang terkena PHK atau pemulangan TKI. Pelaku baru dalam sektor informal tersebut kemungkinan memang bukan rumah tangga miskin, namun desakan tersebut akan memperberat kondisi pelaku di sektor informal yang saat ini pendapatannya sudah pada tingkat rendah atau bahkan sudah berada di bawah garis kemiskinan. Tekanan ini juga akan memperberat rumah tangga miskin yang selama ini sudah berat perjuangannya dalam meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan mereka.
Baca lebih lanjut

790 Baca lebih lajut

Identifikasi Kendala Pelaksanaan standar Kerjasa

Identifikasi Kendala Pelaksanaan standar Kerjasa

Menurut Peraturan Presiden Nomor 32 tahun 2011 Tentang Masterplan Percepatan Dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia 2011-2025 MP3EI merupakan arahan strategis dalam percepatan dan perluasan pembangunan ekonomi Indonesia untuk periode 15 (lima belas) tahun terhitung sejak tahun 2011 sampai dengan tahun 2025 dalam rangka pelaksanaan Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional 2005 – 2025 dan melengkapi dokumen perencanaan. Sedangkan menurut Wikipedia, MP3EI adalah sebuah pola induk perencanaan ambisius dari pemerintah Indonesia untuk dapat mempercepat realisasi perluasan pembangunan ekonomi dan pemerataan kemakmuran agar dapat dinikmati secara merata di kalangan masyarakat.
Baca lebih lanjut

5 Baca lebih lajut

DOCRPIJM 1479106910Bab 2 revisi RPI2JM

DOCRPIJM 1479106910Bab 2 revisi RPI2JM

Dalam program MP3EI Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia untuk mewujudkan Indonesia sebagai salah satu negara kekuatan ekonomi utama dunia di masa depan, m[r]

29 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...