Top PDF Notaris Pailit dalam Peraturan Jabatan Notaris

Notaris Pailit dalam Peraturan Jabatan Notaris

Notaris Pailit dalam Peraturan Jabatan Notaris

Notaris adalah Pejabat umum yang berwenang untuk membuat akta autentik dan kewenangan lainnya yang diatur dalam peraturan perundang-undangan. Disamping tugas dan wewenang Notaris sebagai pejabat umum, Notaris juga berkedudukan sebagai subyek hukum pribadi (natuurlijk person) yaitu memiliki kehendak bebas untuk melakukan perbuatan hukum. Kedudukan Notaris sebagai subyek hukum ini melibatkan kegiatan pembentukan perusahaan yakni Notaris berkedudukan sebagai direksi dalam bentuk Perseroan Terbatas (PT). Setiap perusahaan memiliki visi keberlanjutan dan keunggulan, namun untuk mewujudkannya diperlukan pembiayaan sehingga mengharuskan PT untuk melakukan perjanjian utang piutang. Konsekuensinya ketika utang piutang tersebut tidak mampu dibayar maka perusahaan yang dipimpin oleh Notaris tersebut mengalami pailit dan telah ditetapkan melalui Putusan Pengadilan Niaga yang telah memiliki kekuatan hukum tetap. Dengan demikian status Notaris menjadi Notaris Pailit sehingga berakibat pada sanksi yang telah diatur dalam Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2014 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2004 Jabatan Notaris (UUJN) yaitu Notaris diberhentikan dengan tidak hormat dari jabatannya.
Baca lebih lanjut

19 Baca lebih lajut

Akibat Hukum Notaris Merangkap Jabatan Sebagai Arbiter Ditinjau Dari Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2014 Tentang Jabatan Notaris

Akibat Hukum Notaris Merangkap Jabatan Sebagai Arbiter Ditinjau Dari Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2014 Tentang Jabatan Notaris

Di Indonesia hanya dikenal satu badan yang menangani masalh Arbitrase yaitu dikenal dengan nama Badan Arbitrase Nasional Indonesia atau selanjutnya disebut juga BANI adalah suatu badan yang dibentuk oelh Pemerintah Indonesia guna penegak hukum di Indonesia dalam penyelesaian sengketa atau beda pendapat yang terjadi di berbagai sektor perdagangan, industri dan keuangan, melalui arbitrase dan bentuk-bentuk alternatif penyelesaian sengketa lainnya antara lain di bidang- bidang korporasi, asuransi, lembaga keuangan, pabrikasi, hak kekayaan intelektual, lisensi, waralaba, konstruksi, pelayaran/ maritim, lingkungan hidup, penginderaan jarak jauh dan lain-lain dalam lingkup peraturan perundang-undangan dan kebiasaan inter- nasional. Badan ini bertindak secara otonom dan independen dalam penegakan dan keadilan. Pengadilan Negeri tidak berwenang untuk mengadili sengketa para pihak yang telah terikat dalam perjanjian arbitrase. Penyelesaian sengketa melalui arbitrase adalah merupakan suatu cara untuk menyelesaikan sengketa atau beda pendapat perdata oleh para pihak melalui alternatif penyelesaian sengketa yang didasarkan pada itikad baik dengan
Baca lebih lanjut

14 Baca lebih lajut

PEMBERHENTIAN NOTARIS DENGAN TIDAK HORMAT AKIBAT DINYATAKAN PAILIT - Repository Unja

PEMBERHENTIAN NOTARIS DENGAN TIDAK HORMAT AKIBAT DINYATAKAN PAILIT - Repository Unja

Kedudukan seorang notaris dalam suatu profesi, pada hakekatnya merupakan suatu kedudukan yang terhormat, karena itu permasalahannya adalah bahwa pada jabatan notaris terlihat suatu kewajiban agar ilmu yang dipahami dijalankan dengan ketulusan hati, itikad baik dan kejujuran dalam menjalankan tugas dan wewenangnya. Maka karena itu etika yang dimiliki pada jabatan notaris juga merupakan tonggak dan ukuran bagi setiap notaris agar selalu bersikap dan bekerja sesuai dengan kode etik, dengan mematuhi kaidah-kaidah yang tercantum dalam sumpah dan kode etiknya. “Jika hukum dipatuhi karena ada penjaganya atau dapat dikatakan ada desakan dari luar, maka pada etika alat untuk mematuhi etika tersebut hanya bersandar pada hati nurani si professionalis”. 4
Baca lebih lanjut

25 Baca lebih lajut

MPD BUKAN ADVOKAT PARA NOTARIS BERDASARKAN UNDANG-UNDANG NO.30 TAHUN 2004 TENTANG JABATAN NOTARIS

MPD BUKAN ADVOKAT PARA NOTARIS BERDASARKAN UNDANG-UNDANG NO.30 TAHUN 2004 TENTANG JABATAN NOTARIS

Notaris adalah pejabat umum yang menjalankan sebagian dari fungsi publik dari negara, khususnya di bagian hukum perdata. Mempunyai kewenangan membuat akta otentik mengenai semua perbuatan, perjanjian, dan ketetapan yang diharuskan oleh peraturan perundangan dan/atau yag dikehendaki oleh yang berkepentingan, untuk dinyatakan dalam akta otentik, menjamin kepastian tanggal pembuatan akta, menyimpan akta, memberikan grosse, salinan dan kutipan akta, semuanya sepanjang pembuatan akta tersebut tidak ditugaskan atau dikecualikan kepada pejabat atau orang lain yang ditetapkan oleh undang-undang.
Baca lebih lanjut

18 Baca lebih lajut

Pengawasan terhadap Notaris dalam Kaitannya dengan Kepatuhan Menjalankan Jabatan

Pengawasan terhadap Notaris dalam Kaitannya dengan Kepatuhan Menjalankan Jabatan

Setiap profesi harus dijalankan sesuai dengan dua tuntutan etis yaitu di satu pihak harus dijalankan secara bertang-gungjawab dan hasilnya sesuai dengan tuntutan peraturan perundang-undang-an dan akibat terhadap orang lain sela-lu dipertimbangkan untuk tidak meru-gikan orang lain. Notaris merupakan suatu profesi yang mempunyai tugas berat dan bersifat altruistik, sebab harus menempatkan pelayanan masya-rakat di atas segala-galanya. Di-samping profesi tersebut, notaris juga merupakan ekspertis. Oleh karenanya rasa tanggungjawab baik individual maupun sosial, terutama ketaatan ter-hadap norma-norma hukum positif dan kesediaan untuk tunduk pada kode etik profesi, merupakan suatu hal yang wajib, sehingga akan memperkuat norma hukum positif yang sudah ada, oleh karena itu dalam pelaksanaan pe-laksaan tugas jabatannya Notaris di-perlukan adanya pengawasan.
Baca lebih lanjut

15 Baca lebih lajut

VERLIJDEN PADA JABATAN NOTARIS DI INDONESIA (BUKTI DI SIDOARJO)

VERLIJDEN PADA JABATAN NOTARIS DI INDONESIA (BUKTI DI SIDOARJO)

Indonesia Tahun 1945, redaksi Pasal II Aturan Peralihan berubah menjadi “Semua lembaga negara yang ada masih tetap berfungsi sepanjang untuk melaksanakan ketentuan Undang-Undang Dasar dan belum diadakan yang baru menurut Undang-Undang Dasar ini”. Hilangnya kata “peraturan” dapat dimaknai konstitusi menghendaki segera dievaluasi atau dirubah segala bentuk peraturan kolonial yang masih berlaku. Semangat inilah yang mewujudkan UUJN sebagai unifikasi hukum notaris di Indonesia. Sekretariat Jenderal MPR RI, Perubahan Keempat Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 (Jakarta, Indonesia: www.mpr.go.id, 2002), https://www.mpr.go.id/pages/produk-mpr/uud-nri-tahun-1945/perubahan-ketiga-uud-nri- tahun-1945.
Baca lebih lanjut

15 Baca lebih lajut

Analisis Kewenangan Majelis Pengawas Notaris Dalam Pengawasan Notaris Menurut Undang-Undang No 30 Tahun 2004 Tentang Jabatan Notaris

Analisis Kewenangan Majelis Pengawas Notaris Dalam Pengawasan Notaris Menurut Undang-Undang No 30 Tahun 2004 Tentang Jabatan Notaris

Dari hasil penelitian kewenangan Majelis Pengawas Notaris dalam pengawasan Notaris menurut UU No. 30 Tahun 2004 tentang Jabatan Notaris diatur dalam Pasal 66 dan Pasal 70 untuk MPD, pada Pasal 73 untuk MPW dan pada Pasal 77 untuk MPP. Sedangkan kewenangan Majelis Pengawas Notaris dalam pengawasan Notaris menurut Peraturan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia No. M.02.PR.08.10 Tahun 2004 diatur dalam Pasal 13 dan Pasal 14 untuk MPD, pada Pasal 18 untuk MPW dan pada Pasal 19 untuk MPP. Akibat hukum terhadap putusan Majelis Pengawas Notaris adalah adanya pemberian sanksi terhadap Notaris yaitu sanksi perdata, sanksi administrasi juga dapat dijatuhi sanksi etika dan sanksi pidana. Di Sumatera Utara, dari tahun 2006 sampai dengan tahun 2008 pihak Kepolisian telah memeriksa 128 orang Notaris yang bermasalah, yang sering terjadi adalah permasalahan penerbitan Akta Jual Beli Tanah. Kendala yang timbul dalam pelaksanaan pengawasan Notaris oleh Majelis Pengawas Notaris adalah wilayah kerja yang sangat luas dan MPD di Sumatera Utara baru terbentuk 4 (empat) MPD sedangkan jumlah Notaris yang cukup banyak, anggaran dari Pemerintah tidak ada sama sekali, serta apabila Majelis Pengawas tidak memberikan persetujuan kepada pihak Kepolisian, Kejaksaan dan Hakim untuk memeriksa Notaris dapat mengakibatkan terjadinya kesalahpahaman. Sedangkan upaya yang dilakukan adalah dengan melakukan kunjungan ke tiap Kantor Notaris di wilayah Sumatera Utara secara berkala.
Baca lebih lanjut

167 Baca lebih lajut

Pengambilan Minuta Akta Dan Pemanggilan Notaris Serta Hak Ingkar Notaris Berdasarkan Sumpah Jabatan Notaris Dalam Pemeriksaan  Perkara Perdata Di Pengadilan

Pengambilan Minuta Akta Dan Pemanggilan Notaris Serta Hak Ingkar Notaris Berdasarkan Sumpah Jabatan Notaris Dalam Pemeriksaan Perkara Perdata Di Pengadilan

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana persetujuan Majelis Kehormatan Notaris (MKN) terkait pengambilan minuta akta dan pemanggilan Notaris dalam pemeriksaan perkara perdata, dan bagaimana tanggung jawab Notaris saat memberikan keterangan di pengadilan dalam pemeriksaan perkara perdata, terkait hak ingkar dan rahasia jabatan Notaris. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini metode yuridis normatif, artinya suatu penelitian yang bertumpu pada peraturan perundang-undangan (statute approach) dan pendekatan konsep (conseptual approach) dengan ditopang studi kepustakaan relevan dengan permasalahan dibahas kemudian dianalisis dan disimpulkan dalam penulisan. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan yang mengatur tentang mekanisme pengambilan Minuta Akta dan Pemanggilan Notaris dengan persetujuan Majelis Kehormatan Notaris dalam pemeriksaan perkara perdata di Pengadilan, dapat disimpulkan bahwa untuk kepentingan proses peradilan, para pihak ataupun hakim, terlebih dahulu harus mendapatkan persetujuan Majelis Kehormatan Notaris. Di samping itu, berdasarkan peraturan perundang- undangan yang mengatur tentang pengambilan Minuta Akta dan Pemanggilan Notaris, pengaturan tentang kedudukan Notaris sebagai tergugat atau turut tergugat dalam perkara perdata tidak disebutkan secara tegas. Beberapa hal penting yang mengatur pengambilan Minuta Akta dan Pemanggilan Notaris sebagian besar hanya mengatur tentang kedudukan Notaris sebagai saksi atau tersangka dalam perkara pidana. Berkaitan dengan tanggung Jawab notaris dalam pemeriksaan perkara perdata di pengadilan terkait rahasia jabatan dan hak ingkar notaris dalam meemberikan keterangan di pengadilan oleh Notaris terkait akta yang dibuatnya bersifat fakultatif, walaupun pada akhirnya keputusan akhir dari pemberian izin tersebut didasarkan kepada pertimbangan Majelis Kehormatan Notaris, ataupun juga berdasarkan keputusan hakim yang mewajibkan Notaris memberikan keterangan di pengadilan sehingga hak ingkar Notaris yang berkaitan dengan sumpah jabatan Notaris menjadi berakhir. Dalam kondisi yang demikian, Notaris harus mendapatkan perlindungan hukum atas keterangan yang diberikannya, termasuk bebas dari sanksi hukum yang mengatur tentang rahasia jabatan
Baca lebih lanjut

16 Baca lebih lajut

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang - Analisis Yuridis Atas Turunnya Kekuatan Pembuktian Akta Notaris Menurut Undang-Undang Jabatan Notaris Nomor 2 Tahun 2014 Tentang Jabatan Notaris

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang - Analisis Yuridis Atas Turunnya Kekuatan Pembuktian Akta Notaris Menurut Undang-Undang Jabatan Notaris Nomor 2 Tahun 2014 Tentang Jabatan Notaris

Kewenangan Pejabat untuk membuat akta diatur pada Pasal 15 UUJN yang berbunyi: Ayat (1) Notaris berwenang membuat Akta autentik mengenai semua perbuatan, perjanjian, dan penetapan yang diharuskan oleh peraturan perundang-undangan dan/atau yang dikehendaki oleh yang berkepentingan untuk dinyatakan dalam Akta autentik, menjamin kepastian tanggal pembuatan Akta, menyimpan Akta, memberikan grosse, salinan dan kutipan Akta, semuanya itu sepanjang pembuatan Akta itu tidak juga ditugaskan atau dikecualikan kepada pejabat lain atau orang lain yang ditetapkan oleh undang-undang
Baca lebih lanjut

21 Baca lebih lajut

Pertimbangan Pembentukan Pengaturan Besaran Minimal Honorarium Notaris dalam Undang  Undang Jabatan Notaris

Pertimbangan Pembentukan Pengaturan Besaran Minimal Honorarium Notaris dalam Undang Undang Jabatan Notaris

Hal ini memunculkan suatu persaingan dalam menjalankan jabatannya sebagai seorang notaris yang mengarah pada persainagan yang tidak sehat, yang semata-mata untuk mendapatkan klien dengan menurunkan honorarium dari yang telah ditentukan dalam peraturan perundang-undangan. Dalam beberapa kasus bahkan ada notaris yang membanting honor dan memberikan pendapat negatif terhadap rekan sejawatnya hanya untuk mendapatkan Hak Konsesi akta disebuah perusahaan. 14 Walaupun hal tersebut sama-sama berpedoman pada Pasal 36 Undang-Undang Jabatan Notaris.Penetapan yang didasarkan pertimbangan ekonomis dan sosiologis yang berbeda-beda antara wilayah kerja notaris yang satu dengan yang lainnya, maka disinilah terjadi perbedaan penetapan minimal besaran honorarium Notaris. Berdasarkan uraian-uraian di atas, maka permasalahan yang diangkat dalam penulisan jurnal ini adalah sebagai berikut: 1) Apakah yang menjadi dasar pertimbangan
Baca lebih lanjut

26 Baca lebih lajut

MAKALAH KEWENANGAN JABATAN NOTARIS TERHA

MAKALAH KEWENANGAN JABATAN NOTARIS TERHA

Notaris sebagai sebuah jabatan (bukan profesi atau profesi jabatan), dimana jabatan apapun yang ada dinegeri ini mempunyai wewenang tersendiri.setiap wewengan harus ada dasar hukumnya. Kalau kita berbicara mengenai wewenang, maka wewenang serang pejabat apapun harus jelas dan tegas dalam peraturan perundang-undangan yang mengatur tetang pejabat atau jabatan tersebut. Sehingga jika seorang Pejabat melakukan suatu tindakan diluar wewenag disebut sebagai peraturan melanggar hukum. Oleh karena itu,suatu wewenang tidak muncul begitu saja sebagai hasil dari suatu diskusi atau pembicara di belakang meja ataupun karena pembahasan-pembahasan ataupun pendapat-pendapat dilembaga legeslatif ,tapi wewenang harus dinyatakan dengan tegas dalam peraturan perundang-undangan yang bersangkutan.
Baca lebih lanjut

22 Baca lebih lajut

Hukum Dan Politik Hukum Jabatan Notaris

Hukum Dan Politik Hukum Jabatan Notaris

Jabatan Notaris dapat dikatakan sebagai officium nobile dikarenakan Jabatan notaris sangat erat hubungannya dengan kemanusiaan. Akta yang dibuat oleh notaris dapat menjadi alas hukum atas status harta benda, hak dan kewajiban seseorang. Kekeliruan atas akta notaris dapat menyebabkan tercabutnya hak seseorang atau terbebaninya seseorang atas suatu kewajiban. Notaris sebagai sebuah Jabatan terhormat (officium nobile) memegang peranan penting dalam kehidupan bermasyarakat, terutama masyarakat modern yang menghendaki adanya pendokumentasian suatu peristiwa hukum atau perbuatan hukum tertentu yang dilakukan oleh subjek hukum baik dalam arti subjek hukum berupa orang (natuurlijke persoon) maupun subjek hukum dalam arti badan hukum (rechtperson). Notaris sebagaimana dijelaskan sesungguhnya menjalankan sebagian fungsi negara dalam memberikan perlindungan hukum bagi masyarakatnya, mempunyai kewenangan untuk membuat akta otentik sebagai alat bukti yang sempurna bagi pihak-pihak yang membutuhkan agar hak dan kepentingan mereka terlindungi. Disinilah letak “kemuliaan” jabatan notaris, dimana melalui kewenangannya membuat akta otentik dan kewenangan-kewenangan lainnya adalah untuk memberikan kepastian hukum, ketertiban dan perlindungan hukum kepada masyarakat yang membutuhkan, oleh karena itu notaris dituntut untuk senantiasa mematuhi semua peraturan perundangan-undangan dan kode etik yang berkaitan dengan jabatan dan profesinya itu. Sebagai jabatan, notaris berkewajiban untuk senantiasa bertindak jujur saksama mandiri, dan tidak berpihak agar kepentingan para pihak terlindungi. Kewajiban ini mencerminkan notaris sebagai jabatan kepercayaan antara lain seperti adanya kewajiban untuk merahasiakan informasi yang diperoleh dari klien, dimana hal demikian ini juga merupakan tugas dan kewajiban notaris sebagai suatu jabatan.
Baca lebih lanjut

190 Baca lebih lajut

Rahasia Jabatan Notaris Dalam Pemeriksaan Pidana

Rahasia Jabatan Notaris Dalam Pemeriksaan Pidana

Pada dasarnya Notaris dalam membuat akta selalu dengan penuh kehati-hatian dan berpedoman pada ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku yakni Undang-Undang Jabatan Notaris dan peraturan perundang-undangan lainnya. Sebagaimana diketahui bahwa tugas Notaris adalah membuat akta otentik yang fungsinya untuk membuktikan kebenaran tentang telah dilakukannya suatu perbuatan hukum oleh para pihak/penghadap dan mencantumkan identitas masing-masing dari para pihak/penghadap tersebut. Notaris hanya mengkonstatir apa yang terjadi, apa yang dilihat, dan dialaminya serta menuangkannya didalam akta. Notaris pada dasarnya hanya mencatat apa yang dikemukakan oleh para pihak/penghadap lalu dituangkannya kedalam akta, disini dapat dikatakan bahwa Notaris hanya bertanggung jawab secara materil dalam kerangka formil, artinya Notaris berwenang untuk menyesuaikan keterangan-keterangan yang diberikan para pihak/penghadap berikut surat-surat/dokumen-dokumen yang diberikan dengan surat-surat/dokumen- dokumen yanh asli atau yang sebenarnya sehingga Notaris dapat menuangkan yang formil kemateril akta. Disini juga Notaris memberikan penyuluhan hukum untuk memberi arah dalam menemukan solusi yang benar dan tepat kepada para pihak/penghadap sehubungan dengan akta yang akan dibuat.
Baca lebih lanjut

120 Baca lebih lajut

JABATAN NOTARIS DALAM PERSPEKTIF HUKUM ADMINISTRASI

JABATAN NOTARIS DALAM PERSPEKTIF HUKUM ADMINISTRASI

meninggal dunia, maka Notaris yang menggantikannya menjalankan jabatannya. Suami/istri atau keluarga sedarah dalam garis lurus dari Notaris wajib melaporkannya kepada Majelis Pengawas Daerah dalam jangka waktu 7 hari kerja sejak Notaris itu meninggal. Pengawasan Notaris menurut UU No. 2 Tahun 2014 (Pasal 67-81) Notaris merupakan jabatan yang mandiri dan tidak memiliki atasan secara struktural, jadi Notaris bertanggung jawab langsung kepada masyarakat. Pengawas Notaris adalah Menteri Hukum dan HAM, yang dalam rangka mengawasi Notaris membentuk Majelis Pengawas berdasarkan Peraturan Menteri Hukum Dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia Nomor : M.02. Pr.08.10 Tahun 2004 tentang Tata Cara Pengangkatan Anggota, Pemberhentian Anggota, Susunan Organisasi,Tata Kerja,Dan Tata Cara Pemeriksaan Majelis Pengawas Notaris, dengan unsur:
Baca lebih lanjut

11 Baca lebih lajut

PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP NOTARIS YANG TELAH DIBERHENTIKAN BERDASARKAN PASAL 13 UNDANG UNDANG JABATAN NOTARIS Maraja Malela Marpaung

PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP NOTARIS YANG TELAH DIBERHENTIKAN BERDASARKAN PASAL 13 UNDANG UNDANG JABATAN NOTARIS Maraja Malela Marpaung

Menurut ketentuan Pasal 15 ayat (3) UU 30 Tahun 2004 jo UU 2 Tahun 2014 menyatakan bahwa selain kewenangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2), Notaris mempunyai kewenangan lain yang diatur dalam peraturan perundang-undangan. Antara lain, kewenangan mensertifikasi transaksi yang dilakukan secara elektronik (cyber notary), membuat Akta ikrar wakaf, dan hipotek pesawat terbang. Ketentuan Pasal 15 ayat (3) berbeda dengan rumusan UU 30 Tahun 2004 jo UU 2 Tahun 2014 yang baru tersebut Peraturan Jabatan Notaris yang lama (PJN, Ordonansi Staatsblad 1860 Nomor 3) mendefinisikan notaris sebagai pejabat umum yang satu-satunya berwenang untuk membuat akta autentik mengenai semua perbuatan, perjanjian, dan penetapan yang diharuskan oleh suatu peraturan umum atau oleh yang berkepentingan dikehendaki untuk dinyatakan dalam suatu akta autentik, menjamin kepastian tanggalnya, menyimpan aktanya dan memberikan grosse, salinan dan kutipannya, semua sepanjang pembuatan akta itu oleh suatu peraturan umum tidak juga ditugaskan atau dikecualikan kepada pejabat atau orang lain.
Baca lebih lanjut

18 Baca lebih lajut

Pelanggaran Kode Etik Notaris Terkait Persaingan Tidak Sehat Sesama Rekan Notaris Ditinjau Dari Peraturan Kode Etik Ikatan Notaris Indonesia (I.n.i)”.

Pelanggaran Kode Etik Notaris Terkait Persaingan Tidak Sehat Sesama Rekan Notaris Ditinjau Dari Peraturan Kode Etik Ikatan Notaris Indonesia (I.n.i)”.

bentuk tindakan yang dilakukan oleh notaris yang dapat menyebabkan timbulnya persaingan tidak sehat adalah dengan cara menjalankan jabatan diluar wilayah kerjanya. Setiap notaris dalam menjalankan jabatannya telah mempunyai wilayah jabatan masing- masing, dan wilayah jabatannya telah mempunyai wilayah jabatan masing-masing, dan wilayah jabatan tersebut yang menjadi lingkup kewenangan dari notaris yang bersangkutan. Artinya di luar wilayah kerja notaris tidak berwenang menjalankan jabatannya. UUJN telah melarang hal tersebut dengan tegas, karena jika notaris melanggar ketentuan tersebut atau dengan kata lain membuat akta diluar wilayah jabatannya yang mana hal tersebut merupakan hak atau lingkup kewenangan dari notaris lainnya yang berada dalam wilayah jabatan tersebut maka tentu saja hal ini dapat menimbulkan persaingan antar rekan notaris karena terdapat oknum notaris yang menjalankan jabatan diluar dari lingkup kewenangannya.
Baca lebih lanjut

15 Baca lebih lajut

ANALISIS YURIDIS TENTANG PERTANGGUNGJAWABAN NOTARIS DALAM PEMBUATAN AKTA BERDASARKAN UNDANG-UNDANG NOMOR 30 TAHUN 2004 TENTANG JABATAN NOTARIS

ANALISIS YURIDIS TENTANG PERTANGGUNGJAWABAN NOTARIS DALAM PEMBUATAN AKTA BERDASARKAN UNDANG-UNDANG NOMOR 30 TAHUN 2004 TENTANG JABATAN NOTARIS

“Pembuktian dengan tulisan dilakukan dengan tulisan-tulisan otentik maupun dengan tulisan-tulisan di bawah tangan”. Sedangkan otensitas dari akta Notaris bersumber dari Pasal 1 ayat (1) UUJN jo. Pasal 1868 KUHPerdata, yaitu Notaris adalah pejabat umum yang berwenang untuk membuat akta otentik dan kewenangan lainnya sebagaimana dimaksud dalam undang-undang ini, kewenangan yang dimaksud terdapat dalam Pasal 15 ayat (1) UUJN, yaitu Notaris berwenang membuat akta otentik mengenai semua perbuatan, perjanjian, dan ketetapan yang diharuskan oleh peraturan perundang-undang dan/atau yang dikehendaki oleh yang berkepentingan untuk dinyatakan dalam akta otentik, menjamin kepastian tanggal pembuatan akta, menyimpan akta, memberikan
Baca lebih lanjut

58 Baca lebih lajut

KAJIAN HUKUM PERTANGGUNGJAWABAN PIDANA TERHADAP NOTARIS DALAM MENJALANKAN JABATAN TERKAIT KETIADAAN SANKSI PIDANA PADA UNDANG–UNDANG NOMOR 30 TAHUN 2004 TENTANG JABATAN NOTARIS

KAJIAN HUKUM PERTANGGUNGJAWABAN PIDANA TERHADAP NOTARIS DALAM MENJALANKAN JABATAN TERKAIT KETIADAAN SANKSI PIDANA PADA UNDANG–UNDANG NOMOR 30 TAHUN 2004 TENTANG JABATAN NOTARIS

Dengan pesatnya lalu lintas hukum dan tuntutan masyarakat akan pentingnya kekuatan pembuktian suatu akta, sehingga menuntut peranan Notaris sebagai pejabat umum harus dapat selalu mengikuti perkembangan hukum dalam memberikan jasanya kepada masyarakat yang memerlukan dan menjaga akta-akta yang di buatnya untuk selalu dapat memberikan kepastian hukum. Dengan demikian diharapkan bahwa keberadaan akta otentik notaris akan memberikan jaminan kepastian hukum bagi para pihak dan sebagai alat bukti terkuat dan terpenuh. Seiring dengan semakin berkembangnya jaman, masyarakat semakin menyadari perlunya perjanjian-perjanjian yang dibuat oleh para pihak dibuat secara otentik untuk menjamin kepastian hukum dan sebagai alat bukti yang kuat dikemudian hari. Dengan demikian dapat dipahami bahwa keberadaan jabatan sebagai notaris sangat penting dan dibutuhkan masyarakat luas, mengingat fungsi notaris adalah sebagai Pejabat Umum yang membuat alat bukti tertulis berupa akte otentik. Permasalahan yang akan dibahas dalam penelitian ini adalah pertama apakah notaris terbebas dari pertanggungjawaban pidana dalam menjalankan jabatannya. Kedua, bagaimanakah penjatuhan sanksi pidana terhadap notaris yang melakukan tindak pidana dalam menjalankan jabatannya? Penelitian ini dilakukan dengan melakukan pendekatan normatif yang bersifat Library Research (penelitian Kepustakaan). Penulisan ini menggunakan data sekunder dengan bahan hukum primer berupa peraturan perundang-undangan, bahan hukum sekunder seperti buku-buku maupun karya ilmiah, serta bahan hukum tersier berupa kamus.
Baca lebih lanjut

12 Baca lebih lajut

TINJAUAN YURIDIS TIDAK ADANYA LARANGAN NOTARIS TERHADAP JABATAN KURATOR SESUAI UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 2 TAHUN 2014 TENTANG JABATAN NOTARIS - Unissula Repository

TINJAUAN YURIDIS TIDAK ADANYA LARANGAN NOTARIS TERHADAP JABATAN KURATOR SESUAI UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 2 TAHUN 2014 TENTANG JABATAN NOTARIS - Unissula Repository

Kurator wajib memastikan bahwa semua tindakan yang dilakukan adalah untuk kepentingan harta pailit. Banyak hambatan yang ditemui kurator, antara lain terkait dengan kepastian hukum terhadap profesi ini yaitu belum adanya jaminan hukum yang jelas untuk melindungi tugas Kurator yang mempersulit pelaksanaan tugasnya, diantaranya seorang kurator seringkali menghadapi permasalahan dalam proses pelaksanaan putusan pailit, dimana debitur pailit tersebut tidak tunduk pada putusan Pengadilan, dan bahkan terus melakukan transaksi bila kurator datang, kurator tersebut bahkan diusir dan terhadap debitur ini tidak ada akibat atau sanksi apa-apa dari pengadilan. 11
Baca lebih lanjut

27 Baca lebih lajut

PENERAPAN PRINSIP MENGENALI PENGGUNA JASA (CUSTOMER DUE DILIGENCE) OLEH NOTARIS DALAM PENCEGAHAN DAN PEMBERANTASAN TINDAK PIDANA PENCUCIAN UANG DITINJAU DARI KERAHASIAAN JABATAN NOTARIS

(Studi Kasus di Wilayah Jabatan Notaris Kota Padang)

PENERAPAN PRINSIP MENGENALI PENGGUNA JASA (CUSTOMER DUE DILIGENCE) OLEH NOTARIS DALAM PENCEGAHAN DAN PEMBERANTASAN TINDAK PIDANA PENCUCIAN UANG DITINJAU DARI KERAHASIAAN JABATAN NOTARIS (Studi Kasus di Wilayah Jabatan Notaris Kota Padang)

Profesionalisme menghendaki bagi Notaris harus peka, tanggap, mempunyai ketajaman berfikir, dan mampu memberikan analisis yang tepat terhadap setiap peristiwa hukum dan sosial yang muncul sehingga dengan begitu akan menumbuhkan sikap keberanian dalam mengambil tindakan yang tepat. Keberanian yang dimaksud di sini adalah keberanian untuk melakukan perbuatan hukum yang benar sesuai peraturan Perundang-Undangan yang berlaku di samping itu Notaris dapat menolak dengan tegas pembuatan Akta yang bertentangan dengan hukum, Moral, etika, dan kepentingan umum.

28 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...

Related subjects