Top PDF Pandangan Hari Tua Pasangan yang Tidak Memiliki Anak

Pandangan Hari Tua Pasangan yang Tidak Memiliki Anak

Pandangan Hari Tua Pasangan yang Tidak Memiliki Anak

Masalah tempat tinggal juga merupakan salah satu masalah besar bagi pria dan wanita yang kehilangan pasangannya. Dalam budaya Jawa sendiri, sebagian masyarakatnya menginginkan berada dalam suatu keluarga besar karena adanya pertimbangan dan harapan bahwa anak-anak dapat merawat orangtua mereka yang sudah lanjut usia (Koetjaraningrat dalam Beard & Kunharibowo, 2001). Berbeda dengan pasangan yang memiliki anak, pasangan yang tidak memiliki anak khususnya mereka yang nantinya hidup sendiri, Baik pria maupun wanita, mereka mengantisipasi kesendirian hidupnya dengan memilih untuk tinggal bersama kerabat mereka dengan harapan bahwa kerabat tersebutlah yang akan merawat mereka di hari tua. Namun perencanaan tempat untuk menetap tersebut masih berbeda antara satu dengan lainnya, terutama pada subjek dalam penelitian ini. Pasangan 1 (Birda dan Edo) serta Pasangan 3 (Dini dan Rusdi) berpandangan bahwa mereka tetap akan tinggal di rumah sendiri jika mereka harus hidup sendiri nantinya dengan kemungkinan bahwa mereka akan mengajak kerabat seperti saudara dan keponakan untuk ikut tinggal bersama mereka namun apabila kerabat tidak berkenan untuk tinggal bersama mereka. Birda, Edo dan Rusdi berantisipasi dengan memilih untuk tetap tinggal sendiri secara mandiri tanpa bergantung pada orang lain. Sementara Dini berpandangan bahwa ia akan memanggil perawat datang ke rumah untuk merawatnya atau tinggal bersama asisten rumah tangganya yang sebelumnya pernah setuju untuk ikut bersamanya. Di sisi lain Tina dan Guntur berpandangan bahwa jika nanti mereka hidup sendiri, mereka akan ikut tinggal bersama di rumah kerabat mereka, khususnya Tina yang akan tinggal bersama saudaranya di rumah orangtua mereka namun jika tempat tinggal tersebut tidak memungkinkan, ia akan memilih tinggal di tempat lain namun masih dengan saudaranya yang sebelumnya pernah mengatakan akan ikut dengannya.
Baca lebih lanjut

13 Baca lebih lajut

Resiliensi Orang Tua Sunda yang Memiliki Anak Berkebutuhan Khusus

Resiliensi Orang Tua Sunda yang Memiliki Anak Berkebutuhan Khusus

Menurut definisi diatas pasangan suami istri tersebut memenuhi kriteria termasuk pada individu yang memiliki resiliensi. Situasi tersebut bisa saja menjadikan mereka mengalah dalam keputusasaan, bahkan mereka berpotensi untuk menjadi frustrasi, namun mereka tetap dapat berdiri tegak dan berusaha dengan baik menghadapi apa yang dialaminya, jika di lihat dari kepribadian Sunda, mereka termasuk individu yang memiliki karakteristik cageur, bageur, pinter, singer dan bener. Hal ini tentunya adalah warisan dari orang tuanya terdahulu dimana mereka diajarkan untuk tetap bertahan dan mampu menjadi pribadi yang tetap sehat, baik, pintar, tetap berusaha dan jujur meskipun tantangan menghadapi yakni memiliki anak angkat berkebutuhan khusus dan kondisi suami yang tidak bekerja atau pensiunan.
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

PENGAMBILAN KEPUTUSAN MENUNDA MEMILIKI ANAK PADA PASANGAN YANG BEKERJA DI BANDUNG.

PENGAMBILAN KEPUTUSAN MENUNDA MEMILIKI ANAK PADA PASANGAN YANG BEKERJA DI BANDUNG.

Dalam proses pengambilan keputusan menunda memiliki anak, subjek SN dan subjek FB sama-sama menilai bahwa ekonomi yang tidak stabil menjadi tantangan dalam kehidupan rumah tangga mereka, sehingga demi dapat mengatasi permasalahan ekonomi yang mereka miliki SN dan FB sama-sama ingin lebih berfokus terhadap pekerjaan yang mereka miliki saat ini. Selain itu SN dan FB juga sepakat untuk menunda memiliki anak terlebih dahulu agar mereka benar-benar dapat lebih berkonsentrasi terhadap pekerjaan yang mereka miliki saat ini. Untuk dapat memperbaiki permasalahan ekonomi yang mereka miliki, keputusan menunda memiliki anak ini merupakan keputusan yang terbaik yang dapat dilakukan oleh mereka, hal ini didasari dengan SN dan FB yang mulai dapat sedikit demi sedikit memperbaiki keadaan ekonomi yang mereka miliki saat ini. Dalam program penundaan memiliki anak ini SN dan FB sama-sama mendapatkan dukungan dari kedua orangtua dan keluarga mereka sehingga hal tersebut membuat mereka lebih yakin untuk memutuskan menunda memiliki anak.Dari keputusan yang telah SN dan FB ambil, mereka berharap keadaan ekonomi yang mereka inginkan dapat tercapai dan mereka juga berharap masalah ekonomi bukan lagi menjadi penghalang begi mereka untuk memiliki anak dikemudian hari.
Baca lebih lanjut

28 Baca lebih lajut

STRATEGI COPING ORANG TUA YANG MEMILIKI ANAK AUTIS

STRATEGI COPING ORANG TUA YANG MEMILIKI ANAK AUTIS

Penyandang autis setiap tahunnya mengalami peningkatan, saat ini jumlah autis di Indonesia mencapai 112.000 jiwa. Orang tua yang memiliki anak autis cenderung lebih merasa stres dan tertekan karena mempunyai peran penting dalam penanganan dan pengasuhan anak autis. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan strategi coping orang tua yang memiliki anak autis. Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan pendekatan kualitatif dengan 3 informan utama dan 3 informan pendukung, Informan utama adalah ayah atau ibu dari anak autis sesuai dengan kriteria yang telah ditentukan, sedangkan informan pendukung adalah orang yang dekat dengan orang tua anak autis. Peneliti berkunjung ke SLB untuk meminta data orang tua yang memiliki anak autis kemudian meminta pihak SLB untuk diminta bantuan menghubungi informan, teknik pemilihan informan dalam penelitian ini adalah purposive sampling, berdasarkan ciri-ciri yaitu orang tua yang mempunyai anak autis dan bersedia menjadi informan dengan mengisi inform consent. Peneliti menggunakan metode wawancara semi terstruktur dan observasi sebagai alat pengumpul data. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa orang tua memiliki anak autis mengalami kurangnya pemahaman mengenai anak autis, mengalami kelelahan fisik dan kesulitan ekonomi. Orang tua menghadapi masalah yang muncul dengan berbagai cara terdapat bentuk coping yang berhasil terungkap pada penelitian ini, antara lain coping berdasarkan emosi yaitu sabar, coping berdasarkan masalah yaitu orang tua membawa ke dokter untuk diterapi, menyekolahkan anak autis ke SLB, mempelajari dari perilaku anak autis, mengajarkan dan mencontohkan kegiatan sehari-hari kepada anak autis, mencari pekerjaan dan beristirahat apabila sedang sakit. Peneliti juga dapat mengungkap bentuk coping religius yaitu tawakal. Optimal atau tidaknya coping yang dipilih dipengaruhi oleh usia, jenis kelamin, status ekonomi, tingkat pendidikan dan koneksi lingkungan.
Baca lebih lanjut

19 Baca lebih lajut

HUBUNGAN STATUS EKONOMI DAN PANDANGAN POSISI ANAK DENGAN SIKAP ORANG TUA TERHADAP KEKERASAN PADA ANAK

HUBUNGAN STATUS EKONOMI DAN PANDANGAN POSISI ANAK DENGAN SIKAP ORANG TUA TERHADAP KEKERASAN PADA ANAK

Faktor-faktor yang mempengaruhi sikap adalah faktor pengalaman pribadi, kebudayaan, pengaruh orang lain yang dianggap penting, media sosial, lembaga sosial dan faktor emosional. Sikap merupakan reaksi atau respon yang masih tertutup dari seseorang terhadap suatu stimulasi atau objek. Sikap secara nyata menunjukan konotasi adanya kesesuaian reaksi terhadap stimulasi tertentu yang dalam kehidupan sehari-hari merupakan reaksi yang bersifat emosional terhadap stimulasi. Sikap belum merupakan suatu tindakan atau aktivitas, akan tetapi merupakan predisposisi tindakan suatu perilaku. Sikap itu masih merupakan reaksi tertutup, bukan merupakan reaksi terbuka atau tingkah laku yang terbuka. Sikap merupakan kesiapan untuk bereaksi terhadap objek dilingkungan tertentu sebagai suatu penghayatan terhadap objek. 9
Baca lebih lanjut

6 Baca lebih lajut

KEPUASAN PERKAWINAN PADA ORANG TUA YANG MEMILIKI ANAK AUTISME SKRIPSI

KEPUASAN PERKAWINAN PADA ORANG TUA YANG MEMILIKI ANAK AUTISME SKRIPSI

Wawancara pertama dilaksanakan antara peneliti dan PI 1. PI 1 adalah seorang perempuan berusia 44 tahun dengan pendidikan terakhir sarjana strata 1 dan bekerja sebagai seorang pendeta. Pengambilan data dilakukan satu kali pada malam hari selama kurang lebih 54 menit, bertempat di ruang ibadah rumah PS 1 dan PI 1. Proses wawancara terjeda sebanyak dua kali karena partisipan harus memenuhi kebutuhan anak-anaknya. Pada saat wawancara, partisipan mengenakan kaos cokelat dan celana kain keunguan dengan panjang tigaperempat. Selama proses wawancara berlangsung, partisipan duduk di hadapan peneliti dan mampu mempertahankan kontak mata dengan peneliti. Ketika PI 1 bercerita mengenai pengalaman hidupnya, partisipan terlihat duduk dengan posisi bersandar pada kursi dan nada bicara yang cenderung tegas. PI 1 menyampaikan cerita tanpa henti dengan mata yang berkaca-kaca. Selama wawancara, PI 1 berbicara dengan cukup lancar dan runtut, namun beberapa kali melakukan pengulangan pengucapan dan mengatakan “apa ya” ketika mengalami
Baca lebih lanjut

97 Baca lebih lajut

FORGIVENESS PADA ORANG TUA YANG MEMILIKI ANAK HAMIL PRANIKAH

FORGIVENESS PADA ORANG TUA YANG MEMILIKI ANAK HAMIL PRANIKAH

Dalam konteks Islam, makna seksualitas tersebut berkaitan erat dengan konsepsi nilai dan norma seksualitas yang telah dirumuskan Islam. Dalam Islam makna seks sebagai suatu aktivitas hubungan kelamin (sex acts) hanya boleh dilakukan dalam suatu ikatan perkawinan yang sah dan hanya dilakukan dengan pasangan kawinnya. Hubungan seksual tersebut oleh Islam diberikan status ontologis yang tinggi, yang didefinisikan sebagai suatu ibadah dan para pelakunya kelak akan mendapat ganjaran pahala dari Allah. Sebaliknya, Islam akan memberikan sanksi hukum yang tegas kepada seseorang yang melakukan hubungan kelamin diluar nikah dan hal ini dikonsepsikan sebagai perbuatan zina yang para pelakunya akan mendapatkan balasan dari Allah (Sudirman, 1999).
Baca lebih lanjut

17 Baca lebih lajut

Makna Hidup pada Pasangan yang Belum Memiliki Keturunan

Makna Hidup pada Pasangan yang Belum Memiliki Keturunan

Ketika peneliti datang, suami sedang menonton TV dan suami meminta peneliti menunggu sebentar karena suami mau mandi dulu. Suami juga mengatakan kalau ia lupa hari itu peneliti akan datang. Peneliti menunggu selama 10 menit dan setelah suami selesai mandi dan berpakaian, suami memanggil anak kecil kira-kira berumur 10 tahun dan meminta tolong pada anak itu untuk membelikannya rokok di kedai depan. Saat itu adik suami sedang bersiap-siap untuk pergi ke gereja. Suami bertanya jam berapa adiknya itu pulang dan adiknya mengatakan ia kan lama di gereja. Suami tampak kecewa dan volume suaranya menurun ketika mendengar jawaban adiknya dan meminta adiknya untuk mengusahakan agar dapat pulang lebih cepat. Lalu adiknya permisi dan pergi. Ketika anak yang dimintai tolong membeli rokok datang, suami pun meminta anak itu untuk menemaninya mengobrol sampai jam 10 malam nanti (istri pulang kira-kira jam 22.00 atau 22.30 WIB). Namun anak itu menjawab hari ini ia tidak dapat menemani suami karena ada tugas sekolah yang harus ia kerjakan. Tetapi anak itu berjanji besok akan menemani suami dari pagi. Lalu subjek meminta anak itu memanggil anak lain yang kebetulan masih mempunyai hubungan saudara dengan dirinya.
Baca lebih lanjut

240 Baca lebih lajut

Studi Deskriptif : Nilai Anak Bagi Orang Tua Yang Memiliki Anak Tunggal - Ubaya Repository

Studi Deskriptif : Nilai Anak Bagi Orang Tua Yang Memiliki Anak Tunggal - Ubaya Repository

Nilai anak adalah pandangan yang diberikan untuk anak dari orang tua yang mengacu pada kebutuhan orang tua untuk memiliki anak-anak. Kagitcibasi (dalam Sam, 2001), merangkum nilai anak menjadi tiga tipe yaitu nilai ekonomis yang berkaitan dengan kentungan materi dan rasa aman yang diberikan anak baik ketika anak masih muda maupun ketika anak dewasa, nilai psikologis yang berkaitan dengan kepuasan seperti kebahagiaan, kebanggaan, kasih sayang dan kebersamaan yang diberikan anak pada orang tua, dan nilai sosial yang mengacu pada pada penerimaan sosial yang didapatkan oleh pasangan yang menikah ketika memiliki anak. Nilai anak dipengaruhi oleh beberapa faktor salah satunya adalah jumlah anak yang dimiliki orang tua. Berdasarkan hal tersebut, peneliti ingin melihat bagaimana gambaran nilai anak pada orang tua yang memiliki anak tunggal.
Baca lebih lanjut

1 Baca lebih lajut

Pengaruh Dukungan Keluarga dan Pasangan terhadap Resiliensi Ibu yang Memiliki Anak dengan Spektrum Autisme

Pengaruh Dukungan Keluarga dan Pasangan terhadap Resiliensi Ibu yang Memiliki Anak dengan Spektrum Autisme

Beberapa penelitian terkait sebelumnya baru sebatas mengungkap gambaran resiliensi keluarga (Greeff & Van der Walt, 2010), efek psikologis orang tua (Fido & Al Saad, 2013), hubungan keberfungsian keluarga dan resiliensi (Mardiani, 2012), dan hubungan penerimaan diri, dukungan sosial, dan stress pada ibu (Rahmawati et.al, 2010). Penelitian sebelumnya dari Komalasari (2007) hanya menjelaskan korelasi dari kedua variabel yaitu dukungan sosial dan resilensi pada ibu. Penelitian tersebut tidak mengkhususkan sumber dukungan sosial tertentu seperti pasangan atau keluarga, dan tidak melihat seberapa besar peran dukungan sosial tersebut. Oleh karena itu, peneliti
Baca lebih lanjut

9 Baca lebih lajut

Penerimaan diri pasangan suku Batak Toba yang tidak memiliki anak laki-laki.

Penerimaan diri pasangan suku Batak Toba yang tidak memiliki anak laki-laki.

Dalam kebudayaan masyarakat suku Batak Toba ada dikenal Dalihan Na Tolu. Dalihan Na Tolu (tungku yang berkaki tiga) ini menjadi sandaran seluruh tatanan sosio-kultural suku Batak. Dalihan Na Tolu adalah ide vital, suatu kompleks gagasan yang merupakan pandangan hidup dan sumber perilaku masyarakat Batak Toba dan menumbuhkan kompleks aktivitas masyarakat dalam wujud karya budaya baik budaya spiritual maupun budaya material. Di dalam kehidupan orang Batak Toba, penerapan Dalihan Na Tolu dapat dilihat dengan jelas didalam kehidupan sehari-hari khususnya pada setiap acara adat Batak Toba seperti perkawinan, kematian, warisan dan lain-lain (Simanjuntak, 2009). Sistem kekerabatan ini menempatkan posisi seseorang secara pasti sejak dilahirkan hingga meninggal dalam tiga posisi yaitu hula-hula, dongan sabutuha dan boru. Ketiga unsur berdiri sendiri tidak akan ada artinya tetapi harus bekerja sama satu sama lain baru bermanfaat. Dari karakter kultural inilah lahir berbagai pola pikir dan pola laku bahkan akhirnya membentuk local wisdom di kalangan masyarakat Batak Toba termasuk karakter hula-hula, dongan sabutuha dan boru.
Baca lebih lanjut

353 Baca lebih lajut

STRATEGI COPING ORANG TUA YANG MEMILIKI ANAK AUTIS HALAMAN DEP  Strategi Coping Orang Tua Yang Memiliki Anak Autis.

STRATEGI COPING ORANG TUA YANG MEMILIKI ANAK AUTIS HALAMAN DEP Strategi Coping Orang Tua Yang Memiliki Anak Autis.

Penyandang autis setiap tahunnya mengalami peningkatan, saat ini jumlah autis di Indonesia mencapai 112.000 jiwa (Priherdityo, 2016). Orang tua yang memiliki anak autis cenderung lebih merasa stres dan tertekan karena mempunyai peran penting dalam penanganan dan pengasuhan anak autis. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan strategi coping orang tua yang memiliki anak autis. Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan pendekatan kualitatif dengan 3 informan utama dan 3 informan pendukung, Informan utama adalah ayah atau ibu dari anak autis sesuai dengan kriteria yang telah ditentukan, sedangkan informan pendukung adalah orang yang dekat dengan orang tua anak autis. Peneliti berkunjung ke SLB untuk meminta data orang tua yang memiliki anak autis kemudian meminta pihak SLB untuk diminta bantuan menghubungi informan, teknik pemilihan informan dalam penelitian ini adalah purposive sampling, berdasarkan ciri-ciri yaitu orang tua yang mempunyai anak autis dan bersedia menjadi informan dengan mengisi inform consent. Peneliti menggunakan metode wawancara semi terstruktur dan observasi sebagai alat pengumpul data. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa orang tua memiliki anak autis mengalami kurangnya pemahaman mengenai anak autis, mengalami kelelahan fisik dan kesulitan ekonomi. Orang tua menghadapi masalah yang muncul dengan berbagai cara terdapat bentuk coping yang berhasil terungkap pada penelitian ini, antara lain coping berdasarkan emosi yaitu sabar, coping berdasarkan masalah yaitu orang tua membawa ke dokter untuk diterapi, menyekolahkan anak autis ke SLB, mempelajari dari perilaku anak autis, mengajarkan dan mencontohkan kegiatan sehari-hari kepada anak autis, mencari pekerjaan dan beristirahat apabila sedang sakit. Peneliti juga dapat mengungkap bentuk coping religius yaitu tawakal. Optimal atau tidaknya coping yang dipilih dipengaruhi oleh usia, jenis kelamin, status ekonomi, tingkat pendidikan dan koneksi lingkungan.
Baca lebih lanjut

18 Baca lebih lajut

Hubungan antara Spiritualitas dengan Penerimaan Orang Tua pada Orang Tua

yang Memiliki Anak Autis

Hubungan antara Spiritualitas dengan Penerimaan Orang Tua pada Orang Tua yang Memiliki Anak Autis

aspek merasakan hubungan dengan Tuhan. Spiritualitas yang tinggi menunjukkan bahwa individu meyakini adanya sosok transeden (Tuhan) dalam kehidupan sehari-hari. Hasil penelitian ini sejalan dengan hasil penelitian Palacios (2004) di Long Beach, California. Palacios (2004) menemukan dari 34 orang tua yang menjadi sampel penelitian, dua puluh delapan (28) atau sebesar 91,9% subjek diantaranya mengakui memiliki hubungan dengan Tuhan. Spiritualitas menjadi salah satu strategi untuk meminimalisir stres (coping stres). Spiritualitas merupakan variabel penting dalam pengalaman hidup yang berkesan, termasuk pada kondisi bahagia dan kondisi depresif serta cemas (Isgandarova, 2005). Salah satu pengalaman depresif bagi orang tua adalah hasil diagnosa autisme pada anak. Meyakini peran serta Tuhan dalam kehidupan sehari-hari merupakan salah satu metode coping yang dapat dilakukan orang tua untuk meminimalisir stres, sebab dampak psikologis memiliki anak autis adalah perasaan kecewa serta kecenderungan mengalami stres yang tinggi. Keyakinan terhadap Tuhan mengakar dalam diri individu sehingga individu percaya bahwa terdapat kekuatan non-fisik yang jauh lebih besar dibandingkan kekuatan yang berasal dari individu, yang mampu mengatur kehidupan individu (Rois, 2014). Hal tersebut menyebabkan individu melakukan berbagai upaya untuk mendekatkan diri kepada Tuhan, dengan harapan-harapan tertentu untuk mencapai kebahagiaan personal dan terhindar dari masalah pelik kehidupan.
Baca lebih lanjut

136 Baca lebih lajut

PENDAHULUAN  Strategi Coping Orang Tua Yang Memiliki Anak Autis.

PENDAHULUAN Strategi Coping Orang Tua Yang Memiliki Anak Autis.

Berdasarkan hasil wawancara pada tanggal 3 November 2015 terhadap orang tua yang memiliki anak autis dengan ibu berinisial E, mengatakan bahwa ketika pertama kali mendengar anaknnya di diagnosis mengalami shock bercampur perasaan sedih, takut dan bingung. Menghadapi anak yang menyandang autis tidaklah mudah, karena membutuhkan waktu dan tenaga yang ekstra. Perilaku anak yang terkadang tidak dimengerti orang lain membuat ibu berinisial E jengkel atau gemas dan sering kali merasa stres. Banyak tantangan yang dihadapi seperti ketika anak tiba-tiba menangis sendiri, teriak-teriak tanpa sebab yang pasti dan memukuli diri sendiri hingga pernah luka. Ibu berinisial E ini juga pernah berkonsultasi dengan psikolog dan dengan guru disekolah mengenai bagaimana menangani dan mengasuh anaknya. Anak diajarkan untuk beribadah dan mengenal Tuhannya, diajarkan untuk mengenal orang lain dengan diajak pergi ke mall atau tempat rekreasi, dari sini Ibu berinisial E berharap anaknya mampu memahami kehidupan sehari-hari sehingga dapat diterima dilingkungan secara baik.
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

Dinamika Penerimaan Orang Tua Yang Memiliki Anak Berkebutuhan Khusus

Dinamika Penerimaan Orang Tua Yang Memiliki Anak Berkebutuhan Khusus

Penerimaan orangtua terhadap anak berkebutuhan khusus sangat diperlukan untuk merangsang pertumbuhan dan perkembangan anak. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan menganalisa dinamika penerimaan orang tua yang memiliki anak berkebutuhan khusus. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan jenis penelitian fenomologis. Teknik pengumpulan data wawancara mendalam, observasi dan studi dokumentasi sebagai sumber data. Sampel penelitian ini menggunakan teknik purpose sampel adalah tiga pasangan orang tua dari keluarga yang memiliki anak berkebutuhan khusus. Faktor yang mempengaruhi p enerimaan diri orang tua terhadap anak berkebutuhan khusus yaitu rasa syukur yang dimiliki subyek atas sesuatu yang diterima dari Allah, dengan rasa syukur atas apa yang diterima subyek semakin mudah menerima kehadiran anak berkebutuhan khusus dalam keluarganya.Selain itu pemahaman terhadap pengamalan agamanya memperkuat kesadaran bahwa orang tua yang dianugerahi anak dengan kondisi mengalami kekurangan tetaplah harus disyukuri. Rasa syukur dan keyakinan agama inilah yang menjadikan subyek mudah menerima kehadiran anak berkebutuhan khusus. Dinamika psikologis keenam Subyek dalam menerima anak berkebutuhan khusus membutuhkan waktu dan proses yang panjang.
Baca lebih lanjut

24 Baca lebih lajut

Penyesuaian Diri Orang Tua Yang Memiliki Anak Autis

Penyesuaian Diri Orang Tua Yang Memiliki Anak Autis

Umumnya orangtua yang memiliki anak autis akan mengalami stress. Hal ini terjadi baik pada ayah maupun ibu. Ayah dan ibu juga menunjukkan penampakan yang berbeda dari stress yang mereka alami yang berhubungan dengan masalah-masalah anak autisnya. Ibu merupakan tokoh yang lebih rentan terhadap masalah penyesuaian. Hal ini dikarenakan ibu berperan langsung dalam kelahiran anak. Biasanya ibu cenderung mengalami perasaan bersalah dan depresi yang berhubungan dengan ketidakmampuan anaknya dan ibu lebih mudah terganggu secara emosional. Ibu juga merasa stress karena perilaku yang ditampilkan oleh anaknya seperti, tantrum, hiperaktif, kesulitan bicara, perilaku yang tidak lazim, ketidakmampuan bersosialisasi dan berteman. Berbeda dengan ayah yang sebenarnya juga mengalami stress yang sama tetapi dampak stressnya tidak seberat yang dialami oleh ibu. Ayah cenderung lebih stress karena stress yang dialami oleh ibu. Hal ini dikarenakan oleh peran ayah sebagai pencari nafkah utama dalam keluarga sehingga mereka tidak terlalu terlibat dalam pengasuhan anak sehari-hari (Cohen & Volkmar, 1997)
Baca lebih lanjut

107 Baca lebih lajut

MEMILIKI ANAK KANDUNG TETAPI MEMILIKI ANAK ANGKAT  Subjective Well-Being Pada Pasangan Yang Belum Memiliki Anak Kandung Tetapi Memiliki Anak Angkat.

MEMILIKI ANAK KANDUNG TETAPI MEMILIKI ANAK ANGKAT Subjective Well-Being Pada Pasangan Yang Belum Memiliki Anak Kandung Tetapi Memiliki Anak Angkat.

Pada umumnya, pasangan menikah memiliki keinginan untuk memperoleh keturunan, namun tidak semua pasangan langsung mendapatkan anak pasca pernikahannya. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan gambaran subjective well being pada pasangan yang belum memiliki anak kandung tetapi memiliki anak angkatdan faktor-faktor yang mempengaruhi subjective well being . Subjek penelitian ini adalah tiga pasang suami-istri yang belum memiliki anak kandung tetapi memiliki anak angkat di Kabupaten Karanganyar. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah wawancara. Analisis data menggunakan teknik analisis interaktif. Penelitian ini menemukan bahwa pada awalnya keenam subjek sering mengalami afeksi negatif dan jarang merasakan afeksi positif, namun dengan hadirnya anak dan dukungan dari pasangan dan orang tua mampu membuat subjek bangkit dari kesedihan. Selain itu, subjek menemukan kepuasan hidupnya dari pengalaman menyenangkan pada masa lalu, memiliki tujuan hidup, memandang positif terhadap dirinya dan mensyukuri apa yang telah ada. Faktor yang mempengaruhi subjective well being pada subjek adalah pengalaman menyenangkan dan menyedihkan, rasa syukur, ikhlas dan pasrah terhadap keadaan yang dijalaninya, dukungan dari keluarga, hubungan positif dengan pasangan dan anak, kasih sayang keluarga, memiliki waktu berkualitas bersama keluarga, serta menghabiskan waktu luang bersama pasangan dan anak.
Baca lebih lanjut

15 Baca lebih lajut

STRATEGI COPING ORANG TUA YANG MEMILIKI   Strategi Coping Orang Tua Yang Memiliki Anak Autis.

STRATEGI COPING ORANG TUA YANG MEMILIKI Strategi Coping Orang Tua Yang Memiliki Anak Autis.

Penyandang autis setiap tahunnya mengalami peningkatan, saat ini jumlah autis di Indonesia mencapai 112.000 jiwa. Orang tua yang memiliki anak autis cenderung lebih merasa stres dan tertekan karena mempunyai peran penting dalam penanganan dan pengasuhan anak autis. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan strategi coping orang tua yang memiliki anak autis. Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan pendekatan kualitatif dengan 3 informan utama dan 3 informan pendukung, Informan utama adalah ayah atau ibu dari anak autis sesuai dengan kriteria yang telah ditentukan, sedangkan informan pendukung adalah orang yang dekat dengan orang tua anak autis. Peneliti berkunjung ke SLB untuk meminta data orang tua yang memiliki anak autis kemudian meminta pihak SLB untuk diminta bantuan menghubungi informan, teknik pemilihan informan dalam penelitian ini adalah purposive sampling , berdasarkan ciri-ciri yaitu orang tua yang mempunyai anak autis dan bersedia menjadi informan dengan mengisi inform consent . Peneliti menggunakan metode wawancara semi terstruktur dan observasi sebagai alat pengumpul data. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa orang tua memiliki anak autis mengalami kurangnya pemahaman mengenai anak autis, mengalami kelelahan fisik dan kesulitan ekonomi. Orang tua menghadapi masalah yang muncul dengan berbagai cara terdapat bentuk coping yang berhasil terungkap pada penelitian ini, antara lain coping berdasarkan emosi yaitu sabar, coping berdasarkan masalah yaitu orang tua membawa ke dokter untuk diterapi, menyekolahkan anak autis ke SLB, mempelajari dari perilaku anak autis, mengajarkan dan mencontohkan kegiatan sehari-hari kepada anak autis, mencari pekerjaan dan beristirahat apabila sedang sakit. Peneliti juga dapat mengungkap bentuk coping religius yaitu tawakal. Optimal atau tidaknya coping yang dipilih dipengaruhi oleh usia, jenis kelamin, status ekonomi, tingkat pendidikan dan koneksi lingkungan.
Baca lebih lanjut

19 Baca lebih lajut

MEMILIKI ANAK KANDUNG TETAPI MEMILIKI ANAK ANGKAT  Subjective Well-Being Pada Pasangan Yang Belum Memiliki Anak Kandung Tetapi Memiliki Anak Angkat.

MEMILIKI ANAK KANDUNG TETAPI MEMILIKI ANAK ANGKAT Subjective Well-Being Pada Pasangan Yang Belum Memiliki Anak Kandung Tetapi Memiliki Anak Angkat.

Pada umumnya, pasangan menikah memiliki keinginan untuk memperoleh keturunan, namun tidak semua pasangan langsung mendapatkan anak pasca pernikahannya. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan gambaran subjective well being pada pasangan yang belum memiliki anak kandung tetapi memiliki anak angkatdan faktor-faktor yang mempengaruhi subjective well being . Subjek penelitian ini adalah tiga pasang suami-istri yang belum memiliki anak kandung tetapi memiliki anak angkat di Kabupaten Karanganyar. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah wawancara. Analisis data menggunakan teknik analisis interaktif. Penelitian ini menemukan bahwa pada awalnya keenam subjek sering mengalami afeksi negatif dan jarang merasakan afeksi positif, namun dengan hadirnya anak dan dukungan dari pasangan dan orang tua mampu membuat subjek bangkit dari kesedihan. Selain itu, subjek menemukan kepuasan hidupnya dari pengalaman menyenangkan pada masa lalu, memiliki tujuan hidup, memandang positif terhadap dirinya dan mensyukuri apa yang telah ada. Faktor yang mempengaruhi subjective well being pada subjek adalah pengalaman menyenangkan dan menyedihkan, rasa syukur, ikhlas dan pasrah terhadap keadaan yang dijalaninya, dukungan dari keluarga, hubungan positif dengan pasangan dan anak, kasih sayang keluarga, memiliki waktu berkualitas bersama keluarga, serta menghabiskan waktu luang bersama pasangan dan anak.
Baca lebih lanjut

18 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...

Related subjects