Top PDF PENGARUH MIGRASI PENDUDUK TERHADAP PERKEMBANGAN KEBUDAYAAN DAERAH PROPINSI DAERAH ISTIMEW A ACEH

PENGARUH MIGRASI PENDUDUK TERHADAP PERKEMBANGAN KEBUDAYAAN DAERAH PROPINSI DAERAH ISTIMEW A ACEH

PENGARUH MIGRASI PENDUDUK TERHADAP PERKEMBANGAN KEBUDAYAAN DAERAH PROPINSI DAERAH ISTIMEW A ACEH

Kebanyakan orang beranggapan, bahwa tahun tujuh puluhan abad ke-20 ini merurakan dasawarsa panbangun an bagi daerah Aceh. Lebih-lebih kalau yang dimak - sudkan itu terbatas kepada pembangunan fisik. Selama dasawa:rsa ini sejumlah program pembangunan telah me­ nyebar sampai jauh ke pelosok desa. Di antara ber ­ bagai jEnis program pembangunan yang tampak aJTEt po­ pule r di kalangan rrasyarakat desa, adalah program Biuas / Inrras, SD Inpres, BUUD / KUD, Puskesmas, KB, dan Tabana s / Taska. Selain itu, muncul pula berba - gai jenis p:royek pembangunan, sepe:rti p:royek prasa rana produksi, proyek prasa:rana pe:rhubungan, p:royek prasarana pemasaran, dan proyek prasarana sosial.­ Dewasa ini, juga terlibat mula i tutnbuh indust :ri de­ ngan peralatan te mologi muta khir.
Baca lebih lanjut

146 Baca lebih lajut

Pengaruh migrasi penduduk terhadap perkembangan kebudayaan daerah Sulawesi Tengah - Repositori Institusi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

Pengaruh migrasi penduduk terhadap perkembangan kebudayaan daerah Sulawesi Tengah - Repositori Institusi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

Pembinaan Kebud�y�ran di Propinsi SulAwesi Tengah khususny!l Bid ang PSK pada K..:·mt or Wil::ryah Dep. P. d::!n K. Sulawesi Tengah selama 3 tmhun. BidP.ng Kebu­ daya�n at"Ju Bid·�ng Permuseuman Sejar,.h dan Kepur - b�.kalaan Kanwil Dep . P. d!>n K. SulAwesi Tengah. Se­ jarah singkatnya, �'Jilayah Kerja, Mas:llah yang diha­ dapi, H�sil-m siT yan g dicavai, Rencana d�lam Peli­ ta III d::!n Penutup, y�ng disesuaikan dengan P o l a l<e �da�n r:e ndidikm dan kebud�yaan ol eh B�gian Peren - canaan Ka.nwil Dep. P. dan K. Sul?.wesi TengAh sampai cieng:n1 Mei 1978, berdasP.:rk�n JBpo:ran berkala y:,ng ..: diberikan .baik d!:!l?.m triwulan, Tengah tahunan se:rta ]P.po:ran-JP.po r!!ln khusus msngenai kegi:�t::!n yang ditu­ runki'ln oleh Dit jen. Kebudayaan ke daerah-de rah se - pe:rti p:melitil'ln b��s"-, penc<'!tat an Sejarah d"ln Bu daya, ren ulis"n Monografi, Inven tarisasi Kepurbaka­ lMn, Folklore, Adat-istia dat, Geogr"lfi Bud::�ya, Ke­ seni!ln sert::� di:blporkan pula b:�n tuan I:lAerah berupa­ prasurv:=�i kebudayaPn, Pemb!!lktmn Ejaan Baha s;:J K"lili, Pemet':ran Bahas", Kegi�tan KepCJriwisl'ltaan da n Kese ;.. ni"'n D::!erah s�mpRi ad.?nya Proyek RPM 1977 d�n 1978 ini, untuk n'Bmbl'lngun Museum dan Tam::�n Purb::!kl'lla ta­ hun 1978 di Vi:!tunonju.
Baca lebih lanjut

217 Baca lebih lajut

PENGARUH MIGRASI PENDUDUK TERHADAP PERKEMBANGAN KEBUDAYAAN DAERAH ISTIMEWA ACEH

PENGARUH MIGRASI PENDUDUK TERHADAP PERKEMBANGAN KEBUDAYAAN DAERAH ISTIMEWA ACEH

Kegiatan penangkapan ikan di laut berada di bawah pim­ . pinan panglima laot. Paling kurang ada empat tugas pokok pang­ lima laot. Pertama, mengawasi dan memelihara pelaksanaan adat . laot. Kedua, mengatur penangkapan ikan. Ketiga, menyelesaikan berbagai pertikaian yang tetjadi dalani hubungan dengan :penang­ kapan ikan di laut. Keempat, menyelenggarakan upacara adat laot, kecelakaan di laut, gotong-royong dan masalah sosial lainnya. Kesempatan berekonomi bagi penduduk yang boleh di­ katakan terbatas kepada pertanian dan perikanan, sebagai mata pencahariaii pokok, telah membuka peluang bagi daerah Aceh untuk menjadi daerah yang surplus padi, paling kurang berdasar­ kan catatan resmi pemerintah daerah. Jumlah produksi padi dalam tahun 1976 adalah 777.056 ton, sedangkan jumlah yang dikonsumsikan· sendiri adalah 586.231 ton gabah kering (Sekre­ tariat wilayah 1977: halaman 33). Ini berarti adanya kelebihan produksi sebanyak 189.825 ton gabah kering. Daerah yang surplus padi adalah Pidie, Aceh Tenggara, Aceh Utara, Aceh Barat, dan Aceh Timur.
Baca lebih lanjut

123 Baca lebih lajut

Analisis Pengaruh Belanja Daerah dan Jumlah Penduduk terhadap Kemandirian Keuangan Daerah melalui Pendapatan Asli Daerah Pemerintah Kabupaten Kota di Propinsi Sumatera Utara

Analisis Pengaruh Belanja Daerah dan Jumlah Penduduk terhadap Kemandirian Keuangan Daerah melalui Pendapatan Asli Daerah Pemerintah Kabupaten Kota di Propinsi Sumatera Utara

Pasal 157 Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 menjelaskan bahwa sumber pandapatan asli daerah terdiri atas hasil pajak daerah, hasil retribusi daerah, hasil pengelolaan kekayaan yang dipisahkan dan lain-lain PAD yang sah. Pajak Daerah. Wewenang mengenakan pajak atas penduduk untuk membiayai layanan masyarakat merupakan unsur penting dalam sistem pemerintahan daerah. Diungkapkan dalam Devas (1989 : 58) bahwa sistem perpajakan yang dipakai sekarang ini banyak mengandung kelemahan, dan tampaknya bagian terbesar dari pajak daerah lebih banyak menimbulkan beban daripada menghasilkan penerimaan bagi masyarakat. Untuk itu pemerintah perlu melakukan perubahan besar pada sistem p ajak nasional, dan perubahan sistem pajak daerah merupakan langkah logis untuk langkah berikutnya.
Baca lebih lanjut

23 Baca lebih lajut

PEMBENTUKAN 5 (LIMA) KECAMATAN DI WILAYAH KABUPATEN DAERAH TINGKAT II ACEH TIMUR DAN ACEH UTARA DALAM WILAYAH PROPINSI DAERAH ISTIMEWA ACEH

PEMBENTUKAN 5 (LIMA) KECAMATAN DI WILAYAH KABUPATEN DAERAH TINGKAT II ACEH TIMUR DAN ACEH UTARA DALAM WILAYAH PROPINSI DAERAH ISTIMEWA ACEH

(2) Segala sesuatu yang berkenaan dengan dan sebagai akibat dari pembentukan 5 (lima) Kecamatan sebagaimana dimaksud dalam Peraturan Pemerintah ini diatur oleh Gubernur Kepala Daerah Istimewa Aceh sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku dan dengan memperhitungkan kemampuan keuangan Pemerintah Pusat dan atau Pemerintah Daerah Istimewa Aceh.

11 Baca lebih lajut

Analisis Pengaruh Belanja Daerah dan Jumlah Penduduk terhadap Kemandirian Keuangan Daerah melalui Pendapatan Asli Daerah Pemerintah Kabupaten Kota di Propinsi Sumatera Utara

Analisis Pengaruh Belanja Daerah dan Jumlah Penduduk terhadap Kemandirian Keuangan Daerah melalui Pendapatan Asli Daerah Pemerintah Kabupaten Kota di Propinsi Sumatera Utara

Predictors: Constant, Ln Pendapatan Asli Daerah, Ln Belanja Langsung, Ln Belanja Tidak Langsung, Ln Jumlah Penduduk Sumber : Hasil Penelitian, 2016 Data Diolah Analisis Regr esi Linea[r]

16 Baca lebih lajut

Analisis Pengaruh Belanja Daerah dan Jumlah Penduduk terhadap Kemandirian Keuangan Daerah melalui Pendapatan Asli Daerah Pemerintah Kabupaten Kota di Propinsi Sumatera Utara

Analisis Pengaruh Belanja Daerah dan Jumlah Penduduk terhadap Kemandirian Keuangan Daerah melalui Pendapatan Asli Daerah Pemerintah Kabupaten Kota di Propinsi Sumatera Utara

“Analisis Pengaruh Produk Domestik Regional Bruto Per Kapita dan Jumlah Penduduk terhadap Kemandirian Keuangan Daerah melalui Penerimaan Pajak Daerah pada Kabupaten/Kota di Sumatera Utar[r]

3 Baca lebih lajut

Analisis Pengaruh Belanja Daerah dan Jumlah Penduduk terhadap Kemandirian Keuangan Daerah melalui Pendapatan Asli Daerah Pemerintah Kabupaten Kota di Propinsi Sumatera Utara

Analisis Pengaruh Belanja Daerah dan Jumlah Penduduk terhadap Kemandirian Keuangan Daerah melalui Pendapatan Asli Daerah Pemerintah Kabupaten Kota di Propinsi Sumatera Utara

yang selanjutnya direvisi dengan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004, Sumatera Utara bahkan telah menghasilkan daerah otonom baru, yaitu Kabupaten Mandailing Natal dan Toba Samosir. Setelah itu lahir 14 daerah otonom baru yang lain. Sumatera Utara merupakan Propinsi yang memiliki kabupaten/kota terbanyak di luar Pulau Jawa, yaitu terdiri dari 33 (tiga puluh tiga) kabupaten/kota. Hanya saja banyaknya jumlah kabupaten/kota yang dimiliki tidak diikuti dengan kemandirian keuangan yang tinggi juga. Realita yang terjadi umumnya pada kabupaten/kota yang baru terbentuk atau baru mengalami pemekaran dari kabupaten induk, bahwa sumber daya keuangan yang berasal dari pendapatan asli daerah yang menjadi sumber pembiayaan bagi daerah cenderung menunjukkan suatu kondisi yang masih jauh dari yang diharapkan, implikasinya adalah kemandirian keuangan yang rendah serta ketergantungan terhadap sumber pembiayaan kepada pemerintah pusat masih tinggi (Lestari, 2015). Kondisi demikian dijelaskan dalam tabel 1.2.
Baca lebih lanjut

13 Baca lebih lajut

Peraturan - Website Kejaksaan Negeri Jakarta Selatan

Peraturan - Website Kejaksaan Negeri Jakarta Selatan

b. bahwa dengan memperhatikan hal tersebut di atas dan kemajuan ekonomi, potensi daerah, sosial budaya, sosial politik, jumlah penduduk, luas daerah, dan pertimbangan lainnya di Kota Administratif Lhokseumawe Kabupaten Aceh Utara, serta meningkatnya beban tugas dan volume kerja di bidang

5 Baca lebih lajut

Analisis Pengaruh Belanja Daerah dan Jumlah Penduduk terhadap Kemandirian Keuangan Daerah melalui Pendapatan Asli Daerah Pemerintah Kabupaten Kota di Propinsi Sumatera Utara

Analisis Pengaruh Belanja Daerah dan Jumlah Penduduk terhadap Kemandirian Keuangan Daerah melalui Pendapatan Asli Daerah Pemerintah Kabupaten Kota di Propinsi Sumatera Utara

The objective of the research is to analyze the influence of the regional expenditure and population on the regional financial independence through the regionally generated revenues of District/CityGovernments in North Sumatera Province. The research type is causality. The population is all 33 District/CityGovernments in North Sumatera Province consisting of 25 Districts and 8 Cities. The samples are selected by means of census method and five year observation period (2010-2014), thus, there are 165 samples. The data are analyzed using multiple linear regression and PATH analysis. The results show that direct expenditure, indirect expenditure, population, and regionally generated revenues simultaneously influence financial independence. Partially, direct expenditure does not have any influence, but indirect expenditure has a negative and significant influence, population and regionally generated revenues have a positive and significant influence on regional financial independence of the District/CityGovernments in North Sumatera Province. The direct influence of direct and indirect expenditure variables on regional financial independence is smaller than its indirect influence, and the direct influence of population on financial independence is bigger than its indirect influence. Regionally generated revenue is proven to be the intervening variable on direct and indirect expenditures variable and not as the intervening variable on population variable of District/CityGovernments in North Sumatera Province.
Baca lebih lanjut

2 Baca lebih lajut

Analisis Keputusan Migrasi Sirkuler Pekerja Sektor Formal di Kota Medan

Analisis Keputusan Migrasi Sirkuler Pekerja Sektor Formal di Kota Medan

Mantra, Kastro dan Keban (1999) dalam Waridin (2002)menyebutkan bahwa ada beberapa teori yang mengungkapkan mengapaseseorang melakukan mobilitas, diantaranya adalah teori kebutuhan danstres. Setiap individu mempunyai beberapa macam kebutuhan yang berupakebutuhan ekonomi, sosial, budaya dan psikologis. Semakin besarkebutuhan yang tidak terpenuhi, semakin besar stres yang dialamiseseorang. Apabila stres sudah berada di atas batas toleransi, makaseseorang akan berpindah ke tempat lain yang mempunyai nilaikefaedahan atau supaya kebutuhannya dapat terpenuhi. Perkembanganteori migrasi ini kemudian dikenal sebagai model ”stress treshold” ataumodel ”place utility”. Model semacam ini juga diterapkan oleh Keban(1994) dan Susilowati (1998) dalam Ara (2008).
Baca lebih lanjut

18 Baca lebih lajut

MAKALAH KESULTANAN ACEH

MAKALAH KESULTANAN ACEH

Islam di Aceh merupakan agama yang dianut oleh mayoritas penduduk Aceh. Banyak ahli sejarah baik dalam maupun luar negeri yang berpendapat bahwa agama Islam pertama sekali masuk ke Indonesia melalui Aceh.Keterangan Marco Polo yang singgah di Perlak pada tahun 1292 menyatakan bahwa negeri itu sudah menganut agama Islam. Begitu juga Samudera-Pasai, berdasarkan makam yang diketemukan di bekas kerajaan tersebut dan berita sumber-sumber yang ada seperti yang sudah kita uraikan bahwa kerajaan ini sudah menjadi kerajaan Islam sekitar 1270.

5 Baca lebih lajut

IPS Dinamika Kependudukan dan Pembanguna

IPS Dinamika Kependudukan dan Pembanguna

Keunggulan utama di kota adalah lengkapnya sarana dan prasarana yang tersedia. Penduduk kota yang padat mendorong pemerintah dan swasta membangun ber bagai sarana dan prasarana dengan berbagai tujuan. Pertumbuhan dan perkembangan kota lebih dinamis dibanding di desa. Perkembangan perusahaan swasta juga cende rung makin banyak di kota. Selain memudahkan urusan administrasi, pusat perusahaa n di kota juga mudah melakukan akses dengan berbagai penjuru tempat. Fasilitas ya ng dibutuhkan perusahaan pun lebih lengkap di kota. Berkebalikan dengan daya do rong desa, tentu ada daya tarik
Baca lebih lanjut

29 Baca lebih lajut

Analisis kesempatan kerja dan migrasi penduduk di provinsi Jawa Tengah pada pra dan era otonomi daerah

Analisis kesempatan kerja dan migrasi penduduk di provinsi Jawa Tengah pada pra dan era otonomi daerah

Berdasarkan data migrasi keluar, terlihat bahwa Jawa Tengah memiliki jumlah migran keluar terbesar dan selalu mengalami peningkatan khususnya pada data migrasi seumur hidup. Hal ini menunjukkan bahwa otonomi daerah belum cukup berperan dalam menurunkan jumlah migran keluar dari Jawa Tengah. Meningkatnya jumlah migran keluar ini diindikasikan dari kesempatan kerja yang ada di Jawa Tengah, dengan menganggap motif migrasi non ekonomi cenderung konstan. Kesempatan kerja terbesar di Jawa Tengah adalah pada lapangan usaha pertanian. Namun pada era otonomi daerah pertumbuhan kesempatan kerjanya lambat dan daya saingnya kurang baik dalam hal kesempatan kerja. Artinya, sebagian besar angkatan kerja di Jawa Tengah lebih memilih bekerja di luar pertanian dan bermigrasi ke daerah lainnya. Hal ini mengindikasikan bahwa kesempatan kerja yang tersedia di Jawa Tengah untuk angkatan kerja yang berpendidikan cenderung rendah, sedangkan rata-rata pencari kerja di Jawa Tengah memiliki latar belakang pendidikan yang cukup tinggi.
Baca lebih lanjut

125 Baca lebih lajut

Pengaruh perkembangan agama dan kebudayaan Hindu-Buddha terhadap masyarakat di berbagai daerah di Indonesia

Pengaruh perkembangan agama dan kebudayaan Hindu-Buddha terhadap masyarakat di berbagai daerah di Indonesia

2) Tradisi atau aliran Agama Buddha yang dianut oleh masyarakat Nusantara pada awalnya adalah non-Mahayana, namun untuk perkembangan selanjutnya Mahayana dan Tantrayana menjadi lebih populer di masyarakat. 2) Tradisi atau aliran Agama Buddha yang dianut oleh masyarakat Nusantara pada awalnya adalah non-Mahayana, namun untuk perkembangan selanjutnya Mahayana dan Tantrayana menjadi lebih populer di masyarakat. 3) Dari peninggalan sejarah juga dapat dilihat

34 Baca lebih lajut

Analisis Pengaruh Belanja Daerah dan Jumlah Penduduk terhadap Kemandirian Keuangan Daerah melalui Pendapatan Asli Daerah Pemerintah Kabupaten Kota di Propinsi Sumatera Utara

Analisis Pengaruh Belanja Daerah dan Jumlah Penduduk terhadap Kemandirian Keuangan Daerah melalui Pendapatan Asli Daerah Pemerintah Kabupaten Kota di Propinsi Sumatera Utara

The objective of the research is to analyze the influence of the regional expenditure and population on the regional financial independence through the regionally generated revenues of District/CityGovernments in North Sumatera Province. The research type is causality. The population is all 33 District/CityGovernments in North Sumatera Province consisting of 25 Districts and 8 Cities. The samples are selected by means of census method and five year observation period (2010-2014), thus, there are 165 samples. The data are analyzed using multiple linear regression and PATH analysis. The results show that direct expenditure, indirect expenditure, population, and regionally generated revenues simultaneously influence financial independence. Partially, direct expenditure does not have any influence, but indirect expenditure has a negative and significant influence, population and regionally generated revenues have a positive and significant influence on regional financial independence of the District/CityGovernments in North Sumatera Province. The direct influence of direct and indirect expenditure variables on regional financial independence is smaller than its indirect influence, and the direct influence of population on financial independence is bigger than its indirect influence. Regionally generated revenue is proven to be the intervening variable on direct and indirect expenditures variable and not as the intervening variable on population variable of District/CityGovernments in North Sumatera Province.
Baca lebih lanjut

17 Baca lebih lajut

Analisis Pengaruh Pengeluaran dan Jumlah Penduduk terhadap Produk Domestik Regional Bruto Propinsi Aceh

Analisis Pengaruh Pengeluaran dan Jumlah Penduduk terhadap Produk Domestik Regional Bruto Propinsi Aceh

Ketidak sesuaian dengan hipotesis terjadi karena perubahan Pendapatan Asli Daerah tidak memberikan sumbangsih yang bisa mempengaruhi perubahan Pengeluaran Daerah. Dimana hal ini bisa menunjukkan ketidak mandirian Pemerintah Daerah Propinsi Aceh dalam pembiayaan pembangunan dan kebutuhan aparaturnya sehingga masih sangat membutuhkan bantuan dari Pemerintah Pusat. Selain itu, Pemerintah Propinsi Aceh juga tidak fokus terhadap Penerimaan Asli Daerah untuk menjadikannya sebagai sumber utama pembiayaan berbagai kegiatan di daerah tersebut, hal ini terjadi karena adanya berbagai bantuan dari Pemerintah Pusat seperti Dana Alokasi Umum, Dana Bagi Hasil maupun Dana Otonomi Khusus yang diterima dalam jumlah yang relatif lebih besar dan tanpa perlu kerja keras untuk memperolehnya.
Baca lebih lanjut

104 Baca lebih lajut

1969-2015: CERITA TIGA DEKADE POLITIK PERPINDAHAN MASYARAKAT DI INDONESIA

1969-2015: CERITA TIGA DEKADE POLITIK PERPINDAHAN MASYARAKAT DI INDONESIA

undang-undang itu adalah Undang-Undang No.22 Tahun 1999 tentang Pemerintah Daerah dan Undang-Undang No. 25 Tahun 1999 tentang Keseimbangan Finansial antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah. Kedua undang-undang tesebut menggantikan undang-undang tentang pemerintah daerah sebelumnya, Undang-Undang No.2 Tahun 1974, dan undang-undang tentang pemerintah desa, Undang-Undang No.5 Tahun 1979. Kedua undang-undang baru tersebut diharapkan dapat membawa perubahan baik dari sistem politik sebelumnya yang sangat terpusat. Namun, pada kenyataannya, penerapan kedua undang-undang tersebut di tingkat daerah tidak terlepas dari berbagai masalah. Masalah yang paling utama adalah interpretasi masing- masing pemerintah daerah atas undang-undang tersebut yang berbeda-beda dan tidak jarang kebablasan. Akibatnya pemerintah daerah menjadi raja-raja kecil di daerahnya dan secara bebas dan tidak terkontrol mengekploitasi sumber daya, terutama sumber daya alam, di daerah kekuasaanya. Selain itu, muncul pula sentimen kedaerahan yang sangat tinggi, terutama dalam proses rekruitmen pegawai pemerintahan. Putra daerah harus diberi prioritas pertama, di atas orang-orang yang berasal dari daerah lain. Hal itu tentu sangat tidak menguntungkan bagi calon pegawai yang tidak berasal dari daerah tersebut. Oleh karena itu, pada tahun 2004, di bawah pemerintahan Presiden Megawati, dikeluarkanlah revisi dari undang- undang tahun 1999 tersebut, yaitu Undang- Undang No.32 Tahun 2004.
Baca lebih lanjut

11 Baca lebih lajut

INVENTARISASI PABRIK GULA DAERAH ISTIMEW (1)

INVENTARISASI PABRIK GULA DAERAH ISTIMEW (1)

Kegiatan menyenangan ini kami namakan “Inventarisasi Pabrik Gula Daerah Istimewa Yogyakarta, Jejak-Jejak Manis di Vorstenlan den” , sebuah kegiatan yang berada di bawah rangkulan divisi Penelitian, Penalaran Ilmiah, dan Pengabdian Masyarakat (P3M), Himpunan Mahasiswa Arkeologi. Segala tawa dan wawasan yang kami dapatkan tidak akan kami lupa untuk berterimakasih pada Sang Pencipta yang membuat segala hal ini ada. Begitu pula ucapan terimakasih kami persembahkan pada:

63 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...