• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV KONDISI ISLAM

KEPADA MASYARAKAT PALEMBANG

D. Adat dan Islam: Iliran Palembang Ketika Tahun 1821- 1821-1853

Pengaruh budaya Palembang jelas terlihat di daerah Pegagan yang berdekatan langsung dengan kota. Di daerah ini, sejak dulu berkembang lalu lintas perdagangan yang ramai dengan Palembang. Sebaliknya, sesudah 1821, orang Palembang sudah mulai menetap di Pegagan, pada awalnya mereka adalah priyayi yang melarikan diri dari penguasa baru di kota, dan kemudian memilih menetap di daerah Komering Ilir ( nama suatu daerah di Palembang) untuk membeli hasil pertanian dari penduduk Pegagan. Kedatangan dari kedua kelompok perantara ini meningkatakan perluasan pola kebudayaan religius ibu kota di lingkungan pedesaan sesudah tahun 1821, penduduk pegagan mulai lebih ketat mematuhi ritual agama Islam seperti yang dirumuskan oleh elit kota.21

Di Pegagan, proses islamisasi selanjutnya didukung kuat oleh lapisan atas masyarakat pedesaan, yang cenderung meniru pola kebudayaan bergengsi elit kota. Contoh terbaik dijumpai oleh sosok Jenang Wira Jaya, kepala adat Pegagan Ilir, yang telah naik haji ke Mekkah sebelum tahun 1840.

Melalui saluran ini, norma elit juga dipancarkan dan selanjutnya ditunjukan dalam praktek keagamaan penduduk pedesaan, yang dibawah pimpinan Jenang H. Wira Jaya

21 Joeren Peeters. Kaum Mudo Kaum Tuo: Perubahan Religius di Palembang 1821-1942.Arnas Laporan Tahunan 1836-1838 Dikutif Dari Buku Karangan Joeren Peetres …. hlm 71

101

makin mulai melaksanakan kewajiban ritual agama. Tanda lahirnya proses islamisasi juga sempat menarik perhatian penjajah Belanda, yang mengatakan bahwa di Pegagan semua petunjuk pelaksanaan ibadah sehari-hari, seperti sholat Jum’at di Masjid dan puasa pada bulan Ramadhan dilakukan lebih telitih daripada di tempat lain. Disamping itu dimana-mana dibangun masjid sehingga pada paruh pertengahan abad ke-19, tiap desa di Hilir Komering telah memiliki tempat ibadah, biasanya tiap masjid memiliki ‘’

juru dakwah’’ yang bergelar khatib atau lebai, yang sekaligus menfaatkan lembaga ini sebagai forum untuk pengajaran agama, maka tak megherankan jika dimata pegawai Belanda, orang dataran rendah adalah muslim sejati yang berbeda dengan orang pedalaman, memilki tarap kebudayaan lebih tinggi, terutama bakat komunikasi langsung dengan Palembang.22

Dalam triwulan kedua abad ke-19 pemerintah kolonial di Palembang bukan tidak bersediah membantu proses Islamisasi. Untuk menaikkan hasil pajak daerah jajahan baru, pegawai kolonial ingin merangsang produksi hasil pertanian di keresidenan Palembang yang mengalami kemerosotan akibat konflik politik yang berkepanjangan antara Kesultanan Palembang dengan penjajah Belanda dari tahun 1811 sampai 1821. Kenaikan produksi pertanian pertama-tama bisa dicapai dengan bertambahnya jumlah petani. Menurut naskah peninggalan sultan Mahmud Badaruddin II, pada tahun 1821 penduduk kesultanan Palembang, baru mencapai jumlah 210.000 orang, suatu angka yang diperkuat secara lisan oleh penggantinya, sultan Ahmad Najamuddin III. Pada tahun 1820-an ditambah denga data sendiri pemerintah kolonial sampai pada kesimpulan, jumlah penduduk kerisidenan Palembang berkisar antara 250.000 hingga 300.000 orang. Yakin akan kesuburan

22 Joeren Peeters. Kaum Mudo Kaum Tuo: Perubahan Religius di Palembang 1821-1942.Arnas Laporan Tahunan 1836-1838 Dikutif Dari Buku Karangan Joeren Peetres …. hlm 72

102

lingkungan alam di daerah jajahan ini, Belanda mengangap penduduk Palembang sangat sedikit.23

Perkawinan laki-laki dan perempuan di Pasemah (daerah Pedalaman Palembang) disebut menurut peraturan yang di sebut jujur.24 Cara perkawinan ini sama dengan di daerah Sumatera Selatan lainya, namun cara ini berakibat sangat buruk bagi pertumbuhan penduduk Sumatera, sebab seorang laki-laki harus membeli calon mempelainya dari orang tuanya, dan tinggi atau rendahnya harganya harus sesuai dengan pangkat kedudukan masing-masing orang tua.

Hal ini tentu saja menghambat perkembang biaknya penduduk terutama masa depan inteliktualitasnya, sebab anak perempuan, yang dianggap sebagai budak alami ayahnya, dalam perkawinan itu sebut saja jual beli antara pihak perempuan kepada calon mempelai laki-laki. Lembaga jujur ini dapat juga kita sebut sebagai salah satu sebab mengapa penduduk Sumatera begitu kecil jumlahnya.

Komisi Negara tahun 1857 sudah pernah menyampaikan kepada Sultan Mahmud Badaruddin II, agar dihapuskan untuk ibu kota Palembang, tapi kekalahan sultan Mahmud Badaruddin II belum sempat menghantarkan ke penghapusan adat jujur tersebut.

Pada masa penjajah Belanda juga berpendapat sama bahwa, rintangan pertama pertumbuhan penduduk Palembang adalah uang jujur yang tinggi. Syarat perkawinan jujur ialah pembayaran uang jujur yang harus diserahkan kepada pihak keluarga pengantin wanita. Uang jujur ini berkisar antara 30-60 rial bagi kalangan rakyat pedesaan, dan sampai 100 rial untuk kalngan elit. Dengan demikian uang jujur sering jadi beban yang tak teratasi bagi kaum mudo yang telah memcapai usia menikah. Biasanya perkawinan baru dapat dilangsungkan, jika paling sedikit setengah atau dua pertiga dari uang jujur dibayar dari pihak

23 Joeren Peeters. Kaum Mudo Kaum Tuo: Perubahan Religius di Palembang 1821-1942.Arnas Laporan Tahunan 1836-1838 Dikutif Dari Buku Karangan Joeren Peetres …. hlm 71

24 Kamil Ma’ruf, Djohan Hanafiah. Sumatera Selatan Melawan Penjajah Abad 19. (Sumatera Selatan PT Jayatama Milinia 2000). hlm. 122

103

pengantin perempuan. Untuk dapat memenuhi jumlah yang begitu besar, perkawinan di keresidenan Palembang sering dilakukan ketika seorang melewati usia 30-an. Banyak wanita bahkan tidak kawin, dan sewaktu pesta adat di desa, tidak jarang kelihatan wanita setengah baya mengikuti tarian para gadis, kerena mereka sendiri belum termasuk kelompok wanita yang sudah menikah.

Untuk merubah dominasi uang jujur, pemerintahan kolonial menghubungi sekutu yang tidak lazim, yaitu para alim ulama sebagai pewaris hukum Islam. Perkawinan jujur merupakan tradisi sakral yang tidak dapat diubah begitu saja.

Pelanggaran adat hanya dapat di denda dengan klaim tata ideologis yang lebih tinggi.25 Dalam tradisi Islam yang yang supra lokal, para resedin Palembang melihat adanya senjata idiologis untuk melawan norma lokal. Hukum Islam mengandung dua unsur yang dapat di pakai dalam kampanye melawan perkawinan jujur. Pertam fiqih, tidak mengenal pembayaran uang jujur kepada kelurga perempuan, tapi sebaliknya, untuk menentukan agar perkawinan itu sah, pengantin periah wajib memberi hadiah kepada pengantin wanita. Hadiah perkawinan atau mahar ialah milik istri selama perkawinana, dan dalam keadaan demikian, ia bebas untuk memakainya. Mahar merupakan unsur sangat penting dalam akad nikah; tanpa hadiah perkawinan ini akad nikah tidak sah.

Aspek lain dari hukum perkawinan Islam yang dapat dipakai ialah perwalian, menurut hukum Islam, pada upacara perkawinan wakil pengantin wanita wajib hadir, dan bertindak sebagai walinya. Tanpa wali, wanita tidak dapat kawin dengan sah. Sebaliknya, seorang yang dapat bertindak sebagai wali, tidak boleh menolak untuk hadir dalam akad nikah. Menurut hukum Islam, orang yang layak menjadi wali adalah kerabat laki-laki dari pengantin perempuan.

Dengan berdasarkan dari hukum Islam, pemerintah kolonial selanjutnya berusaha menghapuskan perkawinan

25Jeroen Peeters, Kaum Tuo Kaum Mudo Perubahan Religius di Palembang 1821-1942: …. Hal 73

104

memakai uang jujur. Pertama-tama diusahakan untuk mengganti uang jujur dengan membayar mahar atau maskawin, yang jumlah maksimalnya ditetapkan sebesar Nlg 5,50. Kedua, atas nama pangeran penghulu di Palembang, birokrasi agama diberi hak untuk bertindak sebagai wali pada akad nikah.

Tujuan kebijakan ini telah dirumuskan pada tahun 1824, namun pelaksanaan baru dilakukan selama masa jabatan resedin H.F. Buschkens (1840-1841). Berdasarkan sistem politik kesultanan, resedin Palembang mewarisi pegawai-pegawai agama Islam, yang selanjunya dimasukkan kedalam struktur kepemerintahan kolonial. Secara resmi peralihan dilakukan setelah jatuhnya keraton, berdasarkan Reglement Voor de Regeling dermohomedaanshekerkelijke zaken (kebijaksanaan pengaturan urusan keagamaan Islam) tanggal 13 maret 1832. Di atas kertas, birokrasi agama ini telah sampai ketingakat desa, namun dalam prakteknya jaringan khatib dan lebai penghulu hanya terbatas hingga aliran Palembang dengan beberapa cabang yang menyebar sampai uluan Palembang. Seperti dibenarkan oleh Buschkens, dibanyak distrik tidak terdapat ‘’ Pendeta’’

sehingga para penduduk agam Islam hanya bersifat nominal saja. Keinginan untuk menembus keadaan ini juga tidak terlalu besar. Khususnya di kalangan kepala adat, pegawai pemerintah Belanda melihat munculnya tanda-tanda perlawanan terhadap pengangkatan penghulu sebagai pengurus urusan agama, karena mereka takut hukum Islam akan disebarkan lebih lanjut dengan merugikan hukum adat yang berlaku. Lagi pula, ditempat-tempat dimana birokrasi agama berlaku, taraf pengetahuan pegawai urusan agama sangat rendah.

Akibat kampanye jujur, sesudah tahun 1841 diusahakan memperbaiki keadaan dengan mengikat jaringan lebai penghulu di pedesaan dan menghubungkanya dengan pemerintah pusat di ibu kota. Peraturan tahun 1832 menetapkan bahwa pengangkatan lebai penghulu hanya dapat dilakukan sesudah sang calon diuji oleh pangeran penghulu di Palembang. Dan dengan pengawasan ketat

105

pelaksanaan peraturan ini, Belanda berharap dapat memperkenalkan unsur hukum perkawinan Islam di Pedalaman.

Seperti telah dijelaskan, wewenang sesepuh dalam masyarakat, didasarkan atas peredaran jujur yang ditentukan dalam perundingan kedua pihak (perkawinan). Jabatan wali pegawai urusan agama sangat merongrong wewenang sesepuh. Di Ogan Komering Ulu misalnya, sesudah tahun 1850 pemuda yang tidak mendapat izin kawin dari orang tua mereka, mencari perlindungan atau khatib, yang wajib menikahkan mereka.

E. Adat dan Islam: Uluan Palembang Ketika Tahun