• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV KONDISI ISLAM

KEPADA MASYARAKAT PALEMBANG

C. Peranan Ulama Palembang Masa Kolonial Belanda

Keruntuhan kesultanan Palembang pada tahun 1823M membawa implikasi kepada perubahan struktur dan fungsi ulama. Tentu saja tidak ada lagi ulama kesultanan setelah kesultanan dihapuskan pemerintah kolonial Belanda.16 Pada masa kolonial ulama terbagi menjadi dua macam, yaitu, pertama ulama bebas dan yang kedua ulama birokrat atau ulama penghulu yang berkedudukan dalam sistem kekuasaan tradisional. Menurut Ibnu Qoyim Ismail yang dikutip dari hasil penelitian Drs. Zulkifli, kedua kelompok ulama tersebut menyelenggarakan dua jalur dalam penyebaran Islam yang saling melengkapi. Ulama bebas menggeluti jalur akidah dan tasawuf sedangkan ulama pejabat atau penghulu bergerak pada jalur ilmu fiqh yakni tata hukum dan perundang-undang dan peradilan. Berbeda dengan ulama bebas di Jawa yang

16 Dr. Zulkifli, M.A. Ulama Palembang Pada abad XIX Pemikiran dan Perannya pada Masyarakat…. hlm 90

97

pusat kegiatannya di pesantren, Palembang ulama melaksanakan kegiatan pendidikan dan pengajaran di rumahnya sendiri, di langgar, atau di masjid-masjid baru dan kegiatan dakwa Islam di dearah pedesaan.17

Runtuhnya kesultanan lebih memberi peluang yang besar bagi golongan Arab untuk mendominasi bidang agama yang sebelumya sudah diberikan posisi istimewa dari Sultan.

Tampaknya, pada masa kesultanan , ruang ditentukan oleh Sultan, sebaliknya pada masa kolonial mereka menjadi ulama bebas yang memiliki peluang untuk mendominasi bidang agama. Para sayid biasanya memang sangat memperhatikan ketaatan- ketaatan ritual agama. Untuk itu, mereka membangun rumah ibadah atau langgar di wilayah perkampungan sendiri. Keuntungan dalam perdagangan memang memungkinkan mereka untuk mendirikan rumah ibadah. Rumah ibadah tersebut berada di samping kediaman pendirinya sendiri sebagaimana tampak pada langgar yang didirikan oleh para keluarga. Ini menunjukan bahwa para sayid memainkan peranan dalam pendidikan dan pengajaran Agama Islam di Palembang. Secara sosial, pendirian langgar tersebut mampu meningkatkan prestasi para sayid di mata masyarakat Palembang. Bentuk amal shalih yang dilakukan oleh para sayid menjadi contoh tauladan bagi orang Palembang yang kaya. Secara kualitas, pada masa awal kolonial Belanda membuat kegiatan pendidikan dan dakwah Islam yang dilaksanakan oleh para ulama bebas, keadaan itu tidak mengalami peningkatan yang berarti. Mereka terus menyeleggarakan kegiatan pengajian al-Qur’an dan pengajian kitab kepada masyarakat. Demikian juga, kegiatan dakwa Islam ke daerah- daerah pedesaan terus dijalankan tanpa ada perkembangan yang berarti dan menentukan.

Kegiatan-kegiatan pendidikan dan pengajaran tersebut diselenggarakan di rumah ulama itu sendiri, di langgar, dan di masjid Agung. Hal ini membedakan ulama Palembang dari ulama Jawa yang mendirikan pesantren sebagai lembaga

17 Dr. Zulkifli, M.A. Ulama Palembang Pada abad XIX Pemikiran dan Perannya pada Masyarakat…. hlm 90

98

pendidikan dan pertahanan Islam. Untuk tingkatan yag lebih tinggi, pendidikan anak dilanjukan ke tanah suci. Kegiatan mukim di tanah suci terus berjalan sebagaimana terjadi pada priode akhir masa kesultanan.

Seiring dengan pertambahan penduduk dan peningkatan kebutuhan akan pendidikan agama, pendirian langgar sebagai tempat ibadah dan ruang belajar agama Islam juga mengalami peningkatan jumlah.18 Seoran ulama terkenal Mas Agus Haji Abdul Hamid mendirikan dua buah langgar di kota Palembang yakni di Kampung Karang Berahi dan di kampung Lima Ilir kemudian langgar tersebut berubah menjadi Masjid Jami’ yang terkenal dengan sebutan Masjid Muara Ogan dan Masjid Lawang Kidul. Langgar-laggar lain yang berdiri pada abad 19M dan kemudian berubah fungsi menjadi Masjid Jami’ terdapat di kampung dua belas Ulu oleh Sayyid Abdullah Bin Salim Alkaf yang diknal dengan sebutan Masjid Sungai lempur, dikampung empat Ulu oleh haji Akil yang lebih dikenal dengan sebutan Masjid Kampuran, dan kampung tiga puluh Ilir oleh Haji Mahmud Khatib dan Ki Abdurahmanan Delamat yang populer sebagai masjid Suro.19

Memperhatikan penyebara Islam dan proses Islamisasi di Palembang, sejarawan terkenal Taufik Abdullah yang di kutif dari buku Dr Husni Rahim berpendapat bahwa proses Islamisasi di wilayah ini lebih tampak pada zaman Kolonial daripada zaman kesultanan.20 Selain kelancaran hubungan antar daerah dan kota, keterlepasan dari kekuasaan Sultan merupakan salah satu faktor bagi perkembangan yang di maksud.

Selain peristiwa perang Menteng tahun 1819M, tidak perna menjadi peristiwa pemberontakan dan perperangan yang melibatkan ulama Palembang sepanjang abad 19M. hal

18 Dr. Zulkifli, M.A. Ulama Palembang pada Abad XIX. Pemikiran dan Perannya Pada Masyarakat. Hal. 92

19 Dr. Zulkifli, M.A. Ulama Palembang pada Abad XIX. Pemikiran dan Perannya Pada Masyarakat. Hal. 92

20 Dr. Husni Rahim. Sistem Otoritas Dan Administrasi Islam: di tentang pejabat agama dan kolonial Belanda…hlm 167

99

ini menunjukan bahwa para ulama bebas Palembang lebih berkonsentrasi pada kegiatan-kegiatan yang bersifat religius dan sosiokultural, tidak pada kegiatan politis. Mengabaikan kegiatan-kegiatan politik tersebut mungkin dikarenakan para ulama bebas lebih mementingkan pembinaan masyarakat melalui pengajaran dan dakwa Islam dan mungkin juga dilatarbelakangi oleh ‘’ kebebasan’’ yang diberikan oleh pemerintah kolonial dalam melaksanakan kegiatan pengajaran dan dakwah Islam. Administrasi dan pembatasan diterapkan oleh penguasa kolonial mungkin masih di pandang wajar dan dapat ditoleransi karena, terutama pada masa-masa awal, penguasa kolonial Belanda pada dasarnya hanya melanjutakan prinsif dan prosedur pengaturan Islam yang telah dijalankan penguasa kesultanan. Disamping kegiatan pengajaran dan dakwah Islam, beberapa ulama bebas menjadi penulis kitab-kitab agama yang digunakan sebagai bahan pengajaran maupun sebagai bacaan masyarakat.

Pada masa zaman kesultanan tidak ditemui informasi tentang ketengangan atar ulama kesultanan, ulama penghulu, ulamam bebas. Sementara pada zaman kolonial terkadang terjadi hubungan yang tidak harmonis antara ulama bebas dan ulama penghulu. Ketegangan tersebut berakar dari perbedaan prinsif yakni ulama penghulu diangkat oleh pemerintah kolonial sedangkan ulama bebas diakui oleh masyarakat. Apalagi ketengangan dipicu oleh keharusan ulama penghulu mengikuti arah kebijakan pemerintah kolonial yang seringkali membatasi aktifitas ulama bebas da bahkan cenderung merugikan ulama bebas dan masyarakat muslim. Peraturan dan ketentuan pemerintah Belanda mengenai masalah haji, pengadilan agama, perkawinan, pendirian masjid, dan penyelenggaraan sholat Jum’at serta pengajaran agama Islam cenderung merugikan ulama bebas dan masyarakat muslim. Ketengangan tersebut didukung oleh kenyataan bahwa pengangkatan penghulu yang kurang menguasai ilmu-ilmu agama Islam.

Terlepas dari ketengangan-ketegangan di atas, secara umum hubungan antara ulama bebas ulama penghulu

100

berlangsung harmonis. Konflik tersebut terjadi karena dipicu oleh kepentingan-kepentingan politis sebagai ulama penghulu yang bertugas sebagai pelaksanaan kebijakan pemerintah kolonial, di samping rendahnya tingkat pengetahuan agama yang dimiliki sehingga tidak mampu memberikan pertimbangan yang adil dan keputusan yang benar. Apalagi kebanyakan penghulu pada masa kolonial abad ke 19M adalah kaum nigrat yang kehilangan kekuasaan politik.

D. Adat dan Islam: Iliran Palembang Ketika Tahun