• Tidak ada hasil yang ditemukan

PERJUANGAN SULTAN MAHMUD BADARUDDIN II DALAM MEMPERTAHANKAN PALEMBANG

D. Perang Melawan Belanda yang Kedua dan Yang Terakhir

Ketika Muntighe melakukan ekspedisi di daerah Musi Rawas, untuk menelitih apakah di daerah disekitar Muara Beliti benar-benar sudah bersih dari tentara Inggris, dia dan rombonganya mendapat perlawanan-perlawanan dari rakyat sana dan mengalami banyak korban.

Sultan Mahmud Badaruddin II menghimpun rakyatnya, punggawa, manteri, segala pucukan Batang Hari Sembilan untuk mengerjakan dan memelihara semua benteng dan kubu pertahanan, memperbaiki saluran-saluran air dan sungai-sungai sesuai menurut kegunaanya, yaitu strategi peperangan dan keamanan. Oleh Sultan dikeluarkan perintah untuk memperkuat penjagaan negeri, begitu juga

16 Team Perumus Hasil Diskusi. Risalah Perjuangan Sultan Mahmud Badaruddin II....hlm 29

36

pengawasan di Kuala dan tempat-tempat lainya, yang letaknya strategis. Semua peralatan di dalam benteng diperiksa kembali dan apabilah perlu ditambah, hingga akan berfungsi dengan baik. Kemungkinan-kemungkinan tempat masuknya musuh dari luar telah dipelajari dan diperhitungkan oleh Sultan Mahmud Badruddin II dengan matang.17

Dan satu-satunya pintu masuk yang harus diperkuat adalah Sungai Musi dari muaranya seberang menyebrang hingga jauh ke pedalaman. Oleh sebab itu pulah maka semua Benteng dan kubu pertahanan di pinggir pintu masuk ini di perkuat.

Kubu-kubu pertahanan dan benteng-benteng kerajaan Palembang itu antara lain adalah sebagai berikut:

- Benteng Sungsang - Benteng Upang

- Benteng Borang (Barang) - Benteng Anjar dan Banjar - Benteng Rawo Sekampung - Benteng Mangutama - Benteng Muara Sala Nama - Benteng Martapura

- Benteng Tambak Baya - Benteng Gunung Meru - Benteng Kuto Gawang - Benteng Ratu Ampar - Benteng Muara Tengkurok - Benteng Kuto Besak - Benteng Buaya Lungu - Benteng Muara Rawas

- Benteng Kurungan Nyawa Ogan - Benteng Kurungan Nyawa Komering - Pertahanan Cerucup

Letak kota Palembang yang jauh ke dalam pinggir sungai yang kiri ke kanan dibagian hilirnya ditumbuhi oleh

17 Djohan Hanafiah. Sejarah Perkembangan Kota Madiyah Tingkat II Palembang.... hlm 38

37

hutan belukar dan rawa-rawa yang satu-satunya hubungan jalan dari lautan memberikan pada kota ini suatu lindungan alam yang sangat baik terhadap musuh yang akan memasuki sungai yang arusnya juga sangat di perhitungkan.

Selain dari itu, maka Palembang pada tahun 1658 dan sebelumnya telah dapat membangun suatu kompleks pertahanan yang sangat kuat dan strategis. Letaknya diselah hilir kota Palembang, yaitu satu kompleks benteng, Kombinasi benteng air dan benteng daratan di Pulau kembara dan Muara Plaju berikut pancangan Cerucup penutup Sungai Musi dan Sungai Komering dengan rantai besi, hinga dengan demikian menjadi penghalang lajunya lalu lintas angkatan laut musuh. Di pulau-pulau dibuat pula benteng-benteng pertahanan dengan dilengkapi dengan persenjataan yang siap siagakan. Selain kapal-kapal yang sudah ada, dibuat lagi kapal-kapal dan perahu-perahu yang dilengkapi dengan persenjataanya. Juga benteng-benteng mengapung di atas air, dan rakit-rakit yang diisi dengan bahan bakar untuk menabrak dan membakar kapal-kapal musuh.

Jumlah meriam yang beada di Benteng- benteng pertahanan Induk adalah sebagai berikut

- Benteng di Muara Plaju : 91 Meriam - Benteng di Pulau Kembara Barat : 29 Meriam - Benteng di Pulau Kembara Laut : 21 Meriam - Benteng di Keraton Palembang : 242 Meriam

Perang Palembang melawan Belanda secara terbuka pada tahun 12 Juni 1813, kapal-kapal Belanda yang pada saat itu berlabuh di Muara Ogan bergerak ke hilir sambil menembaki Benteng Kuto Besak untuk membantu kapal-kapal lainnya. dari kapal-kapal-kapal-kapal itu diturunkan pasukan-pasukan keperahu-perahu kecil menyusuri sungai Tengkuruk, naik kedarat; mereka menggalas pintu keraton tetapi dapat perlawanan dari pasukan Palembang.18

Serbuan dan gempuran Belanda disambut dan dibalas dengan gencaranya oleh laskar Palembang, sehingga

kucar-18 Djohan Hanafiah. Sejarah Perkembangan Pemerintahan Kotamadya Daerah Tingkat II Palembang….hlm 42

38

kacir dibuatnya. Pasukan-pasukan di keraton Kuto Lama yang tengah sibuk dipindahkan ke Loji Sungai Aur tak sempat lagi menyusun formasi tempur, sehingga lari pontang panting, diantaranya banyak yang mati.

Karena merasa sudah terdesak, maka Muntighe mengirim utusan menghadap Sultan untuk meminta menangguhkan perperangan selama beberapa hari. Secara kesatria namun dengan penuh kewaspadaan, dan permintaan pihak musuh itu dikabulkanya. Dengan sikap dan perbuatan ini Sultan Mahmud Badaruddin II memperlihatkan kebesaran jiwa, kepercayaan atas diri sendiri dan keberanian terhadap lawannya.19

Kedua belah pihak selama masa penangguhan perang ( 15 Juni 1819) Muntighe kembali menyerang dengan sehebat-hebatnya, namun dibalas dengan tidak kalah hebatanya dengan pihak Palembang. Di luar dugaan dan perkiraan pihak Belanda kali ini Palembang mempergunakan rakit-rakit api buatannya sendiri, yang didorong ke arah kapal-kapal perang dan sekoci-skoci mereka, sehinggah banyak yang terbakar, Loji Sungai Aur kali ini tepat berada dalam jarak tembak meriam-meriam Keraton Kuto Besak, sehingga hancur lebur karenanya.

Pertahanan Palembang sehebat itu benar-benar menakjubkan Belanda. Muntighe soreh hari itu ( 15 Juni 1819 ) menderita begitu banyak kekalahan. Dia mundur dengan sisa pasukan dan perlengkapan-perlengkapanya ke Bangka, dan disana ke Betawi (19 Juni 1819) setelah sampai di Betawi tanggal 15 Juni 1819) waktu itu Gubernu Jenderal Van Der Cabellen sedang dalam perjalanan ke Cirebon, Muntighe menyusulnya dan bersama-sama ke Semarang kemudian mengadakan rapat bersama Gubernur tesebut, dalam rapat itu dibicarakan cara bagaiman menyerang dan melumpuhkan pertahan Palembang.

Rapat itu memutuskan akan dikirim ekspedisi militer yang kuat ke Palembang. rapat itu memutuskan pula,

19 Team Perumus Hasil Diskusi. Risalah Sejarah Perjuangan Sultan Mahmud Badaruddin II....hlm 34

39

Muntighe harus ikut dalam ekspidisi, Sultan Mahmud Badaruddin II harus di makzulkan dan digantikan oleh putra ketiga Sultan Ahmad Najmuddin II , pangeran Jayo Nigrat.

Pada tanggal 10 Oktober 1819, kemudian berlabuh disungai Kundur. Muntighe mengutus kawan Sultan Ahmad Najamuddin II menemui Sultan Mahmud Badaruddin II membawa anjuran agar menyerah saja. Seruan Muntighe itu ditolak oleh Sultan, dan mulailah Belanda bergerak menuju Palembang. Armada mengalami hambatan, sehingga kapal- kapal besar tidak dapat segera masuk muara, sehingga memakan waktu lebih dua bulan untuk sampai ke Pulau Kemaro. Tanggal 18 Oktober 1819, diluar dugaan Belanda, Benteng Tambak Bayo menembaki kapal-kapal perang mereka dengan gencarnya, sehingga menjadi kacau balau.

Dalam keadaan panik Wolterbeek masih berpikir untuk mengkukuhkan diplomasi, mengirim utusan kepada Sultan supaya menyerah saja. Sultan telah terbiasa dengan diplomasi sepeti itu dan menolaknya. Wolterbeek meminta semua kapal perangnya menggempur Palembang. tidak diduga sama sekali oleh Belanda, tiap benteng dengan tiada henti-hentinya memuntahkan peluruhnya ke arah kapa-kapal mereka.

Benteng Martapura telah pula melepaskan tembakan-tembakan terhadap kapal-kapal pendarat musuh dan beberapa sekoci hancur dan tengelam. Serdadu-serdadu Belanda banyak yang mati atau luka-luka. Kali ini Belanda sangat heran dan kagum akan pertahanan Palembang, bagaimana Sultan Mahmud Badaruddin II dalam waktu empat bulan itu dapat mengatur serta menempatkan posisi-posisi meriam-meriam disepanjang sungai Musi sejak dari Pulau Kemaro sampai ke Plaju, di pulau-pulau dan tebing-tebing. Hal sedemikian itu menurut Belanda adalah diluar kemampuan orang Palembang. Bukan itu saja yang menabjukan Belanda tapi juga perihal cara meletakan meriam-meriam begitu rapi, sehingga dapat melakukan tembakan silang, selanjutnya pemasangan-pesangan cerucup-cerucup yang rapat dan kokoh untuk menutup dan merintangi kapal-kapal musuh;

persiapan rakit api dengan bahan bakarnya di beberapa

40

tempat penting. Pertempuran ini dimenangkan oleh Palembang.

Tanggal 20 Juni 1821 (malam hari) Jendral De Kock mengarahkan seluruh kekuatanya menembus perlawanan Palembang.Di tembakkinya pertahanan Sultan sambil menepatkan posisi kapal-kapal perangnya. Dinihari itu juga kapal-kapal Belanda mulai beriaksi lagi mencabuti cerucup-cerucup yang ditanam ditengah sungai Musi.

Pihak Palembang melancarkan tembakan-tembakan balasan yang hebat pula. Kapal-kapal meriam dan menembaki Pulau Kemaro dan benteng-benteng terapung ditengah-tengah sungai Musi yang oleh Belanda dinamakan

“Water atterijen”. Kapal “ Nassau” dan Van Der Werf’’

mengambil posisinya, kemudian disusul oleh kapal

“Degeraad” guna membantu kapal “Venus” dan “Ayak”

gemburan-gempuran Belanda ini sangat dasyatnya namun pihak Palembang memikirkan perlawanan secara gagah berani pula. Korban berjatuhan dikedua belah pihak.

Serangan De Kock ini tidak berhasil membuat pertahanan Sultan Mahmud Badaruddin II. Esok harinya Jum’at De Kock tidak melakukan serangan lalu Sultan Mahmud Badaruddin II mengira bahwa Belanda menghormati hari suci umat Islam.20

Sultan ingin membalas sikap Belanda yang baik itu, lalu beliau memerintahkan pada hari Ahad nanti perang dihentikan untuk menghoramati hari suci umat Kristen.

Pada hari Ahad dini hari tanggal 24 Juni 1821 menjelang fajar Sultan yang mengira bahwa Belanda tidak akan melakukan serangan, lalu benar-benar menugaskan sekedar beberapa orang saja untuk berjaga-jaga, para priyayi dan laskar serta rakyat kembali ke tempat masing-masing begitu juga dengan Sultan.

Kali ini Belanda berhasil dengan siasatnya, pancinganya tidak menyerang dihari Jum’at itu berhasil melengahkan Sultan, pada hari Ahad tanggal 24 juni 1821, setelah Belanda mencabuti cerucup-cerucup antara sungai

20 Djohan Hanafiah. Perang Melaan V.O.C....hlm 36

41

Lais dan Pulau Kemaro mereka berhasil meloloskan kapal-kapal perangnya lalu bergerak ke hulu.

Pihak Sultan barulah sadar akan siasat Belanda yang licik, sewaktu dikejutkan oleh tembakan-tembakan meriam-meriam musuh. Pulau Kemaro dapat diduduki oleh musuh, dan dengan melalui perairan antara Pulau Kemaro dan Terusan Barang, kapal-kapal perang Belanda maju menuju kubu Martopuro di Bagus Kuning, dengan menduduki Benteng ini, maka seluruh pertahanan Sultan diperairan Musi sudah tidak berdaya lagi, sehingga kapal-kapal perang musuh bergerak maju ke muara sungai Ogan untuk menghalangi Sultan mundur kepedalaman.

Setelah itu Belanda mulai menyerang Keraton Kuto Besak serangan De Kock pada dini hari Ahad tanggal 24 Juni 1821 itu merupakan pertempuran yang terbesar dan terdasyat yang pernah dilakukan oleh para raja-raja di Indonesia ini.

Berita kemenangan Jendral De Kock atas Palembang Tahun 1821 diterima di negeri Belanda tanggal 06 November 1821, disambut dengan dentuman meriam sebanyak 101 kali, diramaikan dengan pertunjukan-pertunjukan yang melukiskan kebangsaan nasional, dibuatkan medali peringatan yang mengabadikan peristiwa kemenangan itu, dan akhirnya sidang khusus parlemen Belanda mengadakan peringatan kemenangan tersebut, raja Willem I sendiri mengucapkan “Pidato Selamat’’ kepada gubernur jendral atas nama dewan.