• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV KONDISI ISLAM

MASA SULTAN MAHMUD BADARUDDIN II

A. Islam Selayang Pandang Masa Sultan Mahmud Badaruddin II

Islam mulai masuk di Palembang pada abad ke-7 M, dimaksudkan sebagai proses datangnya Islam. pada abad ke-7 Palembang masih merupakan pusat kerajaan Sriwijaya.

Ketika itu kerajaan Sriwijaya masih berdiri kokoh. Di masa itulah datang pedagang-pedagang Islam dan bermukim di pelabuhan Palembang.1

Meskipun Islam masuk di Palembang pada abad ke-7 tapi baru di abad ke-16 mulai menampakkan aktifitasnya dengan telah berdiri Masjid atau langgar sebagai pusat kegiatan masyarakat Islam setempat. Hal itu sesuai dengan kebiasaan umat Islam mendirikan Masjid atau langgar dimanapun di kota-kota Bandar bila telah terbentuk masyarakat Islam. Masjid menduduki tempat penting dalam kehidupan masyarakat; ia merupakan pusat pertemuan orang-orang beriman dan menjadi lambang persatuan jemaat.2 Menurut sumber ada ada banya pendapat masuknya Islam di Sumatera Selatan antara lain.3

1. Pengaruh kekuasaan politik Islam di masa itu, yaitu khulafaur Rasydin 632-662 M- Dinasti Ummayah 661-670 M- Dinasti Abbasiyyah 750- 1268 M- Dinasti Umayyah di Spanyol 757-1492 M-Dinasti Fatimah di Mesir 919-1171 M.

2. Penguasaan jalan laut perdagangan oleh bangsa Arab jauh lebih maju dari bangsa Barat saat itu bangsa

1 Dr. Husni Rahim. Sistem Otoritas dan Administrasi Islam di Tengah Pejabat Agama Kesultanan dan Kolonial di Palembang…hlm 50

2 Dr. Husni Rahim. Sistem Otoritas dan Administrasi Islam di Tengah Pejabat Agama Kesultanan dan Kolonial di Palembang…hlm 52

3 Http://www.Sum-Sel. Kemenag. . Sejarah Islam Di Palembang. di ambil hari Rabu, 03-09-2015, Jam 12-30 Wib.

50

Arab sudah menguasai perjalanan laut dari Samudra India yang mereka namakan samudra Persia pada saat itu.

3. Islam masuk di daerah Sriwijaya dapatlah dipastikan pada bahwa Dinasti Tang yang memberitakanya utusan Tache (sebutan untuk orang Arab) ke Kalinga pada tahun 674 M. Karena Sriwijaya sering dikunjugi pedagang Arab dalam jalur pelayaran, maka Islam pada saat itu merupakan proses awal Islamisasi atau permulaan perkenalan dengan agama Islam.

4. Seperti yang dikisahkan oleh penulis Arab yaitu Ibnu Rusta (900 ), Sulaiman (890 M) dan Abu Zaid (950M), maka hubungan dagang antara Khalifah Abbasiyah (750 M-1268M) dengan kerajaan Sriwijaya tetap berlangsung. Khusus untuk kawasan Sumatera Selatan, masuknya Islam selain dari bangsa Arab pedagang dari utusan Dinasti Umayyah dan Dinasti Abbasiyah juga pedagang Sriwijaya sendiri berlayar kenegara-negara Timur Tengah.

Pendapat lainya:

1. Drs. M. Dien Majid dalam makalahnya berjudul “ Selintas Tentang Keberadaan Islam di Bumi Sriwijaya” menulis: Arya Damar, seorang adipati kerajaan Majapahit di Palembang, secara sembunyi-sembunyi telah memeluk agama Islam, karena di ajari oleh Raden Rahmat ( Sunan Ampel) ketika singah di Palembang dari Champa yang akan meneruskan perjalanan kekerajaan Majapahit. Kemudian Arya Damar yang dikenal dengan nama Arya Dillah atau Abdullah, berguru dengan Sunan Ampel di Denta ketika beliau menetap di sana. Dan ketika Arya Damar kembali ke Palembang, ia selalu menjalin hubungan dengan ulama Arab yang bermukim di Palembang.4

4 Http://www.Sum-Sel. Kemenag. Sejarah Islam Di Palembang. di ambil hari Rabu, 03-09-2015, Jam 12-30 Wib.

51

2. Dr. Taufik Abdullah dalam makalanya yang berjudul

“ Beberapa Aspek Perkembangan Islam di Sumatera Selatan”: menulis Van Sevenhoven pada tahun 1822 Masehi membawa 55 manuskrip Arab dan Melayu yang ditulis sangat indah serta dijilid rapi yang merupakan kepunyaan Sultan Mahmud Badaruddin.

Raden Patah yang menurut tradisi historis adalah anak raja Majapahit, Prabu Brawijaya dengan puteri Cina, dilahirkan dan berguru di Palembang. Maka setidaknya sejak akhir abad ke-16 Palembang merupakan salah satu "enclave" Islam terpenting atau bahkan Pusat Islam di bagian Selatan Pulau Emas ini.

Hal ini bukan saja karena reputasinya sebagai pusat perdagangan yang banyak dikunjungi oleh pedagang Arab Islam pada abad-abad kejayaan Kerajaan Sriwijaya, tetapi juga dibantu oleh kebesaran Malaka yang tidak pernah melepaskan keterikatannya dengan Palembang sebagai tanah asal. Kejadian ini berarti peng-Islaman Palembang telah lebih lama daripada Minangkabau atau pedalaman Jawa, bahkan jauh lebih dahulu dari Sulawesi Selatan (kerajaan Gowa dan kerajaan Laikang). Diceritakan dalam buku sejarah "Sulu Mindanau" bahwa seorang Syarif yang bernama Syarif Abubakar yang berasal dari Palembang, telah menyebarkan Islam ke Sulu dan Mindanau, yang kemudian kawin dengan puteri setempat bernama Paramisuri.

3. Menurut Salmad Aly didalam makalahnya yang berjudul "Sejarah Kesultanan Palembang" menulis:

Pada waktu Gede Ing Suro mendirikan Kesultanan Palembang, agama Islam telah lama ada dikawasan ini. Islam masuk Palembang kira-kira pada tahun 1440 M., dibawa oleh Raden Rachmat (Sunan Ampel). Pada waktu itu Palembang berada dibawah kepemimpinan Arya Damar dan merupakan bagian dari Kerajaan Majapahit. Mengenai Raden Rachmat ini, diceritakan oleh Arnold sebagai berikut : "Salah seorang puteri raja Campa, sebuah negara kecil di

52

Kamboja, di Timur Teluk Siam, kawin dengan seorang Arab yang datang ke Campa untuk tugas dakwah Islam. Dari perkawinan ini lahir Raden Rachmat yang diasuh dan dididik oleh ayahnya menjadi seorang Islam sejati." Selanjutnya, Kyai Gede Ing Suro ini, menurut Faile, adalah turunan Panembahan Palembang dan istrinya asal dari keluarga Sunan Ampel, ia adalah dari garis keturunan Panembahan Parwata, Pangeran Kediri dan Pangeran Surabaya. Sementara dari sumber-sumber Palembang, diperoleh keterangan bahwa ia adalah putera Sideng Laut, salah seorang turunan Pangeran Surabaya. Dia masih memiliki hubungan silsilah dengan Sayidina Husein, putera dari Ali bin Abu Thalib, sepupu dan menantu langsung dari Nabi Muhammad Saw dari puteri kandung beliau Fatimah az-Zahra. Salah seorang cucu Sayidina Husein merantau ke Campa, memperistrikan salah seorang puteri Campa yang kemudian melahirkan Maulana Ishaq dan Maulana Ibrahim.

Dari beberapa pendapat di atas memberi gambara bagaimana proses masuknya Islam di Sumatera Selatan, adapu sejarah kesultanan Palembang terjadi dalam abad ke-17 M dan ke-18 M sampai dengan permulaan abad 19 M.

Tempatnya adalah di kota Palembang dan sekitaranya, baik disebelah hilir sungai Musi termasuk Pulau Bangka dan Pulau Belitung maupun disebelah hulu sungai Musi dan anak-anak sungainya, lebih dikenal dengan Batang Hari Sembilan. Kota Palembang merupakan bandar yang keadaanya sangat strategis, karena terletak di kedua tepi Sungai Musi yang lebar dan dalam, sehingga dapat dilayari oleh kapal-kapal sampai jauh ke hulu sungai-sungai.

Letaknya tidak terlalu jauh dari Kuala (+ 90 km), yang bermuara di selat Bangka. Di kota Palembang kapal-kapal dapat berlabuh dengan aman, bebas dari bahaya perampok dan serangan dari badai. Selain itu, hasil bumi berupa rempah-rempah tersediah untuk diperdagangkan ke luar negeri, ditambah dengan timah hasil pertambangan dari

53

Pulau Bangka dan Pulau Belitung. Barang dari luar negeri dan lain-lain wilayah dari Nusantara banyak diperjual belikan. Dengan letaknya yang sangat strategis dalam hubungan dagang laut serta potensi hasil bumi dan hasil pertambanganya, membuat kesultanan Palembang menjadi suatu kekuasaan maritim dan perdagangan.5

Gambaran Palembang sebagai pusat perdagangan di masa kesultanan dapat disimak dalam tulisan Sivenhoven yang secara populer menggambarkan kesibukan pelabuhan Palembang pada siang maupun malam hari, dimana bebagai jenis perahu mulai dari rakit sampai perahu pesiar orang Eropa hilir mudik dengan berbagai aktifitas dagang, mulai dari pedagang eceran sampai dengan pedagang besar Cina, Arab, dan Eropa.6

Demikian halnya di Palembang, sejak awal para Sultan yang berkuasa telah memberikan kontribusi atas terciptanya atmosfir keilmuan di wilayah ini. Para Sultan Palembang priode awal, misalnya, sangat pro-aktif melakukan usaha-usaha untuk menarik perhatian sejumlah ulama Arab agar mau berkunjung dan tinggal di wilayahnya.

Salah satu upaya yang dilakukan oleh para Sultan Palembang adalah melalui kerjasama ekonomi. Hasilnya para migran Arab, terutama daria Hadhramaut, mulai berdatangan ke Palembang dalam jumlah yang begitu besar pada abad ke-17, bahkan sebagian diantara merika memilih untuk menjalin hubungan kekerabatan melalui pernikahan , dan akhirnya tingal menetap di Palembang. Upaya upaya Sultan tidak hanya dilakukan kepada orang Arab , tetapi juga terhadap etnis lain.

Asal-usul penduduk Palembang dapat dibagi dalam dua golongan besar, yaitu golongan priyayi dan rakyat.7 Priyayi adalah status keturunan raja-raja yang diperoleh

5 Dr. Husni Rahim. Sistem Otoritas Dan Administrasi Islam: Di Tengah Pejabat Agama Kesultan Dan Kolonial Di Palembang....hlm 59

6 Dr. Husni Rahim. Sistem Otoritas Dan Administrasi Islam: Di Tengah Pejabat Agama Kesultan Dan Kolonial Di Palembang....hlm 59

7 Team Perumus Hasil Diskusi. Risalah Sejarah Perjuangan Sultan Mahmud Badaruddin II....hlm13

54

karena keturunan kelahiran atau atas perkenalan Sultan.

Diantara priyayi-priyayi itu ada yang memiliki sejumlah dusun dan mereka hidup dari kerajinan tangan dan kesibukan-kesibukan lainya, seperti membuat barang-barang dari emas dan perak, kerajinan-kerajinan tangan halus, berdagang atau bertani. Para priyayi yang mempunyai dusun-dusun atas marga diwajibkan untuk membatu Sultan jika ada perang, bantuan itu berupa laskar dan perlengkapan-perlengkapan perang, seperti perahu-perahu yang dipersenjatai dan mereka membantu menyediakan kayu.

Segala sesuatu yang diperlukan priyayi-priyayi golongan ini diperoleh dari dusun-dusun dan miji-miji yang dimilikinya.

Rakyat terbagi atas orang Miji, dan orang-orang Senan. Orang-orang-orang Miji di ibu kota sama kedudukannya dengan yang di pedalaman, dengan catatan bahwa mereka tidak dikenakan pajak dan tidak menghasilkan pajak. Mereka mencari orang-orang untuk membantu Sultan berperang, dan orang-orang yang dapat melakukan pekerjaan tangan dan karya-karya seni. Orang-orang Senan adalah golongan yang lebih rendah dari Miji, mereka tidak boleh bekerja untuk siapapun selain hanya untuk Sultan, rumah para priyayi atau mendayung perahu Sultan.8

Mengenai agama, sebagian besar penduduk Palembang beragama Islam, disamping itu beberapa gelintir pendatang memeluk agama Hindu, Budha atau Kristen.

Golongan priyayi memiliki marga atau dusun tetapi ada juga yang tidak memiliki dusun, bagi priyayi yang tidak mendapatkan dusun atau marga, menyuruh orang-orang mengerjakan sawah atau pekerjaan lainya, ada yang menyewakan perahu-perahu tambing, ada yang berlayar keliling tiap hari untuk mendapat barang muatan.9

Pemerintahan kesultanan diatur rapi, begitu juga aparatur keamanannya. Diadakanlah peraturan-peraturan bagi

8 Team Perumus Hasil Diskusi. Risalah Sejarah Perjuangan Sultan Mahmud Badaruddin II....hlm14

9 Team Perumus Hasil Diskusi. Risalah Sejarah Perjuangan Sultan Mahmud Badaruddin II....hlm14

55

para pedagang dan penduduk pendatang. Pemegang kekuasaan tertinggi adalah Sultan. Dalam menentukan keputusan-keputusan selalu didasarkan atas Al-Qur’an, undang-undang dan Piagam-Piagam.

Di Palembang juga masih berlaku hukum adat, yang bersumber pada kitab undang-undang ‘’Simbur Cahaya’’

kemudian ditambah lagi dengan undang-undang wilayah, yaitu sindang Merdeka.10

Di bidang peradilan dikenal dengan dua macam peradilan, pertama yang mengadili dalam perkara-perkara keagamaan yang dipimpin oleh Pangeran Penghulu Nato Agamo, yang membawahi pengeran-pengeran penghulu.

Kedua yang mengadili dalam perkara-perkara yang diancam hukum badan pimpinan Temenggung Karto Negaro.

Hubungan dengan luar negeri sejak dahulu kala adalah semata-mata hubungan dagang, berdasarkan perjanjian dengan kontrak dagang atau tidak dengan hak monopoli, umpanya kontrak dengan V.O.C. sudah ada semenjak pertengahan abad ke-17 sampai dengan awal abad ke-19.11

Pedagang kain linen terbesar adalah orang Arab, ada yang mempunyai kapal dan perahu sendiri, namun kebanyakan mereka adalah pengurus barang dagang orang lain dari luar Palembang. Sesudah orang Arab menyusul orang Cina yang membeli barang-barang dari perahu.

Sedangkan hasil dari kesultanan Palembang dan diekspor adalah: rotan, damar, kapur barus, kemenyan, kayu lokal, lilin, gading dan pasir emas.

Hukum adat Sumatera Selatan menunjukkan di seluruh daerah begitu banyak sifat-sifat kekeluargaan, sehingga membentuk suatu lingkungan hukum tersendiri. Di daerah yang begitu luas ini pengaruh-pengaruh terhadapnya tidaklah sama di segala tempat, oleh karenanya, maka

10Team Perumus Hasil Diskusi. Risalah Sejarah Perjuangan Sultan Mahmud Badaruddin II....hlm15

11 Team Perumus Hasil Diskusi. Risalah Sejarah Perjuangan Sultan Mahmud Badaruddin II....hlm16

56

perkembangan dari Hukum Adat telah berjalan dengan cara yang tidak sama pula, dikarenakan berbagai pengaruh dari luar maka bagian-bagian tentu menjadi daerah hukum adat tersendiri dengan segala penyimpangan dan variasinya. Salah satu dari lingkungan hukum adat dari kesultanan Palembang.12

Dalam soal adat istiadat jelas diatur dan dipelihara secara baik, terbukti dengan adanya kitab hukum adat

‘’Simbur Cahaya’’ di zaman Sultan Palembang sampai dizaman pemerintahan Kolonial Belanda. Kebudayaan meliputi selain dari hukum adat seperti diuraikan diatas adat istiadat dan kebiasaan, kesenian, kerajaan dan kesusastraan.13

Di bidang sastra Palembang tidak ketinggalan, misalnya Sultan Mahmud Badaruddin II sendiri adalah seorang peminat dan ahli di bidang kesusastraan, terbukti dengan perpustakaannya yang luas, adapun di bidang sistem pertahanan sejak tahun 1819 sampai dengan tahun 1821 sangatlah mengagumkan pihak musuh. Hal ini diakui oleh pihak Belanda waktu menyerang benteng-benteng pertahanan di Pulau Kemaro dan Tambak Bayo di Plaju di tahun 1819 dan tahun 1821, yang menyebabkan mereka sampai beberapa kali gagal mencapai Keraton Kuto Besak.

Dengan adanya sistem kepemerintahan dan pengadilan seperti yang diungkapkan di atas, ketertiban masyarakat terjamin. Dengan tertib masyarakat itu orang-orang merasa aman dan tentram, sehingga berkembanglah berbagai kegiatan didalam masyarakat, seperti pertanian, perdagangan dan kesusastraan.

Orang Palembang tidak bisa terlepas dari orang Arab dan Cina karena peran orang Arab dan Cina sangat peting dalam hal perdagangan. Orang-orang Palembang membeli barang dari orang Arab dan Cina, lalu membawanya ke pedalaman untuk dijual di sana. Belum ada orang Cina

12 Team Perumus Hasil Diskusi. Risalah Sejarah Perjuangan Sultan Mahmud Badaruddin II....hlm17

13 Team Perumus Hasil Diskusi. Risalah Sejarah Perjuangan Sultan Mahmud Badaruddin II....hlm17

57

ataupun orang Arab yang berani sendiri berdagang ke daerah pedalaman, mereka takut dirampok. Sedangkan jumlah orang Hindustan tidak terlalu banyak. Mereka sering disebut orang keling ( Hitam) dan ada juga yang menyebutnya orang Tambi. Kebanyakan dari mereka hidup dari berdagang.

Orang Eropa yang bertempat tinggal di Palembang, kebanyakan orang Inggris dan Belanda. Mereka tinggal di Loji yang dibuat khusus, tetapi ada juga yang tinggal di rakit atas kehendak sendiri. Rakit mereka terbuat dari kayu, beratap genteng dan lebih lebar dan rapi. Oleh karena itu perahu orang Eropa tidak begitu banyak menghadapi bahaya terbalik, meskipun arus deras terutama pada bulan Desember sampai Maret. Mereka membeli rempah-rempah, hasil hutan dan berbagai kerajinan seperti lada, lilin, kemenyan, getah, pohon, pewarna, gading gajah dan kayu.14

Para Sultan Palembang mempunyai minat khusus pada agama, dan mereka mendorong pengetahuan dan keilmuan Islam dibawa patronase mereka. Para Sultan tampaknya melakukan usaha-usaha tertentu untuk menarik para ulama Arab agar menetap di wilayah Palembang.15

Sebagaimana halnya orang Cina yang berperan sebagai kelompok pedagang perantara, orang-orang Arab di Palembang pada masa kesultanan, juga terlibat dalam proses tersebut. Menurut Sevenhoven pada masa kesultanan Palembang, orang Arab memiliki peranan yang cukup penting dalam lapangan ekonomi, orang Arab merupakan pedagang linen terbesar, bahkan ada diantara mereka yang memiliki kapal dan perahu sendiri, Sevenhoven juga menambahkan orang-orang Arab sebagai kelompok masyarakat yang taat beragama, rajin melaksanakan sholat, berpuasa dan mengerjakan kewajiban lainnya serta sering membantu Sultan, bahkan karena jasanya kepada Sultan,

14 Team Perumus Hasil Diskusi. Risalah Sejarah Perjuangan Sultan Mahmud Badaruddin II....hlm17

15 Prof. Dr. Azyumardi Azra, MA.Jaringan Ulama Timur Tengah Dan Kepulauan Nusantara Abad XVII & XVIII. (Jakarta Kencana 2007)hlm 105

58

orang Arab diberi gelar pangeran oleh Sultan, seperti pangeran Omar.

Kesultanan pada masa Sultan Mahmud Badaruddin II sangat intens dan menaruh minat dalam pengembangan sastra dan lingkungan istana. Bahkan di kabarkan Sultan Mahmud Badaruddin II memiliki perpustakaan yang agak luas. Namun di ahir perjuangan Sultan Mahmud Badaruddin II semua koleksi (manuskrip, naskah karya sastra dan agama) milik Keraton Palembang di bahwa Sevebhoven ke Belanda ialah yang pertama menjarah kekayaan intelektual kesultanan Palembang.

Sultan memberikan posisi istimewah kepada ulama pujangga yang sebagian besar merupakan keturunan Arab.

Selain itu, orang-orang yang terpelajar merupakan

‘’masyarakat penikmat’’ hasil karya ulama pujangga keraton, selain kesenanganya terhadap ilmu agama. Pada masa pemerintahan Sultan Mahmud Badruddin II lahir ulama pujangga yang sangat dekat dengan Sultan dan para pembesar kerajaan.16 Bahkan diantara ulama keturunan Arab memiliki reputasi internasional seperti Syekh Abdul Shamad Al-Palembani. Adapun ulama pujangga pribumi seperti Kemas Fahruddin, abad 18 menjadi salah satu centoref excellent bagi pengembangan ilmu pengetahuan agama dan sastra di dunia melayu, terlepas dari pasang surut hubungan antara keraton (Sultan) dengan orang Arab, warisan entelektual yang menjadi salah satu sumbangan penting orang Arab bagi kemajuan kebudayaan masyarakat Palembang pada masa lampau, merupakan kenyataan sejarah.17

Keraton sebagai pusat sastra dan ilmu agama Islam tampaknya tumbuh seiring dengan perkembangan Islam di Nusantara. Tentunya pesatnya kemajuan dalam bidang ini, lebih banyak ditentukan oleh seberapa jauh

16 Jumhari Lim Imanuddin. Arab Palembang dari Masa Kesultanan sampai Kolonial Belanda.( Balai Kajian Padang Sejarah dan Nilai Kajian Nasional 2005). hlm 57

17 Team Perumus Hasil Diskusi. Risalah Sejarah Perjuangan Sultan Mahmud Badaruddin II....hlm 20

59

penguasa kerajaan-kerajaan Islam tersebut memiliki perhatian dalam hal ini. Tapi tidak semua Sultan memberikan dorongan dan perhatian yang sama dalam bidang sastra dan ilmu agama Islam sehingga pada akhirnya sebagaimana fenomena sejarah berkembangnya intelektual Islam di Nusantara mengalami pasang surut.

Dalam bidang sastra Sultan Mahmud Badaruddin II termasuk diantara lima penulis yang di kenal Dunia.

Perhatian Sultan terhadap ilmu agama dan sastra tersebut, menjadikan keraton sebagai pusat perpustakaan, keraton sebagai pusat sastra dan ilmu agama tampaknya merupakan ciri perkembangan Islam. Yang berbeda dengan raja dunia Barat atau Sultan di Timur tengah yang tidak menjadikan keraton sebagai pusat keilmuan. Akan tetapi dibentuk lembaga sendiri untuk mengembangkan ilmu pengetahuan.

Lembaga pendidikan inilah yang didorong raja atau Sultan untuk mengembangkan ilmu. Ilmu pengetahuan mengalami perkembangan tanpa selalu tergantung pada sikap dan perhatian raja terhadap ilmu.18

Boleh jadi karena keraton bukan madrasah atau pesantren yang menjadi lembaga pengembangan ilmu agama Islam di Palembang maka akibatnya perkembangan agama dan sastra di Palembang kurang berakar.

Keterlibatan keraton Palembang dalam tradisi satra Islam mirip dengan Aceh ( Melayu) ketimbang (Mataram) Jawa. Meskipun begitu pengaruh Jawa tampak pula dengan banyaknya karya sastra yang populer di Jawa, seperti wayang. Oleh karena itu dapat dikatakan bahwa tradisi sastra Palembang merupakan tradisi sastra Melayu Jawa.

Posisi Palembang sebagai salah satu pusat keilmuan dan sastra mulai surut, sejak kekuasaan kesultanan Palembang (Sultan mahmud Badaruddin II) takluk kepada

18 Team Perumus Hasil Diskusi. Risalah Sejarah Perjuangan Sultan Mahmud Badaruddin II....hlm34

60

Belanda. Banyak koleksi perpustakaan keraton yang dibawa oleh Belanda.19

Islam diawal abad 19 merupakan agama resmi, yang harus di pelihara oleh struktur kekuasaan, terlihat peranan

‘’birokrat agama’’ tidak saja terdapat pada tingkat pusat kerajaan, tetapi juga di tingkat marga dan bahkan di tingkat dusun.

Ada beberapa faktor yang memupuk kelanjutan tradisi keraton Melayu-Jawa ini berkembang di Palembang disamping kontinuitas kultural dari keraton Palembang yang berorentasi pada Jawa, tetapi tak terlepas dari dunia ‘’Selat Malaka’’ heterogenitas penduduk serta terbukanya Palembang sebagai kota pelabuhan, adalah faktor-faktor penunjang. Bisa jadi saat-saat akhir zaman pemerintahan Sultan Mahmud Badruddin II terjadi ketegangan hubungan antara ‘’ orang-orang Arab’’ yang umumnya pedagang, dengan keraton, tetapi sudah jelas hal ini tidaklah terjadi sejak semula. Fakta bahwa ada tokoh-tokoh Arab yang menjadi kaki tangan Sultan ataupun perantara dengan dunia luar, khususnya dengan peralihan politik yang sering terjadi akibat persaingan Inggris dan Belanda, membuktikan bahwa orang-orang Arab memang mempunyai kedudukan yang khusus juga di mata keraton. Karena itu, bisa pulalah dimengerti bahwa sebagian yang cukup penting dari para ulama-pujangga yang dinaungi oleh para Sultan adalah orang-orang Arab.20

Jadi perkembangan Islam ke dalam struktur dan kekuasaan sebenarnya telah lebih mendalam dari apa yang diajukan oleh Sevenhoven.21 Van Sevenhoven sangat memuji keterampilan pribumi Palembang dalam hal kerajinan dan ketertiban dalam memegang catatan dan perdagangan tetapi katanya dalam hal sastra mereka terbelakang. Tidak ada

19 Jumhari Lim Imanuddin. Arab Palembang dari Masa Kesultanan sampai Kolonial Belanda….hlm 58

20 Taufik Abdullah. Beberapa Aspek Perkembangan Islam Di Sumatera Selatan. (Jakarta UI Press 1986). hlm 57

21 Taufik Abdullah. Beberapa Aspek Perkembangan Islam Di Sumatera Selatan...hlm 55

61

orang seperti di Jawa yang dapat disebut terpelajar atau

orang seperti di Jawa yang dapat disebut terpelajar atau