• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV KONDISI ISLAM

MASA SULTAN MAHMUD BADARUDDIN II

B. Peranan Ulama Pada Masa Kesultanan Abad 19 M

Sultan Mahmud Badaruddin II sangat menonjol perannya dalam konfrontasi melawan pihak imperialis-kolonialis Inggris dan Belanda, sehingga hampir seluruh masa pemerintahannya di sibukkan oleh konfrontasi dan perperangan.30 Namun tidak bisa dilupakan, selain sebagai ahli politik dan pendekar perang, pembawaanya yang suka belajar membawanya untuk memilki perpustakaan, menguasai ilmu pengetahuan dan mendalami soal agama Islam. Beliau dikenal sebagai orang yang alim, sabar dan takwa kepada Allah SWT. Dari sikap kepemimpinanya yang demikian, Sultan Mahmud Badaruddin II banyak pengaruhnya dalam perkembangan Islam.

29 Dr. Zulkifli. Kontinyuitas dan Perubahan Dalam Islam Tradisional di Palembang....hlm 43

30 H.M. Ali Amin. Sejarah Kesultanan Palembang Darussalam dan Beberapa Aspek Hukumnya.(Jakarta UI Press 1986). Hlm 115

67

Dari segi kehidupan keagamaan. Agama di zaman akhir ini justru memperlihatkan kemajuan yang cukup berarti. Hal ini dimungkinkan karena Sultan, merupakan orang yang taat beragama. Sultan Mahmud Badaruddin II sendiri, menurut Tambo sering menjadi imam sholat di masjid. Ulama-ulama mendapat tempat tersendiri dalam kehidupan Sultan. Beliau selalu berada didekat ulama untuk mendiskusikan soal-soal keagamaan, bahkan dalam keadaaan negeri sedang berperang, seperti yang diceritakan dalam naskah yang diterbitkan Woelders (1976:132), ulama dijadikan sebagai pembantu dekatnya. Dalam Struktur kepemerintahan, ulama diberi gelar yang sama dengan pejabat keraton lainya. Terhadap pelangar ajaran agama yang prinsipil, ia bersikap tegas. Sultan pernah menyuruh membunuh dan menganiaya (merajam) wanita-wanita jalang yang terang-terangan mengadakan hubungan dengan serdadu Belanda pada masa sebelum tahun 1819 (Sevenhonen 1971:42); tetapi sebagai seorang Sultan beliau membiarkan begitu saja orang Arab mengambil buku-buku koleksi Perpustkaan, atau mengambil al-Qur’an untuk memenuhi kebutuhan peribadatan dari orang-orang Islam, disisihkanya pendapatan negara dari tambang timah Bangka untuk mendirikan masjid Agung, disamping mushola yang tersebar di ibu kota.

Pembinaan dan pengembangan hukum Islam di pedalaman tak luput dari perhatian Sultan Mahmud Badaruddin II. Sultan mengirim Penghulu dan khatib-khatib hampir keseluruh pelosok wilayah. Misalnya pengiriman para ulama di daerah pedalaman guna untuk menerapkan hukum Islam dan mengajarkan baca tulis al-Qur’an.

Mengenai pengaruh dari agama Islam khusunya di pedalaman saat diambil dari beberapa keterangan dari buku J.W. Van Royen yang berjudul De Palembangsche Marge En Haar Grond En Watettechten, antara lain: sebelum kedatangan Islam. Dalam kehidupan beragama banyak dilakukan pemujaan nenek moyang. Untuk mengenag mereka diadakan pemujaan-pemujaan di rumah-rumah nenek moyang yang kecil-kecil, sedangkan tiap tahun kuburan

68

mereka dibersihkan dimana disampingnya ada persembahan.

Sumpah dilakukan dikuburan nenek moyang dan disedekahan (makan bersama) dimintakan berkah mereka.

Dengan upacara-upacara tersebut terpeliharalah kesadaran atas keturunan yang sama. Islam telah mengahiri itu semua hal- hal seperti itu tidak lagi di laksanakan. Rumah nenek moyang untuk semua keturunan dari satu nenek moyang, diganti dengan masjid untuk semua orang. Sumpah dilakukan diatas kitab al- Qur’an. Alhasil kehidupan masyarakat, termasuk dalam hukum adat. Banyak dimasuki oleh kaidah-kaidah agama Islam. Lebih-lebih hukum Islam memasuki hukum-hukum kekeluargaan/hukum perkawinan dan hukum warisan. Ini sejalan dengan kecenderungan ruang umum di perkembangan hukum adat, dimana hukum kebapakan beralih menjadi hukum keibu-bapakan. Juga dalam bidang ini pengaruh hukum Islam memperlemahkan hukum adat.31

Demikian pada masa kesultanan Palembang Darussalam membolehkan hukum Islam khususnya hukum kekeluargaan,hukum warisan dan hukum perkawinan, baik di Palembang maupun di pedalaman secara penuh. Dalam literatur hukum, apa yang terjadi di Palembang disebut resepsi hukum Islam, yang berarti bahwa akidah hukum tertentu atau seluruh aturan hukum tertentu itu diambil dari perangkat hukum Islam. Dan menurut Van Den Breg orang-orang Islam di Nusantara ini telah melakukan resepsi hukum Islam dan keseluruhanya dan sebagai satu kesatuanya. Ini berarti bahwa menurut Van De Breg yang diterima oleh orang Islam di Nusantara itu tidak hanya bagian-bagian hukum Islam, tetapi keseluruhanya sebagai satu-kesatuan.

Karena itu pula pendapat Van De Berg ini disebut dengan theori receptio in complexu. Pada waktu kesultanan Palembang Darussalam, belum ada pengaruh Pemerintah Belanda mengenai hukum Islam.32

31 H.M. Ali Amin. Sejarah Kesultanan Palembang Darussalam dan Beberapa Aspek Hukumnya ….hlm 116

32 Dr. Husni Rahim. Sistem Otoritas Dan Administrasi Islam: Di Tengah Pejabat Agama Kesultan Dan Kolonial Di Palembang....hlm 96

69

Dalam mengurus hal yang berkenaan dengan keagamaan dalam kesultanan Palembang Darussalam ditugaskan kepada nata agama, yang termasuk dalam empat Mancanegara, seperti diuraikan dalam pembagian pemerintahan, ekonomi, politik di muka pejabat yang bersangkutan menyandang gelar nata agama. Ini menunjukan bahwa dalam kesultanan Palembang Darussalam urusan agama Islam termasuk dalam urusan kepemerintahan yang berperan penting.

Mengenai sistem pemilihan ulama kesultanan di dalam kesultanan Palembang menyebutkan tiga macam ulama, yaitu, pertama ulama kesultanan yang bertugas mendampingi Sultan dalam menjalankan roda pemerintahan, kedua ulama birokrat, yang bertugas mengurus administrasi dan pelaksana hukum Islam dalam wilayah kesultanan yang disebut dengan istilah ulama penghulu, dan ketiga, ulama berperan sebagai pengajar, pemimbing dan penyebar Islam di tengah-tengah masyarakat. Ulama jenis ketiga ini sama dengan kyai.33

Ulama kesultanan adalah ulama yang diangkat oleh Sultan yang bertugas sebagai penasehat Sultan dalam urusan-urusan keagamaan. Sultan memiliki hak prerogatif dan otoritas penuh dalam menentukan siapa yang akan menjadi ulama kesultanan. Berdasarkan bukti-bukti arkiologi berupa nisan-nisan makam kuno para ulama kesultanan Palembang, penjelasan Mujib yang dikutip dari hasil penelitian Zulkifli, bahwa para ulama kesultanan tersebut berasal dari jazira Arab sesui dengan gelar sayyid yang digunakan di depan nama dan nisba suku dan asal kelahiran dibelakang namanya.34 Para ulama tersebut tampaknya memilki hubungan yang sangat erat dengan Sultan sehingga biasanya makam ulama ditempatkan disamping makam Sultan.

33 Dr. Zulkifli, MA. Ulama Palembang Pada Abad XIX Peranan Dan Pemikiranya Dalam Masyarakah. (Palembang Hasil Penelitian Pakultas Adab IAIN Raden Fatah Yang Belum di Terbitkan 1999). hlm79

34 Dr. Zulkifli, MA. Ulama Palembang Pada Abad XIX Peranan dan Pemikirannya dalam Masyarakat....hlm 80

70

Penjelasan yang serupa juga dikemukan oleh Taufik Abdullah yang dikutif dari buku Husni Rahim, ia menyatakan bahwa orang Arab mempunyai kedudukan khusus dimata Sultan. ‘’ sebagai ulama pujangga yang diplihara Sultan adalah orang-orang Arab. Jadi disamping keluarga keraton dan para priyayi kepercayaan Sultan, maka orang Arab yang lebih terpelajar inilah yang merupakan ‘ masyarakat penikmat hasil karya para ulama pujangga keraton tersebut’.35

Adapun ulama bebas, ulama katagori ini tidak ditunjuk dan diangkat oleh Sultan. Oleh sebab itu, mereka tidak mendapat bayaran dari pihak pemerintah. Mereka memperoleh kedudukan sebagai ulama dari masyarakat karena kedalaman pengetahuan, kesalihan ibadah, dan kemulian akhlaknya. Jadi, pada hakikatnya masyarakat yang mengangkat seseorang menjadi ulama karena kualifikasinya yang dimilikinya. Kehadiranya sebagai ulama tampaknya sangat dibutuhkan terutama di bidang pengajaran dan dakwah Islam. Tugas utama para ulama ialah memberikan pendidikan dan pengajaran kepada masyarakat dan melaksanakanya dakwa Islam. Tampaknya, Islam menyebar ke daerah-daerah pedalaman disebabkan oleh hasil usaha dan karya ulama. Mereka melaksanakan kegiatan dakwah Islam kepada masyarakat di daerah-daerah dimana Islam belum berkembang pesat dan belum berakar kuat. Di daerah-daerah tersebut mereka memberikan pengajaran ilmu-ilmu agama Islam terutama dalam bidang fiqih, tauhid dan tasawuf.

Hubungan antara ketiga corak ulama tersebut tampaknya, secara umum harmonis, tanpa ada suatu konflik berarti yang dapat menggoyahkan kesultanan. Hubungan yang harmonis tersebut disebabkan oleh adanya hubungan antar guru-murid. Para penghulu adalah murid dari para ulama independen sehingga para peghulu mungkin meminta penjelasan atau fatwa dari ulama indenpenden atau mungkin menggunakan kitab-kitab yang ditulisnya sebagai pedoman

35 Dr. Husni Rahim. Sistem Otoritas Dan Administrasi Islam: Di Tengah Pejabat Agama Kesultan Dan Kolonial Di Palembang....hlm 97

71

dalam melaksanakan pengajaran dan menerapkan hukum Islam.

Secara umum ada dua ulama penting yang berperan pada masa kesultanan Mahmud Badaruddin II di Palembang antara lain adalah:36

- Syaikh Muhammad Aqib Bin Hasanudin

Ia lahir di Palembang sekitar tahun 1760M dan pada usia mudah berangkat ke Mekkah untuk melanjutkan studi agama dengan Abdu Shamad. Tidak diketahui berapa lama ia belajar di tanah suci. Dari pengakuan masyarakat Palembang akan kedalaman dan keluasan ilmu serta keistimewaanya yang diduga kuat bahwa ia telah menguasai berbagai bidang ilmu agama Islam terutama tauhid, fiqih, tasawuf dan Falaq dari gurunya, Abdu Shamad.37

Syaikh Muhammad Aqib memiliki hubungan yang erat dengan pihak kesultanan. Apalagi kesultanan Palembang dalam memelihara dan penyebaran Tarikat Sammaniyah yang juga diajarkan oleh Syaikh Muhammad Aqib. Bukti dari keterlibatan Sultan adala, adanya perang Menteng tahun 1819M yang dimotori oleh para ulama Tarikat Sammaniyah disponsori Sultan Mahmud Badaruddin II.

Meskipun kesultanan Palembang telah runtuh Syaikh Muhammad Aqib tetap menjalin kerjasama dengan kaum ningrat keraton, khusunya penembahan Bupati, saudara laki-laki Sultan Mahmud Badruddin II yang bertindak sebagai pelindung agama, terlepas dari keterlibatannya dalam bidang politik dan hubungannya yang erat dengan mantan pembesar keraton. Syaikh Muhammad Aqib adalah ulama dan guru tarekat Sammaniyah yang disegani masyarakat. Di dalam laporan Belanda tahun 1834 M disebutkan bahwa dia adalah guru

36 Dr. Zulkifli, MA. Ulama Palembang Pada Abad XIX Peran dan Pemikiranya Dalam Masyarakt.... hlm 15

37 Dr. Zulkifli, MA. Ulama Palembang Pada Abad XIX Peran dan Pemikiranya Dalam Masyarakt.... hlm 16

72

agama yang mempunyai jumlah murid terbesar.38 Kemudian pada tahun 1840-an dilaporkan bahwa ia memimpin suatu ritual keagamaan dalam suatu perayaan yang dibiayai oleh penembahan Bupati sehingga dicurigai oleh pihak Belanda.

Syaikh Muhammad Aqib semasa hidupnya aktif memberikan pendidikan dan pengajaran agama Islam. dia juga bertangung jawab terhadap penyebaran Tarekat Sammaniyah di Palembang ia juga terkenal sebagai ulama dan sufi yang tidak hanya memiliki pengetahuan agama yang luas tetapi memiliki sikap zuhud. Adapun murid-murid dari Syaikh Muhammad Aqib yang ikut serta menyebrakan Tarekat Sammaniyah di Palembang antara lain:

a. Syaikh Muhammad Azhary bin Abdullah bin Ahmad (1811-1874M)

b. Masagus Haji Abdul Hamid bin Mahmud (1811-1901M)

c. Kyai Haji Abdurrahman Delamat (1820-1896M)

d. Haji Muhammad Azhary bin Abdullah bin Ma’ruf Al-Palembani

- Kyai Muhammad Zain

Semasa hidupnya senantiasa aktif mengajar ilmu tauhid di berbagai daerah Sumatera Selatan.39 Dia bahkan sudah memiliki sejumlah murid yang dipercaya dapat memberikan bimbingan dan pengajaran ilmu tauhid tersebut kepada murid-muridnya. Mereka juga aktif melaksanakan kegiatan pendidikan, pengajaran, dan dakwah di tengah-tengah masyarakat.40

38 Dr. Zulkifli, MA. Ulama Palembang Pada Abad XIX Peran dan Pemikiranya Dalam Masyarakt.... hlm 16

39 Dr. Zulkifl, MA. Kontinyuitas Dan Perubahan Dalam Islam Tradisional di Palembang…. Hal 29

40 Dr. Zulkifli, MA. Ulama Palembang Pada Abad XIX Peran dan Pemikiranya Dalam Masyarakt.... hlm 17

73

Diduga Kemas Datuk Muhammad Zain dan syaikh Muhamad Aqib ikut serta dalam perang Menteng. Mereka adalah teman seperguruan, Kemas Datuk Muhammad Zain yang menjadi menantu Abdu Shamad Al-Palembani ikut memimpin perang tersebut tapi dia gugur menjadi syahid fi sabil Allah.41

Berkat usaha para ulama, Tarekat Sammaniyyah terus dipelihara dan dipertahankan di Palembang. Bahkan, tampak ada kegairahan di kalangan masyarakat Palembang untuk melaksanakan ajaran-ajaran dan ritual Tarekat Sammaniyyah. Tidak ada cacatan mengenai keseluruhan jumlah pengikut. Tarekat Sammaniyyah di Palembang untuk menjadi pengikut tersebut tidak perlu mendaftar secara formal tetapi harus memahami dasar-dasar ilmu tauhid. Pengikut tersebut dapat dibagi kepada tiga tingkatan, mubtadi (tingkat dasar), mutawassit (tingkat menegah), dan muntabi (tingkat akhir).

Pembagian tingkat tersebut berdasarkan pembagian yan dilakukan oleh Syaikh Abd al-Shamad Al-Palembani.42

Pengikut Tarekat Sammaniyyah di Palembang memang tidak memiliki struktur organisasi secara formal.

Tetapi secara informal dan spiritual struktur tersebut tampaknya jelas dan masing-masing pengikut harus menjalankan ajaran dan ritual tarekat sesuai dengan tingkatannya. Juga tidak terdapat aturan-aturan yang bersifat formal yang menggariskan tugas dan kewajiban penganut Terekat.

Dalam rangka memelihara dan mempertahankan Tarekat Sammaniyah guru Tarekat melaksanakan pendidikan dan pengajaran. Kegitan-kegiatan tersebut dilakuakan baik di masjid, mushhallah, maupun dirumahnya sendiri. Pengajaran dan bimbingan diberikan menurut tiga tingkatan murid tersebut sehingga

masing-41 Dr. Zulkifli. MA. Ulama Palembang Pada Abad XIX Peran dan Pemikiranya Dalam Masyarakt.... hlm 16

42 Drs. Zulkifli. Kontinyuitas dan Perubahan Dalam Islam Tradisional di Palembang….hlm77

74

masing tingkatan tersebut mampu menguasai meteri berdasrkan tingkatan masing-masing

C. Ruang Lingkup Tugas Pejabat Agama di Kesultanan