BAB IV KONDISI ISLAM
KEPADA MASYARAKAT PALEMBANG
A. Islam di Palembang, 1821-1881
Pengaruh Belanda pada daerah pedalaman kesultanan Palembang bermula dengan kekalahan Sultan Mahmud Badruddin II ( 1 Juli 1821 ).1 Kekalahan sultan Mahmud Badaruddin II dikarenakan siasat Belanda yang licik. Hari minggu berdasarkan kesepakatan antara Sultan dan pihak Belanda bawasahnya hari itu perperangan ditunda karena Sultan menghargai hari suci umat Kristen. Momen ini ternyata dimanfaatkan oleh pihak Belanda ketika Sultan dan para tentara yang lengah pasukan Belanda menyerang dan kekalahan itupun tak bisa dihindari. Sejak kekalahan ini, kekuasaan Sultan penggantinya telah sangat dikurangi dengan penempatan seorang patih (karma jaya) yang bertanggung jawab atas pengawasan daerah pedalaman.
Setelah kekalahan Sultan Mahmud Badaruddin II, yang menjadi residen Palembang ialah J.L. Van Seven Hoven.
Dialah yang menyodorkan kontrak pada Sultan yang baru untuk mennyerahkan segala sesuatu mengenai pemerintahan kepada Belanda dengan menerima tunjangan yang tetap.
Dalam tahun 1823, keadaan Sultan telah menjadi sedemikian sulitnya, sehingga terpaksa menyerahkan kekuasaan dengan penggantinya uang untuk kelurganya dan para pembesar- pembesarnya. Resedin inilah yang meletakan politik penjajahan yang pertama di Palembang, dengan ini hapuslah kesultanan Palembang.2
Setelah kekuasaan di kesultanan Palembang ada di tangan Belanda untuk menjamin kelancaran birokrasi pemerintahanya, diadakan perubahan-perubahan. Seluruh
1 Marzuki Ab Yass. Kerusuhan-Kerusuhan Di Daerah Pedalaman Kesultanan Palembang Abad Ke-1 …..hlm 02
2 Marzuki Ab Yass. Kerusuhan-Kerusuhan Di Daerah Pedalaman Kesultanan Palembang Abad Ke-19 ….hlm 02
86
daerah Palembang dipecah dalam wilayah-wilayah besar.
Dalam suatu wilayah tertentu ditempatkan pegawai pribumi yang disebut Kepala Devisi. Sejumlah besar Reban dan Jenang yang sebelumya merupakan wakil Sultan di daerah-daerah pedalaman disingkirkan, digantikan oleh kepala-kepala Devisi. Pajak-pajak atau kewajiban-kewajiban yang di bebankan Sultan kepada rakyat dihapuskan, diganti dengan pajak-pajak tanah yang sangat liberal, tugas-tugas pengawasan dalam pelaksanaan penarikan pajak tanah, pengawasan supaya pemerintahan Belanda dipatuhi, dilaksanakan bersama-sama oleh kapal-kapal Devisi dan kapal-kapal Marga/Dusun. Ini berarti ada dua pihak yang memerintah yang satu wakil Belanda dan yang satunya kepala-kepala yang langsung dipilih rakyat.
Kedatangan kolonial mempengaruhi kebudayaan kota mengalami perubahan struktural selama dasarwarsa pertama pemerintahan. Pada tahun 1821, ekspedisi militer dikirim dari Batavia untuk mengakhiri kemerdekaan politik kesultanan Palembang, dan mulai tahun itu Palembang memiliki sejumlah pemerintahan mengenai Islam di kota Palembang yang di sasarkan pengamatan langsung dari penguasa baru.3 Sebelum Residen Belanda menjadi penguasa baru di Palembang, hanya sedikit yang diketahui Belanda tentang masyarakat Palembang dan struktur kesultanannya.
Namun, sesudah kesultanan secara resmi disatukan dengan negara kolonial, pengumpulan informasi mengenai daerah jajahan baru ini menjadi tugas mendesak para pegawai Belanda. Pegawai Belanda yang begitu rajin melaporkan pengamatan mereka kepada atasannya, tampaknya tidak terkesan ada praktek religius penduduk kota. J.J Van Seven Hoven, yang pada tahun 1822 sebagai komisaris pemerintah ke Palembang, dalam uraian tentang ibu kota Palembang hanya mencatat beberapa pengamatan yang pendek tentang praktek keagamaan.
3 Jeroen Peeters. (Kaum Tou- Kaum Mudo Perubahan Religius Di Palembang 1821-1942). (Jakarta INIS 1997). hlm 07
87
Dari apa yang disana-sini saya sebutkan secara sambil lalu tentang agama, dapat disimpulkan, bahwa mereka menganut agama Islam. Mereka mempraktikan agama mereka dalam khitanan, perkawinan dan upacara lain;
tetapi disamping itu, mereka dianggap segala sesuatu yang bersifat takhayul, baik oleh yang ada di Jawa maupun oleh kisah turun-temurun agama yang menyembah berhala. Begitu rajinnya orang Arab mematuhi kewajiban agama seperti waktu sholat, puasa, dan sebagainya, begitu sedikit orang Palembang menghiraukanya. Mereka paling banyak, yang bahkan patut dicela tidak peduli dan tidak beragama.4
Gambaran tentang kehidupan beragama pada paroh pertama abad ke-19, kemudian dapat dilengkapi dengan Laporan Tahunan Residen Palembang dari tahun 1834 dan 1835. Didalamnya dikemukakan, bahwa ‘’golongan pendeta’’ di Palembang cukup besar, tetapi tidak bersikap keras terhadap kepemerintahan kolonial. Kyai-kyai ini hanya mencoba meningkatkan ketaatan beribadah masyarakat Palembang ; suatu usaha yang belum menghasilkan bukti yang nyata pada tahun 1830-an. Dalam pembicaraanya degan residen Palembang, pangeran penghulu sebagai kepala birokrasi agama bahkan mengelu tentang tidak ada ketekunan beragama penduduk Palembang. Kurangnya perhatian antara lain terlihat dari sedikit keinginan untuk mengikuti sembayang ( Sholat) Jum’at di masjid agung Palembang.
Dari uraian ini dapat disimpulkan bahwa pada paroh pertama abad ke-19, Islam belum diangap sebagai ancaman oleh penguasa kolonial. Akan tetapi mulai pertengahan abad ke-19 pembentukan pendapat dikalangan kolonial tentang Islam di Palembang akan mengalami perubahan yang mendasar. Sesudah tahun 1850, di kalangan pengawai
4 Jeroen Peetres. Kaum Tou- Kaum Mudo Perubahan Religius Di Palembang 1821-1942….hlm 7
88
pemerintahan kolonial terhadap pendapat umum bahwa penduduk kota justru sangat shaleh, dan taat memenuhi kewajiban agama mereka. Meskipun demikian, orang Palembang belum diangap fanatik oleh penguasa Bekanda;
kehidupan beragama tetap terbatas pada penunaian ibadah, seperti sholat Jum’at, berpuasa pada bulan Rahmadan.
Uraian ini senada dengan apa yang di sampaikan Azyumardi Azra, pada paruh kedua abad ke-19, dan khususnya dalam perempatan terakhir, Islam di Asia Tenggara mengalami suatu kebangkitan agama barangkali lebih tepat disebut suatu usaha kehidupan keagamaan dalam kebutuhan yang besar.5
Untuk penulis membuktikan peristiwa ini, demi kemudahan argumentasi pertama-tama akan kita perhatikan perubahan yang terjadi dalam stuktur sosial masyarakat kota akibat kekuasaan kolonial. Lalu akan perhatikan proses Islamisasi yang menunjukan, sejauh mana proses ini dipengaruhi oleh perubahan sosial.
a. Kaum priyayi: jatunhya kesultanan dan runtuhnya kraton Pada bulan Juni 1821 dipersiapkan ekspedisi militer besar di bawah pimpinan Mayor Jendral H.M. De Kock guna menaklukan perlawanan sengit terhadap imperislisme Barat.6 Sesudah pertempuran dua minggu, ekspedisi ini berhasil merebut keraton Palembang dan membawah Sultan Mahmud Badaruddin II sebagai tawanan ke Batavia. Kejadian yang dramatis ini tidak berarti bahwa riwayat kesultanan Palembang sudah tamat. Sebagai pengganti Sultan Mahmud Badruddin II, pemerintahan Belanda kini mengangkat Pangeran Prabu Anom, putra Sultan Ahmad Najamuddin II, sebagai raja Palembang dengan gelar Susuhunan Husin Dia’uddin.
Pergantian penguasa ini, yang disertai oleh pengasingan Sultan Mahmud Badaruddin II. Ketika pada tahun 1823 penjajah Belanda menyodorkan kontrak baru kepada
5 Azyumardi Azra. Perspektif Islam Di Asia Tenggara. (Jakarta Yayasan Obor Indonesia 1989). hlm 50
6 Jeroen Peeters. Kaum Tou- Kaum Mudo Perubahan Religius Di Palembang 1821-1942. …hlm 08
89
Sultan guna menyerahkan kedaulatan kerajaan kepada Belanda. Keinginan Belanda ditolak oleh Sultan dan susuhunan, dan pada bulan November 1824, bersama pengikut yang setian mencoba melawan arus sejarah dengan melakukan serangan atas Belanda di Palembang.
Serangan itu gagal dan kedua raja Palembang akhirnya ditawan dikirim ke Batavia.7
Di lingkungan keraton Palembang yang berorientasi kepada kebudayaan keraton Jawa, agama Islam mempunyai kedudukan tersendiri. Kesan pertama hubungan antar Negara dan agama kelihatanya sangat erat, seperti yang dibuktikan oleh birokrasi agama di istana Palembang. Birokrasi ini dipimpin oleh seorang pegawai dengan gelar Pangeran Penghulu Nata Agama, yang pada zaman kesultanan biasanya berasal dari keluarga sultan. Para pangeran penghulu terutama bertangung jawab atas pelaksanaan upacara keagamaan di Masjid Agung, yang pada masa kesultanan merupakan satu-satunya masjid di Palembang. Sebagai cerminan dari hubungan erat antara kerajaan dan agama Islam, sebuah masjid yang didirikan diatas tanah wakaf sultan Palembang, yang terletak persis dibelakang keraton lama.
Sejak dihapuskanya kesultanan Palembang pada tahun 1825 sebagai akibat kekalahan Sultan Mahmud Badaruddin II, maka kota Palembang statusnya berubah menjadi daerah keresidenan.8 Keresidenan Palembang dapat dibagi beberapa afdeeling, kecuali ibu kota Palembang. Tiap-tiap afdeeling membawahi order-afdeeling yang dipimpin oleh contreleur dan tiap-tiap order-afdeeling terdiri dari marga-marga yang diperintah oleh seorang kepala marga atau sering disebut pasirah.
Sedangkan ibu kota Palembang sendiri dibagi dalam dua
7 Jeroen Peeters. Kaum Tou- Kaum Mudo Perubahan Religius Di Palembang 1821-1942. …hlm 08
8 Jumhari. Sejarah Sosial Orang Melayu Keturunan Arab dan Cina di Palembang Dari Masa Kesultanan Palembang Samapi Reformasi. (Padang BPSNT Padang Prees 2010). Hlm. 48
90
distrik yaitu distrik seberang Ulu dan distrik seberang Ilir.
Pada masa ini di wilayah keresidenan Palembang terdapat lima belas distrik dan empat puluh order distrik yang masing-masing dikepalai oleh seorang Demang dan asisten Demang, serta 174 marga yang terbagi dalam berbagai dusun dan kampung. Adapun pembagian afdeeling dan order-afdeeling di keresidenan Palembang adalah sebagai berikut: daerah ibu kota Palembang terbagi dalam dua distrik. Yaitu distrik seberang Ilir dan distrik seberang Ulu afdeeling Palembang Ilir atau dengan ibu kotanya Sekayu, yang membawahi beberapa order-afdeeling.
Pada masa kolonial Belanda terjadi perubahan yang cukup dramatis, yakni sejak dimulainya penerapan kebijakan kekuasaan kolonial. Perubahan yang tampak jelas adalah terjadinya penggolongan masyarakat berdasarkan ras, dimana orang Barat ditempatkan sebagai golongan atas, orang Timur Asia seperti Cina dan Arab serta bangsa Asia lainya, berada dilapisan kedua sedangkan mayoritas kelompok pribumi berada dalam strata sosial paling bawah.
Kondisi ini semakin kokoh dengan adanya pengelompokan pemukiman berdasarkan garis etnik tertentu. Seperti di Batavia, semarang. Termasuk pula Palembang telah dijumapai kampung-kampung berdasarkan katagori tersebut, seperti kampung Cina, kampung Arab, Kampung Jawa, kampung Bugis dan kampung etnik lainya, yang mencerminkan pemisahan secara fisik.
Belanda tidak berhasil menguasai semua aspek kehidupan sosial di masyarakat Pelambang, namun perubahan sosial-budaya datang juga dari luar arus migrasi dari Hadramaut ke Asia Tenggara, sudah mencapai Palembang sejak tri-wulan terakhir abad ke-18.
Agama kembali menjadi pokok pembicaraan.
Bagaimana perbedaan antara kota dan daerah pedesaan
91
ini dirumuskan oleh penguasa kolonial. Pokok yang paling utama adalah agama, demikian laporan utama residen De Kock tahun 1842.9 Jika ibu kota Palembang lenyap dari pandangan, sebagian besar penduduk memang muslim, tetapi mereka sebenarnya cenderung untuk menyembah berhala seperti menyembah pohon-pohon besar, batu-batu besar yang mereka angap keramat. Dan hampir tidak mengikuti pokok-pokok ajaran agama Islam. tetapi praktek agama di Iliran (perkotaan) Palembang berbeda dengan Uluan (pedalaman Palembang) Palembang. Di daerah pedalaman yang relatif terasing, proses islamisasi masih rendah tarafnya. Orang pedalaman masih menyembah berhala, meskipun pura-pura muslim; kecuali beberapa kepala kampung, tidak seorangpun yang sholat dan masjid. Mereka mempercayai roh baik dan jahat (hantu) dan sangat menindahkan pujian-pujian mereka.
Tiap-pembagian ruang antara kota Palembang, Iliran dan Uluan pada abad ke-19, akan terlihat bahwa dikalangan orang Belanda tergambar relatif bagus.
Berbeda dengan gambaran dinamis mengenai Islam di ibu kota , gambaran Islam di pedesaan pada abad ke-19, hampir tidak mengalami perubahan suatu struktur ruang yang statis terlihat dari sumber kolonial. Gambaran itu tentu relatif dari kota tentu ada rangsangan dari pedesaan disekelilignya. Pegawai pemerintahan Belanda memperhatikan, bahwa elit kota Palembang memilki kewibawaan tertentu atas rakyat pedesaan. Pengaruh kota atas masyrakat pedesaan susudah tahun 1860 makin menarik perhatian pegawai pemerintah. Abad ke-19 makin banyak pemberitahuan dalam laporan pegawai mengenai meningkatnya dinamika hubungan kota dan pedesaan.
b. Tarekat di Palembang
9 Jeroen Peeters. Kaum Tuo Kaum Mudo Perubahan Religius Di Palembang 1821-1942 ….hlm 33
92
Meskipun pengaruh sayid atas pola kebudayaan orang Palembang cukup besar, dalam beberapa hal praktek agama para Alawiyin (orang Arab) menyimpang dari penduduk pribumi. Dikalangan Alawiyin di Palembang, tarekat ini tidak menikmati popularitas besar. Eksis-eksis organisasi religius ini dipandang dengan sikap menghina oleh masyarakat Palembang pada awalnya.10 Cara mistik Islam di Hadramaut menyebabkan berdirinya tarekat khas dikalangan sayid, bernama tarekat Alawiyah, sesuai dengan organisasi kelurga Ba’Alawi, tarekat ini mempunyai cabang lain, seperti Alaydrusyah, Alatasiyah dan Alhadadiyah. Para Alawiyin biasanya lebih suka bergabung dengan tarekat Alawiyah. Dengan demikian, tarekat ini memperoleh sifat khusus, dan mencerminkan kebutuhan dikalangan sayid untuk memisahkan diri dari golongan awam.
Petunjuk dini penyebaran tarekat di Palembang dijumpai dalam bentuk naskah berbahasa melayu, berjudul Sabil al-Hidayah wa al-Rasyad. Karya sayid Akhamd bin Hasan bin Abdullah Alhadad ini mengandung penjelasan tentang Ratib Alhadad.
Sifat langsung tarekat Alawiyah mencegah sayid untuk berperan dalam penyebaran tarekat lain.
Karena di Palembang spiritual tidak berjalan dengan baik selanjutnya diisi oleh tarekat Sammaniyah, nama tarekat ini berasal dari nama pendirinya Syekh Muhammad Abdulkarim Samman lahir di Madina tahun 1132 H (1718 M).11
Dari data ini dapat disimpulkan, bahwa para Sultan Palembang mempunyai peranan penting sebagai pelindung Sammaniyah. Runtuhnya keraton pada tahun 1821 mengakhiri pula hubungan erat antara negara dan agama. Akan tetapi, runtuhnya kesultanan bukan berarti
10 Jeroen Peeters, Kaum Tou Kaum Mudo Perubahan Religius Di Palembang 1821-1942. Vandeberg 1886:85 di kutip dalam buku Joeren Peeters …. hal.
11 https://id. Wikipedia.org/wiki/Syekh_Muhammad_as-Samman al- Madani. 22 Di ambil hari Rabu, 24-06-15. Jam 12:29 wib.
93
bubarnya Sammaniyah. Untuk ningrat Palembang, tarekat ini justru menjadi kerangka alternatif pengganti masyarakat keraton. fungsi sosial ini sesudah 1821 terutama dikembangkan oleh penembahan Bupati, saudara lelaki Sultan Mahmud Badaruddin II dan Sultan Ahmad Najamuddin II, yang diizinkan tinggal di Palembang. Sebagai satu-satunya mantan pembesar keraton, penembahan Bupati menerima pensiun Nlg.
600,- sebulan, yang memungkinkan memelihara suatu jaringan sosial yang luas disekitar kediamannya di dekat keraton di kampung 27 Ilir. Terpencil dari tiap kegiatan politik, penembahan Bupati selanjuntnya bertindak sebagai pelindung agama. Tidak diragukan lagi usahan penembahan Bupati dapat dikaitkan dengan tarekat Sammaniyah.